Islamic Online University Hadits 102
105
Tampaknya tidak ada salahnya membuat diferensiasi antara ushul dan furu’”. Ini
hanya masalah terminologi. Hal ini tentu saja sangat penting untuk menjelaskan apa yang
dimaksud dengan istilah-istilah ini saat benar-benar digunakan. Selanjutnya, setiap implikasi atau
kesimpulan yang ditarik dari istilah-istilah ini harus didukung oleh Al Quran dan Sunnah.
Sehubungan dengan pendahuluan dari Imam Nawawi ini, beliau mungkin mengacu pada
masalah keimanan [aqidah] dengan yang lainnya masalah fiqhiyyah. Ini adalah perbedaan yang
sangat umum antara keduanya. Ibrahim dan Johnson-Davies memutuskan untuk menerjemahkan
bagian ini sebagai, hukum dasar agama” dan perkara sekunder”. Itu jelas juga merupakan
terjemahan yang dapat diterima. Karena Imam an-Nawawi belum membuat kesimpulan
berdasarkan istilah-istilah ini dan perbedaan di antara keduanya, tidak terlalu penting untuk
mencoba menentukan dengan tepat apa yang dia maksud dengan istilah-istilah tersebut.
Imam An-Nawawi menyatakan, Namun, aku dapati bahwa yang terbaik
adalah untuk mengumpulkan empat puluh hadits yang lebih penting
daripada semua itu. Empat puluh hadits ini mencakup semua hal di atas.
Sebenarnya, tiap-tiap hadits merupakan landasan agama yang penting
yang para ulama menilainya sebagai inti dari ajaran agama Islam. Ada
yang mengatakan tentang suatu hadits tertentu, bahwa hadits itu adalah
setengah dari Islam, sepertiga dari Islam dan sebagainya.”
Imam An-Nawawi telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam memilih hadits
yang sangat besar kepentingan dan maknanya. Komentar yang telah dibuat ulama tentang
beberapa hadits ini akan dikemukakan saat hadits dibahas secara rinci.
Pentingnya hadits yang dipilih an-Nawawi mungkin adalah salah satu alasan utama
mengapa karyanya jauh melampaui banyak koleksi serupa lainnya. Memang ada ratusan koleksi
hadits empat puluh, namun saat ini ketika seseorang mendengar kata Empat Puluh Hadits”,
secara umum, ia akan langsung memikirkan karya an-Nawawi seolah-olah itu adalah satu-
satunya hadits arba’in atau hadits arba’in milik An Nawawi-lah yang pertama kali disusun.
bahwa ushul adalah apa yang dikenal secara definitif sementara furu’ adalah apa yang diketahui dalam
kemungkinan.
Islamic Online University Hadits 102
106
Pentingnya koleksi ini dapat dilihat dalam sejumlah besar syarah yang telah ditulis
mengenai karya ini. Salah satu syarah paling terkenal dan paling penting dari syarah-syarah
tersebut adalah yang disusun oleh Ibnu Rajab Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, di mana ia
mengomentari hadits Arba’in an-Nawawi ini dan menambahkan delapan lagi untuk membuat
karya lima puluh hadits. Bahkan penulis modern pun masih mensyarah karya ini, karena hadits
kumpulan ini sangat kaya sehingga tidak ada pekerjaan yang bisa menutupi hal-hal penting bagi
setiap zaman. Di antara penulis modern, Naadhim Sultaan telah menulis sebuah syarah dan juga
ada syarah yang disusun bersama oleh Mustafa al-Bugha dan Muhyi al-Din Mistu.
Ada juga kitab takhrij tentang koleksi ini, di mana hadits yang dikutip oleh an-Nawawi
dilacak ke semua sumbernya. Sebuah karya baru-baru ini yang sangat bagus dengan sifat seperti
itu adalah ala Ahmamah al-Ahawiyah al-Mahawawiyah karya Fauzi bin Muhammad.
Karya an-Nawawi ini juga telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Memang,
setidaknya ada lima terjemahan lain dari karya ini ke bahasa Inggris; Ada yang memberi
penjelasan singkat, tapi sayangnya tidak ada yang memberi penjelasan/syarah luas.
1
Imam An-Nawawi menyatakan, Aku telah berkomitmen untuk hanya
memasukkan hadits yang shahih saja dalam empat puluh hadits ini...”
Beberapa komentar harus dibuat mengenai sudut pandang dari an-Nawawi ini. Dalam
karya itu sendiri, an-Nawawi menunjukkan bahwa beberapa hadits adalah hasan dan bukan
Shahih. Hal ini tampaknya merupakan kontradiksi dari kondisi ini yang telah ditetapkannya
untuk dirinya sendiri. Sebenarnya tidak ada kontradiksi di sini karena banyak kali ulama akan
menggunakan kata shahih, biasanya diterjemahkan sebagai benar/asli, tidak hanya berarti
hadits yang tingkat tertinggi tapi juga berarti hadits pada tingkat hasan. Oleh karena itu,
digunakan dalam arti umum untuk berarti “hadits yang dapat diterima,” apakah mereka shahih
atau hasan. Oleh karena itu, tidak ada kontradiksi bahwa an-Nawawi yang mengatakan bahwa ia
hanya memilih hadits shahih dan kemudian ia sendiri menyatakan bahwa beberapa di antaranya
adalah hasan.
1
Karena buku ini sedang dipersiapkan untuk diterbitkan, volume satu terjemahan bahasa Inggris dari komentar
Naadhim Sultaan tentang Empat Puluh Hadits diterbitkan oleh Daar Islamic Heritage.
Islamic Online University Hadits 102
107
Poin kedua yang perlu dijelaskan adalah bahwa penilaian hadits adalah masalah ijtihaad.
Artinya, ulama itu harus mempelajari hadits dan menentukan nilainya. Ini tidak selalu mudah.
Dua ulama bisa sampai pada kesimpulan yang berbeda mengenai satu hadits. Salah seorang
ulama, misalnya, mungkin memiliki akses terhadap beberapa informasi mengenai hadits yang
tidak dimiliki oleh sarjana lain. Oleh karena itu, mereka berdua membuat kesimpulan
berdasarkan bukti yang mereka ketahui. Dalam kitab kumpulan Empat puluh Hadits ini, mungkin
ada dua, tiga atau empat hadits yang menurut pendapat paling rajih bukanlah hadits shahih atau
hasan. Semuanya akan dibahas secara rinci nanti.
Imam An-Nawawi menyatakan, Barang siapa yang menginginkan dan
menantikan akhirat pasti mengenal hadits ini karena mereka mencakup
aspek terpenting dari agama dan memberikan arahan kepada segala
bentuk ketatan kepada Allah. Ini tampak jelas bagi siapa saja yang
merenungkan hadits ini.
Oleh karena itu, hadits ini layak mendapat telaah dan pemahaman yang terperinci. Seperti
yang dinyatakan sebelumnya, jika hadits arbai’in ini dipahami dan diterapkan dengan benar,
insyaallah, ia akan mengarahkan siapa saja langsung ke surga. Inilah sebabnya mengapa para
ulama selama berabad-abad telah mempelajari hadits ini sejauh yang mereka miliki. Insya Allah,
syarah ini ditulis karena alasan ini: hadits ini sangat penting dan setiap Muslim apakah dia bisa
membaca atau mengerti bahasa Arab atau tidak harus mengenal hadits ini dan memahaminya
sebaik mungkin.
Islamic Online University Hadits 102
108
Hadits ke-1





Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: aku
mendengar Rasulullah Syallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal itu
tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. Maka,
barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan
Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang
ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.”
Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits: Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin
Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin
Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi di kedua kitab Syahihnya yang merupakan dua kitab paling
Syahih yang pernah disusun.
Kosakata pilihan:
 - Dari
 - Amirul Mukminin”, ini adalah istilah yang biasa digunakan untuk khalifah atau
pemimpin kaum muslim.
 - “Bapaknya Hafshah” ini adalah nama kunyah yang khas di antara bangsa Arab.
 - Berkata
 - Aku mendengar
 - Rasulullah”, utusan Allah.
 - “Semoga Allah memberikan Sholawat dan salam kepadanya”
 - Bersabda
Islamic Online University Hadits 102
109
 -Sesungguhnya”, ungkapan ini mengandung impikasi baik berupa penguatan
maupun kekhususan.
 - Amal” atau perbuatan; merupakan jamak dari .
 - Ini adalah campuran kata atau frase.  di sini berarti “oleh”, “dengan”, atau
“berdasarkan”. Beberapa mengatakan bahwa  adalah sababiyah, yang
menunjukkan hubungan sebab akibat di dalam kalimat antara perbuatan dan niat.
Dengan demikian, “perbuatan adalah ‘disebabkan oleh’ niat”, atau niat adalah
kekuatan penggerak dibalik perbuatan.  adalah “niat-niat”, jamak dari niat .
 - Ini juga merupakan kata campuran di sini berarti “untuk” dan  berarti “setiap”.
 - “laki-laki”, bentuk feminimnya adalah , yang juga disebutkan di akhir hadits
ini.
 - “segala”, digunakan secara umum untuk benda mati.
 - “dia berniat”
 - Ini juga merupakan kata campuran. berarti “demikian atau “karena itu”. 
berarti “siapa saja” dan ini hampir selalu digunakan untuk makhluk hidup sebagai
lawan dari  yang secara umum digunakan untuk benda mati sebagaimana
disebutkan di atas.
 - Orang ketiga, bentuk lampau, tunggal, bentuk feminim dari kata kerja “menjadi”
 - kata   berarti meninggalkan sesuatu. Di sini, merujuk pada emigrasi di mana
seseorang meninggalkan tanah orang kafir menuju tanah islam. Huruf  di akhir
adalah sebuah kata ganti yang berarti miliknya (maskulin).
 - Penggunaan yang paling sering dari kata ini adalah “menuju” namun di sini akan
menjadi sulit apabila diterjemahkan secara literal.
 - “RasulNya”. Huruf di akhir menunjukkan bagian “Nya”.
 - Ini adalah kata campuran.  di sini menunjukkan “demi”.   berarti kehidupan
dunia.
 - Ini berarti “untuk memperoleh” atau “mendapatkan sesuatu”.
 - “dia menikahinya”.
Islamic Online University Hadits 102
110
Takhrij
1
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasaai,
Ibnu Maajah, Ahmad, al-Tahaawi (dalam Syarh Maani al-Atsaar), ad-Daaraqutni, Ibnu
Khuzaimah, Ibnu Hibbaan, Ibnu Asakir, Ibnu al-Jarud, al-Baihaqi, Abu Awanah, Abu Nuaim dan
banyak lainnya. Sebenarnya, Ibnu Muhammad mencantumkan lebih dari sembilan puluh karya
hadits yang mencatat hadits ini dengan rantai mereka kembali kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam.
2
Seperti dapat dilihat di atas, hadits ini bisa dikatakan disebutkan dalam semua kitab besar
kumpulan hadits. Karena hampir di semua karya besar, pertanyaan berikut telah muncul: Tidak
ada pertanyaan bahwa Imam Malik mengetahui hadits ini dan menyebarkannya kepada orang
lain, namun apakah dia menuliskannya dalam Muwatta-nya? Imam Malik merevisi Muwatta
dalam berbagai kesempatan. Oleh karena itu, ada penafsiran yang berbeda dari Muwatta-nya.
Dalam sebagian besar penafsiran, Imam Malik tidak mencatat hadits ini. Namun, salah satu
penafsiran yang terkenal dan diterima dari Muwatta Imam Malik adalah yang dicatat dan
disahkan oleh Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani, murid dekat, sahabat dan rekan Imam Abu
Hanifah. Dia pergi ke Madinah untuk bertemu dan belajar dengan Imam Malik. Dia mempelajari
seluruh Muwatta dari Imam Malik dan menyerahkannya kepada murid-muridnya. Tafsiran
Muwatta ini juga berisi hadits ini.
3
Sanad Hadits
Banyaknya karya yang mencatat hadits ini mungkin memberi kesan bahwa banyak
Sahabat, Tabi’in dan sebagainya mencatat hadits ini. Seseorang bahkan mungkin tertipu dengan
pemikiran bahwa dengan demikian hadits itu pasti mutawaatir.
4
Sebenarnya, hadits ini
1
Takhrij di sini berarti studi hadits. Ini termasuk informasi seperti di kitab hadits mana hadits ditemukan. Ini juga
akan mencakup kesimpulan tentang keaslian hadits. Tentu saja, hadits dari Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim
dalam koleksi empat puluh hadits ini adalah hadits yang sahih. Secara umum, bagian takhrij akan singkat kecuali
ada beberapa informasi menarik yang penulis rasa harus diskusikan. Hadits ini, hadits # 1, misalnya, memiliki salah
satu pembahasan hadits yang lebih panjang.
2
Ibn Muhammad, hlm. 43-50.
3
Lihat pembahasannya di al-Ashqar, Muqaasid, hlm. 520-521.
4
Mutawatir berarti bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh begitu banyak orang dalam setiap kronologis yang tidak
bisa dibayangkan bahwa mereka semua bisa saja menyetujui sebuah kebohongan atau semua melakukan kesalahan
yang sama,
Islamic Online University Hadits 102
111
derajatnya sangat berlawanan: hadits gharib.
1
Satu-satunya riwayat hadits yang benar atau shahih
ini sama-sama menceritakan perawi yang sama di bagian awal rantai ini. Bagian atas dari
Gambar 1 adalah representasi grafis dari satu-satunya riwayat shahih dari hadits ini. Secara
keseluruhan, Gambar 1 adalah representasi dari rantai hadits ini yang ditemukan pada "kutubus
sittah (kitab hadits yang enam)".
2
"Gambar 1 melukiskan siapa yang meriwayatkan hadits ini dari
Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam). Di bagian bawah dari gambar tersebut, ada penyebutan dari
berbagai kitab dari "kutubus sittah” yang mencakup hadits melalui rantai itu.
1
Gharib berarti bahwa setidaknya di satu dari kaitan itu, hanya ada satu narator yang dapat diterima. (Perhatikan
bahwa ini hanya satu penggunaan kata ghareeb dan beberapa ilmuwan menggunakannya dengan cara yang berbeda).
2
"Enam kitab" hadits tersebut adalah: Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan al-Nasaai, Sunan Abu Dauvood,
Sunan al-Tirmidzi dan Sunan ibn Maajah. Istilah "enam kitab" tidak menyiratkan bahwa semua hadits dalam karya-
karya ini adalah asli atau kitab hadits terkuat. Sebaliknya, istilah ini menjadi meluas karena popularitas kumpulan
narasi yang disusun yang mencakup semua perawi yang ditemukan dalam enam karya ini.
Islamic Online University Hadits 102
112
Gambar 1
Sanad hadits “segala sesuatu tergantung dari niatnya …”
Islamic Online University Hadits 102
113
Sanad yang kuat hanya berasal dari Umar bin al-Khattaab. Demikian pula, hanya
Alqamahh yang meriwayatkan hadits dari Umar dan hanya Muhammad bin Ibrahim yang
menceritakannya dari Alqamahh. Dan tidak seorangpun kecuali Yahya bin Said yang
menceritakannya dari Muhammad bin Ibrahim. Tapi dari Yahya bin Said, banyak perawi
mendengar hadits tersebut, seperti yang dapat dilihat dengan jelas pada Gambar 1. Namun, hal
ini sama sekali tidak mempengaruhi keshahihan atau penerimaan hadits. Selama para perawi ini -
yang, pada sebagian besar, adalah guru dan ulama - adalah orang-orang yang memiliki integritas
dan kemampuan, fakta bahwa mereka sendiri meriwayatkan hadits ini tidak menjadi masalah.
Sebuah studi singkat tentang perawi yang berbeda dari siapa hadits ini telah datang akan
menunjukkan bahwa tidak ada alasan untuk menolak riwayat mereka hanya karena mereka
adalah satu-satunya perawi dari hadits ini:
1
(1) Umar bin al-Khattaab. Beliau adalah sahabat terkenal Nabi (shallallahu ‘alaihi
wasallam) dan khalifah kedua dalam Islam. Integritas, kejujuran dan kecerdasannya tidak
diragukan oleh para ulama hadits sepanjang sejarah.
(2) Alqamah bin Waqqas al-Laitsi: Beliau lahir pada masa Nabi (shallallahu ‘alaihi
wasallam). Pendapat terkuat nampaknya bahwa ia tidak berjumpa dengan Nabi (shallallahu
‘alaihi wasallam) dan, oleh karena itu, ia bukanlah Sahabat tapi salah satu Tabi’in. Alqamahh
meriwayatkan sedikit sekali hadits. Dia menceritakan dari Umar bin al-Khattaab, Abdullah bin
Umar, Muawiyah dan Sahabat lainnya. Az-Zuhri dan lain-lain meriwayatkan hadits darinya. Ia
dinyatakan dapat dipercaya (tsiqah) oleh ulama hadits, seperti al-Nasa’i. Ia meninggal pada masa
pemerintahan Abdul Maalik bin Marwaan.
(3) Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits al-Qurasyi: Dia adalah seorang Imam yang
terkenal dan perawi yang dapat dipercaya. Dia meriwayatkan dari sejumlah sahabat, seperti Abu
Said al-Khudri, Jabir bin Abdullah dan lain-lain. Al-Auzaai dan Ibnu Ishaaq meriwayatkan hadits
darinya. Haditsnya tercatat di masing-masing "kutubus sittah”. Ia wafat pada tahun 120 H.
(4) Yahya bin Said bin Qais al-Anshari: Dia adalah seorang tabi’in yang terkenal dan
dapat dipercaya. Dia meriwayatkan hadits dari jalan Anas bin Malik, al-Saaib bin Yazid dan Abu
Umamah bin Sahl. Di antara mereka yang meriwayatkan hadits darinya adalah Imam Malik dan
1
Lihat Sadlaan, Hadits, hlm. 39-41.
Islamic Online University Hadits 102
114
Syu’bah serta banyak lainnya, termasuk Yahya al Qahthaan. Dia menceritakan kira-kira 300
hadits dan wafat pada tahun 143.
Dari Yahya bin Said hadits ini menjadi tersebar luas, dikarenakan banyaknya jumlah
muridnya dan kemahsyuran dirinya pada umumnya. Sesungguhnya, menurut an-Nawawi, ada
lebih dari dua ratus orang, kebanyakan adalah para ulama penting dalam bidang hadits, yang
meriwayatkan hadits ini dari Yahya.
1
Sebagian lainnya menyatakan bahkan lebih dari itu.
Namun, dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyatakan bahwa beliau meragukan jumlah yang
banyak itu. Beliau mengatakan bahwa beliau telah meneliti hadits ini di seluruh kitab kumpulan
hadits yang berbeda dan mengatakan bahwa beliau tidak dapat menemukan sejumlah seratus
orang yang telah meriwayatkan hadits tersebut dari Yahya bin Said.
2
Bagaimanapun juga, tidak
ada keraguan tentang sangat banyaknya orang yang meriwayatkan hadits ini dari Yahya, yang
kemungkinan hampir seratus orang.
Pembaca mungkin telah memperhatikan aspek khusus pada sanad ini. Ketiga perawi,
Alqamahh, Muhammad bin Ibrahim, dan Yahya, semuanya berasal dari generasi yang sama.
Mereka semua adalah tabi’in. Karenanya, sanad ini memiliki satu tabi’in yang meriwayatkan
hadits dari tabi’in lainnya yang sebelumnya telah meriwayatkannya dari tabi’in ke tiga.
Meskipun tidak jarang, ini bukanlah pola yang paling umum dalam periwayatan hadits.
Perlu diperhatikan pula bahwa ada beberapa riwayat lain dari hadits ini. Beberapa
diantaranya telah diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab dan yang lainnya dari Sahabat yang
berbeda. Namun, semua riwayat tersebut cacat. Para ulama hadits telah menunjukkan
kecacatannya dan telah menolaknya. Jadi, satu-satunya riwayat yang shahih dari hadits ini hanya
datang melalui jalur Yahya dari Muhammad dari Alqamahh dari Umar bin al-Khattab.
3
Apakah Hadits ini Lemah Karena merupakan Hadits Gharib?
Nampak bahwa sebagian orang tidak menerima hadits ini karena hadits ini merupakan
hadits gharib. Memang, kebanyakan hadits pada kategori ini tidak asli. Imam Ahmad pernah
1
Al-Asyqar, Muqaasid, hal. 528
2
Al-Ashqar, Muqaasid, hal. 528
3
Menjadi sebuah perbincangan dalam riwayat lainnya, lihat Ibnu Muhammad, hal, 45-4
Islamic Online University Hadits 102
115
berkata, “Berhati-hatilah kalian dari hadits gharib karena kebanyakan berasal dari para
pendusta.”
1
Namun demikian tidak berarti makna dari setiap hadits gharib itu ditolak. Ini
bukanlah jalan yang ditempuh oleh para ulama ahli hadits. Seperti pada kasus ini, tidak ada bukti
atau alasan untuk menolak hadits ini. Hanya karena hadits itu datang melalui satu jalur saja
bukanlah alasan yang cukup untuk menolak sebuah hadits. Sungguh, seperti yang telah
ditunjukkan oleh Ibnu Taimiyah, ada beberapahadits lain yang seperti ini yang juga dianggap
shahih oleh ulama ulama hadits dan mungkin bisa ditemukan dalam Sahih al-Bukhari.
2
Apakah hadits ini Lemah Karena Hadits ini Syadz atau Munqathi’?
Ada dua keberatan lain yang diajukan tentang hadits ini. Keberatan pertama adalah
bahwa hadits ini adalah hadits yang syadz.
3
Syadz adalah jenis hadits lemah dimana hadits
tersebut menunjukkan bahwa seorang periwayat meriwayatkan sesuatu yang bertentangan
dengan riwayat dari perawi yang lebih tsiqah. Namun demikian, pada kasus ini, keberatan ini
didasari atas pemahaman yang salah tentang istilah syadz. Al-Haakim mendefenisikan syadz
sebagai hadits yang hanya berhubungan dengan perawi yang tsiqah yang tidak memiliki
syawahid lainnya. Pendapat yang benar dan diterima untuk hadits syadz adalah pendapat yang
disampaikan oleh Imam asy-Syafi’i, “Riwayat syadz adalah dimana perawi yang tsiqah
meriwayatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa diriwayatkan oleh orang-orang selainnya.
Maka di sini tidaklah termasuk seseorang yang meriwayatkan sesuatu yang tidak ada orang lain
yang meriwayatkan selainnya.”
4
Keberatan kedua adalah sanad hadits tersebut munqathi’ (rusak; sanadnya terputus).
Diakui oleh sebagian bahwa Yahya tidak mendengar hadits tersebut dari Muhammad bin Ibrahim
dan bahwa Muhammad bin Ibrahim tidaklah mendengar hadits tersebut dari Alqamahh. Namun,
banyak riwayat yang menunjukkan bahwa perawi-perawi ini memang mendengarnya, bahkan
1
Dikutip dalam ibn Taimiya, Majmu, Bab 18, hal 247
2
Ibnu Taimiya, Majmu, Bab 18, hal 247-248
3
Al-Ashqar, Muqaasid, hal. 526
4
Dikutip dalam al-Ashqar, Muqaasid, hal. 526
Islamic Online University Hadits 102
116
pada kenyataannya mereka saling bertemu, dan meriwayatkan hadits langsung dari satu orang ke
orang lainnya.
1
Karena itu, dua keberatan ini tidak rajih dan, dengan demikian, keduanya tertolak.
Apakah Hadits ini Mutawaatir?
Di lain pihak, ada beberapa orang yang mengklaim bahwa hadits ini mutawaatir. Ini juga
tidak benar, sebagaimana telah dijelaskan dari penelitian tentang jalan periwayatan yang shahih
dari hadits ini. Semuanya berkisar diantara Yahya dari Ibrahim dari Alqamah dari Umar. Dengan
demikian, tidak satupun dapat mengatakan bahwa hadits ini mutawaatir. Namun, jika yang
dimaksud adalah mutawaatir dari segi maknanya,”
2
maka itu dapat diterima. Ada banyak dalil
dari Quran dan sunnah yang menunjukkan bahwa “segala perbuatan tergantung dari niat”
Pendapat pendapat Umum tentang Hadits ini
Ini adalah salah satu hadits yang paling luas faedahnya dari Nabi (shallallahu ‘alaihi
wasallam). Hadits tersebut mencakup hampir seluruh amalan dalam Islam. Abu Ubaid
mengatakan, “Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) telah merangkum semua urusan dunia ini
dalam satu kalimat, Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami
ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.’ Beliau dia telah
memasukkan seluruh urusan di hari kiamat dalam satu kalimat, ‘Setiap perbuatan tergantung dari
niatnya.’” Imam Abu Dawud menyatakan bahwa hadits ini adalah setengah dari agama Islam;
bahwa, Islam terdiri dari apa yang nampak, perbuatan dalam islam, termasuk pula amalan yang
tidak nampak, niat ada dibalik semua perbuatan. Imam Asy Syafi’i juga berkata bahwa hadits ini
adalah setengah dari ilmu pengetahuan, artinya bahwa agama mengatur baik yang di luar
maupun yang di dalam. Perbuatan adalah sesuatu yang dari luar dan niat dibalik segala perbuatan
adalah sesuatu yang dari dalam.
1
Al-Ashqar, Muqaasid, hal. 526
2
“Mutawaatir dalam segi maknanya” artinya konsep dan makna hadits didukung oleh banyaknya riwayat lainnya.
“Mutawaatir dalam makna katanya”
Islamic Online University Hadits 102
117
Baik Imam Ahmad maupun Imam Asy Syafi’i keduanya menyatakan bahwa hadits ini
mencakup sepertiga dari ilmu. Al-Baihaqi menjelaskan pendapat ini dengan berkata, “Pendapat
ini benar karena seseorang memperoleh pahala dengan hati, lisan, dan anggota tubuhnya. Dengan
demikian, niat termasuk dalam salah satu dari ketiga hal ini.”
1
Imam Asy Syafi’i juga
mengatakan bahwa hadits ini digunakan sebagai dalil dalam 70 bab dalam fiqh.
2
Imam Ahmad mengatakan bahwa pondasi islam berkisar antara tiga hadits: “Segala
perbuatan tergantung dari niatnya,” Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan
kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak, dan, “yang
halal itu jelas dan yang haram itu jelas,”
3
Abu Daud mengatakan bahwa ilmu berputar diantara
lima hadits: “Amalan tergantung niat,” “agama ini adalah nasehat,” “Yang halal itu dan yang
haram itu jelas,” “Tidak boleh melakukan sesuatu yang berbahaya dan membahayakan”
“Apapun yang aku larang kepadamu, maka jauhilah. Apapun yang aku perintahkan untuk
dilakukan, maka lakukanlah semampu kalian.”
Abu Ubaid
4
berkata tentang hadits ini, “Tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam yang lebih luas, lebih mencukupi, dan memiliki banyak faedah penting dibandingkan
hadits ini.
5
Dasar sebuah amalan yang baik adalah ikhlas kepada Allah ta’alasebagaimana yang
Allah telah sebutkan dalam beberapa kitab-Nya, dengan diutusnya para Rasul-Nya dan
diciptakannya berbagai makhluk ini dengan tujuan ibadah kepada-Nya. Oleh karena itu, para
salafush shalih lebih suka untuk memulai majelis dan pertemuannya dengan hadits ini. Demikian
pula, banyak ulama yang lebih suka untuk memulai karya atau kitab-kitab mereka dengan hadits
ini, seperti Imam Bukhari dalam Sahih al-Bukhari. Abdul Rahman bin Mahdi berkata, Ini
adalah suatu keharusan bagi siapapun yang sedang menulis kitab untuk memulai dengan hadits
ini agar menanamkan dalam diri penuntut ilmu pentingnya niat yang baik.”
6
1
Lihat Ibnu Hajr, Fath, bab. 1, hal, 11
2
Dikutip dalam An-Nawawi, Syarah Shahih, Bab 13, hal, 53; Ibnu Rajab, Jaami, hal. 5
3
Dikutip dalam Ibnu Rajab, Jaami, hal. 5
4
Dalam beberapa keadaan, ini disebutkan sebagai kutipan dari Abu Ubaid sedangkan dalam keadaan lainnya ini
disebut sebagai pernyataan dari Abu Abdullah. Yang terakhir disebutkan oleh al-Bukhari.
5
Dikutip oleh Ibnu Hajar, Fath, bab. 1, hal, 17
6
Dikutip dalam an-Nawawi, sharah shahih, bab 13, hal, 53; Ibnu Rajab, Jaami, hal. 5
Islamic Online University Hadits 102
118
Peristiwa dibalik hadits
Sebagaimana ada ilmu tentang asbabun nuzul (peristiwa yang melatarbelakangi turunnya
wahyu dalam ayat Al Qur’an tertentu), ada juga ilmu tentang asbaabul wurud al-hadits
(peristiwa yang melatar belakangi keluarnya perkataanperkataan tertentu dari Nabi, shallallahu
‘alaihi wasallam.
1
Seringkali, dengan mengetahui peristiwa yang melatar belakangi sebuah
wahyu atau perkataan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka seorang akan mengerti makna
sebenarnya dari ayat atau hadits tersebut. Kejadian yang melatarbelakangi sebuah ayat atau
hadits membuka banyak pemahaman dalam menafsirkan dengan benar pernyataan tersebut.
Karena itu, untuk memahami sepenuhnya setiap ayat atau hadits, penting untuk menentukan ada
tidaknya peristiwa tertentu yang menjadi sebab turunnya ayat atau hadits tersebut.
2
Saad bin Mansur dan at-Tabaraani meriwayatkan dari jalan Ibnu Mas’ud bahwa hadits ini
berdasarkan kisah mengenai seorang laki-laki yang ingin menikah dengan seorang wanita yang
bernama Ummu Qais tetapi wanita itu menolak untuk menikah dengan laki-laki tersebut kecuali
laki-laki tersebut mau hijrah dari Makkah ke Madinah. Oleh karena itu, laki-laki tersebut hijrah
dengan tujuan untuk menikahi wanita tersebut. Ibnu mas’ud berkata bahwa setelah kejadian itu
laki-laki tersebut dikenal dengan “Muhajir Ummu Qais”. Menurut Ibnu Hajar semua jalur dalam
riwayat ini shahih. Namun, beliau menunjukkan bahwa tidak satupun dalam hadits tersebut yang
menyatakan dengan tegas bahwa itu peristiwa itulah yang melatarbelakangi Nabi shalallahu
‘alaihi wasallam untuk bersabda, “Amalan itu tergantung dari niatnya…” Ibnu Hajar memahami
bahwa pernyataan ini berlaku untuk orang tersebut meskipun ia bukanlah sebab dibalik sabda
Nabi tersebut.
3
1
Ada banyak kitab yang menghimpun asbaab wuruud hadits. Seperti Jallal al-Deen al-Suyuti, Asbaab Wuruud al-
hadits Au al-Luma fi asbaab al-ahadits (Beirut: Daar al-kutub al-ilmiyah, 1984); Ibrahim Ibnu Hamzah al-Husaini,
al-Bayaan wa al-Tareef fi asbaab Wurud al-Hadits al-shafee (Beirut: al-Maktaba al-Ilmiya,1982)
2
Seperti peristiwa dibalik turunnya wahyu dalam ayat-ayat al-Quran,
3
Ibnu Hajar, Fath, bab 1, hal, 10-11.
Islamic Online University Hadits 102
119
Tentang perawi: Umar Bin Khattab
1
Umar bin Khattab (lahir tahun 39 sebelum Hijriah/583 M wafat 24 H/644 M) adalah
sahabat terbaik Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam setelah Abu Bakar. Beliau adalah seorang yang
memiliki tekad kuat dan sangat dihormati di Makkah. Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam dulu mendoakan salah satu diantara Abu Jahal dan Umar bin Khattab
agar diberi petunjuk untuk masuk Islam.
2
Dengan karunia dan ampunan dari Allah shalallahu
‘alaihi wasallam, Dia memberi petunjuk kepada Umar untuk memeluk agama Islam lima tahun
sebelum Hijrah ke Madinah. Sebagaimana yang Ibnu Mas’ud katakan, mereka semakin menjadi
kuat setelah masuknya Umar ke dalam Islam.
3
Umar ikut dalam semua peperangan Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam.
Beliau menggantikan Abu Bakar sebagai Khalifah, berhasil menaklukan negeri Persia
dan kerajaan Roma, memperluas daerah kekuasaan Islam dari Iran sampai ke Mesir, dan
meletakkan tatanan pemerintahan dan masyarakat yang baru. Beliau dikenal dengan
pengetahuannya yang mendalam tentang Al Qur’an dan Hadits serta wawasannya yang luas
dalam bidang fiqh.
Umar ditikam oleh seorang budak ketika sedang mengimami shalat subuh. Beliau ditikam
oleh seorang budak Nasrani atau Majusi yang kecewa dengan keputusan yang dibuat oleh Umar.
Beliau wafat beberapa hari setelah kejadian itu. Beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat
yang diberikan kabar gembira akan masuk Surga oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri.
Keutamaan Umar bin Khattab dapat ditemukan dalam banyak hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Contohnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Ketika
sedang tidur, Aku melihat diriku sedang minum [susu], dan aku begitu puas sampai merasa susu
itu merasuk kedalam hingga kuku-kukuku. Maka aku memberikan susu itu kepada Umar.” Para
sahabat berkata, “Bagaimana Engkau menjelaskannya?” Beliau berkata, “Sesungguhnya itu
adalah ilmu.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari).
1
Pada umumnya, informasi tentang Sahabat yang meriwayatkan hadits ini diambil dari catatan pribadi Ahmad ibn
Hajar, Al-Isaadah fi Tamyeez al-Sahaaba (Riyadh: Maktaba al-Riyadh al-hadits, 1978)
2
Lihat Ibrahim al-Ali, Shahih al-Seerah al-Nabawiyah (Jordan: Daar al-Naafa’is, 1995), hal, 79.
3
Diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Islamic Online University Hadits 102
120
Dalam peristiwa lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata kepada Umar,
“Wahai Ibnu al-Khattab, demi Allah yang jiwaku berada dalam gengaman-Nya, tidaklah Setan
menemuimu sedang berjalan dalam satu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak
engkau lalui.” (diriwayatkan oleh al-Bukhari.) Satu waktu Nabi shallallahu alaihi wa sallam
pernah berada diatas Gunung Uhud bersama dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Gunung
tersebut mulai berguncang dan bergetar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenjejakkan kedua
kakinya dan bersabda, “Wahai Uhud! Tenanglah. Diatasmu tidaklain adalah Nabi, seorang Ash
Shidiq dan seorang syuhada.(Diriwayatkan oleh al-Bukhari.) Yang terakhir, dalam hadits yang
lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Diantara umat-umat sebelum kalian,
ada orang-orang yang telah diberikan wahyu [meskipun mereka bukanlah seorang nabi]. Jika ada
orang seperti itu diantara umatku, itu pastilah Umar [radhiyallahu anhu].” (Diriwayatkan oleh
al-Bukhari.)
Beliau meriwayatkan hadits dengan jumlah yang banyak dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam. Dalam kitab-kitab hadits, kita dapat temukan setidaknya 530 hadits berasal dari
periwayatannya.
1
Umar bin al-Khattab memastikan bahwa Sahabat lainnya berhati-hati saat
meriwayatkan hadits. Beliau bahkan pernah mengancam Abu Musa al-Ashari kecuali Abu Musa
mendatangkan saksi lain tentang hadits yang dia telah kutip dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam.
Ada kisah yang terkenal tentang keislaman Umar. Disebutkan bahwa waktu itu ia dalam
perjalanan untuk membunuh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika seseorang mengatakan
padanya bahwa saudara perempuannya telah memeluk Islam. Karena itu dia memutuskan untuk
pergi ke rumah saudara perempuannya tersebut dan mengurus keluarganya terlebih dahulu. Saat
tiba dirumah saudara perempuannya, dia mendengar orang-orang dalam rumah sedang membaca
Al-Quran. Mereka kemudian menyembunyikan Al-Quran sebelum membiarkannya masuk. Dia
meminta untuk melihat apa yang mereka tadi dibaca tetapi saudara perempuannya menolak. Dia
kemudian menampar saudara perempuannya itu sampai berdarah. Umar kemudian merasa sedih
dan kasihan. Saudara perempuannya berkata kepadanya bahwa dia harus pergi dan
membersihkan dirinya serta mandi secara sempurna baru kemudian dia dapat menyentuh apa
1
Ini adalah jumlah hadits yang ditemukan dalam banyak kitab hadits yang bersumber darinya. Jumlah ini, meski,
termasuk riwayat yang tidak dianggap shahih. Jumlahnya, oleh karena itu, cukup memberikan sebuah ide pada
jumlah kasar hadits yang diriwayatkan oleh shahabat tertentu.
Islamic Online University Hadits 102
121
yang mereka tadi baca. Dia segera melakukannya dan kembali dan membaca Al-Quran. Al-
Quran tersebut menyentuh hatinya dan dia memeluk Islam. Sayangnya, kisah ini tidak terlihat
keshahihannya karena tidak ada jalur kuat yang mendukungnya.
1
“Sesungguhnya, amal tergantung dari niat dan setiap
orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya.”
Berikut ini adalah pembahasan rinci yang bertujuan untuk mengetahui makna yang tepat
dari bagian hadits ini. Metode dari para ulama dari waktu ke waktu agak sedikit rumit dan
mungkin susah untuk dipahami. Pembaca yang hanya ingin melihat kesimpulan dalam
pembahasan ini boleh melangkah ke bagian, “Kesimpulan makna dari ’Sesungguhnya, Setiap
amalan itu…’”
Makna Innama(
)
Kata innama menunjukkan penekanan dan pengecualian. Jadi kata tersebut dapat
diartikan seperti, “Sungguh [atau kepastian] hanyalah…” Para ahli bahasa dan ahli tata bahasa
berbeda pendapat tentang makna dan tata bahasa yang mana innama menunjukkan pengecualian.
Poin pentingnya adalah semuanya sependapat bahwa kata tersebut menunjukkan pengecualian-
pada umumnya, karena pasti selalu ada pengecualian. Jadi hadits ini diterjemahkan dengan,
“Sesungguhnya, Semua amalan [tidaklah] dilakukan kecuali dengan niat.” Bukan, “Amalan
dilakukan dengan niat.” Hal tersebut tidak cukup. Tentu saja, setiap amalan berdasarkan pada
niatnya tanpa pengecualian apapun untuk kaidah ini.
Pengecualian ini bermakna bahwa hukum itu berlaku untuk apa yang dinyatakan dan
ditolak dalam hal apapun. Dalam al-Quran, ini jelas bahwa maknanya adalah innama.
Ada beberapa pasang ayat dalam al-Quran yang maknanya sama jelas yangdiungkapkan tetapi
dalam sebuah ayat kata innama yang digunakan sedangkan dalam ayat yang lainnya kata
atau
kecuali, selain digunakan. Contohnya, Allah berfirman dalam Al-Quran,
1
Lihat al-Ali, hal 80; Akram al-Umari, al-Seerah al-Nabawiyyah al-Saheeha (Madina: Maktaba al-Uloom wa al-
Hikam, 1993), bab 1 hal, 180
Islamic Online University Hadits 102
122






Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan” (at-Tahrim: 7) .







Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan
(ash-Shaffaat: 39).
Ada sebuah perdebatan yang menarik diantara para ahli bahasa dan ahli tata bahasa
terkait apakah ini merupakan makna sesungguhnya (ha) untuk pengecualian atau hanya makna
kiasan (majaz

). Ibnu Athiyyah menyatakan bahwa itu bukanlah makna sesungguhnya yang
bermakna pengecualian, tetapi kebanyakan ulama tidak sependapat dengannya.
1
Perbedaan yang
dihasilkan adalah sebagai berikut: menurut Ibnu Athiyyah, ketika innama digunakan, seseorang
harus memiliki dalil bahwa itu merupakan sebuah pengecualian. Menurut pendapat lainnya, ini
dipahami sebagai pengecualian kecuali ada dalil yang menunjukkan sebaliknya. Karena itu,
semua metode sebenarnya saling bertentangan satu dan yang lainnya.
Satu hal yang juga diperhatikan dan dipahami bahwa ada semacam hal seperti
“pengecualian yang tidak mutlak”. Ini dapat dipahami dari konteks dan bukti-bukti yang terkait
lainnya. Contohnya, perhatikan ayat berikut:




Sesungguhnya kamu [Muhammad] hanyalah seorang pemberi peringatan.” (ar-Ra’d: 7). Ini
adalah sebuah ayat pengecualian yang tidak mutlak. Bahwa, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
memberi peringatan tetapi perannya hanya sebagai pemberi peringatan yang hanya ditujukan
kepada mereka yang menolak untuk beriman dan tunduk kepada-Nya. Itu bukan berarti bahwa
dia tidak memiliki sifat-sifat selain daripada itu. Bagi orang-orang beriman, beliau lebih dari
sekedar orang yang memberikan sebuah peringatan. Beliau juga adalah pembawa kabar gembira.
Beliau juga adalah teladan bagi mereka untuk diikuti.
Ayat lainnya yang tidak boleh disalahpahami adalah surat Muhammad: 36,




Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Ini adalah ayat yang
berkaitan hanya untuk orang-orang yang dikuasai oleh dunia dan hanya menginginkan dunia.
1
Dikutip dalam Asy-Syinqiti. Kautsar, Bab 1, hal, 134
Islamic Online University Hadits 102
123
Sebaliknya, ayat ini dapat menjadi sebuah sumber kebaikan yang banyak jika hal tersebut
digunakan sebagai persiapan untuk akhirat.
“Semua Amalan” (

)
Kata yang digunakan pada hadits ini adalah jamak dari kata “perbuatan” atau “amalan”.
Dalam haditst ini kata dimulai dengan yang berarti itu merupakan istilah umum dan termasuk
semua amalan yang artinya mungkin termasuk dalam istilah ini.
1
Karena itu, termasuk amalan
anggota badan dan perkataan, amalan-amalan yang wajib dan sunnah, amalan-amalan yang
ringan dan berat. Sebagian orang mengecualikan perkataan karena mereka tidak menganggap itu
adalah sebuah amalan. Ibnu Daqiqil Eid mengatakan pendapat ini kuat atau jauh lebih baik.
2
Asy-Syinqithi menyimpulkan bahwa secara metaforis, perkataan adalah jenis perbuatan tetapi
bukan dalam makna yang baku.
Akan tetapi, banyak ulama membatasi hadits ini hanya untuk orang-orang mukmin yang
taat. Pendapat mereka bahwa hadits ini merujuk kepada amalan-amalan dalam hal ibadah dan
amalan-amalan dalam hal ibadah hanyalah pantas untuk orang-orang mukmin yang taat. Yang
lain membatasi maknanya hanya untuk amalan-amalan syariah, artinya, ibadah-ibadah yang
disertai amalan berkaitan dengan masalah hukum. Meski begitu, sepertinya tidak ada satupun
bukti untuk membatasi istilah tersebut hanya untuk amalan-amalan orang-orang mukmin. Tentu
saja, sepertinya tidak ada dalil apapun untuk membatasi makna kata amalan-amalan dalam hal
ibadah atau amalan-amalan syariah saja.
Memang, terlihat bahwa amalan-amalan disini harus dibatasi pada amalan yang disengaja
dan yang diniatkan. Amalan-amalan terkadang dilakukan secara tidak sengaja, tanpa kehendak
dan tujuan untuk melakukannya. Karenanya, itu semua dilakukan tanpa ada niat dan dengan
demikian hadits ini, tidak dapat merujuk pada amalan-amalan semacam itu.
1
Istilah umum termasuk apapun yang dimaksud dalam makna tersebut. Namun, itu mungkin terkhusus; artinya, itu
mungkin ditemukan bahwa pengecualian telah dibuat. Ini menjadi sebuah hal disini sebagai amalan yang tanpa
disengaja akan dikeluarkan dari amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits ini.
2
Dikutip dalam Asy Syinqithi, Kautsar, bab 1, hal, 134
Islamic Online University Hadits 102
124
Huruf Ba ()
Huruf ba memiliki banyak makna dalam bahasa Arab. Pada hadits ini, Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya, setiap amalan itu tergantung bi niat.” Ada
dua penafsiran untuk hadits yang istimewa ini. Tafsiran pertama adalah huruf ba dikenal sebagai
as ba al-musaahibah (huruf ba yang menyertai). Pada keadaan ini, hadits tersebut akan
bermakna: Amalan disertai dengan niat.
Penafsiran kedua adalah huruf ba dikenal sebagai ba as-sababiyah (huruf ba yang
menjadi sebab). Ini adalah huru ba yang menunjukkan hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu,
untuk hadits yang istimewa ini, maknanya kemudian menjadi: “Amalan yang “disebabkan” oleh
niat. Al-Aini berkata bahwa bukan ini yang dimaksudkan di sini sedangkan Asy-Syinqithi
menyatakan bahwa kedua-duanya mungkin saja yang dimaksudkan. Jika ini yang dimaksud, itu
berarti pahala diberikan karena adanya niat karena hanya niatlah yang menyebabkan amalan itu
bisa terjadi. Nampak bahwa ini adalah pandangan yang kuat dan ini merupakan pemahaman
yang diterima dalam penjelasan ini.
Menurut al-Aini, al-Karmaani menyebutkan bahwa ini adalah perbedaan jenis huruf ba,
yang dikenal sebagai ba al-isti’anah (huruf ba merujuk kepada sesuatu yang digunakan sebagai
bantuan). Sehingga ini akan bermakna seperti, Amalan dilakukan dengan bantuan niat.”
Sebagian yang memberikan syarah kepada hadits ini tidak menyebutkan atau menganggap
pandangan terakhir ini.
1
Makna dari an-Niyyah
Hal yang penting yang harus dibahas adalah makna dari kata “niat” (Ar., niyyah).
Saalih as-Sadlaan membahas akar bahasa dari kata an-niyyah dan memberikan kutipan pendek
yang menguraikan makna dari kata itu dalam konteks ini,
Maksud sebenarnya dari niat: Sebagian berkata bahwa niat itu adalah
menuntut sesuatu. Sebagian berkata itu bermakna kesungguhan seseorang
dalam sebuah pencarian. Contohnya, Ibnu Mas’ud pernah berkata,
“Barangsiapa meniatkan kehidupan dunia dalam cita-citanya dia tidak
akan bisa untuk mencapainya,” artinya, seseorang yang sungguh-sungguh
mencarinya. Sebagian berkata: niat itu bermakna menginginkan sesuatu
dalam hatinya. Yang lainnya berkata bahwa niat itu bermakna tekad
1
Mahmud al-Aini, Umdah al-Qaari syarah shahih al-Bukhari (Beirut: Daar al-Turath al-Arabi, n,d), bab 1, hal,24
Islamic Online University Hadits 102
125
dalam hati. Sebagian mengatakan bahwa niat itu berasal dari kata an-
nawa yang berarti jarak, sebagaimana niat untuk sesuatu berarti mencari
sesuatu dengan tujuan dan tekad yang ia seseorang tidak akan meraihnya
dengan anggota tubuhnya dan perbuatan nyata dikarenakan adanya jarak
dari dirinya. Karenanya, niat ini menjadi alat yang dengannya dia
mencapainya. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan niat sebagai
pengetahuan dari seseorang tentang apa yang sedang dia lakukan dan apa
tujuan di balik perbuatannya. Dia mengatakan bahwa seseorang yang
cerdik dan sukarela tidak akan melakukan sesuatu tanpa adanya
pemahaman dan kemauan terlebih dahulu tentang hal tersebut. Ini adalah
kenyataan tentang niat. Niat bukanlah sesuatu yang dari luar yang masuk
ke dalam pemahaman dan tujuan seseorang untuk melakukan itu. As-
Suyuti berkata, “Niat menggambarkan sebuah kekuatan pendorong di
dalam hati menuju kepada apa yang seseorang saksikan dan sesuai
dengan apa yang dia mau, entah itu membawa kepada kebaikan atau
menjauhkan dari bahaya, baik sekarang maupun di masa depan.”
1
Makna kata niyyah dapat diuraikan dalam bahasa Indonesia sebagai: usaha, niat, tujuan,
resolusi, tuntutan, cita-cita, sasaran, ketetapan hati, tekad, dan sebagainya. Ini bukan hanya
sebuah pemikiran yang berasal dari dalam benak seseorang tetapi ini adalah sebuah tekad,
kemauan, dan cita-cita untuk melakukan sesuatu. Oleh karena itu, jika seseorang memiliki niat
untuk melakukan sesuatu itu artinya dia akan melakukannya selama tidak ada yang mencegahnya
atau selama dia tidak mengubah niatnya tersebut. Contohnya, jika seseorang bermaksud untuk
berpuasa pada hari Senin dan hari Senin tiba dan tidak ada hal apapun yang mencegahnya dari
berpuasa, namun dia tidak berpuasa, itu artinya dia tidak memiliki niat yang sungguh-sungguh
sebelum hari Senin benar-benar tiba.
Ini adalah makna bahasa dari kata niyyah dan tidak ada dalil apapun yang menyatakan
makna syariat pada kata ini berbeda. Namun demikian, para ahli fikih menggunakannya dengan
sedikit perbedaan pengertian. Mereka menyebutnya sebagai niat dalam hati yang harus menyertai
dan mendahului setiap amalan dalam hal ibadah.
1
Sadlan, al-Niyyah, jilid 1, hal, 98-99
Islamic Online University Hadits 102
126
Tempat Niat
Menurut Ibnu Taimiyah, para ulama sepakat bahwa “tempat niat adalah didalam hati atau
nurani dan niat itu bukan di lisan.
1
Maksudnya adalah mengatakan sesuatu tidaklah sama seperti
memiliki niat untuk melakukan sesuatu. Karenanya perkataan baru, contohnya seperti, “Saya
berniat untuk shalat dua rakaat adalah hal yang tidak masuk akal. Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dulu tidak pernah membuat perkataan semacam itu.
2
.
Contoh lainnya adalah pada hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
“Siapa yang tidak berniat untuk puasa di malam hari pada bulan Ramadhan (pada esok harinya)
maka tidak ada puasa untuknya.”
3
Ini berarti bahwa jika seseorang mengetahui bahwa besok
adalah bulan Ramadhan dan dia mengetahui bahwa dia wajib untuk bepuasa Ramadhan dan
karena itu tujuannya adalah berpuasa pada esok harinya, kemudian dia telah “berniat.” Tetapi
jika orang tersebut juga menyatakan, “Saya berniat puasa Ramadhan besok…” namun di dalam
hatinya tidak ada keinginan atau menolak untuk berpuasa, kemudian dia tidak melakukannya,
sebenarnya, dia tidaklah berniat. Dalam kaitannya dengan masalah niat, yang terpenting adalah
apa yang ada dalam hati.
Beberapa ulama mengatakan bahwa lebih baik atau dianjurkan (Ar.,mustahab) untuk
benar-benar melafadzkan niat dengan tenang sebelum memulai amalan tertentu. Mereka sepakat
bahwa hati adalah tempatnya niat tetapi mereka beranggapan bahwa melafadzkan niat dengan
tenang membuat seseorang lebih yakin akan niatnya itu. Untuk mengatakan bahwa sesuatu itu
mustahab adalah sebuah pertimbangan syariat. Seseorang tidak mungkin mengatakan suatu
amalan mustahab tanpa ada dalil dari al-Quran dan sunnah. Jika tidak ada dalil untuk
melafadzkan niat dengan tenang, tidak dapat disimpulkan bahwa hal tersebut adalah mustahab.
1
Dikutip dalam al-Asqhar, Muqaasid, hal, 115
2
Pengecualian yang mungkin hanya pada kasus dalam Haji. Para ulama telah membahas mengapa ada pengecualian
tersebut. Jilid 2, hal, 28-29.
3
Dengan perkataan itu, diriwayatkan oleh al-Nasai. Menurut al-Albani, riwayat tersebut shahih, Al-Albani, Shahih
al-Jami, jilid 2 hal, 28-29.
Islamic Online University Hadits 102
127
Perkataan dari imam asy-Syafi’i telah disalahartikan dan membuat sebagian orang
meyakini bahwa beliau lebih suka untuk melafadzkan niat sebelumnya, contohnya, masalah
shalat. Ketika imam asy-Syafi’i menyebutkan perbedaan antara shalat dan keadaan yang tidak
dapat diganggu gugat dalam pelaksanaan ibadah haji, beliau menyebutkan bahwa shalat dimulai
dengan sebuah perkataan; sebagian orang menyimpulkan bahwa yang dimaksud adalah
melafadzkan niat tetapi ini tidak benar. Sebenarnya, beliau merujuk bahwa shalat dimulai dengan
dengan melafadzkan takbir.
Kata lain yang sama dengan Niyyah
1
Meskipun kata niyyah dan kata turunannya mungkin dapat kita temukan dalam banyak
hadits, al-Quran biasanya menggunakan kata berbeda yang sama dengan kata niyyah. Seperti
kata al-iradah (kemauan), al-qasd (tujuan), dan al-azm (tekad). Semua kata ini yang dekat
maknanya dengan yang lainnya tetapi semuanya memiliki beberapa perbedaan sifat tertentu yang
memisahkan antara satu kata dengan kata lainnya. Semuanya menunjukkan kemauan untuk
melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang khusus. Sebenarnya, semua kata ini terkadang
digunakan untuk makna yang sama dalam bahasa Arab.
Kata niyyah adalah kelompok kata dari cakupan kata iraadah atau kemauan. Iraadah,
menurut al-Qaradai, mencakup niat, tekad, perhatian, hasrat, tujuan, pilihan dan kemauan. Kita
melihat bahwa tempatnya adalah di hati. Ungkapan ini digunakan dalam ayat berikut:







































Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami segerakan baginya di
dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya
neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa
yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang
1
Lihat al-Sadlan, NIyyah, jilid 1,hal, 107-111
Islamic Online University Hadits 102
128
ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik [oleh
Allah]” (al-Israa 18-19).
Qasd (tujuan) menunjukkan beralih menuju sesuatu dan menginginkannya. Ini terkadang
digunakan untuk mengartikan sesuatu yang sama seperti kata niyyah. Memang, kata ini yang
sangat dekat untuk makna tersebut. Namun, istilah qasd dapat digunakan untuk seseorang yang
menginginkan sesuatu untuk dirinya seperti dia menginginkan sesuatu dari orang lain. Kata
niyyah tidak dapat digunakan pada pengertian yang sebelumnya. Kedua, kata qasd hanya dapat
digunakan untuk suatu perbuatan yang mampu dilakukan oleh seseorang itu sendiri sedangkan
kata niyyah dapat digunakan untuk suatu perbuatan yang diluar kemampuan orang tersebut.
Artinya, seseorang dapat memiliki niat seperti jika dia memiliki uang dalam jumlah tertentu, dia
akan menginfakkan semuanya. Dia mungkin memiliki niat tersebut meskipun hal tersebut diluar
kesanggupannya karena dia tidak memiliki uang tersebut. Pada hal seperti itu, kata niyyah dapat
digunakan tetapi tidak untuk kata qasd.
Yang ketiga adalah kata azm. Kata azm adalah keinginan kuat dalam hati untuk
menyelesaikan suatu masalah. Kata ini juga dapat ditemukan dalam al-Quran. Sebenarnya, dalam
al-Quran kata ini memiliki empat makna: tujuan, kesabaran, tekad, dan penyelesaian. Kata
tersebut juga menunjukkan tekad untuk melakukan sesuatu tanpa keraguan dan kekhawatiran
sedikitpun tentang masalah tersebut. Dalam istilah yang berbeda, kata azm bermakna kekuatan
yang berkaitan dengan adanya sebuah tekad untuk melakukan sesuatu. Sebenarnya, niat,
kemauan, dan tujuan semuanya mendahului azm. Kata azm akhir dari semua perbedaan makna
ini.
Niyyah, qasd, dan iradah semuanya menunjukkan ilmu dan amalan. Yang pertama, harus
ada ilmu tentang amalan yang seseorang ingin lakukan. Kemudian, amalan harus dilakukan,
selama tidak ada yang faktor yang melarangnya. Sebenarnya, tidak ada amalan yang lengkap
kecuali memiliki tiga komponen: ilmu tentang amal, kemauan untuk melakukan amalan, dan
kemampuan untuk melakukannya. Tidak ada yang mau melakukan sesuatu yang dia tidak
mengetahui dan tidak ada yang dapat melakukan sesuatu yang dia tidak memiliki kemampuan
untuk melakukannya.
Islamic Online University Hadits 102
129
Ketika niat (niyyah) dikaitkan dengan suatu amalan yang dilakukan pada saat sekarang,
itu juga disebut qasd. Jika itu berkaitan dengan suatu amalan yang akan dilakukan pada masa
depan, itu disebut azm. Iradaah digunakan untuk keduanya baik masa sekarang maupun di masa
depan.
1
Niat dan ikhlas
Niat seseorang bisa jadi mulia atau jahat. Namun, bagi orang-orang beriman, tujuannya
adalah untuk melakukan niat, artinya, alasan dari perbuatannya adalah semata-mata hanya untuk
Allah azza wajalla. Ini adalah istilah lainnya yang sangat penting dalam al-Quran yang dikenal
sebagai al-ikhlas. Ini adalah bagian pokok dari tauhid murni yang diajarkan kepada setiap umat
oleh setiap nabi mereka. Allah berfirman dalam al-Quran,
























Padahal mereka (orang-orang terdahulu) tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam [menjalankan] agama dengan lurusdan supaya
mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus
Sebelum mulai melakukan suatu ibadah apapun, seseorang harus yakin bahwa dia
melakukan ibadah semata-mata hanya untuk Allah azza wa jalla. Jika dia tersesat dari tujuan
tersebut, kemudian dia juga melakukan sebuah syirik besar (menyekutukan Allah azza wa jalla)
yang membuatnya keluar dari islam atau sebuah bentuk dari syirik kecil.
1
Kata lainnya yang memiliki makna yang sama dengan niat tetapi tidak dibahas disini adalah:
Untuk pembahasannya secara rinci lihat As Sadlan, An Niyyah, Vol 1, pp. 115-126
Islamic Online University Hadits 102
130
Apakah ada Sesuatu yang Dihilangkan dalam Kalimat
tersebut?
Wacana pengantar
Dalam bahasa arab, bukanlah sesuatu yang luar biasa untuk sebuah kalimat jika ada
sesuatu yang dihilangkan dalam kalimat tersebut. Tata kebahasaan yang sama seperti ini juga
dijumpai dalam bahasa Inggris. Contohnya, ada yang dikenal dengan istilah ellipsis. Ellipsis
diartikan sebagai, “dihilangkannya dari sebuah kalimat sebuah kata atau kata-kata yang akan
melengkapi atau menjelaskan susunan tersebut.”
1
Dalam bahasa Arab, ini dapat terjadi pada
lebih dari satu kasus. Seperti satu kasus yang disebut dengan idhmaar atau
“tersembunyi”. Ini adalah yang paling dekat dengan pengertian ellipsis yang baru saja
disebutkan. Kasus lainnya adalah taqdir dimana kata atau kata-kata yang hilang harus
diperkirakan atau disiratkan.
Umumnya, pada kalimat apapun, dijelaskan bahwa idhmaar atau taqdir tidak perlu untuk
digunakan. Artinya, setiap kalimat harus dipahami sebagaimana mestinya dan seandainya
kalimat itu tidak dapat dipahami sebagaimana mestinya kehadiran idhmaar maupun taqdir harus
dipahami.
Penggunaaan idhmaar dan taqdir adalah bagian dari bahasa Arab. Contoh
penggunaannya dapat ditemukan dalam al-Quran. Umumnya, taqdir terjadi, merupakan sesuatu
yang harus diketahui, ketika:
a) Pernyataannya sama sekali tidak salah atau benar kecuali sesuatu tersebut
diketahui, contohnya, sebuah hadits mengatakan,
1
Webster’s Encyclopedia Unabridged Dictionary of the English Language (New York: Portland House, 1989), hal,
464
Islamic Online University Hadits 102
131
“Kesalahan, lupa, dan melakukan sesuatu karena terpaksa telah Allah hilangkan bagi Ummatku
(bangsaku).”
1
. Perkataan ini tidak bisa diartikan secara harfiahnya karena perbuatan-perbuatan
seperti itu terjadi diantara Umat ini. Semuanya ada diantara Umat ini dan karenanya mereka
belum dihilangkan. Karena itu, haditst ini juga harus bermakna bahwa hukum dan akibat dari
perbuatan itulah yang telah dihilangkan atau dosa dari perbuatan itulah yang telah dihilangkan.
2
b) Pernyataan tersebut tidak masuk akal. Contohnya, dalam al-Quran, Allah
berfirman dalam surah Yusuf, ayat 82,
Ini, secara harfiah artinya, “Tanyalah pada negeri.” Sebuah negeri tidak dapat berbicara. Namun,
kata-kata “penduduk” itu dipahami. Jadi, kalimat tersebut bermakna, tanyakan pada penduduk
negeri.” Ini sama seperti perkataan, “Saya telah berbicara dengan New York tadi malam.” Yang
maknanya tentu saja, “Saya telah berbicara dengan seseorang di New York tadi malam.”
c) Bahasanya tidak benar menurut pandangan syariat. Contohnya, ayat dalam al-
Quran (an-Nisaa: 23) yang menyatakan,


Secara harfiah maknanya, “Ibumu haram untukmu.” Namun, sebuah obyek itu sendiri tidak
dapat menjadi haram. Yang haram adalah perbuatan yang berkaitan dengan obyek tersebut.
Karenanya, ayat ini dapat diartikan lebih jelas dengan, “Ibumu haram bagimu [untuk engkau
nikahi].” Persamaan yang tepat dalam bahasa ini dapat ditemukan dalam bahasa Inggris. Jika
seseorang berkata, “Alkohol dilarang” dia tidak bermaksud mengatakan bahwa zatnya yang
dilarang tetapi yang dimaksud adalah perbuatan-perbuatan yang berkaitan dengan zatnya yang
dilarang. Contohnya, yang dimaksudkan mungkin, “Mengkonsumsi alkohol yang dilarang,”
“Penjualan alkohol dilarang,” atau, “Pembuatan alkohol dilarang.”
d) Susunan tata bahasanya membutuhkan bahasa tambahan. Ini merupakan sebuah
contoh dalam idhmaar.
1
Ini adalah sebuah versi haditst #37 dalam kitab ini. Dengan lafadz diatas, diriwayatkan oleh Abu Nuaim. Akan
disebutkan kemudian bahwa ini bukanlah perkataan yang benar dalam hadits ini.
2
Pada umumnya, penafsiran pertama berasal dari madzhab Syafi’iyyah sedangkan yang terakhir berasal dari
Hanabilah. Konsep ini akan dibahas lebih lanjut dalam penjelasan Hadits #39
Islamic Online University Hadits 102
132
Kembali, seperti yang telah dinyatakan diatas, pada umumnya, suatu pernyataan tidak
menggunakan taqdir atau mengasumsikan kata yang tidak disebutkan kecuali pernyataan
tersebut memang memilikinya. Artinya, ini digunakan sebagai sebuah persetujuan bahwa
perkataan apapun memang mengandung semua kata yang dibutuhkan. Hanya saja ketika hal
tersebut tidak dapat dipertimbangkan dalam kasus tersebut, seperti pada perbedaan kasus yang
telah diuraikan diatas, seseorang kemudian mengetahui bahwa pasti ada sesuatu yang memang
dibiarkan tidak disebutkan. Ketika itu terjadi, seseorang kemudian harus menentukan apa yang
belum dinyatakan dan apa yang tersirat. Menurut Hanafi, karena pendapat seperti itu dilakukan
dalam sebuah kasus yang memang diperlukan, seseorang harus mengetahui kemungkinan yang
paling sedikit untuk membuat pernyataan tersebut menjadi lengkap. Yang lainnya menyatakan
bahwa seseorang harus mengetahui apa yang terlihat paling mendekati makna dari kata yang
telah dinyatakan. Contohnya, jika hal tersebut ditolak, kemudian sebuah pendapat menyatakan
bahwa yang paling dekat untuk menolak keseluruh harus dipilih, sebagaimana akan diperjelas di
bawah terkait kasus ini.
1
Apakah sesuatu yang telah ditinggalkan dalam
perkataan, “Semua perbuatan tergantung niat”?
Para ulama berbeda tentang apakah perkataan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
“Semua perbuatan tergantung niat membutuhkan taqdir, atau idhmar, atau bukan dari
keduanya. Lebih lanjut, mereka juga berbeda pendapat tentang apa yang harus diketahui.
Salah satu pendapat mengatakan bahwa kalimat yang membutuhkan beberapa kata yang
hilang yakni ada sesuatu yang hilang di antara kata depan dan kata yang mengaturnya.
Bayangkan, jika seseorang berkata dalam bahsa Inggris, Mobil di garasi.” Ini adalah sebuah
klausa dan bukan kalimat lengkap. Sesuatu telah ditinggalkan yang akan membuat ini menjadi
1
Perbedaan pendapat antara Hanafi dan yang lainnya telah dicatat dalam daftar literature dalam teori hukum islam
(Ushul fiqh). Contoh, lihat, Fathi al_duraini al-Manaahij al-Usooliyaah fii al-Ijtihad bi-I-Rai ( Damascus; Daar al-
Rasheed, 1976), jilid 1, hal, 365-376.
Islamic Online University Hadits 102
133
kalimat yang lengkap dan benar. Ini adalah pernyataan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
menurut beberapa ulama, sangat mirip dengan contoh klausa dalam bahasa Inggris itu.
1
Beberapa ulama lain berpendapat bahwa hadits ini kehilangan sesuatu karena kalimat ini
sama sekali tidak benar kecuali diperkirakan bahwa ada sesuatu yang hilang. Mereka
beranggapan bahwa ada perbuatan yang telah terjadi tanpa niat dibaliknya- perbuatan yang tidak
disengaja dan tanpa sengaja. Tetapi hadits ini, tanpa taqdir apapun, menunjukkan bahwa tidak
ada perbuatan kecuali dengan niat. Jadi seperti keadaan yang disebutkan diatas mengenai
kesalahan dan sebagainya diantara Umat ini, sesuatu harus diketahui untuk membuat pernyataan
yang benar dan terpercaya.
2
Kemudian melangkah ke pertanyaan selanjutnya: apa yang harus diketahui? Ibnu Hajar
dan al-Mubarakfuri telah memberikan beberapa pandangan yang paling lengkap. Seperti:
“Kesempurnaan amalan” “Benarnya amalan”, “Selesainya amalan”, “Sahnya amalan” dan
sebagainya.
3
Dengan kata lain, pernyataan berikut ini diberikan sebagai jawaban atas pertanyaan
tentang apa makna sebenarnya yang dimaksudkan dari hadits tersebut;
“Baiknya suatu amalan tergantung dari niat.” “Sebuah amalan tidaklah sah kecuali
dengan niat.” Perbedaan pendapat yang diberikan disini adalah bahwa hadits tersebut sebenarnya
meniadakan adanya amalan tanpa disertai dengan niat. Karenanya, perkiraan paling dekat untuk
itu adalah untuk menyangkal sahnya suatu amalan. Ini menerapkan prinsip bahwa taqdir harus
sedekat mungkin dengan makna harfiah dari apa yang dinyatakan dalam sebuah text.
“Kesempurnaan suatu niat tergantung dari niat.” “Sebuah amalan tidaklah lengkap tanpa
adanya niat.” Sebagian besar, ini adalah pandangan dari Hanafi. Perbedaan pendapat pada kasus
ini adalah bahwa semua amalan itu tidaklah memerlukan sebuah niat untuk dianggap sah.
Contohnya, membayar utang tidak membutuhkan niat. Jika seseorang mengembalikan uang
kepada seseorang lainnya, kewajibannya telah terpenuhi bahkan jika dia belum mempunyai niat
1
Meskipun dalan bahasa Inggris dianngap seperti susunan kata yang buruk, dalam bahasa Arab, ini jelas butuh
penjelasan dari kata yang hilang
2
Cf., al-Mudaabagh, hal, 49-50
3
Muhammad al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadhi bi-Sharah Jaami’ al Tirmidzi (Beirut: Daar al-Fikr, n.d) jilid 5,
hal, 283
Islamic Online University Hadits 102
134
yang sungguh untuk melakukan seperti itu di dalam hatinya. Hal yang sama, menghilangkan
kotoran adalah sesuatu yang baik dan wajar bahkan meski seseorang tidak berniat untuk
menghilangkan kotoran-kotoran tersebut. Selanjutnya, ini adalah jumlah minimal yang harus
diketahui untuk memahami kalimat tersebut.
“Pahala dari sebuah amalan tergantung dari niat.” “ini juga merupakan pandangan dari
Hanafi. Mereka berpendapat bahwa jika niat tidak ada, pahala tidak akan ada. Ini benar terutama
untuk amalan-amalan yang mereka katakan tidak memerlukan niat. Contohnya, bagi mereka,
berwudhu (wudhu) tidak memerlukan niat. Jika seseorang memiliki niat untuk berwudhu, dia
akan berpahala. Sebaliknya jika ia tidak berniat, wudhunya masih sah dan masih pantas untuk
melakukan shalat.
Mereka yang mengatakan tidak ada yang ditaqdirkan dalam pernyataan tersebut
menyatakan bahwa taqdir hanya digunakan ketika betul-betul dibutuhkan. Jika kita tidak
membutuhkannya, itu tidak dapat digunakan. Pada kasus ini, mereka berkata, tidak ada
kebutuhan atas hal tersebut. Ini adalah pandangan dari Umar al-Ashqar. Dia memaksa untuk
tidak membawa kalimat tersebut ke dalam pengertian secara harfiah yang lengkap. Dia menulis,
“Apa yang nyata bagiku adalah hadits ini tidak membutuhkan taqdir. Karena apa yang dimaksud
dengan perbuatan dalam hal ini adalah perbuatan-perbuatan syariat (sah dan benar), sebagaimana
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dulu diutus untuk menjelaskan tentang syariaat. Hadits
tersebut menunjukkan bahwa amalan-amalan syariah dilaksanakan dan ada dengan niat. Jika niat
tidak ada dalam amalan tersebut, maka amalan-amalan syariah juga tidak ada…”
1
Artinya dalam
pandangan syariah, itu seperti jika amalan tidak dilakukan bahkan tidak mengambil tempat jika
niat yang tepat tidak ada. Sungguh, berbicara secara realistis, secara fisik perbuatan itu terjadi.
Dengan kata lain, keadaan atau pilar dalam amalan tersebut tidak ada dan, karenanya, amalan itu
sendiri tidaklah ada dalam pandangan syariah. Ini berarti bahwa harus ada niat dalam setiap
perbuatan kecuali ada dalil yang menunjukkan sebaliknya.
2
Namun, Ibnu Taimiyah menyebut ini adalah kasus tentang apa yang ditaqdirkan. Setelah
menyebutkan semua pendapat di atas, beliau menulis,
1
Al-Ashqar, Muqaasid, hal. 64.
2
Al-Ashqar, Muqaasid, hal. 65.
Islamic Online University Hadits 102
135
Menurut kebanyakan pendapat, hadits tersebut dipahami dalam nilai
dasar dan dalam pengertian umum. Itu tidak diartikan hanya untuk
amalan yang baik. Justru, itu adalah referensi untuk niat yang terpuji dan
niat yang tercela dan juga untuk amalan yang terpuji dan amalan yang
tercela. Itulah mengapa [Nabi shallallahu 'alaihi wasallam] bersabda
untuk melengkapinya, “Siapa yang hijrahnya untuk Allah dan Rasul-
Nya…” Beliau menyebutkan niat yang terpuji adalah hijrah kepada Allah
dan rasul-Nya. Niat yang tercela adalah hijrah untuk wanita dan
kekayaan. Itulah mengapa beliau menyebutkan semuanya secara rinci
setelah dijelaskan secara umum, referensi yang belum tertentu. Beliau
berkata, “Setiap amalan tergantung niat dan seseorang hanya
mendapatkan sesuai niatnya,” kemudian beliau menjelaskan dalam
perkataannya, “Siapa yang hijrah…
1
Sepertinya, Allah mengetahui yang terbaik, seseorang perlu sedekat mungkin mengikuti
makna harfiah dalam setiap pernyataan dalam al-Quran dan sunnah kecuali ada bukti yang
menolak untuk melakukan yang sebaliknya. Pada kasus ini, cara yang bisa dilakukan adalah
memahami kata, “amalan” sebagai rujukan untuk setiap keyakinan, perbuatan yang diniatkan
yang dilakukan oleh seseorang. Jadi, satu-satunya perbuatan yang dikecualikan adalah semua
perbuatan yang telah dilakukan tanpa disengaja atau dengan paksaan. Pada kasus tersebut, tidak
perlu ada taqdir tambahan, setiap perbuatan yang disengaja disertai dengan niat, ini jelas
sebagaimana dijelaskan dalam pengertian yang diberikan untuk “niat”.
Oleh karena itu, terjemahan yang benar untuk frase ini ini, dan Allahu a’lam, adalah
setiap perbuatan yang dilakukan secara sadar memiliki sebuah niat dibaliknya yang menjadi
seperti penggeraknya yang akan membawa pada perwujudan perbuatan tersebut. Niat bisa jadi
terpuji atau tercela. Pandangan ini didukung oleh Ibnu Rajab yang mengomentari haditst ini.
Beliau menulis,
Ada perbedaan pendapat terkait taqdir dalam kalimat “Semua amalan
tergantung niat.” Banyak dari ulama menegaskan bahwa taqdir (kata
yang hilang) adalah bahwa perbuatan yang “benar”, “sah” atau
“diterima” disertai dengan niat. Sebagaimana untuk perbuatan yang tidak
memerlukan niat, seperti makan, minum,… semuanya tidak
membutuhkan niat dan karenanya, semua mengeluarkannya dari bagian
perbuatan-perbuatan yang telah disebutkan disini.
1
Ibnu Taimiyah, Sharah, hal.16
Islamic Online University Hadits 102
136
Yang lainnya berkata: kata “amalan” dapat dipahami berdasarkan sifat-
sifat umumnya, tanpa pengkhususan apapun. Sebagian berkata ini adalah
pendapat mayoritas, nampaknya yang mereka maksud adalah ulama-
ulama terdahulu. Ini dapat ditemukan dalam perkataan Jarir at-Tabari,
Abu Thalib al-Makki dan ulama-ulama terdahulu lainnya. Ini adalah
pendapat yang jelas dari Imam Ahmad…
Berdasarkan pendapat ini, mereka memahami hadits tersebut dengan
makna: perbuatan terjadi atau terlaksana dikarenakan adanya niat. Jadi ini
adalah sebuah pernyataan berita yang menunjukkan bahwa amalan yang
disadari-disengaja tidaklah terjadi kecuali dari niat pelaku. itu adalah
penyebab adanya sebuah perbuatan dan keberadaannya.
1
Niat bisa menjadi hal yang penting dari perbuatan tersebut untuk bisa diterima oleh Allah
atau tidak. Namun, kalimat kedua menyebutkan hal penting lainnya yang berkaitan dengan
konsep dalam niat.
“Setiap manusia akan mendapatkan hanyalah sesuai apa
yang dia niatkan”
Pada pernyataan ini terdapat lagi adanya sebuah pengecualian [hanyalah]. Kata innama
telah diulangi. Sebagai tambahan, menurut susunan bahasa Arab, dalam perkataan dari Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam ini predikat mendahului sebuah subjek. Ini juga menunjukkan
sebuah pengecualian.
Sebagian ulama, termasuk al-Qurthubi, menganggap pernyataan ini sebagai penjelas dari
pernyataan sebelumnya. Dia mengatakan kalimat pertama telah ditegaskan oleh kalimat kedua
untuk menunjukkan pentingnya sifat ikhlas (melakukan suatu amalan semata-mata hanya untuk
Allah) dan untuk memperingatkan orang-orang tentang bahaya sifat riyaa (melakukan suatu
amalan hanya untuk dilihat). Namun, pandangan ini nampaknya tidak dapat dipertahankan
karena kedua perkataan tersebut menyebutkan hal-hal yang berbeda.
1
Ibnu Majah, Jaami, jilid 1, hal, 64-6
Islamic Online University Hadits 102
137
Kaidah dasar lainnya dalam segi bahasa dan teori hukum Islam menyatakan bahwa
sebuah perkataan menambah makna, tidak sekedar mempertegas, kecuali ada dalil yang
menunjukkan sebaliknya. Terkait kedua perkataan ini, Syeikh Ibnu Utsaimin menulis,
Para ulama berbeda pendapat tentang dua kalimat ini. Sebagian ulama
mengatakan bahwa kalimat tersebut memiliki satu makna, bahwa kalimat
kedua hanya sekedar menegaskan kalimat yang pertama. Namun, ini
tidaklah benar karena dalam kaidah umum dalam sebuah ucapan salah
satunya adalah memberikan sebuah informasi dan bukan penekanan. Jika
seseorang memperhatikan dengan seksama kedua kalimat ini ia akan
melihat adanya perbedaan yang besar antara kedua kalimat tesebut.
Kalimat pertama adalah sebab dan kalimat kedua adalah akibat. Yang
pertama adalah sebuah sebab yang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
jelaskan bahwa setiap amalan itu harus didasari dengan niat di balik
amalan tersebut. Setiap perbuatan yang dikerjakan oleh manusia
walaupun dia berakal dan bertindak sesuai kehendaknya harus memiliki
sebuah niat. Tidak mungkin bagi seseorang yang berakal dan bertindak
sesuai kehendaknya untuk mengerjakan sesuatu tanpa ada niat. Faktanya,
sebagian ulama bahkan mengatakan, “Jika Allah mewajibkan kita untuk
mengerjakan suatu perbuatan tanpa ada niat apapun, Dia akan
mewajibkan kita untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat kita
lakukan.”
Itulah yang benar. Bagaimana engkau melakukan suatu perbuatan
sementara engkau adalah orang yang berakal dan melakukannya dengan
kehendakmu sendiri, tanpa adanya paksaan, dan melakukannya tanpa ada
niat? Itu tidak mungkin karena perbuatan adalah hasil dari keinginan dan
kemampuan. Kemauan adalah niat. Oleh karena itu, kalimat pertama
bermakna tidak ada seseorang yang mengerjakan sesuatu kecuali dia
memiliki sebuah niat. Namun, niat berbeda. Sesungguhnya
perbedaannya sama seperti jarak antara langit dan bumi. Seseorang
mungkin memiliki niat yang tinggi sementara niat seseorang lainnya
hanya ada di sebuah selokan. Bahkan, engkau dapat melihat dua orang
yang mengerjakan suatu perbuatan yang persis sama. Mereka melakukan
perbuatan yang sama terkait dengan awal, tengah, akhir, tindakan,
gerakan, perkataan dan perbuatan. Namun, di antara mereka seperti langit
dan bumi dikarenakan niat mereka yang berbeda.
Islamic Online University Hadits 102
138
Oleh karena itu, kalimat dasarnya adalah tidak ada perbuatan yang
dilakukan tanpa sebuah niat. Akibat dari hal tersebut adalah ada dalam
perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, “Dan seseorang hanyalah
sesuai dengan apa yang dia niatkan” jika engkau meniatkan untuk
[kenikmatan] Allah dan akhirat dalam perbuatan syariatmu, itu akan
tercapai untukmu. Jika niatmu untuk dunia, maka engkau mungkin akan
mencapainya atau mungkin tidak. Allah berfirman,














Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang [duniawi], maka Kami
segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang
yang Kami kehendaki (al-Israa 18). Allah tidak berfirman, “Kami
segerakan baginya apa yang dia kehendaki.” Justru, Allah berfirman,
“Apa yang Kami kehendaki- artinya, Allah berkehendak- kepada
siapapun yang Dia mau- tidak untuk semua manusia.” Karena itu, Allah
membatasi keduanya “siapa” yang diberikan dan apa” yang diberikan.
Ada sebagian orang yang diberikan di dunia ini dan ada sebagian yang
tidak diberikan apapun di dunia ini.
1
Menurut penafsiran dengan cara yang lain kalimat pertama yang menyebutkan, “Semua
amalan tergantung dari niat,” maksudnya adalah setiap perbuatan tersebut bahkan tidak dianggap
kecuali dengan niat- itu yang dimaksudkan dalam ungkapan pertama tersebut. Kemudian, pahala
dari perbuatan seseorang itu tergantung dari tingkat niatnya. Oleh karena itu, perkataan kedua
datang setelahnya karena itu berdasarkan atas kenyataan yang ada pada perkataan pertama.
Ibnu Rajab telah memperjelas pembahasan pada bagian hadits ini. Beliau menuliskan,
Pernyataan, “Sesungguhnya, bagi seseorang hanyalah sesuai dengan apa
yang dia niatkan,” ini adalah perkataan tentang kaidah syariat. Artinya,
bagian seorang pelaku perbuatan dari amalannya adalah niatnya. Jika itu
baik dan bernilai ibadah, maka amalannya baik dan akan mendapatkan
pahalanya. Jika niatnya jahat, maka amalannya juga jahat dan hanya
kepadanyalah akan dibebankan.
Mungkin saja bahwa yang ditaqdirkan dalam, “semua amalan hanyalah
didorong oleh niat,” adalah bahwa amalan yang benilai ibadah, jahat,
diterima, ditolak atau tidak berpahala adalah tergantung dari niatnya. Jadi
itu adalah perkataan tentang kaidah syariat. Artinya, baik atau tidak
1
Muhammad Ibnu Utsaimin, Syarah Riyadhus Shalihin (Riyadh: Daar al-Wathan, 1995), jilid 1, hal, 12-13
Islamic Online University Hadits 102
139
baiknya sebuah amalan itu tergantung dari baik atau tidak baiknya niat di
baliknya….
Perkataan beliau shallallahu 'alaihi wasallam setelah itu, “sesungguhnya,
bagi manusia hanyalah sesuai dengan apa yang dia niatkan,” adalah
sebuah keterangan bahwa dia hanya akan mendapatkan dari perbuatannya
apa yang telah dia niatkan. Jika dia telah meniatkan sesuatu yang baik,
maka dia akan mendapatkan yang baik. Jia dia berniat jahat, dia akan
menerima yang jahat. Ini bukanlah pengulangan sebenarnya dari kalimat
yang pertama. Kalimat pertama menunjukkan bahwa baik atau jahatnya
suatu perbuatan itu tergantung dari niat yang membawanya menjadi
seperti itu. Kalimat kedua menunjukkan bahwa pahala untuk pelaku
perbuatan untuk perbuatannya itu tergantung dari niatnya yang bernilai
ibadah. Siksaan untuk perbuatannya adalah berdasarkan niat jahatnya.
Niatnya boleh jadi diperbolehkan [baik itu terpuji ataupun tercela] dan
perbuatan tersebut boleh jadi diperbolehkan. Dia kemudian akan
mendapatkan pahala ataukah hukuman. Amalan itu sendiri
kebaikannya, layaknya atau diperbolehkannya itu tergantung dari niat di
balik itu yang membawanya menjadi seperti itu. Pahala, siksaan, atau
hasil yang sama untuk pelaku perbuatan tergantung dari niatnya yang
menyebabkan perbuatan tersebut menjadi baik, jahat, atau dibolehkan.
1
Masih ada sebuah masalah di sini. Tidak setiap orang mendapatkan apa yang dia telah
niatkan. Contohnya, seseorang yang mungkin berhijrah untuk menikahi seorang wanita dan
kemudian wanita tersebut menolak untuk menikah dengannya. Seseorang tidak dapat
mengatakan kemudian bahwa dia telah mendapatkan apa yang dia telah niatkan. Lebih lanjut,
orang-orang kafir tidak bermaksud untuk mendapat siksaan atas perbuatannya meskipun Allah
menyatakan bahwa hal tersebut pada akhirnya akan terjadi.
Namun, mengambil hadits ini secara keseluruhan, bagian akhir pada haditst ini
memberikan beberapa keterangan dalam bagian ini. Itu menunjukkan bahwa ada beberapa
kelompok umum dalam niat. Ada niat yang murni dan bernilai ibadah dalam mengerjakan suatu
amalan yang semata-mata hanya untuk Allah. Ada niat yang mubah dimana seseorang mencari
sesuatu yang dibolehkan dalam dunia ini. Ini adalah pemahaman sebagian ulama yang mendapati
adanya hijrah hanya untuk dunia dan untuk sebuah pernikahan. Kemudian ada niat jahat, yang
tercela. Mungkin hadits ini tidak mencakup niat-niat semacam ini. Atau, mungkin ini tersirat
1
Ibnu Rajab, Jaami, jilid 1, hal, 64-65
Islamic Online University Hadits 102
140
tetapi dianggap rendah untuk hadits tersebut. Sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tidak
menyebutkannya. (contohnya, dapat dibayangkan seorang laki-laki berhijrah dengan tujuan
melakukan perbuatan zina dengan seorang perempuan.) Atau, mungkin seseorang bisa saja
memahami hijrah untuk tujuan menikah sebagai kejahatan karena itu keluar dari perbuatan yang
bernilai ibadah, tetapi niat tersebut tetap salah untuk perbuatan tersebut.
Dalam setiap kasus, seseorang akan mendapatkan apa yang telah dia niatkan. Jika niatnya
adalah hanya untuk Allah semata- yang hanya niat yang benilai ibadah- maka dia akan menerima
kenikmatan dari Allah dan pahala dari-Nya. Jika niatnya adalah hal yang mubah, hasilnya bisa
jadi sesuatu yang mubah juga, meskipun itu bukanlah hasil yang nyata dari perbuatan yang
diniatkan seseorang tetapi Allah tidak menyalahkan setiap jiwa dan Dia memberikan untuknya
apa yang dia usahakan. Dan lagi, memahami haditst secara keseluruhan, tidak ada yang
memaksakan kesimpulan tersebut bahwa dia harus mendapatkan sesuatu yang pasti yang dia
telah berusaha untuk hal tersebut. Sebagai gantinya, itu berarti jika niatnya buruk, maka hasilnya
akan buruk- artinya, akan ada sesuatu yang buruk baginya dalam jangka waktu yang lama.
Ini adalah pemahaman dalam hadits tersebut yang didukung oleh ayat dalam al-Quran
berikut ini:




































Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan
kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu
tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan
lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah
mereka kerjakan(Hud: 15-16)
Islamic Online University Hadits 102
141
Kesimpulan dari, “sesungguhnya semua amalan itu
hanyalah tergantung dari niatnya dan sungguh, setiap
manusia hanyalah akan mendapatkan menurut apa
yang telah dia niatkan.”
Setiap perbuatan sadar dan sengaja yang dikerjakan oleh seorang yang berakal, didorong
dan terwujud dengan niatnya. Tanpa niat di balik sebuah perbuatan, perbuatan tersebut bisa jadi
tidak akan dilakukan. Sekarang, niat ini harus menjadi bagian dari salah satu dari tiga kategori:
baik niat yang benilai ibadah, mubah, atau sebuah niat yang buruk. (Umumnya, niat yang buruk
meliputi niat untuk melakukan perbuatan dosa tidak peduli apapun motifnya bahkan jika ia
mengklaim motifnya baik).
Dalam semua kasus, seseorang hanya akan mendapatkan apa yang dia telah niatkan. Jika
niatnya baik dan bernilai ibadah, maka berarti perbuatan itu dilakukan semata-mata hanya untuk
Allah. Niatnya baik jadi hasil yang dia dapat juga akan baik. Sebagaimana Allah berfirman,




Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula) (Ar-Rahman 60). Itu akan berguna
baginya di akhirat kelak- selama dia tidak melakukan sesuatu yang membatalkan amalannya- dan
itu juga baik baginya di dunia ini. Namun, hal yang paling penting adalah yang berkaitan dengan
akhirat.
Jika seseorang telah meniatkan sesuatu yang dibolehkan atau mubah, maka dia akan
mendapatkan apa yang dia telah niatkan- artinya, sesuatu yang mubah, tanpa siksaan atau pahala
di akhirat kelak. Dia mungkin tidak benar-benar mendapatkan apa yang telah dia niatkan, seperti
seseorang yang hijrah untuk menikahi seorang wanita hanya saja dia mendapatkan penolakan
dari wanita tersebut untuk menikah dengannya. Tetapi Allah tidak menyalahkan siapapun dan
Dia memberi kepada siapa saja yang berusaha, bahkan jika mereka berusaha keras untuk dunia
ini. Bagi mereka yang berusaha keras hanya untuk dunia ini, Allah memberikan kepada mereka
Islamic Online University Hadits 102
142
dunia tersebut meskipun di Akhirat dia mungkin tidak akan mendapatkan apapun. Sekali lagi,
Allah berfirman,




































Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan
kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu
tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan
lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah
mereka kerjakan(Hud 15-16)
Bila seseorang berniat buruk- dengan menganggap bahwa kasus ini tercakup dalam hadits
ini, yang kemungkinan besar karena kata “amalan” bersifat umum- maka hasilnya bisa jadi
sesuai dengan apa yang dia telah niatkan. Artinya, itu akan menjadi buruk bagi dirinya. Entah dia
akan disiksa di dunia karena hal tersebut ataukah di Akhirat (jika nantinya dia tidak bertobat).
Allah tidak menyalahkan siapapun. Amalan yang didorong oleh niat yang buruk akan
menghasilkan hal yang sesuai dengan apa yang telah diniatkan oleh seseorang: yakni keburukan.
Namun itu juga tidak baik bagi dirinya sendiri. Dia telah berniat jahat dan itulah yang akan dia
dapatkan, meskipun dia pasti tidak berniat jahat buntuk dirinya sendir. Allah berfirman,








Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan
(al-Saffaat 39)
Islamic Online University Hadits 102
143
Hal penting lainnya yang terkait dengan potongan
hadits tersebut
Niat Melebihi Amalan
Amalan dalam hati (yaitu niyyah) dapat membuat seseorang melampaui apa yang
sebenarnya dilakukan oleh amalan-amalan lahiriahnya. (Ingat bahwa kata niyyah juga dapat
digunakan untuk suatu amalan yang melampaui kemampuan seseorang.) Pada masa Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam seorang sahabat telah bersiap untuk keluar berjihad tetapi meninggal
sebelum dia dapat melakukannya. Anak perempuannya berkata kepadanya, “Aku berharap
engkau mati syahid, karena engkau telah mempersiapkan itu.” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda,
“Allah azza wa jalla telah memberikan pahala untuknya sesuai dengan kadar niatnya”.
1
Dalam
sebuah hadits dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
sedang berada dalam suatu perjalanan dan beliau bersabda,
“Di Madinah ada orang-orang yang kita tinggalkan. Tidaklah kita melewati jurang atau lembah
apapun kecuali mereka akan bersama kita [pahalanya]. Mereka tertinggal karena adanya udzur
yang dapat diterima.”
1
Diriwayatkan oleh Malik, An Nasai dan lainnya. Pada catatan kaki, Al-Aqsar mencatat bahwa sanadnya shahih.
Lihat al-Ashqar, Muqaasid, hal, 58
Islamic Online University Hadits 102
144
Kaidah ini, bahwa niat seseorang bisa melampaui perbuatannya, sebagiannya bisa jadi
yang dimaksud dalam sebuah ungkapan, “dan bagi manusia mendapatkan hanyalah menurut apa
yang telah ia niatkan” Namun, meskipun para ulama membahas poin ini dalam hadits ini, terlihat
bahwa ini bukanlah hadits yang dimaksud untuk hal apapun. Artinya, hadits ini secara khusus
memperhatikan hubungan antara perbuatan yang benar-benar dikerjakan dan niat. Dalam hal
apapun, kaidah ini menyoroti pentingnya sebuah niat itu sendiri dan bagaimana Allah
melihatnya.
Jenis amalan apa yang termasuk di dalamnya?
Perkataan, “sesungguhnya, perbuatan itu tergantung niat” berlaku untuk semua jenis
amalan: perkataan dan perbuatan, wajib, amalan yang dianjurkan atau diperbolehkan. Ahmad bin
Hambal berkata, “Aku menyukai setiap amalan, baik itu shalat, puasa, sedekah, atau apapun jenis
amalan yang baik, disana ada niat yang mendahuluinya” Zaid asy-Syaami berkata, “Saya
menyukai untuk berniat dalam hal apapun, bahkan pada saat makan dan minum.
Ada perbedaan pendapat tentang apakah ini berlaku untuk perbuatan tertentu yang tidak
dikerjakan. Apakah “tidak mengerjakan” atau “menjauhi” sesuatu itu dengan sendirinya
dianggap sebagai suatu perbuatan? Pendapat yang paling kuat adalah jika seseorang menjauhi
suatu perbuatan tertentu demi Allah, maka dia akan mendapat pahala. Artinya dia secara sadar
dan sepenuh hati tidak melakukan sesuatu, maka dia akan mendapat pahala. Contohnya, ini
adalah sebuah kasus dari seseorang yang secara sengaja tidak melihat wanita yang berdiri
disampingnya. Jika seseorang menghindari suatu perbuatan tertentu tetapi bukan karena Allah,
maka dia tidak akan mendapat pahala. Contohnya, jika seorang wanita berdiri disamping seorang
laki-laki Muslim tetapi dia tidak melihat wanita tersebut karena dia sedang sibuk membaca
sebuah surat kabar dan dia tidak memperhatikannya, dia tidaklah menjauhi dari perbuatan
melihat wanita tersebut karena Allah dan karena itu dia tidak berniat untuk tidak melihat wanita
tersebut.
Islamic Online University Hadits 102
145
Allah hanya menerima amalan-amalan yang dilakukan
ikhlas hanya untuk-Nya dan sesuai dengan Syariat-Nya
Harus disadari pula bahwa amalan apapun yang tidak dilakukan demi Allah tidak akan
diterima oleh Allah. Jika suatu amalan yang dilakukan dengan niat ikhlas untuk mendapatkan
keridhoan Allah dan dalam rangka menjalankan perintah-Nya, maka amalan tersebut akan diberi
pahala oleh Allah tanpa memperhatikan segi kehidupan apa yang terkait dengan amalan tersebut.
Amalan tersebut dapat terkait dengan amalan-amalan ibadah, transaksi jual beli, bergaul dengan
teman atau tetangga dan sebagainya. Ibnu Ajlaan berkata, “Sebuah amalan tidak berguna kecuali
disertai dengan tiga hal: keyakinan pada Allah (taqwa), niat yang baik, dan benarnya
perbuatan.”
1
Ada juga poin lainnya yang perlu untuk ditekankan dan artinya jika niat itu benar ada,
maka amalan yang baik pasti ikut dengan sendirinya. Dengan kata lain, ada banyak orang yang
menganggap bahwa mereka mempunyai niat yang baik, sedangkan pada waktu yang sama,
mereka tidak menerapkan al-Quran dan sunnah. Hal ini meniadakan anggapan mereka bahwa
mereka memiliki niat yang baik. Niat yang menyebabkan adanya sebuah amalan. Jika niat betul-
betul ada, amalan juga akan datang menyertainya.
Sebenarnya, perbuatan bisa jadi nampak pada bagian luar, terlihat baik tetapi di dalam
hati sebenarnya tidak ada kebaikan. Ini adalah sifat orang-orang munafik yang mencoba yang
terbaik untuk dapat terlihat baik dari luar dalam melakukan suatu perbuatan.
2
Namun, yang
sebaliknya tidak dapat terjadi. Karena, perbuatan itu adalah hasil dari sebuah niat, jika tidak ada
niat baik dalam hati dan tidak ada halangan yang mencegah perbuatan tersebut, maka amalan
yang baik akan mengikuti. Jika ada keinginan tulus dan kemauan untuk taat kepada Allah,
seseorang akan taat pada Allah. Umumnya, tidak ada hal seperti seseorang memiliki kemampuan
untuk taat kepada Allah tetapi justru tidak taat kepada-Nya, sementara dia menganggap bahwa
niatnya baik. Dalam hadits ini, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah membantah dengan tegas
anggapan seperti ini.
1
Dikutip dalam ibn Rajab, Jaami, jilid 1, hal, 71
2
Munafik mungkin bisa menyembunyikan kemunafikannya dari banyak orang tetapi hampir selalu ada tanda atau
petunjuk dalam perilakunya yang menunjukkan kemunafikannya.
Islamic Online University Hadits 102
146
“Niat dan niat”
Setiap amal yang dilakukan dengan niat tertentu untuk mencari keridhaan Allah azza wa
jalladan juga istiqamah dengan syariat-Nya adalah sebuah penyembahan atau ibadah. Meski
demikian, terdapat pula beberapa amalan yang harus disertai dengan niat agar amalan tersebut
diterima oleh Allah. Menurut sebagian besar pendapat ulama, amalan-amalan tersebut
mencakup; wudhu, mandi wajib, tayammum, shalat, zakat, puasa, haji, i’tikaf dan ibadah
lainnya.
Sebagai contoh, seseorang bisa beraktivitas sepanjang hari tanpa makan dengan alasan tidak
ada makanan atau untuk kesehatan, tetapi ini tidak sama halnya dengan puasa sebagai bentuk
ibadah. Oleh sebab itu, kapanpun seseorang ingin berpuasa sebagai bentuk ibadah, hal pertama
yang harus dilakukan adalah berniat untuk melakukan ibadah tersebut. Maka dari itu, untuk
membedakan perbuatan ibadah dengan kebiasaan lain, niat harus hadir dalam hati setiap
manusia.
Sehubungan dengan sholat dan ibadah lainnya, beberapa diantaranya adalah wajib
sedangkan yang lainnya hanya sunnah. Ketika seseorang berdiri untuk menunaikan sholat wajib,
ia harus berniat untuk melaksanakan shalat wajib bukan niat untuk sholat sunnah sebelum ia
memulai amalan tersebut.
Seseorang yang membersihkan diri dapat melakukannya dengan tujuan agar menjadi bersih
saja atau dengan niat untuk menyucikan dirinya untuk beribadah. Dalam kasus terakhir ini,
membersihkan diri adalah bagian dari ibadah (menurut pendapat jumhur ulama kecuali
hanafiyah)
1
dan oleh sebab itu seseorang harus memiliki niat untuk menyucikan dirinya sebelum
melakukannya.
Ada beberapa amalan yang tetap sahih dilakukan meskipun tanpa niat. Sebagai contoh,
membersihkan baju seseorang dari kotoran adalah syarat sah sholat. Jika seseorang memiliki
pakaian yang terkena kotoran dan kemudian ia memasukkannya ke dalam mesin cuci yang
secara fisik dapat menghilangkan kotoran tersebut, pakaian itu dapat digunakan untuk sholat
1
Lihat al-Ashqar, Muqaasid, hal, 301-302
Islamic Online University Hadits 102
147
meskipun seseorang tidak berniat untuk menghilangkan kotoran tersebut. Artinya, dalam kasus
seperti ini, niat tidaklah dibutuhkan.
1
Amalan yang sama, niat yang berbeda
Kemudian dalam hadits ini, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Barangsiapa
yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan
barangsiapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka
hijrahnya kepada yang ia tuju.” Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
menjelaskan bahwa amalan yang sama bisa menjadi sumber pahala bagi sebagian orang dan
mungkin juga menjadi sumber siksaan bagi sebagian yang lain.
Maka dari itu, perbuatan yang sama akan dihargai atau dihukumi berbeda oleh Allah azza
wa jalla karena niat seseorang. Sebagai contoh, jika seseroang mendirikan sholat dengan tujuan
untuk mendapatkan keridhaan Allah dan takut akan siksa-Nya, maka ia akan diberi pahala 700
kali lipat (atau lebih) untuk amalan tersebut karena niatnya yang ikhlas. Dampak dari rasa
takutnya, harapan dan cintanya pada Allah membuat amalannya bahkan lebih besar dari orang
lain yang melakukan amalan yang sama tetapi tidak memperhatikan kualitasnya. Ali bin al-
Madani pernah berkata, “Amalan kecil dapat menjadi besar karena niat di baliknya dan amalan
besar dapat menjadi kecil karena niat dibaliknya.
2
Seseorang mungkin datang ke masjid untuk sholat dengan “niat” yang banyakdi mana
semuanya adalah niat yang baik hanya memiliki satu yang merupakan tujuan akhir, yakni untuk
mendapatkan keridhaan Allah. Dia mungkin datang ke masjid untuk sholat berjamah, untuk
meningkatkan kualitas shalatnya, memberikan contoh bagi yang lainnya, untuk memakmurkan
masjid, dan untuk bertemu dengan orang-orang dalam rangka menguatkan tali silaturahim atau
ukhuwah. Karena itu, amalannya pergi ke mesjid akan sangat diridhoi oleh Allah dikarenakan
semua niat yang dia miliki.
3
1
Ibnu Taimiyah (Majmu’, jilid 18, hal, 258) menyatakan bahwa sebagian ulama-ulama belakangan ini dari kalangan
ahli fikih mahzhab Syafi’I dan Hambali yang berpendapat bahwa seseorang harus memiliki niat untuk
menghilangkan najis. Menurut Ibnu Taimiyah, ini adalah pendapat yang janggal dan aneh.
2
Dikutip dari Ibnu Rajab, Jaami, jilid 1, hal, 71
3
Dalam surat Taha, ayat 18, Nabi Musa menyebutkan sejumlah kegunaan dari tongkatnya. Ibnu Hubaira mengutip
bahwa ini sebagai contoh dimana suatu perbuatan atau sebuah benda mungkin memiliki banyak tujuan untuk itu dan
Islamic Online University Hadits 102
148
Jika seseorang mengerjakan sholat hanya karena dia mengetahui bahwa itu sebuah
kewajiban dan mengerjakannya dengan rasa malas, dan tidak sedikitpun menginginkan ridho dari
Allah, maka dia akan diberikan pahala sesuai dengan perbuatannya tersebut. contohnya, jika
seseorang mengerjakan sholat hanya karena tidak ingin dihukum oleh ayahnya, maka mungkin
dia akan dihukum oleh Allah atas perbuatan tersebut karena dia tidak memenuhi kewajiban
mengerjakan shalat dengan kemauannya sendiri. Dan jika seseorang mengerjakan shalat hanya
untuk menjadikan orang berpikir bahwa dia adalah orang yang rajin beribadah, maka dia
sungguh akan dihukum atas perbuatannya yang hanya ingin dilihat atau riyaa, karena Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam menyebut ini sebagai satu jenis syirik.
Contoh yang sama dapat dilihat dalam hal mempelajari ilmu yang bersifat duniawi. Jika
seseorang menuntut ilmu semata-mata untuk Islam, untuk menolong masyarakat kaum Muslimin
dan agar menjadi lebih hebat dari pada orang-orang kafir, dia akan diberikan pahala atas itu. Jika
seseorang menuntut ilmu agar dia disebut sebagai orang yang berilmu atau hanya untuk
mendapatkan kesuksesan dalam dunia ini, maka pahala/hukuman akan sesuai dengan hal
tersebut. Contoh-contoh yang semacam itu dapat dilihat dalam banyak hal.
Amalan yang tidak dikerjakan semata-mata untuk Allah azza wa jalla adalah amalan yang
dikerjakan dengan sejumlah alasan lainnya. Terkadang orang-orang mengerjakan sebuah amalan
semata-mata hanya untuk dilihat, seperti yang Allah azza wa jalla sampaikan tentang apa yang
orang-orang munafik kerjakan. Allah ta’ala berfirman,
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan
mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka
seseorang akan diberikan pahal untuk semua hal baik yang dia niatkan. Lihat al-Wazeer Ibnu Hubaira, Al-Ifsaah an
Maani al-Sihaah (Riyadh: Daar al-Want 1996), jilid 1, hal, 136.
Islamic Online University Hadits 102
149
bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah
kecuali sedikit sekali” (an Nisaa 142). Allah shallallahu 'alaihi wasallam juga berfirman,




















Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari
shalatnyaorang-orang yang berbuat riyadan enggan (menolong dengan) barang berguna”. (al
Maa’uun 4-7).
Dan juga, Allah azza wajalla menjelaskan amalan orang-orang kafir yang hanya
ingin dilihat:



























Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa
angkuh dan dengan maksud riya´ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah.
Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan (al Anfal 47). Orang-orang kafir dulu
pergi berperang hanya untuk menunjukkan seberapa berani dan perkasanya mereka; karena itu
mereka keluar untuk berperang hanya untuk dilihat oleh orang-orang.
Terkadang suatu amalan dikerjakan semata-mata untuk Allah ta’ala dan juga karena
untuk dilihat; pada keadaan tersebut, jika faktor yang mendorongnya melakukan suatu amalan
adalah semata mata untuk dilihat, amalan tersebut pastinya tidak akan berguna. Dalam Sahih
Muslim ada sebuah ayat yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwa Allah azza wa jalla telah berfirman,
Islamic Online University Hadits 102
150
“Aku adalah sekutu yang Maha cukup, sangat menolak perbuatan syirik. Barangsiapa yang
mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepadaKu, maka Aku
tinggalkan dia dan (Aku tidak terima) amal kesyirikannya.”
Hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang lainnya menyatakan,
Abu musa menceritakan bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dan berkata, “Seseorang berperang karena harta, seorang lagi berperang agar dikatakan
[pemberani], dan seorang lagi berperang karena ingin terkenal. Yang manakah termasuk jihad
dijalan Allah? Beliau menjawab, Orang yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah
adalah orang yang [berperang] dijalan Allah.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Banyak diantara para ulama terdahulu, termasuk Ubadah Ibnu ash-Shamit, Abu Darda,
Al- Hasan, Said Ibnu al Musayyab dan lainnya, menyatakan bahwa amalan apapun yang
dilakukan semata-mata untuk Allah ta’ala namun disertai dengan beberapa niat lain maka tidak
akan berhasil [sia-sia]. Ibnu Rajab mengatakan, “Saya mengetahui bahwa tidak ada perbedaan
Islamic Online University Hadits 102
151
pendapat di antara salafush shalih terkait hal ini meskipun beberapa ulama kemudian berbeda
pendapat dalam hal ini.”
1
Apabila seseorang mencampur niatnya untuk berjihad dengan beberapa niat lainnya,
tetapi tidak semata-mata agar dilihat orang banyak, maka pahalanya akan dikurangi tetapi
amalannya tersebut mungkin tidak akan dianggap sia-sia menurut sebagian ulama saat ini.
Contohnya, jika seseorang keluar untuk berjihad dengan niat untuk meninggikan kalimat Allah
ta’ala dan juga untuk mendapatkan harta rampasan perang, maka pahalanya akan berkurang
tetapi dia akan tetap diberikan pahala atas jihadnya tersebut. Abdullah bin Amr berkata bahwa
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Jika seorang prajurit perang menerima beberapa
harta rampasan perang, sepertiga dari pahalanya telah diberikan untuknya, jika dia kembali tanpa
harta rampasan sedikipun, maka pahalanya [di akhirat] akan disempurnakan.” (H.R. Muslim).
Ada beberapa hadits yang menyatakan bahwa jika seseorang keluar untuk berjihad untuk tujuan-
tujuan duniawi, dia tidak akan menerima pahala atas jihadnya itu. Dapat dikatakan bahwa makna
dari hadits tersebut adalah jika seseorang semata-mata pergi untuk berjihad dengan adanya
tujuan duniawi dalam dirinya, dia tidak akan diberikan pahala atas jihadnya itu. Imam Ahmad
berkata menyatakan bahwa setiap orang akan diberikan pahala sesuai dengan seberapa besar
niatnya untuk berjihad bahkan jika niatnya tersebut telah dicampur dengan niat yang lainnya,
tetapi pahala bagi orang yang semata-mata hanya untuk melakukan jihad akan diberikan lebih
banyak.
2
Jika seseorang berniat untuk melakukan suatu amalan yang semata-mata hanya untuk
Allah  dan kemudian ada beberapa niat lainnya yang terjadi pada dirinya saat amalan tersebut
dilakukan, seperti dia dilihat oleh orang-orang, apakah ini artinya seluruh amalannya tersebut
akan batal? Jika itu hanya pemikiran saja yang terjadi padanya dan kemudian dia segera
mengingkarinya, itu tidak akan merusak amalannya. Pertanyaan sebenarnya adalah jika perasaan
itu tetap ada padanya. Baik Imam Ahmad dan Ibnu Jarir al-Tabari menyatakan bahwa mereka
berharap pada keadaan yang seperti ini orang tersebut masih akan diberikan pahala karena niat
aslinya tersebut. Al-Tabari menjelaskan bahwa ini terjadi pada sebuah amalan yang tidak dapat
dipecah kedalam beberapa bagian. Contohnya, shalat atau puasa. yang berkaitan dengan amalan
1
Ibnu Rajab, Jaami, jilid 1, hal, 81
2
Lihat Ibnu Rajab, Jaami, jilid 1, hal, 81
Islamic Online University Hadits 102
152
seperti membaca al Quran, atau berdzikir, yang amalan tersbut dapat dipecah kedalam bagian
yang lebih kecil, maka pahala seseorang akan berakhir ketika dia mengubah niatnya.
1
Pada akhirnya, jika seseorang melakukan suatu amalan dengan niat mendapatkan ridha
dari Allah dan kemudian orang-orang mendoakannya atas perbuatan tersebut atau dia
mendapat beberapa pujian, pahala dari Allah tidak akan terpengaruh. Nabi pernah ditanya
tentang seseorang yang melakukan suatu amalan hanya untuk Allah dan kemudian orang
orang mendoakannya. Nabi berkata,
“Itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk orang orang beriman.” (H.R.
muslim)
Niat dan amalan yang mubah
Menurut para fuqaha, amalan yang diperbolehkan (mubaah) adalah amalan yang tidak
menyebabkan siksaan ataupun pahala dari Allah . Demikian pula, ketika amalan tersebut tidak
dikerjakan, seseorang tidak akan diberikan pahala ataupun siksaan dari Allah .
Itu merupakan pendapat yang tepat dari para fuqaha dan tidak ada masalah dengan
pendapat tersebut. Tetapi pada saat yang sama, suatu amalan yang mubaah dapat diberikan
pahala oleh Allah jika amalan tersebut dikerjakan semata-mata karena orang tersebut
mengetahui bahwa hal tersebut dibolehkan dan sebagai jalan untuk lebih dekat pada Allah .
Contohnya, apabila seseorang makan dengan niat menjadi kuat agar bisa memenuhi kewajiban
agamanya, maka dia akan diberikan pahala oleh Allah atas amalannya tersebut yang para ahli
fikih akan menyebutnya mubaah. Dikatakan bahwa orang-orang muslim terdahulu beristirahat
hanya untuk menyegarkan kembali diri mereka untuk bisa melanjutkan perjuangan mereka
dijalan Allah .
Memenuhi tanggung jawab duniawi seseorang dengan cara yang dibolehkan dan cara
yang halal, itu juga merupakan sumber pahala dari Allah . Nabi pernah bersabda,
1
Lihat Ibnu Rajab, Jaami, jilid 1, hal, 83
Islamic Online University Hadits 102
153
“Apapun yang engkau nafkahkan maka itu dianggap sedekah bagimu, bahkan suapan yang
engkau berikan ke mulut istrimu.” (H.R. Bukhari dan Muslim.
1
)
Dalam Madarijus salikin, Ibnu al-Qayyim berkata, Golonngan [orang-orang] yang
paling mulia adalah mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan mengubah sifat amalan
amalan mereka yang mubah menjadi amalan dalam rangka ketaatan kepada Allah . Beliau juga
berkata, “Amalan yang menjadi kebiasaan bagi orang orang yang mengenal Allah denan
baik adalah suatu ibadah [bagi mereka] sedangkan ritual-ritual ibadah adalah hal yang biasa bagi
orang-orang banyak.”
2
Apa yang telah disampaikan itu sangat benar. Banyak dari Kaum
Muslimin yang menganggap shalat, puasa, dan amalan-amalan lainnya sebagai sebagai kebiasaan
sehari-hari yang harus mereka kerjakan hanya karena itu merupakan bagian dari budaya dan cara
hidup. Mereka tidak memiliki niat atau perasaan yang kuat dalam hati mereka dalam melakukan
amalan tersebut semata-mata untuk Allah  . Jika kualitas amalan tersebut lemah, itu bukanlah
masalah bagi mereka karena mereka mengerjakan itu hanya untuk melepas kewajibannya. Sebab
itu, semua ritual ibadah yang penting ini hanya menjadi hal yang biasa yang tidak bermakna dan
tidak ada dampak bagi mereka. Seseorang yang mengenal Allah  dengan baik ada dalam posisi
yang sangat berbeda. Bahkan amalan-amalan “biasa” yang dia kerjakan dia penuhi dengan tujuan
dan niat. Sebab itu, amalan-amalan tersebut menjadi ibadah yang diridhoi oleh Allah .
Demikian pula, Imam an-Nawawi, ketika mengomentari hadits yang menyatakan bahwa
seseorang akan diberikan pahala saat berhubungan intim dengan istrinya, beliau menulis, “Hadits
ini menjadi bukti bahwa amalan-amalan yang mubah akan bernilai ibadah jika disetai dengan
1
Dalam mengomentari hadits ini, an-Nawawi memahami hadits ini dalam makna yang sangat tepat. Dia kemudian
menyatakan bahwa amalan ini, lebih tepatnya menyuapkan makanan ke dalam mulut istri seseorang, biasanya
dilakukan ketika dua pasangan suami istri tersebut lebih dekat satu sama lainnya dan menikmati kebersamaan
diantara mereka. Bahkan dalam pernyataan tersebut, jika itu dilakukan karena diketahui bahwa hal tersebut
dibolehkan, seseorang akan diberikan pahala oleh Allah .
2
Saalih al-Alayuwi, mubaabith fi al-Niyyah (tidak ada informasi penerbitan yang diberikan), hal.15
Islamic Online University Hadits 102
154
niat yang tepat. Jadi berhubungan intim akan bernilai ibadah jika itu dilakukan dengan niat untuk
memenuhi hak-hak istri dan mempergaulinya dengan cara yang telah Allah  perintahkan
padanya untuk menyenangkannya; atau jika itu dikerjakan dengan harapan melahirkan keturunan
yang shaleh; atau jika itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya atau kebutuhan istrinya dan
untuk menjaga mereka dari perbuatan-perbuatan yang haram atau melihat hal-hal yang
diharamkan dan seterusnya.”
1
Oleh sebab itu, Muslim yang sedang berjuang harus mencoba, yang terbaik dari
kemampuannya, untuk mengerjakan setiap amalan dengan penuh keyakinan. Dia harus berpikir
tentang apa yang sedang dia kerjakan sebelum mengerjakannya. Dia harus berpikir tentang
tujuan dan maksud dari perbuatannya, tidak perduli amalan seperti apa yang akan dikerjakan.
Tidak perduli betapa biasa amalan yang dikerjakan, jika seseorang benar-benar berpikir tentang
mengapa dan untuk siapa dia melakukan itu, itu dapat menjadi suatu ibadah kepada Allah .
Dapatkah Seseorang Mengendalikan Niatnya?
Al-Ghazali menulis,
“Engkau harus mengetahui bahwa beberapa orang bodoh mendengar apa yang kita
katakan tentang memiliki niat yang tepat dan perkataan Nabi , “Semua perbuatan sesuai dengan
apa yang mereka niatkan,” dan orang tersebut berkata pada dirinya sambil, belajar atau bekerja
atau makan, “Saya memiliki niat untuk belajar semata-mata untuk Allah  ,atau “Saya makan
demi Allah ,dan dia percaya bahwa yang seperti adalah sebuah niat. Bukan seperti itu. Hanya
karena seseorang mengatakan pada dirinya atau berbicara dengan lisan atau berpikir, atau
berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Niat itu jelas berbeda dari semua hal tersebut. Niat
itu adalah sesuatu yang mendorong seseorang dan membuatnya menemukan beberapa tujuan
yang bisa nampak pada masa sekarang atau pada masa depan. Dia tidak dapat menciptakan
dorongan ini atau membuatnya nampak pada dirinya. Itu seperti seseorang yang perutnya
kekenyangan berkata, “Saya berniat menginginkan makan,” dan kemudian dia lanjut untuk
1
An-Nawawi, Sharah Sahih.
Islamic Online University Hadits 102
155
makan. Atau seorang pemalas yang berkata, “Saya berniat untuk mencintai si fulan dan si fulan,”
tanpa makna apapun tentang itu.
1
Ibnu Khaldun menyatakan bahwa sebagian besar manusia tidak memiliki kendali atas
sesuatu dari dalam [artinya, niat] terhadap sebagian besar amalan yang mereka kerjakan. Jika
seperti itu, bagaimana bisa Allah  memerintahkan orang orang mukmin tersebut untuk
memiliki niat yang suci dan menilai amalan amalannya melalui niat dibalik amalan tersebut?
2
Pertanyaan ini telah dijawab oleh al-Syatibi yang menulis,
“JIka Allah  memerintahkan sesuatu yang sepertinya itu diluar kendali
manusia, maka seseorang harus melihat konteks perintah tersebut [agar
dapat memahamnya]. Contohnya, Allah  berfirman, “Dan kematian
tidak menyelamatkan orang-orang mukmin.” Dan sebuah hadits, “Jadilah
seorang hamba Allah yang terbunuh dan janganlah menjadi seorang
hamba yang membunuh.” Dan Nabi  juga bersabda, “Dan janganlah
kamu mati dalam keadaan tertindas,” dan seterusnya. Tetapi apa yang
menjadi perintah adalah hanyalah apa yang ada ditangan manusia dan hal
tersebut [pada contoh-contoh tersebut] untuk mengikuti Islam, untuk
menghindari penindasan, menahan diri dari membunuh dan menuruti
perintah dari Allah . Hal yang sama juga berlaku pada perintah-perintah
yang sejenis.
3
Sebenarnya, terlihat bahwa perkataan al-Ghazali, “Dia tidak dapat menciptakan dorongan
atau membuat itu nampak pada dirinya,” itu tidak sepenuhnya benar. Ada sarana-sarana untuk
membawa dorongan seperti itu. Pada bagian ini, as-Sadlan memiliki sebuah kutipan kecil yang
sangat penting yang pantas untuk dijadikan kutipan panjang:
Niat adalah salah satu amalan dalam hati dan, pada umumnya, amalan
dalam hati yang di bawah kendali seseorang dan termasuk pilihan
1
Dikutip dalam al-Ashqar, Muqaasid, hal, 39
2
Pertanyaan ini hanya dapat dijawab jika pernyataan dari al-Gazali dan Ibnu Khaldun itu benar. Umar al-Ashqar
menyatakan bahwa telah ada beberapa percobaan yang dilakukan yang hasilnya berbanding terbalik dengan
pernyataan mereka. Contohnya, Peter Lang, dari Universitas Pittsburgh, datang dengan hasil yang memukau ketika
dia telah meminta pada beberapa orang untuk mengendalikan secara mental jumlah denyut jantung yang mereka
miliki dan mereka dapat melakukannya. Demikian juga, Ilmud dan Green, dari Kansas, meminta beberapa wanita
dan anak-anak untuk mengendalikan secara mental suhu pada tangan merekadan mereka juga mampu melakukannya
setelah beberapa saat kemudian. Ashqar menyimpulkan bahwa penelitian-penelitian ini harus diarahkan pada sebuah
pemikiran baru dalam masalah kemampuan untuk mengontrol niat seseorang terutama sejak tidak terlihatnya, bukti
secara tertulis untuk pertanyaan al-Ghazali dan Ibnu Khaldun yang diriwayatkan diatas (al-Ashqar, Muqaasid, hal,
40). Pembahasan al-Sadlan, untuk disajikan secara singkat.
3
Dikutip dalam al-Ashqar, Muqaasid, hal, 41
Islamic Online University Hadits 102
156
pribadinya. Dia diperintahkan untuk membuat niatnya suci, tidak palsu,
dan untuk menjelaskan apa tujuannya. Dia diharamkan untuk melakukan
syirik dalam niatnya, tidak untuk mensucikannya atau untuk menyimpang
dalam niatnya pada melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan
untuknya. Itu semua di bawah kemampuan dan kesanggupan orang
orang yang taat. Jika bukan seperti itu masalahnya, perintah untuk
memurnikan tauhid dan larangan berbuat syirik akan menjadi sebuah
kewajiban yang tidak akan mampu untuk dipenuhi oleh seseorang…
Oleh karena itu, seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan
niatnya dan untuk mengarahkan niat itu dan membuat dirinya suci pada
cara yang sama yang dia memiliki kemampuan untuk mengubah niatnya
jauh dari apa yang secara hukum seharusnya dia tidak lakukan. Ini karena
Allah  telah memberikan manusia kecerdasan dan telah memberikan
mereka kemauan dan kebebasan untuk memilih. Allah  telah
menerangkan untuk mereka jalan kebaikan. Dia telah menjelaskan itu
pada manusia. Dia telah mengajak manusia untuk itu, dia telah berjanji
kepada pelaku kebaikan sebuah pahala dan balasan yang berlimpah. Dia
juga telah menjelaskan pada mereka jalan keburukan, telah
memperingatkan mereka tentang itu, telah mengancam seseorang yang
mengikuti itu dan telah menunjukkan hukuman yang pantas di dunia ini
dan di Akhirat kelak. Selain itu, Dia telah mengirim para rasul,
menurunkan kitab kitab, memberikan bukti dan alasan, dan telah
membuat alasan-alasan tersebut menjadi jelas.
 















(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan
pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia
membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (an-Nisaa 165). Dan Allah  juga
berfitman,








“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul
(al-Isra’ 15). Oleh karena itu, niat adalah salah satu amalan yang orang-
orang taat sanggup untuk kerjakan. Namun, dia harus mengikuti langkah-
langkah dan sebab-sebab yang akan menuntunnya untuk mensucikan
Islamic Online University Hadits 102
157
niatnya. Yaitu dengan belajar tentang Allah melalui merenungkan
ciptaan-Nya dan karunia-Nya yang besar. Dia harus memperhatikan
pahala yang besar untuk seseorang yang taat pada-Nya dan besarnya
siksaan bagi orang-orang yang tidak taat. Dia harus memikirkan tentang
banyaknya manfaat yang ditambahkan kepada seseorang yang taat pada-
Nya di dunia ini dan di Akhirat. Ketika dia melakukan itu, jiwanya akan
mendorong dirinya untuk memenuhi perintah Allah dengan tulus dan
cara yang baik. Jika orang tersebut dipenuhi dengan pikiran tentang
Akhirat dan hatinya diisi dengan cinta pada Allah , takut pada-Nya dan
berharap pada-Nya, akan sangat mudah baginya untuk menyiapkan
niatnya, untuk hati yang selalu bersandar pada [apa yang dilihat sebagai]
kebaikan [bagi seseorang].
Jika dia menuruti sebab-sebab yang membawanya jauh dari ketaatan
pada Allah , dan dia kemudian bersandar pada sebab-sebab tersebut dan
hatinya terikat pada hal-hal tersebut. balasan baginya adalah dia akan
cinta pada hal-hal tersebut dan akan terbiasa dengan hal-hal tersebut.
dalam hal itu, akan sangat susah baginya untuk mensucikan niatnya dan
menghindari ketidaktaatan. Allah berfirman,






"Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan
hati mereka” (as-Saff 5). Allah juga berfirman,








“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik
pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama
dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? (Fatir 8). Tidak ada
keraguan bahwa mengikuti sebab-sebab ketidaktaatan dan dosa-dosa
mengeraskan hati dan mengurangi kesucian dan ketulusan. Setiap saat
ketidaktaatan meningkat, hati menjadi keras dan bahkan menjadi lebih
jauh dari ketaatan pada Allah  .
Apabila itu diterima bahwa niat jatuh ke dalam pilihan bebas manusia
dan manusia dapat mengarahkan niatnya kepada yang baik atau yang
buruk, maka tidak ada kesulitan atau kesusahan dalam mewujudkan niat
seseorang, sebagaimana yang sebagian orang-orang sufi telah katakan.
Al-Ghazali, dalam kitab Ihya Ulumuddin, telah mengutip banyak ulama
Islamic Online University Hadits 102
158
terdahulu yang menyatakan betapa sulitnya bagi mereka untuk
mewujudkan niat mereka dan bagaimana mereka akan menjauhkan diri
dari mengerjakan sesuatu selama berhari-hari sampai niat mereka muncul
pada amalan tersebut. sebagaimana dalam kutipan-kutipan itu dia
menyampaikan, apabila mereka asli dari seseorang yang dikutip, itu
semua hanyalah pendapat pribadi dan tidak dapat dipercayai dan
digunakan untuk membantah kaidah umum dalam sebuah kewajiban
yang dijumpai dalam agama. Tidak ada contoh dari Nabi dan siapapun
dari para Sahabat yangmenghadirkan niat atau membuat niat ada, juga
bukanlah sesuatu yang banyak orang tahu atau tersebar luas dikalangan
para ulama terdahulu…
1
Oleh karena itu, Seorang Muslim harus melakukan yang terbaik dari dirinya untuk ikhlas
kepada Allah  dan untuk mencari keridhaan dari-Nya dengan mengikuti semua jalan yang akan
membawanya dekat kepada Allah - seperti berusaha untuk mengenal Allah  dengan baik,
merenungi penciptaannya dan rahmat-Nya, memuji sifat-sifat-Nya dan seterusnya. Dengan
melakukan itu seseorang akan mendorong dirinya untuk lebih taat kepada Allah  dan lebih
ikhlas pada-Nya. apabila niat ini mendekatinya, hatinya akan diisi dengan cinta kepada Allah ,
takut pada-Nya dan berharap hanya pada-Nya; oleh karena itu, akan lebih mudah baginya untuk
menghendaki [untuk melakukan] apa yang Allah perintahkan kepadanya untuk melakukan dan
berusaha semata-mata demi menggapai tujuan-Nya. Dalam hal itu, niatnya akan tulus melayani
Allah dan jiwanya secara otomatis akan mendorongnya untuk melakukan semua amalan yang
diridhai oleh Allah .
Seseorang akan terbantu untuk mencapai keadaan ini dengan memahami kekuatan seperti
apa yang bekerja dalam hatinya. Dengan memahami ini semua, seseorang mengetahui dimana
tempat untuk meminta tolong. Dia juga memahami sumber dari masalahnya dan apa yang
1
Al-Sadlan, al-Niyyah, jilid 2, hal, 441-444. Dalam kutipannya, al-Sadlan telah membuat dua poin yang sangat
penting. Pertama, banyak riwayat dari ulama-ulama terdahulu terkait masalah penyucian dan akhlak yang tidak
sahih. Sebab itu kesahahihannya harus harus diperjelas terlebih dahulu. Poin kedua adalah kerap kali perkataan
seperti itu hanyalah sebuah permasalahan pendapat. Pada cara yang sama seseorang mungkin membuat kesalahan
dalam masalah fiqih, seseorang mungkin melakukan masalah dalam masalah penyucian dan akhlak. Sebab itu,
perkataan seperti itu harus dinilai dalam keterangan al-Quran dan sunnah. Jika itu sesuai dengan al-Quran dan
sunnah, maka itu diterima. Jika itu tidak sesuai dengan al-Quran dan Sunnah, maka itu tertolak- bukan masalah
seberapa sholeh dan seberapa sufinya seseorang yang mengatakan hal-hal tersebut yang telah diketahui.
Islamic Online University Hadits 102
159
menyesatkannya dari jalan yang lurus. Al-Harits al-Muhasabi telah menyampaikan tiga kekuatan
yang bekerja dalam hati seseorang.
1
Yang pertama adalah sumber ilham dan petunjuk dari Allah yang telah Allah 
letakkan ke dalam hati-hati orang yang beriman. Sebuah hadits menyatakan:
Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi jalan itu
terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar.
Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus.Dan di atas pintu jalan terdapat
penyeru yang berkata, “Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam Shirath dan
janganlah kalian menoleh kesana kemari!Sementara di bagian dalam dari Shirath juga terdapat
penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka
pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, “Celaka kau! Janganlah sekali-kali
membukanya!Karena jika kau membukanya maka kau akan masuk kedalamnya.”Ash-Shirath
ituadalah Al-Islam. Keduadinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta’ala. Sementarapintu-
1
Lihat al-Ashqar, Muqasid, hal, 361f. ada tiga jenis dari al-Muhasibi tetapi pada pembahasan ini tidak merujuk pada
pembahasannya.
Islamic Online University Hadits 102
160
pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan
Shirath itu adalah Kitabullah (Al-Qur`an) ‘Azza wa Jalla. Sedangkan penyeru dari atas Shirath
adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang mukmin.”
1
Ini adalah sumber pertama yang membantu seseorang untuk ikhlas karena Allah di dalam
hatinya. Di samping itu, jika dan ketika dia benar-benar berpaling kepada Allah , Allah  pun
akan lebih besar berpaling kepadanya.
Namun, dua kekuatan lainnya yang bekerja dalam hati setiap manusia adalah syaitan,
melalui bisikan dan godaannya, dan jiwanya sendiri. Terkadang, seseorang yang tidak tulus
karena Allah  disebabkan oleh bisikan syaitan, sementara di lain waktu hal itu lebih berkaitan
dengan keinginan dan nafsu seseorang yang memuncak dalam hatinya.
Mengenai hal yang pertama tadi, sekali lagi, jika seseorang berpaling kepada Allah ,
Allah akan menghilangkan pengaruh syaitan dari dalam hatinya, Allah telah berfirman:















Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al A’raf: 200) Sekali lagi. Jika
seseorang berpaling kepada Allah , Allah akan menghilangkan bisikan-bisikan itu dari dalam
hatinya.
Mengenai jiwa yang mengarahkan seseorang untuk melakukan kejahatan, Allah  telah
menjelaskan dalam firman-Nya:


















“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat
oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Yusuf: 53)
Oleh karena itu, setiap individu harus berusaha untuk selalu waspada terhadap kekuatan-
kekuatan yang bertindak dalam hatinya. Ia harus selalu berusaha untuk waspada dan tidak pernah
1
Diriwayatkan oleh Ahmad. Menurut Syeikh Al Albani, hadits tersebut sahih. Lihat Albani, Sahih al-Jami, jilid 2,
hal, 721-722.
Islamic Online University Hadits 102
161
membiarkan dirinya menjadi lalai. Jika ia menjadi lalai, dia akan menyimpang dari tujuan
hidupnya: menjadi benar dan ikhlas kepada Allah  dalam setiap ibadahnya. Ia harus selalu
mencoba untuk mengikuti setiap langkah yang dapat meningkatkan imannya dan menjaganya
dari kesesatan. Ia harus selalu kembali kepada Allah  dan memohon kepada Allah  untuk
menuntunnya kepada keikhlasan dan kemurnian [niat] hanya karena-Nya.
Hadits ini Menjelaskan Tentang Pentingnya Ilmu Sebelum Beramal
Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa seorang Muslim harus memiliki ilmu
sebelum beramal. Seseorang harus memiliki niat untuk melakukan suatu amal yang halal atau
paling tidak, amal tersebut mubah. Namun, dia tidak dapat memiliki niat yang seperti itu kecuali
dia mengetahui terlebih dahulu bahwa amalan tersebut halal atau mubah. Jika seseorang
melakukan suatu amalan tanpa mengetahui kaidah pada amalan tersebut, maka dia tidak dapat
mengatakan bahwa niatnya sudah ikhlas. Niatnya ditandai dengan pemahamannya terhadap
amalan tersebut dan apakah amalan tersebut mubah. Jika dia tidak perduli apakah amalan
tersebut mubah atau bukan, maka dia telah melakukan suatu amalan dengan niat yang
sembarangan. Artinya, niatnya adalah dia tidak perduli jika amalan tersebut boleh atau tidak.
Allah menyatakan dalam Al-Quran,


















“Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya" (al-Kahfi 110). Mengomentari hadits ini, Ibnul
Qayyim menulis,
Ini adalah dalil hanya untuk jenis amalan yang akan diterima Allah.
Amalan tersebut harus sesuai dengan sunnah Nabi  dan dilakukan
semata-mata untuk melihat wajah Allah . Seorang yang melakukan
amalan mungkin tidak dapat memenuhi kedua syarat ini kecuali dia
memiliki ilmu. Jika dia tidak mengetahui apa yang telah diriwayatkan
oleh Nabi , maka dia tidak dapat meniatkan itu. Jika dia tidak memiliki
ilmu yang luas tentang kepada siapa dia beribadah, dia tidak dapat
meniatkan hanya karena Allah  semata dalam amalannya. Jika bukan
Islamic Online University Hadits 102
162
karena ilmu, amalannya mungkin tidak akan diterima. Inilah ilmu yang
memberi petunjuk kepada keikhlasan dan kesucian dan inilah ilmu yang
menunjukkan apa yang sebenarnya dimaksud dengan mengikuti jalan
dari Nabi .
1
Niat Yang Benar Dan Hasil Yang “Salah”
Niat seseorang menentukan pahala untuk amalan tersebut bahkan jika hasil tersebut tidak
seperti apa yang ia inginkan. Pernah ada seorang ayah memberikan infaknya kepada seseorang
yang bertanggung jawab atas masalah sedekah dan dia, tanpa sadar, memberikan sedekah
tersebut kepada anak dari laki-laki tersebut. Sang ayah mengadukan hal ini pada Nabi  “Saya
tidak menginginkan sedekah itu untuk diterima olehnya.” Nabi  bersabda padanya, “Engkau
mendapatkan apa yang engkau niatkan,” dan beliau berkata kepada anak laki-laki yang
mendapatkan sedekah tersebut, Untukmu apa yang telah engkau terima.” (diriwayatkan oleh
Bukhari). Demikian pula jika seseorang memberikan sedekah kepada orang-orang tertentu
karena dia percaya bahwa orang tersebut adalah orang yang miskin, meskipun kenyataanya
adalah sebaliknya, dia tetap akan mendapatkan pahala dikarenakan niatnya. Ini sekali lagi
menunjukkan pentingnya niat dan tempat niat.
Niat Yang Benar adalah Salah Satu Bentuk Ibadah yang Paling Agung
Niat dibalik sebuah amalan adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh seseorang yang
memiliki niat tersebut dan Allah  . Ini merupakan rahasia antara ia dengan Allah . Tidak ada
jalan bagi ketidaktulusan apapun untuk ada dalam masalah ini, seperti kebalikan dari amalan-
amalan lahiriah yang disaksikan oleh orang lain. Oleh karena itu, amalan itu akan diberikan
pahala yang agung oleh Allah karena ia tidak mencari manfaat dunia apapun dari pahala itu.
Mungkin inilah sebagian dari apa yang dimaksud oleh Sahl Ibnu Abdullah ketika dia berkata,
1
Dikutip dari Ali al Salihi, Al Dhau al-Muneer ala al Tafseer, (Riyadh: Muassasat an Nur, n.d), jilid 4, hal 173
Islamic Online University Hadits 102
163
“Tidak ada apapun yang lebih sulit bagi jiwa daripada ikhlas (murni semata-mata untuk Allah )
karena jiwa itu sendiri tidak mendapat sedikitpun bagian darinya”.
1
An-niyyah dan al-Ikhlas: Perkara Hati
Pentingnya pertanyaan ini tentang niyyah (“niat”) dan ikhlas (“kemurnian amalan
seseorang,” artinya, melakukan amalan semata-mata untuk Allah ) tidaklah dilebih-lebihkan.
Ini benar-benar masalah utama berkisarnya seluruh makhluk. Ini harus menjadi cita-cita dan
tujuan manusia yang tidak ada cita-cita dan tujuan lain diluar itu. Allah berfirman,









Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku
(az-Zariyat 56). Kesucian niat sebenarnya adalah membedakan maksud antara menyembah Allah
azza wa jalladengan benar dan tidak menyembah Allah azza wa jalla dengan benar atau
semuanya. Itulah yang membedakan antara orang hanya menyembah Allah dan orang yang
menyembah selain daripada Allah.
Ibnu Hazm berkata, “Niat adalah rahasia ibadah dan jiwanya. Kedudukannya, yang
berkaitan dengan amal, bagaikan jiwa dengan badan. Itu adalah sesuatu yang tidak dapat
dibayangkan jika sebuah amalan tidak disertai dengan jiwanya. Ini seperti sebuah tubuh yang
rusak.”
2
Al-Ashqar juga menulis.
Kebenaran yang dijanjikan oleh al-Quran dan sunnah adalah sesuatu
yang nyata yang diwajibkan oleh aturan-aturan syariat adalah jiwa
seseorang. Tubuh hanyalah alat untuk itu. Jika suatu amalan tanpa
sesuatu yang diperintahkan untuk dipenuhi jiwa yaitu kesucian niat
maka amalan tersebut, yang dikerjakan oleh tubuh termasuk jenis hal
yang sia-sia dan sesat.
3
1
Dikutip dalam Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal, 84. Satu-satunya jalan perkataan ini dapat dianggap diterima adalah
jika ini dipahami dengan cara diatas. Sebaliknya, perkataan ini harus ditolak karena jiwa tersebut mendapatkan
sesuatu yang banyak dari ikhlas, termasuk penigkatan dalam iman dan pahala yang agung di Akhirat. Allah 
mengetahui yang terbaik
2
Dikutip dalam al-Ashqar, Muqasid, hal, 68-69.
3
al-Ashqar, Muqasid, hal, 69.
Islamic Online University Hadits 102
164
Allah  menuntut keikhlasan dalam hati hamba-Nya. Meskipun keikhlasan ini adalah
cerminan dari amal itu sendiri, keikhlasan ini merupakan hasil dari niat yang menjadi petunjuk
bahwa Allah  ridha dengan amalan-amalan tertentu. Allah  menciptakan kematian dan
kehidupan untuk menguji umat manusia untuk melihat siapa yang paling baik amalnya. Dia tidak
menciptakan umat manusia dan menguji mereka untuk melihat siapa yang mengerjakan paling
banyak amal yang tidak berkualitas. Allah telah berfirman,
























Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang
lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk 1-2).
Mengomentari ayat ini, Fudhail bin Iyadh berkata bahwa “amal yang paling baik” artinya yang
paling suci dan yang paling benar. Dia berkata, “Jika amal itu tulus dan suci tetapi tidak benar,
amal tesebut ditolak. Jika amal tesebut benar tetapi tidak suci, itu ditolak. [tidak akan diterima]
amal-amal tersebut sampai keduanya suci dan benar. Amal itu suci jika semata-mata untuk Allah
dan amal tersebut benar jika sesuai dengan sunnah,”
1
Ini dipertegas oleh firman Allah ,


















“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal
yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya"
(al-Kahfi 110).
Nabi bersabda,
1
Dikutip dalam Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal, 72.
Islamic Online University Hadits 102
165
“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan
tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan amal kalian” (H.R. Muslim).
Ini adalah agama dari para nabi dan apa yang telah diperintahkan untuk dipenuhi oleh
semua umat manusia. Sebagaimana Allah berfirman,















“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (al-Bayyinah 5).
Sebab itu, amalan yang nampak dari luar dan aspek dari dalam harus berjalan beriringan.
Hal yang paling penting dan faktor yang mendorong tersebut adalah apa yang ada dalam hati. ini
dapat dilihat dalam hadits ini, “sesungguhnya, semua amalan tergantung dari niat.” Ibnul
Qayyim pernah menulis,
Orang yang mempelajari sumber-sumber syariat akan mengetahui
perbedaan antara amalan anggota badan yang nampak dari luar dan
amalan-amalan dalam hati. Amalan tidak akan bermanfaat tanpa ada
amalan hati. Amalan hati lebih wajib daripada amalan badan. Bukankah
yang membedakan antara orang beriman dan orang munafik adalah
karena amalan hatinya yang berbeda dengan yang lainnya? Dapatkah
seseorang masuk Islam kecuali dengan amalan dalam hati mereka lebih
didahulukan daripada amalan badannya? Penghambaan dan ibadah dalam
hati lebih agung, lebih banyak dan lebih abadi daripada amalan anggota
badan. Amalan-amalan hati wajib sepanjang waktu. Itulah sebabnya
mengapa iman itu wajib ada dalam hati. Namun, ketaatan anggota badan
[tertentu] diwajibkan hanya pada waktu-waktu tertentu. Tempat iman
adalah di dalam hati dan tempat Islam [berserah diri] adalah pada
anggota badan.
1
1
Syamsuddin Ibnul Qayyim, Badai al Fawaid, Vol 3, hal. 230
Islamic Online University Hadits 102
166
Niat adalah Kunci Menuju Kehidupan yang Abadi di dalam Surga atau
Neraka
Sebagian orang bertanya: Mengapa orang-orang kafir disiksa di neraka selamanya
sedangkan tidak selamanya mereka tidak taat pada Allah ? Demikian pula, mengapa orang-
orang beriman diberikan pahala dengan Surga sedangkan mereka taat kepada Allah  hanya
sebentar saja di dunia ini? Jawabannya adalah karena orang-orang kafir telah berniat untuk tidak
mentaati Allah  selamanya sedangkan orang-orang beriman telah berniat untuk taat kepada
Allah  selamanya. Dengan cara demikian, mereka mendapatkan pahala sesuai dengan niat
mereka. Sebagaimana al-Qari jelaskan, masuk Surga itu dikarenkan iman, tingkatan dalam
Surga dikarenakan amalan yang dikerjakan dan tinggal disana selamanya dikarenakan niat yang
seseorang miliki untuk mentaati Allah  selama yang dia mampu untuk lakukan dalam hidupnya.
Demikian pula, masuk neraka dikarenakan tidak yakin, tingkatannya dikarenakan amal-amal
buruk yang seseorang kerjakan dan kekal selamanya disana dikarenakan niat yang orang-orang
kafir miliki untuk selamanya tidak mentaati Allah .
1
Orang-orang kafir mungkin melakukan amal-amal yang terlihat baik karena mereka
membawa hasil yang baik untuk orang lain, seperti kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Namun, itu
tidak berarti bahwa perbuatan-perbuatan semacam itu baik untuk orang itu sendiri. Ibnu Rajab
menyatakan,
Memerintahkan pada yang makruf adalah sebuah sedekah. Mendamaikan
di antara dua pihak yang berselisih merupakan suatu amal yang baik,
bahkan jika itu tidak dilakukan semata-mata untuk Allah , disebabkan
manfaat yang diberikannya kepada orang lain. Orang-orang menerima
kebaikan dan manfaat. Namun, untuk orang yang melakukan hal tersebut,
jika dia melakukannya semata-mata untuk Allah dan mencari
keridhaan-Nya, maka itu baik untuknya dan dia akan diberikan pahala.
Jika bukan itu niatnya, hal tersebut sebenarnya tidak baik untuknya dan
juga tidak akan ada pahala yang diberikan untuknya untuk hal tersebut.
2
1
Ali al-Qari, Mirqat al-Mafatih Sharh al-Masabih (Multan, Pakistan: Maktaba Haqqaniya, n.d.), jilid 1, hal, 43.
2
Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal, 67.
Islamic Online University Hadits 102
167
Masalah dari amalan-amalan orang kafir pada umumnya adalah tidak ada diantara
amalan-amalan mereka yang semata-mata untuk Allah , tidak perduli seberapa nampak
bermanfaat dan berperikemanusiaan amalan tersebut. Mereka mengerjakan amalan-amalan
tersebut karena Yesus, tuhan yang tidak haq. Atau mereka mengerjakan amalan-amalan untuk
menuruti hawa nafsunya. Terkadang, seringkali mereka mengerjakan amalan-amalan tersebut
untuk membuat orang lain terkesan. Sebab itu, mereka tidak berhak diberikan pahala dari Allah
di Akhirat. Mereka mengaku telah melakukan amalan yang baik sedangkan pada saat yang
sama mereka menolak untuk tunduk kepada Allah . Sebab itu, sebenarnya tidak ada kebaikan
pada mereka. Mereka itu seperti yang dijelaskan dalam al-Quran,




















































Katakanlah (wahai Muhammad): "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-
orang yang paling merugi perbuatannya?Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya
dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-
baiknyMereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur
terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak
mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan
mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan
ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.” (al-Kahfi 103-106)
Namun, Allah  bisa saja memberikan balasan bagi mereka atas amalan-amalan mereka
di dunia. Allah telah berfirman, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya,



































Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan
kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu
Islamic Online University Hadits 102
168
tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan
lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah
mereka kerjakan.” (Hud:15-16).
“Maka barang siapa yang hijrahnya untuk Allah dan
Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya”
Rasulullah di sini memberikan sebuah contoh yang menunjukkan prinsip penting dari
apa yang telah beliau sebutkan. Seperti ketika beliau bersabda, “Dan amalan-amalannya lainnya
serupa dengan hijrah.” Faktanya, dalam hadits ini, Nabi  menyebutkan satu contoh, yakni
hijrah. Namun, al-Quran juga memberikan permisalan yang sangat jelas tentang dua orang
mengerjakan amalan yang sama tetapi hasilnya sangat berbeda. Dalam kasus mereka, tentang
amalan berupa pemberian untuk sedekah atau pemberian “semata-mata untuk Allah .” Allah 
menjelaskan dua kasus tersebut dengan cara yang sangat indah. Dia menunjukkan betapa tidak
bergunanya, akhirnya, semua amalan tersebut yang tidak dilakukan semata-mata untuk mencari
keridhaan Allah . Allah berfirman,
































































“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan
hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu
ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai
sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-
orang yang kafir. Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari
Islamic Online University Hadits 102
169
keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran
tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika
hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun mencukupi). Dan Allah Maha Melihat
apa yang kamu perbuat” (al-Baqarah 264-265).
Dalam menjelaskan nukilan ayat ini, Nabi  mengatakan, “Maka barang siapa yang
hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya”. Harus
dicatat bahwa, pada umumnya, syarth (syarat) dalam sebuah pernyataan harus berbeda dari jaza-
nya (hasil atau akibat). Namun, dalam hal ini, semua hal itu jelas sama. Ini membuat pernyataan
ini menjadi sesuatu yang tautologi (pengulangan yang tidak perlu). Para ulama telah membahas
makna yang tepat dan maksud dari pernyataan ini.
Beberapa ulama sekali lagi telah menggunakan taqdir dan memahami kalimat tersebut
dalam cara yang berbeda, termasuk: “Barangsiapa hijrah dengan niat untuk mendapatkan
keridhaan Allah dan Rasul-Nya,” atau, “Barangsiapa yang hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya
dengan niat dan tujuan, maka keputusannya hijrahnya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya.”
Tetapi taqdeer hanya dipergunakan untuk keadaan tertentu. Dalam hal ini, mungkin itu tidak
dibutuhkan. Beberapa ulama telah menyatakan bahwa sebuah perubahan makna dapat bisa juga
terjadi melalui sebuah perubahan dalam kata-kata, dalam keadaan yang normal, atau itu juga bisa
melalui sebuah perubahan dalam maknameskipun kata-kata tersebut sebenarnya sama. Kasus
yang terakhir dipahami melalui kontenks. Artinya, bahkan jika kata-kata yang sama digunakan,
makna yang ditunjukkan berbeda dan dipahami. Disini seseorang memahami dari konteks
tersebut terkait dengan niat dibalik amalan-amalan tersebut bahwa amalan-amalan seperti itu
akan diberikan pahala oleh Allah  .
Ulama-ulama lainnya memahami kalimat tersebut serupa dengan kalimat yang terkenal
dalam bahasa Arab, “Aku adalah aku dan syairku adalah syairku”. Pada umumnya, jika khabr
(predikat) dan mubtada (subyek) atau shart (syarat) dan jaza (akibat) itu jelas sama, ini
dilakukan seperti semacam melebih-lebihkan atau menegaskan, baik itu untuk tujuan
mengagungkan sesuatu maupun mengabaikan sesuatu. Dalam hal ini, itu jelas bahwa dengan
menyatakan kembali Allah dan Rasul-Nya,” Nabi sedang menegaskan betapa penting dan
agungnya tujuan hijrah tersebut.
Islamic Online University Hadits 102
170
Namun, Ibnu Rajab memberikan penjelasan lainnya, yang menyatakan bahwa lafadz
Allah  dan Rasul-Nya  diulang dalam hadits tersebut karena Allah dan Rasul-Nya adalah
tujuan akhir yang siapapun bisa mencarinya dalam kehidupannya di dunia atau di Akhirat. Lebih
lanjut beliau menyatakan bahwa itu adalah tujuan satu-satunya yang tidak dapat dicampur
dengan yang lainnya. Sebab itu, beliau mengulang pernyataan dengan kata-kata yang jelas sama.
Ibnu Rajab juga menjelaskan hijrah yang sebenarnya hanya demi Allah .
Barangsiapa yang hijrah ke Negeri Islam karena cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya, berkeinginan untuk mempelajari agama Islam, dan
menegakkan keislamannya, karena dia tidak dapat melakukannya di
Negeri orang-orang kafir, adalah orang yang benar-benar hijrah kepada
Allah dan Rasul-Nya. Kehormatan dan kemuliaan yang dia terima atas
niatnya hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya itu sudah cukup. Dalam
pengertian itulah, lafadz yang persis sama dinyatakan kembali dalam
matan hadits tersebut. Yakni karena dia berhasil mencapai dari hijrahnya
itu tujuan akhir dan tujuan jangka panjang di dunia ini dan di akhirat.
1
Selanjutnya, Ibnu Rajab menyatakan,
Hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya adalah [untuk] satu tujuan. Karena
alasan itu, kata-kata yang maknanya sama persis diulang dalam
pernyataan tersebut. Tetapi hijrah untuk tujuan dunia memiliki banyak
tujuan yang berkaitan dengan hal tersebut yang tidak dapat disebutkan.
Seseorang mungkin hijrah untuk tujuan yang diperbolehkan dalam urusan
dunia ini atau, dalam kesempatan lain, untuk suatu tujuan yang haram.
Ada banyak sekalibahkan tak terhitung jumlahnyaalasan-alasan
dunia yang melatarbelakangi seseorang berhijrah. Karena itulah mengapa
Nabi bersabda [dalam hadits ini kemudian], “Maka hijrahnya adalah
untuk apa yang dia hijrahkan,” artinya, apapun itu yang mungkin akan
terjadi.
2
Kemungkinan ada hal lainnya dari pernyataan Nabi tersebut. Beliau mengulang
lafadz, untuk Allah dan Rasul-Nya,” tidak sekedar bersabda, “untuk mereka”. Seperti yang
dinyatakan diatas, ini bisa saja dilakukan karena ta’dzhim dan untuk menekankan betapa
pentingnya mereka. Atau itu dapat dilakukan untuk menghindari penggunaan satu kata ganti
untuk keduanya, baik Allah maupun Rasul-Nya. Pernah suatu ketika, seseorang berkata,
1
Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal, 73
2
Ibid
Islamic Online University Hadits 102
171
“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah diberi petunjuk. Dan
barangsiapa tidak taat kepada mereka telah tersesat”. Nabi menyatakan bahwa ia telah
mengatakan sesuatu yang tidak benar dan berkata padanya bahwa ia seharusnya tetap
mengatakan, “Barangsiapa yang tidak taat pada Allah dan Rasul-Nya.” (H.R. Muslim). Ini
menunjukkan bahwa amalan atau perkataan apapun yang bisa saja membawa kepada hal-hal
yang menyekutukan Allah harus benar-benar dihindari. Sebab itu, Nabi tidak suka jika beliau
disandingkan dengan Allah  dengan menggunakan satu kata ganti yang bisa merujuk baik
kepada beliau maupun Allah  .
1
Akhirnya, dapat dipahami dari apa yang dinyatakan oleh Nabi dalam hadits ini, bahwa
hijrah adalah untuk Allah  dan Rasul-Nya, adalah bahwa Allah tidak pernah menolak amal
yang baik dari siapa saja yang mengerjakannya dengan tulus semata-mata untuk-Nya.
Arti Kata Hijrah
Hijrah bermakna “Untuk meninggalkan atau menghindari sesuatu dan berpindah dari satu
hal ke hal yang lainnya.” Makna secara syariat yang paling jelas adalah meninggalkan negeri-
negeri orang orang kafir ke negeri Islam agar bisa untuk menjalankan dan menegakkan syariat
agama Islam. Makna inilah yang dimaksudkan dalam hadits ini. Selama masa kehidupan Nabi ,
ada dua emigrasi atau hijrah yang terkenal. Yang pertama adalah hijrah dari kota Makkah ke
Habasyah. Ini terjadi pada tahun ke-5 kenabian.
Hijrah yang kedua menandakan awal penanggalan kalender Islam. Inilah hijrah dari kota
Makkah menuju ke kota Madinah. Hijrah ini, menurut banyak ulama, seperti ulama terdahulu al-
Suddi dan ulama belakangan Asy-Syinqiti, merupakan syarat untuk menunjukkan benarnya
keislaman seseorang pada waktu itu. Artinya, seseorang tidak dianggap benar-benar Muslim jika
dia memiliki sarana untuk hijrah dari Makkah ke Madinah tetapi dia tidak hijrah.
2
Ibnu Attiyah
berpendapat bahwa pendapat yang paling kuat adalah seseorang yang tidak hijrah pantas untuk
diadzab didalam neraka atas ketidaktaatannya, meskipun dia tidak akan tinggal di dalamnya
1
Ada hadits dalam Sunan Abu Daud yang menyatakan bahwa Nabi berkata, Siapapun Allah dan Rasul-Nya….
dan siapapun yang tidak mentaati mereka…” Namun, menurut al-Albani, bahwa hadits ini lemah. Lihat
Muhammad Nashir al-Albani, Dhaeff Sunan Abi Daud (Beirut; al-Maktab al-Islami, 1991), hal, 108.
2
Al-Syanqiti, jilid 1, hal, 144 dan 150.
Islamic Online University Hadits 102
172
selamanya selama dia tidak melakukan suatu amalan yang membawanya keluar dari wilayah
keislaman.
1
Namun, bentuk hijrah yang khusus ini tidak lagi diwajibkan setelah Fathul Makkah.
Makkah telah menjadi bagian dari negara Islam dan, sebab itu, tidak ada lagi kebutuhan atau arti
untuk hijrah dari kota tersebut. Ini adalah makna hadits Nabi yang sering disalah artikan,
“Tidak Ada hijrah setelah Fathul Makkah tetapi yang ada adalah jihad dan niat.” (H.R.
Bukhari dan Muslim).
Ini adalah hijrah yang paling nyata yang ada terlintas dalam pikiran ketikan seseorang
membaca hadits ini terkait niat, meskipun tidak riwayat yang sahih menyebutkan hijrah ini
menjadi sebab dibalik pernyataan Nabi . Namun, makna dan kaidah hadits ini umum dan
berlaku untuk semua jenis hijrah. Hadits berikut ini menjelaskan bahwa akan selalu ada bentuk
hijrah selama negara-negara atau wilayah-wilayah non Islam ada. Artinya, selama semua
wilayah itu ada, selalu ada alasan untuk jihad dan sebab bagi kaum Muslimin untuk pindah dari
daerah-daerah itu menuju ke daerah-daerah Islam. Ahmad telah meriwayatkan bahwa seseorang
datang pada Nabi dan berkata bahwa orang-orang mengatakan bahwa tidak ada lagi hijrah.
Nabi bersabda padanya,
Hijrah tidak akan terhenti selama musuh masih diperangi.”
2
Hadits lain menyatakan,
1
Lihat Al-Syanqiti, jilid 1, hal, 150-151.
2
Diriwayatkan oleh Ahmad dan at Tahawi dalam Mushkil al Athar. Menurut Albani, ini adalah hadits yang sahih.
Lihat Muhammad Nasir al-Deen al-Albani, Silsilat al-Ahadit al-Sahiha. (Amman, Jordan: al-Maktab al-Islami,
1983) jilid, 4, hal, 239.
Islamic Online University Hadits 102
173
“Hijrah tidak akan terhenti hingga terputusnya pintu taubat dan pintu taubat tidak akan terputus
hingga matahari terbit dari barat”
1
Tujuan hijrah adalah untuk berpindah dari satu daerah ke tempat dimana seseorang dapat
menjadi lebih baik atau dapat menjalankan agamanya dengan baik. Sebab itu, jenis-jenis hijrah
berikut ini telah disebutkan oleh berbagai ulama:
1) Berhijrah dari negeri orang kafir (orang yang tidak beriman) ke negeri Islam. Ini adalah
jenis hijrah yang paling dikenal dan paling sering dibahas. Ini adalah persoalan penting
untuk Kaum Muslimin yang tinggal di negeri-negeri Barat.
2) Berhijrah dari negeri bidah (sesat dan membuat perkara baru). Imam Malik pernah
berkata, Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk tinggal di dalam suatu negeri yang
mana mereka menyelisihi kaum salaf (orang-orang sholeh terdahulu).”
2
Jika orang
tersebut tidak memiliki kemampuan untuk mengubah apa yang mereka lakukan, dia harus
meninggalkannya. Ini sesuai dengan kaidah yang disebutkan dalam al-Quran:
























Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka
tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan
menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang
yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)” (al-An’am 68).
3) Berhijrah dari tempat yang didominasi oleh perkara-perkara haram (perkara-perkara
terlarang) ke tempat yang tidak terlalu dipenuhi oleh perkara-perkara tersebut. Ini adalah
kewajiban seorang Muslim untuk mencari apa yang halal dan murni dalam segala aspek
kehidupannya.
1
Diriwayatkan oleh Abu Daud. Menurut Albani, ini sahih, Muhammad Nasir al-Deen al-Albani, Sahih Sunan Abu
Daud (Riyadh: Maktab al Tarbiyah al arabi li Daul al Khalij, 1989), jilid 2, hal.470.
2
Dikutip dalam Husain al Uwayisya, al-Fasl al-Mubin fi Masalah al-Hijrah wa Mufariqah al-musyrikin (Amman,
Jordan: Daar Usaid, 1993), hal. 40.
Islamic Online University Hadits 102
174
Ada bentuk-bentuk hijrah lainnya yang nampaknya untuk alasan duniawi tetapi, pada
akhirnya, bentuk-bentuk hijrah tersebut juga harus semata-mata demi Allah . Artinya, seperti
semua amalan-amalan yang dibolehkan, jika itu semua dilakukan dengan niat niat yang lurus,
semuanya akan diberikan pahala oleh Allah . Termasuk bentuk-bentuk hijrah berikut ini:
4) Berhijrah dari satu negeri yang seseorang takut akan membahayakan tubuh. Allah 
memperbolehkan jenis perbuatan ini. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi
Musa. Sekali lagi, apabila seseorang berusaha melepaskan diri dari hal yang
membahayakan tubuh tersebut sehingga dia akan dapat beribadah kepada Allah dengan
sebaik-baiknya, maka hijrahnya akan menjadi suatu ibadah.
5) Berhijrah dari satu negeri yang seseorang takut akan penyakit tubuh tertentu atau
khawatir jatuh sakit. Ini adalah kasus pada masa Nabi ketika beliau mengizinkan orang-
orang yang sakit di Madinah untuk meninggalkan kota tersebut.
6) Berhijrah dikarenakan takut membahayakan harta benda dan kekayaan seseorang. Harta
dan benda tidak dapat diganggu gugat. Maka dianggap boleh hukumnya untuk
meninggalkan satu negeri menuju negeri lain karena takut harta bendanya mungkin
dirampas dan sebagainya. Yang jelas, bagaimanapun, ini bukan berarti mengungsi ke
negeri orang-orang kafir hanya untuk keuntungan ekonomi, tetapi artinya mengungsi ke
negari bagian Islam lainnya. Sebaliknya seseorang harus menghadapinya dengan sabar.
Perbedaan konsep dalam Hijrah
Menurut al-Mudabaghi, kata hijrah dalam hadits ini merujuk kepada segala jenis hijrah,
secara fisik ataupun batin. Ada jenis hijrahyang wajib bagi semua Muslim setiap waktu. Jenis
hijrah ini, dengan jelas, harus atau hanya dapat dikerjakan semata-mata demi Allah . Ini
dijelaskan dalam hadits Nabi :
Muhajir [orang yang berhijrah] adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh
Allah.” (H.R. Bukhari).
Islamic Online University Hadits 102
175
“Dia yang hijrahnya untuk meraih beberapa keuntungan
dunia atau untuk menikahi beberapa wanita, maka
hijrahnya untuk yang dihijrahi tersebut.
Nabi menganggap kecil tujuan dari seseorang yang hijrah untuk beberapa keuntungan
duniawi dengan mengatakan, “Maka hijrahnya adalah untuk itu,” tanpa menyatakan
secara tegas apa yang sedang ditunjukkan.
1
dan juga, hijrah semata-mata demi Allah
dan Rasul-Nya dilakukan dengan satu tujuan dalam pikiran. Ada banyak sekali alasan
lainnya yang mungkin menuntun seseorang untuk hijrah tetapi tidak ada seruan untuk
menyebutkan itu semua; oleh karena itu, Nabi tidak menyebutkannya.
Makna kata Dunya
Kata dunya (kehidupan dunia ini) mungkin memiliki makna al-adnaatau “yang paling
dekat”.
2
Diberikan nama ini karena itu adalah kehidupan yang paling dekat karena itu datang
sebelum kehidupan Akhirat. Kemungkinan alasan lainnya mengapa dinamakan dunya adalah itu
yang paling dekat untuk binasa. Sebagian bahkan berkata bahwa kata dunya itu berasal dari kata
al-dinaayang berarti sesuatu yang didasar, rendah, keji, hina atau tercela.
3
Namun, dua pertama
adalah penjelasan yang paling umum. Adapun yang dimaksud, tampaknya pendapat yang paling
kuat adalah itu mencakup segala sesuatu didalam bumi ini dan lingkungannya yang telah terjadi,
sedang terjadi atau akan terjadi sebelum Hari Pembalasan.
Abad yang lalu telah disaksikan suatu bentu hijrah yang sangat berbahaya untuk orang-
orang Muslim dan itu semata-mata untuk dunya. Puluhan orang-orang Muslim telah pindah dari
negeri-negeri orang menuju ke negeri orang-orang kafir Barat. Pada umumnya, tujuan utama
atau tujuan satu-satunya untuk hijrah ini adalah memperbaiki keadaan ekonomi atau, dalam
1
Meskipun itu adalah bahasa Inggris pada umumnya, itu juga dilakukan dalam bahasa Arab untuk sebuah tujuan,
seperti tujuan yang disebutkan diatas: untuk menganggap kecil apa yang tidak disebutkan dengan jelas.
2
Sebab itu, orang-orang yang hanya mencari dunia ini, kenyataannya, berpandangan dangkal karena mereka mencari
kehidupan yang paling dekat dan paling mudah untuk diraih. Namun, mereka gagal untuk menyadari
3
Lihat al-Mudbaghi, hal.33
Islamic Online University Hadits 102
176
hadits ini dikatakan, dunya. Seringkali ini terjadi dengan mengorbankan agama mereka saat
mereka pindah ke Barat dan kehilangan hampir semua identitas Islamnya. Bahkan jika mereka
mempertahankan bagian keislamannya, dalam banyak kasus, anak-anak mereka kehilangan
semua keislamannya dan menjadi benar-benar melebur dengan masyarakat non Muslim.
Berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya untuk memperbaki keadaan ekonomi, tidak
ada perubahan dalam lingkungan dan suasana Islam, adalah sesuatu yang dibolehkan dalam
Hukum Islam. Namun, ketika hijrahatau imigrasi dilakukan demi dunya dengan mengorbankan
keislaman seseorang atau jika itu memnempatkan keislaman seseorang beresiko, itu kemudian
menjadi terlarang. Sungguh, ini mengalahkan tujuan utama dalam kaidahhijrahdimana seseorang
pindah dari satu daerah ke daerah lainnya untuk meningkatkan dan menjalankan dengan baik
agama tersebut. Sayangnya, meskipun itu adalah kekuatan dan tarikan dari dunya. Orang-orang
meninggalkan negeri mereka, budaya, keluarga, teman-teman dan jalan hidup mereka dibelakang
hanya untuk berhasil dalam dunia ini- dan seringkali merek bahkan tidak dapat meraih itu.
Apabila ini terjadi dengan mengorbankan agama seseorang, maka apa yang sedikit yang
seseorang peroleh di dunya ini tidak dapat dibandingkan dengan apa yang hilang baik di
kehidupan ini dan di Akhirat.
Jika dunya dapat memiliki semacam pengaruh yang itu membuat seseorang
meninggalkan keluarganya dan tanah kelahirannya demi itu, orang dapat membayangkan berapa
banyak amalan lainnya yang dikerjakan semata-mata demi dunya ini. Orang-orang yang benar
beriman harus menentukan cita-citanya untuk Akhirat.Dia harus menjadikan dunia ini sebagai
alat untuk memperoleh ridha Allah dan karunia-Nya di Akhirat. Jika, sebaliknya, dia bekerja
untuk kehidupan ini, dia akan memperoleh sesuatu yang fana dan, akhirnya, tidak berguna. Pada
hari pembalasan, dia akan menyesali dirinya sendiri karena tidak bekerja keras untuk Akhirat
tapi justru untuk dunya.
Menyebutkan Wanita Setelah Menyebutkan Dunya
Dalam hadits ini, Nabi secara khusus menyebutkan berhijrah demi untuk menikahi
seorang wanita setelah menyebutkan berhijrah untuk sebuah bagian dalam dunya ini. Yang jelas,
menikahi seorang wanita adalah bagian dunya ini. Oleh karena itu, nabi membuat pernyataan
umum dan kemudian menegaskan sebuah hal-hal penting yang khusus dari pernyataan umum
Islamic Online University Hadits 102
177
tersebut. Ini adalah sebua tanda bahwa wanita itu- atau lawan jenis pada umumnya- dapat
memiliki pengaruh yang besar pada perbuatan-perbuatan seorang individu. Bahkan perbuatan-
perbuatan besar dan mulia, seperti berhijrah, mungkin dikerjakan demi seorang wanita tapi
bukan semata-mata demi Allah  .
Nabi memperingatkan Umatanya tentang dunia ini dan, secara khusus, tentang wanita.
Beliau sekali lagi menggabungkan dua hal bersama-sama ketika beliau berkata,
Sesungguhnya dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah mempercayakan kalian untuk
mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian. Karenanya jauhilah fitnah dunia
dan jauhilah fitnah wanita, sebab sesungguhnya fitnah pertama kali di kalangan Bani Israil
adalah masalah wanita (H.R. Muslim). Secara khusus, beliau berkata tentang wanita,
Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah
wanita.” (H.R. Bukhari dan Muslim.)
Pengaruh lawan jenis pada seseorang, bahkan orang-orang yang biasanya sholeh, dapat
dengan mudah dilihat hari ini. Dalam banyak kasus, seseorang telah membuat keputusan untuk
menikahi saudari perempuan tertentu. Dia, faktanya, jatuh cinta” dengan saudarinya itu.
Meskipun seluruh hidupnya diatur oleh Islam dan niat mereka untuk hidup dengan Islam, sering
kali mereka lansung pada intinya bahwa mereka harus menikah. Mereka bahkan sampai pada
titik yang tampaknya mereka tidak perduli apa yang syariat telah sampaikan tentang pernikahan
mereka. Apabila wali wanita tersebut, contohnya, tidak menerima pernikahan tersebut, bahkan
jika dia memiliki banyak alasan, mereka akan menemukan banyak cara untuk mengalahkan wali
Islamic Online University Hadits 102
178
tersebut dan menikah dengan segala cara. Ini adalah salah satu contoh tentang betapa lawan jenis
dapat memiliki pengaruh yang sangat kuat pada seorang individu. Ini adalah kemungkinan
mengapa Nabi secara khusus menyebutkan wanita dalam hadits penting ini mengenai
kedudukan niat dalam Islam, dan Allah mengetahui yang terbaik.
Musuh-musuh Islam pada hari ini mengetahui dengan baik bagaimana mereka dapat
mempengaruhi wanita. Pada abad yang lalu, mereka telah mencoba yang terbaik dari mereka
untuk membuat wanita Muslim keluar dari rumahnya dan menampilkannya di tempat umum,
dengan semua kecantikan fisiknya. Apabila wanita Muslima dapat dijauhkan dari keislamannya,
dia kemudian akan menentang ayahnya, suaminya, dan laki-laki lainnya. Ini akan menjadi
pertempuran yang sangat sulit dan banyak laki-laki tidak akan mampu memenuhi ujian itu.
Selanjutnya, dia akan menggunakan pengaruhnya pada anak-anaknya, yang merupakan generasi
selanjutnya dari orang-orang Muslim.
Islamic Online University Hadits 102
179
“Ini terkait dengan dua imam ulama hadits, Abu
Abdullah Muhammad Ibnu Ismail Ibnu Ibrahim Ibnu al-
Mughirah Ibnu Bardizbah al-Bukhari dan Muslim Ibnu
al-Hajjaj Ibnu Muslim al-Qushairi al-Naisaburi dalam
karya-karya hadits sahih mereka yang merupakan
kumpulan karya-karya paling sahih.”
Imam Al Bukhari
1
Abu Abdullah Muhammad Ibnu Ismail Ibnu Ibrahim Al Bukhari Al ju’fi lahir pada tahun
194 Hijriah (810 Masehi) di Bukhaara, bagian dari Uzbekistan jaman modern. Ayahnya adalah
ulama terkenal dan merupakan salah satu murid dari Hammad Ibnu Zain dan Imam Malik.
Sayangnya, beliau wafat ketika anak laki-lakinya Muhammad masih kecil.
1
Data biografi yang tercatat di sini berasal dari Taqi al-Din al-Mudhari, al-Imam al-Bukhari: Imam al-Huffadh wa
al-Muhadditsin (Damaskus: daar al-Qalam, 1988), passim )
Islamic Online University Hadits 102
180
Al-Bukhari mulai tertarik mempelajari hadits saat beliau masih sangat kecil. Menjelang
usia 16 tahun, beliau telah menghafal karya syaikh Waki dan Abdullah Ibnu al-Mubarak. Beliau
tekenal dengan kemampuan menghafalnya. Faktanya, banyak yang mengatakan bahwa beliau
mampu menghafal suatu karya hanya dengan sekali melihat saja. Beliau menggunakan
kemampuan hebatnya yang telah Allah anugerahkan padanya dalam melayani Islam dan
khususnya hadits-hadits Nabi  .
Pada usia 16 tahun, beliau meninggalkan Bukhara dan melaksanakan haji ke Mekkah.
Beliau tinggal di mekkah untuk beberapa waktu dan beliau menulis kitab pertamanya di sana.
Sebelum beliau berusia 18 tahun, beliau menulis karyanya, al-Tarikh al-Kabir, yang
Sampai hari ini merupakan standar karya biografi perawi hadits.
Al Bukhari memiliki banyak guru; beliau mencatat hadits dari 1,080 ulama. Mereka yang
pernah belajar dari al-Bukhari termasuk ulama terkenal berikutnya seperti at-Tirmidzi, an-
Nasaai, Muslim Ibnu al-Hajjaj, Ibnu Khuzaima dan masih banyak lagi ulama lainnya. Beliau
yang paling terkenal dalam kesahihannya tetapi beliau juga menyusun beberapa kitab, termasuk
sebuah kitab tentang sikap dan etika yang berjudul al-Adab al-Mufrad
1
Imam Muslim
2
Muslim Ibnu al-Hajjaj lahir pada tahun 204 atau kemungkinan besar pada tahun 206
Hijriah. Kota kelahirannya, Naisabor, terkenal sebagai kota para ulama. Konon ayahnya sendiri
adalah figur seorang ulama.
3
Menurut al-Dhahabi, Muslim mulai mempelajari hadits pada tahun
218 Hijriah., ketika beliau berusia 12 tahun. Diketahui juga bahwa beliau adalah seorang yang
terpandang oleh karena bebas dalam mengajarkan hadits.
Seperti ulama hadits pada umumnya, Muslim melakukan perjalanan untuk melanjutkan
pelajarannya. Beliau bepergian ke banyak tempat, termasuk Iraq, Hijaz, Suriah Raya dan Mesir.
Di Khurasan, beliau belajar di bawah bimbingan Qutaiba Ibnu Said, Yahya Ibnu Yahya al-
Naisaburi dan lainnya. Di Ray, salah satu diantaranya beliau belajar kepada Muhammad Ibnu
1
Hadits sahihnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris: Muhammad Muhsin Khan, ed. Sahih al-Bukhari
(Beirut: Dar al-Arabia, 1985). Al-Adab al-Mufrad baru baru ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris:
Muhammad al-Bukhari, Imam Bukhari’s Book of Muslim Morals and Manners (Alexandria, VA: Penerbit Al-
Saadawi, 1997)
2
Informasi biografi yang tercatat di sini berasal dari Muhammad Fakhruri, al Imam Muslim ibn Al-Hajjaj (Kairo,
Daar al-Salam, 1985), Passim.)
3
Fakhruri, hal. 36
Islamic Online University Hadits 102
181
Mihran al-Jamal. Di Iraq (termasuk Baghdad, Kuffa dan Basra), beliau mendengarkan hadits dari
Ahmad Ibnu Hanbal, Khalif Ibnu Hisyam al-Bazzar, Umar Ibnu Hafs Ibnu Ghayath dan lainnya.
Di Suriah Raya, beliau bertemu dengan Walid Ibnu Muslim. Diantara ulama lainnya beliau
bertemu dengan Said Ibnu Mansur, Ismail Ibnu Abu Uwais, Isa Ibnu Hammad dan Abu Bakr dan
Utsman Ibnu Abu Syaiba. Diatara murid imam Muslim adalah Muhammad Ibnu Mukhlad, al-
Tirmidzi, Ahmad Ibnu Salama, Abu Amr al Mustamli dan masih banyak lagi.
Beliau adalah seorang yang dihormati di masanya. beberapa bahkan menganggapnya yang
terbaik ketika harus membedakan antara hadits shahih dan lemah. Dikatakan bahwa terdapat 4
ulama besar hadits di masanya: Abu Zara, Abdullah al-Darimi, al-Bukhari dan Muslim.
Beliau sangat dekat dan memiliki hubungan yang sangat baik dengan Imam al-Bukhari.
Sepertinya beliau bertemu dengan al-Bukhari pada tahun 250 Hijriah ketika al Bukhari datang
ke Naisabor, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa beliau mungkin bertemu dengan al-Bukhari
sebelumnya selama perjalannya. Beliau tinggal bersama al-Bukhari selama al-Bukhari menetap
di Naisabor. Ketika al-Dhuhali berselisih dengan al-Bukhari dalam masalah aqidah dan
mengumumkan bahwa siapapun yang ingin mendengarkan al-Bukhari harus meninggalkan
majelisnya, Muslim berdiri dihadapan semua orang dan berjalan keluar meninggalkan al-
Dhuhali. Kemudian beliau mengirim dan mengembalikan semua kitab-kitabnya yang didapatnya
dari al-Dhuhali.
Imam Muslim melanjutkan untuk belajar dan melakukan perjalanan dalam mencari hadits
disepanjang hidupnya. Faktanya, kedatangan terakhirnya ke Baghdad hanya dua tahun sebelum
beliau wafat. Imam Muslim wafat pada 28 Rajab 261 Hijriyah di Naisabor. Meskipun beliau
mengumpulkan sejumlah karyan-karya, beliau paling dikenaldengan kitab sahihnya.
1
Sahih al Bukhari dan Sahih Muslim
Judul lengkap dari kitab karya Imam al-Bukhari adalah al-Jami al Sahih al-Musnad al-
Mukhtasar min Umur rasulullahi wa Sunanihi wa Ayamihi (

    


).Judulinisendirimenyatakanbanyaktentangkitabtersebut.Al-Jami ()
menunjukkanbahwasemuapokokdari agama, mulaidarikeyakinan, ibadah, bisnis,
1
Karyanya ini telah tersedia dalam Bahasa Inggris: Abdul Hamid Siddiqi, terjemahan Sahih Muslim (Beirut: Dar al-
Arabia, n.d.)
Islamic Online University Hadits 102
182
sejarahNabidanseterusnya, semuanyatercakup.Al-sahihbermaknabahwatidakadariwayat yang
lemah yang dimasukkankedalamkitabtersebutsebagaimana yang Imam al-Bukharisampaikan,
“Sayatidakmenempatkanapapundalam al-Jami kecualiituasli (sahih).”Al-Musnad( )
merujukkepadafaktabahwariwayat-riwayat yang
sahihtersebutditelusurisecaralansungkembalikepadaNabi. Al-Mukhtasar ()
maksudnyabahwaituhanyasebuahkumpulansingkatdanringkasandarihaditssahih.
Orang kedua yangmengumpulkanhanyahaditssahihadalahmuriddari Imam Bukhariyaitu
Muslim Ibnu al-Hajjaj al-Qushayri al-Naisabori.KaryanyalebihumumdikenaldenganSahih
Muslimdanbiasanyakitabtersebutsangatdihargaisamadengankitabdarigurunya Imam al-Bukhari.
Dalam kitab Sahihnya, Imam Muslim menyeleksi 200.000 hadits untuk menyelesaikan
pengumpulan haditsnya yang jumlahnya sekitar 4.000 hadits.
Haditsapapun yang ditemukan dikeduakitabkarya al-Bukharidan Muslim adalahhadits
yang memilikipengaruh yang besar.Hadits-
haditssemacamitudisebutdenganmuttafaq‘alaih(“disepakati”  ) baik al-Bukhari dan
Muslim telah sepakat bahwa itu sahih. Umumnya, ini juga menunjukkan bahwa seluruh Umat
Muslim menerima hadits tersebut selama para ulama hadits tersebut sepakat terkait keaslian yang
umum pada hadits dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Hadits ini, “Sesungguhnya, semua
amalan didorong oleh niat,” adalah salah satu contoh sebuah hadits yang disepakati oleh al-
Bukhari dan Muslim.
Pada umumnya, karya-karyaSahih al-Bukhari dan Sahih Muslim berbeda dari kitab-kitab
lainnya karena alasan-alasan berikut ini: (1) Pada dasarnya, kitab-kitab ini hanya berisi hadits-
hadits yang tingkat kesahihannya paling tinggi; (2) Pada dasarnya, semua hadits yang sanadnya
tersambung yang terkandung pada kedua kumpulan hadits ini dianggap sahih; (3) Kitab-kitab ini
adalah dua karya pertama yang hany ; (4) Ummah(umat Muslim) secara keseluruhan telah
menerima dua kitab ini karena keaslian dan dibuktikan dengan kebenarannya; (5) para ulama
Islamic Online University Hadits 102
183
yang mengumpulkan karya-karya ini adalah ulama yang diakui sebagai dua ulama besar dalam
bidang hadits.
1
Poin-poin Lainnya yang Terkait dengan Hadits ini
Allah mengetahui niat-niat tersebut dan apa yang ada didalam hati meskipun seseorang
mungkin bisa untuk menyembunyikan hal-hal tersebut dari manusia lainnya. Ini semua
adalah bagian dari perbuatan-perbuatan manusia dan akan diperlihatkan di Hari Kiamat.
Berdasarkan poin pertama, yang berkaitan dengan dunia ini, amal-amal tergantung dari
penampilan luarnya. Karena tidak ada manusia yang tahu apa yang ada di dalam hati,
orang-orang dan amal-amal harus dilihat pada keadaan awalya. Sebab itu, jika seseorang
menampakkan dirinyasebagai seorang Muslim, dia harus diperlakukan seperti itu dan
penilaiannya akan bersama Allah - kecuali dia secara terbuka bertahan pada sebuah
keyakinan atau mengerjakan suatu amal yang menghilangkan keislamannya. Namun, di
Akhirat, kriteria penilaian akan jelas berbeda dan tidak satupun mampu untuk mengelabui
dan menipu Allah .
Seorang Muslim harus mencoba semampunya dengan penuh keyakinan atas setiap amal
yang dia kerjakan. Dia seharusnya tidak menjadi kebiasaannya, seperti dia tidak berpikir
sebelum dia bertindak. Diaseharusnya mempertimbangkan dengan jelas apa dan mengapa
dia melakukan segala sesuatu yang sedang dia kerjakan. Dengan jalan ini, kehidupannya
akan menjadi suatu ibadah yang lengkap kepada Allah karena sebelum setiap amalan
yang dia buat dia akan yakin bahwa itu benar dan dibolehkan dan dia juga akan merasa
yakin bahwa alasannya untuk melakukan amal tersebut adalah tepat.
Ada dua bagian dalam setiap amalan: amalan itu sendiri dan alasan atau niat dibalik itu.
Keduanya harus benar dan tepat. Itu tidaklah cukup jika alasannya hanya menjadi suci
dan kemudian amalan itu sendiri tidak benar menurut Syariat, dalam masalah ini, Nomani
menulis,
1
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang keadaan khusus dari kedua kitab yang sangat penting ini, lihat Khalid
Mullakhatir, Makanat al-Sahihain (1402 H), passim
Islamic Online University Hadits 102
184
Itu harus, namun, tidak terbayangkan bahwa jika alasan yang
memutuskan, bahkan amalan yang buruk yang dilakukan dengan niat
yang baik menjadi mulia dan pantas untuk mendapatkan pahala Ilahi,
seperti contoh, jika seseorang melakukan sebuah pencurian dengan niat
bahwa dia akan memberikannya kepada orang miskin dan yang
membutuhkan bantuan, dia akan mendapatkan demikin.
Amalan yang buruk di dalam dirinya dan telah dikutuk oleh Tuhan dan
Rasul-Nya akan tetap tercela dan pantas mendapat hukuman Ilahidalam
hal apapun. Kejahatannya tidak dapat diambil oleh kemurnian alasan.
Lagi pula, melakukan semua itu dengan niat mulia dan penuh harap pada
pahala Ilahi karena itu mungkin menjadi penyebab kemalangan tambahan
dan peningkatan siksaan karena itu sama dengan mempermainkan
keimanan pada Tuhan.
1
Dalam karyanya yang luar biasa al-Muwafaqat fi Usul al-Syariah, al-Shatibi
membahas banyak hal terkait konsep niat, tujuan dan cita-cita. Dalam satu
bagian, dia membagi semua amal kedalam satu dari empat kasus. Dua kasus
yang pertama jelas dan tidak ada masalah. Keadaan pertama adalah dimana
niat tersebut ada dibalik amalan dan amalan itu sendiri keduanya konsisten
dengan syariat. Tidak ada pertanyaan bahwa amalan semacam itu tepat dan
benar. Kasus yang kedua adalah dimana niat tersebut ada dibalik amal dan
amal itu sendiri bertentangan dengan syariat. Sebuah contoh dari jenis ini
adalah dimana seseorang sengaja untuk tidak mengerjakan kewajiban shalat.
Jelas, dalam keadaan ini, perbuatan orang tersebut salah dan dia akan
dimintai pertanggungjawaban atas perilakunya.
Kasus ketiga adalah dimana amalan sesuai dengan syariat tetapi niat dibalik
amalan tersebut tidak sesuai. Kasusini harus dibagi kedalam dua subkasus
yang lebih lanjut. Sub kasus yang pertama adalah ketika seseorang tidak
menyadari bahwa amalannya sesuai dengan syariat. Contoh dari jenis ini
adalah seseorang yang meminum sebuah minuman percaya bahwa minuman
1
Nomani, jilid 1, hal, 46. Bahasa Inggris dari kutipan diatas tidak bermutu. Namun demikian, karena itu adalah
sebuah kutipan, itu harus dibiarkan sebagaimana mestinya.
Islamic Online University Hadits 102
185
itu mengandung alkohol, dengan niat untuk meminum minuman beralkohol,
dan ternyata minuman itu tidak mengandung alkohol sama sekali. Pada kasus
ini, orang tersebut adalah orang yang berdosa karena niatnya untuk
melanggar syariat. Namun, keburukan yang biasanya merupakan dampak dari
melanggar syariat tidak terjadi karena orang tersebut sebenarnya tidak
melanggar syariat, meskipun itu adalah niatnya. Sebab itu, ada sebuah
kombinasi dalam usaha untuk melanngar syariat meskipun sebenarnya
melakukan amalan yang sesuai dengan syariat. Oleh karena itu, berkaitan
dengan hukum di dunia ini, orang tersebut tidak melakukan kejahatan apapun
dan tidak ada siksaan baginya. Namun, berkaitan dengan Akhirat, Allah
akan meminta pertanggung jawaban atas niatnya dan usahanya, meskipun
gagal untuk melanggar syariat tersebut. Apakah dosanya sama seperti
seseorang yang betul-betul mengerjakan suatu amalan yang menentang
syariat? Pada poin itu, al-Shatibi berkata “Ini adalah pertanyaan yang berbeda
dan tidak perlu untuk membahas itu disini.”
Sub kasus kedua adalah dimana orang tersebut sadar bahwa amalannya sesuai
dengan syariat tetapi niatnya bertentangan dengan syariat. Contohnya,
seseorang yang mengerjakan shalat wajib secara berjamaah hanya untuk
dilihat oleh orang-orang dan untuk dianggap sholeh melakukan perbuatan
yang dia mengetahui bahwa itu benar tetapi niat dibalik itu keliru. Al-Shatibi
berkata bahwa ini lebih buruk dibandingkan kasus yang sebelumnya. Dalam
kasus ini, orang tersebut menggunakan syariat untuk tujuan pribadinya yang
tercela. Ini contoh yang termasuk amalan-amalan dari orang-orang munafik,
menunjukkan dan melakukan suatu amalan untuk menghindari dari menjauh
dari hukum-hukum syariat. Orang ini pastinya adalah orang yang berdosa dan
amalan-amalannya, dalam pandangan Allah  , tidak akan sah.
Kategori yang keempat adalah dimana seseorang melakukan suatu amalan
yang bertentangan dengan syariat tetapi niatnya sesuai denga syariat. Jenis
yang keempat ini juga harus dibagi kedalam dua subkategorisasi.
Subkategorisasi yang pertama adalah dimana orang itu memiliki ilmu bahwa
amalan tersebut tidak sesuai dengan syariat. Ini adalah pokok dari perkara-
Islamic Online University Hadits 102
186
perkara baru dan bid’ah. Ini seperti seseorang melakukan suatu bentuk ibadah
baru yang tidak diterima oleh syariat meskipun tujuan semestinya pada amal
tersebut untuk menyembah Allah , sebuah maksud yang terpuji. Al-Shatibi
menyatakan, jenis amalan seperti ini, pasti dilaknat dan tanpa syarat.
Subkategorisasi yang kedua pada bagian yang keempat ini jauh lebih rumit.
Yaitu dimana orang itu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat
karena ketidaktahuannya meskipun niatnya adalah untuk melakukan apa yang
sesuai syariat. Contoh dalam subkategorisasi ini adalah seperti seseorang
yang meminum apa yang dia yakini sebagai jus anggur, namun, itu ternyata
adalah alkohol.
Dua faktor yang bertentangan diperlihatkan disini. Yang pertama adalah niat
yang baik sedangkan yang kedua adalah kenyataan bahwa amalan tersebut
tidak sesuai dengan syariat dan dalam arti tertentu, ini membuat keseluruhan
amalan tersebut keliru. Agar suatu amalan itu benar, baik amalan itu sendiri
dan niat tersebut haruslah tepat. Seseorang tidak dapat lebih mengutamakan
satu faktor dibandingkan semua faktor lainnya tanpa ada beberapa bentuk
dalil dari syariat. Oleh karena itu, apa yang harus disimpulkan tentang
amalan-amalan pada kategori ini, dimana hal-hal yang bertentangan
diperlihatkan? Sesungguhnya, ada dua hadits yang berkaitan lansung dengan
pertanyaan ini: “Sesungguhnya, semua amalan tergantung dari niat,” dan,
“Siapapun yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan urusan
kami itu akan tertolak.” Para ulama telah berbeda pada pertanyaan ini dengan
sebagian ulama, yang masing-masing menekankan satu aspek dalam
persoalan tersebut. Mereka yang menekankan pada persoalan niat
menyatakan bahwa perbuatan-perbuatan itu tepat dan tidak ada yang haram.
Mereka yang menekankan pada persoalan kesesuaian amalan itu dengan
syariat menyatakan bahwa amalan tersebut tidak sah dalam hal apapun.
Pendapat yangpaling baikadalahbagaimanamempertimbangkan kedua aspek
masalah.Sebagaicontoh, jikaseseorangsalahmeminumalkohol, maka tidak
akan ada hukuman yang ditetapkan untuknya selama itu jelas bahwa itu
Islamic Online University Hadits 102
187
bukan niatnya. Pendapat Maliki dan sebagaian besar sahabat sebelumnya
memandang bahwa kasus ketidaktahuan serupa dengan kasus kelalaian.
Sebuah contoh dari sifat ini adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan
yang menikah tanpa izin dari wali perempuan tersebut, karena ketidaktahuan,
berpikir bahwa izin seperti itu tidak
diperlukandanmerekatelahberniatuntukmenjalankanaturansyariattentangperni
kahan.Dalamkasusini,
pernikahantersebutsecaraotomatisdibatalkandanwanitatersebutberhakmendap
atkanmaharnya.Meskipun, tidak satu pun dari pasangan tersebutyang akan
dihukum karena perbuatanzina dan anak-anak mereka dianggap
sah.Merekahanya perlu memenuhi bagian yang hilang dari perjanjian.Dengan
kata lain,
merekahanyaperlumenikahkembalidenganpersetujuandariwaliperempuan.
Kesimpulan dari hadits
Setiap keyakinan, "amalan yang dikehendaki" memiliki niat di baliknya. Yang
mendorongdanmembawanya.
Seseorang akan mendapatkan apapun yang diniatkannya. Jika dia berniat baik, kebaikan yang
akan terjadi, jika dia berniat jahat, kejahatan yang akan terjadi artinya, hasilnya akan jahat
baginya.
Jika seseorang melakukan perbuatan baik semata-mata karena Allah, tujuannya akan akan
terpenuhi dan perbuatan itu akan diterima oleh Allah.
Bahkanamalan mulia seperti sepertihijrah, yang harus dilakukan semata-mata demi Allah,
mungkinsajadikerjakan dengan niat yang kurang mulia. dalam halini, orang itu hanya akan
memperoleh apa yang telahdianiatkan.
Duniainidanlawanjeniskhususnyaadalahduahal yang
mendorongseseoranguntukmengerjakanamalan-amalantertentu.
Itusemuadapatmemilikipengaruh yang besarterhadapseseorang. Sampaipadatingkatyang
Islamic Online University Hadits 102
188
seseorangbahkanbisamelakukanamalan yang muliatidaksemata-mata demi Allah
tetapisemata-matauntukhal-haltersebut.
Islamic Online University Hadits 102
189
Hadits #2
Hadits Malaikat Jibril
Islamic Online University Hadits 102
190
Riwayat yang juga dari Umar, ia berkata, Suatu hari ketika kami duduk-duduk di dekat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba datang seorang laki-laki yang
Islamic Online University Hadits 102
191
mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya
bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya.
Kemudian dia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menempelkan
kedua lututnya kepada lutut Beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di paha
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil berkata, “Wahai Muhammad, beritahukanlah
kepadaku tentang Islam?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam
adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan
bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat,
puasa Ramadhan dan pergi haji jika kamu mampu,“ kemudian dia berkata, “Engkau
benar.“ Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia
bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?“ Beliau bersabda, “Kamu
beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari
akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” Dia berkata,
“Engkau benar.” Kemudian dia berkata lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan.”
Beliau menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu
melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, (ketahuilah) bahwa Dia melihatmu.”
Kemudian dia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan terjadinya).” Beliau
menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih mengetahui dari yang bertanya.” Dia berkata,
“Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya?“ Beliau menjawab, “Jika seorang budak
melahirkan tuannya
1
dan jika kamu melihat orang yang sebelumnya tidak beralas kaki
dan tidak berpakaian, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba
meninggikan bangunan,” Orang itu pun pergi dan aku berdiam lama, kemudian Beliau
bertanya, “Tahukah kamu siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-
Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepadamu
dengan maksud mengajarkan agamamu.” (HR. Muslim)
1
Islamic Online University Hadits 102
192
Kosakata Pilihan
1
 : “juga”
 : “sambil”
 : “kami”
 : “suatu hari”
 : “seorang lelaki”
 : “sangat,
 : “putih”
 : “pakaian,” artikel yang tepat mendahului kata terebut untuk menandakan
bahwa itu merujuk pada pakaian orang itu.
 : “hitam”
 : “Rambut” artikel yang tepat mendahului kata terebut untuk menandakan
bahwa itu merujuk pada rambut orang itu.
 : “efek, sisa, tanda.”
 : “perjalanan”
 : “dia duduk”
 : “kedua lututnya”, huruf pada akhir kata menyiratkan “miliknya” dan huruf 
sebelum kata terakhir dimaksudkan bentuk ganda
 : “meletakkan”
 : “kedua telapak tangannya”
 : “Kedua pahanya”
1
Apabila sebuah kata diartikan pada hadits yang dulu, itu tidak akan diulang dalam hadits selanjutnya.
Islamic Online University Hadits 102
193
 : “informasikan kepadaku, “katakan padaku”
 : “tentang,” ini adalah kata yang sama yang digunakan untuk “pada otoritas”
tetapi di sini kata tersebut memiliki makna yang benar benar berbeda.

 : “Islam
 : untuk bersaksi”
: “tidak”

: “tuhan, tujuan ibadah”
 : “kecuali”
 : “menetapkan, melakukan dengan benar”
 : “shalat”
 : “zakat”
 : “berpuasa”
 : Ramadhan”
: “berhaji”
 : “rumah,” dimaksudkan adalah ka’bah di Mekkah
 : “jika”

 : “iman”

 : “Malaikat-Nya,”huruf pada akhir kata berarti Miliknya,” bentuk tunggal
untuk para malaikat adalah 
 : “KitabNya,” bentuk tunggal untuk kata kitab-kitab adalah 
 : “Rasul-rasulNya” bentuk tunggal untuk kata rasul-rasul adalah 
Islamic Online University Hadits 102
194

 : Hari akhir,” (lihat pembahasan berikut ini);  adalah “hari,” dan 
adalah “yang terakhir.”
 : “Takdir Allah” (lihat pembahasan sebelumnya)
 : “Baik”
 : kejahatan”

 : al-Ikhsaan (lihat pembahasan sebelumnya)
 : ibadahmu”
 : “seolah-olah”
 : “melihatnya”
 : “kata yang berarti penyangkalan, sama dengan “tidak”
 : “Dia melihatmu”
 : Waktu,” maksudnya, hal itu mengacu pada hari pembalasan meskipun kata
tersebut secara umum berarti “waktu” atau bagian daripada waktu.
 : “yang dipertanyakan”
 : “orang yang bertanya”
 : “tanda-tandanya,” makna sebenarnya, “tanda-tandanya (pr),” kata
menunjukkan bahwa itu adalah perempuan, dia atau kata jamak dari benda-
benda.”
 : “gadis budak”
 : “pemilik atau tuannya” (hal tersebut juga berarti tuan dalam pengertian umum)
 : “tanpa alas kaki”
 : “secara harfiah berarti “telanjang,” tetapi di sini kemungkinan besar berarti
“berpakaian minim”
Islamic Online University Hadits 102
195
 : penggembala”
 : “bangunan”
 : jangka waktu yang panjang”
 : “Apakah kamu tahu….?
 : “dia datang kepadamu”; bagian plural, sama dengan “kamu semua”
 : “agamamu”
Takhrij
Hadits ini dari Umar Ibnu al-Khattab yang diriwayatkan oleh Muslim,
1
al-Tirmidzi, an
Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, Abu Daud, al-Baihaqi, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaima, al-Bazzar, Abu
Yala, al-Daraqutni dan sejumlah ulama lainnya.
2
Para ulama hadits membedakan hadits melalui teks-teksnya begitu pula dengan Sahabat
yang meriwayatkannya. Hadits khusus ini juga telah diriwayatkan dari jalur yang dapat diterima
dari para Sahabat Abu Huraira, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud dan al-harits al-Asyari. Riwayat dari
Abu Hurairah telah diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ibnu Abu Syaiba, Ibnu
Hibban, dan lainnya.
3
Perbedaan Riwayat Pada Hadits Tersebut
Riwayat ini, apakah hanya berbicara tentang riwayat dari Ibnu Umar atau ketika
membandingkan itu dengan riwayat dari Abu Hurairah atau yang lainnya, telah diriwayatkan
dengan sejumlah perbedaan susunan kata atau teks. Seperti yang terjadi pada banyak hadits,
1
Dengan mempelajari jalur dan teks dari hadits ini dan bagaimana Imam Muslim memasukkannya ke dalam kitab
Sahihnya, seseorang mungkin menyadari ketepatan dan perincian yang Imam Muslim telah jelaskan. Banyak hal-
hal penting telah disoroti oleh Imam Nawawi dalam komentarnya pada kitab Sahih Muslim. Lihat an Nawawi,
Sharh, jilid 1, hal, 151-152.
2
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa alasan al-Bukhari tidak meriwayatkan riwayat dari Umar Ibnu al-Khattab adalah
karena ada beberapa perbedaan pendapat terkait
3
Cf, Ibnu Muhammad, hal. 52-55.
Islamic Online University Hadits 102
196
sangat penting untuk mempelajari perbedaan penyaluran karena banyak dari riwayat-riwayat
tersebut memberikan wawasan dan hal-hal penting yang tidak disebutkan pada riwayat lainnya.
Tentu saja, bisa saja untuk keliru memahami sebuah hadits tertentu kecuali jika riwayat yang
berbeda tersebut disandingkan secara bersama. Ini kerapkali memberikan keterangan yang
kurang tetapi hanya keterangan yang penting.
Terkait hadits khusus ini, sebagai contoh, ini adalah teks dari hadits yang sama dari
sahabat Abu Hurairah sebagaimana diriwayatkan dalam sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim
Pada suatu hari ketika Nabi
,sedang duduk bersama para sahabat lalu
datang Malaikat Jibril ‘alaihissalam yang kemudian bertanya: Apakah
iman itu?” Nabi Allah menjawab: “Iman adalah kamu beriman kepada
Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya,
Rasul-Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari berbangkit”.
(Jibril ‘alaihissalam) berkata: “Apakah Islam itu?” Jawab Nabi
: “Islam
adalah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan
suatu apapun, kamu dirikan shalat, kamu tunaikan zakat yang diwajibkan,
Islamic Online University Hadits 102
197
dan berpuasa di bulan Ramadlan”. (Jibril ‘alaihissalam) berkata:
“Apakah ihsan itu?” Nabi menjawab: “Kamu menyembah Allah
seolah-olah melihat-Nya dan bila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya
Dia melihatmu”. (Jibril ‘alaihissalam) berkata lagi: “Kapan terjadinya
hari kiamat?” Nabi menjawab: “Yang ditanya tentang itu tidak lebih
tahu dari yang bertanya. Tapi aku akan terangkan tanda-tandanya;
(yaitu); jika seorang budak telah melahirkan tuannya, jika para
penggembala unta yang berkulit hitam berlomba-lomba membangun
gedung-gedung selama lima masa, yang tidak diketahui lamanya kecuali
oleh Allah”. Kemudian Nabi membaca: “Sesungguhnya hanya pada
Allah pengetahuan tentang hari kiamat” (QS. Luqman: 34). Setelah itu
Jibril ‘alaihissalam pergi, kemudian Nabi berkata; hadapkan dia ke
sini.” Tetapi para sahabat tidak melihat sesuatupun, maka Nabi bersabda;
“Dia adalah Malaikat Jibril datang kepada manusia untuk mengajarkan
agama mereka.”
1
Para ulama telah menemukan banyak penyebab utama pada riwayat yang berbeda atau
susunan kata tentang apa yang nampak pada suatu hadits atau suatu kejadian.
2
Yang berikut ini
adalah beberapa penyebab utama tersebut:
(1) Kejadian yang diriwayatkan tersebut mungkin terlihat hanya satu kejadian atau satu
perkataan padahal, kenyataannya, setiap perawi atau riwayat menjelaskan suatu
kejadian atau perkataan yang berbeda dari Nabi  .
(2) Terkadang hadits diriwayatkan sesuai dengan maknanya saja dan susunan kata yang
tepat tersebut belum dipertahankan. Perawi yang lain mungkin menceritakan hadits
yang sama sambil mempertahankan susunan kata yang tepat.
3
(3) Para perawi memiliki kekuatan hafalan yang berbeda . Khususnya jika hadits atau
cerita itu panjang, ini adalah hal yang biasa bagi seorang perawi untuk menceritakan
kembali atau meriwayatkan lebih banyak kejadian dibanding yang lainnya. Sebab itu,
versi perawi dalam hadits tersebut mungkin lebih panjang dibanding perawi lainnya.
1
Sebagian besar, terjemahan ini diambil dari Khan, Sahih al-Bukhari, jilid 1, hal, 43.
2
Cf., Sharf al-Qadhah, asbab al-taadud al-Rawayat fi al-Hadits al-Nawani al-Syarif (Amman, Jordan: Daar al-
Furqan, 1985), Passim.
3
Para ulama hadits telah berbeda tentang apakah seseorang mungkin meriwayatkan suatu hadits sesuai dengan
maknanya saja. Mungkin pendapat yang paling berimbang adalah jika perawi tersebut adalah seorang yang ahli
Bahasa Arab dan dia tidak akan memutarbalikkan makna hadits tersebut bagaimanapun caranya, dia mungkin
meriwayatkan hadits sesuai maknanya jika dia tidak memiliki jalan ke susunan kata yang tepat pada hadits
tersebut.
Islamic Online University Hadits 102
198
(4) Perawi terkadang sengaja membatasi teks dalam hadits. Ini dianggap boleh selama
maknanya tidak diputarbalikkan. Sebab itu, satu perawi mungkin meriwayatkan
pernyataan yang lengkap dari Nabi sedangkan yang lainnya mungkin hanya
meriwayatkan apa yang dia rasakan sesuai dengan keadaan pada saat dia sedang
berbicara.
(5) Terkadang seorang perawi hanya memberikan potongan dari sebuah perkataan atau
sebuah pembahasan sedangkan yang lainnya mungkin mendengarkan seluruh
perkataan dan pembahasan tersebut. sebab itu, ketika meriwayatkan dua kejadian
yang sama, riwayat tersebut mungkin agak berbeda, terutama panjangnya.
(6) Nabi mungkin terkadang mengajukan pertanyaan kepada Sahabat dan mungkin
tanggapan mereka dalam satu keadaan akan berbeda. ketika seorang perawi
menghubungkan kejadian tertentu itu, dia mungkin menghubungkan dengan
tanggapan yang dia dengar sedangkan yang lainnya mungkin menghubungkan dengan
dengan yang mereka telah dengarkan.
(7) Para perawi melakukan kesalahan, bahkan untuk perawi yang ahli. Ini adalah alasan
yang jelas mengapa satu riwayat dapat berbeda dari yang lainnya. Para ulama hadits
menghabiskan banyak waktu dan usaha memperbaiki kesalahan-kesalahan seperti itu.
(8) Akhirnya, ada masalah dalam pemalsuan dan pemutarbalikan yang disengaja. Ini jelas
tidak terjadi pada perawi-perawi yang jujur dan terpercaya. Dalam hal apapun,
meskipun keberadaanya menyebabkan riwayat yang berbeda pada hadits yang sama.
Melihat ke perbedaan riwayat dalam hadits Jibril ini, terlihat bahwa ada sejumlah faktor
di atas yang berjalan disini. Kenyataannya, al-Qaddah menggunakan hadits khusus ini sebagai
contoh pada penyebab nomor 3 diatas, dimana perawi memiliki perbedaan kekuatan hafalan. Dia
menulis,
Perbedaan riwayat yang banyak ini bukanlah dampak dari kejadian yang
terjadi lebih dari sekali. Kejadian ini tidak terjadi lebih dari sekali. Ini
bukan masalah meriwayatkan sesuai dengan makna dari setiap kata dari
Nabi . Dalam riwayat-riwayat ini, ada penambahan yang tidak hanya
pada susunan kata tetapi juga dalam maknanya. Penjelasan yang paling
benar untuk hal tersebut adalah sebagian perawi menghafal apa yang
orang lain tidak lakukan dan setiap dari mereka meriwayatkan apa yang
Islamic Online University Hadits 102
199
dia telah hafalkan, Allah mengetahui yang terbaik. Ini secara khusus
mudah dikenal bahwa hadits tersebut agak panjang. Aturan tentang
penambahan kalimat ini adalah jika mereka dari perawi-perawi
terpercaya dan tidak berselisih dengan para ahli yang lebih kuat, maka
riwayat mereka diterima.
1
Ibnu Hibban meriwayatkan sebuah riwayat dalam hadits ini yang memasukkan
“Menjalankan Haji kecil (umrah), bersuci dari hadast besar dari dan menyempurnakan wudhu”
diantara amalan-amalan lainnya yang disebutkan sebagai bagian dari Islam. Ibnu Hibban
menunjukkan bahwa Sulaiman al-Taimi adalah satu-satunya perawi yang meriwayatkan hadits
ini.
2
Mungkin dia adalah satu-satunya yang menceritakan kembali hal-hal itu atau mungkin dia
menambahkan semua itu dari pendapatnya sendiri untuk menekankan bahwa semua itu juga
adalah bagian dari Islam. Itu terlihat aneh karena tidak ada perawi lain yang menyebukan
amalan-amalan tersebut sama sekali.
Namun, faktor ini dengan sendirinya tidak memberikan gambaran keseluruhan tentang
apa yang terjadi terkait dengan hadits ini. Sepertinya faktor kedua atau, riwayat sesuai dengan
maknanya, juga terjadi disini. Ini menjelaskan mengapa sebagian perawi terlebih dahulu
menyebutkan pertanyaan mengenai iman (iman) sedangkan yang lainnya terlebih dahulu
menyebutkan pertanyaan tentang Islam. Demikian pula, pada akhir-akhir dari hadits tersebut,
sebagian menyatakan bahwa budak wanita melahirkan rabbataha (  ) sedangkan yang
lainnya menyebutkan ba’laha (  ). Namun, makna dari kedua kata itu sama.
Faktor kelima yang disebutkan diatas sepertinya juga disampaikan dalam riwayat ini. Ini
secara khusus benar terkait bagian terakhir dalam hadits tersebut dimana Umar dan Abu Huraira
berbeda ketika Nabi mengenali orang yang bertanya tersebut sebagai malaikat Jibril. Banyak
ulama menjelaskan bahwa Umar mungkin telah pergi mencari orang tersebut dan kemudian
setelah dia tidak menemukannya, dia kembali ke rumahnya agak jauh dari mesjid Nabi  . Al-
Qaddah menambahkan dugaan selanjutnya adalah bahwa pada hari berikutnya tetangga-tetangga
Umar kembali kepada Nabi  , karena mereka biasanya bergantian menemani Nabi dan
mereka mungkin menceritakan kepada yang lain apa yang terjadi pada hari itu. Sebab itu,
1
Al-Qadhah, hal, 14.
2
Ibnu Hibban, jilid 1, hal. 399
Islamic Online University Hadits 102
200
kejadian tersebut tidak sampai tiga hari, karena itu secara jelas menyatakan dalam sebagian
riwayat, bahwa Umar diceritakan oleh Nabi siapa orang yang bertanya pada waktu itu. Namun,
Sahabat lainnya yang tinggal disekitar nabi  , seperti Abu Huraira, yang kemudian menceritakan
secara singkat bahwa dia adalah malaikat Jibril yang telah memberikan semua pertanyaan itu
terus-menerus.
1
Akhirnya, penyebab ketujuh yang disebutkan diatas, atau kesalahan dalam periwayatan,
sepertinya juga disampaikan disini yang terkait dengan sebagian riwayat. Khususnya, sebuah
riwayat dalam Sunan al-Nasai yang menyatakan bahwa orang yang bertanya tersebut dalam
tampilan dari Dahya al-Kahbi. Namun. Dipastikan dalam riwayat bahwa tidak ada satupun dari
para Sahabat mengenali orang yang bertanya tersebut. ini juga ditegaskan dalam hadits lainnya
bahwa malaikat Jibril mungkin datang ke Nabi dalam tampilan dari Dahya al-Kalbi. Jelasnya,
salah seorang perawi benar-benar membuat kesalahan dengan menyatakan dalam kejadian ini
bahwa malaikat Jibril berpenampilan seperti Dahya al-Kalbi. (Harus dicatat bahwa al-Sindi
menyatakan bahwa tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa perawi membuat suatu kesalahan.
Dia berkata bahwa mungkin dia terlihat sama dengan Dahya tetapi ada tanda-tanda yang jelas
dari para Sahabat bahwa itu bukan dia, oleh karena itu dia sama sekali tidak diketahui oleh para
Sahabat.
2
Komentar-komentar Umum Pada Hadits Ini
Ini adalah salah satu hadits yang paling lengkap dari nabi . Hadits ini menyentuh
hampir setiap amalan dalam Islam. Qadhi Iyadh telah menunjukkan bahwa hadits ini mencakup
atau menjelaskan semua hal-hal yang ada di dalam (batin) dan amalan-amalan luar (lahiriah)
dalam ibadah kepada Allah . Hadits ini menyentuh perbuatan-perbuatan yang terkait dengan
anggota tubuh bagian luar begitu pula dengan hati. bahkan, dia berkata, [hadits itu mencakup
1
Al-Qadhah, hal. 20-21
2
Lihat Muhammad al-Sindi, Hasyiat al-Sindi ala Sunan al-Nasai (Beirut: Daar Ihya al-Turath al-Arabi, n.d), jilid 8,
hal. 103.
Islamic Online University Hadits 102
201
penjelasan dalam agama] hal itu karena semua ilmu agama didapatkan didalam hadits itu dan
berkembang dari hadits tersebut.”
1
Hadits ini dikenal dengan hadits Jibril; juga disebut sebagai Umm as Sunnah (atau “inti
dari Sunnah”) pada saat yang sama Surah al-Fatihah disebut dengan Umm al-Kitab (atau “inti
dari kitab”. Pada saat yang sama Surah al-fatihah mencakup makna dalam al-Quran secara
keseluruhan, hadits ini mencakup makna dalam sunnah secara keseluruhan.
sebagian ulama menunjukkan hubungan antara hadits ini dengan hadits sebelumnya,
“seseungguhnya semua amalan tergantung dari niat.Hadits yang sebelumnya memiliki sebuah
kedudukan seperti perkataan, “Dengan nama Allah, yang maha pengasih lagi maha penyayang,”
sedangkan hadits ini memiliki kedudukan seperti Surah al-fatihah. Dikatakan bahwa untuk
alasan inilah para ulama seperti al-Bahhawi memulai sebagian karyanya dengan hadits tentang
niat terlebih dahulu dan kemudian hadits ini, pada saat yang sama bahwa al-Quran dimulai
dengan mengucapkan Bismillah ar rahman ar rahim kemudian diikuti dengan Surah al-Fatihah.
2
Menurut Ibnu Hajar, kejadian ini terjadi berdekatan dengan kematian nabi . Sebagian
mengatakan bahwa kejadian itu sebelum Haji Perpisahan (Haji Wada). Sebab itu, hal itu seakan-
akan Nabi  , melalui pertanyaan dari malaikat Jibril tersebut, sedang merangkum tugas dan
pesannya. Beliau merangkum kaidah-kaidah pokok dalam iman, islam, dan ihsan. Kemudian,
dibagian akhir, dia berkata bahwa orang itu adalah malaikat Jibril yang datang untuk
mengajarkan mereka tentang agamanya.
3
Peristiwa-Peristiwa Dibalik Hadits Tersebut
Pada satu riwayat dalam Sahih Muslim, hadits Jibril ini dimulai dengan cara berikut:
Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah berkata, “Tanyakan
padaku [tentang masalah yang terkait dengan agama].” Namun, orang-
orang menjauhkan diri untuk melakukannya karena mereka segan kepada
1
Al Qadhi Iyadh al Yahsubi, Kitab al iman min Ikmal al Muallim (sic) bi Fawaid Sahih Muslim (Riyadh: Dar al
Want, 1417 Hijriah.), jilid 1, hal. 101.
2
Al-baghawi melakukannya di awal Sharah al Sunnah-nya begitu juga Mishkat al Sunnah-nya (which terakhir
ditambahkan dan menjadi Miskhat al-Masabib).
3
Cf., al-Qari, jilid 1, hal, 49.
Islamic Online University Hadits 102
202
beliau. Sementara itu seorang laki-laki datang dan duduk didekat lutut
beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah islam itu?”…
1
Menurut al-Ubay, alasan Nabi  berkata, “tanyakan padaku,” adalah karena mereka
sedang menanyakan banyak pertanyaan dan nabi  menyadari bahwa sebagian bertanya dengan
keras kepala. Oleh karena itu, beliau menjadi marah dan mengatakan, “tanyakan padaku,
tanyakan padaku, untuk, demi Allah , kalian tidak bertanya padaku tentang apapun kecuali Aku
akan jelaskan itu tentang itu selama Aku berdiri di tempat ini.”
2
Setelah mendengarkan dan
melihat ini, orang-orang menjadi takut dan menahan diri dari menanyakan sesuatu. Ketika orang-
orang sedang menahan diri dari menanyakan sesuatu, Allah  mengirim malaikat Jibril untuk
memberikan pertanyaan-pertanyaan penting ini kepada nabi .
3
Al-Sanusi menambahkan bahwa pertanyaan semacam ini tidak bertentangan dengan
larangan dalam meminta pertanyaan. Sebenarnya, seseorang harus menanyakan jenis pertanyaan
seperti ini karena jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut dibutuhkan. Karenanya, ini
adalah sebuah penerapan dalam ayat al-Quran,









“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui
(an Nahl 43).
4
Dengan kata lain, ada jenis pertanyaan yang harus dihindari dan ada jenis pertanyaan
yang diperintahkan. Pertanyaan yang sifatnya tidak bermanfaat atau sifatnya teoritis belaka harus
dihindari. Pertanyaan yang jawabannya benar-benar dibutuhkan harus ditanyakan. Karena itu,
Allah  mengutus malaikat Jibril kepada Nabi  untuk menanyakan padanya dan untuk
menjelaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti ini harus ditanyakan kepada orang-orang yang
berilmu.
1
Lihat Abdul Hamid Siddiqi, terjemahan., Sahih Muslim.
2
Sebenarnya, al-Ubay merujuk kepada hadits lain dalam Sahih Muslim.
3
Abu Abdullah al-Ubay, Sharah Sahih Muslim (Riyadh: Maktaba Tarbiyah, n.d), jilid 1, hal. 77-78.
4
Muhammad al-Sanusi, Sharh al-Sanusi, pada margin al-Ubay, jilid 1, hal. 77.
Islamic Online University Hadits 102
203
Perawi: Umar Ibnu al-Khattab
Perawi hadits ini sama dengan perawi hadits #1, kehidupannya telah dibahas sebelumnya.
“Suatu hari ketika kami sedang duduk bersama
Rasulullah  meletakkan kedua tangannya pada
kedua lutut beliau. Dia berkata, “Wahai Muhammad…”
Perbedaan riwayat dalam hadits ini, merujuk ke bagian takhrij sebelumnya, menjelaskan
penampilan dari malaikat Jibril yang datang kepada Nabi dalam tampilan seorang Arab badui.
Badui dikenal dengan sifat kasar dan buruk mereka. Malaikat itu berbicara dari belakang mesjid,
“Kesalamatan atas Engkau, wahai Muhammad, bolehkah Aku maju?” Nabi berkata padanya
untuk maju dan dia lanjut bertanya sampai dia datang lansung kepada Nabi , melangkahi orang-
orang saat dia maju ke depan mesjid. Dia kemudian lansung duduk di hadapan Nabi ,
meletakkan kedua tangannya diatas kedua lutut Nabi . Kemudian dia mulai untuk menanyakan
pertanyaan-pertanyannya pada Nabi . Dia memanggil Nabi  dengan namanya saja, dia
melangkahi pundak orang-orang dan duduk lansung di hadapan Nabi 
Di akhir hadits, Nabi  menjelaskan bahwa orang yang berpenampilan badui tersebut
adalah malaikat Jibril yang datang untuk mengajarkan mereka agamanya. Menurut al-Haitami
dan yang lainnya, pengajarannya adalah kedua bentuk pertanyaannya itu dan juga perilakunya.
Karena itu, beberapa kesimpulan dapat dibuat dari penampilan dan perilakunya.
1
Ini tidak jelas bagi penulis apakah para komentator memperhatiakan bahwa mereka
sepertinya membuat dua petunjuk yang berlawanan disini. Yang pertama mereka menyatakan
bahwa malaikat tersebut datang dalam penampilan yang sangat kasar dan kemudian mereka
memberi kesan bahwa teladannya adalah salah satu yang dapat diikuti. Terlihat bahwa kuncinya
adalah untuk membedakan antara apa yang malaikat itu lakukan agar mendapatkan perhatian,
untuk memastikan bahwa setiap orang akan mendengarkannya. Dari apa yang dia lakukan
sebagai sebuah teladan bagi yang lainnya untuk diikuti.
1
Al-Haitami, hal. 59.
Islamic Online University Hadits 102
204
“Pakaiannya sangat putih dan rambutnya sangat hitam”
Dalam riwayat lainnya, juga dinyatakan bahwa pakaiannya sangat bersih yang tidak ada
bekas kotoran pada pakaiannya. Para ulama memahami dari penampilan Jibril bahwa dianjurkan
untuk memiliki penampilan yang baik dan bersih.
1
Ini secara khusus benar ketika seseorang pergi
ke mesjid dan ketika seseorang mencoba untuk memperoleh ilmu. Pakaian berwarna putih lebih
disukai, khususnya bagi orang-orang yang berilmu. Menurut al-Haitami, Umar menganjurkan itu
bagi para penghafal al-Quran.
2
Sebagaimana semua ciri-ciri dari Muslim sejati, kebersihan juga
adalah sebuah ciri penting dari seorang Muslim sejati dan, bahkan harus lebih ditekankan lagi
bagi para ulama dan penuntut ilmu. Mereka harus menjadi teladan bagi yang lainnya.
Mungkin adal hal lainnya yang harus diperhatiakan disini. Kedudukan islam menekankan
pada kedua aspek diluar dan didalam pada seorang manusia. Keduanya tidak dapat diabaikan.
Seseorang mungkin memahami dari banyak teks bahwa ada hubungan yang erat di antara
keduanya. Jika seseorang ingin memperoleh ilmu, dia harus mendekati ilmu itu dengan cara yang
tepat dengan pertama-tama dia harus memilki niat yang benar dan juga memiliki perhatian yang
tepat kepada ilmu yang dia cari untuk dicapai. Memiliki perhatian yang tepat kepada ilmu
termasuk adalah bersedia untuk mengorbankan waktu dan harta bendanyanya untuk ilmu
tersebut, begitupun secara lahiriah dia harus memiliki perhatian atas itu dengan duduk dan tampil
dengan cara yang tepat saat memperoleh ilmu dan menyampaikan ilmu.
“Tidak ada tanda-tanda perjalanan jauh padanya tidak satupun dari
kami yang mengenalnya.”
Dia bukanlah penduduk dari Madinah tetapi tidak tanda-tanda bahwa dia datang dari
perjalanan yang jauh. Sebab itu, penampilannya merupakan sesuatu yang spesial dan seketika
lansung menarik perhatian orang-orang padanya. Mungkin, Allah  mengetahui yang terbaik,
dengan begitu orang-orang mungkin akan melihat dan mendengarkan apa yang dia lakukan
dengan sangat hati-hati. dengan demikian, mereka akan memperhatiannya baik-baik, memahami
perkataannya dan tanggapan nabi  Dan kemudian menyampaikan kepada yang lainnya yang
datang setelah itu.
1
Al-Haitami, hal. 59.
2
Al-Haitami, hal. 59.
Islamic Online University Hadits 102
205
Umar berkata bahwa tidak satupun dari mereka yang mengenal laki-laki tersebut. Ini
bukan hanya dugaan pada bagian Umar. Dalam riwayat yang lain, secara jelas menyatakan
bahwa orang-orang saling memandang dengan yang lainnya dan mereka tidak tahu siapa laki-
laki ini.
1
“Dia [datang dan] duduk disebelah Nabi  . Dia menempelkan kedua
lututnya kepada kedua lutut Nabi 
Ini adalah adab dari orang-orang yang benar-benar mencari ilmu. Mereka harus mencoba
untuk lebih dekat kepada guru sehingga mereka dapat memahami dan mendengar hal apapun
yang dia katakan dengan benar. Sayangnya, adab semacam itu adalah sesuatu yang tidak selalu
didapatkan diantara orang-orang Muslim hari ini. Contohnya, mereka lebih banyak memiliki
keinginan untuk duduk dengan cara yang nyaman, dengan punggung mereka bersandar di
dinding, dari pada mereka harus mendekat kepada gurunya sehingga mereka dapat menyerap
ilmu sebanyak mungkin.
“dan meletakkan kedua tangannya diatas kedua lututnya”
An Nawawi menerangkan bahwa malaikat Jibril meletakkan kedua tangannya sendiri
diatas kedua lututnya. Namun, dalam riwayat dari Ibnu Abbas dan Abu Amr al Asyari, secara
jelas dikatakan bahwa malaikat Jibril meletakkan kedua tangannya diatas kedua lutut Nabi . Ini
juga adalah kesimpulan dari al-Baghawi, al-Taimi dan al-Tibi. Al-Turabashti juga berpendapat
bahwa ini adalah penafsiran yang benar karena ini adalah adab seorang murid harus duduk
dihadapan gurunya. Mungkin itu dilakukan agar dia dapat menyimak dengan baik kepada Nabi
dan memperhatikan segala sesuatu yang Nabi  telah katakan dalam menanggapi pertanyaan-
pertanyaan penting yang dia ajukan. Ini menunjukkan bahwa orang yang bertanya tersebut harus
rendah hati dan sopan dihadapan seseorang yang dia sedang berikan pertanyaan.
2
Disisi lain, Ibnu Hajar, sekali lagi, ini menunjukkan bahwa sikap yang tiba-tiba datang
dari jauh-jauh kepada Nabi  dan meletakkan kedua tangannya diatas kedua lutut Nabi .
1
Ibnu hajar, Fath (Dar al-Fikri), jilid 1, hal, 160.
2
Lihat Ibnu Hajr, Fath (Dar al-Fikri), jilid 1, hal, 160.
Islamic Online University Hadits 102
206
Mungkin hanyalah cara lain yang dengannya dia sedang menunjukkan dirinya sebagai orang
Arab Badui yang kasar dan kurang ajar.
1
Karena itu, ini mungkin hanyalah perbuatan lainnya
untuk menarik penuh perhatian orang-orang.
Dia berkata, “Wahai Muhammad…”
Allah telah berfirman dalam al-Quran











Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu
kepada sebahagian (yang lain). (an Nur 63). Dalam hadits ini, malaikat Jibril memanggil Nabi
 dengan mengatakan, “Wahai Muhammad.” Ini telah menyebabkan beberapa kekhawatiran.
Cara memanggil Nabi  seperti itu tidak dianggap tepat dan dilarang dalam ayat al-Quran
diatas. Bagaimana bisa malaikat tersebut memanggilnya dengan cara seperti itu? Ada tiga
jawaban yang telah diberikan untuk pertanyaan ini: (1) Larangan panggilan seperti itu hanya
berlaku untuk manusia dan tidak untuk malaikat; (2) peristiwa ini terjadi sebelum adanya
larangan panggilan seperti itu (meskipun penjelasan ini sepertinya tidak mungkin karena
peristiwa itu terjadi sangat terlambat dalam kehidupan Nabi ; (3) ini dilakukan untuk
menampilakan lebih jauh bahwa dia adalah seorang Arab badui.
2
“katakan padaku tentang Islam”
Dalam riwayat ini, malaikat Jibril pertama-tama menanyakan tentang Islam. Dalam
riwayat yang lainnya, dia pertama-tama menanyakan tentang Iman. Ada sebagian yang
berpendapat bahwa menanyakan tentang Iman haruslah yang pertama karena itu lebih sesuai
dengan penyajian al-Quran pada tema-tema semacam itu. Perhatikan ayat berikut yang hal-hal
1
Ibid
2
Al Haitami, hal. 61.
Islamic Online University Hadits 102
207
tentang keimanan dinyatakan terlebih dahulu dan kemudian menguraikan tentang praktek-
praktek diluarnya.


























































Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat,
kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang
meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat;
dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar
(imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa(al Baqarah 177). Pendekatan yang
sama diambil pada awal ayat dalam Surah al-Anfal. Allah mengetahui yang terbaik.
Dalam jawabannya, Nabi tidak menyampaikan makna secara bahasa dari kata Islam,
pada saat yang sama beliau juga tidak menyampaikan makna secara bahasa dari kata Iman ketika
ditanyakan tentang itu. Mungkin, mungkin kaidah-kaidah tersebut adalah sesuatu yang sangat
jelas dan Nabi menyadari bahwa orang tersebut bertanya tentang apa yang membentuk Islam
dan Iman dan bukan tentang pengertian dari kedua istilah tersebut.
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Islam
itu untuk… berhaji ke Baitullah jika engkau mampu.”
Pembahasan tentang makna lima rukun dalam Islam dan hal-hal yang terkait akan ditunda
sampai pembahasan hadits berikutnya tentang lima rukun ini secara keseluruhan.
Islamic Online University Hadits 102
208
Namun, penting pada saat ini untuk mendefinisikan kata “Islam” secara singkat karena
istilah ini alan sering digunakan saat pembahasan konsep iman. Berbicara kata, kata Islam
menunjukkan tunduk. Dalam makna khususnya terkait dengan agama Islam, Nomani menulis,
Secara harfiah, Islam menunjukkan penyerahan diri atau menyerah pada seseorang dan
menerima penguasaannya dalam makna yang sepenuhnya dalam istilah tersebut. Agama ini
diturunkan oleh Tuhan dan dibawa kedalam dunia oleh para Nabinya
“Dia berkata, “Kamu telah mengatakan kebenaran [atau
benar].” Kami takjub karena dia yang bertanya dan dia
yang mengatakan bahwa dia berkata benar.”
Perilaku dari malaikat tersebut adalah sesuatu yang sangat aneh bagi orang-orang.
Pertama, dia telah bertanya kepada Nabi beberapa pertanyaan. Pada umumnya, ketika
seseorang menanyakan sebuah pertanyaan, itu menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui
jawabannya. Oleh karena itu, ini aneh bahwa dia harus menanggapi bahwa jawaban tersebut
benar. Kedua, yang lebih penting, keterangan ini yang hanya diketahui dengan ajaran Nabi .
Laki-laki yang datang bertanya kepada Nabi tidak dikenal oleh siapapun dan, sehingga dia
tidak dikenal sebagai seseorang yang belajar dari Nabi . Ini membuat semuanya lebih terkejut
karena dia memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa jawaban dari Nabi tersebut benar.
“Dia berkata, “Katakan padaku Iman (Keyakinan).”
Dalam riwayat ini, seteelah bertanya tentang Islam, Malaikat itu bertanya pada Nabi 
tentang iman atau keyakinan. Sekali lagi, Nabi mengerti bahwa dia tidak sedang menanyakan
tentang sifat dari keimanan tetapi dia bertanya tentang apa yang diyakini. Namun, sebelum
membahas hal-hal yang Nabisebutkan tersebut, ini penting bagi seseorang untuk memiliki
pemahaman yang benar dalam konsep Iman yang diambil dari al-Quran dan sunnah. Oleh karena
itu, halaman berikutnya akan membahas tentang konsep keimanan.
Islamic Online University Hadits 102
209
Konsep Iman
Apa itu iman (keyakinan)? Siapa orang-orang yang beriman? Apa itu kafir? Siapa yang
kafir? Pertanyaan ini muncul sangat awal di dalam sejarah Islam. Hanya saja, itu semua juga
menyebabkan perbedaan pendapat begitu juga dengan pembagian diantara orang-orang Muslim.
Pada abad pertama dalam Islam, Khawarij telah mengembangkan faham mereka sendiri tentang
keyakinan dan mulai untuk menyebut banyak orang-orang Muslim pada saat itu sebagai kafir.
Dalam menanggapi mereka muncul kelompok-kelompok semacam Murjia, Jahamiyah, dan
lainnya yang pengertiannya tentang Islam mencakup setiap orang tanpa memperhatikan
perbuatan-perbuatannya. Kelompok lain, Mutazila, mengembangkan faham mereka sendiri yang
disebut “diantara dua posisi”. Meskipun, dengan semua ini, dengan karunia Allah , kedudukan
al-Quran dan sunnah pada pertanyaan ini sudah jelas dan disebarkan luas oleh para pengikut
Islam yang lurus.
Dalam halaman awal karyanya, Haqiqat al-Iman ind Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah,
Muhammad Abdul Hadi al-Misri membuat point yang sangat penting.
1
Hal yang penting ini
tidak berlaku hanya untuk pertanyaan tentang keyakinan dan kekafiran tetapi berlaku juga untuk
semua aspek keyakinan pada kenyataannya. Apabila orang-orang Muslim mau menjaga kaidah
ini dalam pikirannya, banyak perbedaan diantara mereka akan hilang dan mereka akan diberikan
petuntuk menuju ajaran yang benar dalam al-Quran dan sunnah. Poin yang dia buat adalah:
Berbicara sejarah, ketika itu muncul pada kaidah apapun dalam al-Quran dan sunnah, ada dua
pendekatan untuk menentukan maknanya yang benar. Pendekatan pertama adalah untuk
menemukan makna dari kaidah dari Nabi tersebut karena beliau telah wariskan ilmu semacam
itu kepada para Sahabatnya dan para sahabat kepada orang-orang yang mengikuti mereka.
Pendekatan kedua adalah untuk lansung melihat kata itu sendiri dan, asumsi-asumsi yang
diisyaratkan, menemukan maknanya dari bahasa dan pandangan yang logis tanpa mempelajari
terlebih dahulu mengapa Allah dan Nabi menjelaskan semua istilah itu. Pendekatan pertama
adalah pendekatan dari ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah sedangkan pendekatan yang kedua adalah
pendekatan dari kelompok-kelompok yang sesat. Kenyataannya, kedua pendekatan ini adalah
apa yang benar-benar membedakan jalan Islam yang benar dari hal-hal yang menyimpang,
1
Muhammad Abdul Hadi al-Misri, Haqiqat al-Iman ind Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah. (Dar al-Furqan, 1991), hal.
9.
Islamic Online University Hadits 102
210
Dalam pendapatnya, Ibnu Taimiya menuliskan,
Seseorang harus mengerti bahwa jika ada istilah yang ditemukan di dalam al-Quran dan
hadits, dan penjelasannya telah diketahui dan maksudnya telah diperjelas oleh Nabi , maka
tidak perlu untuk digunakan sebagai dalil pernyataan dari para ahli bahasa dan lainnya... kata-
kata shalat, zakat, siyam (puasa), haji ditemukan dalam firman-firman Allah dan pesan-Nya
yang memiliki makna telah diterangkan oleh Rasulullah . Hal yang sama juga berlaku pada
kata khamr (minuman keras) dan lainnya. Dari beliau, seseorang mengetahui makna itu semua.
Apabila seseorang ingin untuk menjelaskan istilah-istilah semacam ini dengan cara apapun selain
cara dari nabi menjelaskan istilah itu. Penjelasan semacam itu tidak akan diterima... Istilah
iman, Islam, nifaq (munafiq) dan kufur lebih penting daripada semua istilah [yang telah
disebutkan]. Nabi menjelaskan makna dari semua kata itu dengan cara yang sedemikian rupa
bahwa tidak diperlu umtuk melihat pada bahasa asalnya atau bagaimana istilah-istilah itu
digunakan oleh orang-orang Arab [jahiliyah] dan seterusnya. Oleh karena itu, ini adalah suatu
keharusan, pada saat seseorang mencoba untuk menentukan makna dari istilah-istilah semacam
itu, seseorang harus merujuk kepada bagaimana Allah dan Rasul-Nya menjelaskan istilah-
istilah semacam itu. Penjelasan Allah dan Nabi jelas dan sudah cukup. Para ahli bid’ah telah
sesat dalam perkara ini. Mereka menolak cara ini [yang baru saja dijelaskan]. Sebagai gantinya,
mereka mulai menjelaskan agama Islam berdasarkan beberapa asumsi yang mereka yakini baik,
baik terkait makna bahasa maupun pemikiran yang masuk akal. Mereka tidak merenungkan dan
mempertimbangkan penjelasan dari Allah dan Rasul-Nya. Setiap asumsi yang menentang
penjelasan dari Allah dan Rasul-Nya tentunya adalah sebuah kesesatan.
1
Al-Misri menambahkan bahwa orang yang betul-betul mengikuti cara yang kembali
kepada al-Quaran dan sunnah adalah orang yang sungguh percaya bahwa Nabi menjelaskan
keseluruhan agama ini dengan cara yang jelas kepada para Sahabatnya dan para Sahabat tersebut
mewariskan ilmu yang jelas kepada orang-orang yang mengikutinya dan seterusnya.
2
Apapun
yang pada dasarnya perlu untuk diketahui maknanya dalam al-Quran telah diberikan sendiri oleh
Nabi . Kenyataan ini harus menjadi sesuatu yang pokok dan jelas kepada semua orang-orang
Muslim. Dalam teori mungkin demikian. Namun, dalam prakteknya, banyak orang yang gagal
1
Ahmad Ibnu Taimiya, al-Iman (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1988) hal. 271-273.
2
Al-Misri, hal. 10.
Islamic Online University Hadits 102
211
untuk menerapkan hal ini dan mulai mencari di tempat lain terkait masalah yang telah
diterangkan dalam al-Quran dan sunnah. Pertanyaan tentang iman adalah gambaran yang sangat
jelas pada poin ini.
Kembali pada al-Quran dan sunnah, seseorang dapat mencoba untuk menjawab beberapa
pertanyaan dasar terkait iman. Pertanyaan dasarnya sebagai berikut:
(1) Apa itu iman yang lurus? Atau siapakah orang-orang beriman yang lurus itu?
(2) Apa itu tempat iman Dan apakah bagian-bagian penting dalam iman?
(3) Apa hubungan antara iman dan amal?
(4) Apakah unsur-unsur iman? Pada setiap orang, apa yang seharusnya dipercayai oleh
seseorang? Ini adalah apa yang Nabi  jelaskan kepada malaikat Jibril. Topik ini
seharusnya di bahas secara detail sebagaimana yang mereka sebutkan dalam hadits.
Islamic Online University Hadits 102
212
Pengertian Iman Menurut Al-Quran dan Sunnah
Terdapat perbedaan pendapat tentang bagian-bagian dari iman.
1
Perbedaan
perbedaan tersebut dapat dilihat dari ringkasan berikut ini: (Mereka juga menyajikan dalam
bentuk bagan 2. 1a-d)
Bagan 2.1a. Komponen-komponen Iman dilihat dari perbedaan beberapa sekte
1
Ct., Safr al-Hawali, Dhaahirah al-Irjaa fi al-Fikr al-Islaami. (Kairo, Maktab al-Tayyib, 1417 H), Vol. 2, Hal. 405-421; ibn Abu
al-Izz, Vol, hal. 459-462).
Iman adalah dengan hati,
lisan, dan amalan lahiriah
Menurut Ahlussunnah wal
Jama’ah
Menurut Khawarij
Menurut Mu’tazilah
Amal as class
adalah bagian dari
iman dan tidak
beriman seseorang
yang tidak melakukan
amalan agama
Amal adalah komponen
dari iman. Jika seseorang
melakukan dosa besar,
dia telah kehilangan
iman dan menjadi kafir
Amal adalah kompenen
dari iman. Tetapi
seseorang yang
melakukan dosa besar
tidak lah menjadi kafir
tetapi dia akan menjadi
penghuni neraka
selamanya
Islamic Online University Hadits 102
213
Bagan 2.1b. Komponen-komponen Iman dilihat dari perbedaan beberapa sekte.
Iman adalah hanya dengan hati dan lisan
menafikan perbuatan lahiriah seseorang
Para ahli hukum
kaum Murjiah
Amalan hati
termasuk bagian dari
iman tetapi bukan
amalan-amalan tubuh.
Amalan-amalan tubuh
hanyalah buah dari
iman. Iman adalah suatu
hal yang tidak dapat
bertambah dan tidak
dapat berkurang
Amalan hati
bukanlah bagian dari
iman, hanya keyakian
dalam hati. beberapa
bahkan menafikan
perkataan lisan. Iman
adalah sesuatu yang
tidak bertambah atau
berkurang.
Islamic Online University Hadits 102
214
Bagan 2.1c. Komponen-komponen Iman dilihat dari perbedaan beberapa sekte.
Iman hanya
dengan hati
Jahmiyyah
Asyariyyah
Kebanyakan
Maturidiyyah
Murji’ah
Iman adalah
Ma’rifah yang
sederhana atau
Ilmu tentang Allah.
Iman mencakup
perbuatan hati, dan
tidak hanya
Tasdiq, namun, Itu
tidak termasuk
dalam jenis amalan
lainnya.
Iman adalah
tasdiq atau
membenarkan
dalam hati. hal itu
menafikan semua
perbuatan sebagai
komponen
pentingnya.
Islamic Online University Hadits 102
215
Bagan 2.1d. Komponen-komponen Iman dilihat dari perbedaan beberapa sekte.
Iman hanya dengan Lisan
Saja
karraminah
Iman adalah hanya
dengan ucapan lisan saja
Islamic Online University Hadits 102
216
Pandangan dari Ahlussunnah Wal Jama’ah: Menurut pendapat ini, tempat
daripada iman adalah hati, lisan, dan perbuatan lahiriah. Iman itu bertambah dan berkurang.
Amalan merupakan bagian dari iman. Beberapa dari amalan tersebut adalalah penting, yang lain
diperlukan dan yang lain direkomendasikan. Hal ini tidak menafikan kemungkinan bahwa orang
beriman melakukan dosa. Dosa-dosa itu seperti, setiap dosa besa, jika mereka melakukan
kekufuran dan kesyirikan kecil, tidaklah membuat pelakunya keluar dari Islam. Di akhirat kelak,
para pelaku dosa mungkin akan dihukum di dalam api neraka atau diampuni oleh Allah .
Namun, semua orang yang memiliki keimanan dalam hati mereka meskipun hanya sedikit akn
diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam Surga. Ini adalah keyakinan yang diturunkan
oleh nabi  kepada ummat-ummatnya dan pengikut-pengikutnya. Ini adalah satu-satunya
pemahaman yang mempertimbangkan bukti-bukti yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah.
Ibnu Abu al-Izz menulis,
Nabi telah menerangkan ini dengan jelas bahwa seseorang pastinya
bukan seorang mu’min (seorang yang beriman) jika dia menyatakan
bahwa dia percaya kepada Nabi tetapi dia tidak menyatakannya dengan
lisannya, meskipun dia bisa, dia juga tidak mengerjakan shalat, tidak
puasa, tidak mencintai Allah dan Nabi-Nya , tidak takut pada Allah .
Jika, dia juga membenci Nabi dan memerangi beliau [maka dia jelas
tidak dapat disebut sebagai orang yang beriman]. Beliau juga
menerangkan bahwa kebahagiaan kita dan kedudukan kita di Akhirat
tergantung perkataan kita dalam membuktikan keimanan kita dan
keikhlasan kita dalam meyakini keesaan Allah dan sesuai dengan
amal kita. Contohnya, beliau berkata, iman memiliki lebih dari 70
bagian, yang paling tinggi adalah pernyataan bahwa tidak ada tuhan
selain Allah , dan yang paling rendah adalah menghilangkan benda
yang berbahaya di jalan.
1
Kesederhanaan adalah bagian dari Iman.
2
“Mu’min (orang beriman) yang paling sempurna adalah orang yang
1
Kalimat dalam hadits tersebut dalam kumpulan hadits sedikit berbeda. Pada hadits dalam Muslim dan Bukhari
dimulai dengan “Iman memiliki lebih dari enam puluh bagian (bid wa sittun shu’bah).” Abu Daud, Tirmidzi dan
Ibnu Majah meriwayatkan, “Iman lebih dari enam puluh atau tujuh puluh cabang (bid wa sittun aw sab’un bab).”
Periwayat hadits ini tidak yakin apakah nabi mengatakan, “lebih dari enam puluh” atau “lebih dari tujuh puluh”.
2
Ini adalah akhir dari hadits yang disebutkan pada catatan sebelumnya.
Islamic Online University Hadits 102
217
paling baik akhlaknya.”
1
“Sederhana dalam berpakaian adalah bagian
dari Iman.”
2
Jika Iman memiliki bagian-bagian yang berbeda dan setiap bagiannya
disebut dengan Iman, jadi Shalat adalah Iman, Zakat dan Haji adalah
Iman, sifat baik seperti kesederhanaan, keyakinan, rasa takut, dan
berserah diri, bahkan menghilangkan sebuah rintangan dari jalan, adalah
bagian dari Iman. Sebagian dari bagian-bagian ini sangat dasar, seperti
dua kalimat Syahadat, karena jika engkau menghilangkan semua itu
engkau akan kehilangan Iman secara lengkap; yang lainnya sangat kecil,
seperti menghilangkan rintangan dari jalan, jika engkau kehilangan itu
semua engkau tidak akan kehilangan Iman. Diantara keduanya,
Pemahaman dari Khawarij: Menurut faham ini, tempat iman adalah hati, lisan dan
perbuatan anggota badan. Tetapi dalam faham ini, jika seseorang salah dalam amalan-amalannya
(seperti salah dalam mengerjakan sebuah amalan wajib atau benar-benar mengerjakan sebuah
dosa besar), dia menjadi seorang kafir, keluar dari lingkaran Islam dan akan kekal di Neraka
selamanya. Faham ini jelas bertentangan dengan al-Quran dan sunnah. Contohnya, Allah telah
menetukan hukuman bagi seseorang yang melakukan perzinahan. Hukumannya tidak sama
dengan hukuman bagi kemurtadan. Ini karena orang yang melakukan semacam dosa, oleh
amalan itu sendiri, tidak mengeluarkan dirinya dari lingkaran Islam.
Pemahaman Mutazilah: menurut faham ini, tempat iman adalah hati, lisan dan amalan
anggota tubuh. Semua itu seharusnya mengambil tempat diantara dua kedudukan yang diatas.
Mereka menyatakan bahwa pelaku dosa besar bukanlah orang beriman ataupun orang kafir; dia
kurang lebih jatuh diantara keduanya. Meskipun, pada saat yang sama, mereka mengatakan
bahwa orang seperti itu akan masuk ke dalam Neraka selamanya. Agar sampai pada kesimpulan
ini, mereka telah menolak riwayat-riwayat yang asli dan sesuai dari Nabi yang menyatakan
bahwa orang-orang beriman yang melakukan dosa akan diselamatkan dari Api Neraka.
Pemahaman ahli hukum Murjiah: Menurut faham ini, tempat Iman adalah di hati dan
lisan, dan faham ini mengeluarkan amalan-amalan anggota tubuh. Amalan-amalan dalam hati
1
Diriwayatkan oleh Tirmidzi, abu Daud, Ahmad, al-Darimi dan Ibnu Hibban. Hadits tersebut sahih menurut Albani.
Lihat catatan kaki Albani pada Ali Ibnu al-Izz, Sharah al-Aqidah al-Tahawiya, (Beirut: al-Maktab al-Islam, 1984),
hal. 339. Selanjutnya, kitab ini hanya akan dirujuk sebagai “Albani, catatan kaki pada Sharah.”
2
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Perkataan dalam Abu Daud adalah. “Apa kalian dengar? Apa kalian dengar?
Sesungguhnya, sederhana dalam berpakaian (al-badhadhah) adalah bagian dari Iman.” Hadits ini hasan. Lihat
Albani, catatan kaki pada Sharah, hal. 340.
Islamic Online University Hadits 102
218
termasuk tapi tidak untuk amalan-amalan anggota badan yang seseorang kerjakan. Amalan-
amalan hanyalah buah keimanan. Pada intinya, Iman adalah tasdiq atau pembenaran dalam hati.
Oleh karena itu, iman itu seperti satu tingkat dan kemungkinan tidak dapat bertambah atau
berkurang. Faham ini juga bertentangan dengan al-Quran dan sunnah. Al-Quran dan sunnah
dengan jelas menjelaskan bahwa iman meningkat dan berkurang. Selain itu, banyak hadits yang
juga menjelaskan bahwa melakukan amalan adalah bentuk bagian dalam iman.
Pemahaman sebagian besar Maturidiyah: Menurut pemahaman ini, tempat iman adalah
hati, dan lisan, dan faham ini mengeluarkan amalan-amalan anggota tubuh. Mereka juga
mengatakan bahwa iman tidak bertambah dan tidak berkurang, karena itu merupakan tasdiq atau
pembenaran dalam hati. Mereka berbeda dari Murjiah dalam hal itu karena mereka mengatakan
bahwa amalan dalam hati juga tidak termasuk sebagai bagian dari iman, hanya perkataan atau
keyakinan dalam hati. Sebagian dari mereka bahkan mengeluarkan perkataan dengan lisan
sebagai bagian dari iman, dengan alasan bahwa itu hanyalah pertanda iman dan bukanlah bagian
dari iman.
Pemahaman Asyariah dan kebanyakan Maturidiyah: Munurut faham ini, tempat iman
adalah hanya dihati. Iman hanyalah tasdiq atau pembenaran dalam hati. Iman tidak bertambah
dan tidak berkurang. Mereka mengeluarkan semua amalan, amalan dalam hati begitu juga
amalan anggota tubuh. Seseorang merupakan orang beriman yang sempurna dan lengkap bahkan
jika dia tidak mengerjakan amalan apapun yang sesuai, selama tasdiq ada di dalam hati. Mereka
bahkan tidak menganggap perkataan dengan lisan dan menunjukkan bahwa seseorang tidak
harus membuat pernyataan keimanan jadi dia akan dianggap kafir di dunia ini meskipun dia
beriman di dalam hatinya. Faham ini juga bertentangan dengan al-Quran dan sunnah dalam
banyak hal. Contohnya, Iman hanyalah tasdiq mungkin menyatakan secara tidak lansung bahwa
Abu Thalib dulu adalah seorang yang beriman dan seharusnya berada di Surga. Namun, ini
bukanlah apa yang Nabi katakan tentang dia.
Pemahaman kebanyakan Murji’ah: Menurut faham ini, tempat iman hanyalah di dalam
hati. Iman tidak bertambah dan tidak berkurang. Kebanyakan dari mereka memasukkan amalan-
amalan dalam hati dan tidak hanya tasdiq. Pada saat yang sama, mereka mengeluarkan semuah
amalan-amalan lainnya, termasuk perkataan dengan lisan.
Islamic Online University Hadits 102
219
Pemahaman Jahmiyah: menurut faham ini, tempat iman hanya di hati. Namun, ini
bukanlah tasdiq (kepercayaan, membenarkan) tetapi ini hanyalah ma’rifah atau memiliki ilmu
tentang Allah . Kebanyakan ulama telah mengumumkan bahwa aliran Jahmiyah telah keluar
dari Islam karena keyakinan semacam itu. Mengomentari aliran Jahmiyah, Ibnu al-Izz menulis,
Al-Jahm Ibnu Safwan dan Abu I-Husain as Salihi, seorang Libertarian
(Qadari) yang terkemuka, percaya bahwa Iman adalah jenis ilmu dalam
hati... [ini] menunjukkan bahwa Firaun dan penduduknya adalah orang-
orang yang beriman karena mereka mengetahui bahwa Musa dan Harun,
alaihimassalam, adalah benar-benar Nabi meskipun mereka mengingkari
mereka. Ini jelas dari apa yang Musa katakan kepada Firaun, Engkau
telah mengetahui dengan baik bahwa tiada yang menurunkannya
melainkan Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti
yang nyata” (al Isra 102) Ahli Kitab mengetahui bahwa Muhammad 
adalah Nabi sama seperti mereka mengetahui anak-anak mereka, tetapi
mereka tidak beriman kepadanya. Faktanya, mereka adalah orang-orang
yang mendustakan dan orang-orang yang menentang. Abu Thalib juga
akan berada diantara orang-orang beriman menurut pemahaman mereka,
karena diriwayatkan Abu Thalib pernah berkata [dalam baris syairnya],
“Aku tahu bahwa agama Muhammad, adalah yang paling baik dari
semua agama umat manusia. Andaikan aku tidak dimusuhi dan dicaci,
Aku mungkin telah mengakui itu secara terbuka.”
Bahkan, sebenarnya Iblis juga, mungkin seorang yang beriman menurut
pemahaman al-Jahmiyah. Dia tidak berdalih karena tidak mengetahui
Allah . Dia mengetahui Allah dengan baik sebagaimana yang dia
katakan, “Ya Rabbku, kalau begitu beri tangguhlah kepadaku sampai hari
[manusia] dibangkitkan” (al-Hijr 36), “Ya Rabbku, oleh sebab Engkau
telah memutuskan bahwa aku sesat” (al-Hijr 39), dan “Demi kekuasaan
Engkau, aku akan menyesatkan semuanya” (Sad 82). Bagi al-Jahmiyah,
kufur adalah tidak mengetahui Allah . Namun, tidak ada seorangpun
yang lebih tidak bodoh tentang Allah daripada dia, karena dia
mengecilkan Allah menjadi semacam itu dan melepaskan-Nya dari
segala sifat-sifat-Nya. Tidak ada kebodohan yang lebih besar daripada
ini. Oleh karena itu, dia adalah seorang yang kafir sesuai dengan
pernyataannya sendiri.
1
1
Ibnu Abu al-Izz, jilid 2, hal. 459-462
Islamic Online University Hadits 102
220
Pemahaman Karamiyah: Menurut faham ini, tempat iman hanyalah lisan. Dalam kata
lain, seseorang yang menyatakan pernyataan keimanan dianggap seorang beriman yang lengkap
dan benar-benar beriman tanpa memperhatikan apa yang ada di dalam hatinya. Ibnu al-Izz
berkata tentang mereka,
Menurut pemahaman mereka, orang-orang munafik adalah orang berima
yang sempurna, meski begitu, mereka percaya bahwa orang-orang
munafik akan mendapatkan siksaan yang Allah telah janjikan bagi
mereka. Jadi mereka bertentangan dengan diri mereka sendiri.
1
Berkaitan dengan pemahaman dari Asyariah, Maturidiyah, dan Murjiah, sangat penting
untuk menyadari bahwa Iman tidak hanya yakin atau percaya pada sesuatu, yang merupakan
kebalikan dari tidak percaya pada sesuatu.
2
Ini bukanlah konsep yang benar tentang Iman dalam
hal apapun, sebagaimana yang jelas dari ayat-ayat al-Quran dan sunnah.
Pada poin ini, Ibnu Abu al-Izz menuliskan,
Iman tidak berbeda dengan takdhib (mengingkari) tetapi tasdiq
(membenarkan, percaya) berbeda. Namun, Iman, berbeda dengan kufur,
yang belum tentu hanya sekedar takdhib. Jika saya berkata, “Saya
mengetahui bahwa engkau adalah orang yang jujur (sadiq), tetapi Saya
tidak akan mengikutimu, sebaliknya Saya akan menentangmu dan
membencimu,” Saya akan berdosa karena kekufuran yang lebih besar.
Sebab itu, jelas bahwa Iman tidak hanya sekedar tasdiq, dan juga kufur
tidak hanya sekedar takdhib. Kufur terkadang takdhib tetapi terkadang
lebih dari itu, dimana itu termasuk lawan dan permusuhan. Dilain pihak,
Iman tidak hanya sekedar tasdiq; tapi lebih dari itu, dimana itu termasuk
membenarkan (muwafaqah), mencintai (muwalat) dan tunduk (inqiyad).
Tasdiq tidak memberikan makna keseluruhan dari Iman; dan Islam
(tunduk) hanyalah bagian dari Iman.
Namu, jika tasdiq dianggap sebagai persamaan kata [dari Iman], maka itu
harus diambil dalam pengertian yang lebih luas termasuk juga amal.
Untuk makna dari istilah yang luas ini, seseorang dapat merujuk kepada
sebuah hadits dari Nabi , “Mata itu berzina, dan zinanya adalah
1
Ibnu Abu al-Izz, jilid 2, hal. 460.
2
Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa ini sangat mudah untuk membenarkan adanya sesuatu dan kemudian membenci
susuau tersebut. Contohnya, orang-orang membenarkan adanya orang-orang kafir dan setan sedangkan mereka
membenci orang kafir dan setan. Pembenaran ini jelas tidak dapat dianggap sama dengan iman. Lihat Ibnu
Taimiyah, Majmu, jilid 7, hal. 541.
Islamic Online University Hadits 102
221
pandangannya; dan telinga itu berzina, dan zinanya adalah
mendengarkan... dan sedangkan kemaluan membenarkan (yusaddiqu) itu
atau mendustakannya (yukadhibu).”
1
Hasan al-Basri, semoga Allah 
merahmatinya, berkata, Iman bukanlah ketaatan yang resmi ataupun
harapan yang sia-sia.”
2
Jika itu adalah tasdiq, itu adalah jenis tasdiq
tertentu...
3
Ibnu Utsaimin juga telah menegaskan fakta bahwa iman tidak hanya tersusun dengan
“keyakinan” di dalam hati, dalam pengertian seseorang membenarkan bahwa tidak ada yang
pantas disembah kecuali Allah . Bersama dengan “keyakinan” itu, bagian-bagian lainnya harus
ada untuk itu, sebagai bentuk iman yang benar yang diterima oleh Allah . Beliau menulis,
Iman adalah pembenaran yang membutuhkan penerimaan dan
penyerahan. Jika seseorang beriman pada sesuatu tanpa penerimaan dan
penyerahan, itu bukanlah iman. Bukti untuk hal tersebut adalah orang-
orang Jahiliyah [Arab] meyakini akan keberadaan Allah dan meyakini
bahwa Allah adalah Sang pencipta, Pemberi Rezeki, Yang Maha Hidup
dan Mengurus Mahluknya. Selain itu, salah satu diantara mereka bahkan
menerima kerasulan dari nabi tetapi dia bukan seorang yang beriman.
Orang itu adalah Abu Thalib, paman dari nabi ...
4
tetapi hal tersebut
[meyakini Nabi ] tidak akan bermanfaat baginya dalam hal apapun
karena dia tidak menerima dan tunduk kepada apa yang Nabi telah
bawa.
5
Bagian-bagian Iman
Sebagaimana yang telah disampaikan, kajian menyeluruh tentang al-Quran dan sunnah
menunjukkan bahwa Iman memiliki bagian-bagian tertentu. Ibnu al-Qayyim pernah menulis
bahwa Iman tersusun dari bagian-bagian berikut: (1) memiliki ilmu tentang apa yang diajarkan
oleh nabi ; (2) memiliki keyakinan yang penuh dan kuat tentang apa yang Nabi bawa; (3)
menyatakan dengan lisan keyakinan seseorang tentang apa yang beliau bawa; (4) menyerah atau
tunduk kepada apa yang beliau bawa karena cinta dan kerendahan hati; (5) beramal sesuai
1
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
2
Diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Abi Syahban, al Musannaf (Beirut: Dar al-Fikri, 1989), jilid 11, hal. 22.
3
Ibnu Abu al-Izz, jilid 2, hal. 471-475.
4
Ibnu Utsaimin kemudian mengutip beberapa baris syair dari Abu Thalib yang dia menyampaikan keyakinannya
pada Nabi .
5
Muhammad Ibnu al-Utsaimin, Sharh Hadits Jibril Alaihi as-Salam (Dar at-Thuraya, 1415 H), hal. 4-5.
Islamic Online University Hadits 102
222
dengan apa yang Nabi bawa, baik secara lahiriah ataupun di dalam batin, dan menyeru
kejalannya sesuai dengan kemampuan seseorang.
1
Bagian-bagian ini telah diringkas oleh ulama-ulama terdahulu dalam pernyataanya,
“Iman adalah perkataan dan perbuatan.”
2
Pernyataannya disini termasuk kedua perkataan dalam
hati (membenarkan) dan perkataan dengan lisan (ucapan lisan). Perbuatan termasuk perbuatan
dalam hati (kemauan untuk tunduk, cinta, dan sebagainya) dan perbuatan anggota tubuh (seperti
shalat dan sebagainya)
3
Dari waktu ke waktu, agar lebih jelas, kedua bagian ini dibagi menjadi tiga bagian
penting dalam Iman yang juga telah disebutkan oleh banyak Ulama: (1) Meyakini di dalam hati;
(2) ucapan dengan lisan; (3) mengerjakan amalan dengan bagian anggota tubuh.
4
Setiap bagian pada ketiga bagian ini akan dibahas secara terpisah. Ketiga bagian tersebut
akan diuaraikan secara rinci pada bab selanjutnya yang diberi judul, “Hubungan antara Iman dan
Amal.”
(1) Meyakini dalam hati. Hati adalah tempat Iman atau dasarnya. Allah berfirman
dalam al-Quran,
“Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera
[memperlihatkan] kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut
mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman” (al Maidah 41). Apabila
1
Ibnu al Qayyim, al-Fawaid, hal. 407. (sebagaimana dikutip dalam al-Misri, hal. 41).
2
Abu Zura dan Abu Hatim, dua guru al-Bukhari yang sangat penting, menceritakan bahwa para ulama yang mereka
telah temui dari Hijaz, Iraq, Negeri Syam dan Yaman semuanya berkata, Iman adalah perkataan dan perbuatan,
iman itu bertambah dan berkurang.” Lihat Hibatullah al-Lalakai, Sharah Ushul Hiqad Ahlul Sunnah wal Jamaah
min Kitab wa al-Sunnah wa Ijma al Sahabah wa al Tabiin min Badihim (Riyadh: Dar Taiba, n.d), jilid 1, hal. 176.
3
Ct., Ibnu Taimiyah, Majmu, jilid 7, hal. 672; Safr al-hawaii, Dhahirah, jilid 1, hal. 221-236.
4
Al-Hawali dengan yakin berpendapat bahwa pernyataan, Iman adalah perkataan dan perbuatan,” adalah
pernyataan yang lebih disukai. Lihat al-Hawali, Fikr, jilid 1, hal. 227-228. Namun, untuk memudahkan
penjelasan, pembagian ke dalam tiga bagian yang terakhir itulah yang akan diikuti di sini.
Islamic Online University Hadits 102
223
apa yang ada di dalam hati tidak baik dan tidak tepat, maka tidak akan ada lagi yang baik dan
yang tepat.
1
Bagian yang pertama dalam Iman meyakini di dalam hati memiliki dua aspek. Aspek yang
pertama adalah apa yang telah disebutkan oleh para ulama “Perkataan dalam hati”. Ini terdiri dari
pengakuan, ilmu dan pembenaran. Contohnya, seseorang mengakui bahwa tidak ada yang pantas
disembah selain Allah , seseorang memiliki ilmu tentang itu dan seseorang membenarkannya.
Yang jelasnya, jika seseorang tidak menjumpai keadaan iman yang penting ini, sesungguhnya
orang itu tidak dapat dianggap memiliki Iman
Aspek yang kedua adalah apa yang para ulama sebut dengan, “perbuatan dalam hati”
keadaan ini terdiri atas tanggung jawab, tunduk dan berserah diri (al intizam, al inqiyad, dan al
taslim). Ada juga bagian penting lainnya yang ada di dalam hati. Termasuk cinta pada Allah ,
mengagumi Allah , meyakini Allah , takut pada Allah , dan berharap pada Allah . Al-Misri
berkata, “Orang-orang sholeh terdahulu dan para tokoh Muslim sepakat bahwa ini mengikuti
aspek penting yang pertama dan membutuhkan konsekuensi darinya. Seseorang bukanlah orang
yang beriman kecuali dia memiliki keduanya.”
2
Sebagaimana yang telah disinggung tadi, ini
terjadi karena, pernyataan sederhana dalam meyakini Allah dan rasul-Nya tanpa persyaratan
yang paling rendah dalam cinta, kekaguman, dan berserah diri tidak membuat seseorang
beriman.
Sebenarnya, aspek yang pertama harus secara lansung mengarah ke aspek kedua- kecuali
hati seseorang berpenyakit dan menolak untuk mengikuti kebenaran. Ini telah dijelaskan oleh
Ibnu Taimiya. Dia menyatakan bahwa jika hati memiliki ilmu dan mengakui kebenaran
kemudian, jika hati bebas dari penyakit-penyakit seperti hasad, sombong, mengikuti keraguan
dan kesalah pahaman, mengikuti keinginan dan hawa nafsu, itu akan dipenuhi dengan cinta pada
kebenaran dan akan tunduk pada kebenaran. Oleh karena itu, tidak ada apapun yang lebih
dicintai dari hati yang suci dan baik selain Allah 
Faktanya, aspek pertama dalam mengenal dan mengakui keberadaan atau kebenaran
Allah adalah sesuatu yang mudah terjadi. Hal tersebut pada kenyataanya melekat pada sifat
1
Ct., Warnaidh al-Umar, Fiqih al Iman ala Minhaj as Salaf al Salih (Amman, Jordan: Dar al-Nafais, 1997), hal. 19.
2
Al-Misri, hal. 26.
Islamic Online University Hadits 102
224
manusia. Itu adalah aspek kedua dari bagian pertama, perbuatan dalam hati, yang perlu untuk
ditekankan dan diartikan dengan benar. Faktanya, pada umumnya, ketika Allah mengutus para
rasul kepada umat manusia, pesan utama mereka dan perselisihan dengan orang-orang bukanlah
mengakui dan menerima keberadaan Allah tetapi itu berkaitan dengan ketaatan pada Allah 
dan mengikuti perintah-Nya. Kebenaran dari masalah yang pertama sudah jelas dan tidak dapat
ditolak. Allah telah menerangkannya dalam banyak ayat al-Quran bahwa masalah utama bagi
orang-orang kafir adalah tidak mengakui kebenaran tetapi sebuah kebencian untuk itu. Allah 
berfirman,
Karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu
mengingkari ayat-ayat Allah” (al an’am 33). Dalam ayat lainnya, Allah berfirman,
Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci
kepada kebenaran.” (al-Mukminun 70)
Jadi, hal yang paling sulit bagi orang-orang kafir adalah mencintai kebenaran, mencari
kebenaran dan tunduk pada hal tersebut. Karena itu, mereka harus membebaskan diri mereka
pada kebenaran. Ini termasuk sombong, angkuh, hasad, egois, mencari kesenangan sesaat dalam
dunia ini, cinta kekuasaan, menguasai dan berkuasa, kebanggaan kebangsaan dan pajak, hawa
nafsu dan sebagainya. Pada umumnya, kebenaran dalam tauhid jelas bagi mereka semua; namun,
mereka tidak ingin untuk patuh dan menerima itu- penyakit-penyakit hati dapat menjadi sangat
kuat pada diri seseorang yang tidak lagi mengakui kebenaran atau dia sama sekali menolak untuk
mengakui apapun itu. Ini adalah salah satu hal utama yang membedakan orang beriman dari
orang kafir. Ini bukan hanya masalah mengetahui bahwa Allah ada atau mengakui akan
kenyataan tersebut.
Islamic Online University Hadits 102
225
Bagian Iman ini, “meyakini dalam hati” adalah yang paling penting. Ini adalah dasar dan
pendorong dibalik bagian-bagian Iman lainnya. Ketika membahas bagian-bagian Iman,
seseorang tidak akan pernah dimaafkan dari memenuhi bagian ini sementara, dalam keadaan
berbeda, seseorang mungkin dimaafkan karena tidak menjalankan bagian-bagian lainnya. Sebab
itu, jika seseorang benar-benar ingin memastikan bahwa dia memiliki Iman yang benar dan dia
berusaha melindungi dirinya dari kehilangan Iman tersebut, dia harus berkonsentrasi pada
bagian-bagian ini dan mengikuti langkah-langkah yang akan menguatkan hal-hal itu dalam
dirinya. Bagian yang paling penting adalah mengakui kebenaran, menginginkan kebenaran dan
mencintai kebenaran dalam hati seseorang. Bagian ini digabungkan dengan kebencian pada
kedustaan dan kekafiran. Perhatikan apa yang Allah katakan pada saat menggambarkan orang-
orang yang betul-betul beriman,
Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam
hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka
itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (al-Hujurat 7)
Sekali lagi harus di catat bahwa kata tasdiq (“kebenaran, keyakinan”) ketika digunakan
untuk definisi iman tidak hanya mengacu pada konsep dasar atau berdasarkan teori keimanan
pada sesuatu yang masuk akal. Sebaliknya, itu berarti keyakinan terhadap sesuatu yang
mendorong seseorang untuk menerima itu, tunduk pada itu, dan menjalankannya. Ini yang
dimaksud dengan tasdiq yang menjadi dasar atau pengertian penting pada keyakinan.
2) Ucapan dengan lisan. Komponen penting yang kedua dari iman adalah pengakuan
keimanan seseorang dengan lisan.
1
Al Misri menyatakan,”tidak dapat dterima bahwa keyakinan
di dalam hati benar-benar terjwujud-baik pernyataan maupun amalan-amalan hati tanpa
pengakuan iman secara lisan.”
2
)
1
Jelasnya, ini hanya berlaku pada orang-orang yang memiliki kemampuan fisik untuk melakukannya.
2
Al-Misri, hal. 33
Islamic Online University Hadits 102
226
Pengakuan iman dengan lisan ini memainkan dua peran utama. Yang pertama, seseorang
bersaksi bahwa dia mengakui kebenaran dari pernyataan iman itu. Ini dapat dianalogikan dengan
orang yang memberi kesaksian di pengadilan. Semua yang benar-benar dia katakan adalah fakta
yang dia yakini benar. Kedua, bagaimanapun itu adalah pernyataan komitmen terhadap fakta
tersebut. ini adalah pengakuan oleh seseorang bahwa dia berniat untuk mematuhi syarat dan
petunjuk dari apa yang telah dia persaksikan. Pada bagian terpenting dalam Kitaab al-Imaan,
karya Ibnu Taimiya rahimahullah,
Orang arab tidak memiliki hal seperti itu dalam bahasa mereka sebagai
penegasan atau penyangkalan kecuali dalam pengertian dan kosa kata
atau kosa kata yang merujuk pada makna. Seseorang tidak akan
menemukan dalam bahasa arab kalimat “Tuan X percaya pada Tuan Y,”
atau menyangkalnya” jika ia hanya tahu dalam hatinya bahwa ini dan
itu benar atau salah. [pernyataan seperti itu hanya akan dibuat jika orang
itu benar-benar] mengatakannya. Siapapun yang tidak menegaskan
keyakinannya kepada orang lain dengan lisannya, jika ia memiliki
kemampuan untuk melakukan hal tersebut, tidak disebutkan, menurut
orang arab, orang beriman. Oleh sebab itu, orang-orang saleh terdahulu
dari bangsa ini, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka
dalam kebaikan, setuju dengan poin tersebut. seseorang yang beriman
dalam hatinya tetapi tidak menyatakan keimanannya secara verbal tidak
akan diterima baik dalam kehidupan ini maupun di akhirat kelak sebagai
orang yang beriman dengan cara apapun. Allah tidak menyatakan
orang seperti itu untuk sebagai orang yang beriman kepada utusan-Nya
karena pengetahuan dan keyakinan yang ada dalam hatinya. Dia hanya
dianggap sebagai orang yang beriman jika dia menyatakan keimanannya
dengan ucapannya. Oleh karena itu, ucapan secara lisan merupakan aspek
yang penting dari iman dan, menurut ulama terdahulu dan ulama
belakangan ini, seseorang tidak akan selamat kecuali dengan ucapannya.
Orang-orang Muslim telah sepakat bahwa seseorang yang tidak membuat
pernyataan keimanan meskipun dia bisa melakukan yang demikian
adalah seorang yang kafir. Dia kafir baik di dalam maupun di luar
menurut para Orang-orang Sholeh terdahulu dan para Imam pada umat
ini.
1
1
Lihat Ibnu Taimiyah, al-Iman, hal. 126. Lihat juga al-Aini, jilid 1, hal. 110 dimana dia menegaskan kembali
pemikiran yang sama tersebut.
Islamic Online University Hadits 102
227
Namun, pernyataan sederhana dengan kata-kata di dalam dan pada diri mereka sendiri
bukanlah itu yang dicari. Sungguh, orang-orang munafik melakukan yang seperti itu dan mereka
sama sekali bukan orang yang benar-benar beriman. Pernyataan dengan kata-kata haruslah
disertai dengan sebuah usaha yang ikhlas untuk menjalankan hal-hal seperti berikut ini: (1)
kepercayaan yang benar terhadap kekuasaan Allah dan hal-hal yang berkaitan dengannya; (2)
menghilangkan dan bebas dari hal-hal apapun yang menyekutukan Allah ; (3) mengikuti dan
menjalankan hukum-hukum Islam. Jika ini bukanlah apa yang seseorang maksudkan seseorang
dengan pernyataan imannya, maka pernyataan semacam itu tidak akan berguna sama sekali.
1
Sebab itu sebelum seseorang membuat pernyataan Iman, dia harus diajarkan dan dijelaskan
bahwa ini adalah sesuatu yang harus dinyatakan juga. Pernyataan tersebut tidak harus dalam
bahasa Arab atau dengan istilah-istilah tertentu tetapi pernyataan tersebut harus sangat jelas
dengan makna dan tujuan yang tepat dari apa yang disebutkan oleh orang tersebut.
2
Hubungan antara Iman dan amal
Bagian ketiga yang disebutkan diatas yang merupakan bagian yang penting adalah
“Mengerjakan amalan dengan anggota tubuh”. Amal merupakan sebuah bagian yang utama
dalam konsep Iman.
3
Konsep atau kata Iman
Sebagian ulama terjebak pada makna bahasa dari Iman sebagai tasdiq (percaya), oleh
karena itu, mereka memisahkan perbuatan dari hal-hal yang penting dalam Iman.
4
Namun,
pendapat semacam itu bukanlah pendapat dari ulama-ulama islam terdahulu. Dalam Kitab al-
Umm, as-Syafi’i menulis, “Ada kesepakatan dari para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti
mereka dan orang-orang yang kami pernah temui bahwa Iman adalah perkataan, perbuatan dan
1
Al-Misri, hal. 35.
2
Dalam sebuah hadits, beberapa orang masuk islam dengan mengatakan, Saba’na, yang berarti mereka telah
beriman kepada mereka yang disebut dengan Sabi’iya, yang merupakan sebuah istilah bagi orang-orang yang
tidak memiliki pengetahuan terhadap orang-orang Muslim.
3
Sebagaimana yang disampaikan diatas, ada sekelompok ulama yang memisahkan keimanan dari amal dan
menyatakan bahwa yang terakhir itu (amal) bukanlah bagian dari yang terdahulu (iman). Meskipun, pemahaman
mereka hanyalah sebuah masalah semantik (ilmu tentang makna), sepertinya ini bukan pendapat yang kuat dan
tidak akan dibahas secara rinci di sini.
4
Al-Hawali (Fikr, jilid 2, hal. 445-475) menggambarkan proses tersebut dipengaruhi oleh pemikiran Yunani
yang mengarahkan kelompok-kelompok sesat terdahulu pada kesimpulan bahwa iman adalah tasdiq dan hanya
tasdiq.
Islamic Online University Hadits 102
228
niat. Tidak satupun dari mereka yang mencukupi dirinya tanpa yang lainnya.”
1
Ibnu Abdul Barr
seorang ahli fiqih dari Maliki juga menuliskan,
Para ulama fiqih dan hadits telah sepakat bahwa Iman adalah perkataan
dan perbuatan. Dan tidak ada perbuatan tanpa adanya niat. Dalam
pandangan mereka, keimanan bertambah disebabkan perbuatan ketaatan
[kepada Allah ] dan berkurang disebabkan karena ketidaktaatan. Dalam
pandangan mereka setiap perbuatan ketaatan adalah bagian dari
keimanan... Mengenai ahli fiqih yang tersisa dari ijtihad pribadi (ahl al-
ra’i) [selain Abu Hanifah] dan para ulama yang meriwayatkan dari Hijaz,
Syam, dan Mesir, termasuk Malik bin Anas, al-Laith bin Saad, Sufyan at-
Tsauri, al-Auza’i, as-Syafi’i, Ahmad bin Hammbal, Ishaq bin Rahawaih,
Abu Ubaid al-Qasim bin Salam, Daud bin Ali, at-Tabari dan ulama-
ulama yang mengikuti jalan mereka, mereka semua mengatakan bahwa
Iman adalah perkataan dan perbuatan. [Mereka berkata bahwa] perkataan
itu dengan lisan, yang merupakan pengakuan iman, kepercayaan dalam
hati dan amalan dengan anggota tubuh. Semua itu [harus] dengan
kemurnian kepada Allah dengan niat yang tulus. Mereka juga
mengatakan bahwa setiap perbuatan ketaatan kepada Allah , apakah itu
wajib atau sunnah, adalah bagian dari Iman.
2
Sahl Ibnu Abdullah at-Tustari, salah satu sufi terdahulu, pernah ditanya, “Apa itu Iman?”
dan dia menjawab, “[itu adalah] perkataan, perbuatan, niat dan [mengikuti jalan] sunnah. Karena
Iman hanyalah sebuah perkataan tanpa perbuatan maka itu adalah kekafiran. Jika perkataan dan
perbuatan tanpa niat [yang tepat], itu adalah kemunafikan. Jika perkataan, perbuatan, dan niat
tanpa [mengikuti jalan] sunnah itu adalah bid’ah.”
3
Perkataan yang sama telah diriwayatkan dari
Ali bin Abu Thalib, al-Hasan al-Basri, al-Auza’i, Sufyan at-Tsauri dan Said bin Jubair.
4
Hati itu adalah penggerak dibalik semua perbuatan. Oleh karena itu, jika hati dipenuhi
dengan Iman dengan cinta pada Allah , takut pada Allah , berharap pada Allah - hati yang
1
Dikutip dari Ibnu Taimiya, al-Iman, hal. 197.
2
Lihat Muhammad al-Magharawi. Fath al-Baar fi al-Tartib al-Fiqhi li-Tamhid Ibnu Abdul Baar (Riyadh: Majmuat
al-Tahaf al-Nafais al-Dauliya, 1996), jilid 1, hal. 432 dan hal. 436.
3
Dikutip oleh Ibnu Taimiyah, al Iman, hal.43. Sahl Ibnu Abdullah al Tustari adalah salah satu sufi dalam Islam. Ini
adalah jalannya yang para Sufi saat ini nyatakan bahwa mereka mengikutinya. Namun, sebagaimana dapat dilihat
dari kutipan ini, kebanyakan sufi saat ini jelas telah meninggalkan jalan dari para sufi terdahulu karena kurangnya
kesetiaan pada Syariat dan mereka mengikuti praktik-praktik dan keyakinan yang tidak ada tuntunannya dalam
sunnah. Sahl Ibnu Abdullah telah dengan jelas menyatakan bahwa perbuatan semacam itu tidak ada tetapi bid’ah
dan bukan merupakan bagian dari Iman, bahkan jika perbuatan-perbuatan itu disertai dengan “niat yang baik”.
4
Lihat Jamal Badi, Al-Athar al-Warada an Aimat as-Sunnah fi Abwab al-Itiqad (Riyadh: Dar al-Watn, 1416 H.),
jilid 2, hal. 462, fn.3.
Islamic Online University Hadits 102
229
dipenuhi dengan Iman akan mendorong tubuh untuk mengerjakan perbuatan dalam ketaatan dan
menjauh dari hal-hal yang haram, dan bahkan untuk perbuatan-perbuatan yang diragukan dan
dipertanyakan. Sebab itu, pada kenyataannya, tidak ada Iman yang benar dan kuat di dalam hati
dan tidak tercermin pada perbuatan-perbuatannya. Itu sama sekali tidak mungkin. Pendapat Ibnu
Taimiya dalam masalah ini dinyatakan dengan jelas dalam perkataannya,
Tidak dapat dibayangkan bahwa ada seorang manusia yang beriman
dengan kepercayaan yang tetap di dalam hatinya yang Allah telah
mewajibkan kepadanya shalat, membayar zakat, berpuasa dan
mengerjakan haji dan dia menjalani seluruh hidupnya tanpa sekalipun
bersujud kepada Allah atau tidak pernah berpuasa pada setiap bulan
Ramadhan, tidak pernah membayar zakat semata-mata demi Allah dan
tidak pernah mengerjakan haji ke Baitullah. Ini tidak mungkin. Ini
mungkin hanya terjadi jika orang tersebut memiliki sifat kemunafikan
dan menentang Islam
1
di dalam hatinya. Itu tidak akan terjadi dengan
keimanan yang sungguh-sungguh. Untuk alasan ini Allah 
menggambarkan orang-orang yang menolak untuk bersujud sebagai
kafir...
2
Dalam pembahasan yang sama, Ibnu Taimiya membuat poin penting lainnya: Iman ini
harus tercermin dalam ritual-ritual amal, seperti shalat dan puasa, karena Allah telah
mewajibkan amalan-amalan semacam itu. Tidaklah cukup bahwa orang itu jujur dalam
ucapannya, melaksanakan keprcayaannya dan sebagainya. Ini semua tidak cukup selama orang
tersebut tidak memiliki Iman yang menuntunnya kepada ritual-ritual amalan tersebut. Ibnu
Taimiya sampai pada kesimpulann ini karena bahkan orang-orang Jahiliyah, Yahudi dan Nasrani
percaya dan mengerjakan amalan-amalan itu. oleh karena itu, seseorang tidak dapat dianggap
beriman kepada Allah dan rasul-Nya jika dia tidak mengerjakan ritual-ritual yang secara
khusus diwajibkan dalam pesan dari Nabi .
3
Hubungan antara keimanan yang sungguh-sungguh dan perbuatan, mungkin satu alasan
mengapa Allah sangat sering menggambarkan orang-orang beriman dengan perbuatan yang
mereka kerjakan. Jika keimanan yang sungguh-sungguh benar-benar ada di dalam hati,
perbuatan-perbuatan baik yang sesuai harus mengikuti. Hanya saja tidak terbayangkan jika hal-
1
Kata yang Ibnu Taimiyah gunakan adalah zandiqah, yang berarti seseorang secara lahiriah menunjukkan bahwa
dia adalah seorang Muslim sementara di dalam hatinya dia membenci dan menentang Islam.
2
Ibnu Taimiyah, Majmu, jilid 7, hal. 611.
3
Ibnu Taimiyah, Majmu, jilid 7, hal. 621.
Islamic Online University Hadits 102
230
hal yang dari dalam berada pada tingkatan keimanan yang luar biasa dan perbuatan-perbuatan
dari luar itu justru tidak menunjukkan keimanan itu sama sekali.
Inilah mengapa seorang yang beriman harus selalu menjadi “orang yang tunduk” atau
Muslim. Kepercayaan dari dalam hatinya mendorongnya untuk tunduk secara lahiriah. Pada poin
ini, al-Khattabi menulis,
Seorang Muslim dapat menjadi seorang mukmin
1
beberapa waktu, dia
juga mungkin tidak menjadi seorang mukmin selama beberapa waktu.
Namun, seorang mukmin adalah Muslim di setiap waktu. Ini karena dasar
dari Islam adalah tunduk dan patuh. Dasar dari Iman adalah keyakinan
dan pengakuan. Seseorang dapat tunduk secara lahiriah sementara dia
tidak tunduk secara batin. Tetapi dia tidak akan dapat beriman di dalam
hati sementara diluar tidak tunduk. Oleh karena itu, setiap mukmin adalah
seorang muslim tetapi tidak setiap muslim adalah mukmin.
2
Demikian pula, Ibnu Taimiya menuliskan,
Apabila keyakinan benar-benar ada di dalam hati, amalan-amalan sama
sekali tidak akan menunda untuk mengikutinya. Pengakuan yang lengkap
dan cinta yang tepat kepada Allah tidak dapat ada di dalam hati jika
tidak memiliki pengaruh utama terhadap amalan-amalan luar. Untuk
alasan ini, Allah telah menolak keyakinan dari orang-orang yang tidak
memenuhi konsekuensi-konsekuensi yang diperlukan. Ketiadaan
konsekuensi yang diperlukan adalah sebuah penolakan pada faktor
penentu tersebut. Contohnya, Allah berfirman Sekiranya mereka
beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang
diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil
orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong” (al-Maidah 81).
Dan, “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada
Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya” (al Mujadilah 22). Luar dan dalam
harus saling berjalan bersama. Perbuatan-perbuatan luar tidak dapat
menjadi baik dan tulus kecuali hal-hal yang dari dalam baik dan tulus.
1
Seorang Muslim adalah orang yang tunduk secara lahiriah kepada Allah sedangkan seorang mukmin adalah
orang beriman yang memiliki keimanana yang nyata di dalam hatinya.
2
Dikutip dalam al-Husain al-Baghawi, Sharah as Sunnah (Beirut: Muassasat al-Risalah, 1983), hal. 11.
Islamic Online University Hadits 102
231
Jika hal-hal yang di dalam tulus, maka amalan-amalan luar itu juga harus
tulus.
1
Namun, masalahnya di sini sedikit rumit. Tidak ada permasalahan jika amalan
merupakan bagian dari Iman, dalam pengertian bahwa Iman yang sungguh-sungguh menuntun
kepada perbuatan-perbuatan dan ada hubungan yang lansung antara perkembangan yang cepat
ataupun lambat dalam Iman dan amal. Namun, menurut Ahlul Sunnah wal Jamaah, sebagaimana
dapat dengan jelas dibuktikan dari al-Quran dan sunnah, seseorang tidak meninggalkan area
Islam hanya karena melakukan sebuah dosa. Oleh karena itu, apa sebenarnya perbedaan antara
bagian-bagian ini? Ibnu al-Izz telah menawarkan sebuah jawaban untuk pertanyaan
membingungkan ini:
Ini juga telah dijelaskan bahwa qawl (“perkataan’) ada dua jenis: qawl
dalam hati yaitu keyakinan (i’tiqad), dan qawl pada lisan yaitu
mengucapkan pengakuan Islam. Demikian pula ‘amal (amal) ada dua
jenis: amalan dalam hati, yaitu niat dan keikhlasan, dan amalan tubuh.
Ketika semua yang empat ini hilang, maka Iman juga hilang seutuhnya.
Ketika keimanan (tasdiq) dalam hati hilang, tiga yang lainnya tidak akan
berguna bagi seseorang; tasdiq adalah keadaan dari kebenaran dan
maknanya. Apabila ada tasdiq di dalam hati tetapi yang lainnya tidak lagi
ada, ini adalah keadaan dimana perselisihan muncul [apakah orang
seperti itu masih beriman atau tidak].
Tidak ada keraguan bahwa tidak adanya kepatuhan pada tubuh berarti
kurangnya kepatuhan pada bagian hati. Karena apabila hati tunduk, tubuh
juga menyerah dan taat; di samping itu, apabila, hati tidak tunduk maka
tidak akan ada persetujuan yang akan menunjukkan dalam ketaatan. Nabi
berkata, “Ada segumpal daging di dalam tubuh. Jika itu baik, maka
baiklah anggota badan yang lain. Jika itu rusak, maka rusak pula yang
lainnya. Ketahuilah! Itu adalah hati.”
2
Ini artinya jika seseorang memiliki
hati yang baik, maka tubuhnya [dan amalnya] akan menjadi baik.
Sebaliknya ini tidak benar.
3
Namun, masalahnya adalah ketika bagian
dari Iman tersebut hilang, keseluruhan Iman hilang hanya dalam arti
bahwa Iman tersebut tidak lagi utuh, tetapi bukan dalam artian bahwa
1
Ibnu Taimiyah, Majmu, jilid 18, hal, 272. Lihat juga Abdul Razaq Mash, Al-Jahl bi-Masail al-Itiqad wa Hukmubu
(Riyadh: Dar al-Watn, 1996), hal. 63-75.
2
Potongan sebuah hadits dalam Bukhari Muslim.
3
Pada umumnya, orang-orang munafik mungkin nampak melakukan amal shaleh di luar tetapi mereka juga
menampilkan tanda-tanda keshalehan yang palsu.
Islamic Online University Hadits 102
232
Iman itu hilang secara utuh. Iman tersebut hanya lemah [tidak hilang
seutuhnya].
Keimanan itu seperti kecerdasan yang berbeda-beda dari satu orang ke
orang lainnya. Meskipun setiap orang memiliki kecerdasan inti yang
membuatnya seperti seorang yang berakal dan membedakannya dari
orang yang tidak waras, sebagian orang-orang pastinya lebih cerdas
dibanding yang lainnya. Hal ini juga jelas bahwa keyakinan yang
menimbulkan amalan dalam hati itu lebih lengkap daripada keimanan
yang tidak menimbulkan itu semua. Demikian pula dengan ilmu yang
seseorang amalkan, itu lebih lengkap daripada ilmu yang seseorang tidak
amalkan. Sederhananya, yang tidak dapat menciptakan apapun itu lebih
lemah daripada yang dapat menciptakan apapun. Nabi berkata, “Orang
yang mengatakan sesuatu tidak sama dengan orang yang melihatnya.”
1
Ketika Nabi Musa diberitahukan bahwa umatnya telah menyembah
seekor anak sapi dia tidak melemparkan papan-papan batu tersebut ke
bawah. Dia melemparkan itu semua hanya ketika dia dengan jelas
melihat umatnya menyembah anak sapi tersebut. Alasannya adalah bukan
karena dia ragu akan informasi yang Allah berikan padanya. Alasannya
bahwa arti penting suatu hal di informasikan,terkadang tidak disadari
sejauh itu ketika dilihat. Nabi Ibrahim alaihissalam, berkata, “Ya
Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan
orang mati? (Allah) berkata: apakah kamu tidak percaya? Dia berkata:
saya percaya, tetapi agar tenang hatiku.” (al-Baqarah 260).
Kenyataannya, beriman kepada kalimat iman (kalimah), “tidak ada tuhan
selain Allah”, cahayanya bervariasi dari hati ke hati. Faktanya, ada
banyak derajat dalam cahaya keimanan yang hanya diketahui oleh Allah
. Dalam beberapa hati cahayanya bersinar seperti sinar matahari, pada
hati lainnya seperti bintang, beberapa seperti sebuah lampu yang besar,
sebagian seperti nyala lilin, dan sebagian seperti sebuah lampu yang
kerlap-kerlip. Itulah mengapa, pada Hari Perhitungan kelak, cahaya dari
orang-orang beriman akan bersinar sesuai dengan kuatnya keimanan
mereka dalam mengesakan Allah , dan mulianya amalan-amalan
mereka. Sebagaimana cahaya dari kalimah meningkat, keraguan dan
kekafiran terbakar habis sampai seseorang mencapai sebuah tingkat
dimana semua ketidakpastian dan kebimbangan hancur seutuhnya. Ini
adalah tingkat orang beriman yang sungguh-sungguh dalam tauhid
dimana beratnya imannya sepenuhnya aman dari segala serangan orang-
1
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Tabarani. Dengan kalimat berbeda hadits tersebut telah diriwayatkan oleh
Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim. Hadits tersebut sahih menurut Albani, catatan kaki untuk Sharah, hal. 335.
Islamic Online University Hadits 102
233
orang jahat. Orang yang mengetahui ini akan memahami makna dari
perkataan Nabi , Allah mengharamkan dari neraka, bagi siapa yang
mengucapkan laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang benar disembah
selain Allah) yang dengannya mengharap wajah Allah
1
atau “Tidak
akan masuk neraka bagi yang mengatakan, “Tidak ada tuhan selain
Allah.”
2
tidak ada keraguan bahwa orang yang telah memiliki keikhlasan yang
teguh di dalam hatinya, tidak akan melakukan dosa, yang tidak dapat
dihindari oleh nafsu dan keraguan. Jika seseorang tidak dirugikan oleh
nafsu dan keraguan, seseorang mungkin tidak akan melakukan banyak
dosa. Namun, pada saat melakukan sebuah dosa, dia akan sibuk dengan
dosa tersebut, dan dosa itu menghilangkan keikhlasannya dan
diperingatkan akan ancaman siksaan. Oleh karena itu, dia berdosa.
3
Iman Bertambah dan Berkurang
Meskipun berbicara secara historis ada beberapa perdebatan pada pertanyaan ini, sangat
jelas dari al-Quran bahwa Iman seseorang bertambah dan berkurang.
4
Contohnya, Allah 
berkata,
1
Potongan dari sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
2
Muslim memiliki hadits tersebut dalam riwayat dari ‘Ubadah bahwa Nabi bersabda, “seseorang yang
menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul-Nya, Allah tidak akan
membiarkannya masuk ke Neraka. Muslim dan Bukhari memiliki hadits dari riwayat Anas bahwa Nabi 
bersabda, “Allah tidak akan membiarkan seseorang masuk ke Neraka bagi mereka yang telah bersaksi bahwa tidak
ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya.” Namun, hadits-hadits ini tidak harus dipahami secara
sendiri, tanpa memperhatikan apa yang teks-teks lainnya nyatakan; berbagai ayat al-Quran dan sejumlah hadits
dari Nabi menyatakan bahwa orang-orang yang berdosa diantara orang-orang beriman akan disiksa untuk
sementara waktu di dalam Neraka dan kemudian di keluarkan. Mereka harus memenuhi syarat dan menjelaskan
arti bahwa orang-orang yang bersaksi tentang keesaan Allah dan kerasulan Muhammad tidak akan masuk
neraka.
3
Ibnu Abu al-Izz, jilid 2, hal. 460-462.
4
Ulam-ulama yang menyamakan iman dan tasdiq (pengakuan, kepercayaan) berpendapat bahwa tidak ada yang
dinamakan keimanan yang naik atau turun. Pendapat mereka memiliki dua kekurangan. Pertama, iman tidak sama
dengan tasdiq. Tasdiq itu sendiri bermacam-macam, sebagaimana yang harus diperhatikan secara singkat dalam
sebuah referensi dari Ibnu Taimiyah. Ini juga mengatakan bahwa Abu Hanifah percaya bahwa iman tidak
bertambah dan berkurang. W. Al-Umari tidak menganggap ini benar dan berpikir itu tidak dapat dibayangkan jika
seseorang seperti Abu Hanifah yang memiliki ilmu dan kedudukan dapat sampai pada posisi yang jelas salah. Dia
percaya bahwa Abu Hanifah sedang menyanggah pemahaman Mutazilah, orang-orang yang berdosa akan berada
di Neraka selamanya, dan sanggahanya atas pemahaman mereka tidak disampaikan dengan tepat dalam konteks
yang benar dari dirinya dan inilah yang menuntun orang-orang untuk berpikir bahwa Abu Hanifah tidak percaya
bahwa Iman itu bertambah dan berkurang. Ct., W, al-Umari, hal.109-110.
Islamic Online University Hadits 102
234
⬧◆◆➔◼⧫⧫◆
☺◼⧫◆◼◆
⧫❑➔◆❑⧫⧫
“Dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada
Tuhanlah mereka bertawakkal. (al-Anfal 2).
⧫◆⧫➔

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. (Maryam
76)
⧫◆◆➔⧫
⬧◼⧫⧫◆◆➔⬧
◆⧫
⧫◆⧫❑➔
⧫⧫◆⧫
❑⧫◆◆
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami
menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya
orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah
imannya” (al-Mudatsir 31).
◆❑➔✓⧫⧫⬧
❑➔➔⧫✓⬧☺
☺☺
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya
keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)” (al-Fath 4).
⧫⧫⬧⬧
⬧❑➔◆⬧➔❑⧫⬧
➔⧫⬧☺❑⬧◆◆
➔◆◆❑
Islamic Online University Hadits 102
235
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang
yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia[250] telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang
kamu, karena itu takutlah kepada mereka", Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan
mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik
Pelindung". (ali Imran 173).
Mengomentari ayat-ayat ini, Ibnu Abu al-Izz menuliskan,
Sangat jelas, seseorang tidak dapat mengatakan bahwa peningkatan yang
disebutkan pada ayat terakhir dan pada ayat-ayat lainnya berarti
peningkatan objek iman (atau aspek yang harus dipercayai oleh
seseorang). Apakah terdapat sesuatu dalam kalimat, Suatu pasukan
yang besar berkumpul melawanmu,” yang berkaitan dengan beberapa
aspek tambahan yang harus dipercaya oleh seseorang? Apakah
ketentraman yang Allah turunkan ke dalam hati menambah objek iman?
Allah menurunkan ketenangan dalam hati-hati mereka setelah mereka
kembali dari perang Hudaibiyah untuk menambah ketentraman dan
keyakinan mereka. Hal ini didukung oleh ayat, “… Mereka (orang-orang
munfaik) pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada
keimanan…(ali-Imraan 167) dan pada ayat, Dan apabila diturunkan
suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang
berkata, "Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya
dengan (turunnya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka
surat ini menambah imannya, sedangkan mereka merasa gembira. Dan
adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka
dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping
kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir” (at-
Taubah: 124-125). [ yang terdahulu menekankan pada melemahnya iman
dan yang terakhir adalah meningkatnya iman.]
1
Tidak ada masalah tentang terdapat perbedaan dalam amalan lahiriyah manusia. Hal ini
merupakan sebuah refleksi dan sebuah aspek dari peningkatan atau penurunan iman. Seseorang
tidak harus percaya, meskipun demikian, itu hanyalah bentuk dari fluktuasi iman.
Sesungguhnya, semua aspek keimanan dipaparkan dalam kemungkinan ini, termasuk atau
khususnya amalan-amalan hati. bahkan tingkatan kepercayaan” atau keyakinan dalam hati
dapat berubah pada setiap orang dan keyakinan pada setiap orang pasti berbeda dari satu orang
1
Ibnu abu al-Izz, vol. 2, hal. 479.
Islamic Online University Hadits 102
236
dengan orang lainnya. Sesungguhnya, barangsia yang cinta kepada Allah , takut kepada Allah
, percaya kepada Allah dan aspek lain dari hati mungkin yang paling rentang berubah-ubah
dan fluktuatif.
Mungkin setiap individu telah mengalami kenyataan sebagaimana yang dijelaskan dalam
ayat-ayat tersebut di atas. Kadang-kadang, seseorang sangat sadar akan keberadaan Allah  dan
takut serta cinta kepada-Nya. perasaan yang kuat dalam hati setiap orang membawa ketentraman
dan kehangatan kepada orang tersebut dan juga menjaganya dari perbuatan dosa. Tidak hanya
itu, hal tersebut juga mendorong seseorang untuk berkorban dan bekerja lebih keras untuk Allah
. Contoh, dia menjadi sangat gelisah jika tak bisa bangun sholat di malam hari, sebagai, atau
bersedekah hanya untuk Allah . Akan tetapi, di lain waktu, mungkin saat urusan dunia ini
meliputi dirinya, pikiran dan keterikatannya kepada Allah tidak sebaik itu. Dia tidak merasakan
perasaan iman yang luar biasa itu dalam hatinya. Kualitas tingkah laku dan tindakannya tidaklah
sama seperti di lain waktu. Ketika dia berada pada tahap ini, ketika dia berpikir untuk bangun di
malam hari untuk sholat atau bersedekah hanya untuk Allah , jiwanya terlalu lelah atau tidak
ingin berkorban. Ini tidak lain hanyalah fluktuasi iman di dalam hati seseorang. Mungkin ada
saat dimana seseorang berada pada level keimanan yang tinggi dan mengingat Allah. Ketika dia
berbaur dengan urusan duniawi, keluarga dan teman-temannya, dia mungkin tidak berada di
level yang sama. Kejadian seperti itu pernah terjadi pada Abu Bakar, yang dikenal sebagai as
Siddiq. Sebuah hadits dalam Sahih Muslim menyebutkan bahwa Abu Bakar meminta Handhalah,
sahabat yang lainnya, apa yang telah dia lakukan. DIa menjawab bahwa saya telah melakukan
suatu kemunafikan. Dia menjelaskan dengan mengatakan bahwa ketika mereka sedang bersama
Nabi dan di ingatkan tentang Surga dan Neraka. Kemudian mereka seperti sedang melihat
Surga dan Neraka. Abu Bakar menyatakan bahwa dia juga mengalami yang seperti itu. ini adalah
sesuatu yang alamiah. Orang tersebut harus belajar untuk menghargai waktu-waktu itu ketika dia
berada pada tingkat iman yang paling tinggi dan menjaga itu semua selama mungkin.
Bahkan tingkat keyakinan dan ilmu di dalam hati berbeda dari orang-ke orang dan dari
waktu ke waktu. Ibnu Taimiya mengatakan bahwa kepercayaan dari dalam hati seseorang yang
hanya mengetahui hal-hal umum dalam ajaran Nabi tidak akan sama dengan seseorang yang
mengetahui secara rinci kehidupan dan ajaran dari Nabi . Demikian pula dengan, orang yang
mengetahui nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, kehidupan di Akhirat dan sebagainya akan
Islamic Online University Hadits 102
237
berbeda tingkatan keyakinan dan ilmunya dengan orang yang tidak memiliki ilmu semacam itu.
1
Ibnu Taimiya juga berpendapat bahwa orang yang mengetahui bukti-bukti dari kepercayaannya
dan mengenal kesalahan dari kepercayaan lainnya akan menjadi lebih kuat dan lebih hebat
daripada orang yang tidak menyadari hal-hal tersebut.
2
Ibnu Taimiya menyimpulkan bahwa tidak ada yang dapat berubah-ubah di
dalam hati seorang manusia selain hati. Dia berkata bahwa orang-orang harus bisa
untuk mengetahui fakta ini ketika mereka memikirkan salah satu bagian dari iman, itu
adalah cinta. Orang-orang mengenal perbedaan tingkat cinta mereka sendiri. Cinta
terkadang hanyalah menunjukkan sebuah keinginan untuk bersama atau dekat dengan
orang yang dicintai. Namun, cinta itu dapat sampai pada tingkat dimana seseorang
tidak dapat hidup tanpa kehadiran orang yang dicintai itu.
3
demikian pula iman, cinta
kepada Allah adalah satu bagian, sangat dapat berubah-ubah.
Masalah tentang iman bertambah atau berkurang ini bukan hanya sebuah
masalah konsep dimana para ulama dimasa lalu berbeda. Apabila seseorang merasa
bahwa dia memiliki iman dan iman sifatnya tetap, dia tidak akan berjuang keras untuk
meningkatkan imannya dan dia tidak akan takut atau tidak memperhatikan
berkurangnya imannya. Pendapat ini sendiri dapat menjadi sangat berbahaya untuk
imannya karena orang itu mungkin tidak tmengenali tanda-tanda apabila imannya
sedang berkurang. Iman dapat berkurang pada sebuah tingkat dimana seseorang pantas
untuk dihukum. Bahkan, iman dapat berkurang sampai pada sebuah tingkat bahwa
iman itu sebenarnya meninggalkan seseorang secara utuh dan dia keluar dalam
lingkaran Islam.
Kesimpulan lainnya, sebagaimana Warnaidh al-Umari sampaikan, tidak ada
batas untuk kebesaran dan kesempurnaan sifat-sifat Allah . Oleh karena itu, tidak ada
yang mampu mencapai batas
1
Ibnu Taimiyah, Majmu, jilid 7, hal. 564.
2
Ibnu Taimiyah, Majmu, jilid 7, hal. 565-566.
3
Ibnu Taimiyah, Majmu, jilid 7, hal. 566-567.
Islamic Online University Hadits 102
238
Iman yang Sempurna dan Iman yang Kurang
Allah berfirman dalam al-Quran,
⬧⬧⧫◆
➔❑⬧➔⬧◆❑❑➔
☺◼☺⬧◆⧫
☺❑➔➔◆
❑➔➔⬧❑◆◆
⧫☺
❑→▪
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum
beriman, tapi Katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu;
dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala
amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (al Hujurat 14).
Dalam ayat ini, Allah membedakan antara Iman dan Islam. Namun, ini jelas bahwa orang-
orang badui bukanlah orang-orang munafik, tidak berguna sama sekali keyakinan apapun yang
ada di dalam hatinya. Jika begitu keadaannya, tetap saja ayat ini mungkin tidak berarti apapun
karena orang-orang semacam itu yang secara utuh keyakinannya tidak berguna tidak akan
diberikan pahala atas ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa yang digambarkan
diatas adalah sebuah keadaan dimana Iman yang sungguh-sungguh dan sempurna belum hadir di
dalam hati mereka. Namun, mereka tidak keluar dari lindungan Islam meskipun mereka tidak
pantas disebut sebagai orang-orang beriman yang sungguh-sungguh atau sempurna.
Bukhari dan Muslim keduanya meriwayatkan hadits berikut
Islamic Online University Hadits 102
239
“Saad meriwayatkan: Rasulullah menghadiahkan [beberapa hadiah] bagi sekelompok orang
dan Saya sedang duduk diantara mereka. Rasulullah meninggalakan seseorang dan tidak
memberikannya apapun. Saya pikir dia adalah orang yang paling baik diantara mereka. Jadi Saya
berdiri dibelakang Nabi dan berkata, Wahai Rasulullah , bagaimana dengan si fulan. Demi
Allah , Saya dapatkan dia adalah orang yang beriman.” Rasulullah menjawab, “Dia mungkin
[hanyalah] seorang Muslim.” Saya tetap diam sesaat tetapi kemudian Saya tidak dapat menahan
diriku dan berkata lagi kepada Rasulullah , “Wahai Rasulullah , bagaiman dengan fulan?
Demi Allah , Saya dapati dia adalah seorang yang beriman.” Beliau berkata, “Dia mungkin
[hanyalah] seorang Muslim.” Saya tetap diam selama beberapa saat dan kemudian apa yang Saya
ketahui tentang orang itu membuat Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah , bagaiman dengan
fulan? Demi Allah , Saya dapati dia adalah seorang yang beriman.” Rasulullah menjawab,
“Dia mungkin [hanyalah] seorang Muslim.” Saya seringkali menghadiahkan sesuatu bagi
sesorang
Dalam hadits ini Rasulullah juga membedakan orang-orang yang benar-benar atau
sepenuhnya beriman dan seorang Muslim. Apa yang dapat diperoleh dari hadits di atas adalah
bagi seseorang, untuk disebut sebagai orang yang sungguh, sempurna, atau benar-benar beriman,
Islamic Online University Hadits 102
240
dia harus memenuhi keadaan dan kewajiban dalam Iman. Jika ada yang kurang dari semua itu,
maka dia tidak pantas untuk disebut orang yang beriman.
1
Tetapi dia belum keluar dari
lindungan Islam. Sebaliknya, dia telah pindah dari tingkatan yang mulia yang disebut dengan
orang “beriman” ke tingkat menjadi seorang “Muslim”.
Ini adalah sebuah hal yang sangat penting untuk dipahami karena, ketika disalahpahami,
hal ini menuntun ke kebingungan yang banyak. Faktanya, hal ini menimbulkan lebih dari
sekedar kebingungan, ini dapat mengarahkan seorang Muslim untuk menyebut Muslim yang
lainnya sebagai kafir. Seorang yang kafir adalah orang yang meninggalkan Islam sepenuhnya.
Muslim adalah orang yang berada di dalam lingkaran Islam dengan mengerjakan amalan-amalan
luar dalam Islam. Namun, seorang Muslim mungkin tidak mengerjakan hal-hal yang diwajibkan
dalam keyakinan itu, untuk dapat disebut sebagai orang yang beriman dalam arti yang
sesungguhnya, khususnya untuk amalan-amalan hati. Dengan kata lain, orang beriman, dalam
arti yang seseungguhnya adalah orang yang tunduk sepenuhnya artinya, memenuhi kewajiban-
kewajiban dalam Islam tetapi, sebagai tambahan untuk itu, memenuhi semua sifat-sifat dan
kewajiban-kewajiban pada orang yang benar-benar beriman. Sebab itu, dia termasuk sebagai
seorang yang beriman. Namun, tidak setiap Muslim tidak harus orang yang benar-benar dan
sepenuhnya beriman dalam arti yang sesungguhnya.
Poin ini harus diingat ketika seseorang membaca hadits seperti ini:
“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya
sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.) Dengan kata
lain, tidak seorangpun yang benar-benar dan sepenuhnya beriman bertemu semua antara
kewajiban dan kebutuhan dalam bagian Iman sampai dia mencintai mencintai untuk
1
Orang seperti ini mungkin masih disebut “beriman” dalam artian untuk membedakan orang Islam dari orang kafir.
Dalam hal ini Nabi berkata tentang budak wanita yang dibebaskan, “Dia dibebaskan karena dia adalah orang
yang beriman,” setelah beliau bertanya padanya, “Dimana Allah?” dan “Siapa Aku?” Ct., W. Al-Umari, hal.31.
Islamic Online University Hadits 102
241
saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya. Ini adalah salah satu bagian yang dibutukan
untuk menjadi orang yang benar-benar dan sepenuhnya beriman.
1
Hadits lainnya menyatakan,
Seorang pezina ketika berzina bukanlah orang [yang sungguh-sungguh] beriman. Seorang
pencuri ketika mencuri bukanlah orang [yang sungguh-sungguh] beriman. Seorang pemabuk
ketika meminum minuman keras bukanlah orang [yang sungguh-sungguh] beriman.”
(diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Hadits yang sama menyatakan,
“Apabila seorang hamba berzina, keluarlah Iman dari darinya dan berada di atas
kepalanya seperti naungan, maka apabila dia telah bertaubat, kembali lagi iman itu
padanya.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi.
2
) Ibnu Taimiya pernah ditanya tentang makna
dalam hadits ini dan apakah ini harus diterima sesuai teks aslinya?
Pada masa Rasulullah , sebagian orang melakukan perzinahan, mencuri,
dan meminum khamr. Nabi tidak menganggap mereka sebagai kafir
ataupun beliau tidak menutup hubungan antara mereka dan orang-orang
Muslim. Sebaliknya, beliau mencambuk orang ini dan memotong tangan
yang lainnya. Pada saat yang sama, beliau juga mencoba mengampuni
mereka...
Sebagian mengatakan bahwa Iman orang-orang semacam ini masih
lengkap tanpa adanya kekurangan sedikitpun... perkataan itu
1
Aliran-aliran yang berbeda telah berada pada perbedaan yang sangat besar dalam menafsirkan hadits dengan sifat-
sifat seperti itu atau hadits yang menggambarkan orang-orang yang mengerjakan amalan-amalan tertentu.
Penafsiran yang benar adalah yang diberikan dalam teks di atas. Di satu sisi, Murjiah memahami teks-teks ini
2
Al-Hakim dan Abu Daud memiliki sesuatu yang sangat sama. Hadits itu tingkatnya sahih menurut Albani. Lihat
Muhammad Nasir Ad Din al-Albani, Sahih al Jami al Saghir (Beirut: al Maktab al Islami, 1986), jilid 1, hal. 162.
Islamic Online University Hadits 102
242
bertentangan dengan al-Quran, sunnah, dan kesepakatan para ulama
terdahulu dan orang-orang yang mengikuti mereka... pendapat Ahlul
Sunnah wal Jamaah adalah istilah orang beriman tidak sepenuhnya
dihilangkan dari mereka ataupun diberikan kepada mereka tanpa syarat.
Kita katakan [mengenai seseorang yang mengerjakan amalan-amalan
semacam itu]: Dia adalah orang yang beriman yang memiliki kekurangan
dalam imannya. Atau, dia adalah orang beriman yang berkaitan dengan
imannya dan seorang yang fasiq (jahat) yang berkaitan dengan dosa besar
yang dia kerjakan. Atau, seseorang mengatakan bahwa dia bukan orang
yang sungguh-sungguh beriman atau dia tidak memenuhi keimannya
dengan ikhlas.
[seseorang bertanya:] Apakah Iman manapun menerima hadits ini dengan
teks aslinya? Pertanyaan ini tidak jelas. Jika yang seseorang maksud
dengan pernyataan tersebut bahwa makna sebenarnya dalam hadits ini
adalah seorang pezina adalah seorang yang kafir, maka tidak satupun dari
para Imam yang memahami hadits ini dalam arti seperti itu. Namun,
bagaimanapun juga ini bukanlah makna yang sebenarnya dari hadits
tersebut. Perkataan Nabi, Iman keluar darinya dan berada di atasnya
seperti sebuah naungan.” Menunjukkan bahwa Iman sepenuhnya
meninggalkannya.
Pandangan yang benar adalah inti sebenarnya dalam tasdiq (percaya dan
membenarkan) yang membedakannya dari orang kafir tidak ada. Namun,
apabila tingkatan tasdiq tersebut tetap ada pada tingkatan sebelumnya,
seseorang akan meyakini dan membenarkan bahwa Allah telah
melarang dosa besar itu dan mengancam dengan sebuah siksaan untuk
itu. [Dia juga akan mengetahui] bahwa Allah melihat dan
menyaksikannya; dan juga, Allah , dengan kebesaran-Nya, kehormatan-
Nya, keagungan-Nya dan kebanggaan-Nya membenci perbuatan tersebut.
Oleh karena itu, ketika dia melakukan perbuatan itu, satu dari tiga hal ini
mungkin benar: (1) keyakinannya sedang membingungkan dan kacau,
memikirkan bahwa ancaman siksaan tersebut tidak sama dengan yang
dinyatakan... (2) Dia telah lalai dan tanpa perhatian bahwa perbuatan
tersebut terlarang, (3) Atau nafsunya telah sepenuhnya mendahuluinya
dan mengalahkan pengaruh Iman tersebut... [Imannya] telah menjadi
seperti pikiran orang yang sedang tidur atau mabuk. [Artinya, Imannya
tersebut tidak memiliki pengaruh pada dirinya sama sekali.]...
Ini dapat diketahui bahwa Iman yang sebenarnya itu tidak lagi berada di
dalam dirinya seperti yang telah terjadi. Iman itu tidak nyata dan tidak
lagi ada di dalam hatinya... [Keadaannya sama dengan jiwa orang yang
Islamic Online University Hadits 102
243
sedang tertidur. Dalam beberapa keadaan, orang itu mati sementara dia
tertidur [sedangkan dalam hal lain dia masih hidup]
Demikian pula dengan pezina, pencuri dan pemabuk belum kehilangan
Iman yang dapat menjaga mereka berada selamanya di dalam Neraka.
Oleh karena itu, syafaat dan ampunan masih diharapkan bagi mereka. Dia
masih memiliki hak untuk menikah dan hak warisan [selama dia belum
keluar dari lindungan Islam]...
1
Ada satu tingkatan lagi yang melebihi “orang beriman” dan itu adalah muhsin, orang
yang digolongkan dengan ikhsan (sangat baik ibadahnya pada Allah ). Setiap muhsin harus
menyentuh semua keadaan pada Muslim dan orang beriman. Sebab itu, setiap muhsin adalah
orang Muslim dan orang yang beriman. Namun, tidak setiap orang beriman adalah muhsin.
Menjadi seorang muhsin adalah tingkatan yang paling tinggi daripada menjadi seorang mukmin
ataupun seorang Muslim.
Perbedaan tingkatan iman, Islam, dan ihsan membawa ke beberapa pertanyaan yang
sangat penting. Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan kenyataan bahwa orang-orang kafir
akan berada di Neraka selamanya sedangkan orang-orang beriman mungkin terlebih dahulu akan
disiksa di Neraka kemudian diangkat dari Neraka dan dimasukkan ke Surga atau mereka
mungkin lansung masuk ke Surga tanpa dihukum terlebi dahulu di dalam Neraka. Oleh karena
itu, ini masuk akal untuk menanyakan yang berikut ini:
2
(1) Apa tingkatan yang paling rendah atau dasar dalam Iman yang akan mencegah
seseorang menjadi kafir di dalam Neraka selamanya?
(2) Apa tingkatan Iman yang harus seseorang penuhi untuk selamat dari siksaan di
Neraka?
(3) Apa tingkatan Iman yang akan mengangkat seseorang ke derajat yang paling tinggi di
Surga?
Semua pertanyaan ini akan di bahas secara terpisah.
(1) Apa tingkatan Iman yang paling rendah yang akan mencegah seseorang dari
siksaan di Neraka selamanya? Yang paling rendah dan merupakan dasar atau pokok-pokok
dalam keimanan yaitu kewajiban atas setiap Muslim setiap saat dimana seseorang telah
1
Ibnu Taimiya, Majmu, jilid 7, hal. 670-676. Umumnya, penafsiran ini adalah penafsiran sebagian besar ulama.
Lihat al-Mubarakfuri, jilid 7, hal. 375-377.
2
Lihat al-Misri, hal. 55.
Islamic Online University Hadits 102
244
memenuhi kewajiban yang paling rendah dalam tasdiq (percaya, membenarkan) dan inqiyad
(tunduk, berserah diri). Semua ini terdiri atas:
(a) Meyakini hal apapun yang seseorang ketahui berasal dari Rasulullah begitu
juga dengan kesiapan untuk meyakini semua informasi-informasi baru yang seseorang terima
dari Rasulullah . Artinya, seseorang menerima, mengakui, dan menyadari bahwa dia harus
meyakini hal apapun yang benar-benar diriwayatkan oleh Rasulullah . Ini termasuk hal apapun
yang orang itu ketahui pada saat ini begitu juga dengan hal apapun yang orang itu mungkin
pelajari di masa depan.
1
(b) Ketaatan pada hal apapun yang seorang ketahui berasal dari Rasulullah 
begitu juga dengan kesiapan untuk taat pada semua informasi-informasi baru yang seseorang
terima dari Rasulullah yang sebelumnya tidak dia ketahui. Maksudnya adalah setiap Muslim
memiliki kehendak, keinginan dan pengakuan bahwa dia wajib untuk taat pada apapun yang dia
ketahui berasal dari Nabi begitu juga dengan memiliki kehendak dan keinginan untuk taat
terhadap apapun yang akan dia pelajari di masa depan. Meskipun seorang Muslim mungkin tidak
benar-benar taat pada segala sesuatu dalam al-Quran dan sunnah, hal yang terpenting adalah dia
meyakini dan memahami bahwa itu adalah kewajiban atas dirinya untuk taat pada segala sesuatu
yang didapatkan di dalam al-Quran dan sunnah. Ini adalah kebenaran yang paling rendah yang
diwajibkan pada seseorang.
Ini menyentuh kaidah yang sangat penting, khususnya untuk yang baru memeluk Islam.
Meyakini Islam berdasarkan pada banyaknya bukti-bukti dan fakta-fakta yang luar biasa dalam
Quran dan kebenaran dari Nabi . Yakin tidak berarti bahwa setiap orang beriman telah
menemukan atau membuktikan setiap hal dalam Quran dan sunnah. Bahkan, ada banyak hal
yang manusia mungkin tidak memiliki ilmu atas itu. demikian pula, dalam ketidaktahuannya, ada
banyak hal yang orang kafir mungkin meyakini bahwa kebalikannya adalah kebenaran, keadilan,
atau lebih bermanfaat.
2
Kebenaran yang tidak diragukan lagi dalam Quran dan sunnah tidak
cukup untuk orang itu untuk menyadari bahwa segala sesuatu yang datang dari Quran dan
sunnah adalah benar. Ini adalah Iman yang benar yang setiap Muslim yang baru memeluk Islam
harus pahami. Sebab itu, kapanpun saat ini dia membaca sesuatu di dalam Quran atau hadits-
1
Ini mungkin termasuk meyakini segala hal yang akan diuraikan secara singkat pada bab berbeda tentang keimanan
yang disebutkan dalam hadits Jibril ini.
2
Contohnya, seseorang mungkin tidak melihat kebijaksanaan, keadilan atau hak milik pada pembagian warisan
yang berbeda antara laki-laki dan wanita
Islamic Online University Hadits 102
245
hadits sahih yang sebelumnya dia tidak mengetahuinya, dia memiliki kemauan untuk
menerimanya dan menjalankannya karena dia mengetahui sepenuhnya dengan baik kebenaran
dari Quran dan Nabi .
Inilah apa yang Ibnu Taimiya katakan sebagai al-Iman al-Mujmal atau keimanan yang
umum dan tak menentu. Apabila seseorang hanya memenuhi kewajiban-kewajiban yang paling
rendah ini, dia tidak pantas mendapatkan panggilan kehormatan “orang beriman” atau “orang
yang benar-benar beriman”. Namun, jika dia memenuhi kedua hal ini dan tidak membantahnya
atau meniadakannya dengan keyakinan, perkataan atau perbuatan apapun maka dia akan
menyelamatkan dirinya dari kufr (tidak percaya) dan berada di dalam Neraka selamanya. Dengan
kata lain, hanya dengan memenuhi keadaan ini, dia tetap dalam lindungan Islam dan itu adalah
kunci untuk selamat dari Neraka.
Tingkatan yang paling rendah ini dapat dianggap sebagai tingkatan dalam Islam, seperti
yang Allah tunjukkan dalam memberi petunjuk kepada orang-orang badui.
Ibnu Taimiya menuliskan tentang orang-orang yang memeluk Islam atau orang-orang
yang terlahir dari keluarga Muslim tetapi tidak memiliki waktu lebih untuk mempelajari tentang
Islam. Beliau mengatakan, orang-orang ini mentaati Allah dan Rasul-Nya yang terkait dengan
dasar-dasar dalam Islam. Sebab itu, mereka dalam lindungan Islam. Namun, keimanan yang
sebenarnya membutuhkan waktu untuk masuk ke dalam hati mereka. Keimanan itu datang secara
berangsur-angsur, seperti ilmu, pemahaman seseorang dan meningkat dengan pasti.
1
Ini mungkin
adalah keadaan yang berhubungan dengan orang-orang badui yang telah diuraikan dalam ayat di
atas pada surah al-Hujurat. Allah telah menyatakan masalah mereka itu dengan cara yang
indah yang menunjukkan bahwa Iman yang sesungguhnya akan sampai pada mereka tetapi pada
saat wahyu itu turun dalam ayat-ayat tersebut, hal tersebut tidak ada disana.
2
Ini adalah hal yang penting. Khususnya untuk orang yang baru masuk Islam, ini harus
disadari bahwa ada tingkatan yang lebih besar dalam Iman yang sedang menantinya jika dia
dengan tulus kembali kepada Allah dan mencari petunjuk-Nya. Allah menghendaki, Iman
yang sesungguhnya ini akan muncul ketika kaum Muslimin memahami Al Quran dengan baik.
1
Ibnu Taimiya, al-Iman, hal.257.
2
Salah Al-Khalidi, Fi Dhilal al-Iman (al-Zurqa, Jordan: Maktabah al-Manar, 1987), hal.42.
Islamic Online University Hadits 102
246
Ketika dia banyak bergaul dengan orang-orang yang sholeh dan orang-orang berilmu, dan ketika
dia lebih mentaati Allah dan ketika dia lebih banyak menjalankan sunnah dalam kehidupannya.
Allah menghendaki, Imannya akan terus tumbuh sampai dia menjadi seorang yang benar-benar
dan sepenuhnya beriman yang Allah memujinya di dalam Quran. Dia kemudian akan
merasakan manisnya Iman. Dengan kata lain, apabila dia puas dengan keimanan yang sedikit dan
kepatuhan yang sedikit kepada Allah , dia mungkin menutup semua jalan untuk meningkatkan
Imannya dan untuk dekat kepada Allah .
Karena itu, seseorang seharusnya tidak puas dengan hanya berada pada tingkat “Islam”.
Tingkatan ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak melakukan hal yang banyak untuk
mendapat keridhaan Allah . Dia tidak bekerja untuk cinta, rahmat dan ampunan Allah .
Sebaliknya, mungkin itu berarti dia sedang menampakkan dirinya pada ketidaksenangan dan
siksaan Allah di Akhirat. Satu detik siksaan Allah di dalam Neraka akan jauh lebih besar
dibandingkan siksaan apapun yang mungkin diterima oleh siapapun di dunia ini, meskipun
manusia banyak mengeluh tentang penderitaan mereka di dunia. Di hari perhitungan, siapapun
akan dengan cepat menyadari bahwa ridha Allah akan lebih berarti dibandingkan apapun yang
ada di sunia ini.
(2) Apa tingkatan Iman yang harus seseorang penuhi untuk selamat dari siksaan di
dalam Neraka? Apabila seseorang melewati kewajiban-kewajiban yang paling rendah dalam
Iman dan memenuhi semua kebutuhan itu begitu juga dengan hal-hal (paling rendah) yang
diwajibkan dalam Iman itu, maka dia telah berpindah dari tingkat yang paling bawah dalam Iman
ke tingkat yang paling tinggi. Ini adalah tingkatan dimana dia melaksanakan semua hal yang
diwajibkan dalam Iman. Di sinilah dia melaksanakan gambaran tentang orang yang benar-benar
beriman sebagaimana yang ditentukan dalam Quran dan sunnah.
Jika seseorang melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang berkaitan dengan
keimanan dan kepatuhan kepada Allah dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang, maka
dia tidak akan masuk ke dalam Neraka; dia pantas untuk disebut orang yang beriman dalam arti
sesungguhnya. Dia yang memenuhi gambaran orang-orang beriman sebagaimana yang terdapat
dalam Quran. Dia adalah orang yang memiliki ciri-ciri berikut. Contohnya:
Islamic Online University Hadits 102
247
☺❑⬧☺⧫
⬧⧫➔◼◆❑➔➔
⬧◆◆➔◼⧫⧫◆
☺◼⧫◆
◼◆⧫❑➔◆❑⧫⧫
❑☺◼❑◼
☺◆◆◆❑→
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang
mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada
mereka.” Dalam ayat berikutnya, Allah berkata tentang orang-orang yang memiliki ciri-ciri
tersebut:
⬧➔⧫❑⬧☺
⚫◆
◼◆⧫⧫◆◆

“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa
derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”
(3) Apa tingkatan dalam Iman yang akan mengangkat seseorang ke tingkat yang
paling tinggi di dalam Surga? Ini adalah orang-orang yang Imannya sempurna. Mereka tidak
hanya memiliki yang dibutuhkan seperti halnya bagian-bagian yang diwajibkan dalam Iman,
tetapi mereka melampaui itu. Mereka banyak mengerjakan amalan-amalan yang lebih dari
penting dan wajib. Mereka juga mengerjakan amalan-amalan sunnah atau amalan yang. Mereka
mengerjakan itu sebagai dampak dari begitu kuatnya Iman mereka dengan kata lain, besarnya
Islamic Online University Hadits 102
248
cinta mereka, rasa takut dan berharap pada Allah . Oleh karena itu, mereka unggul dalam
ibadah mereka kepada Allah .
1
Ibnu Taimiya berkata, Orang-orang yang mengikuti Sunnah dan Hadits menyatakan
bahwa semua amalan yang baik, yang wajib begitupun yang sunnah, adalah bagian yang tidak
dapat terpisahkan dari Iman. Artinya, itu semua merupakan bagian dari Iman yang diselesaikan
dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah yang dicintai, meskipun mereka bukan merupakan
hal-hal yang wajib dalam Iman. Mereka membedakan antara Iman dan Iman yang lengkap
melalui hal-hal yang disunnahkan... kata lengkap’ [atau ‘sempurna’] mungkin berarti lengkap
dalam arti bahwa bagian-bagian yang wajib itu telah dipenuhi atau lengkap dalam arti bahwa
bagian-bagian tambahan atau yang disunnahkan tersebut telah dipenuhi.”
2
Nabi berkata,
Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih
3
, yang paling utama adalah ucapan
‘Laailaahaillallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang
mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan
4
Sesungguhnya, orang yang
didorong oleh keimanannya untuk membuang sesuatu yang berbahaya dari jalan semata-mata
demi Allah telah melampaui hal-hal yang paling rendah atau diwajibkan dalam Iman. Karena
keimanannya kepada Allah tersebut, dia akan menghentikan dan membuang sesuatu yang
berbahaya dari jalan. Satu-satunya hal yang mendorongnya adalah Imannya.
Singkatnya, Ibnu Taimiya berpendapat bahwa Iman itu terdiri atas:
1
Mungkin dapat digambarkan bahwa tingkatan pertama adalah Islam, tingkatan kedua adalah Iman dan tingkatan
ketiga adalah Ihsan.
2
Ibnu Taimiya, al Iman, hal. 186.
3
Ada keraguan dari salah satu perawi.
4
Diriwayatkan oleh Muslim.
Islamic Online University Hadits 102
249
(1) Pokok-pokok atau dasar-dasar tanpa Iman adalah sesuatu yang sepenuhnya tidak ada:
Apabila seseorang gagal untuk memenuhi salah satu dari hal tersebut, dia keluar dari
Islam dan akan tetap selamanya di dalam Neraka.
(2) Hal-hal yang diwajibkan: Apabila seseorang lalai untuk memenuhi salah satu dari
hal-hal ini, dia mungkin pantas untuk disiksa di Akhirat. Namun, orang yang lalai
hanya pada hal-hal ini dia tidak akan selamanya di Neraka. Sebaliknya, dia akan
diselamatkan oleh rahmat Allah dan dimasukkan ke dalam Surga. Seseorang
akan dimasukkan kedalam Surga, apabila orang itu mengerjakan semua hal ini,
dengan karunia dan rahmat dari Allah , dia secara lansung masuk ke dalam
Surga tanpa terlebih dahulu terkena siksaan apapun atas apa yang kurang dalam
Imannya.
(3) Amalan-amalan yang disunnahkan atau disukai: Amalan-amalan ini yang
membedakan para penghuni Surga satu dengan yang lainnya. Ini adalah amalan-
amalan yang akan menentukan berbagai derajat pahala dan kedudukan dalam
Surga yang telah digambarkan dalam Quran dan hadits.
Ibnu Taimiya kemudian mengutip ayat berikut dalam al-Quran sebagai rujukan
untuk ketiga sifat-sifat pada orang-orang Muslim-beriman-mereka yang unggul”:
▪➔◆◆⧫⧫
◆⬧⧫⧫☺⬧
⬧◆◆⧫
◆◆
⬧◆❑➔

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara
hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di
antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat
kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.” (Fatir 32).
Islamic Online University Hadits 102
250
Masuk Surga Dikaitkan Dengan Orang Beriman
Ibnu Taimiya juga menjelaskan bahwa janji Surga selalu dikaitkan dengan orang beriman
atau yang memiliki keyakinan. Sebagai contoh, tidak ada ayat yang menjanjikan Surga bagi
orang-orang ‘Muslim’. Hanya ada janji yang diberikan kepada orang-orang beriman tanpa syarat
atau orang-orang yang memiliki keimanan dan mengerjakan amalan-amalan yang baik.
1
Contohnya, Allah berfirman,
⧫◆✓⬧☺
⬧☺◆
⧫⧫
⧫◆⧫⬧⧫
◆❑◆⧫⬧
◆❑➔❑→➔
“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-
tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah
keberuntungan yang besar.” (at-Taubah 72). Contoh untuk jenis yang kedua yaitu,
◆❑⧫◆
❑➔☺⧫◆⬧⚫
⧫

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi
mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya...” (al-Baqarah 25).
Setelah perang Khaibar, para Sahabat Rasulullah mengomentari sebagaian Muslimin
yang gagah berani yang telah gugur dalam peperangan. Mereka berkata, “Fulan adalah seorang
syuhada, fulan adalah seorang syuhada.” Mereka kemudian mendatangi jasad seseorang dan
mengatakan bahwa dia adalah seorang syuhada dan Nabi mengatakan kepada mereka bahwa,
“Sungguh tidak, karena Aku telah melihatnya di dalam Neraka dikarenakan sebuah jubah atau
1
Ibnu Taimiya, al-Iman, hal. 226.
Islamic Online University Hadits 102
251
pakaian dari harta rampasan yang dia telah dia salah gunakan.” Kemudian Nabi berkata
kepada Umar bin Khattab,
“Wahai Ibnu al-Khattab, pergi dan sampaikan kepada orang-orang bahwa tidak akan ada yang
masuk Surga kecuali orang-orang beriman.” (H.R Muslim)
Bagi setiap orang, ini hanya pada saat dia telah disucikan dari kesalahan-kesalahan dan
dia kemudian memenuhi kewajiban-kewajiban yang kemudian dia akan dimasukkan kedalam
Surga. Al-Umari menuliskan,
Point yang penting di sini adalah: ketika pengaruh dan bekas perbuatan
jahat dihilangkan oleh taubat atau dihapus oleh amalan-amalan yang baik
atau penderitaan atau dimasukkan ke dalam Neraka dan kita melihat
perlindungan Allah dari hal tersebut dan tidak ada yang tertinggal
dari Muslim kecuali Iman yang mereka miliki, dan Iman yang
sebenarnya tidak dapat disangkal olehnya, maka dia akan masuk ke
dalam Surga sebagai seorang yang beriman, bahkan jika Imannya lebih
rendah dari Iman orang yang lainnya.
1
Iman, Islam dan Ihsan
Sebagian orang sangat dibingungkan oleh penggunaan kata Iman dan Islam. Apakah
Iman dan Islam sebenarnya sama, menunjukkan satu dan hal yang sama?
2
Apakah sebenarnya
satu dan yang lainnya saling menyiratkan. Jika betul, bagaimana Iman itu seringkali dibedakan
1
W. al-Umari, hal.27. Perhatikan bahwa ada hadits lainnya tentang seorang laki-laki yang membunuh dirinya
dikarenakan lukanya setelah peperangan yang penuh keberanian. Dalam hadits tersebut, sebagian riwayatnya
mengatakan, “Tidak satupun yang akan masuk Surga kecuali orang beriman,” sedangkan yang lainnya
mengatakan, “Tidak satupun yang akan masuk ke dalam Surga kecuali seorang Muslim.” Riwayat yang paling
kuat adalah yang menyatakan, “orang beriman”.
2
Iman dan Islam adalah satu dan sama adalah pandangan dari banyak ulama terdahulu, termasuk Imam Bukhari.
Namun, sebagaimana dapat dilihat dari hadits yang Bukhari sendiri meriwayatkan dalam Sahihnya, ketika Iman
dan Islam disebutkan secara tersendiri dan bukan dalam konteks masing-masing, keduanya merujuk kepada satu
dan hal yang sama; Jika semua itu disebutkan secara bersama dalam satu konteks, keduanya itu merujuk kepada
dua kaidah yang terpisah.
Islamic Online University Hadits 102
252
dari Islam, sebagaimana dalam hadits Jibril. Jalan keluar dari semua pertanyaan ini sangat
sederhana dan bersumber pada poin-poin berikut:
(1) Jika Iman disebutkan sendiri, tidak bersama dengan Islam, maka referensi pada Iman
termasuk semua amalan luar dalam Islam yang dianggap secara khusus bagian dari
Islam. Artinya, jika kata Iman digunakan tersendiri, maknanya meliputi dan
menunjukkan amalan-amalan dalam Islam.
1
(2) Jika kata Iman digunakan bersama dengan Islam, maka Iman hanyalah sebuah
referensi untuk amalan-amalan dan kepercayaan dalam hati dan bukan amalan-
amalan luar yang merupakan pengertian dari Islam.
2
(3) Demikian pula, jika Islam disebutkan sendiri, tidak bersama dengan Iman, maka itu
juga temasuk Iman sebagai bagian dari maknanya; artinya, sebagai contoh, seorang
“Muslim” adalah orang yang memiliki setidaknya syarat-syarat paling rendah dalam
Iman.
(4) Jika Islam digunakan bersama dengan Iman, maka Islam adalah sebuah referensi
untuk amalan-amalan luar dalam ketaatan kepada Allah sedangkan Iman adalah
referensi untuk amalan-amalan dalam hati dan keyakinan dari orang tersebut.
3
(5) Demikian pula, kata Ihsan mencakup baik Islam dan Iman ketika itu digunakan
sendiri. Namun, ketika digunakan bersama dengan Islam dan Iman, sebagaimana
dalam hadits Jibril, hadits itu memiliki makna yang spesial dan berbeda dari kata
Islam dan Iman. Hanya untuk pelengkap atau kedua kata itu telah disebutkan dengan
jelas.
Ibnu Abu al-Izz memiliki pembahasan yang panjang dan rinci yang membuktikan poin-
poin di atas. Ini adalah terjemahan yang sangat ringkas tentang apa yang dia telah tulis:
Telah disampaikan bahwa ‘amal (amal) seringkali disebutkan bersama
dengan Iman ini menunjukkan bahwa amal tidak termasuk dalam
pengertian tambahan dalam Iman. Hal pertama yang harus diperhatikan
1
Contohnya, Allah berkata “Mereka yang beriman hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kemudian mereka
tidak ragu-ragu” (al-Hujurat 15). Di sini, orang-orang beriman tidak hanya memiliki keimanan di dalam hatinya
tetapi, karena kebutuhan, mereka juga tunduk pada aturan-aturan luar dalam Islam.
2
Contohnya, Allah berkata, “Laki-laki dan perempuan Muslim dan laki-laki dan perempuan mukmin...” (al-Ahzab
35).
3
Sungguh (2) dan (4) pada dasarnya sama.
Islamic Online University Hadits 102
253
pada keterkaitan ini adalah Iman disebutkan [di dalam teks] dalam dua
cara. Terkadang disebutkan tersendiri, dan tidak ada amalan-amalan
tertentu atau Islam yang disebutkan bersama dengan itu; dan terkadang
disebutkan bersama dengan sebuah amalan sholeh atau islam. Pada
perkara yang pertama, Iman tentu saja termasuk amal. Contohnya,
“Orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama
Allah, gemetar hatinya” (al-Anfal 2), atau “Mereka yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya, dan kemudian mereka tidak ragu-ragu” (al-Hujurat
15), Mereka hanyalah orang-orang yang benar-benar beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya” (an-Nur 62).
Pada perkara yang kedua dimana amal-amal sholeh yang berkaitan
dengan Iman. Maksudnya adalah Iman berbeda dari amal meskipun
penyebutannya satu. Namun, perbedaannya adalah derajatnya yang
bermacam-macam...
1
Telah diriwayatkan dalam Sahih tersebut bahwa Nabi berkata kepada
utusan dari suku ‘Abd al-Qais yang mengunjungi beliau, “Aku
perintahkan kepadamu untuk beriman kepada Allah semata. Tahukah
kamu, apakah arti dari beriman kepada Allah semata? Yaitu bersaksi
bahwa tiada tuhan selain Allah, mendirikan shalat, membayar zakat dan
memberikan seperlima bagian dari harta rampasan perang.”
2
Secara
jelas, Nabi tidak bermaksud dengan itu bahwa amal-amal ini bisa
disebut dengan Iman pada Allah tanpa keyakinan di dalam hati. Di
beberapa kesempatan beliau menegaskan perlunya Iman di dalam hati.
Oleh karena itu, sudah pasti bahwa Iman adalah amal-amal ini yang
disertai dengan keyakinan di dalam hati. Bukti apa yang lebih besar dari
hadits Nabi tersebut yang dapat menunjukkan bahwa amal-amal
tersebut adalah termasuk bagian dalam keimanan? Beliau mengartikan
Iman dalam istilah amal dan tidak menyebutkan keyakinan (tasdiq)
dalam hati, karena ini diketahui dengan baik bahwa amal-amal tersebut
tidak memiliki nilai jika ada penolakan di dalam hati...
Kesimpulannya: Jika Islam dan Iman disebutkan bersama [dalam satu
kalimat] itu berbeda keadaannya ketika salah satunya disebutkan tanpa
yang lainnya. Islam adalah Iman seperti dua persaksian bersaksi pada
kenabian Muhammad berhubungan dengan bersaksi pada keesaan
Allah - . Pada dasarnya dua persaksian ini adalah dua hal yang berbeda
meskipun maksud dan pengaruh dari salah satunya berkaitan dengan
1
Ibnu Taimiya telah membahas bentuk yang bermacam-macam dalam perbedaan tersebut di dalam Majmu al-
Fatawa, jilid 7, hal. 172-181.
2
Diriwayatkan oleh Bukhari dan muslim.
Islamic Online University Hadits 102
254
maksud dan pengaruh dari yang lainnya, seperti jika kedua hal tersebut
adalah satu. Keadaan yang sama juga terjadi pada Islam dan Iman. Tidak
seorangpun yang dapat memiliki Iman tanpa islam, tidak juga islam tanpa
Iman. Seseorang harus memiliki islam pada tingkat tertentu agar dapat
membuktikan Imannya, sama halnya, seseorang harus memiliki Iman
agar dapat membuktikan keislaman seseorang.
1
Sebuah contoh: Yakin pada sesuatu yang tak terlihat
Sebelum melangkah pada pembahasan tentang apa yang seorang Muslim seharusnya
yakini, sebuah kesimpulan yang penting dari pembahasan di atas harus dinyatakan dengan jelas:
Iman yang benar dan sempurna mengharuskan seseorang untuk beramal sesuai dengan apa yang
telah dia Imani. Contohnya, Iman yang benar pada hal al-ghaib (tidak terlihat) berarti orang
tersebut percaya dengan sungguh-sungguh di dalam hatinya pada yang tidak terlihat itu dan
kepercayaan ini di dalam hatinya memiliki beberapa dampak dalam hidupnya dan amal-amalnya.
Oleh karena itu, kepercayaan, tidak hanya sebuah teori atau persoalan kecerdasan di
dalam hati yang tidak mempengaruhi seseorang meskipun menurut sejarah sebagian telah
berpendapat bahwa hal semacam ini adalah perkataan yang benar secara bahasa. Contohnya,
seseorang mungkin percaya bahwa merokok adalah suatu hal yang berbahaya dan salah dengan
menerima fakta-fakta yang menunjukkan merokok adalah suatu yang berbahaya adalah benar,
tetapi dia tetap melanjutkan untuk merokok dan dia tidak membiarkan apa yang dia ketahui
kebenarannya menuntun perbuatannya. Dengan kata lain, dia tidak tunduk pada kebenaran yang
dia lihat dia tidak juga menjalankan apa yang dimaksudkan itu. Karena itu, pengakuannya pada
fakta-fakta tersebut tidak sama seperti “kepercayaan” atau iman. Iman
Dalam masalah Iman, jika Iman tersebut kuat dan sehat pada saat itu, maka Iman itu
akan menaruh rasa benci dalam hati seseorang untuk amalan yang dia percaya salah atau
berbahaya. Itu akan menjaga seseorang dari keinginan untuk melakukan perbuatan-perbuatan itu.
Sehingga, Iman itu akan mengatur hidupnya dan akan menuntunnya melakukan apa yang dia
seharusnya lakukan. Jika Iman itu lemah dan dapat dikuasai oleh pengaruh-pengaruh di dalam
hati, Iman itu mungkin tidak memiliki pengaruh.
1
Ibnu Abu al-Izz, jilid 2, hal. 483-487.
Islamic Online University Hadits 102
255
Oleh karena itu, keyakinan yang sungguh-sungguh atau iman kepada al-ghaib berarti
bahwa amalan orang tersebut sesuai dengan keyakinan itu. Contohnya, ketika dia mengatakan
bahwa dia percaya pada malaikat, itu berarti bahwa dia mengetahui bahwa malaikat itu ada dan
sebenarnya mencatat amal-amalnya. Iman ini seharusnya mempengaruhinya dalam hal tersebut,
dia tidak akan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dia tidak ingin para malaikat melihat dan
mencatatnya.
“Beliau [Rasulullah ] berkata, “Yaitu beriman kepada
Allah’”
Beriman kepada Allah adalah landasan utama pada keyakinan dalam Islam. Semua
keyakinan dalam Islam lainnya berputar diantara beriman kepada Allah . Ini adalah sebuah
keharusan seorang Muslim bahwa Iman kepada Allah adalah benar. Jika keyakinan seseorang
kepada Allah tidak benar, maka seluruh keimanannya mungkin rusak. Untuk alasan ini para
ulama Islam menggambarkan dan menjelaskan keyakinan yang benar terkait Allah dalam
beberapa perincian.
Pentingnya keyakinan yang benar tentang Allah , yang diistilahkan dengan
tauhid
1
,yang telah dijelaskan oleh Ibnu Abu al-Izz al-Hanafi. Dia menyatakan bahwa, “Sebagian
besar al-Quran, lebih dari itu semua, menunjukkan tauhid.” Dia menyimpulkan ini dengan
menunjukkan bahwa al-Quran semuanya, pada dasarnya:
(1) Membahas Nama-nama, sifat, dan perbuatan Allah , dan ini adalah bagian dari
tauhid dalam ilmu dan ketaatan.
(2) Menyeru orang-orang untuk hanya menyembah Allah , tanpa menganggap ada
sekutu apapun pada-Nya dan meninggalkan segala hal yang disembah selain
daripada-Nya, dan ini adalah tauhid dalam niat dan perbuatan.
(3) Perintah, larangan, dan membutuhkan ketaatan pada-Nya, dan ini semua adalah
bagian yang benar atau maksud dari tauhid dan kesempurnaanya.
(4) Menyatakan tentang bagaimana Allah menghargai orang-orang yang beriman pada
tauhid dan bagaimana Dia memperlakukan orang-orang tersebut di dunia ini dan
1
Terkadang dalam bahasa Inggris disebut dengan dengan tawhid, tauhid, atau tawhid
Islamic Online University Hadits 102
256
bagaimana Allah menghargai mereka di Akhirat; semua ini adalah pahala untuk
tauhid.
(5) Membahas orang-orang yang menyekutukan Allah dan yang Dia telah berikan
siksaan dalam kehidupan ini atau yang akan disiksa selanjutnya, ini adalah balasan
yang setimpal bagi orang-orang yang mengabaikan tauhid.
Ibnu Abu al-Izz menyimpulkan,
Jadi keseluruhan Quran adalah tentang tauhid, konsekuensinya dan pahala untuk itu.
[Al-Quran juga membahas tentang pengingkaran dan kebalikan dari tauhid atau]
syirik,
1
semua yang melakukan itu dan siksaan yang akan mereka dapatkan atas itu.
[Ayat-ayat pembuka pada bagian pertama dalam Quran], Segala puji bagi Allah,
Tuhan seluruh alam” adalah tauhid; “Yang Maha Pengasih, Maha Penyanyang”
adalah tauhid; “Pemilik Hari Pembalasan” adalah tauhid; “Hanya kepada-Nyalah
kami menyembah dan hanya kepada-Nyalah kami meminta pertolongan” adalah
tauhid; “Tunjukanlah kami jalan yang lurus” adalah tauhid seakan-akan kita meminta
untuk diberikan petunjuk ke jalan orang-orang yang bertauhid, yaitu mereka yang
Allah telah beri nikmat, “Bukan jalan orang-orang yang dimurkai oleh Allah bukan
pula jalan mereka yang tersesat” atau, dengan kata lain, mereka yang telah
meninggalkan tauhid.
2
Isltilah tauhid, bermakna membuat sesuatu menjadi satu-satunya,” atau “menegaskan
keesaan”, adalah sebuah isltilah yang bukan berasal dari dalam Quran atau sunnah. Namun,
melihat kembali ke masa Ibnu Abbas radiallahu anhuma, istilah tersebut menjadi istilah yang
utama yang digunakan untuk mencakup segala hal tentang keimanan kepada Allah . Untuk
dapat memperjelas perkara-perkara ini, para ulama telah membagi pembahasan tauhid ke dalam
cabang-cabang yang berbeda, setiap cabang mencakup atau menjelaskan satu aspek dalam
keimanan kepada Allah yang sempurna dan benar. Tidak ada yang suci tentang pembagian-
pembagian ini atau istilah-istilahnya, meskipun semuanya telah diterima dan disampaikan oleh
para ulama selama berabad-abad. Namun, apa yang sangat penting adalah konsep atau keyakinan
yang telah dijelaskan. Banyak aliran-aliran yang menyimpang menggunakan istilah tauhid atau
1
Syirik adalah menyekutukan Allah 
2
Ibnu Abu al-Izz, jilid 1, hal. 42-43. Pada hakikatnya pernyataan yang sama dapat ditemukan dalam kitab Ibnu al-
Qayyim, Madarij as-Salikin, jilid 3, hal. 450.
Islamic Online University Hadits 102
257
perbedaan jenis dalam tauhid tetapi apa yang mereka maksud tentang hal tersebut bukanlah apa
yang telah jelas dijelaskan dari Quran dan sunnah. Oleh karena itu, hal yang sangat penting
adalah pemahaman konsep atau keyakinan itu sendiri benar sesuai dengan Quran dan sunnah.
Pembagian Tauhid ke Dalam Tiga Kategori
Cara yang dikenal baik dalam membahas tauhid adalah membagi tauhid ke dalam tiga
kategori yang berbeda.
1
Ketiga macam tauhid tersebut yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah,
2
dan tauhid asma was sifat. Untuk keterangan yang lebih cepat, Gambar 2.2 adalah gambaran dari
cara ini dalam memandang atau mengingat tauhid. Setiap bagian penting dari ketiga komponen
dalam tauhid ini akan dibahas secara terpisah.
1
Pembagian tauhid ke dalam tiga macam mungkin dapat ditemukan dalam sejumlah kitab bahasa Inggris. Mungkin,
pembahasan yang paling baik adalah dari Bilal Philips, The Fundamental of Tauhid (Dasar-Dasar Tauhid)
(Riyadh: Tawhid Publication, 1990), hal. 1-42. Dalam kitab ini, sebuah usaha akan dibuat untuk mempertegas
beberapa poin yang tidak ditemukan atau dibahas secara rinci dalam literatur-literatur berbahasa Inggris.
2
Secara khusus, kategori ini terkadang diberi nama yang sedikit berbeda, seperti tauhid al-ibadah.
Tauhid

Tauhid Uluhiyah

Tauhid Asma was sifat

Tauhid Rububiyah

Beriman kepada keesaan Allah 
yang terkait dengan perbuatan-
perbuatan-Nya, seperti Dialah
Satu-satunya Pencipta dan hanya
Satu-satunya yang memelihara
dan menjaga semua mahluk
Ini bermakna bahwa semua
perbuatan dalam ibadah harus
ditujukan lansung kepada Allah 
dan hanya kepada Allah karena
Dia adalah satu-satunya yang
berhak dan pantas untuk
disembah.
Ini berarti meyakini semua nama
dan sifat-sifat Allah sebagaimana
yang telah disebutkan dalam Quran
dan hadits-hadits sahih, seperti
mengesakan Allah , tanpa
mengingkari nama dan sifat
tersebut, menggantikannya dengan
makna apapun, mengubah
maknanya, memahami nama dan
sifat tersebut dengan arti
anthropomorphis (sifat makhluk)
atau menafsirkannya secara kiasan.
Islamic Online University Hadits 102
258
Gambar 2.2 Gambaran secara tertulis pembagian tauhid ke dalam tiga kategori
(1) Tauhid Rububiyah: Pada dasarnya, ini adalah beriman pada keesaan Allah yang
terkait dengan perbuatan-perbuatan-Nya. Ini adalah beriman kepada Allah yang terkait dengan
Kekuasaan-Nya. Dia adalah satu-satunya Tuhan (Rabb). Dia adalah satu-satunya tanpa sekutu
dalam Kekuasaan-Nya dan segala Perbuatan-Nya. Dia jugalah satu-satunya yang memelihara,
mengatur, dan menjaga semua mahluk. Semua mahluk telah diciptakan oleh-Nya dan Dia
sendiri.
Menurut syeikh Ibnu Utsaimin, semua manusia kecuali yang paling sombong dan angkuh
menerima dan mengakui aspek dalam tauhid ini, yaitu, tidak ada Tuhan dan Pencipta selain
Tuhan dan Pencipta yang satu.
1
Ini karena keyakinan ini telah tertanam di dalam sifat manusia.
Manusia mengakui dan menyadari bahwa segala ciptaan ini pasti memiliki seorang Pencipta.
Manusia juga menyadari bahwa Pencipta ini hanyalah satu. Ini telah jelas dari sejumlah ayat
dalam Quran dan bahkan orang-orang Arab Jahiliyah mengetahui dan mengakui bahwa Pencipta
yang sesungguhnya dan satu-satunya berada di atas dan melampaui berhala-berhala yang mereka
gunakan untuk menyembah. Contohnya, Allah berfirman dalam Quran,
➔☺⧫◆
→❑☺◼➔⬧ ❑❑→◆
1
Memang benar bahwa ada pencipta, pemilik, dan pengatur lainnya di dunia ini. Namun, kemampuan mereka untuk
menciptakan, memiliki, dan mengatur sangat terbatas dan tidak mutlak. Yang mutlak dalam dinia ini hanyalah
milik Allah . Ct., Ibnu Utsaimin, Sharah Hadits, hal.11-14.
Islamic Online University Hadits 102
259
➔⬧⬧➔⧫
▪◆❑☺◆◆
➔→➔
❑❑→◆➔⬧❑→⬧
 ➔⧫◼◆❑⧫
→◆❑➔◆◆
◼⧫⧫❑⬧➔⬧
 ❑❑→◆➔⬧
⬧➔
“Katakanlah: "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu
mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka Apakah kamu
tidak ingat?" Katakanlah: "Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya 'Arsy
yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: “Maka Apakah kamu
tidak bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala
sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika
kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau
demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?”” (al Mu’minun 84-89).
Namun, keyakinan tentang Allah ini juga mewajibkan atau menunjukkan hal-hal
berikut: Segala sesuatu yang terjadi pada makhluk ini sesuai dengan Ketetapan, Izin dan
Kehendak dari Allah . Rezeki dan Segala Ketentuan semuanya dari Allah dan hanya dari
Allah . Hidup dan mati hanya ada ditangan Allah . Segala Keselamatan datangnya dari Allah
. Hidayah dan kesesatan dengan kehendak dan izin dari Allah . Hukum dan ketentuan hidup
adalah hak dari Allah sendiri. Hanya Allah yang memiliki pengetahuan yang tidak terlihat. Tak
seorangpun yang memiliki hak atas Allah kecuali Allah sendiri telah menetapkan yang
seperti itu pada diri-Nya.
(2) Tauhid Uluhiyah: Ini adalah mengesakan Allah yang terkait dengan hanya Dialah
satu-satunya ilah (Tuhan, yang dipuja dan disembah). Ini adalah wujud dari tauhid seperti yang
ditemukan dalam amalan-amalan manusia atau hamba Allah . Ini adalah makna dari persaksian
Iman (Syahadat) “Tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah .” Ini adalah alasan diutusnya
Islamic Online University Hadits 102
260
para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab. Ini adalah “cobaan” atau ujian yang manusia hadapi di
dunia ini. Allah berfirman,
⧫◆→◼▪◆
➔◆
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
(ad Dzariyat 56). Allah juga berfirman,
⬧◆◆➔⬧
◼
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia” (al Isra 23).
Cabang tauhid ini adalah tujuan utama atau ajaran pokok dari para rasul dan para nabi.
Kenyataannya, ada sedikit perselisihan atau perdebatan atas jenis tauhid yang pertama tersebut.
Kebanyakan orang-orang mungkin menerima konsep dasar bahwa Tuhan dan Pencipta adalah
hanya Tuhan dan Pencipta yang satu. Namun, keyakinan ini harus mengarah pada bentuk yang
kedua dari tauhid ini dimana seseorang mengarahkan segala amal ibadahnya kepada Allah dan
hanya pada Allah . Inilah mengapa sangat banyak Rasul yang dinukil dalam Quran menyeru
umatnya.
❑⬧⧫⧫
⬧⬧
"Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya”. (al A’raf 59,
65, 83, 85; Hud 50, 61, 84; al Mu’minun 23 dan 32).
Banyak penulis telah memberikan definisi untuk jenis tauhid ini. Al-Qaisi, contohnya,
mendefinisikannya dengan cara berikut,
Ini adalah pengetahuan, keyakinan dan pengakuan bahwa Allah 
memiliki kedudukan sebagai Tuhan di atas semua makhluk-Nya. Ini
adalah jenis tauhid yang disebut dengan tauhid uluhiyah atau tauhid
ibadah mewajibkan seseorang untuk mengkhususkan Allah semata
untuk segala amal ibadah. Ini adalah keistimewaan Allah dan ketentuan
Islamic Online University Hadits 102
261
dari-Nya sebagai tujuan dari semua amal ibadah, yang di dalam dan di
luar, perkataan dan perbuatan. Ini adalah pengingkaran pada sembahan
apapun selain daripada Allah , apapun itu atau makhluk apapun itu. Ini
adalah pengingkaran adanya sekutu Allah dalam bentuk apapun dan
penolakan untuk memperuntukkan suatu ibadah apapun kepada selain
daripada Dia.
Konsep ibadah tersebut yang harus ditujukan semata-mata pada Allah 
mencakup segala hal yang dicintai dan diridhoi oleh Allah , apakah itu
berupa perbuatan atau perkataan, baik di dalam hati maupun di tubuh,
termasuk niat yang suci, cinta, rasa takut, harapan, kekaguman, berpaling
[hanya kepada-Nya], menempatkan keyakinan seseorang [hanya pada
Allah ], meminta pertolongan dan bantuan, mencari jalan untuk dekat
dengan-Nya...
1
Dia kemudian melanjutkan dengan menyebutkan amalan ibadah yang banyak,
termasuk amalan-amalan yang jelas, seperti sholat, tawakkal, puasa, menyembelih
binatang, haji dan seterusnya. Semua ini harus dilakukan semata-mata hanya untuk
Allah . Semua ini juga harus dilakukan dengan cara yang telah ditetapkan oleh
Allah dan diridhoi oleh-Nya. Mengerjakan salah satu dari semua amalan ini kepada
siapapun selain Allah meniadakan dan menghancurkan pemenuhan dan
implementasi (pelaksanaan) dari tauhid.
Definisi dari as-Sa’di memberikan beberapa keterangan yang lebih lanjut
dalam konsep ini. Dia menulis bahwa tauhid uluhiyah
Dikenal dan diketahui dengan pengetahuan dan kepastian bahwa Allah 
adalah satu-satunya Tuhan dan satu-satunya yang pantas untuk disembah.
[Ini juga untuk membuktikan bahwa] sifat-sifat KeTuhanan dan
maknanya tidak ditemukan pada setiap makhluk [dari Allah ]. Jika
seseorang mengakui itu dan mengenali itu dengan baik, dia akan menjaga
amalan-amalan dalam dan luarnya dalam penghambaan dan ibadah hanya
untuk Allah . Dia akan mengerjakan amalan-amalan luar dalam Islam,
seperti sholat,... jihad (berperang dijalan Allah ), mengajak pada
kebaikan dan mencegah keburukan (amar ma’ruf nahi munkar), berbakti
pada kedua orang tua, menjaga tali silaturahim, memenuhi hak-hak Allah
dan hak-hak makhluk-Nya... dia tidak akan memiliki tujuan apapun
selain daripada keridhoan Tuhannya dan memperoleh pahala dari-Nya.
Dalam segala urusannya, dia akan mengikuti Rasulullah .
Keyakinannya adalah apapun yang dibuktikan dalam Quran dan sunnah.
1
Marwan al-Qaisi, Malim at Tauhid (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1990), hal. 61-62.
Islamic Online University Hadits 102
262
Perbuatan dan amal-amalnya akan seperti apa yang Allah dan Rasul-
Nya telah atur. Sifat dan cara-caranya akan mencontoh nabi-Nya, pada
segala petunjuknya, perilaku, dan segala urusannya.”
1
Aspek dalam tauhid ini terdiri dari amalan dalam hati begitu juga dengan perbuatan dari
anggota tubuh. Ada dua hal secara khusus yang harus di kombinasikan dalam ibadah kepada
Allah . Al-Sa’di menyatakan,
Semangat dan perwujudan ibadah adalah dengan realisasi dari cinta dan
ketaatan pada Allah . Cinta yang sempurna dan penuh ketaatan pada
Allah adalah ibadah yang nyata. Jika amal ibadah kehilangan kedua
atau salah satu dari komponen-komponen itu, itu bukanlah ibadah yang
sesungguhnya. Karena ibadah yang nyata tersebut ditemukan pada
ketaatan dan penyerahan diri kepada Allah . Dan itu akan terjadi hanya
jika ada cinta yang sempurna dan penuh [untuk Allah ] yang menguasai
segala pernyataan cinta lainnya.
2
Jafar Syeikh Idris telah menguraikan dengan jelas proses yang seharusnya terjadi dengan
keimanan yang benar pada Allah dan bagaimana itu seharusnya mengarah kepada amalan
dalam hati yang merupakan hal yang penting dalam tauhid. Idris menuliskan,
Ketika iman masuk ke dalam hati seseorang, hal itu menyebabkan di
dalamnya ada kondisi mental tertentu, yang menghasilkan amal-amal
tertentu yang nyata, keduanya adalah bukti dari iman yang
sesungguhnya. Yang paling penting diantara kondisi mental yang ada itu
adalah rasa syukur kepada Tuhan, yang dapat disebut sebagai inti dalam
ibada (beribadah atau menyembah Tuhan).
Rasa syukur ini sangat penting sehingga orang yang tidak beriman
disebut dengan kafir yang berarti “orang yang menolak kebenaran” dan
juga “orang yang tidak bersyukur”. Seseorang dapat memahami mengapa
seperti itu ketika seseorang membaca dalam Quran bahwa alasan utama
untuk menolak keberadaan Tuhan adalah kebanggaan yang tidak dapat
dibenarkan. Seperti kebanggaan seseorang yang merasa bahwa dia tidak
diciptakan atau diatur oleh sesuatu yang harus dia akui lebih besar dari
1
Abdurrahman as-Sa’di, al-Fatawa as-Sa’diyah (Riyadh: Mansyurat al-Muassasat al-Saidiyah, n.d), hal. 10-11.
Definisi as-Sa’di memberikan fakta-fakta penting bahwa tauhid uluhiyah tersusun dari tauhid al-ikhlas (dimana
seseorang beramal semata-mata dan murni demi keridhoan Allah ), tauhid as-sidq (dimana seseorang beramal
dengan ikhlas dan jujur sesuai dengan keimanannya) dan tauhid at-tariq (dimana jalan yang seseorang ikuti
adalah satu, yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad . Untuk mengetahui lebih tentang konsep ini lihat
Muhammad al-Hammad, Tauhid Uluhiyah (Daar Ibnu Khuzaima, 1414 H), hal. 22-24.
2
Dinukil dalam al-Hammad, hal.26.
Islamic Online University Hadits 102
263
dirinya sendiri atau yang harus dia syukuri. “Orang-orang
memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan (bukti) yang sampai
kepada mereka, yang ada pada dalam dada mereka hanyalah kebesaran
yang tidak akan mereka capai” (Ghafir 56).
Pada rasa syukur karena cinta: “Dan diantara manusia ada yang
mengambil selain dari Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya
sebagaimana mencintai Allah; sedangkan orang-orang beriman lebih kuat
cintanya kepada Allah melebihi kecintaan pada siapapun” (al Baqarah
165).
Orang yang beriman mencintai dan bersyukur kepada Tuhan atas
karunia-Nya, tetapi menyadari bahwa amal-amal baiknya, entah itu
amalan batin atau lahiriah, tidak setara dengan nikmat Ilahi, dia selalu
khawatir dikarenakan dosanya Tuhan mungkin akan menahan dari
dirinya sebagian nikmat atau disiksa di Akhirat. Oleh karena itu dia
merasa takut pada-Nya, berserah diri pada-Nya, dan menyembah-Nya
dengan kerendahan hati yang besar.
1
Tidak ada ibadah yang nyata kecuali hati yang dipenuhi dengan perasaan cinta dan pujian
untuk Allah . Disertai dengan komponen-komponen lainnya yang dibutuhkan dalam berharap
pada Allah dan rasa takut pada Allah didalam hatinya. Rasa takut pada Allahmuncul ketika
seseorang benar-benar mengagungkan dan meninggikan Allah .
2
Berharap pada Allah 
mengalir dari sebuah cinta yang sempurna dan sungguh-sungguh kepada Allah . Semua
komponen ini harus dihadirkan dan dalam sebuah keseimbangan yang tepat. Jika semua itu tidak
dihadirkan sama sekali atau jika tidak dengan keseimbangan yang tepat, ibadah seseorang
menjadi menyimpang dan tidak benar.
3
Allah berkata tentang sebagian hambanya-Nya yang benar dan sholeh,
❑❑
◆⧫❑⧫◆◆
1
Jafar Syeikh Idris, The Pillars of Faith (Rukun-rukun Iman) (Riyadh: Presidency of Islamic Research, Ifta and
Propagation, 1984), hal. 9-10.
2
Terkadang seseorang atau benda ditakuti tetapi itu tidak disertai dengan cinta yang sempurna. Karena itu, rasa
takut tersebut bukanlah sesuatu yang salah dalam ibadah.
3
Ada sejumlah perkataan dari ulama-ulama terdahulu yang menekankan keseimbangan yang tepat pada perbedaan
iman dalam hati. Contohnya, disebutkan tentang rasa takut dan harapan, “Mereka seperti dua sayap burung. Orang
yang beriman terbang menuju Allah dengan dua sayapnya yaitu harapan dan rasa takut. Jika mereka semuanya
seimbang, dia terbang dengan baik. Jika salah satunya hilang, dia memiliki kekurangan. Jika keduanya hilang,
burung tersebut diambang kematian.” (Dinukil dalam al-Hammad, hal.41.)
Islamic Online University Hadits 102
264
◆◆❑◆◆⬧✓➔

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan)
perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan
mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami.” (al Anbiya 90). Mengenai hamba-hamba
yang saleh dan taat Jesus, Uzair dan para Malaikat, Allah berfirman,
⧫❑⧫◆⧫☺◆❑➔⬧⬧◆
⧫⧫
“Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya” (al-Isra 57).
1
Jenis tauhid ini adalah kunci “kehidupan yang sebenarnya”, sebuah kehidupan yang baik
dan layak. Ibnu Taimiya menulis,
Engkau harus mengetahui bahwa seorang manusia
2
membutuhkan Allah
- yang dia beribadah pada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan
sekutu apapun adalah sebuah kebutuhan yang berkaitan dengan tidak
adanya perbandingan yang dapat membuat seseorang
menganalogikannya. Dalam beberapa hal, itu serupa dengan kebutuhan
tubuh kita pada makanan dan minuman. Namun, ada banyak perbedaan
antara keduanya.
Yang nyata pada seorang manusia adalah apa yang ada didalam hati dan
jiwanya. Ini semua tidak dapat menjadi sejahtera kecuali melalui
[hubungan mereka] dengan Allah, yang berkaitan dengan tidak ada
Tuhan yang lain. [Sebagai contoh,] tidak ada kedamaian di dunia ini
kecuali dengan mengingat-Nya (dzikir). Sesungguhnya, manusia sedang
menuju kepada Tuhannya dan dia akan berjumpa dengan-Nya. Dia harus
berjumpa dengan-Nya dengan pasti. Tidak ada kebahagiaan yang
sebenarnya bagi dirinya kecuali dengan perjumpaan dengan Tuhannya.
3
Jika seorang manusia mengalami kenikmatan apapun atau kebahagiaan
yang lain selain daripada Allah , kesenangan dan kebahagiaan tersebut
tidak akan abadi. Semua itu akan berpindah dari satu keadaan ke keadaan
1
Cf., al-Hammad, hal. 34-41.
2
Kata yang digunakan oleh Ibnu Taimiya adalah abd (hamba atau budak); namun kesimpulannya adalah seorang
manusia.
3
Ini karena jiwa itu, yang tertanam dalam sifatnya, rindu pada perjumpaan dengan Sang Penciptanya.
Islamic Online University Hadits 102
265
lainnya atau dari satu orang ke orang lainnya. Orang tersebut akan
menikmati itu sekali atau hanya beberapa kali. Pada kenyataannya,
terkadang hal-hal yang dia nikmati dan dia mendapat kesenangan dari
melakukan semua itu, tidak membawanya pada kesenangan atau
kenikmatan. Terkadang itu bahkan melukainya ketika sampai padanya.
Dan dia bahkan lebih dirugikan oleh hal tersebut. Tetapi Tuhannya
pastinya selalu bersama dengannya dalam setiap keadaan dan setiap
waktu. Dimanapun dia, Tuhan selalu bersama dengannya [dengan
pengetahuan dan pertolongan-Nya]...
Jika seseorang menyembah selain Allah - bahkan jika dia mencintai itu
dan memperoleh beberapa cinta pada dunia ini dan beberapa bentuk
kesenangan dari itu [sembahan yang keliru itu] akan menghancurkan
orang tersebut dengan cara yang lebih besar daripada bahaya yang tidak
disukai yang terjadi pada seseorang yang meminum racun...
Engkau harus mengetahui bahwa jika siapapun yang mencintai sesuatu
selain selain demi Allah , maka rasa cinta pada sesuatu tersebut pasti
akan menjadi penyebab yang berbahaya dan akan diazab... Jika seseorang
mencintai sesuatu yang lain daripada cinta semata-mata demi Allah ,
sesuatu tersebut akan membahayakannya apakah itu itu bersamanya
ataupun tanpa sesuatu tersebut...
1
Agar amalan apapun diterima oleh Allah , haruslah dilakukan sesuai dengan kaidah
dalam tauhid. Dengan kata lain, jika seseorang memenuhi dan memahami bentuk dalam tauhid
ini dengan baik, dengan ketaatan, ini menunjukkan bahwa dia menerima dan menjalankan
bentuk-bentuk tauhid lainnya. Oleh karena itu, amal-amalnya mengkin diterima oleh Allah .
2
Allah berfirman,
☺⬧❑⧫◆⬧◼◆
☺➔◆⬧◆⧫⬧◆
⧫➔◼◆☺⧫◼
“Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (al-Kahfi 110).
1
Ibnu Taimiya, Majmu, jilid 1, hal. 24-29.
2
Cf., al-Hammad, Tauhid Uluhiyah, hal. 18.
Islamic Online University Hadits 102
266
Salah satu amalan yang harus dilakukan hanya kepada Allah adalah memohon atau
doa. Nabi berkata,
“Doa adalah [inti dari] ibadah.”
1
Ketika seseorang memohon atau berdoa pada yang lain, dia
sedang menunjukkan kepercayaan dan nasibnya pada yang lain tersebut. Dia sedang
mempertunjukkan kebutuhannya pada seseorang yang dia memohon padanya. Dia sedang
menunjukkan kepercayaannya pada orang tersebut atau yang memiliki kemampuan untuk
mengetahui, memahami dan memenuhi kebutuhannya. Jenis perasaan dalam hati ini yang
dilukiskan dalam doa harus diarahkan hanya kepada Allah . Inilah mengapa Nabi menyebut
doa adalah inti dalam ibadah. Karenanya, siapapun yang memohon atau berdoa kepada siapa saja
selain Allah sedang mempersekutukan Allah atau, dengan kata lain, melakukan syirik. Ini
adalah lawan dari Iman dan tauhid.
Jenis tauhid ini sebenarnya adalah sebuah konsekuensi yang diperlukan atau hasil dari
keyakinan yang benar pada tauhid rububiyah. Jika seseorang menyadari bahwa tidak ada rabb
(Tuhan) selain Allah , maka seseorang akan menyadari bahwa tidak ada yang pantas atau
berhak disembah selain Allah . Jika tidak satupun selain Allah yang pantas disembah, maka
mengapa setiap orang harus menyembah seseorang atau sesuatu selain daripada Allah ?
Pada kaidah tauhid ini, Ibnu Abu al-Izz al-Hanafi menulis,
Al-Quran penuh dengan perkataan dan perumpamaan yang terkait jenis
tauhid ini. Yang pertama itu menegaskan tauhid rububiyah, bahwasanya
tidak ada Pencipta selain Allah . Keyakinan ini wajib bahwasanya tidak
ada yang seharusnya disembah kecuali Allah . Ini membawa dalil yang
pertama [bahwa Allah adalah yang berkuasa] sebagai bukti bahwa untuk
dalil yang kedua [bahwa Allah adalah satu-satunya yang pantas untuk
disembah]. Orang-orang Arab percaya pada dalil yang pertama dan
menyelisihi dalil yang kedua. Maka Allah memperjelas itu kepada
mereka: Semenjak kalian mengetahui bahwa tidak ada Pencipta selain
1
Diriwayatkan oleh Abu Daud, An Nasai, Tirmidzi dan lainnya. Derajatnya sahih oleh Albani, Al-Albani, Sahih al-
Jami al-Saghir, jilid 1, hal. 641. Pembahasan yang luar biasa tentang hubungan antara doa dan tauhid mungkin
dapat ditemukan dalam Jailan al-Urusi, Al-Dua wa Manzalabu min al-Aqidah al-Islamiyah (Riyadh: Maktabah al-
Rushd, 1996), jilid 1, hal. 237-307.
Islamic Online University Hadits 102
267
Allah , dan bahwasanya Dia adalah Dzat yang dapat memberikan
seseorang apa yang bermanfaat baginya atau menjauhkannya dari apa
yang membahayakannya, dan Dia tidak memiliki sekutu atas semua
perbuatan-Nya, lalu bagaiman bisa kalian menyembah yang lain disisi-
Nya dan menyekutukan-Nya dalam perkara Ketuhanan-Nya? Sebagai
contoh, Allah berkata dalam Quran, Katakanlah: "Segala puji bagi
Allah dan Kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.
Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan
dengan Dia?" Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan
yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan
air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali
tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah
ada Tuhan (yang lain)? bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang
yang menyimpang (dari kebenaran). (an-Naml 59-60). Pada akhir ayat
yang serupa, Allah menyatakan, “Apakah disamping Allah ada Tuhan
yang lain?” (an-Naml 61, 63, dan 64). Ini adalah sebuah pertanyaan yang
dengan jelas menunjukkan sebuah jawaban yang salah. Mereka
menerima pendapat bahwa tidak ada satupun selain Allah yang
melakukan hal-hal semacam itu. Allah menggunakannya sebagai dalil
untuk melawan mereka. Ini tidak bermaksud menanyakan jika ada Tuhan
yang lain disamping Allah , sebagaimana yang sebagian dari mereka
telah nyatakan. Makna seperti itu tidak sejalan dengan konteks dalam
ayat-ayat dan fakta bahwa orang-orang itu sebenarnya dulu mengambil
tuhan lain disisi Allah . Seperti yang Allah katakan, “Dapatkah kamu
bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah? Katakanlah: Aku
tidak dapat bersaksi” (al An’am 19). Dan mereka dulu berkata [tentang
Nabi ], “Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja?
Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. (Sad 5).
Tetapi mereka tidak akan pernah mengatakan bahwa ada tuhan yang lain
[disisi Allah ] yang akan menjadikan bumi sebagai tempat berdiam,
yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan
gunung-gunung untuk (mengokohknannya) (an Naml 61). Mereka
menerima kenyataan bahwa hanya Allah yang melakukan semua hal
tersebut. Oleh karena itu Allah berkata, “Wahai manusia! Sembahlah
Tuhanmu yang telah menciptkan kamu dan orang-orang yang sebelum
kamu, agar kamu bertakwa. (al-Baqarah 21) dan “Katakanlah
(Muhammad), Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran
dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang
Islamic Online University Hadits 102
268
kuasa mengembalikannya kepadamu?” (al-An’am 46). Dan beberapa ayat
lainnya yang sama.
1
(3) Tauhid Asma was sifat: Kaidah yang ketiga dalam tauhid, dengan cara pandang
tauhid, adalah mengakui dan menegaskan keesaan Allah yang berkaitan dengan nama-nama
dan sifat-sifat-Nya. Seseorang harus menegaskan bahwa sifat-sifat ini sempurna dan lengkap
hanya pada Allah semata. Sifat-sifat ini terkhusus bagi Allah . Tidak ada yang lain yang dapat
memperoleh setiap sifat-sifat ini.
Sepanjang sejarah Islam, ini adalah kaidah yang lain dalam tauhid yang terkait dengan
banyaknya aliran-aliran yang menyimpang. Shuaib al-Arnauth menguraikan perbedaan
pandangan yang berkembang dalam kutipan berikut ini,
Tidak ada keraguan bahwa pembicaraan tentang sifat-sifat Allah harus
dianggap sebagai salah satu yang paling besar dan topik yang paling
penting dalam pondasi keimanan. Para ulama Islam telah berbeda
pendapat tentang perkara ini. Sebagian dari mereka mengikuti cara yang
mengingkari sepenuhnya sifat-sifat tersebut. Yang lainnya menerima
nama-nama Allah pada umumnya tetapi mengingkari sifat-sifat
tersebut. Sebagian dari mereka menerima baik nama-nama ataupun sifat-
sifat tersebut tetapi, pada saat yang sama, mengingkari atau memberikan
penafsiran pada sebagian dari nama-nama dan sifat-sifat tersebut, yang
bertentangan dengan makna aslinya [pada teks yang ditemukan dalam
Quran dan sunnah]. Sebagian dari mereka mengambil pendapat bahwa ini
adalah kewajiban untuk yakin pada semua nama dan sifat-sifat yang telah
disebutkan didalam Kitab-Kitab Allah dan sunnah yang sahih. Mereka
menerima semua itu dan menyampaikannya sesuai dengan
keterangannya, makna yang sesungguhnya. Mereka mengingkari
pemahaman apapun tentang hakikatnya (kaifiyah) dan mengingkari jenis
apapun yang sama [untuk semua sifat-sifat apapun yang selain dari Allah
]. Orang-orang pada pendapat yang terakhir ini adalah mereka yang
disebut dengan salaf [orang-orang saleh terdahulu] dan ahl as-sunnah.
2
1
Ibnu Abu al-Izz, jilid 1, hal. 37-38.
2
Syuaib al-Arnault, pengantar pada Zain al-Din al-Magdisi, Aqwal al-Tsiqat fi Ta’wil al Asma was Sifat wa al-Ayat
al-Musytabhihat (Beirut: Muassasat al-Risalah, 1985), hal. 6. Salah satu contoh terdahulu yang seseorang
menanyakan tentang sifat-sifat ini dan meminta penjelasan tentang semua itu berasal pada masa Malik. Seorang
laki-laki datang padanya dan berkata, “Wahai Abu Abdullah [Imam Malik], [tentang ayat,] ‘Allah bersemayam
diatas Arsy,” bagaimanakah bersemayam ini?” Jawaban Imam Malik adalah, “Hakikat dari perbuatan-Nya tidak
diketahui, tetapi bersemayam-Nya diatas Arsy diketahui maknanya. Meyakininya adalah sebuah kewajiban.
Menanyakan tentang itu [hakikatnya] adalah bid’ah. Dan Aku khawatir bahwa engkau termasuk orang yang
Islamic Online University Hadits 102
269
Al-Arnault menuliskan kutipan tersebut sebagai pengantar untuk kitab Aqwal al-Tsiqat fi
Ta’wil al Asma was Sifat wa al-Ayat al-Musytabhihat dari Zain al-Din al-Maqdisi. Kitab ini
mengutip ulama-ulama terdahulu untuk membuktikan bahwa pandangan tentang sifat-sifat Allah
yang dikenal dengan pemahaman salafi adalah pemahaman yang benar sesuai dengan Quran
dan sunnah. Sayangnya, adanya pemahaman yang berkembang bahwa pemahaman dari ulama-
ulama belakangan adalah pemahaman yang “lebih bijak” atau “lebih kuat”. Mereka “ulama-
ulama belakangan” tidak percaya pada sifat-sifat ini atas apa yang dapat disebut dengan “hanya
sebuah nama” dan sebaliknya menafsirkan ulang semua itu dan memberikan makna-makna baru
pada sifat-sifat tersebut. Pada pengantarnya, juga, dalam kitab al-Maqdisi, Arnaut menyatakan,
merujuk pada kepercayaan ini,
Aku yakin bahwa orang yang membaca kitab ini [kitab al-Maqdisi]
dengan penuh perhatian dan keikhlasan akan memiliki hati dan
pikirannya yang dipenuhi dengan keyakinan tentang kebenaran pendapat
dari para salaf terkait dengan sifat-sifat Allah . Ini adalah pemahaman
yang paling baik, paling kuat dan paling memberi petunjuk. Dia
[pembaca] akan menolak, dengan senang dan yakin, apa yang telah
ditulis di dalam kitab-kitab para ulama belakangan ini bahwa pendapat
dari para salaf aman tetapi pendapat dari para ulama belakangan lebih
bijak dan lebih cerdas. [Pembaca] akan dengan jelas menyatakan bahwa
pemahaman [dari ulama belakangan] tidak tepat dan bertentangan dengan
petunjuk dari sunnah dan Kitab. Perkataan yang benar sesuai dengan
sunnah Nabi dan Kitab-Kitab Allah yang merupakan cara para salaf
lebih cerdas, paling bijak dan paling selamat.
1
Keyakinan yang benar terkait pembahasan ini yang telah disampaikan pada masa Nabi
dan para Sahabatnya yang telah diringkas dengan tepat oleh al-Sadi ketika dia menulis,
Untuk keyakinan pada Allah , itu termasuk: yakin pada sifat-sifat
apapun dari Allah yang telah menjelaskan diri-Nya dalam kitab-Nya
dan sifat-sifat apapun dari Rasul-nya yang telah disifatkan pada-Nya.
[keyakinan pada semua sifat-sifat tersebut] tanpa penyimpangan atau
pengingkaran apapun, dan tanpa menyatakan bagaimana atau seperti apa
sifat-sifat itu. kenyataannya, keyakinan bahwa tidak ada yang sama
dengan Allah dan, pada saat yang sama, Dia Maha mendengar semua,
sesat.” Riwayat ini dari Imam Malik, dengan berbagai kalimat, dapat ditemukan dalam banyak kitab. Untuk
pembahasan tentang jalur dan maknanya, lihat Badi, jilid 1, hal. 226-231.
1
Al-Arnaut, pengantar untuk kitab al-Maqdisi, hal. 8.
Islamic Online University Hadits 102
270
Maha Melihat semua. Oleh karena itu, apa yang telah disifatkan pada-
Nya tidak diingkari gambaran semacam itu tidak juga menyimpang dari
maknanya yang tepat. Sebagai tambahan, nama-nama Allah tidak
diingkari, tidak juga dijelaskan bagaimana jenisnya, tidak juga
digambarkan dengan cara yang membuat sifat-sifat-Nya sama dengan
sifat-sifat dari makhluk-Nya. Ini karena tidak ada satupun dan tidak ada
yang sama atau sebanding dengan-Nya. Dia tidak memiliki teman atau
sekutu. Seseorang tidak dapat menyamakan-Nya dengan makhluk-Nya,
Dialah yang mulia dan yang Maha Besar.
Terkait dengan keyakinan pada apa yang Allah telah disifatkan dengan
sifat-sifat dan nama-nama itu, harus ada kombinasi dalam persaksian dan
pengingkaran. Ahlus Sunnah waj Jamaah tidak membolehkan
penyimpangan apapun dari apa yang telah disampaikan oleh Nabi ,
karena itu adalah Jalan yang Lurus. Yang termasuk dalam prinsip yang
sangat penting ini adalah semua perkataan dalam Quran dan sunnah yang
merincikan nama, sifat, perbuatan, dan apa yang harus dinafikkan pada-
Nya. Termasuk diantaranya adalah keyakinan pada Allah bersemayam
diatas Arsy
1
, Turun-Nya ke langit terendah, orang-orang beriman melihat
wajah Allah di Akhirat seperti yang telah ditegaskan, yang telah
dinyatakan dalam riwayat yang terus menerus. Termasuk dalam prinsip
ini adalah bahwasanya Allah itu dekat dan menjawab doa-doa. Apa
yang telah disebutkan dalam Quran dan sunnah terkait dekatnya Dia dan
Dia “bersama dengan” orang-orang beriman tidak bertentangan dengan
apa yang telah dinyatakan terkait dengan kehebatannya dan keberadaan-
Nya diatas para makhluk. Demi kemuliaan-Nya, tidak ada sama sekali
yang sama dengan-Nya yang berkaitan dengan semua sifat-sifat-Nya.
2
Dalam sebuah ayat, Allah menjelaskan bahwa keduanya tidak ada yang serupa dengan-
Nya sama sekali dan, pada saat yang sama, Dia memiliki sifat seperti mendengar dan melihat.
Allah berkata,
▪⬧☺◆❑➔◆
☺⧫
1
Sebagaimana yang al-Baihaqi telah jelaskan, yang dengan jelas dan terang ditunjukkan dalam Quran dan sunnah
yang membantah pemahaman dari aliran Jahmiyah bahwa Allah ada dimana-mana dan ada di segala sesuatu.
Lihat Abu Bakar al-Baihaqi, al-I’tiqad ala Mahdzab as-Salaf Ahlul Sunnah wal Jamaah (Beirut: Dar al-Kutub al-
Arabi, 1984), hal. 55.
2
Dinukil dari Abdullah al-Jarulah, Bahjab al-Nadhirin fima Yuslih al-Dunya wa al-Din (1984), hal. 7-8.
Islamic Online University Hadits 102
271
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan
melihat.” (asy Syura 11). Karena itu, ada pengingkaran yang penuh dari anthropomorhisme
[menyamakan dengan makhluk] pada saat menerangkan sifat-sifat Allah yang mendengar dan
melihat.
1
Kaidah tauhid ini sangat penting dan tidak seharusnya diremehkan. Muhammad Qutb
menyoroti pentingnya dalam memahami cabang tauhid ini ketika dia menulis,
Engkau tidak akan dapat untuk memenuhi bentuk yang sesungguhnya
dalam ibadah dan penghambaan, engkau tidak juga akan memperoleh
petunjuk yang benar [dalam penyembahanmu] jika engkau tidak
mengetahui yang engkau sembah dan tidak mengarahkan ibadahmu pada
sembahan tersebut artinya, jika engkau tidak mengetahui sifat-sifat
yang Dia miliki. [Engkau tidak akan dapat untuk melaksanakan ibadah
yang sesungguhnya] sampai ibadahmu didasari atas pengakuan dan
pengetahuan. Dan Allah telah menjelaskan diri-Nya dalam kitab-Nya
yang suci dengan sifat-sifat yang Dia inginkan kita untuk mengetahuinya
dan mensifatkan pada-Nya [sehingga ibadah kita pada-Nya dapat menjadi
benar dan sesempurna yang kita dapat perbuat].
2
Ahmad Salam menunjukkan bahwa sebelum kedatangan Nabi orang-orang menerima
pemahaman bahwa Allah adalah satu-satunya Sang Pencipta di Alam semesta. Namun, mereka
menyekutukan Allah dalam berbagai bentuk sembahan. Oleh karena itu, Islam datang untuk
memurnikan konsep ini yang Allah adalah Tuhan atau Rabb dan memberikan padanya
pemahaman yang benarnya. Dengan melakukan itu, maka mereka akan menyembah Allah saja
dengan sebaik-baiknya. Tetapi cara untuk mencapainya, atau hal yang pertama, adalah dengan
memberikan pengetahuan dan pemahaman yang benar pada nama dan sifat-sifat Allah . Jika
seseorang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang benar pada nama-nama dan sifat-sifat
1
Ibnu Taimiyah (begitu pula dengan muridnya Ibnu Qayyim) lawan setia dari anthropomorhisme. Tulisan-
tulisannya dengan jelas menyatakan bahwa sifat-sifat Allah terkhusus hanya pada-Nya dan tidak sama seperti
sifat-sifat manusia. Namun, sebagian orang sebenarnya telah menuduh beliau sebagai seorang anthropomorhisme.
Tuduhan ini didasari pada berbagai riwayat yang jelas-jelas salah terkait Ibnu Taimiyah, kebodohan yang berlebih
atau kebencian yang tidak adil untuk ulama ini yang menentang banyak kesesatan. [untuk lebih lanjutnya tentang
hal ini dan bantahan pada fitnah seperti itu, lihat Salah Ahmad, Da’wah Syaikh Islam Ibnu Taimiyah wa Atharuh
ala al-Harakat al-Islamiyah al-Muasirah (Kuwait: Dar ibn al-Athir, 1996), jilid 2, hal. 375-388.] Ibnu Qayyim,
dalam sebuah karyanya yang dikenal dengan al-Nuniyah, menjelaskan bahwa alasan mereka disebut sebagai
anthropomorphisme adalah karena mereka meyakini dalam Quran dan sunnah dan tidak membuat penafsiran-
penafsiran yang aneh untuk sifat-sifat Allah seperti yang kelompok lainnya lakukan. [lihat Muhammad Haras,
Sharah al-Qasidah al-Nuniyah (Cairo: Maktabah Ibnu Taimiyah, 1986), jilid 1, hal. 373-375,]
2
Muhammad Qutb, Rakaiz al-Iman (Riyadh: Daar Ishbiliyah, 1997), hal. 105.
Islamic Online University Hadits 102
272
Allah , maka orang itu tidak akan pernah berpaling ke pada siapapun atau menujukan bentuk
ibadah apapun kepada siapapun selain Allah . Karenanya, pemahaman yang benar dan
terperinci pada nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah pondasi yang sesungguhnya untuk
pelaksanaan yang benar pada jenis-jenis tauhid lainnya.
1
Lebih lanjut dia menyatakan bahwa
tauhid rububiyah seperti sebuah pohon. Maka, akarnya, adalah tauhid asma was sifat. Dengan
kata lain, tauhid rububiyah berdiri diatas sebuah pondasi, yaitu tauhid asma was. Jika akar atau
pondasi tersebut tidak ditemukan, pohon itu mungkin akan menjadi rusak dan rapuh.
2
Namun mengingat perumpamaan tersebut, sekali lagi, buah dari tauhid asma was sifat
adalah tauhid uluhiyah. Lebih banyak lagi orang yang mengetahui tentang Allah  dan sifat-
sifat-Nya, semakin banyak yang akan mencintai Allah , takut pada Allah  dan berharap pada
Allah . Secara pasti, semakin banyak seseorang mengetahui tentang Allah , semakin banyak
orang akan mencintai Allah dan menginginkan ridho Allah  dan menginginkan Allah ridho
padanya. Sebab itu, pemahaman yang benar pada nama-nama dan sifat-sifat Allah sangat
penting dan bermanfaat. Orang-orang yang menyimpang dalam perkara ini sangat merugikan diri
mereka sendiri dan kehilangan banyak keberuntungan.
Pembagian Tauhid ke dalam Dua Kategori
Pembagian tauhid ke dalam tiga kategori adalah penyajian yang sangat umum dalam
konsep tauhid. Penyajian penting lainnya dalam hal tersebut adalah dengan membagi ke dalam
dua kategori.
3
Ini sangat penting untuk diperhatikan di awal bahwa kedua cara tersebut hanyalah
dua penyajian yang konsep dan pemikirannya persis sama. Pada dasarnya, tidak ada perbedaan
diantara keduanya. Namun, satu metode mungkin mudah bagi sebagian untuk dipahami dan
dimengerti dibanding yang lainnya dan pemahaman yang benar adalah tujuan utama dari kedua
penyajian tersebut.
Cara kedua untuk memahami tauhid adalah dengan membaginya ke dalam dua kategori,
kedua kategori ini mungkin, pada dasarnya, dilihat sebagai tauhid secara teori” dan tauhid
1
Ahmad Salam, Muqaddimah fi Fiqh Usul al-Da’wah (Beirut: Dar Ibnu Hazm, 1990), hal. 97.
2
Salam, hal. 100.
3
Metode ini ditemukan dalam Hafidz Ibnu Ahmad Hakimi, Maraj al-Qabul (Beirut: Dar al-Kuttub al-Ilmiyah,
1983), jilid 1, passim; Abdul Majid al-Syadli, Had al-Islami wa Haqiqat al-Iman (Makkah: Ummul Qura
University, 1983), passim; Syams al-Din Ibnu al-Qayyim, Madarijus Salikin (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, n.d.)
jilid 3, hal. 445-451. Bagian-bagian yang lebih lanjut tersebut yang akan dibahas umumnya dari asy-Syadzili.
Islamic Online University Hadits 102
273
secara praktis”
1
Keyakinan seseorang pada Allah  haruslah benar. Artinya, dalam tingkat teori
atau akal, seseorang harus mengetahui apa yang diyakini tentang Allah . Hal-hal ini dengan
jelas disajikan dan dijelaskan di dalam Quran dan sunnah. Namun, tauhid bukan hanya sebuah
perkara teori, perkara keyakinan yang “membosankan” atau pembahasan akademis (menurut
teori). Ini adalah sesuatu yang seharusnya diletakkan ke dalam kebiasaan-kebiasaan dalam hidup
orang-orang Muslim. Sebab itu, tauhid melampaui perkara yang sederhana, “Apa yang Saya
yakini tentang Allah ?,” pada pertanyaan, Apa dampak yang harus ada pada keyakinan ini
dalam kehidupan dan perbuatan saya?” Ini adalah sebagian penting lainnya dalam tauhid:
bagaimana seseorang berhubungan dengan Allah dan menjalankan keyakinan pada Allah 
tersebut.
Ibnu Abu al-Izz menyebutkan konseptualisasi tauhid ini ketika dia menyatakan,
Tauhid yang para nabi telah dakwahkan dan kitab-kitab yang sangat
indah telah ajarkan ada dua jenis: tauhid dalam pengetahuan dan
pengakuan dan tauhid dalam kehendak dan niat. Yang pertama adalah
untuk menegaskan bahwa Tuhan itu esa dalam hakikat, sifat-sifat, nama,
dan perbuatan-Nya; yang tidak ada yang seperti-Nya dalam hal apapun;
dan bahwasanya Dia seperti yang Dia katakan tentang-Nya atau
sebagaimana yang Nabi-Nya telah sampaikan tentang-Nya. Al-Quran
telah menguraikan jenis tauhid ini dalam cara yang paling jelas, seperti
yang mungkin ditemukan pada awal surah al-Hadid (surah 57), Taha
(surah 20), pada akhir al-Hasyr (surah 59), pada awal Alif Lam Mim
Tanzil (surah 32), pada awal ali ‘Imran (surah 3), pada seluruh al-Ikhlas
(surah 112) dan seterusnya.
Jenis tauhid yang kedua, tauhid dalam perbuatan dan niat, dijelaskan
dalam al-Kafirun (surah 109), dalam ayat, Katakanlah: "Hai ahli Kitab,
Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada
perselisihan antara Kami dan kamu...” (3:64), pada bagian-bagian awal
dan akhir dalam Tanzil al-Kitab (surah 39), pada awal, tengah dan akhir
Yunus (surah 10), pada permulaan dan akhir dalam al-A’raf (surah 7) dan
pada keseluruhan al-An’am (surah 6).
2
1
Ini semua adalah istilah-istilah penulis namun semuanya cukup menggambarkan apa yang dimaksud oelh konsep
tersebut.
2
Ibnu Abu al-Izz, jilid 1, hal. 42. Sekali lagi, pada hakikatnya kalimat yang sama mungkin ditemukan dalam Ibnu
al-Qayyim, Madarij, jilid 3, hal. 449.
Islamic Online University Hadits 102
274
Gambar 2.3 adalah sebuah gambaran tertulis pada konseptualisasi tauhid ini. Kedua dasar
atau kategori yang umum tersebut cukup mendasar dan mudah untuk dipahami. Untuk
memahami semuanya secara penuh, semua itu telah dibagi kedalam bagian-bagian yang berbeda.
Pada cara membahas tauhid ini, penegasan khusus diberikan untuk beberapa perkara yang
dikelompokkan bersama di bawah tiga kategori tauhid yang telah disebutkan sebelumnya.
Gambar 2.3. Gambaran Tertulis dari Pembagian Tauhid ke dalam Dua Kategori
Tauhid

“Tauhid secara teori”
Tauhid al Ilmi ()
Tauhid al-I’tiqad ()
(Tauhid berkaitan dengan apa yang diketahui atau
diyakini oleh seseorang).
“Tauhid dalam praktis (penerapan)”
Tauhid al-Amali ()
Tauhid al-I’tiqad ()
(Tauhid berkaitan dengan niat dan ibadah seseorang).
Tauhid al Dhaat

Tauhid al Sifat

Tauhid al- Anfaal

Ifraad Allah bil-
Walaayah


Ifraad Allah bil-Nusuk

Ifraad Allah bil-hukm

Ini menunjukkan
bahwa Allah itu
Esa dan satu-satu-
Nya dalam
hakikatnya, Allah
itu sendiri,
berbeda dan tidak
sama dengan
makhluk-Nya.
Hakikat-Nya
adalah satu-satu-
Nya dan tak
satupun yang
menyerupai-Nya.
Ini menunjukkan
bahwa sifat-sifat
Allah yang
khusus bagi-Nya, tak
satupun yang
berbagi sifat dengan-
Nya. Sifat-sifat-Nya
telah disebutkan di
dalam al-Qur’an dan
Sunnah tanpa ada
perselisihan,
penafsiran kembali
atau pengingkaran
tentang semua itu.
Allah Esa dalam
setiap perbuatan-
Nya. Tak satupun
yang dapat berbuat
dengan cara apapun
yang sama dengan
Allah . Dia
adalah satu-satu-
Nya pencipta dan
hanya satu-satu-
Nya yang benar-
benar memelihara
dan mengaja
makhluk-Nya.
Allah adalah
satu-satu-Nya yang
Haq untuk
menetapkan hukum
dan untuk
menetapkan syariat
atau cara hidup.
Segala perbuatan
dan tata cara ibadah
serta ketaatan harus
langsung kepada
Allah dan hanya
kepada Allah.
Kesetiaan dan
cinta dari orang-
orang beriman
harus didasari
petunjuk dari al-
Qur’an dan
sunnah.
Seseorang harus
mencintai dan
membenci hanya
karena Allah
semata.
Islamic Online University Hadits 102
275
(1) Tauhid secara Teori”: Kategori tauhid ini sebenarnya dikenal dengan banyak
nama, seperti tauhid al-‘ilmi al-khabari al-khabari al-‘itiqadi (tauhid yang berkaitan dengan apa
yang seseorang ketahui dan yakini benar), dan tauhid al-marafah wa al-ithbad (tauhid yang
berkaitan dengan apa yang seseorang akui dan tegaskan pada Allah ). Kategori tauhid ini juga
dapat dibagi ke dalam tiga kategori: tauhid al-dhat (mengesakan Allah terkait dengan Dzat dan
hakikat-Nya, bahwa Dia tersendiri dan berbeda dari makhluk-Nya); tauhid al-sifat (Keesaan
Allah yang terkait dengan sifat-sifat-Nya, yang khusus untuk-Nya saja); tauhid al-afal
(Keesaan Allah yang terkait perbuatan-Nya, yang menjadi satu-satunya Sang Pencipta Alam
Semesta dan yang memeliharanya). Ini semua dimunculkan dan dijelaskan dalam gambar 2.2.
Pada dasarnya, topik-topik yang dibahas di bawah cabang tauhid ini adalah sama seperti
yang dibahas di bawah tauhid rububiyah dan tauhid asma was sifat.
(2) Tauhid secara praktis (penerapan)”: Cabang tauhid ini juga dikenal dengan nama
yang lain, seperti tauhid al-talab wa al-qasd (tauhid yang terkait dengan tujuan dan maksud
seseorang; artinya, tujuan dan maksud seseorang dalam menyembah Allah semata), tauhid al-
‘ibadah (tauhid yang terkait dengan ibadah atau perbuatan seseorang; artinya, seseorang
menyembah Allah dan hanya Allah ) dan tauhid al-‘amali (tauhid yang berkaitan dengan
amalan seseorang; artinya, seseorang hanya mengerjakan amal-amal yang diridhoi dan diterima
oleh Allah ).
Cabang tauhid ini seringkali dibagi ke dalam tiga bagian. Setiap tiga bagian ini
merupakan sebuah hal yang penting dan dibutuhkan dalam menjalankan tauhid pada kehidupan
seseorang. Yang tiga ini dapat digambarkan dalam perkataan berikut ini: (a) Ifrad Allah bi-I-
Nusuk (membuat Allah menjadi satu-satunya tujuan ritual amal ibadah seseorang); (b) Ifrad
Allah bi-I-Hukm (ketaatan diri hanya pada perintah-perintah dan wahyu yang datang dari Allah
); dan (c) Ifrad Allah bi-I-Walayah (menyerahkan kesetiaan dan cinta seseorang pada perintah-
perintah dan petunjuk yang Allah turunkan). Masing-masing dari ketiga ini akan dibahas
secara terpisah.
Islamic Online University Hadits 102
276
(a) Ifrad Allah bi-I-Nusuk (membuat Allah menjadi satu-satunya tujuan ritual
amal ibadah seseorang): Setiap ritual ibadah harus dilakukan hanya semata-mata demi Allah ,
sesuai dengan perintah-Nya dan mencari keridhoan-Nya. Allah berfirman dalam Quran,
➔➔◆
◆⧫◆☺⧫◆◆
⧫✓⬧➔
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk
Allah, Tuhan semesta alam. (Al An’am 162). Ayat yang lainnya menyatakan,
◆⧫◆
◆▪☺◆
☺⬧◆→◼▪☺
◆☺⬧◆
⬧◼→◼
➔⬧
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah
sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang
kamu hendak sembah” (Fussilat 37).
➔⧫◆✓➔⧫◼

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta
pertolongan”.
Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, ritual ibadah apapun, baik itu shalat,
puasa, haji, menyembelih binatang, nadzar dan sebagainya, harus dilakukan hanya semata-mata
untuk Allah . Demikian pula, semua doa dan permohonan harus ditujukan kepada Allah . Jika
seseorang melakukan semua amalan ini untuk seorang yang selain dari Allah , bahkan jika dia
secara ilmu menjunjung tinggi keesaan Allah , secara penerapan, dia mengingkari tauhid
dengan, tidak memenuhi apa yang dia yakini secara teori.
Islamic Online University Hadits 102
277
Kategori ini juga membahas amal-amal dalam hati, yang telah disebutkan sebelumnya.
Ini termasuk menempatkan keyakinannya hanya pada Allah , rasa takut dan ketaatan hanya
untuk Allah dan sebagainya.
(b) Ifrad Allah bi-I-Hukm (ketaatan diri hanya pada perintah-perintah dan wahyu
yang datang dari Allah ): Agar tauhid seseorang benar, seseorang harus menolak dan
mengingkari semua bentuk dalam taghut, tuhan yang palsu atau tujuan yang keliru dalam ibadah
dan ketaatan. Allah berfirman dalam Quran,
⬧⬧◆◆➔⧫→
❑▪
❑⧫◆❑
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut” (an-Nahl 36). Muhammad Ibnu Abdul Wahab
telah membagi thagut ke dalam lima kategori:
(1) Syaitan yang menyeru agar menyembah kepada selain Allah .
(2) Penguasa yang mengubah hukum Allah .
(3) Mereka yang berhukum selain dengan hukum Allah .
(4) Mereka yang mengaku mengetahui perkara gaib.
(5) Orang yang disembah selain Allah dan dia ridho dengan hal itu.
1
Allah telah memperjelas bahwa berhukum dan memerintah yang sesuai dengan apa
yang Dia telah wahyukan adalah sebuah kewajiban yang penting untuk orang-orang beriman.
Kenyataanya, ini adalah salah satu tujuan utama yang Kitab tersebut ungkapkan. Allah
berfirman,
⧫◼◆
➔⧫⬧
1
Muhammad Ibnu Abdul Wahab, Mualafatal-Syeikh al-Imam Muhammad Ibnu Abdul Wahhab (Maktaba Ibnu
Taimiyah, n.d.), jilid 1, hal. 376-378. Kutipan yang sama mungkin ditemukan dalam Salih Ibnu Muhammad al-
Sa’uwi, Majmuat al-Manabil al-‘Idhah fima ala al-Abd li-Rabb al-Arbah (tidak ada kota atau penerbit yang
disampaikan, 1414 H), jilid 1, hal. 24-25.
Islamic Online University Hadits 102
278
◆◆⧫⧫◆
➔⧫⧫⬧
⬧◆⧫✓⧫☺
❑→◼⧫
“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para
Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar,
untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (al-
Baqarah 213). Ayat yang lainnya menyatakan,
◆⧫⬧
⧫⬧⬧⧫
⧫✓⧫◆

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya
kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu” (an-Nisa
105). Berhukum dengan Kitab Allah adalah ciri dari orang-orang beriman pada saat
menghukumi apapun segala bentuk tuhan yang palsu dan pemberi hukum yang palsu adalah
ciri dari orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Allah berfirman,
❑❑→⧫◆⧫◆
❑▪◆◆➔⬧◆➔
◆❑⧫⧫⬧➔⧫
⬧⧫◆⬧
⧫✓⬧☺ ⬧◆
❑◼❑◆◆
⬧◆◆⧫⬧⬧
⧫❑→➔ ◆⧫
⚫⬧❑➔⧫⬧
⧫✓ ❑➔➔
Islamic Online University Hadits 102
279
⧫❑⬧
❑➔⬧⬧⧫⬧◼⧫
➔❑◆◆⧫⬧➔
❑☺→ ☺
⧫❑⬧⧫✓⬧☺⬧❑
◼❑◆◆⬧◆
⧫❑❑→⧫◆➔☺
◆➔⬧◆
“Dan mereka berkata: "Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan Kami mentaati
(keduanya)." kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu
bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-
Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka
menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang
kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada
penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-
Nya Berlaku zalim kepada mereka? sebenarnya, mereka Itulah orang-orang yang zalim.
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya
agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan Kami
patuh””. (an-Nur 47-51).
Memerintah sesuai dengan apa yang Allah telah wahyukan sama dengan memilih untuk
taat kepada Allah . Seseorang menyerahkan ketaatannya yang penuh dan sempurna hanya untuk
Allah . Pada dasarnya, ketaatan ini adalah sebuah bentuk ibadah. Allah berfirman,
⧫⧫
➔⬧◼⬧
⬧
“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak
menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus” (Yusuf 40). Ayat lainnya menyatakan,
Islamic Online University Hadits 102
280
⬧➔◆⧫
◆⧫◆⧫
☺◆⧫⧫
⧫◆➔◆
⬧◆⧫⬧◆❑➔
⬧☺⧫❑→
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah
dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh
menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci
Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (at Taubah 31). Perkara mereka menjadikan orang-
orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan disisi Allah adalah karena mereka
membolehkan mereka untuk memutuskan bagi mereka apa yang dibolehkan dan apa yang
dilarang bukannya bergantung hanya pada apa yang Allah telah wahyukan pada hukum-hukum
semacam itu.
Ibnu Taimiyah pernah menulis,
Islam membutuhkan ketaatan yang lengkap kepada Allah semata.
Siapapun yang tunduk pada-Nya dan orang lain telah menyekutukan
Allah (syirik). Siapapun yang tidak tunduk pada-Nya telah dengan
angkuh menolak untuk menyembah Allah . Orang yang melakukan
syirik begitupun yang angkuh menolak untuk menyembah-Nya adalah
orang yang kafir. Ketaatan hanya pada-Nya mencakup ibadah hanya
kepada-Nya dan taat hanya pada-Nya.
1
Dalam komentarnya tentang Quran, asy-Syinqithi menuliskan, “Menyekutukan Allah 
terkait dengan aturan-Nya dan menyekutukan Allah yang terkait dengan ibadah adalah satu
dan hal yang sama. Tidak ada perbedaan diantaranya sama sekali. Siapapun yang mengikuti
sebuah sistem atau cara hidup selain cara Allah atau sistem yang sah selain sistem Allah ...
seperti orang yang menyembah sebuah berhala atau bersujud pada tuhan yang palsu. Tidak ada
1
Ibnu Taimiyah, Majmu, jilid 3. Hal. 91.
Islamic Online University Hadits 102
281
perbedaan sama sekali diantara keduanya dalam hal apapun. Mereka adalah satu dan sama.
Keduanya menyekutukan Allah.
1
Abdul Latif menjelaskan bahwa menolak untuk menyembah sesuai dengan apa yang
Allah telah wahyukan melanggar setiap aspek dalam tauhid.
2
Seperti yang telah disebutkan,
tauhid al-ibada menunjukkan bahwa hanya Allah yang ditaati dan memiliki kekuasaan mutlak
dalam hidup seseorang. Jika seseorang taat pada yang lain, terlepas dari apa yang Allah telah
wahyukan, dia memberikan bagian dalam penghambaannya pada sumber hukum yang lain
daripada Allah semata.
Menolak untuk tunduk dan menjalankan syariat Allah juga melanggar tauhid
rububiyah. Tauhid rububiyah menunjukkan bahwa Allah adalah Pemilik Sempurna dan Tuhan
Semesta Alam. Dia yang berkuasa dan memiliki hak untuk mengontrol dan mengatur segala hal
dalam Semesta ini. Segala sesuatu dalam Semesta ini harus atau seharusnya dilakukan sesuai
dengan perintah dan keputusan-Nya.
3
Inilah mengapa Allah menggunakan kata arbab (jamak
dari rabb atau Tuhan) pada ayat yang baru saja dikutip,
⬧➔◆⧫
◆⧫◆⧫
☺◆⧫⧫
⧫◆➔◆
⬧◆⧫⬧◆❑➔
⬧☺⧫❑→
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain
Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya
disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha
suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (at Taubah 31).
1
Dinukil dalam Abdurrahman as-Sudais, al-Hakimiyah fi Tafsir Aswa al-Bayan (Riyadh: Dar Taiba, 1412 H.) hal.
53.
2
Abdul Aziz al-Abdul-Latif, Nawaqidh al-Iman al-Qauliyah wa al-Amaliyah (Riyadh: Dar al-Watn, 1414 H.), hal.
296.
3
Peristiwa alam pasti dan terjadi sesuai dengan ketetapan Allah . Namun, jika Allah telah memberikan manusia
“pilihan yang bebas” terkait sebuah perkara, maka manusia seharusnya berbuat sesuai dengan apa yang telah
Allah telah perintahkan.
Islamic Online University Hadits 102
282
Lebih lanjut, (al-Hakam “Yang Menetapkan dan Yang Menentukan”
1
) dianggap
sebagai salah satu nama-nama Allah . Beriman pada nama Allah  mewajibkan seseorang
untuk mengembalikan semua perkara kepada wahyu dan perintah Allah . Allah berfirman,
◆☺

“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan” (al-
Kahfi 26).
Al-Abdul Latif juga membahas kaidah tauhid lainnya, yang disebut dengan tauhid al-
‘itiba (tauhid tentang mengikuti). Kaidah tauhid ini berarti bahwa satu-satunya yang diikuti dan
ditaati sepenuhnya adalah orang yang Allah utus untuk tujuan tersebut, Rasulullah .
Karenanya, tidak mengikuti jalan ini dan, sebaliknya, memilih untuk mengikuti jalan atau hukum
yang lainnya melanggar kaidah tauhid ini.
2
Muhammad Ibnu Ibrahim menulis, “Siapapun yang
berkuasa dengan sesuatu yang selain dari apa yang Rasulullah bawa, dia tersebut berkuasa
dengan thagut (tuhan palsu) dan menjadikannya sebagai yang menetapkan urusan-urusannya.”
3
1
Allah adalah Satu-satunya yang menetapkan hukum diantara para hamba-Nya dengan keadilan, kejujuran, dan
kewajaran. Dia tidak mendzolimi jiwa meskipun dalam jumlah yang sedikit saja. Demikian juga, keputusan dan
hukum-hukum-Nya yang paling adil. Untuk pembahasan yang lebih lengkap tentang nama ini, lihat Muhammad
al-Hamud, Al-Nahaj al-Asma Allah al-Husna (Kuwait: Maktaba al-Imam adz-Zhahabi, 1992), jilid 1, hal. 225-
240.
2
C.f., Al-Abdul-Latif, hal. 296-302.
3
Muhammad Ibnu Ibrahim Ali-Syeikh alu-Syeikh, Tahkim al-Qawanin (tidak ada kota atau penerbit yang diberikan,
1414 H), hal. 9. Ini menampilkan poin yang penting lainnya. Bagaimana dengan penguasa yang tidak menjalankan
petunjuk Allah di negerinya? Apakah mereka dianggap sebagai orang-orang yang kafir karena perbuatan
tersebut? Banyak orang-orang, pada kedua sisi pertanyaan ini, telah membuat kesalahan terkait hal ini. Allah 
berkata dalam Quran, “Siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang Allah telah turunkan, maka merekalah
orang-orang yang kafir) (al-Maidah 44). Ibnu Abbas, dalam menafsirkan ayat ini, ditanyakan tentang para
penguasa pada masanya yang tidak selalu menjalankan hukum Islam untuk segala hal. Beliau menjawab bahwa
apa yang mereka lakukan salah dalam ayat ini tetapi itu adalah sebuah kufr yang lebih kecil dari kufr besar.
Artinya, itu tidak membuat mereka tidak lagi dianggap sebagai orang-orang Muslim. Sebenarnya ada jenis yang
berbeda pada penguasa kebanyakan dari mereka jelas adalah orang yang kafir meskipun yang lainnya tidak
dapat dianggap demikian. Jika seorang penguasa terang-terangan mengerjakan praktik-praktik Islam dan dia
meyakini bahwa itu adalah kewajiban terhadap dirinya untuk menjalankan syariat namun dia tidak melakukannya
secara sempurna karena beberapa alasan, maka ini apa yang Ibnu Abbas jelaskan ketika dia berkata, kufur yang
lebih kecil dari kufur.Penguasa seperti itu tidak dianggap sebagai non-Muslim meskipun dia mungkin dianggap
sebagai fasiq atau jahat. Kenyataanya, penguasa tersebut sangat mirip dengan orang yang mengetahui bahwa dia
harus mentaati Allah namun karena beberapa alasan, contohnya, keinginan atau nafsu, dia melakukan perbuatan
yang tidak mentaati Allah . Orang seperti itu, dikarenakan dosa tersebut, tidak menjadi kafir. Penguasa-penguasa
yang lainnya, secara terang-terangan mengingkari Islam dan mengatakan bahwa mereka lebih suka beberapa
bentuk pemerintahan dan perekonomian lainnya, seperti sosialis atau kapitalis. Ayat ini juga berlaku bagi mereka
yang lebih suka beberapa petunjuk lain daripada petunjuk Allah . Ini dengan jelas merupakan kufur besar tanpa
Islamic Online University Hadits 102
283
(c) Ifrad Allah bi-I-Walayah (menyerahkan kesetiaan dan cinta seseorang pada
perintah-perintah dan petunjuk yang Allah turunkan): Kesetiaan yang semata-mata demi
Allah dan penyandaran cinta dan benci seseorang pada petunjuk dari Allah adalah sebuah
keadaan yang penting bagi keimanan seseorang untuk menjadi baik dan benar.
1
Allah berfirman
dalam Quran,
⧫⬧❑◆❑⧫⧫
⧫▪⬧⧫
⧫⬧⚫→
◼⧫◆➔
➔⧫→ ❑⬧◆❑
❑⬧◆
⧫◆⧫⬧⧫
➔⬧◆◆⬧◆
❑→⬧
“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir
(musyrik). Sesungguhnya Amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, Yaitu
kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka
beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi),
niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong,
tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” Menurut Ibnu Taimiyah, perkataan
pengecualian dan perselisihan tentang itu. Ada penguasa lainnya yang tidak mengingkari secara terang-terangan
namun mereka mereka tidak meyakini bahwa itu adalah kewajiban bagi mereka untuk melaksanakan syariat
tersebut atau mereka mungkin melawan atau menolak untuk menjalankan syariat tersebut karena mereka tidak
percaya dalam pelaksanaanya. Ini juga merupakan jenis kufur, jenis yang besar, dan orang tersebut menjadi non-
Muslim bahkan jika dia melakukan shalat dan puasa dan mengerjakan beberapa ritual Islam. Pada akhirnya, ada
orang-orang yang menyatakan bahwa mereka menginginkan Islam sedangkan pada kenyataanya mereka tidak
ingin untuk menjalankan syariat dan bahkan mungkin mereka memiliki kebencian pada Islam didalam hati-hati
mereka. Orang ini jelas adalah seorang munafik dan kemunafikan adalah sebuah jenis kufr. Pembahasan yang
sangat bagus tentang topik ini mungkin dapat ditemukan dalam Abdul Aziz Kamil, al-hukum wa al-Tahakum fi
Kitab al-Wabi (Riyadh: Dar Taiba, 1995), jilid 1, hal. 253-264.
1
Ini sangat penting untuk diperhatikan bahwa, berkuasa tidak seperti apa yang Allah turunkan, ada tingkatan yang
berbeda yang bukan kesetiaan semata-mata untuk Allah . Kesetiaan seperti itu yang tidak dirihoi Allah 
mungkin akan mencapai tingkat orang tersebut keluar dari Islam. (inilah yang dimaksud oleh sebagian ulama
sebagai al-tawali.) Namun, dilain waktu, perbuatan tersebut mungkin sebuah perbuatan yang penuh dosa tetapi
tidak menjadikan seseorang keluar dari Islam.
Islamic Online University Hadits 102
284
yang terakhir, “dan apakah mereka percaya,” adalah perkataan yang bersyarat yanh
menunjukkan bahwa orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan semacam itu sama sekali
tidak memiliki keimanan apapapun.
1
Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan,
⧫⧫❑⧫◆
⬧❑◆
⧫◆◆◆
➔⧫◆➔⧫⧫◆
⚫◆❑⧫⧫⬧
⧫⧫❑⬧
⧫✓☺→
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani
menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang
lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya
orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim” (al-Maidah 51).
Mengenai topik ini secara keseluruhan, Hamad Ibnu Atiq pernah menuliskan bahwa, ,
setelah kewajiban tauhid, tidak ada yang lebih ditekankan dan tidak ada yang memiliki lebih
banyak bukti yang diberikan untuk itu daripada topik yang menentang dan tidak ada kesetiaan
dari orang-orang kafir.
2
Setiap Muslim harus menyadari bahwa bagian penting dari makna kata ilah (“Tuhan”)
adalah Dia yang satu-satunya yang dipuja, dimuliakan dan dicintai didalam hati. Sebuah ayat
Quran menyatakan,
◆⧫⬧⧫
❑⬧◆⧫⧫☺
1
Ibnu Taimiyah, Kitab al-Iman, hal.14.
2
Dinukil dalam Abdul-Latif, hal. 359.
Islamic Online University Hadits 102
285
⧫➔⬧ ⧫⬧⬧
⬧◆
◼➔◆☺◆⧫
⧫➔⬧⧫❑➔⧫
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak
bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang
menjadikanku; karena Sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku". Dan (lbrahim)
menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali
kepada kalimat tauhid itu(az-Zukhruf 26-28). Abdurrahman Ibnu Hasan menunjukkan bahwa
dalam ayat ini, ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang
kamu sembah” ini bermakna bahwa tidak ada satupun yang pantas disembah, dicintai, dan dipuja
selain, “Tuhan yang menjadikanku,” yaitu Allah . Dengan perkataan yang berbeda, Nabi
Ibrahim alaihissalam menyatakan persaksian keimanan (syahadat). Karenanya, bagian dalam
persaksian iman adalah orang tersebut secara lengkap membebaskan dirinya dan memerdekakan
dirnya dari segala hal yang disembah selain Allah .
1
Allah telah mewajibkan orang-orang
beriman untuk bebas dan memisahkan diri mereka dari segala bentuk kemusyrikan atau
kesyirikan. Orang beriman diperintahkan untuk melawan kedustaan mereka dan memiliki rasa
ketidaksukaan bagi semua itu secara umum.
Kunci dibalik hal ini adalah cinta yang tepat dan sempurna untuk Allah dan kesucian
dan ibadah yang sangat baik pada Allah . Jika seseorang mencintai Allah dengan sungguh-
sungguh dan dengan benar, Allah akan lebih mencintainya dari hal apapun. Disamping itu, dia
akan mencintai apapun yang Allah cintai dan menghinakan apapun yang Allah hinakan.
Utamanya, dia akan merasa benci dan merasa sangat tidak suka pada segala hal yang sengaja
menghina kekasihnya, yaitu Allah . Sesungguhnya, menyekutukan Allah dan menyembah
yang lain disaat hanya Allah yang pantas disembah adalah penginaan yang paling besar dan
tidak menghormati Allah . Ini adalah bagian dalam pengakuan iman yang seseorang menentang
penyimpangan-penyimpangan semacam itu dengan petunjuk Allah . Jika seorang Muslim tidak
1
Ibnu Hasan menukil dalam Mahmas al-Jalud, al-Muwalat wa al-Muadat fi al-Syariah al-Islamiyah (Al-Mansurat:
al-Yaqin li-I-Nashr wa al-Tauzi’, 1987), jilid 1, hal.132-133. Ulasan yang sama dari perkataan-perkataan Quran
yang menyajikan kembali persaksian iman mungkin dapat ditemukan pada al-Kahfi 16 dan ali Imran 64.
Islamic Online University Hadits 102
286
melakukan yang demikian, maka dia tidak memiliki pemahaman dan penerapan yang benar
dalam pernyataan imannya, “Tidak ada yang pantas disembah dan dipuja kecuali Allh .”
Mahmas al-Jalud menuliskan,
Mereka yang memberikan kesetiaan kepada orang-orang kafir dan tidak
menentang mereka tidak menyembah Allah dengan cara yang tepat
bahwasanya Dialah yang harus disembah. Dalam ibadah, mereka
mencampur yang lainnya dengan apa yang terkhusus milik-Nya. ini
karena, jika mereka menyembah Allah dengan baik, bagaimana mereka
secara terang-terangan menunjukan persetujuan, cinta dan dukungan
untuk musuh-musuh Allah dan musuh-musuh agama-Nya, dari orang-
orang kafir, orang-orang musyrik, dan orang-orang murtad. Jika seorang
Muslim mentaati orang-orang kafir, menunjukkan cinta dan dukungan
pada mereka dalam kekafiran mereka, mendukung mereka dengan harta,
persenjataan, dan tenaga kerja atau nasehat dan membantu mereka dalam
perkara-perkara tersebut, dan memutuskan hubungannya dengan orang-
orang Muslim atau membuat jalinannya dengan orang-orang kafir lebih
kuat dari jalinannya dengan orang-orang Muslim, maka mereka telah
melanggar makna dari Tidak ada satupun yang pantas disembah selain
Allah ,” dan murtad dari Islam. Ketetapan bagi dirinya adalah dia telah
jatuh dalam kekafiran. Karena, dalam perkara semacam itu, dia akan
dianggap sebagai orang yang musyrik, yang berkaitan dengan hukum dan
tindakan hukum. Dia tidak memenuhi makna dari “Tidak ada satupun
yang pantas disembah selain Allah ,” mengingkari apa yang diingkari-
Nya dan menegaskan apa yang ditegaskan-Nya. Bahkan jika dia
mengatakan itu sepuluh kali. Ini karena kebenaran dari sebuah perkataan
ditunjukkan dengan perbuatan.
1
Sebuah Konsep yang Salah dalam Tauhid
Istilah tauhid cukup sering digunakan oleh banyak aliran dalam Islam. Semuanya
menyatakan memiliki tauhid. Tauhid yang benar adalah hanya yang diajarkan oleh Nabi 
kepada para Sahabat-Nya dan yang datang dari mereka. Pada tahun-tahun selanjutnya, orang-
orang filosof dan para ahli tauhid mengembangkan pemahaman mereka sendiri tentang tauhid
yang membagikan beberapa kaidah dengan tauhid yang benar tetapi juga menyimpang dari
tauhid tersebut dari berbagai hal.
1
al-Jalud, jilid 1, hal. 136-137.
Islamic Online University Hadits 102
287
Demikian pula, orang-orang Sufi telah mengembangkan konsep dan tingkatan mereka
sendiri tentang tauhid. Kenyataannya, dalam banyak kasus, apa yang mereka anggap sebagai
tauhid tidak ada tetapi hanya syirik (menyekutukan Allah ) dan kufur (tidak percaya).
Karenanya penting untuk menyadari sebagian dari kesalahpahaman mereka yang mereka
sebarkan diantara orang-orang Muslim. Terkait pemahaman mereka tentang tauhid, Ibnu Abu al-
Izz menuliskan,
Sekarang ini tidak dapat dipungkiri bahwa tauhid uluhiyah adalah apa
yang para nabi telah dakwahkan dan apa yang kitab-kitab yang sangat
baik itu telah ajarkan, sebagaimana yang telah dijelaskan, maka
seseorang seharusnya tidak mendengarkan perkataan dari mereka yang
membagi tauhid kedalam tiga jenis [berikut ini]: Mereka mengatakan,
jenis tauhid yang pertama ini adalah tauhid orang-orang umum. Yang
kedua adalah tauhid orang-orang terpilih, yaitu tauhid yang diketahui
dalam pengalaman gaib. Yang ketiga adalah tauhid dari orang-orang
pilihan (khasat al khasah). Mereka meyakini, tauhid ini ditegaskan oleh
Dzat yang Kekal itu sendiri. Tak seorang pun yang harus memperhatikan
pernyataan bagi orang-orang yang yang tauhidnya paling sempurna yaitu
para nabi (alaihi wassalam)... tidak ada tauhid yang lebih lengkap selain
dari tauhid yang para rasul nyatakan, dakwahkan, dan perjuangkan.
Inilah alasan mengapa Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk
mengikuti jejak mereka. Setelah menggambarkan perkataan nabi Ibrahim
dengan umat-nya dalam mendukung tauhid dan mengingkari syirik, dan
setelah menyebutkan nabi-nabi lain diantara keturunannya, Allah 
mengatakan, Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh
Allah, maka ikutilah petunjuk mereka” (al-An’am 90). Tidak ada yang
lebih lengkap dalam tauhid selain mereka yang Nabi  telah perintahkan
untuk diikuti....
Millah (jalan, agama) nabi Ibrahim adalah tauhid. Agama nabi
Muhammad adalah setiap perkataan, perbuatan dan keyakinan yang
Beliau bawa dari Allah . “Perkataan ikhlas” adalah pengakuan bahwa
tidak ada tuhan selain Allah . Fitrah Islam adalah sifat dasar manusia
yang telah diberikan hanya untuk mencintai dan menyembah Allah 
tanpa mengangkat sekutu apapun pada-Nya dan tunduk padanya dengan
penuh penghambaan, kekhusyuan, dan penghormatan.
Inilah tauhid yang paling teratas atau paling dicintai diantara orang-
orang pilihan Allah . Siapapun berpaling dari itu adalah kebodohan
yang sebodoh-bodohnya. Allah sendiri mengatakan, Dan tidak ada
Islamic Online University Hadits 102
288
yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh
dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan
sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang
saleh. Ingatlah! Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk
patuhlah!" Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta
alam”” (al-Baqarah 130-131).
Jenis tauhid yang kedua dan ketiga, yang disebut dengan tauhid orang-
orang terpilih dan tauhid orang-orang pilihan, berujung pada kematian
diri (fana) yang mana para Sufi berjuang untuk hal tersebut. Itu adalah
sebuah jalan yang salah yang mengarahkan pada [konsep yang salah]
persatuan (ittihad). Perhatikan perkataan ini yang Syeikh al-Islam Abu
Ismail al-Ansari al-Harwi rahimahullah telah susun,
1
“Tidak seorangpun
yang menegaskan keesaan dari Yang Satu, bagi siapapun yang
menegaskan Keesaan-Nya, Dia menyangkalnya. Siapapun yang
menggambarkan diri-Nya, gambaran Keesaan-Nya tidak sah dan tidak
dapat diterima. Penegasan yang nyata dari Keesaan-Nya adalah apa yang
Satu itu lakukan, dan siapapun mencoba menggambarkan-Nya adalah
orang yang sesat.”
Meskipun yang mengarang perkataan ini tidak bermaksud untuk
menunjukkan penyatuan (ittihad), dia telah menggunakan kata yang
samar-samar yang melambangkan sebuah penyatuan yang kemungkinan
besar untuk ditafsirkan dalam perkataannya dan berpikir bahwa
pengarang tersebut memiliki cara berfikir tersendiri. Jika dia
menggunakan kata-kata yang syariat gunakan dan yang tepat dan tidak
menyesatkan, itu mungkin lebih tepat. Pernahkah kita diwajibkan untuk
meyakini apa yang perkataan ini anjurkan? Nabi mungkin telah
menyebutkan itu, mengajak orang-orang untuk meyakini hal itu, dan
telah menjelaskannya dengan panjang lebar. Tetapi tidak ada bukti bahwa
beliau pernah membedakan antara tauhid orang kebanyakan, tauhid
orang yang terpilih dan tauhid orang-orang pilihan. Tidak ada sama
sekali kiasan apapun pada hal tersebut. Bahkan kenyataanya, tidak ada
yang mendekati hal tersebut.
1
Untuk ulasan dan kritikan dari pemahaman Al-Ansari yang diungkapkan dalam baris-baris syair ini, lihat inu
Qayyim. Madarij al-Salikin, jilid 3. Hal. 518. Ibnu Qayyim membuat poin bahwa dalam berbagai ayat Quran,
Allah telah mempersaksikan bahwa para malaikat-Nya, para nabi-Nya, dan para pengikutnya yang memiliki
ilmu menegaskan dan menguraikan keesaan-Nya. Oleh karena itu, tidak benar bagi siapapun untuk mengatakan
bahwa tidak seorangpun dengan sungguh-sungguh telah menegaskan keesaan Tuhan dan orang-orang yang telah
memberanikan diri tersebut telah bersalah atas bidah.
Islamic Online University Hadits 102
289
Ini Kitabullah, hadits-hadits dari Nabi , kebiasaan orang-orang terbaik
dari semua generasi setelah generasi Nabi dan karya-karya dari para
ulama terkemuka. Apakah ada penyebutan fana pada semua itu?
Pernahkan siapapun dari mereka membahas tentang tingkatan-tingkatan
tauhid ini? Kenyataannya, konsep ini berkembang belakangan ketika
sebagian orang-orang melampaui batas dalam beberapa bagian agama.
Sama seperti yang Khawarij lakukan sebelumnya dalam Islam atau
orang-orang Nasrani lakukan pada agamanya. Allah telah mengutuk
semua yang melampaui batas dalam agama dan telah melarang semua itu
dengan keras. Allah  menyatakan, “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu
melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan
terhadap Allah kecuali yang benar” (an-Nisa 171). Dan juga,
“Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan
(melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat
dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah
menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang
lurus” (al-Maidah 77).
1
Sebuah poin yang penting yang Ibnu Abu al-Izz sampaikan dalam kutipan tersebut adalah
bahwasanya Rasulullah adalah yang paling mengetahui Allah . Hamba Allah yang paling
baik adalah Nabi . Cara yang paling baik untuk tunduk dan melayani Allah adalah dengan
cara dari Nabi Muhammad . Keyakinan yang paling baik dan benar tentang Allah adalah
semua yang dari Nabi . Jika orang-orang Muslim ingin untuk sunguh-sungguh untuk
merenungkan poin ini dan menjalankannya dengan baik, maka semua hal-hal baru (bid’ah) yang
telah berkembang sejak masa Nabi akan terhapuskan.
“Malaikat-Nya
2
Tulisan kedua tentang keimanan yang telah disebutkanoleh Nabi dalam riwayat Umar
adalah beriman kepada para malaikat. Malaikat adalah makhluk Allah yang, secara umum,
tidak terlihat oleh manusia. Mereka diciptakan dari cahaya tetapi mereka memiliki rupa dan
1
Ibnu Abu al-Izz, jilid 1, Hal. 53-56.
2
Karena ruang yang terbatas, pembahasan tentang iman yang tersisa tidak akan sepanjang pembahasan keimanan
pada Allah . Yang mungkin dapat dianggap sebagai tulisan yang paling penting dan mendasar dalam keimanan.
Umumnya, terkadang bukti dari perkataan yang berbeda itu tidak akan dinyatakan tetapi dapat ditemukan dalam
referensi yang dikutip. Meskipun karya yang pendek, seseorang yang tertarik secara penuh pada para malaikat
dapat mencari keterangan dari Umar al-Ashqar, Alam al-Malaikat al-Abrar (Kuwait: Maktabah al-Falah, n.d),
passim.
Islamic Online University Hadits 102
290
bentuk. Mereka adalah hamba Allah dan tidak memiliki aspek ketuhanan sama sekali. Mereka
tunduk pada perintah-Nya secara penuh dan tidak pernah menyimpang dari memenuhi segala
perintah-Nya. Qutb mencatat bahwa para malaikat selalu dihubungkan dengan apa yang baik dan
benar. Mereka tidak pernah menyimpang dari apa yang benar bahkan hanya sedetik,
sebagaimana yang manusia dan jin lakukan.
1
Salam menjelaskan bahwa jika seseorang tidak beriman pada para malaikat, maka dia
tidak dapat beriman kepada yang diturunkan kepada Nabi . Karena yang membawa Quran
kepada Nabi adalah seorang malaikat, yaitu malaikat Jibril. Oleh karena itu, beriman pada
Quran tidak dapat disahkan kecuali seseorang beriman kepada para malaikat, secara kelompok,
dan malaikat Jibril, secara khusus, yang membawa wahyu tersebut kepada Nabi .
2
Menurut Ibnu Utsaimin, keyakinan yang baik pada para malaikat terdiri dari empat
perkara.
3
Pertama, seseorang harus beriman pada keberadaanya. Kedua, seseorang harus beriman
pada mereka secara umum tetapi seseorang juga harus beriman pada nama-nama mereka yang
telah secara tersirat dinyatakan dalam Quran ataupun sunnah-sunnah yang sahih. Contohnya,
salah satu malaikat bernama Jibril. Dia adalah malaikat yang membawa wahyu kepada Nabi .
Ketiga, seseorang harus beriman kepada sifat-sifatnya sebagaimana yang telah
dinyatakan dalam Quran dan sunnah. Contohnya, dinyatakan dalam sebuah hadits bahwa Nabi 
melihat malaikat Jibri menutupi ufuk dan dia memiliki enam ratus sayap. Ini menunjukkan
bahwa makhluk ini adalah ciptaan Allah yang begitu besar dan luar biasa. Ini juga
menunjukkan, seperti dalam hadits yang saat ini dibahas, bahwa malaikat dapat muncul dalam
berbagai bentuk, seperti bentuk manusia. Ini juga menunjukkan kekuatan Allah yang besar dan
kemampuan-Nya untuk melakukan apapun yang Dia kehendaki.
Keempat, seseorang harus beriman pada perbuatan-perbuatan yang mereka kerjakan
sebagaimana telah disebutkan dalam Quran dan sunnah yang sahih. Dinyatakan dalam Quran
bahwa mereka menyembah Allah dan memuliakan-Nya. Ini juga menunjukkan bahwa
malaikat-malaikat tertentu telah diberikan tugas-tugas tertentu. Jibril bertanggung jawab atas
1
Qutb, hal. 183.
2
Salam, hal.104.
3
Cf., Ibnu Utsaimin, Syarah Usul Iman, hal.27-28. “Cf” digunakan untuk menunjukkan bahwa penjelasan itu
berasal dari Ibnu Utsaimin tetapi pembahasan dan penjelasan tidak harus dari tulisannya.
Islamic Online University Hadits 102
291
“hidupnya hati” yang merupakan sebuah petunjuk untuk wahyu yang datang dari Allah . Israfil
bertanggung jawab untuk meniup terompet yang akan membangkitkan kembali jasad-jasad pada
Hari Pembalasan. Karenanya, dia berkitan dengan menghidupkan kembali kehidupan pada Hari
Kebangkitan. Mikail bertanggung jawab untuk hujan dan tumbuh-tumbuhan. Ini semua adalah
sumber kehidupan di bumi. Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa mungkin keterkaitan antara ketiga
malaikat ini dan tanggung jawab mereka dalam memberi kehidupan yang membuat Nabi 
membuka shalat-shalat di akhir malamnya dengan doa berikut ini, “Ya Allah, Tuhan Jibril,
Mikail, dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan yang mengetahui yang gaib
dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukuman di antara hamba-hamba-MU tentang apa yang
mereka perselisihkan. Tunjukanlah aku pada kebenaran dari apa yang dipertentangkan dengan
seizin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan jalan yang lurus bagi orang yang Engkau
kehendaki.”
1
Perkara yang kelima yang seseorang harus penuhi dalam beriman kepada para malaikat
adalah memiliki cinta yang kuat untuk mereka karena ketaatan dan ibadah mereka pada Allah .
Lebih lanjut, mereka mengumumkan Keesaan Allah dan memenuhi segala perintah-Nya.
Mereka juga memiliki cinta dan kesetiaan yang kuat kepada orang-orang yang benar-benar
beriman kepada Allah . Mereka berdoa kepada Allah atas nama orang-orang beriman dan
meminta Allah untuk mengampuni mereka. Mereka mendukung orang-orang beriman di dunia
ini dan di Akhirat.
Hal yang penting terkait keimanan pada para malaikat adalah bahwa setiap orang harus
meyakini bahwa dia bersama dengan dua malaikat setiap saat yang mencatat amal-amalnya. Ayat
berikut ini adalah keterangan untuk para malaikat tersebut:
◼⧫⧫◆◼⧫☺⧫
✓☺◆⧫◆◆
➔⬧ →⧫❑⬧
⬧◆⧫
1
Muhammad Ibnu Utsaimin, Majmu Fatawa wa Rasail fadhilat al-Syeikh Muhammad Ibnu Shalih al Utsaimin
(Riyadh: Dar Watn, 1413 H), jilid 3, hal. 160-161.
Islamic Online University Hadits 102
292
“(Ingatlah) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah
kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan
ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (Qaf 17-18).
Beberapa Manfaat yang Di hasilkan dari Beriman kepada Malaikat
dengan Baik
1
(1) Seseorang memiliki pengetahuan atau mengakui kebesaran Allah dan kekuasaan-
Nya ketika dia merenung atas kebesaran dari para malaikat. Makhluk yang luar biasa ini adalah
sebuah tanda kebesaran dan ilmu dari Pencipta mereka. Oleh karena itu, Yang Menciptakan
mereka pantas untuk dipuja dengan sempurna dan sungguh-sungguh. Dengan demikian, Allah 
dalam menunjukkan bagaimana Dia menciptakan makhluk ini, berkata,
☺⧫⬧
◆❑☺◆
⬧◼☺
⬧◼➔◆
⧫◆⧫⬧
⧫⧫◼⧫
⬧
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-
utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada
yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Fathir 1).
Qutb menyatakan bahwa jika seseorang melihat sesiatu yang nampak dari makhluk ini,
seseorang akan takjub dan akan melihat tanda-tanda yang menunjukkan kebesaran dan
kekaguman kepada Allah . Namun, jika seseorang menyadari bahwa diluar apa yang dapat
orang lihat, ada makhluk besar yang bahkan melampaui pemahaman dari para manusia, ini
seharusnya meningkatkan iman seseorang dan penghambaannya kepada Allah . Makhluk-
makhluk ini melampaui khayalan manusia. Oleh karena itu, kebesaran makhluk Allah tidak
1
Cf., Ibnu Utsaimin, Syarah Usul Iman, hal. 29-30.
Islamic Online University Hadits 102
293
berakhir dengan apa yang manusia dapat saksikan tetapi jauh lebih besar dan jauh lebih indah
dari itu.
1
(2) Seseorang seharusnya bersyukur kepada Allah atas kepedulian dan perhatian-Nya
yang sungguh-sungguh kepada para manusia. Dia telah menciptakan makhluk-makhluk ini untuk
membantu orang-orang beriman, melindungi mereka, mencatat amal-amal mereka dan hal-hal
lainnya yang bermanfaat bagi orang-orang beriman.
(3) Seseorang harus bersyukur kepada Allah yang telah mewajibkan makhluk-makhluk
yang berbeda ini untuk menyembah-Nya dalam perkara-perkara yang mereka sanggup untuk
kerjakan. Para malaikat menyembah dan memuliakan Allah di sepanjang waktu siang dan
malam. Tetapi Allah tidak mewajibkan kepada manusia untuk berada dalam kondisi yang sama
dengan ibadah yang agung dan terus-menerus. Namun, sebagian makhluk dapat untuk
melakukan itu dan jika Allah telah menghendaki, Dia dapat mewajibkan manusia untuk
mengerjakan amal-amal ibadah dengan cara sama dengan malaikat-malaikat tersebut. Sungguh,
dengan rahmat dan kebijaksanaan-Nya, Allah tidak mewajibkan itu kepada para manusia.
2
(4) Mengakui ibadah yang agung pada Allah  yang para malaikat terlibat di dalamnya
seharusnya membuat manusia rindu taat lebih banyak lagi dalam ibadah-ibadah mereka kepada
Allah , untuk lebih dekat pada Allah dan menjadi kekasih Allah  seperti para malaikat-Nya
yang mulia.
3
(5) Ketika mengerjakan sebuah dosa ketika bersendirian dan tidak membahayakan hak-
hak manusia yang lainnya, seseorang mungkin berpikir bahwa Allah mengampuni dan
memaafkan semuanya dan dia kemudian akan berharap bahwa Allah akan mengampuni
dirinya atas dosa tersebut. Namun, dia harus mengingat bahwa tidak hanya Allah yang
menyaksikan apa yang dia sedang lakukan. Para malaikat juga ada disana mencatat amal-
amalnya dan para malaikat juga dirugikan oleh dosanya. Oleh karena itu, meskipun dia tidak
merugikan manusia yang lainnya, dia telah merugikan salah satu makhluk Allah yang
terhormat dan mulia. Ketika dia memperhatikan kenyataan ini, ini seharusnya menjadi pencegah
yang menjaga dirinya darinya melakukan dosa bahkan ketika bersendirian.
1
Qutb, hal. 178.
2
Cf., Qutb, hal. 180-181.
3
Qutb, hal.188.
Islamic Online University Hadits 102
294
“Kitab-Kitab-Nya”
Beriman kepada kitab-kitab Allah adalah tulisan yang ketiga tentang keimanan yang
telah disebutkan dalam hadits ini. Ini mengacu kepada wahyu-wahyu yang Allah telah
turunkan kepada Rasulnya sebagai rahmat dan petunjuk untuk menuntun umat manusia untuk
berhasil dalam kehidupan ini dan bahagia di Akhirat. Secara khusus, al-Quran adalah wahyu
yang terakhir. Ini adalah perkataan Allah yang tidak diciptakan.
Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa beriman kepada kitab-kitab Allah terdiri dari empat
hal:
1
pertama, seseorang harus meyakini bahwa kitab-kitab tersebut betul-betul diturunkan dari
Allah . Seseorang harus secara khusus beriman pada kitab-kitab yang telah disebutkan dalam
Quran dan sunnah. Kitab-kitab tersebut yaitu, Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
, Taurat () yang diturunkan kepada Nabi Musa alaihissalam, Injil () yang diturunkan
kepada Nabi Isa alaihissalam dan Zabur () yang diturunkan kepada Nabi Daud
alaihissalam. Juga ada keterangan dalam Quran untuk “lembaran-lembaran” dari Ibrahim dan
Musa. Kitab-kitab yang orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani miliki saat ini, yang
mereka sebut dengan Torah, Gospel, dan Psalms, mungkin berisi sebagian dari wahyu-wahyu
yang asli tersebut namun tidak ada yang meragukan bahwa kitab-kitab tersebut telah dirubah.
Sebab itu, beriman kepada Torah dari Musa, contohnya, tidak berarti bahwa seorang Muslim
beriman kepada lima kitab-kitab pertama dari Perjanjian Lama. Keduanya adalah kitab yang
berbeda meskipun yang belakangan ini mungkin memiliki sebagian dari apa yang ada Taurat
yang asli.
Ketiga, seseorang harus beriman pada segala hal yang Allah telah turunkan, apakah itu
ada dalam Quran atau di dalam kitab-kitab terdahulu. Artinya, sebagai contoh, jika Quran
menyatakan tentang sesuatu, maka orang Muslim harus beriman pada hal tersebut. Dia tidak
memiliki pilihan dalam perkara ini. Jika dia menolak perkataan apapun dalam Quran, maka dia
telah menghilangkan keimanannya pada Kitabullah. Allah berfirman,
1
Cf., Ibnu Utsaimin, Syarah Usul al-Iman, hal. 32-33.
Islamic Online University Hadits 102
295
⧫❑⬧⬧➔⧫⧫
→⬧◆➔⧫☺⬧⧫
⧫➔⧫⬧→
❑◆⬧◆⧫❑⧫◆
☺◆⧫⧫◼
➔⧫◆
⧫☺⧫❑➔☺➔⬧
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian
yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan
dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat
berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah 85).
Keempat, seseorang harus beramal sesuai dengan wahyu yang tidak dihapuskan, yaitu al-
Quran. Seseorang harus ridho dengan itu dan tunduk pada hal tersebut secara penuh. Bahkan jika
orang tersebut tidak memahami hikmah dibalik perintah atau perkataan.
Semua wahyu Allah yang terdahulu telah dihapuskan oleh wahyu yang terakhir, al-
Quran. Tidak perlu bagi setiap Muslim untuk kembali kepada sisa-sisa dari kitab-kitab
sebelumnya. Apapun yang dia butuhkan untuk membimbingnya semuanya terkandung dalam
Quran dan apa yang ditunjukkannya, seperti sunnah dari Nabi Muhammad . Allah telah
menyatakan dalam Quran,
◆⧫◆⬧⧫
⬧☺✓⧫
⧫⧫
☺◆◼⧫→◼⬧
⧫☺⧫⧫
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa
yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujianterhadap
Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan
(al-Maidah 48). Mengomentari hadits ini, Ibnu Utsaimin berkata, “ini adalah keputusan atas
kitab-kitab terdahulu. Sebab itu, tidak diperbolehkan untuk beramal sesuai dengan setiap
keputusan dari keputusan yang berasal dari kitab-kitab terdahulu kecuali itu telah dibuktikan dan
diterima oleh Quran.”
1
1
Ibnu Utsaimin, Syarah Usul Iman, hal. 32-33.
Islamic Online University Hadits 102
296
Ini adalah salah satu keberkahan dari Allah  yang Dia telah menurunkan wahyu-wahyu
untuk umat manusia. Wahyu-wahyu ini menuntun manusia pada tujuan mengapa dia diciptakan.
Ini adalah salah satu dari banyak hal dari ciptaan ini yang menolong seorang manusia dapat
melihat dan mengakui kebenaran. Mengomentari poin ini, Idris menulis,
Tuhan menciptakan umat manusia sehingga mereka dapat menyembah-
Nya. Dia menjadi seorang hamba Tuhan yang merupakan pokok dari
manusia. Oleh karena itu, manusia tidak dapat mencapai kemanusiaanya
dan memperoleh kedamaian dalam pikirannya kecuali dia menyadari
tujuan untuk apa dia diciptakan. Tetapi bagaimana dia dapat melakukan
ini? Tuhan yang maha pengasih dan adil, telah menolongnya dalam
banyak cara. Dia memberikannya... sebuah sifat yang aslinya baik yang
cenderung untuk mengetahui dan menyembah Tuhannya yang benar. Dia
memberikannya sebuah pikiran yang memiliki perasaan moral dan
kemampuan untuk dapat berpikir. Dia menjadikan seluruh alam semesta
sebuah kitab yang penuh dengan tanda-tanda yang menuntun pemikiran
seseorang pada Tuhan. Tetapi untuk membuat sesuatu lebih spesifik dan
untuk memberikan padanya pengetahuan yang lebih terperinci tentang
Tuhan-nya, dan untuk menunjukkan padanya dalam sebuah perkara yang
lebih rinci bagaimana menyembah Tuhan-nya, Tuhan telah menurunkan
pesan lisan melalui para nabi-Nya yang dipilih di antara para manusia,
bahkan sejak penciptaan manusia. Karena itu, gambaran dari pesan-pesan
ini dalam Quran sebagai petunjuk, cahaya, tanda-tanda, peringatan, dan
sebagainya.
1
Dia tidak hanya mengirim wahyu-wahyu untuk umat manusia tetapi Dia juga mengirim
wahyu-wahyu yang spesifik dan berbeda sesuai dengan kebutuhan dan peristiwa dari umat-umat
yang berbeda dari waktu ke waktu. Ini adalah ungkapan lainnya dari rahmat Allah  yang besar
untuk umat manusia. Proses ini berlanjut sampai Quran diturunkan, yang mengandung semua
petunjuk yang umat manusia butuhkan dari masa Nabi Muhammad  sampai Hari Pembalasan.
Semenjak itu dimaksudkan untuk menjadi sebagai sebuah petunjuk untuk setiap waktu sampai
Hari kebangkitan, sebagai perbandingan untuk kitab-kitab sebelumnya, allah  telah melindungi
Quran dari segala yang merusak, keliru atau menyimpang. Allah berfirman,
⧫◆⧫
◆⬧⧫❑→⧫
1
Idris, hal. 18-19.
Islamic Online University Hadits 102
297
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya. (al-Hijr 9).
Kitab-Kitab yang Terdahulu
Seperti yang dikemukakan diatas, kitab-kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad
tidak sama seperti apa yang orang-orang hari ini miliki dan disebut Torah, Gospel, dan
sebagainya. Al-Quran memperjelas bahwa umat-umat sebelumnya telah mengubah kitab-kitab
mereka dalam tiga cara yang berbeda: (1) mereka membelokkan makna atau penafsiran dari
kitab-kitab tersebut sambil meninggalkan makna yang sama tersebut; (2) mereka membelokkan
dan mengubah kata-kata dalam teks tersebut; dan (3) mereka membelokkan pesan dengan
menyembunyikan apa yang Allah telah turunkan pada mereka.
1
Allah berkata tentang umat-umat terdahulu,
◆⬧⧫⬧⧫
❑➔⧫
◆⬧◆
⧫❑☺⬧◼⧫◆⬧◆◆◆
❑→◆⧫◆
⬧⬧▪⬧⧫⧫

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu):
"Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu
menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan
mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima”
(ali-Imran 187).
salah satu hal yang paling penting yang orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani
coba untuk sembunyikan adalah tanda-tanda yang jelas dalam kitab-kitab mereka tentang
1
Untuk yang lebih detailnya pada ketiga poin ini lihat, Qutb, hal.195-201.
Islamic Online University Hadits 102
298
kedatangan Nabi Muhammad . Allah menunjukkan kepada hal terang-terangan ini yang
menyembunyikan kebenaran dalam ayat,
⧫◆⬧◆⧫
⧫❑➔➔⧫☺⧫❑➔➔⧫
➔◆◆⬧
⧫❑☺◆⬧⬧➔◆
⧫❑☺◼➔⧫
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al kitab (Taurat dan Injil) Mengenal
Muhammad seperti mereka Mengenal anak-anaknya sendiri dan Sesungguhnya sebahagian
diantara mereka Menyembunyikan kebenaran, Padahal mereka mengetahui” (al-Baqarah 146).
Terkait membelokkan makna dan perkataan dalam kitab-kitabnya, Allah berfirman
tentang orang-orang Nasrani,
◆⬧⧫❑⧫
⧫⧫⧫
◼❑⬧⧫⧫⧫◆
◆❑➔⧫❑❑→⧫◆
◆❑➔⧫◆◆❑➔
⧫❑❑→⧫◆◼⧫
⬧➔◆❑☺◼➔⧫
“Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al
Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, Padahal ia bukan
dari Al kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", Padahal ia
bukan dari sisi Allah. mereka berkata Dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (ali-
Imran 78).
Allah juga berkata tentang orang-orang Yahudi,
Islamic Online University Hadits 102
299
☺⬧⧫⬧⬧
➔⬧➔◆⧫❑➔➔
◆⬧❑➔⧫⧫
➔◆❑❑◼◆→☺
➔◆⧫⬧⬧
◼⧫⬧⬧
⬧⧫
◆⧫
✓⬧☺
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka
keras membatu. mereka suka merobah Perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya[407], dan
mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan
kamu (Muhammad) Senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara
mereka (yang tidak berkhianat), Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Maidah 13).
1
“Para Rasul-Nya”
Iman yang selanjutnya yang telah disebutkan oleh Nabi adalah beriman kepada rasul-
rasul Allah .
2
Seorang rasul adalah semua manusia yang telah dipilih oleh Allah untuk
menerima wahyu dari-Nya dan mereka yang telah diperintahkan untuk menyampaikan wahyu
tersebut. Seseorang tidak dapat dengan dirinya sendiri, melalui latihan-latihan kerohanian,
1
Salah satu kekejaman terburuk yang telah menyusupi kitab-kitab mereka adalah kisah-kisah mereka tentang para
nabi dan para rasul. Untuk mempermalukan mereka secara jelas, para penyusun kitab-kitab tersebut telah
memasukkan segala macam kisah yang menghebohkan tentang mereka yang menceritakan dengan panjang lebar
perbuatan-perbuatan yang seseorang bahkan tidak berharap itu dari orang-orang yang tidak beriman, kisah-kisah
tersebut tidak berbicara tentang para rasul dan para nabi Tuhan. Tulisan tentang keimanan selanjutnya, beriman
kepada para rasul, termasuk kenyataan bahwa Allah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi nabi dan rasul-
Nya dan oleh karena itu, mereka, harus memiliki sifat-sifat tertentu yang menempatkan mereka tinggi diatas
mengerjakan beberapa amalan yang orang-orang Yahudi dan Nasrani telah nyatakan tentang mereka.
2
Menurut al-Qari (jilid 1, hal. 57), alasan hanya para rasul yang dijelaskan dan disebutkan, seperti membandingkan
para rasul dan para nabi, adalah karena keimanan yang penting adalah beriman kepada para rasul. Ini karena para
rasul itu yang menerima wahyu dan menyampaikan wahyu tersebut. Seseorang dapat mengatakan bahwa para nabi
adalah pengikut dari para para rasul. Karena itu, hal yang paling penting adalah beriman kepada orang yang
menerima dan menyampaikan pesan tersebut. Allah mengetahui yang terbaik.
Islamic Online University Hadits 102
300
dengan mantera-mantera atau apapun itu, mencapai tingkat untuk menjadi seorang rasul atau
nabi. Hanya Allah semata yang memilih rasul-Nya dan Dia mengetahui siapa yang terbaik
untuk dipilih. Allah berfirman,
⬧⧫
◼☺◆
☺⧫

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari Malaikat dan dari manusia; Sesungguhnya Allah Maha
mendengar lagi Maha melihat.” (al-Hajj 75). Allah  juga berkata,
◼➔⬧
⧫⬧
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (al-An’am 124).
Rasul yang pertama adalah Nuh (Nuh).
1
Setiap umat telah dikirimkan para rasul dan
rasul-rasul ini datang dengan ajaran-ajaran pokok yang sama:
⬧⬧◆◆➔⧫→
❑▪
❑⧫◆❑
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut” (an-Nahl 36). Rasul dan nabi yang terakhir
adalah Nabi Muhammad . Allah berfirman,
⧫☺⧫➔⧫⧫◼
⬧◆⧫❑▪
⬧◆
1
Sebagaimana untuk Adam, dia adalah seorang nabi dan bukan seorang rasul. Semua rasul adalah nabi tapi tidak
sebaliknya. Untuk perbedaan-perbedaan antara seorang nabi dan rasul, lihat “Tanya-Jawab” penulis, al-Bashir
(jilid. 2, No. 1, Mei-Juni 1988), hal. 5-7.
Islamic Online University Hadits 102
301
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia
adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (al-Ahzab 40).
Penting untuk diperhatikan bahwa para rasul dan para nabi ini hanyalah manusia biasa.
Mereka tidak memiliki segala status atau sifat ketuhanan dalam jenis apapun.
1
Mereka tidak
memiliki pengetahuan dari hal gaib kecuali yang Allah telah turunkan kepada mereka. Sifat-sifat
mereka yang agung adalah menjadi hamba Allah . Seperti yang Allah gambarkan tentang
mereka dalam Quran. Sebaliknya, berkaitan dengan Nabi Muhammad , mengacu pada tiga
kejadian terbesar dalam hidupnya, Allah menunjuk beliau sebagai hamba-Nya.
2
Keyakinan yang benar kepada para rasul terdiri dari empat hal
3
: pertama, seseorang harus
meyakini bahwa pesan dari mereka semua adalah kebenaran yang datang dari Allah . Jika
seseorang pada hari ini mengingkari satupun dari semua hal itu yang telah dibuktikan dalam
Quran atau hadits sahih, maka dia pada kenyataannya telah mengingkari semuanya. Allah
berkata tentang umat dari Nabi Nuh,
⧫❑⬧❑
⧫✓☺
“Kaum Nuh telah mendustakan Para rasul.” (asy-Syu’ara’ 105). Namun, Nuh adalah rasul yang
pertama. Ini menunjukkan bahwa, pada dasarnya, jika seseorang mengingkari satu rasul, dia pada
kenyataannya mengingkari mereka semua karena pesan mereka pada dasarnya satu dan tidak
berubah-ubah.
Oleh karena itu, yang dianggap pengikut-pengikut Isa yang menolak untuk mengikuti
Nabi Muhammad sebenarnya mengingkari keyakinan mereka kepada Isa karena bahkan dalam
Injil-Injil yang mereka miliki ada tanda-tanda yang jelas bahwa rasul yang lainnya akan datang,
tetapi mereka tidak ingin untuk mengakui tanda-tanda ini. Allah  telah menunjukkan hal-hal
seperti ini dalam ayat-ayat berikut,
1
Ini jelas adalah salah satu jalan yang membuat orang-orang Nasrani tersesat. Mereka mengangkat nabi mereka
yaitu Nabi Isa untuk sebuah status ketuhanan padahal dijelaskan dari kitab milik mereka bahwa dia hanyalah
manusia biasa yang berdoa dan memohon kepada Tuhan dalam sejumlah kejadian.
2
Lihat, al-Furqan 1, al-Isra 1, dan al-Jin 119.
3
Cf., Ibnu Utsaimin, Syarah Usul Iman, hal. 36-38.
Islamic Online University Hadits 102
302
⧫◆⬧◆⧫
⧫❑➔➔⧫☺⧫❑➔➔⧫
➔◆◆⬧
⧫❑☺◆⬧⬧➔◆
⧫❑☺◼➔⧫
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al kitab (Taurat dan Injil) Mengenal
Muhammad seperti mereka Mengenal anak-anaknya sendiri. Dan, Sesungguhnya sebahagian
diantara mereka Menyembunyikan kebenaran, Padahal mereka mengetahui.” (al-Baqarah 146).
⧫❑➔⧫⧫❑▪

⧫⬧❑⧫➔
◆❑◆
“(Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati
tertulis di dalam Taurat dan Injil...” (al-A’raf 157).
Karena itu, Nabi berkata,
Islamic Online University Hadits 102
303
“Demi dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya. Tiada seorang-pun dari umat ini yang
mendengar seruanku
1
, baik Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang
aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka” (Hadits riwayat Muslim).
Ini adalah salah satu hal yang memebedakan umat Islam dari umat-umat sebelumnya.
Umat Islam beriman kepada semua nabi. Namun, yang lainnya menolak sebagian apakah itu
orang-orang Yahudi yang menolak Isa alaihissalam atau orang-orang Yahudi dan Nasrani yang
menolak Nabi Muhammad - meskipun, pada kenyataanya, mereka tidak memiliki alasan
apapun untuk menolak nabi yang terkahir tersebut. Setiap rasul datang dengan tanda-tanda dan
bukti yang jelas. Penolakan mereka oleh orang-orang hanya bisa didasarkan pada kesombongan,
kejahilan atau kebencian pada kebenaran tersebut.
Yang kedua, seseorang harus beriman pada semua Rasul yang telah disebutkan namanya
dalam al-Quran. Untuk mereka yang tidak disebutkan, seseorang harus beriman pada mereka
pada tingkatan pada umumnya
2
, mengetahui bahwa Allah telah mengutus banyak rasul tidak
semua dari mereka disebutkan namanya dalam Quran atau hadits. Allah telah menyatakan
dalam Quran,
⬧⬧◆◆
⬧⬧◼⧫
◆⧫◼⧫
“Dan Sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada
yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan
kepadamu. (Ghafir 78).
Yang ketiga, seseorang harus beriman pada segala hal yang mereka katakan. Mereka
telah menyampaikan pesan-pesan mereka yang berasal dari Allah dengan lengkap dan dengan
baik. Mereka mengusahakan diri mereka sendiri untuk menyebarkan pesan Allah . Mereka
berusaha keras demi Allah dengan cara yang paling sempurna. Mereka adalah yang paling
1
Yang berarti dari masa Nabi sampai Hari Pembalasan. Mereka semua adalah Umat Nabi karena mereka semua
diwajibkan untuk beriman padanya dan mengikuti dirinya.
2
Pada saat yang sama, tidak seorang pun dapat menyatakan bahwa seseorang, contohnya, Budha, adalah seorang
nabi karena tidak ada bukti apapun dari Quran dan sunnah yang menegaskan pernyataan semacam itu.
Islamic Online University Hadits 102
304
mengetahui Allah dan pemuja dan hamba Allah yang terbaik.
1
Para rasul “telah dilindungi
dari mensifati Allah dari sesuatu yang mereka ciptakan sendiri, dan menambah atau
mengurangi sesuatu dari agama tersebut.”
2
Yang keempat, seseorang harus tunduk, menerima dan beramal sesuai dengan aturan dari
rasul yang telah diutus untuk membimbingnya. Allah berfirman dalam Quran,
⬧◼◆◆❑⬧
❑☺⬧☺⧫
▪➔⬧→
⧫☺⬧❑☺◆
☺◼
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan
kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam
hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima
dengan sepenuhnya.” (an-Nisa 65).
Orang beriman seharusnya menyadari bahwa pengutusan para rasul untuk kebaikan dan
petunjuk bagi umat manusia adalah berkah yang besar dari Allah . Ilmu yang mereka
sampaikan adalah ilmu yang di luar genggaman kecerdasan manusia itu sendiri karena itu
berkaitan dengan perkara-perkara gaib. Semua kajian singkat dalam sejarah dapat menjelaskan
bahwa umat manusia tidak mampu untuk menemukan kebenaran yang mutlak dan lengkap yang
berkaitan dengan Tuhan dan penyembahan kepada-Nya kecuali melalui sumber yang terpercaya
yang membutuhkan ilmu dari sumber yang tepat, dan itu adalah rasul yang menerima ilmunya
dari Allah semata.
3
Sungguh, umat manusia lebih butuh pada petunjuk mereka daripada kebutuhan mereka
pada makanan dan minuman. Jika mereka tidak memiliki makanan dan minuman dalam jangka
waktu tertentu, mereka akan mati, yang menunjukkan kehilangan di dunia ini. Tetapi jika mereka
1
Abdullah al-Muslih dan Salah al-Sawi, Ma La Yasa’u al-Muslim Jahla (Islamic Foundation of America (Yayasan
Islam Amerika), 1995), hal.59.
2
Abdur-Rahman Abdul-Khaliq, Perintah-Perintah Umum dalam Beriman pada Quran dan Sunnah (The Majliss of
al-Haq Publication Society, 1986), hal. 18.
3
Cf., Qutb, hal.226-7.
Islamic Online University Hadits 102
305
menolak petunjuk Allah melalui pesan-pesan tersebut, mereka akan kehilangan karunia yang
abadi di Akhirat.
Sangat disayangkan bagi manusia, dalam setiap masa dan generasi, kebanyakan dari
mereka berpikir bahwa mereka memiliki pikiran dan kecerdasan yang hebat, oleh karena itu,
mereka tidak butuh kepada manusia lainnya untuk membimbing mereka- bahkan jika manusia itu
adalah rasul dari Allah . Mereka berpikir bahwa mereka dapat menemukan jalan mereka
sendiri. Kesombogan ini dan menghubungkan dengan kecerdasan mereka, apa yang jauh
melampaui jangkauannya akan menuntun pada kehancuran akhir mereka - kecuali mereka
bertobat, menerima para rasul, beriman kepada apa yang mereka bawa dan mengikuti petunjuk
mereka.
“Hari Akhir”
“Hari Akhir” disebut seperti itu karena tidak akan ada hidup yang baru setelah hari itu,
diantara nama-namanya yang lain adalah “Hari Kebangkitan,” “Yang Nyata,” “Yang Terjadi,”
“Hari Perhitungan,” dan “Yang Luar Biasa.” Ini adalah hari yang paling besar yang manusia
akan lewati. Sungguh, ini akan menjadi hari yang berat dan menakutkan. Kehidupan baru
seseorang akan diputuskan pada hari tersebut. Ini akan menandai sebuah awal yang bagi setiap
dan masing-masing jiwa. Langkah yang baru ini dapat menuntun pada kebahagiaan yang abadi
atau penderitaan yang abadi.
1
Beriman pada Hari Akhir berarti beriman kepada segala hal yang Quran dan Nabi telah
nyatakan tentang peristiwa pada Hari dan hari kemudian tersebut. Ada beberapa hal
(kebangkitan, perhitungan dan pahala, Surga dan Neraka) yang setiap Muslim seharusnya sadari
dan yakini dengan pasti. Ada juga hal-hal yang lebih detail yang Quran dan Rasulullah telah
sebutkan. Semakin banyak yang seseorang telah ketahui tentang Hari itu dan kejadian-kejadian
yang mengiringinya, semakin besar dampak dari keimanan ini yang akan dia miliki. Karena itu,
sangat dianjurkan bagi setiap Muslim untuk mempelajari tentang kejadian yang terjadi sebelum
dan pada saat Hari Kebangkitan.
1
Untuk perkataan yang Quraniyah/rasional atas keberadaan Akhirat, lihat Idris, hal. 11-16.
Islamic Online University Hadits 102
306
Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim, sebelum Hari Perhitungan dan
kehancuran dari bumi ini, Allah akan mengirim angin yang lebih lembut dari sutera, yang
datang dari Yaman, yang akan mengambil jiwa dari setiap orang bahkan yang memiliki iman
yang paling sedikit di dalam hatinya. Oleh karena itu, peristiwa-peristiwa dari akhir dunia
tersebut hanya akan disaksikan lansung oleh orang-orang terburuk, orang-orang yang tanpa iman
sama sekali.
Salah satu peristiwa yang terjadi adalah terbitnya matahari dari barat. Pada waktu itu,
orang-orang akan menyatakan keimanan mereka tetapi itu tidak akan berguna bagi mereka.
Kemudian Terompet akan ditiupkan dan segala yang ada di dunia ini akan binasa. Allah
berfirman,
◆❑⧫➔⬧⧫
◆❑☺⧫◆
⧫◆
“Dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang
dikehendaki Allah. (az-Zumar 68). Bumi dan langit ini akan hancur. Setelah masa empat puluh
tidak diketahui apakah ini empat puluh hari, bulan, atau tahun Terompet yang kedua akan
ditiupkan dan orang-orang akan dibangkitkan:
◆❑⬧⬧➔
◼◼◆
❑➔⧫⬧◆◼◆❑⧫
⧫◆⬧➔⧫⧫⬧
⧫⧫◆❑▪
◆❑➔☺
“Dan ditiuplah sangkalala, Maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju)
kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! siapakah yang membangkitkan
Kami dari tempat-tidur Kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (tuhan) yang Maha Pemurah dan
benarlah Rasul- rasul(Nya).” (Yasin 51-52).
Islamic Online University Hadits 102
307
Menurut Ibnu Utsaimin,
1
beriman pada hari akhir mencakup tiga hal. Yang pertama
adalah beriman kepada Kebangitan tersebut: setelah Tiupan Kedua dari Terompet tersebut,
orang-orang akan dibangkitkan di hadapan Allah . Mereka akan telanjang, tanpa alas kaki, dan
tidak dikhitan (sunat).
2
Allah berfirman,
☺⧫⧫⧫
◼➔◆◼⧫
✓➔⬧
“Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama Begitulah Kami akan mengulanginya.
Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya.”
(al-Anbiya 104).
Kebangkitan tersebut akan terjadi dalam jasad yang sama seperti yang seseorang miliki
ketika di kehidupan duniawi ini. Ibnu Utsaimin telah menunjukkan kebijaksanaan dan
pentingnya hal ini: “Jika itu adalah ciptaan yang baru, itu artinya, jasad yang telah mengerjakan
dosa-dosa itu akan selamat dari siksaan apapun. Datang dengan jasad yang baru dan memiliki
jasad yang dihukum tersebut bertentangan dengan apa yang pantas. Sebab itu, teks dan pendapat
yang masuk akal menunjukkan bahwa [orang] yang dibangkitkan tersebut bukanlah [jasad] yang
baru tetapi yang kembali [dari ciptaan yang lama].
3
Beliau juga menerangkan bahwa Allah 
memiliki kemampuan untuk menciptakan kembali jasad-jasad tersebut bahkan setelah jasad-
jasad tersebut hancur. Manusia mungkin tidak dapat untuk memahami bagaimana sebenarnya itu
mungkin seperti kebanyakan hal-hal lainnya yang manusia tidak dapat pahami tetapi Allah 
telah menyatakan itu dan seorang yang beriman mengetahui dengan baik bahwa itu benar dan
baik dalam kemampuan Allah untuk melakukannya.
Hal yang kedua adalah beriman pada catatan atau perhitungan amal-amal dan
pahala/siksaan untuk amal-amal tersebut. Hal ini telah disebutkan dan ditegaskan dalam banyak
tempat dalam Quran. Ini adalah beberapa contohnya:
1
Cf., Ibnu Utsaimin, Syarah Usul Iman, hal. 40-41.
2
Seperti yang Nabi katakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
3
Ibnu Utsaimin, Majmu, jilid 3, hal.174.
Islamic Online University Hadits 102
308
◆⬧◆⧫ ▪➔
◆◼⧫◆
“Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka. Kemudian Sesungguhnya kewajiban Kami-
lah menghisab mereka.” (al-Ghasyiyah 25-26).
⧫◆⧫◆❑☺
❑◆☺◆⬧◼→➔
▪⧫◆⧫⬧
⬧
⬧◆✓
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka Tiadalah dirugikan
seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami
mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (al-Anbiya’ 47).
Allah telah memperjelas bahwa semua amal akan ditimbang di Hari Perhitungan.
1
Allah berfirman,
◆❑◆⧫❑⧫⬧
☺⬧◼→◆❑⧫
⬧⬧➔⧫❑⬧☺
⧫◆◆❑⧫
⬧⬧⧫
→☺❑
◆⧫⧫⧫❑→⧫
1
Ada perbedaan pendapat terkait apa yang sebenarnya akan diletakkan pada timbangan pada Hari Perhitungan
tersebut. Sebagian mengatakan bahwa orang itu sendiri yang akan ditimbang. Sebagian mengatakan bahwa yang
ditimbang adalah daftar catatan amal-amal orang tersebut. Yang lainnya mengatakan bahwa amalan-amalan itu
sendiri yang akan ditimbang. Ada dalil-dalil yang kuat atas ketiga pendapat tersebut. Kenyataannya, yang paling
mungkin adalah semua orang, catatan dan amal-amalnya yang akan ditimbang. Allah mengetahui yang terbaik.
Cf., Ahmad al-Ali, Masyahid al-Quyamah fi al-Hadits an-Nawawi (Al-Mansurat, Mesir: Dar al-Wafa, 1991), hal.
150-153.
Islamic Online University Hadits 102
309
“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), Maka Barangsiapa berat timbangan
kebaikannya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan
timbangan kebaikannya, Maka Itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan
mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami.” (al-A’raf 8-9).
Sekali lagi, sebagian orang-orang mungkin berkata, “Amalan yang seperti apa yang para
ahli filsafat sebut dengan kebetulan, tanpa timbangan atau massa, bagaimana semua itu dapat
ditimbang?Jawabannya adalah bahwasanya Allah memiliki kemampuan untuk menimbang
semua itu. Tidak ada manusia yang memiliki gambaran apapun tentang Timbangan mereka
sendiri yang akan digunakan pada hari tersebut, tidak berbicara tentang timbangan-timbangan
dari amal-amal tertentu. Allah akan menimbang semuanya dan hanya Dia. Setiap amalan akan
memberatkan dengan tepat apa yang benar-benar bernilai sesuai dengan timbangan Allah .
1
Seseorang harus selalu mengingat bahwa pahala yang Allah berikan kepada para
hamba-Nya adalah sebuah tindakan belas kasih-Nya karena Dia memberikan pahala bagi mereka
lebih daripada apa yang mereka lakukan. Namun, siksaan Allah di luar dari keadilan-Nya dan
Dia tidak menyiksa seseorang lebih dari apa yang dia pantas terima.
Hal penting yang ketiga adalah beriman pada Hari Akhir adalah yakin kepada Surga dan
Neraka. Surga adalah tempat tinggal yang abadi atau pahala bagi orang-orang beriman. Neraka
adalah tempat tinggal yang abadi atau siksaan bagi orang-orang yang tidak beriman. Pendapat
yang paling kuat adalah keduanya ada di waktu sekarang ini dan keduanya akan terus ada
selamanya. Keduanya bukan sekedar pemikiran seperti yang sebagian orang-orang non Muslim
dan beberapa orang Muslim yang sesat yakini. Allah dan Rasul-Nya telah menyebutkan
tentang semua itu dan telah menggambarkannya dengan jelas dan dalam istilah-istilah yang
terang. Tidak ada sama sekali ruang bagi setiap Muslim untuk mengingkari keberadaan atau
gambaran dari keduanya.
Tentang Surga, sebagai contoh, Allah berfirman,
⧫❑⧫◆❑➔◆
⬧⬧
1
Ibnu Utsaimin, Majmu, jilid 3, hal. 179). Beliau juga membahas pertanyaan tentang apakah hanya ada satu
timbangan atau banyak timbangan.
Islamic Online University Hadits 102
310

➔⧫⧫◆→
⧫◆⧫

⧫▪⧫
❑→◆◆⧫⬧☺
◆
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah
Sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah Surga 'Adn yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap
mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang
takut kepada Tuhannya.” (al-Bayyinah 7-8).
⬧◼➔⬧▪⧫◆⚫
▪➔✓⧫☺
❑⧫❑➔☺➔⧫
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai
Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (as-Sajdah 17).
Terkait neraka, sebagai contoh, Allah berfirman,
⧫⧫⧫✓☺→
⧫⧫◼➔◆
◆❑➔⧫❑➔⧫
☺☺❑
◼❑❑◆
◆◆⬧
“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya
mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum
Islamic Online University Hadits 102
311
dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling
buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi 29)
➔⬧⧫⬧
⧫◆⚫➔
⧫⧫
⧫⬧◆◆⧫
⧫❑⧫⬧➔➔❑
⧫❑❑→⧫◆◼⧫
➔⬧◆➔⬧◆
❑▪
“Sesungguhnya Allah mela'nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang
menyala-nyala (neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh
seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-
balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah
dan taat (pula) kepada Rasul”. (al-Ahzab 64-66).
Hal-Hal di Alam Kubur
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa beriman pada Hari Akhir juga termasuk dalam
beriman kepada segala hal yang akan terjadi pada seseorang setelah kematiannya dan sebelum
datangnya Hari Kebangkitan.
1
Termasuk fitnah (ujian) di alam kubur dan nikmat atau azab
dalam kubur. Fitnah (ujian) di alam kubur tersebut telah disebutkan di dalam hadits sahih yang
diriwayatkan oleh Tirmidzi. Yang menyatakan bahwa dua malaikat, Munkar () dan Nakir
( ), datang kepada seseorang dan bertanya padanya: Apa yang dapat engkau katakan tentang
orang ini [maksudnya Nabi ]. Dalam riwayat yang berbeda menyebutkan bahwa kedua
1
Dinukil dalam Ibnu Utsaimin, Majmu, jilid 3, hal. 169.
Islamic Online University Hadits 102
312
malaikat tersebut datang dan menanyakan tiga pertanyaan: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu?
Siapa nabimu?
1
Azab dan nikmat di alam kubur adalah apa yang diterangkan dalam dua ayat Quran
berikut ini. Yang pertama adalah sebuah gambaran nikmat yang datang melalui kedua malaikat
tersebut sebelum orang-orang beriman masuk ke dalam Surga. Yang kedua adalah keterangan
untuk azab yang orang-orang yang zalim terima sebelum datangnya Hari Kebangkitan:
❑⬧◆
▪➔❑☺⬧⧫⧫⧫⬧
◼⧫➔◼☺
❑➔⬧◆❑⧫⧫
◆
⧫❑➔
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:
“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah
yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushshilat 30).
❑⬧◆⧫⬧❑☺→
⧫☺❑
➔⬧◼☺◆❑⧫
❑→→
⧫❑◆⧫⧫
❑☺❑❑→⬧
◼⧫◆⧫◆
⧫⧫◆⧫◼
“Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut,
sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu"
1
Untuk teks hadits ini, lihat Albani, Sahih al-Jami al-Saghir, jilid 1, hal. 186 dan jilid 1, hal. 344.
Islamic Online University Hadits 102
313
di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan
terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri
terhadap ayat-ayatNya.” (al-An’am 93).
Banyak orang menanyakan pertanyaan berikut ini tentang azab di dalam kubur: apakah
azab di dalam kubur adalah azab yang hanya menimpa jiwa saja atau itu juga menimpa jasad,
yang seiring waktu membusuk? Ibnu Utsaimin menjawab pertanyaan ini dengan berkata,
Azab di dalam kubur adalah yang pertama dan paling utama bagi jiwa
dan, mungkin, juga akan sampai pada jasad. Namun, itu menjadi yang
utama bagi jiwa tidak berarti bahwa jasad tersebut tidak mendapatkan
siksa dari semua itu. kenyataannya, jasad tersebut harus menerima azab
atau nikmat tersebut, bahkan jika itu tidak secara lansung. Ketahuilah
bahwa azab atau nikmat di dalam kubur tersebut berlawanan dengan azab
atau nikmat di dunia ini. Azab atau nikmat di dunia ini adalah [yang
pertama dan utama] bagi jiwa dan itu kemudian mempengaruhi jiwa.
Dalam masa antara kematian dan Hari Perhitungan, azab atau nikmat
tersebut adalah bagi jiwa dan itu juga akan berpengaruh atas jasad.
1
Ibnu Utsaimin juga menujukan pada pertanyaan berikut ini: Bagaimana bisa seseorang
berkata bahwa kuburan yang menghimpit jasad dari orang yang tidak beriman tersebut, sampai
pada keadaan merusak tulang rusuknya
2
sementara jika kuburan tersebut dibongkar orang akan
menemukan bahwa tidak ada yang berubah di dalam peti mati atau orang tersebut? Ibnu
Utsaimin merespon dengan mengatakan,
Pertama dan yang utama, azab di dalam kubur adalah bagi jiwa. Ini
bukanlah sesuatu yang secara fisik dialami oleh tubuh. Jika itu adalah
sesuatu yang dialami dan disaksikan secara fisik atas tubuh tersebut, itu
tidak akan menjadi salah satu diantara perkara yakin kepada Yang Gaib.
Dan tidak akan ada manfaat untuk keyakinan semacam itu. Namun, ini
adalah perkara Gaib yang berkaitan dengan jiwa. Seseorang mungkin
melihat di dalam mimpi, saat dia sedang tidur di tempat tidurnya, dia
sedang berdiri, pergi, datang, memukul atau dipukul seseorang. Dia
bahkan mungkin melihat, saat dia sedang tertidur di tempat tidurnya, dia
pergi untuk mengerjakan Umrah, mengelilingi Ka’bah dan pergi di antara
1
Ibnu Utsaimin, Majmu, jilid 1, hal. 173. Tentu saja, di dalam Surga dan Neraka, nikmat dan azab tersebut akan
terjadi pada jiwa dan pada jasad tersebut.
2
Hal-hal ini semuanya telah dinyatakan dalam hadits-hadits yang sahih dari Nabi . Untuk lebih detailnya, lihat
Umar al-Ashqar, Al-Yaum al-Akhir: al-Qiyamah al-Sughra (Kuwait: Maktab al-Falah, 1986), hal. 41-83).
Islamic Online University Hadits 102
314
bukit Safa dan Marwa, mencukur atau memotong rambutnya dan
kemudian kembali ke daerah asalnya. Selama ini, tubuhnya ada di
ditempat tidurnya dan tidak berubah sama sekali. Oleh karena itu,
keadaan-keadaan dari jiwa tidak berbeda dari tubuh tersebut.
1
Ada hal-hal tambahan yang terperinci terkait dengan Neraka yang seorang yang beriman
seharusnya pelajari dan yakini. Dikarenakan ruang yang terbatas, semua itu tidak dapat dibahas
dengan terperinci di sini.
2
Perkara-perkara ini termasuk: (1) Sumber air atau Telaga Rasulullah 
3
; (2) Syafaat yang berbeda; (3) Pembagian kitab-kitab amal; (4) lewat di atas shirath (jembatan)
yang ada di atas Neraka
4
; dan (5) Masuk ke dalam Surga dan Neraka dengan semua hal yang
terkaitnya.
Pentingnya Beriman Pada Hari Akhir Dengan Baik
Beriman dan memiliki ilmu tentang peristiwa-peristiwa yang besar di Hari Akhir dan
Akhirat seharusnya memiliki beberapa pengaruh yang sangat mendalam pada seseorang jika
dia meluangkan waktu untuk mengingat dan secara serius memikirkan tentang hari tersebut.
Yang pertama, hal itu seharusnya membuat orang beriman bergegas untuk mengerjakan amalan
yang baik, mengetahui pahala yang mungkin disimpankan untuk mereka. Hadiah Surga lebih
besar dari apapun yang mata pernah saksikan atau bahkan dari apapun yang pikiran dapat
bayangkan. Pertama dan yang utama, pahala yang besar ini termasuk keridhoan dari Allah dan
kesempatan untuk melihat-Nya di Akhirat. Jika seseorang bisa sadar tentang hal ini setiap saat di
dalam kehidupannya, dia akan dengan gelisah meminta dan mencari untuk mengerjakan setiap
amal-amal baik yang dia bisa kerjakan.
Kedua, ancaman azab tersebut seharusnya menggoncangkan orang tersebut dari
melakukan setiap dosa, tidak perduli seberapa “ringan” dosa tersebut. Tidak ada dosa yang
dikerjakan di dunia ini bisa jadi sepadan dengan azab yang bisa terjadi di Akhirat. Lebih lanjut,
dengan melakukan dosa, orang tersebut juga bisa mendapatkan ketidakridhoan dari Allah ,
Tuhan, pencipta, dan yang dicintainya.
1
Ibnu Utsaimin, Majmu, jilid 3, hal. 137.
2
Meskipun tidak digunakan sebagai referensi di sini dikarenakan terperincinya, Salam (hal. 120-145) telah
memberikan sebuah pembahasan yang luar biasa namun singkat tentang banyak hal dalam Neraka.
3
Untuk pembahasan dalam bahasa Inggris tentang topik ini, lihat Abu Muhammad al-Hasan al-Barbahari; The
Explanation of the Creed (Penjelasan tentang Aqidah) (Birmingham, UK: Penerbit al-Hanif, 1995), hal.36.
4
Lihat al-Barbahari, hal. 37.
Islamic Online University Hadits 102
315
Ketiga, menurut Ibnu Utsaimin, pembalasan dan peradilan di Hari Perhitungan
seharusnya membawa ketenangan dan hiburan di dalam hati orang beriman. Ini adalah hal yang
normal bagi para manusia untuk memiliki rasa benci pada ketidakadilan. Di dunia ini, itu
nampaknya sering terjadi. Orang-orang yang curang dan yang tidak bermoral kerapkali berhasil
di dunia ini tanpa pernah menderita atas apa yang mereka telah lakukan. Namun, dalam skala
yang besar, ini hanya karena dunia ini bukanlah tempat akhir untuk penghakiman, pahala dan
azab. Mereka tidak akan lolos dari kejahatan yang mereka lakukan. Amal-amal yang baik dari
seseorang tersebut juga tidak akan sia-sia, sebagaimana yang mereka terkadang saksikan di dunia
ini. Akan datang waktunya bagi semua perkara-perkara tersebut untuk diselesaikan dan akan
diselesaikan dengan cara yang adil. Dan waktu tersebut adalah di Hari Perhitungan.
1
Yang keempat, tanpa petunjuk dari Allah dan keimanan yang baik pada Allah , hasil
akan penuh dengan keputusasaan dan tidak akan ada tujuan hidup, maka tidak akan ada maksud
untuk menjadi bermoral, untuk melakukan apa yang benar atau untuk segala jenis pekerjaan.
Kenyataannya, ini adalah kesimpulan yang datang dari Jean-Paul Sartre. Dia dianggap oleh
banyak orang sebagai pemikir terkemuka di abad ini dan meski begitu dia menyimpulkan bahwa
semua makhluk ini tidak memiliki tujuan dan semuanya sia-sia dan tidak ada kebijakan atau arti
dari keberadaan manusia. Tanggapan Allah untuk cara berpikir yang disayangkan ini yang
sebagian manusia datangi adalah:
⧫◆◆◼◆☺
◆◆⧫◆☺⬧⧫⧫
⬧⬧⧫
◆❑⬧⧫

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah.
yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu
karena mereka akan masuk neraka.” (Shad 27).
1
Ibnu Utsaimin, Syarah Usul Iman, hal. 46.
Islamic Online University Hadits 102
316
“dan Beriman kepada takdir (al-Qadar), [baik] yang baik
ataupun yang buruk.”
Penyampaian kembali “beriman kepada”
Hal pertama yang seseorang mungkin perhatikan adalah Rasulullah mengulang
kembali kata, “beriman kepada,” sebelum menyebutkan takdir (al-Qadar). Rasulullah tidak
mengulang kata ini sebelum menyebutkan semua iman-iman tersebut. Tentu saja, pasti ada
beberapa alasan untuk ini. Para ulama telah membahas dan berbeda mengenai alasan dibalik ini.
Salah satu pandangan, yang disampaikan oleh al-Qari, bahwa ada beberapa “jarak
perkataan” antara awal dari kalimat dan iman yang terakhir tersebut. Sebab itu, kata itu diulang
untuk menyatakan bahwa al-Qadar adalah sesuatu yang juga harus diyakini.
1
Dalam pandangan
penulis, pendapat ini tidak terdengar terlalu meyakinkan.
Al-Ubay menyatakan bahwa telah disebutkan bahwa alasan dibalik pengulangan kata,
“beriman pada”, adalah bahwasanya Rasulullah mengetahui bahwa orang-orang nantinya akan
berbeda tentang al-Qadar.
2
Bahkan, konsep al-Qadar adalah sesuatu yang telah menyebabkan
pada pemabagian yang begitu banyak dan perbedaan pendapat dalam sejarah Islam. Sebagian
kelompok secara terang-terangan mengingkari keberadaannya sama sekali. Karena itu,
Rasulullah menegaskan bahwa ini adalah bagian penting dalam iman untuk beriman pada al-
Qadar.
Pandangan yang ketiga adalah yang disampaikan oleh al-Mudabaghi. Dia menyatakan
bahwa kata perintah, “beriman kepada” diulang dikarenakan pentingnya perkara al-Qadar.
Pentingnya adalah bukan dalam perkara yang baru saja disebutkan dalam pandangan kedua,
tetapi karena itu adalah sesuatu yang hanya berkaitan dengan mereka yang benar-benar memiliki
ilmu yang luas tentang agama Allah yang menyadarinya. Hanya mereka yang memahami
pentingnya dan kenyataan bahwa seseorang harus meyakini itu. Ini berbeda dari iman-iman yang
lainnya yang, umumnya, diketahui dan diakui oleh semua Muslim.
1
Al-Qari, jilid 1, hal. 58.
2
Al-Ubay, jilid 1, hal. 67.
Islamic Online University Hadits 102
317
Beriman pada al-Qadar
Iman yang selanjutnya dan yang terakhir yang disebutkan oleh Nabi adalah beriman
kepada “takdir” atau al-Qadar. Idris membahas makna dari kata ini dan menyatakan,
Makna asli dari kata Qadar adalah ukuran atau jumlah yang ditentukan,
apakah dari banyaknya atau kualitasnya. Kata ini memiliki banyak
pemakaian lainnya yang berkembang dari hal yang pokok ini. Dengan
demikian, yuqad-dir berarti, antara lainnya, mengukur atau memutuskan
jumlah, kualitas, kedudukan, dan sebagainya., dari sesuatu sebelum
engkau benar-benar melakukannya. Dan yang terakhir ini yang menarik
bagi kami disini.
1
Ini adalah kewajiban bagi setiap Muslim untuk beriman pada konsep Qadar atau Takdir.
Kenyataannya, hadits dari Jibril ini telah disampaikan oleh Abdullah Ibnu Umar ketika sebagian
orang datang berbicara padanya bahwa telah muncul seseorang yang mengingkari Qadar. Awal
dari narasi tersebut di dalam Sahih Muslim adalah sebagai berikut:
Ini diriwayatkan dalam atsar dari Yahya Ibnu Yamur bahwa orang yang
pertama membahas tentang Qadar di Basra adalah Ma’bad al-Juhani.
Aku [Yahya] bersama dengan Humaid Ibnu Abdurrahman al-Himyari
berangkat untuk berhaji atau Umrah dan kami berkata, “Seandainya kita
bertemu dengan salah seorang Sahabat dari Rasulullah , kita akan
menanyakan padanya tentang apa yang telah dibicarakan tentang Qadar.”
Tiba-tiba kami bertemu dengan ‘Abdullah bin ‘Umar bin Khattab’ ketika
dia sedang memasuki mesjid. Lalu kami mengelilinginya. Salah satu dari
kami berdua berada di sisi kanannya dan yang lainnya berdiri di sisi
kirinya. Aku menyangka bahwa sahabatku menyerahkan padaku untuk
berbicara [untuk kami berdua]. Oleh karena itu, Aku berkata, “Wahai
Abu Abdurrahman [Abdullah bin Umar], telah muncul sekelompok orang
di daerah kami yang membaca al-Quran dan gemar mengumpulkan
ilmu.” Maka, setelah menjelaskan keadaan mereka, Aku berkata,
“Mereka menganggap bahwa tidak ada semacam Takdir dan segala
sesuatu yang terjadi adalah baru [untuk siapapun, termasuk Allah ].”
[Abdullah bin Umar] kemudian berkata, “Ketika kalian bertemu dengan
orang seperti mereka, katakan pada mereka bahwa Aku berlepas diri dari
mereka dan mereka berlepas diri dariku. Dan, sungguh, mereka sama
sekali tidak memiliki tanggung jawab atas apa keyakinanku.” Abdullah
1
Idris, hal. 24.
Islamic Online University Hadits 102
318
bin Umar kemudian bersumpah dengan nama Allah , “Jika salah
seorang dari mereka [yang tidak meyakini Takdir] memiliki emas sebesar
gunung Uhud dan kemudian dia infakkan [di jalan Allah ], niscaya
Allah tidak akan menerimanya sampai dia beriman pada Takdir.”
1
Lalu
dia berkata, “Ayahku Umar bin Khattab pernah berkata padaku...” [Dia
kemudian menyampaikan hadits Jibril tersebut.]
2
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa ada empat “tingkatan” atau prinsip dalam beriman pada
Qadar. Jika seseorang tidak percaya pada keempat kaidah ini, dia tidak memiliki keimanan yang
benar dan baik kepada Allah .
3
Tingkatan yang pertama adalah meyakini Allah maha tahu atas segala sesuatu. Baik
secara umum maupun terperinci, sebelum itu ada. Ini berkaitan dengan, apa yang biasanya
disebut dengan, perbuatan Allah , seperti menurunkan hujan, memberi kehidupan, dan
sebagainya, begitu juga dengan perbuatan dari para manusia. Allah memiliki ilmu tentang
sesuatu yang belum terjadi tentang semua amal-amal dari makhluk ciptaannya berdasarkan ilmu-
Nya yang Dia digambarkan dengan keabadian. Termasuk ilmu-Nya tentang semua urusan yang
berkaitan dengan ketaatan, ketidaktaatan, rezeki, dan ajal.
Prinsip ini dapat disimpulkan dari banyak ayat Quran, seperti:
◼◆⧫⧫
☺◼➔⧫◆❑➔◼➔⧫◆⧫
⬧⧫◆⧫◆
→◼⬧◆◆☺◼➔⧫
◆☺➔→◆
1
Ibnu Hubairah menjelaskan bahwa hadits ini menceritakan bahwa orang-orang tersebut mungkin membaca al-
Quran dan banyak menuntut ilmu, namun, mereka memiliki kekurangan dalam keimanan mereka dan mereka
terjatuh dalam kesesatan. Oleh karena itu, amalan mereka tidak akan sampai pada Allah dan ilmu agama yang
mereka pelajari tidak akan diterima oleh Allah . Kejahatan atau keyakinan mereka yang keliru akan menghalangi
amal-amal mereka untuk diterima. Ini karena keyakinan-keyakinan tersebut adalah dasar dari agama seseorang
dan hanya pengamalan yang memiliki pondasi yang baik yang diridhoi oleh Allah . Lihat Ibnu Hubairah, jilid 1,
hal. 299.
2
Siddiqui, Sahih Muslim, jilid 1, hal. 1-2) (dengan beberapa koreksi).
3
Lihat Syams al-Din Ibnu al-Qayyim, Syifa al-Alel fi Massa’il al-Qadha wa al-Qadar wa al-Hikmah wa al-Talil.
(Beirut: Dar al-Marifah, n.d), hal. 29-65.
Islamic Online University Hadits 102
319
◆◆▪⧫⧫
✓
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali
Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun
yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam
kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab
yang nyata (Lauh Mahfudz)” (al-An’am 59).
Tingkatan iman kepada Qadar adalah meyakini bahwa Allah telah menuliskan segala
sesuatu sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Karena itu, Allah tidak hanya menguasai
dan mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi Allah juga telah menuliskan informasi ini dalam
Kitab yang Nyata (Lauh Mahfudz  ). Perbuatan seperti itu tidaklah sulit bagi Allah 
sama sekali. Allah berfirman,
⬧◼➔⬧◼➔⧫⧫
☺◆⬧
⧫⬧◼⧫

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di
langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh
Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu Amat mudah bagi Allah. (al-Hajj 70). Allah juga
berfirman,
⧫⧫
◆→⧫
⬧◆⬧
◼⧫
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan
telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang
demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadiid 22). Selanjutnya, Nabi bersabda,
Islamic Online University Hadits 102
320
“Allah telah menulis takdir seluruh makhluk ciptaan-Nya semejak lima puluh ribu tahun sebelum
penciptaan langit dan bumi. Beliau juga berkata, “Dan Arsy Allah dulu ada di atas air). (HR.
Muslim).
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa sebenarnya ada perbedaan jenis dari “sebelum
penulisan” atau “sebelum penetapan” yang akan terjadi di masa depan.
1
Yang keempat itu adalah
sebagai berikut: (a) Takdir yang sudah ada sebelumnya berdasarkan ilmu dari Allah yang telah
ditulis dalam Kitab yang Nyata; (2) Ketetapan Allah yang terkait dengan kehidupan seseorang
pada saat dia masih berupa janin dalam rahim ibunya.
2
Ini termasuk rezeki, ajal, perbuatan, dan
apakah dia akan berhasil atau sengsara. (c) Takdir tahunan yang terjadi pada malam Lailatul
Qadar yang menetapkan apa yang akan terjadi selama setahun.
3
(d) Takdir harian untuk segala
hal yang terjadi. Menurut Ibnu Qayyim dan yang lainnya
4
, berdasarkan beberapa riwayat yang
dinukil oleh at-Tabarani dan yang lainnya, ini adalah apa yang ayat berikut sebutkan,
❑⧫◆❑➔
“Setiap hari dia (mengatur) urusan (semua makhluknya)” (ar-Rahman 29). Allah mengetahui
yang terbaik.
Tingkatan yang ketiga adalah beriman pada ketetapan Allah dari segala hal yang ada,
dan jika Dia tidak menghendaki sesuatu, sesuatu tersebut tidak akan ada. Sekali lagi ini berkaitan
dengan segala hal. Ini juga termasuk segala perbuatan yang dikerjakan oleh manusia. Tidak ada
yang dapat dilakukan kecuali Allah menghendaki itu dan mengizinkan itu terjadi. Contohnya,
1
Lihat Ibnu Qayyim, Syifa, hal. 6-24).
2
Prinsip ini disebutkan dalam hadits Nomor 4 dalam Hadits Arbain.
3
Surat ad-Dukhan, ayat 3-4, adalah referensi untuk catatan ini.
4
Jenis yang terakhir ini juga disebutkan dalam Abdur-Rahman al-mahmud, al-Qadha wa al-Qadar fi Dhau al-Kitab
wa al-Sunnah wa Madhabib al-Nas Fiih (Riyadh: Dar al-Nashr al-Dauli, 1994), hal. 51; Muhammad al-Hammad,
al-Iman bi-I-Qadha wa al-Qadar (Riyadh: Dar al-Watn, 1416 H.), hal. 71.
Islamic Online University Hadits 102
321
seseorang mungkin berniat atau mencoba untuk menembak atau membunuh orang lain tetapi
yang semacam itu hanya terjadi jika Allah menetapkannya. Orang tersebut mungkin saja
mengambil semua langkah yang diperlukan tetapi jika Allah tidak menghendaki itu terjadi, itu
tidak akan terjadi. Dalam kasus yang baru saja disebutkan, Allah mungkin menghendaki
senjata tersebut macet atau tangan penembak tersebut tersentak dan meleset dari targetnya dan
seterusnya.
Prinsip Qadar ini dapat juga disimpulkan dalam potongan dalil yang banyak. Contohnya,
Allah berfirman,
❑⬧◆◆⧫⧫⧫
⧫➔⧫➔⧫
⧫◆→⧫
⬧◆❑→◼⧫☺⬧
⧫◆◆⧫❑⬧◆
◆⧫❑➔⧫⧫
⬧◆➔⧫⧫
“Kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang)
sesudah Rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi
mereka berselisih, Maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka
yang kafir. seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. akan tetapi
Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (al-Baqarah 253). Allah juga berfirman,
◆❑➔⧫✓⬧➔
 ☺◆
⧫⧫ ⧫◆⧫⧫◼
◆⧫◆✓☺◼➔

Islamic Online University Hadits 102
322
“Al Qur'aan itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara
kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh
jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (at-Takwir 27-29).
Ibnu Utsaimin juga memberikan sebuah pendapat yang masuk akal untuk prinsip dalam
beriman pada Qadar ini. Dia mengatakan bahwa harus diterima bahwa Allah adalah yang yang
Maha Memiliki, Maha Menguasai, dan Maha Mengatur makhluk ciptaan-Nya ini. Sebab itu, ini
bukanlah menjadi suatu masalah, selama segala sesuatu yang terjadi berada dalam Pengawasan-
Nya dan merupakan bagian dari Kekuasaan-Nya, jika sesuatu terjadi dalam Kekuasaan-Nya yang
Dia tidak kehendaki. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terjadi pada makhluk ciptaan-Nya
adalah sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak akan ada yang dapat terjadi kecuali Dia
menghendakinya. Sebaliknya, pengawasan dan penguasaan-Nya atas kekuasaan-Nya akan
menjadi tidak sempurna atau berkurang, sebagaimana segala sesuatu yang akan terjadi dalam
kekuasaan-nya baik itu Dia tidak menghendakinya untuk terjadi ataupun segala sesuatu tersebut
terjadi tanpa Ilmu dari-Nya. Hipotesis ini tidak dapat diterima.
1
Tingkatan beriman kepada Qadar yang keempat adalah beriman pada penciptaan Allah 
atas segala sesuatu, yang membuat segala sesuatu menjadi ada, dan yang menyebabkan segala
sesuatu terjadi. Prinsip ini juga ditunjukkan dalam banyak ayat al-Quran, seperti:
◆⧫⬧⧫⧫⬧→
◼⧫◼⧫⧫❑◆✓☺◼➔
⧫ ⬧→
◆❑☺◆⬧◆
⧫⬧◆⬧◆⧫
☺⧫◼◆→
◼◆⬧⬧⬧
“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia
menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan
bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan
1
Ibnu Utsaimin, Majmu, jilid 3. Hal. 195.
Islamic Online University Hadits 102
323
Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-
rapinya.” (al-Furqan 1-2). Dan juga,
→
“Allah menciptakan segala sesuatu.” (az-Zumar 62). Dalam ayat yang lainnya menyatakan,
◼⬧
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (al-Qamar 49). Allah juga
berfirman,
◆⬧◼⬧⧫◆⧫❑➔☺➔⬧

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (ash-saffat 96).
Ibnu Utsaimin menjelaskan hal ini dengan mangatakan,
Segala sesuatu adalah ciptaan dari Allah . Bahkan amalan-amalan dari
manusia adalah ciptaan Allah . Meskipun semua itu dengan pilihan dan
kehendak [manusia], semua itu adalah ciptaan Allah . Ini karena setiap
perbuatan dari manusia adalah hasil dari dua hal: sebuah kemauan [untuk
melakukan suatu perbuatan] yang pasti dan kemampuan [untuk
melakukan suatu perbuatan] yang lengkap. Contohnya, seandainya di
hadapanmu ada batu yang beratnya dua puluh pon. Aku berkata padamu,
“Angkat batu ini,” dan engkau berkata, “Aku tidak dapat
mengangkatnya.” Dalam keadaan ini, engkau kekurangan kemauan yang
mencegah dirimu dari mengangkat batu tersebut. Jika Aku berkata
padamu untuk kedua kalinya, “Angkat batu itu,” dan engkau berkata,
“Baiklah, Aku akan mendengar dan melakukan apa yang engkau telah
katakan.” Pada keadaan ini, jika engkau ingin untuk mengangkat batu
tersebut tetapi engkau tidak mampu untuk mengangkatnya, engkau tidak
akan memiliki kemampuan untuk mengangkat itu karena engkau tidak
memiliki kemampuan untuk melakukan yang demikian. Jika Aku berkata
padamu untuk ketiga kalinya, “Angkat batu itu,” dan engkau patuh dan
mengangkat batu itu di atas kepalamu, itu karena engkau memiliki
kemampuan dan kemauan untuk melakukannya.
Islamic Online University Hadits 102
324
Oleh karena itu, semua amal yang kita kerjakan adalah, hasil dari
kemauan yang pasti dan kemampuan yang lengkap.
1
Satu-satunya yang
menciptakan kemampuan dan kemauan tersebut adalah Alkah . Jika
Allah telah membuatmu lumpuh, engkau tidak akan memiliki
kemampuan tersebut. Jika engkau mengarahkan perhatianmu pada
amalan yang lainnya, engkau tidak akan melakukannya...
Oleh karena itu, kami katakan: Segala perbuatan dari manusia diciptakan
oleh Allah . Ini karena semua itu adalah hasil dari kemauan yang pasti
dan kemampuan yang lengkap. Yang menciptakan kemauan dan
kemampuan tersebut adalah Allah . Cara dimana Allah adalah
pencipta dari kemauan dan kemapuan tersebut adalah bahwasanya
kemauan dan kemampuan tersebut adalah dua sifat dari dari seseorang
yang menginginkan sesuatu dan seseorang yang memiliki kemampuan
tetapi yang menciptakan orang tersebut adalah Allah . Yang
menciptakan orang yang memiliki sifat-sifat tersebut adalah yang juga
menciptakan sifat-sifat tersebut. Ini membuat masalah menjadi jelas dan
menunjukkan bahwa segala perbuatan dari manusia adalah ciptaan dari
Allah .
2
Sebenarnya, ada sejumlah pertanyaan dan kesalahpahaman yang telah muncul di sekitar
konsep Qadar. Dikarenakan ruang yang terbatas, semua itu tidak dapat disebutkan dengan
mendetail disini. Namun, dalam kutipan yang tidak terlalu panjang, Jafar Syeikh Idris telah
menyebutkan dengan cukup sejumlah persoalan yang seperti itu. Dia menuliskan,
Tuhan telah memutuskan untuk menciptakan manusia sebagai seorang
yang bebas, tetapi Dia mengetahui (dan bagaimana dia bisa tidak
mengetahui?) sebelum menciptakan setiap manusia bagaimana dia akan
menggunakan kemauannya yang bebas; contohnya, apa reaksi yang akan
terjadi padanya ketika seorang Nabi menerangkan pesan Tuhan
padanya... “Tetapi jika kita bebas untuk menggunakan kemauan kita,”
orang Qadariyah
3
mungkin berkata, kami mungkin menggunakan itu
dengan cara yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, dan dalam
keadaan itu kami tidak akan benar dalam mengklaim bahwa segala
sesuatu dikehendaki atau ditetapkan oleh Tuhan.” Al-Quran menjawab
pertanyaan ini dengan mengingatkan kita bahwa itu adalah Tuhan yang
menghendaki bahwa kita akan dengan keras kepala, dan Dialah yang
1
Ini mungkin harus dikatakan, “Semua amalan-amalan sunnah kita...” karena ada sebagian amalan yang manusia
kerjakan tanpa sadar dan tanpa sebuah kemauan yang pasti.
2
Ibnu Utsaimin, Majmu, jilid 3, hal. 196-197.
3
Qadariyah adalah orang yang mengingkari konsep al-Qadar sama sekali.
Islamic Online University Hadits 102
325
mengizinkan kita untuk menggunakan kemauan kita. [Dia kemudian
mengutip surah al-Insan 29-30, dan juga mengutip yang di atas.] “Jika
demikian” kata orang Qadariyah, “Dia tidak dapat mencegah kita dari
berbuat jahat.” Ya, tentu saja dia bisa, Dan Jikalau Tuhanmu
menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi
seluruhnya.” [Yunus, 10: 99]... Tetapi Dia menghendaki semua manusia
harus bebas terutama dalam hal keimanan dan kekafiran. Dan
Katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa
yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin
(kafir) Biarlah ia kafir”. [al-kahfi, 18:29]...
Seseorang mungkin berkata, “Jika segala perbuatan kita adalah kehendak
dari Tuhan,” “maka semua itu pada kenyataanya adalah perbuatan-Nya.”
Bantahan ini didasari dari sebuah kebingungan. Tuhan menghendaki apa
yang kita kehendaki dalam artian memberikan kita kehendak untuk
memilih dan memungkinkan kita untuk menjalankan kehendak tersebut,
contohnya, Dia menciptakan semua yang dapat memungkinkan bagi kita
untuk melakukan itu. Dia tidak menghendaki itu dalam artian Dia tidak
melakukan itu, kalau tidak, cukup untuk mengatakan bahwa Tuhan yang
mengerjakan perbuatan-perbuatan ini, ketika kita minum atau makan atau
tidur contohnya. Tuhan yang menciptakan semua itu, Dia tidak
melakukan atau mengerjakan semua itu. Bantahan lainnya, yang didasari
kebingungan, adalah bahwasanya jika Tuhan mengizinkan kita untuk
berbuat jahat, maka Dia menyetujui itu dan menyukainya. Tetapi untuk
menghendaki sesuatu dalam artian mengizinkan seseorang untuk
melakukan itu adalah satu perkara; dan untuk menyetujui dan memuji
perbuatannya itu adalah perkara yang lain...
1
“[baik itu] yang baiknya atau yang buruknya”
Setelah menyebutkan, “yang baik atau yang buruknya,” dalam riwayat yang lain
menyebutkan, “yang manisnya atau yang masamnya”. Al-Mudabghi menyatakan bahwa yang
baik adalah ketaatan pada Allah sedangkan yang buruknya adalah kekafiran. Yang manis
adalah yang dicintai oleh jiwa, seperti, hujan, kesehatan, dan sebagainya. Yang masam adalah
apa yang tidak disenangi oleh jiwa, seperti sakit atau penyakit.
2
1
Idris, hal. 25-27.
2
Al-Mudabaghi, hal. 71.
Islamic Online University Hadits 102
326
Ibnu Qoyyim menerangkan bahwa apa yang dimaksud dengan “buruk” adalah yang
berkaitan dengan manusia dan tidak terkait dengan Allah . Yang “buruk” itu adalah akibat dari
perbuatan kejahilan, kesalahan, kezaliman dan dosa manusia. Namun, itu diizinkan dan
diciptakan oleh Allah . Tetapi tidak ada keburukan yang disifatkan pada Allah karena,
perbuatan yang baik dan penuh dengan hikmah, berkaitan dengan Allah , karena itu pasti buah
dari ilmu dan kebijaksanaan Allah . Pada hakikatnya, perbuatan apapun yang bersifat seperti
itu, pasti baik dan tidak dapat menjadi murni sebuah keburukan. Ini didukung oleh hadits dari
Nabi ,
“Keburukan tidak disandarkan pada-Mu.” Itu karena setiap perbuatan yang terjadi adalah buah
dari sebagian hikmah dan kebaikan dan tidak akan pernah dapat menjadi keburukan yang murni.
Orang itu sendiri mungkin memikirkan itu sebaliknya, tetapi kenyataanya selalu ada hikmah dan
kebaikan dari segala sesuatu yang terjadi pada makhluk ciptaan Allah .
1
Ibnu Utsaimin memberikan sebuah contoh yang menggambarkan hal ini. Allah 
berfirman dalam al-Quran,
⧫⬧
⬧⧫◆☺⧫
⬧◆➔⧫
❑➔➔⬧❑➔⧫
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum 41). Dalam ayat ini, Allah menyatakan keburukan
(fasad) yang telah nampak, yang menyebabkannya, dan akibatnya. Keburukan (fasad) dan
penyebabnya adalah keburukan yang kedua (syarr). Namun, maksud dari hal tersebut baik:
bahwa Allah mungkin membuat mereka merasakan sebahagian dari yang mereka telah perbuat,
1
Lihat Abdul Aziz al-Rasyid, al-Tanbihat al-Sanniya ala al-Aqidah al-Wasathiya (Dar al-rasyid li-I-Nashr wa al-
Tauzi’), hal. 263.
Islamic Online University Hadits 102
327
supaya mereka dapat kembali [bertobat]. Oleh karena itu, ada hikmah dan maksud dibalik fasad
tersebut. Maksud dan hikmah ini membuat keseluruhan perbuatan itu menjadi sesuatu yang baik
dan bukan sebuah keburukan yang murni.
1
Dengan kata lain, keburukan yang murni akan menjadi satu yang mana tidak ada manfaat
atau kebaikan yang dihasilkan terkait dengan hal itu. Hikmah dan ilmu Allah mencegah adanya
perbuatan-perbuatan dari sifat tersebut.
2
Buah dari Keimanan yang baik pada al-Qadar
3
(1) Ketika seseorang menyadari bahwa segala sesuatu berada di bawah pengawasan dan
ketetapan dari Allah , dia membebaskan keyakinannya dari berbagai bentuk syirik atau
menyekutukan Allah dalam ketuhanan-Nya. Hanya ada satu Pencipta dan Penguasa dari
ciptaan ini. Tidak ada yang terjadi kecuali dengan kehendak dan izin-Nya. Ketika ini dengan
kuat ada di dalam hati orang tersebut, dia kemudian menyadari bahwa tidak ada yang pantas
untuk ditempati berdoa, meminta pertolongan, tempat untuk bersandar, dan sebagainya, selain
Tuhan yang satu tersebut. Sebab itu, dia menujukan segala ibadahnya kepada Yang telah
menetapkan dan menentukan semua perkara. Dengan demikian, baik tauhid rububiyah maupun
tauhid uluhiyah dilaksanakan secara benar dan secara sempurna dengan keimanan yang baik
pada al-Qadar tersebut.
(2) Seseorang akan menggantungkan nasibnya pada Allah . Seseorang seharusnya
mengikuti semua “sebab dan akibat” yang telah nampak yang seseorang telah saksikan di dunia
ini. Namun, dia harus menyadari bahwa “sebab dan akibat” tersebut tidak akan mewujudkan
tujuan apapun kecuali Allah juga menghendaki semua itu terjadi. Sebab itu, seorang yang
beriman tidak pernah menempatkan kepercayaan dan nasibnya secara penuh kepada perbuatan-
perbuatanya sendiri atau hal-hal duniawi yang mungkin dia memiliki kendali atas itu. Sebagai
gantinya, dia mengikuti sebab-sebab apapun yang dia mungkin ketahui yang menuntun pada
1
Muhammad Ibnu Utsaimin, Sharah al-Aqidah al-Washatiyah (al-Damam, Saudi Arabia: Dar Ibnu al-Jauzi, 1415
H.) jilid 1, hal. 191-192. Lihat juga, dalam karya yang sama, jilid 1, hal. 70-72.
2
Bahkan penciptaan Setan bukanlah sebuah keburukan yang murni. Lihat Umar al-Ashqar, The World of the Jin and
Devils (Alam dari Jin dan Iblis) (Boulder, CO: Al-Bashir Company Publication and Translation, 1998), hal. 225-
243.
3
Dalam karyanya tentang al-Qadar, al-Hammad (hal. 31-44) menyebutkan dua puluh lima kebaikan atau buah dari
beriman pada al-Qadar. Di sini, hanya beberapa contoh yang akan di sampaikan dari sejumlah sumber yang
berbeda.
Islamic Online University Hadits 102
328
sebuah tujuan yang diinginkan dan kemudian dia menggantungkan kepercayaanya pada Allah
untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan tersebut.
1
(3) Ibnu Utsaimin berpendapat bahwa dengan keimanan yang baik pada al-Qadar,
seseorang tidak menjadi takabur dan menjadi sombong. Jika dia mencapai tujuan apapun yang
dia inginkan, dia mengetahui bahwa tujuan-tujuan semacam itu terjadi karena Allah , dengan
rahmat-Nya, yang telah ditetapkan untuknya. Jika Allah juga menghendaki, Dia akan
menempatkan banyak rintangan di jalannya dan mencegah dirinya untuk dapat mencapai
tujuannya. Oleh karena itu, orang yang sungguh-sungguh beriman pada al-Qadar akan menjadi
sangat bersyukur pada Allah atas terwujudnya rahmat tersebut,
2
bukan malah menjadi percaya
diri dan sombong atas tercapainya tujuannya.
(4) Keimanan yang baik pada al-Qadar akan menciptakan ketenangan dan kedamaian
dalam pikiran. Orang tersebut menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah sesuai dengan
takdir Allah . Selain itu, ada sebuah hikmah dibalik segala sesuatu yang Allah  lakukan, jika
dia tidak gila, putus asa atau kehilangan harapan. Dia justru menyadari bahwa yang seperti itu
adalah kehendak dari Allah  yang dia harus terima. Dia juga harus menyadari bahwa yang
seperti itu terjadi untuk sebuah tujuan. Itu tidak terjadi secara sembarangan atau tak disengaja,
tanpa alasan apapun dibalik itu. Allah berfirman,
⧫⧫
◆→⧫
⬧◆⬧
◼⧫ ⬧
❑⬧◼⧫⧫⬧⬧◆
❑⧫⬧☺→⬧◆◆
⧫⧫➔❑⬧
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan
telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang
demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
1
Cf., Ibnu Utsaimin, Syarah Usul Iman, hal. 58.
2
Cf., Ibnu Utsaimin, Syarah Usul Iman, hal. 58.
Islamic Online University Hadits 102
329
berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang
sombong lagi membanggakan diri, Yang dimaksud dengan terlalu gembira: ialah gembira yang
melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah. (al-
Hadid 22-23).
1
(5) Beriman pada al-Qadar memberikan seseorang kekuatan dan keberanian. Dia
mengetahui bahwa Allah telah menuliskan kehidupannya dan rezeki untuk dirinya. Yang seperti
itu hanya datang dari Allah dan telah ditetapkan. Sebab itu, dia tidak perlu takut untuk
berjuang dan berusaha keras demi Allah karena ajalnya telah dituliskan. Dia tidak perlu takut
pada siapapun bilamana hal itu menimpa rejeki dan ketetapannya karena hal yang semacam itu
hanya datang dari Allah  dan telah dituliskan baginya. Tidak ada manusia yang dapat
mengambil rezeki dan mata pencahariaanya jika Allah telah menetapkan bahwa dia akan terus
menerima ketetapan dan rezeki dari berbagai sumber.
2
(6) Apabila seseorang tidak meyakini bahwa ada Dzat yang bijaksana yang mengatur
alam semesta ini dan segala sesuatu hanya terjadi secara kebetulam, maka tidak ada kebutuhan
yang nyata utuk bekerja atau berusaha untuk tujuan mencapai apapun. Usaha keras ini tidak
benar-benar meningkatkan kesempatan untuk mencapai tujuan seseorang, jika segala-sesuatu
betul-betul terjadi secara kebetulan atau tanpa belas kasihan, pekerjaan yang bersifat umum.
Namun, ketika seseorang menyadari bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan ketetapan Allah
dan dengan hikmah yang Allah  telah bentuk secara alami dan dengan hukum-hukum yang
bermoral untuk makhluk ciptaannya, dia mengetahui bahwa jika dia tunduk dengan apa yang
Allah telah tunjukkan padanya, Allah akan menolongnya dan dia akan dapat untuk mencapai
tujuannya dengan bantuan dan kehendak dari Allah .
1
Cf., Ibnu Utsaimin, Syarah Usul Iman, hal. 58.
2
Cf., Salam, hal. 173.
Islamic Online University Hadits 102
330
Beberapa Kesimpulan tentang Rukun Imam
Pada halaman-halaman sebelumnya, kebanyakan hal-hal dasar dalam rukun Iman telah
dibahas. Sebelum melangkah ke pembahasan selanjutnya yang disebutkan dalam hadits Jibri ini,
beberapa kesimpulan penting harus diterangkan tentang semua keimanan ini.
1
Yang pertama, semua itu adalah keimanan yang diridhoi oleh Allah dan semua itu
adalah bagian dari rahmat yang Allah telah anugerahkan kepada orang-orang beriman. Allah 
telah menyatakan, dalam menjelaskan din ini bahwa dalam hadits ini, malaikat Jibril datang
untuk mengajari orang-orang Islam,
⧫❑◆→☺⬧
→☺◆◼⧫☺➔
→◆◆⬧◼
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (al-Maidah 3).
Tidak ada aqidah atau jalan hidup lain yang dapat membuat pengakuan seperti ini karena
setiap ideologi lainnya telah sepenuhnya diciptakan oleh manusia (seperti aliran filsafat
existensialisme) atau telah menyimpang dari ajaran asli yang murni diturunkan oleh Tuhan
(seperti Agama Yahudi dan Nasrani). Satu-satunya ideologi yang dapat dengan secara realistis,
masuk akal, dan secara historis membuat sebuah pengakuan untuk ideologi itu sendiri yang
benar-benar diridhoi oleh Allah adalah ideologi atau aqidah Islam.
Kedua, ini adalah pondasi dari ibadah yang benar kepada Allah . Oleh karena itu, ini
merupakan pondasi untuk jalan hidup yang tepat dalam dunia ini, seperti itu seseorang menjalani
hidupnya sesuai dengan tujuan dimana dia diciptakan. Allah berfirman,
⧫◆→◼▪◆
➔◆
1
Untuk pembahasan yang berimbang, lihat Qutb hal. 435-443.
Islamic Online University Hadits 102
331
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
(adz-Dzariyat 56).
Ketiga, keimanan ini, ketika itu dipahami dalam arti yang lengkap dan arti yang tepat,
mencakup semua orang. Tidak ada peristiwa dalam hidupnya kecuali dia telah di tuntun dan
diinspirasi oleh semua iman yang dia patuhi ini. Dalam hal ini, setiap hal dalam kehidupannya
menjadi sebuah penerapan dan hukum yang sebenarnya dari semua iman ini. Dia memulai untuk
menjalankan apa yang Nabi Muhammad perintahkan di dalam al-Quran, untuk mengatakan
dan menjalankan,
➔➔◆◆⧫◆
☺⧫◆◆⧫✓⬧➔
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk
Allah, Tuhan semesta alam.” (al-An’am 162).
Keempat, semenjak keimanan dan jalan hidup yang dihasilkan ini adalah yang satu-
satunya yang datang dari Sang Pencipta manusia dan Yang mengetahui rahasia dalam diri
manusia, ini adalah satu-satunya yang dapat menempatkan kehidupan seseorang dalam neraca
dan timbangan yang benar. Tanpa ada perbedaan besar sedikitpun. Ini adalah satu-satunya
ideologi yang dapat merusak keseimbangan yang tepat antara materi dunia dan dunia spritual. Ini
juga akan merusak keseimbangan yang tepat antara hal-hal yang dialami di dunia begitupun
dengan hal-hal yang tidak terlihat (ghaib). Contohnya, ini merusak keseimbangan antara yang
mengikuti sebab-sebab yang nampak dalam kehidupan dunia ini dan yang beriman pada al-
Qadar. Ini juga merusak keseimbangan di antara segala aspek yang berbeda dalam kehidupan
secara keseluruhan, sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Oleh karena itu, ini adalah ideologi
yang benar-benar dapat membawa kedamaian dan hiburan di dalam hati.
Islamic Online University Hadits 102
332
Dia berkata, “Katakan padaku tentang al-Ihsan
(kebaikan).”
Maksud dari “al” pada kata al-Ihsan
Al () pada kata al-ihsan menunjukkan bahwa perkara tersebut merujuk pada sesuatu
yang diketahui dan diakui oleh pembicara: kata ihsan yang diketahui. Kata ihsan dan yang
berhubungan dengan ilmu bahasanya disebutkan dalam sejumlah tempat dalam al-Quran.
1
▪⬧◼⧫❑⧫◆
❑➔☺⧫◆⬧◆
☺❑☺➔⬧⬧⧫❑⬧
❑⧫◆❑➔☺⧫◆
⬧▪➔❑⬧
❑⧫◆➔❑⬧
❑◆⧫
⧫✓⬧
Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena
memakan makanan yang telah mereka Makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman,
dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman,
kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. dan Allah menyukai orang-orang
yang berbuat kebajikan.” (al-Maidah 93). Al mungkin berarti bahwa itu adalah konsep yang
dijadikan rujukan. Malaikat Jibril bertanya tentang itu sehingga orang-orang akan memahami
betapa besar dan pentingnya konsep tersebut.
2
Dengan kata lain, yang lain mengatakan bahwa itu
1
Ibnu Rajab (Jami, jilid 1, hal. 125-126) menunjukkan bahwa, seperti konsep islam dan iman, ihsan terkadang
disebutkan dengan kata itu sendiri dan terkadang disebutkan dalam bersama dengan islam dan iman. Ketika
disebutkan tersendiri, kata tersebut memuat kaidah-kaidah dari islam dan iman. Ketika disebutkan bersama
dengan kedua istilah ini, kata tersebut memiliki arti tambahanmya sendiri yang khusus.
2
Al-Haitami, hal. 79.
Islamic Online University Hadits 102
333
tidak merujuk kepada konsep yang diketahui tersebut tetapi itu merujuk pada ikhlas (kemurnian
perbuatan).
1
Namun, penafsiran yang pertama lebih jelas. Ini menunjukkan bahwa ada tiga tingkatan
dalam Islam: tingkatan Islam, tingkatan Iman dan tingkatan Ihsan, sebagaimana yang disinggung
pada pembahasan tentang konsep Iman.
Gambaran Umum tentang Ihsan
Makna kata ihsan berarti melakukan yang baik, melakukan kebaikan, berinteraksi dengan
orang lain dengan cara yang baik. Ini adalah kebalikan dari memberikan bahaya kepada orang
lain. Dalam hal seperti itu, bentuk kata tersebut akan diikuti oleh preposisi (kata depan). Namun,
kata tersebut juga menunjukkan kesempurnaan sesuatu atau melakukan sesuatu dengan cara yang
paling baik. Kemungkinan, inilah yang paling mendekati apa yang dimaksud dengan kata ihsan
dalam hadits khusus tersebut.
2
Namun, kedua konsep tersebut tidak terpisahkan. Seseorang akan
berinteraksi dengan orang lain dalam cara yang sebaik mungkin jika dia benar-benar sedang
melakukan sesuatu yang diridhoi oleh Allah . Sebab itu, dia unggul baik dalam hubungan
kepada Allah - atau dalam ritual-ritual ibadah begitupun dengan dalam hubungannya dengan
makhluk-makhluk ciptaan Allah , dikarenakan pengetahuannya bahwa Allah sedang
memperhatikannya.
Oleh karena itu, ihsan adalah sebuah istilah yang sangat luas. Termasuk segala jenis
perbuatan baik kepada semua orang lain. Artinya adalah seseorang menyebarkan kebaikan
kepada orang lain bukan dan bukan menyebarkan bahaya untuk orang lain. Dia menggunakan
harta, ilmu, kedudukan, dan badannya untuk berbuat baik kepada orang lain. Dia menginfakkan
sebagian hartanya berupa zakat dan sedekah, itulah ihsan. Dia menyebarkan ilmunya dan tidak
pernah kehilangan kesempatan untuk memberikan petunjuka kepada orang lain, dan itulah ihsan
yang berkaitan dengan ilmunya. Dia menggunakan kedudukannya yang sah dan berpengaruh
untuk membantu orang-orang yang berhak dan mereka yang membutuhkan bantuan. Ini juga
1
Al-Qari, jilid 1, hal. 54.
2
Lihat al-Aini, jilid 1, hal. 288.
Islamic Online University Hadits 102
334
adalah ihsan. Dia membantu saudaranya untuk naik ke mobilnya atau membantu mengambilkan
sesuatu dan ini adalah sebuah contoh tentang ihsan yang berkaitan dengan anggota tubuhnya.
1
Dalam hadit Jibril ini, Rasulullah tidak memberikan defenisi yang sejenis kamus pada
kata ihsan. Sebagai gantinya, beliau menjelaskan faktor utama yang memotivasi dibalik kata
ihsan atau kebaikan dan yang paling baik. Ini adalah kenyataannya bahwa Allah mengamati
perbuatan-perbuatan seseorang. Jika hati tersadar dengan kenyataan tersebut, seseorang akan
mengharapkan keridhoaan Tuhannya dan takut tidak menyenangkan-Nya. Ini akan menciptakan
kesucian dalam hatinya. Ketika ikhlas atau kesucian yang seperti itu hadir di dalam hati, dia akan
melakukan apa yang dia bisa demi Allah . Ini juga berarti bahwa dia akan mencoba untuk
melakukan segala sesuatu dengan cara yang sebaik mungkin. Dia akan khawatir dengan kualitas
amal-amalnya dan tidak hanya memikirkan jumlah atau pelaksanaan lahiriahnya.
2
Konsep yang umum tentang ihsan akan dibahas secara lebih mendetail ketika hadits
nomor 17 dibahas, InsyaAllah (jika Allah menghendaki). Namun, dalam hadits ini, Nabi 
membahas hal-hal atau tingkatan yang khusus tentang ihsan. Pembahasan di sini akan berfokus
pada jenis ihsan yang ini.
Beliau menjawab, “yaitu engkau menyembah Allah
seperti jika engkau melihat-Nya. Dan bahkan jika
engkau tidak melihat-Nya, Dia sedang melihatmu.”
Mungkin perkara pertama yang perlu untuk dibahas adalah apakah kedua kalimat ini
mencakup satu konsep atau dua konsep yang berbeda. Para ulama telah menafsirkan hadits ini
dalam dua cara.
1
Cf., Ibnu Utsaimin, Majmu, jilid 3, hal. 216-217.
2
Salam, hal. 183.
Islamic Online University Hadits 102
335
Pandangan bahwa ada Dua Konsep yang disampaikan
Ibnu Rajab
1
, Ibnu Hajar
2
dan yang lainnya berpandangan bahwa hadits ini menjelaskan
dua tingkatan yang berbeda dari kesadaran yang mana orang beriman mungkin berada
diantaranya. Yang salah satu posisinya lebih tinggi dari yang lainnya. Jika seseorang tidak dapat
mencapai posisi yang lebih tinggi, dia seharusnya paling tidak mencari posisi yang paling
rendah. Seolah-olah Rasulullah  berkata, “Sembah Allah 
3
seperti jika engkau melihat-Nya.
Tetapi jika engkau tidak dapat mencapai tingkatan itu, sembahlah Dia dengan mengetahui bahwa
Dia melihatmu.”
Orang-orang beriman dan muhsinin
4
sedikit berbeda pada tingkatan yang mereka capai,
sesuai dengan tingkatan iman dan ihsan mereka. Posisi yang paling tinggi dikenal dengan al-
musyahadah (“kesaksian pribadi”). Ini tidak benar-benar melihat Allah tapi sebuah perasaan
yang sangat kuat di dalam hati. Ini adalah dimana ada sebuah kesadaran akan kehadiran Allah ,
melalui ilmu dan rahmat-Nya, yang sangat besar yang seseorang seakan-akan menyadari Allah 
ada di hadapannya. Anggapan dan pikiran seseorang tersebut menyesuaikan diri secara sempurna
dengan ibadah yang dia sedang kerjakan. Ini adalah maksud dari kalimat pertama, “Yaitu engkau
menyembah Allah seperti jika engkau melihat-Nya.” Tidak ada masalah jika seseorang dapat
melihat Allah , ini akan memiliki pengaruh yang sangat mendalam pada ibadah dan
ketaatannya pada Allah . Ini dapat dilihat dalam hadits berikut ini:
1
Pada tanggapannya dalam Sahih Bukhari, Ibnu rajab hanya menyampaikan pandangan ini sedangkan pada
tanggapannya dalam hadits 40 (Arba’in) an-Nawawi, dia menyamapaikan keduanya. Lihat Ibnu Rajab, Fath, jilid
1, hal. 211 f; Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal. 128.
2
Ibnu Hajar, Fath, jilid 1, hal. 164.
3
Pembaca diingatkan bahwa konsep Islam dalam “ibadah” bukan hanya tentang perkara ritual-ritual tertentu yang
seseorang kerjakan. Sebaliknya, konsep Islam tersebut adalah bentuk yang lengkap dari penghambaan kepada
Allah yang mencakup amalan-amalan lahiriah seseorang begitu juga dengan amalan-amalan yang ada di dalam
hati, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.
4
Orang-orang yang disifati dengan kualitas ihsan.
Islamic Online University Hadits 102
336
Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari Ahli
Dzikir . Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah ,
mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka saling mengajak:
‘Kemarilah kepada hajat kamu’. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir
dengan sayap mereka sehingga langit dunia. Kemudian Allah bertanya kepada mereka,
sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka, ’Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?’
Para malaikat menjawab, ’Mereka mensucikan-Mu (Subhanallah), mereka membesarkanMu
(Allah Akbar), mereka memujiMu (Alhamdulillah), mereka mengagungkan-Mu’. Allah 
bertanya, ’Apakah mereka melihatKu? Mereka menjawab,’Tidak, demi Alah, mereka tidak
melihatMu’. Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatKu?’ Mereka
menjawab,’Seandainya mereka melihatMu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat
kepadaMu, lebih mengagungkan kepadaMu, lebih mensucikan kepadaMu...””
1
Pengaruh perasaan melihat Allah bagi seseorang adalah dia akan mengerjakan setiap
ketaatan dengan cara yang sebaik mungkin. Dia seakan akan sedang melihat Allah 
dihadapannya sehingga dia mengetahui dengan baik di luar sebuah teori bahwasanya Allah 
mengamati segala hal yang dia sedang kerjakan. Dia akan sangat segan dan malu untuk
melakukan apapun dengan cara yang kurang sempurna atau dengan cara yang kurang baik. Dia
1
Hadits Riwayat Bukhari. Lihat Khan, jilid 8, hal. 278-279.
Islamic Online University Hadits 102
337
juga akan dipenuhi dengan rasa takut, kagum dan takjud pada Allah . Dia akan membuat segala
upaya yang dia lihat dihadapannya untuk dapat diridhoi oleh Allah . Dia akan mengupayakan
dirinya sendiri untuk mengerjakan ibadahnya dengan cara yang sebaik mungkin, tanpa ada
kekurangan sedikitpun.
Jadi orang yang mencapai tingkat tertinggi dalam ihsan telah mencapai sebuah tingkatan
di mana hatinya seakan-akan menyadari Tuhannya, di mana dia penuh dengan kebahagiaan
ketika bersendirian dengan Tuhannya dan ketika dia mengingat Allah , berbicara pada Allah 
dan memohon kepada-Nya. Amalan-amalan ini menjadi amalan-amalan yang paling indah dan
paling dinikmati di matanya. Nabi sendiri tidak diragukan lagi berada pada tingkatan ibadah
pada Allah ini. Beliau suatu waktu berkata,
“Dijadikan penyejuk mata bagiku di dalam shalat”
1
Jika seseorang tidak dapat mencapai tingkatan tersebut atau jika itu sulit baginya, maka
dia berpindah ke tingkatan yang paling rendah di mana dia menyembah Allah dengan
menyadari dengan baik bahwa Allah memperhatikannya dan mengetahui apa yang terjadi di
luar maupun di dalam dalam hati dan jiwa seseorang. Tingkatan ini diistilahkan dengan al-
muraqabah (“tingkatan dari seseorang yang merasa diawasi dan diperhatikan”). Ini adalah
tingkatan dalam ihsan yang masih cukup penting dan bermanfaat. Orang tersebut mengetahui
bahwa Allah sedang melihat dan mengawasi setiap perbuatan yang dia kerjakan. Ini dapat
mendorong seorang Muslim untuk sempurna dan unggul dalam ibadahnya pada Allah . Sebab
itu, tingkatan ini juga mengarah pada ihsan atau sangat baik dalam ibadah.
Tetapi perasaan ini tidak dapat dianggap sekuat dari keadaan yang pertama dari al-
musyahadah. Perasaan diperhatikan tersebut mungkin tidak selalu menjadi kuat di dalam hati
seseorang. Meskipun dia secara teori mengetahui bahwa dia sedang diperhatikan. Dia terkadang
1
Diriwayatkan oleh an-Nasai dan Ahmad. Al-Albani menyebutnya sahih. Lihat al-Albani, Sahih al-Jami, jilid 1,
hal. 599.
Islamic Online University Hadits 102
338
masih bisa saja lalai. Dia tidak mengalami perasaan kagum dan takjub yang sama dengan
perasaan dia yang seakan-akan melihat Allah di hadapannya.
1
Dengan demikian, adanya salah satu tingkatan dari ihsan tersebut membuat seseorang
beribadah kepada Allah dengan cara yang sangat baik yaitu apa yang ihsan mungkin
maksudkan secara bahasa. Mereka yang mencapai tingkatan ihsan jauh di depan orang-orang
Muslim yang mungkin hanya mengetahui dan meyakini tetapi sangat disayangkan hanya pada
tingkatan secara teori atau akademis bahwasanya Allah mengetahui dan menyaksikan segala
sesuatu. Semua Muslim harus mengetahui dan meyakini ini. Tetapi selama pengetahuan tersebut
tidak memiliki pengaruh yang nyata dalam ibadah mereka pada Allah , mereka tidak berhak
untuk menyandang status sebagai Muhsin, atau orang yang memiliki kualitas ihsan. Ya, mereka
secara sah memenuhi kewajiban mereka dalam ibadah. Tetapi perbuatan-perbuatan tersebut
memiliki kekurangan dalam hal semangat dan kualitas dan, oleh karena itu, mereka tidak naik ke
tingkatan ihsan dan ibadah yang sangat baik kepada Allah .
Ibnu Utsaimin mencatat hal-hal lainnya yang membedakan antara kedua tingkatan dalam
ihsan ini. Menurutnya, al-ihsan yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah adalah dimana
orang tersebut beribadah kepada Allah seperti jika dia melihat-Nya, sebagaimana yang
disebutkan dalam hadits ini. Ibadah yang semacam ini adalah ibadah yang diidamkan,
dirindukan, dan menyenangkan. Ini membuat orang tersebut, pada dirinya sendiri, sangat
bersemangat dalam mengerjakan amal ibadah tersebut. Ini karena dia dengan tulus mencintai
amalan tersebut dan dia akan mencari amal ibadah tersebut karena dia sangat mencintai amal
ibadah tersebut. Dia akan dengan gelisah menginginkan untuk lebih dekat dengan Allah dan
akan kembali pada-Nya seperti jika dia sedang melihat-Nya. Tingkatan yang paling rendah dari
ihsan adalah salah satu yang hilang dan menakutkan. Jika seseorang tidak beribadah kepada
Allah seperti jika dia sedang melihat-Nya, setidaknya dia harus menyadari bahwa Allah 
sedang melihatnya. Artinya, dia sedang diawasi. Amal-amalnya sedang dicatat. Sebab itu, orang
tersebut seharusnya takut pada hukuman dan ketidakridhoan dari Yang Mengawasinya.
Tingkatan atau yang menggerakkan dibalik ibadah ini dianggap lebih rendah dari tingkatan yang
pertama. Namun, semua ibadah sebenarnya dibangun atas dua hal: cinta yang luar biasa dan
1
Pembaca dapat membayangkan keadaan dari penjaga yang berhadap-hadapan dengan kamera pengintai. Dalam
dua kasus tersebut, seseorang mungkin mengetahui bahwa dia sedang diawasi, tetapi, satu waktu, dalam sebuah
keadaan perasaan tersebut lebih kuat dan memiliki pengaruh yang lebih besar.
Islamic Online University Hadits 102
339
ketaatan yang luar biasa. Ketika cinta hadir, seseorang mencari sasaran. Ketika ketaatan hadir,
ada perasaan takut dan ada perasaan untuk lari.
1
Ibnu Utsaimin tidak membuat poin ini, tetapi
harus diperhatikan bahwa mereka yang memiliki tingkatan paling rendah dari ihsan juga
memiliki perasaan ini. Mereka tidak melihat Allah namun, pada saat yang sama, mereka
mengetahui bahwa Allah sedang melihat mereka. Sebab itu, mereka menggabungkan baik itu
perkara cinta maupun ketaatan ini dan inilah salah satu alasan mengapa ibadah mereka kepada
Allah begitu luar biasa.
Jika pemahaman tentang hadits ini diterima, sebagaimana yang disebutkan oleh al-
Qastilani, al-Ubay, dan asy-Syinqiti
2
, ada tiga tingkatan dari Muslim yang berkaitan dengan
ihsan.
3
tingkatan yang paling rendah adalah dimana seorang Muslim memenuhi semua syarat-
syarat minimal dari sebuah amalan. Karena itu, dia telah mengerjakan amalan tersebut dan telah
memenuhi persyaratan yang sah tersebut. Orang ini secara teori mengakui bahwa Allah telah
menyaksikan amalannya. Namun, pengetahuan tersebut mungkin tidak memiliki pengaruh yang
banyak atau pengaruh yang nyata pada amal ibadahnya. Tingkatan yang paling tinggi adalah
dimana seseorang berada pada posisi dimana dia seakan-akan sedang melihat Allah 
dihadapannya. Inilah yang dulu dinyatakan oleh Rasulullah . Tingkatan yang di tengah adalah
seseorang yang belum mencapai tingkatan perasaan bahwa dia melihat Allah tetapi dia telah
mencapai tingkatan yang dia sangat merasakan bahwa Allah mengamati dan memperhatikan
setiap amalan yang dia kerjakan. Sebab itu, dia juga unggul dalam amalan-amalannya yang
melampaui mereka yang ada pada tingkatan pertama yang telah disebutkan di atas, tetapi bukan
untuk tingkatan dari posisi yang paling tinggi tersebut. Al-Ubay kemudian menyatakan bahwa,
“Ketiga posisi ini adalah ihsan. Namun, ihsan yang merupakan sebuah keadaan untuk kebaikan
suatu amal ibadah adalah tingkatan yang pertama. Ihsan dari kedua tingkatan terakhir tersebut
1
Ibnu Utsaimin, Majmu, jilid 3, hal. 218.
2
Ahmad Ibnu Muhammad al-Qastilani, Irsyad al-Sari li-Syarah Sahih Bukhari (Beirut: Dar al-Fikri, n.d.), jilid 1,
hal. 140; al-Ubay, jilid 1, hal. 68; asy-Syinqiti, Kautsar, jilid 2, hal. 349.
3
Setiap Muslim seharusnya memiliki sebagian tingkatan dari ihsan, pada saat yang sama dia juga juga harus
memiliki sebagian tingkatan dari iman. Namun, mereka yang berhak disebut dengan mukmin (beriman) harus
memiliki sebuah tingkatan yang paling tinggi dari ihsan daripada mereka yang hanyalah muslim. Berikutnya
adalah orang-orang yang mengalahkan orang-orang beriman lainnya dalam ihsan. Mereka adalah orang-orang
yang berhak disebut dengan muhsin, dan bagi mereka akan ada pahala yang spesial di Akhirat.
Islamic Online University Hadits 102
340
adalah ciri-ciri dari mereka yang taat, orang-orang tertentu. Banyak yang tidak mampu untuk
mencapai tingkatan-tingkatan tersebut.”
1
Pandangan Bahwa hanya Satu Konsep yang dinyatakan
Pandangan alternatif dari hadits ini disampaikan oleh an-Nawawi, al-Sindi, dan Utsmani.
2
Menurut pandangan ini, kedua kalimat tersebut hanya menyatakan satu konsep. Dengan kata
lain, itu seperti jika Nabi berkata, “Meskipun engkau tidak benar-benar melihat Allah ,
engkau masih bisa unggul dalam ibadahmu karena Dia sedang melihatmu.” Ibnu Rajab
menunjukkan bahwa seakan-akan pernyataan kedua tersebut adalah sebuah pernyataan sebab-
akibat untuk yang pertama.
Utsmani menyampaikan hal yang logis terkait alasan dibalik pandangan ini,
Kalimat pertama [yaitu engkau menyembah Allah seperti jika engkau
melihat-Nya] berkaitan dengan tujuan yang sebenarnya, tetapi mungkin
ada sebuah keraguan yang muncul, yang beliau [Nabi ] jawab pada
kalimat yang kedua [bahwa Allah  melihat engkau meskipun engkau
tidak dapat melihat-Nya]. Ini dapat dipahami dengan sebuah analogi
(kias). Seandainya, ada beberapa orang yang hadir dihadapan seorang
raja di istananya. Maka, seberapa jauh mereka akan mematuhi rasa
hormat dan kemuliaan yang diperlukan didalam istana yang semua orang
ketahui. Ada dua hal yang ada disini. Yang satu adalah sang raja melihat
mereka dan mereka juga melihat sang raja. Apa alasan dibalik ketaatan
dan kepatuhan yang lengkap ini? Alasan yang mana yang mendorong
sikap patuh mereka? Apakah penglihatan dari sang raja atau mereka
melihat sang raja? Dengan sedikit pertimbangan, jelas bahwa dalam hal
ini sang raja yang melihat mereka (yang benar-benar penting).
Contohnya, jika ada seorang yang buta diantara mereka yang tidak dapat
melihat sang raja, akankah ketaatan dan sikap patuhnya kepada sang raja
dalam hal apapun tidak sebesar ketaatan dari yang lainnya?
3
Pendapat ini memiliki beberapa kelebihan. Namun, sepertinya penafsiran yang diberikan
oleh Ibnu Hajar dan yang lainnya lebih disukai. Analogi atau pertanyaan yang disampaikan oleh
Utsmani mungkin tidak cukup lengkap. Pada keadaan pertama dari al-musyahadah, orang
1
Al-Ubay, jilid 1, hal. 68.
2
Lihat Utsmani, jilid 1, hal. 537.
3
Utsmani, jilid 1, hal. 537.
Islamic Online University Hadits 102
341
tersebut merasakan bahwa Allah sedang mengawasinya dan bahwasanya dia juga dapat
melihat Allah dihadapannya. Karena itu, ada faktor yang memotivasi yang lebih kuat dan lebih
jelas. Ketika seseorang diawasi tetapi dia tidak merasakan kehadiran dari orang yang
mengawasinya, dia mungkin menjadi lupa atau lalai dari kenyataan bahwa dia sedang diawasi.
Wallahu ‘alam (Allah maha mengetahui).
Ini Tidak Hanya Berkaitan dengan Ritual-Ritual Ibadah
Nomani telah membuat sebuah poin yang sangat penting terkait dengan potongan hadit
ini. Dia menulis,
Seringkali disampaikan bahwa bagian dari Kepercayaan di atas berlaku
semata-mata untuk Namaz (Shalat).
1
Dikatakan bahwa hanya Namaz
yang wajib untuk dipanjatkan dengan penuh kerendahan hati dan penuh
pengabdian. Tetapi kata-kata Kepercayaan tersebut tidak
membenarkannya. Kata-kata Kepercayaan tersebut berbicara tentang
T’abud yang menunjukkan ibadah dan ketaatan yang penuh. Dengan
demikian, tidak ada pembenaran untuk membatasi pandangan dari
Rasulullah tersebut hanya untuk Namaz. Selain itu, dalam terjemahan
lainnya dari Kepercayaan ini, kata Takhsi digunakan pada tempat T’abud,
yang ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menyatakan, Ihsan
yang berarti bahwa engkau takut kepada Tuhan seakan-akan engkau
melihat-Nya.” Namun dalam terjemahan lainnya yang dimilikinya,
Ihsan berarti bahwa engkau mengerjakan setiap amalan demi Tuhan dan
bahwasanya engkau melihatnya sedemikian rupa.” Kedua catatan ini
memperjelas bahwa Ihsan tidak hanya berkaitan dengan Namaz tetapi
mencakup keseluruhan jajaran kehidupan dan perbuatan tersebut
kemudian intisari dan hakikatnya adalah segala perbuatan ibadah dan
ketaatan yaang harus dikerjakan dan segala perintah Ilahi yang
dilaksanakan tersebut kemudian takut pada kemungkinan dari
Perhitungan Akhir seakan-akan Tuhan hadir dihadapan kita dan
mengawasi setiap perbuatan dan pergerakan kita.
2
1
Namaz adalah bahasa Urdu untuk shalat atau salat. Kitab Nomani semula ditulis dalam bahasa Urdu dan kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
2
Nomani, jilid 1, hal. 61-62. Dalam kitab aslinya, ihsan sebut dengan Ehsan. Disini, kata tersebut dirubah demi
kekonsistenan.
Islamic Online University Hadits 102
342
Pahala untuk al-Ihsan dan Hubungannya dengan hadits Ini.
Hadits tersebut menerangkan bahwa orang yang memiliki sifat ihsan baik yang
menyembah Allah seperti jika dia melihat-Nya ataupun, paling tidak, dia sepenuhnya sadar
akan kenyataan bahwa Allah melihatnya. Muhsin akan menerima pahala yang special atas
sikapnya dalam beribadah ini. Allah telah menyatakannya dalam Quran,
⧫❑
⧫⧫◆
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. (Yunus
26). Dalam Sahih Muslim, dinyatakan bahwa Nabi menjelaskan makna dari kata “tambahan”
sebagai karunia melihat Allah di Akhirat. Sebab itu, orang yang menyembah Allah seakan-
akan dia melihat-Nya atau mengetahui bahwa Allah melihatnya
1
pada saat dia sedang
beribadah akan dihadiahi dengan pahala yang besar melihat Allah di Akhirat.
Ini adalah balasan sebaliknya untuk orang-orang kafir di Akhirat;
⧫▪⧫❑⧫
⧫❑❑→⬧
“Sekali-kali tidak, Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan
mereka.” (al-Muthaffifin15). Orang-orang ini menolak untuk tunduk kepada Allah . Bukannya
menyembah Allah seakan-akan mereka melihatnya, mereka justru berbuat seakan-akan Allah 
tidak mengetahui apa yang mereka telah kerjakan. Sebab itu, balasan bagi mereka adalah mereka
akan tertutup dari melihat Allah di Akhirat di saat yang sama mereka menahan diri mereka
sendiri dari menyembah-Nya di kehidupan ini.
Hadits Tersebut Tidak Menunjukkan Melihat Allah di Dunia ini
Ibnu Rajab dan Ibnu Hajar bersikukuh bahwa hadits ini tidak menunjukkan kemungkinan
melihat Allah sementara seseorang hidup di dunia ini. Mereka mengatakan bahwa ini
1
Setiap Muslim harus meyakini bahwa Allah menyadari dan mengetahui setiap perbuatannya. Namun, intensitas
dari perasaan ini berbeda dari setiap Muslim. Sebab itu, pahala yang sesuai di akhirat mungkin juga berbeda
sesuai dengan intensitas yang bervariasi ini. Wallahu ‘alam.
Islamic Online University Hadits 102
343
sebagaimana sebagian orang Sufi yang patut disayangkan menafsirkan secara keliru hadits ini.
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa orang-orang ini tidak mengetahui bahasa Arab begitu juga
dengan riwayat-riwayat lainnya dari hadits ini.
1
Ibnu Rajab juga membahas “melihat” dengan hati seseorang sementara orang itu hidup di
dunia. Dia menyatakan,
Adapun orang yang menyatakan bahwa hati dapat mencapai sebuah
tingkatan di dunia ini dimana mereka dapat melihat Allah secara fisik
dengan cara yang sama mereka akan melihat orang-orang dengan
pandangannya di Akhirat sebagaimana yang sebagian orang Sufi
nyatakan [harus diketahui] bahwa ini adalah pernyataan yang salah.
Tingkatan khusus tersebut adalah sebuah tingkatan yang sebagian
Sahabat, seperti Abu Dzar, Ibnu Abbas dan lainnya, termasuk sebuah
riwayat dari Aisyah, katakan terjadi pada Nabi [hanya] dua kali...
Ibnu Rajab menyatakan bahwa hal semacam itu adalah sesuatu yang terkhusus untuk
Nabi yang membedakannya dengan orang lain. Namun, orang-orang Sufi menyatakan
menganggap bahwa sebagian dari mereka seringkali mencapai tingkatan tersebut atau selalu
dalam keadaan yang seperti itu. Ibnu Rajab kemudian berkata, “Percabangan dari keyakinan ini
kebanyakan dari kesesatan dan kejahilan mereka. Dan Allah memberi petunjuk kepada
siapapun yang dia kehendaki untuk ada di Jalan Lurus.”
2
1
Ibnu Hajar, Fath, jilid 1, hal. 164-165.
2
Ibnu Rajab, Fath, jilid 1, hal. 214-215.
Islamic Online University Hadits 102
344
Dia berkata, “Katakan padaku tentang Hari Kiamat
[kapan terjadinya].” Beliau menjawab, “Yang ditanya
tidak lebih tahu dari yang bertanya.”
“Katakan padaku tentang Hari Kiamat [kapan terjadinya].”
Dalam riwayat dari Ammara Ibnu al-Qa’qa’a, pertanyaan tersebut dengan tegas
menyatakan, “Kapan Hari Kiamat itu?”
1
Inilah pertanyaan dimana jawaban Rasulullah 
diarahkan. Selain itu, dalam riwayat Abu Farwa, juga disebutkan bahwa Rasulullah 
menundukkan kepalanya dan tidak menjawab. Malaikat mengulang pertanyaan tersebut selama
tiga kali dan Rasulullah kemudian mengangkat kepalanya dan menjawab.
2
“Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.”
Jawaban ini tidak berarti untuk menunjukkan bahwa kedua orang ini sama dalam
beberapa ilmu yang berkaitan dengan kejadian pada Hari Itu. Sebaliknya, ini berarti untuk
mengatakan bahwa ilmu ini adalah sesuatu yang Allah telah jaga untuk-Nya semata dan tidak
disampaikan kepada siapapun. Kenyataanya, dalam riwayat Sahih Bukhari, Nabi menyebutkan
bahwa ada empat hal yang diketahui hanya untuk Allah . Dan kemudian Nabi membaca ayat,
◼⧫
⧫◆⧫◼➔⧫◆⧫
⧫◼⧫◆⬧▪⧫
⬧⬧⧫◆⬧
▪⧫❑☺⬧
⧫
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-
lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun
yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada
1
Ibnu Hajar, Fath, jilid 1, hal. 165.
2
Ibnu Hajar, Fath, jilid 1, hal. 165.
Islamic Online University Hadits 102
345
seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha Mengenal. (Luqman 34).
1
Seseorang harus memperhatikan bagaimana Rasulullah menjawab pertanyaan tersebut.
Pada saat itu, sebagaimana yang akan dibahas di bawah, Rasulullah tidak menyadari bahwa
yang bertanya tersebut adalah Malaikat Jibril. Namun, jawabannya dalam bentuk yang umum
dan maknanya adalah: “Tidak seorangpun yang ditanyakan tentang masalah ini akan memiliki
lebih banyak ilmu dibandingkan siapapun yang mungkin menanyakan pertanyaan seperti itu.”
maksudnya, tidak seorangpun manusia yang akan pernah memiliki ilmu tentang kapan Hari
Kebangkitan itu akan terjadi. Sebab itu, siapapun yang menyatakan memiliki ilmu yang nyata
tentang itu adalah seorang yang terang-terangan berbohong atau seorang yang menipu mereka
yang bodoh.
Menurut al-Qurthubi, tujuan dari pertanyaan ini adalah untuk mengakhiri pertanyaan
yang lebih jauh tentang kapan Hari itu akan terjadi. Banyak orang sebagaimana yang dapat
dilihat dengan referensi untuk hal tersebut ada di dalam Quran dan hadits, seperti surah an-
Naziat 42-44 dan surah al-A’raf 187 akan bertanya pada Rasulullah  tentang kapan Hari itu
akan terjadi. Dikarenakan sifat dari jawaban Nabi pada pertanyaan ini dan perkataan terakhir
bahwa yang bertanya itu adalah Malaikat Jibril, pertanyaan itu menjadi dipahami bahwa ilmu
yang seperti itu tidak pernah tersedia untuk manusia. Manusia yang paling mulia dan malaikat
yang paling mulia tidak memiliki ilmu sedikitpun tentang kapan Hari itu akan terjadi. Sebab itu,
tidak perlu untuk pernah menanyakan lagi pertanyaan ini. Oleh karena itu, seseorang juga dapat
melihat bahwa maksud dari pertanyaan ini berbeda dengan maksud pertanyaan yang sebelumnya.
Pertanyaan sebelumnya diajukan untuk menggali ilmu yang bermanfaat sedangkan pertanyaan
ini diajukan untuk mengakhiri permintaan dari pertanyaan khusus ini.
2
Mengapa ilmu tentang Hari Kiamat ini tidak diberikan kepada manusia? Allah  maha
mengetahui, tetapi mungkin ada dua perkara penting yang berkaitan dengan kenyataan ini.
Pertama, bagi seseorang, perkara yang lebih penting bukanlah peristiwa terjadinya Hari Kiamat
1
Menurut al-Qurthubi (dinukil dalam Ibnu Rajab, Fath, jilid 1, hal. 216), makna dari ayat tersebut adalah tidak
satupun manusia yang akan pernah memiliki ilmu yang pasti tentang segala hal tersebut sebelum semua itu terjadi.
Namun.seseorang dapat memiliki dugaan terkait semua itu berdasarkan sebagian tanda-tanda yang nampak
padanya (seperti yang berkaitan dengan curah hujan). Dugaan ini kadang salah dan kadang benar. Dugaan seperti
itu bukanlah sesuatu yang dilarang atau diingkari dalam ayat ini. Wallahu’alam.
2
Al-Qurthubi menukil dalam Ibnu Hajar, Fath, jilid 1, hal. 165-166.
Islamic Online University Hadits 102
346
tersebut tetapi peristiwa Hari Kiamat untuknya sendiri. Maksudnya, persoalan yang lebih penting
bagi seseorang untuk sadari adalah dia akan bertemu dengan kematian. Ketika kematiannya itu
terjadi, itu adalah “Kiamat,” karena amal-amalnya akan berakhir dan setelah itu yang ada hanya
perhitungan. Hal yang penting ini telah disinggung oleh Nabi ketika beliau pernah ditanya oleh
orang-orang badui tentang waktu Hari Kiamat tersebut dan beliau menunjuk anak yang paling
muda diantara mereka dan berkata,
“Jika dia [anak] ini diberi umur panjang, dia belum menjadi tua dan renta sampai Kiamat kalian
telah ditetapkan bagi kalian.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
Sekali lagi, waktu terjadinya Hari Kiamat itu bukanlah yang penting. Perkara yang kedua
adalah bagaimana seseorang menghabiskan hidupnya dalam persiapan untuk Hari akhir tersebut.
Dalam kesempatan lainnya, seorang badui bertanya kepada Nabi  kapan Kiamat itu akan datang
dan jawaban beliau adalah,
“Celakalah dirimu! Apa yang telah engkau persiapkan untuk itu?” (Hadits Riwayat Bukhari dan
Muslim). Sebab itu, seseorang diwajibkan untuk mempersiapkan diri untuk Hari Kiamat tersebut
dengan keimanan dan amal-amal yang baik. Dia tidak memiliki kewajiban yang berkaitan
dengan kapan dan bagaimana itu akan terjadi.
Islamic Online University Hadits 102
347
Dia berkata, “Katakan padaku tanda-tandanya
1
.” Beliau
menjawab...
Pentingnya Tanda-Tanda Hari Kiamat
Tidak seorangpun yang mengetahui kapan Hari Perhitungan itu akan terjadi. Namun,
Allah dengan penuh rahmat telah mengajarkan kepada Rasul-Nya sebagian dari tanda-tanda
tersebut yang menyuruh seseorang untuk bersiap-siap pada kenyataan bahwa Hari Kiamat
tersebut sedang mendekat. Tanda-tanda ini memiliki peran yang sangat penting, khususnya bagi
mereka yang hidupnya jauh dari masa Nabi  dan yang tidak mengalami lansung ajaran dan
contoh-contohnya. Tanda-tanda ini menguatkan keyakinan seseorang pada Nabi . Yang lebih
penting, tanda-tanda ini, jika seseorang meluangkan waktu untuk merenungkan pada diri mereka,
adalah sebuah pengingat tentang Hari Perhitungan. Tanda-tanda itu seharusnya menghidupkan
kembali hati seseorang dan membuatnya mengingat kembali apa yang dia sedang lakukan di
dunia ini dan kemana semua itu ditujukan.
Ada hubungan yang sangat tepat dan sangat jelas antara tanda-tanda Hari Kiamat tersebut
dengan ihsan. Ketika seseorang menyadari tanda-tanda ini di sekitarnya, tanda-tanda ini
seharusnya menjadi peringatan yang jelas dari Allah dan masa depan seseorang bersama
dengan Allah. Tanda-tanda itu seharusnya menjadi peringatan bahwa Allah memiliki ilmu dari
segala sesuatu yang terjadi di dunia ini inilah mengapa Dia harus menyampaikan tanda-tanda
tersebut kepada Rasul-Nya. Oleh karena itu, Allah juga memiliki ilmu tentang segala sesuatu
yang orang tersebut sedang lakukan. Allah mengawasi dan menyadari semua perbuatan dari
Makhluk ciptaan-Nya. Setidaknya, kesadaran ini, yang tercipta karena menyaksikan tanda-tanda
dari Waktu tersebut, seharusnya membuat orang yang menyembah dan takut pada Allah
mengetahui bahwa Dia melihatnya. Ini adalah tingkatan dalam ihsan yang dikenal dengan al-
muraqabah, yang telah dijelaskan sebelumnya.
1
Pertanyaan itu tentang “tanda-tanda,” dalam bentuk jamak. Dalam jawabannya, Nabi  hanya menyebutkan dua
tanda-. Ini merupakan masalah karena, dalam bahasa Arab, yang dianggap sebagai jamak pada umumnya adalah
tiga bukan dua. Jawaban lainnya dalam riwayat yang berbeda dari hadits tersebut, ada tiga tanda yang disebutkan.
(Cf., Ibnu Hajar, Fath, jilid 1, hal. 166). Ketiga tanda-tanda yang disebutkan dalam hadits lainnya adalah orang
yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan orang-orang bodoh akan menjadi pemimpin dari masyarakat.
Islamic Online University Hadits 102
348
Tanda-tanda kiamat tersebut dapat dibagi ke dalam dua jenis. Yang pertama adalah
tanda-tanda yang terjadi sebagai bagian dari perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Yang kedua
adalah peristiwa-peristiwa luar biasa atau gaib yang akan terjadi sebelum Waktu yang
sesungguhnya tersebut. Dalam jawabannya, Rasulullah hanya menyebutkan sebagian tanda-
tanda dari kategori-kategori yang terdahulu. Mungkin, Allah maha mengetahui, karena ini
semua adalah tanda-tanda yang mempunyai pengaruh yang lebih besar bagi sifat ihsan seseorang
dalam ibadah sehari-hari, meskipun pengetahuan akan tanda-tanda ini terkadang lebih sulit atau
lebih halus.
Mengapa itu disebut dengan “Kiamat”
“Kiamat”
1
disini menunjukkan Hari Akhir atau Hari Perhitungan. Ada sejumlah
penjelasan mengapa itu disebut dengan “Kiamat”. Sebagian mengatakan, disebut dengan
“Kiamat” karena, meskipun akan bertahan dalam waktu yang lama, Kiamat tersebut akan
ditetapkan secara tiba-tiba, sampai pada keadaan seseorang yang memegang beberapa makanan
di tangannya tidak akan bisa untuk merasakan makanan tersebut. Contohnya, Allah berkata
dalam al-Quran,
⬧⧫→⧫⬧⧫
◆⬧⧫⧫⬧⬧◆
➔◆
“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya
kepada mereka dengan tiba-tiba.” (Muhammad 18). Sebab itu, ini merujuk kepada peristiwa
yang pertama atau awal dari Kiamat tersebut yang akan datang pada semua dengan tiba-tiba.
Itu juga dapat disebut sebagai “Kiamat” karena itu berkaitan dengan “Waktudari Allah
. Allah berfirman,
⚫➔⬧➔◼☺
◆⬧❑⧫⧫
1
Pada masa Nabi , kata sah (“kiamat”) tidak bermakna “waktu” dalam artian enam puluh menit. Namun, itu
bermakna sebuah potongan waktu yang tidak terlalu panjang atau sangat pendek.
Islamic Online University Hadits 102
349
◼⧫✓⬧◆

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima
puluh ribu tahun”. (al-Maarij 4). Karena itu, ini adalah peristiwa yang sangat panjang tetapi
karena bagian dari hari tersebut, ini seperti satu jam.
1
Pada akhirnya, sebagian mengatakan bahwa disebut dengan “Kiamat” yang berkaitan
dengan pertanda baik berharap bahwa itu akan berlalu dengan mudah dan dengan cepat. Dalam
Bahasa Arab, dalam cara yang sama, sebuah perkara yang penting mengacu kepada perkara
keberhasilan.
“Budak wanita akan melahirkan tuannya.”
Para ulama telah berbeda terkait penafsiran tanda-tanda kiamat ini. Bahkan, sulit untuk
menjelaskan kebanyakan tanda-tanda Kiamat yang Rasulullah telah sebutkan. Dalam beberapa
kasus, mungkin hanya mereka yang benar-benar hidup dengan peristiwa yang digambarkan
tersebut akan memiliki pemahaman yang lengkap dan benar dari apa yang Rasulullah 
sebenarnya singgung. Contohnya, mungkin hanya mereka yang ada pada masa modern ini yang
benar-benar memahami dan menyaksikan apa yang Nabi  maksud dengan wanita yang
berpakaian tetapi telanjang. Sebelum jaman modern, para ulama hanya dapat membuat anggapan
yang sama seperti yang disebutkan tersebut.
Ibnu at-Tin mengatakan bahwa ada tujuh penjelasan untuk tanda-tanda yang telah
disebutkan oleh Nabi . Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada kenyataanya ke tujuh pendapat ini
disingkat menjadi empat pendapat yang terpisah dan berbeda. Keempat tanda-tanda tersebut
tersebut antara lain:
2
(1) Al-Khattaabi menyebutkan bahwa maknanya adalah bahwasanya Islam akan
tersebar, menguasai negeri-negeri orang kafir dan mengambil penduduknya sebagai budak.
1
Ada sebuah hadits dalam Musnad Ahmad yang menyatakan, Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, [hari
kiamat] akan dibuat sangat mudah bagi orang beriman yang akan lebih mudah baginya daripada sebuah kewajiban
shalat yang dia gunakan untuk berdoa di dunia ini.” Namun, menurut Albani, jalur dari hadits ini lemah. Lihat
catatan kaki Albani pada Muhammad al-Tabrizi, Misykat al-Masabih (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1885), jilid 3,
hal. 1544.
2
Cf., Ibnu Hajar, Fath, jilid 1, hal. 167.
Islamic Online University Hadits 102
350
Kemudian seorang laki-laki akan memiliki anak melalui budak perempuannya dan anak tersebut
akan menjadi seperti tuannya karena dia adalah anak dari tuannya. An-Nawawi menyatakan
bahwa ini adalah pendapat dari kebanyakan ulama. Namun, penafsiran ini sedikit bermasalah.
Ibnu Hajar menunjukkan bahwa hal seperti ini ada pada masa Nabi dan di tahun-tahun awal
Islam. Maksud dari perkataan tersebut adalah bahwasanya kejadian seperti itu akan terjadi dekat
dengan Hari Perhitungan dan akan menjadi sebuah tanda akan kedatangannya. Ulama yang
lainnya memberikan penafsiran yang sedikit berbeda dengan mengatakan bahwa seorang wanita
akan melahirkan anak dan kemudian anak tersebut akan menjadi raja dari sebuah negeri. Karena
itu, wanita tersebut akan menjadi penduduk umum dan anak tersebut akan menjadi tuannya.
Sebagian bahkan berkata bahwa sang raja tersebut kemudian akan menjual ibunya sendiri
sebagai budak, dan kemudian menggunakannya sebagai budak, baik itu karena ketidaktahuan
ataupun dilakukan secara sadar, Sebab itulah, ibu tersebut telah melahirkan tuannya sendiri.
(2) Penafsiran kedua adalah bahwasanya budak wanita yang melahirkan anak
pemiliknya akan dijual oleh pemiliknya. Akan sangat banyak penjualan wanita semacam ini
dimana anak pemilik wanita tersebut kemudian akan membelinya dan tidak menyadari bahwa itu
adalah ibunya. Sebab itu, anak yang dia lahirkan akan menjadi tuannya. Menurut sebagian
ulama, jika seorang budak wanita melahirkan seorang anak, dia kemudia tidak dapat dijual dan
dia menjadi bebas atas kematian tuannya. Sebab itu, tanda Kiamat ini menggambarkan akan
ketidaktahuan akan hukum Islam ataupun penghinaan terhadap hukum Islam di tahun-tahun
mendatang. Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa penjualan semacam itu
diperbolehkan sehingga tidak ada isyarat ketidaktahuan atau penghinaan. Pada akhirnya, untuk
menyesuaikan kedua pandangan ini, sebagian ulama berkata bahwa wanita tersebut dijual
sedangkan mereka masih sementara hamil dan ini dengan jelas terlarang sesuai dengan
kesepakatan para ulama.
(3) Penafsiran ketiga adalah bahwasanya seorang wanita melahirkan seorang anak.
Namun, anak tersebut bukanlah hasil dari hubungan yang sah secara lengkap, anak semacam itu
merupakan hasil dari perzinahan atau pernikahan yang tidak benar. Ibu tersebut kemudian dijual
dengan cara yang baik dan cara yang tepat kemudian dia terus dijual sampai pada akhirnya,
anaknya sendiri yang membelinya.
(4) Penafsiran yang keempat adalah bahwasanya anak tersebut tidak akan mematuhi
ibunya. Anak tersebut akan terus memperlakukan ibunya sendiri seperti seorang pemilik budak
Islamic Online University Hadits 102
351
memperlakukan seorang budak wanita, menghina, atau mungkin memukulnya dan, pada
umumnya, memperlakukannya tersebut hanya seperti seorang pelayan. Dalam kasus ini, “tuan
wanita itu” baik yang bersifat kiasan maupun dalam artian orang yang membawa orang lain. Ini
adalah pandangan yang Ibnu Hajar lebih sukai. Dia menyatakan bahwa ini adalah yang paling
umum. Selain itu, ini sejajar dengan pertanda selanjutnya yang Nabi nyatakan. Maksudnya, ini
adalah bukti yang lebih jauh bahwa masyarakat telah sangat berubah dalam hal-hal itu, yang
pada intinya, terbalik. Ini adalah sebuah tanda dari datangnya Kiamat karena segala sesuatu tidak
lagi seperti seharusnya.
“Dan engkau akan menyaksikan orang-orang tidak
memakai alas kaki, berpakaian minim, para gembala
miskin berlomba dalam membangun bangunan-
bangunan yang megah.
Maksud dari tanda ini adalah, sebagaimana yang al-Qurthubi sebutkan, bahwa, sekali
lagi, urusan-urusan akan terbalik. Orang-orang badui akan berkuasa, mengambil alih secara
paksa dan memiliki kekayaan di tangannya. Satu-satunya kekhawatiran mereka setelah itu adalah
persaingan dan kebanggaan dalam membangun gedung-gedung tinggi. Al-Qurthubi, yang
meninggal pada tahun 671 H., berkata, “Kami telah menyaksikan itu selama ini.”
1
Pada umumnya, ini bermakan bahwa mereka tidak memenuhi syarat untuk berkuasa dan
memiliki kekayaan di tangannya akan menjalankan segala urusan dan akan mengendalikan
kekayaan tersebut. Mereka tidak akan mengetahui cara yang baik untuk berurusan dengan
kekayaan mereka atau bagaimana menjalankan urusan tersebut. Sebab itu, mereka akan
menghabiskan uang mereka dengan berlebih-lebihan dan dalam kegiatan-kegiatan yang tidak
penting. Hadits lainnya dari Nabi memberikan anggapan yang sama dari apa yang akan terjadi
sebelum Kiamat. Nabi bersabda,
1
Al-Qurthubi yang dinukil dalam al-Syanqiti, jilid 2, hal. 362. Perkataan al-Qurthubi, “secara paksa” berdasarkan
riwayat-riwayat lainnya dalam hadits ini.
Islamic Online University Hadits 102
352
“Tidak akan datang Hari Kiamat sampai yang paling bahagia dari semua orang dengan
kehidupan dunia ini adalah Luka’ bin Luka’.”
1
Luka’ bin Luka’ bermakna “yang paling jahil,
tolol, anak dari yang paling tolol.” Hadits lainnya menyatakan,
“Apabila “kebenaran” menghilang, maka tunggulah Hari Kiamat.” Beliau ditanya, “Bagaimana
itu bisa menghilang?” Beliau menjawab, Ketika segala urusan berada ditangan orang-orang
yang tidak memenuhi syarat atas itu, maka tunggulah Hari Kiamat.” (Hadits Riwayat Bukhari.)
Perhatikan bahwa kata  biasanya diterjemahkan dengan “telanjang”. Namun, al-Qari
menunjukkan bahwa itu juga berarti orang yang membiarkan anggota tubuhnya yang seharusnya
ditutupi menjadi terbuka.
2
Kesimpulan dari Kedua Tanda yang Disebutkan dalam Hadits Tersebut
Kedua tanda tersebut menunjukkan bahwa keadaan dari urusan tersebut tidak akan
menjadi baik. Pada tanda yang pertama, mereka yang memiliki wewenang, kehormatan dan
perlakuan yang baik para ibu akan diperlakukan dengan kehinaan dan tanpa ada rasa hormat.
Pada tanda yang kedua, mereka yang tidak berhak atas harta dan kekuasaan atau mereka yang
tidak tahu bagaimana menangani itu akan diberikan harta dan kekuasaan. Seseorang hanya dapat
membayangkan seperti apa masyarakat itu secara keseluruhan ketika hal-hal semacam itu terjadi.
Ibnu Rajab menulis,
1
Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini ada dalam Sahih Bukhari tetapi nampaknya ini tidak benar. Hadits
tersebut diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi. Menurut Albani, hadits tersebut sahih. Lihat Albani, Sahih al-
Jami, jilid 2, hal. 1238.
2
Al-Qari, jilid 1, hal. 63.
Islamic Online University Hadits 102
353
Maksud yang disebutkan pada tanda-tanda Kiamat dalam hadits ini
kembali kepada kenyataan bahwa perkara-perkara tidak akan berada
ditangan orang yang pantas, sebagaiman yang Nabi telah sebutkan
dalam [hadits yang telah dikutip di atas]... Apabila orang-orang yang
tidak beralas kaki, para gembala yang berpakaian minim dan mereka
orang-orang yang bodoh dan hina adalah pemimpin dari orang-orang
dan pemilik dari sumber daya dan kekayaan, sampai pada keadaan
mereka bersaing dalam membangun gedung-gedung, maka seluruh
struktur dari agama dan urusan-urusan dunia akan menjadi rusak dan
dalam kekacauan. Jika pemimpin masyarakat adalah seseorang yang
dulunya miskin dan melarat, dan dia yang berkuasa atas orang-orang,
tidak perduli jika itu hanya sebuah aturan yang umum ataupun sebuah
aturan tertentu dalam beberapa perkara, maka akan sangat sulit untuk
dibayangkan bahwa orang semacam itu akan memberikan hak-hak dari
semua orang. Sebaliknya, sungguh, dia akan menyembunyikan dari
mereka kekayaan apa yang dia miliki. Salah seorang ulama terdahulu
mengatakan, “Untuk kalian yang membentangkan tangan kalian ke
dalam mulut seekor monster laut dan monster itu menggigit tangan
kalian, itu lebih baik bagi kalian daripada membentangkan tangan kalian
ke tangan orang kaya yang dulunya miskin.”
1
Jika selain karena bodoh,
dia juga kasar dan kejam, maka agama juga akan menjadi rusak. Ini
karena tidak ada kepentingan baginya untuk memperbaiki agama dari
orang-orang tidak juga mengajarkan kepada mereka tentang agama
mereka. Perhatiannya adalah hanya untuk mengumpulkan dan
menyimpan kekayaan. Dia tidak akan memperhatikan bagaimana agama
orang-orang yang telah menjadi rusak atau jiwa malang apa yang telah
hilang dari hidupnya karena kebutuhan.
Jika raja dan penguasa dari orang-orang memiliki sifat itu, maka semua
urusan lainnya juga akan terbalik. Pendusta akan dipercayai dan orang
yang jujur tidak akan dipercayai. Orang yang berdusta akan dipercayai
dan orang yang dapat dipercaya akan ditipu. Orang yang bodoh akan
berbicara sedangkan ulama akan tetap diam. Jika tidak, tidak akan ada
lagi ulama sama sekali. Ini benar-benar diriwayatkan bahwa Nabi
bersabda, “Salah satu tanda dari Hari Kiamat adalah ilmu akan hilang dan
kebodohan akan tersebar.” [Hadits Riwayat Bukhari.] Dia juga
mengatakan, Ilmu akan dicabut dengan mewafatkan para ulama,
sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan
menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya,
1
Orang yang membuat perkataan tersebut adalah Sufyan at-Tsauri.
Islamic Online University Hadits 102
354
kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat
lagi menyesatkan orang lain[Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]. Al-
Sya’bi berkata, “Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai ilmu menjadi
kebodohan dan kebodohan menjadi ilmu.” Ini adalah semua bagian dari
realitas-realitas yang terbalik di akhir zaman dan urusan menjadi
kebalikan dari apa yang seharusnya.
1
Mungkin penduduk Amerika yang sangat mendekati dari tanda yang pertama. Sekarang
ini, Anak-anak terlihat lebih banyak memiliki hak dibandingkan orangtua mereka. Jila orang tua
sedikit mendisiplinkan anaknya, dia mungkin ditangkap dan anak-anaknya diambil. Dengan kata
lain, anak-anak remaja bahkan bisa memukuli kedua orangtua mereka, dan mereka hampir tidak
pernah mendapatkan lebih dari sekedar tamparan di pergelangan tangan dari pihak berwenang.
Mungkin salah satu tanda-tanda paling besar dari terbaliknya keadaan dari hal-hal yang
seharusnya ini adalah tempat tinggal dari umat Muslim yang berhadapan dengan orang-orang
kafir pada hari ini. Meskipun umat Muslim seharusnya menjadi saksi terhadap umat manusia,
memimpin manusia, dan menjelaskan kebenaran dari Islam, hari ini jelas bukan seperti itu
kejadiannya. Sungguh, yang terjadi hampir sepenuhnya terbalik. Umat muslim berada di bawah
kendali dan pengaruh dari orang-orang kafir. Ini dengan jelas adalah sebuah kejadian tentang
segala urusan berada di tangan yang salah dan dapat dianggap sebagai sebuah pertanda bahwa
Hari Kiamat sudah dekat.
Al-Qari juga menunjukkan bahwa tanda yang pertama tersebut, mengenai budak wanita
yang melahirkan tuannya, menunjukkan adanya ketidakadilan, kejahatan, dan kebodohan yang
banyak. Hal-hal ini bahkan mencapai golongan tertinggi dalam masyarakat, karena mereka
adalah orang-orang yang kemungkinan besar memiliki budak dan sebagainya. Tanda yang kedua
menunjukkan kecintaan yang besar pada dunia ini dan sebuah kelalaian dari apa yang dunia ini
tuntunkan untuk Akhirat. Keinginan untuk dunia ini juga diperlihatkan di antara golongan-
golongan yang paling rendah yang hampir tidak bisa menutupi diri mereka sendiri.
2
1
Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal. 140-141.
2
Cf., al-Qari, jilid 1, hal. 63.
Islamic Online University Hadits 102
355
Kemudian beliau [Nabi ] berkata, “Wahai Umar,
tahukah kamu siapa yang bertanya itu...”
Kemudian dia pergi. Aku diam sejenak.
Sebagaimana yang dicatat sebelumnya, riwayat dari Umar dan Abu Hurairah sangatlah
berbeda tentang kapan nabi mengetahui orang yang bertanya itu sebagai malaikat Jibril. Banyak
ulama yang menjelaskan bahwa Umar pergi untuk mencari orang tersebut dan, setelah tidak
menemukannya, dia kembali ke rumahnya yang agak jauh dari mesjid Nabi . Al-Qadhah
selanjutnya menduga lebih jauh bahwa pada hari-hari berikutnya, tetangga umar adalah yang
mendapat giliran selanjutnya untuk bersama dengan Nabi , sebagaimana mereka biasanya
bergantian bersama dengan Nabi dan kemudian mereka akan saling bercerita apa yang terjadi
pada hari itu. Sebab itu, kejadian itu tidak sampai tiga hari, sebagaimana yang secara tegas
dinyatakan dalam sebagian riwayat, bahwasanya Umar diberitahu oleh Rasulullah siapa orang
yang bertanya itu. namun, Sahabat lainnya yang tetap berada di sekitar Nabi , seperti Abu
Hurairah, yang menceritakan secara singkat setelah itu bahwa orang itu adalah Malaikat Jibril
yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
1
Kemudian beliau [Nabi ] berkata, “Wahai Umar, tahukah kamu siapa
yang bertanya itu?
Dalam banyak riwayat berbeda tentang hadits tersebut, jelas bahwa Nabi sendiri tidak
menyadari identitas sebenarnya dari orang yang bertanya itu sampai setelah malaikat tersebut
telah pergi. Dalam riwayat Abu Furwah, Nabi berkata, “Demi Dzat yang mengirim
Muhammad dengan kebenaran, Aku tidak lebih tahu tentang siapa dia daripada siapapun di
antara kalian. [Aku tidak mengetahui] bahwa itu adalah Jibril.” Dalam hadits dari Abu Amr
mengatakan bahwa Nabi bersabda, “Kemuliaan bagi Allah, itu tadi adalah Jibril yang datang
untuk mengajar orang-orang agama mereka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-
Nya, dia tidak pernah datang padaku kecuali sebelum Aku mengenalinya, kecuali waktu ini.”
1
Al-Qadhan, hal. 20-21.
Islamic Online University Hadits 102
356
Riwayat dari al-Taimi sama dan menyatakan bahwa Nabi tidak mengetahui siapa dia sampai di
pergi.
1
“Itu tadi [Malaikat] Jibril yang datang pada kalian untuk mengajarkan
agama kalian (Deen).”
Mengomentari perkataan ini, Ibnu Utsaimin berkata,
[Dia datang untuk mengajarkan agama] meskipun, pada kenyataannya,
yang mengajarkan agama adalah Rasulullah  . Namun, Nabi 
menyebut Jibril sebagai guru. Ini karena dia adalah orang yang bertanya,
dan pengajaran terjadi karena dia. Seseorang dapat menyimpulkan dari
hal ini bahwa seseorang yang menjadi sebab dari sesuatu sama dengan
seseorang yang melakukan perbuatan yang sebenarnya. Ketika itu
berkaitan dengan dosa besar, para ahli fikih telah memperoleh prinsip
hukum: Penyebab suatu perbuatan sama dengan yang secara lansung
mengerjakan perbuatan tersebut. Untuk alasan itulah, Nabi menyebut
Jibril sebagai guru karena dia adalah yang menyebabkan pengajaran
agama tersebut oleh Nabi , melalui jawaban dari semua pertanyaan
tersebut. Kedua, jika seseorang menanyakan sebuah pertanyaan yang
sebenarnya dia mengetahui jawabannya dan dia hanya bertanya agar
orang-orang akan mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, dia telah
menjadi seorang guru.
2
Malaikat Jibril datang untuk mengajar Nabi dan para Sahabatnya tentang Din. Din ini
atau jalan hidup sebenarnya adalah agama Allah . Oleh karena itu, agar din seseorang menjadi
baik, harus dibangun dengan apa yang Allah telah turunkan, melalui wahyu, dengan mengutus
Malaikat atau dari perkataan Rasul-Nya . Jika semua umat Muslim ingin untuk mengetahui din-
nya, dia harus kembali kepada sumber-sumber ini dan dia tidak boleh berpaling kepada sumber-
sumber yang tidak Islami lainnya untuk mendapatkan petunjuk dan pemahaman tentang agama.
Allah berfirman dalam al-Quran,
⧫⬧
⧫⬧◆❑➔
◆⧫⧫✓☺
1
Untuk riwayat-riwayat yang berbeda ini, lihat Ibnu Hajar, Fath, jilid 1, hal. 170.
2
Ibnu Utsaimin, Majmu, jilid 3, hal. 222
Islamic Online University Hadits 102
357
“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain dia; dan
berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (al-An’am 106). Jika seseorang mengharuskan untuk
berpaling dari semua itu dan tidak memiliki hubungan dengan semua itu, dan juga seseorang
tidak akan mendatangi semua itu karena petunjuk dan inspirasi. Orang-orang kafir, pada
umumnya, mereka yang berpaling dari apa yang Allah telah turunkan, hanya memiliki
sebagian kecil ilmu dari hal-hal yang nampak dalam dunia ini tetapi mereka sebenarnya tidak
memiliki ilmu tentang kenyataan hidup dan tujuan seseorang ada di sini. Sebab itu, mereka dapat
memberikan tidak dapat memberikan petunjuk yang nyata kepada siapapun. Allah berfirman,
⬧⧫◆❑⬧⧫⧫
⬧◆◼❑◆⬧
◆ ⬧◼⧫
➔◆◆❑➔
◼☺⧫
◆❑➔◆◼☺⧫

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak
mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya
Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah
yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (an-Najm 29-30).
Agama (Din)
Nabi menggambarkan apa yang Malaikat tersebut telah ajarkan sebagai Din atau
agama. Dalam bahasa Arab, din adalah sebuah kata yang bermakna kepercayaan apapun yang
diikuti, jalan hidup apapun yang dijalankan secara terang-terangan dan di dalam hati atau
ideologi apapun yang seseorang ikuti.
1
Kata dasarnya bermakna tunduk kepada sesuatu dan
menerima itu sebagaimana sumber dan aturannya. Jadi din dari setiap orang, pada kenyataannya,
adalah jalan hidup atau ideologi yang mana dia tunduk dan melalui itu dia menjalani
1
Cf., W. al-Umari, hal. 55.
Islamic Online University Hadits 102
358
kehidupannya secara penuh. Bagi seorang Muslim, din-nya adalah din Islam. Oleh karena itu,
din atau agama Islam harus mencakup dan menguasai segala hal dalam kehidupan seseorang.
1
Din, ketika diperhatikan lebih dekat berdasarkan keterangan dalam hadits ini, meliputi
keadaan dari Islam, Iman, dan Ihsan. Bagi seseorang yang mencoba untuk melengkapi
agamanya, dia harus mencoba melengkapi ketiga hal ini. Nomani merangkum poin-poin ini,
Pada kenyataannya, tiga hal yang membuat jumlah keseluruhan dalam
Keimanan. Pertama, [sic], hamba tersebut menyerahkan dirinya sendiri
sepenuhnya kepada Tuhan dan membuat hidupnya menjadi pengabdian
kepada-Nya. Inilah Islam yang sebenarnya dan ajaran-ajaran dan
pelaksanaannya adalah tanda dan simbol dari kenyataan yang mendasar
ini. Yang kedua, kebenaran utama yang di luar pemahaman orang biasa
tersebut yang para Utusan Tuhan telah turunkan
2
dan telah menyeru
kepada manusia untuk beriman, telah diterima sebagai kebenaran. Ini
adalah Iman. Yang ketiga, seharusnya Tuhan, dengan Rahmat-Nya yang
tidak Terbatas, memungkinkan seseorang untuk melengkapi tingkatan-
tingkatan dalam Islam dan Iman, tingkatan yang ketiga dan terakhir yaitu
kesadaran akan Tuhan... yang menjadi begitu kuat sehingga kesetiaan
diberikan kepada-Nya dan perintah-perintah-Nya dilakukan seakan-akan
dia hadir dihadapan mata kita sendiri dengan semua Kemuliaan dan
Keagungan-Nya, dan mengawasi semua amal dan perbuatan kita dengan
telity. Ini adalah kondisi perasaan yang disebut dengan Ihsan.
3
Poin-Poin Tambahan yang Berkaitan dengan Hadits Ini
Dalam beberapa riwayat dari hadits ini, dikatakan bahwa karena Nabi seringkali duduk
di antara para Sahabatnya seperti salah seorang dari mereka, itu akan sulit bagi orang
yang tidak dikenal untuk datang dan mengenali Nabi . Karena itu, para Sahabat
meminta izin untuk memasang sebuah tempat khusus yang tinggi untuk Nabi untuk
duduk dan mengajar. Al-Qurthubi menyimpulkan dari hal ini bahwa ini dianjurkan bagi
1
Cf., W. al-Umari, hal. 58.
2
Ini pasti beberapa jenis kesalahan dalam pengetikan pada teks bahasa Inggris. Kemungkinan besar, itu harus
dibaca, “terima”
3
Nomani, jilid 1, hal. 64.
Islamic Online University Hadits 102
359
guru atau ulama untuk duduk di tempat yang tinggi dengan tujuan agar dapat dikenali dan
untuk mengajar, jika dibutuhkan.
1
Dalam sebagian riwayat dari hadits tersebut, dikatakan bahwa Malaikat Jibril duduk
dengan cara yang sama seperti seseorang duduk dalam ritual shalat.
2
Menurut sebagian
mufasir, hal ini menunjukkan pentingnya sikap atau posisi duduk pada saat memperoleh
ilmu. Seseorang seharusnya duduk dengan cara yang mana dia akan penuh perhatian dan
akan sepenuhnya memahami perkataan sang guru.
An-Nawawi juga menyimpulkan dari hadits tersebut bahwa jika seseorang atau ulama
ditanyakan sebuah pertanyaan dan dia tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan
tersebut, dia harus menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui jawabannya. Inilah yang
Rasulullah lakukan dalam menjawab pertanyaan malaikat tentang peristiwa Hari
Kiamat. Ini tidak akan mengecilkan status seseorang dengan cara apapun. Itu akan
menjadi sebuah tanda kesalehan dan rasa takut kepada Allah , yang Mulia.
3
Bahkan,
kebanyakan ulama-ulama terdahulu memiliki nama besar karena mengatakan, “Aku tidak
tahu,” ketika ditanyakan pertanyaan yang jawabannya mereka tidak mengetahuinya.
Imam Malik pernah ditanyakan empat puluh pertanyaan dan tiga puluh dua dari
pertanyaan tersebut, dia menjawab, “Aku tidak tahu.
4
Sangat disayangkan, banyak orang
yang tidak ingin untuk “mempertunjukkan” ketidaktahuan dan usaha mereka untuk
menjawab pertanyaan bahkan ketika mereka benar-benar tidak mengetahui jawaban
untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jalan yang semacam ini sangat sangat berbahaya
karena jawaban ketidaktahuan orang tersebut dapat diambil dan diikuti oleh orang lain.
Hadits ini menunjukkan bahwa tanya-jawab adalah sebuah cara yang baik dalam
menyampaikan ilmu. Bahkan, menanyakan pertanyaan yang baik itu sendiri adalah cara
yang baik dalam menghasilkan ilmu. Jibril hanya menanyakan pertanyaan tetapi Nabi 
menggambarkan dirinya seperti orang yang sedang memberikan pelajaran. Sebuah
ungkapan dalam bahasa Arab mengatakan, “Menanyakan pertanyaan yang baik adalah
setengah dari ilmu.”
5
Sultan lebih lanjut mengatakan bahwa guru atau yang
1
Lihat, Ibnu Hajar, Fath, jilid 1, hal. 159.
2
Ibnu Hajar, Fath, jilid 1, hal. 160.
3
An-Nawawi, Syarah Sahih, jilid 1, hal. 158.
4
Al-Syinqiti, jilid 2, hal. 352.
5
Cf., Ibnu Hajar, Fath, jilid 1, hal. 171.
Islamic Online University Hadits 102
360
mendakwahkan kepada Islam harus menggunakan segala cara untuk membuat orang yang
didakwahi tertarik dan berminat untuk menyimak.
1
Ini penting untuk diperhatikan, sebagaimana yang an-Nawawi telah lakukan, bahwa
hanya karena Rasulullah  menyebutkan sesuatu sebagai tanda-tanda dari Hari Kiamat,
hal ini tidak perlu untuk dimaksudkan bahwa perbuatan-perbuatan seperti itu dilarang,
tercela, atau diperbolehkan. Contohnya, sebuah hadits menyatakan bahwa akan ada
zaman ketika seorang laki-laki akan diikuti oleh empat puluh wanita, ini jelas tidak
terlarang. Sebab itu, oleh mereka sendiri, tidak ada kesimpulan fiqih yang dapat dibuat
dari sebuah tanda tertentu dari Hari Kiamat. Allah maha mengetahui.
2
Kesimpulan Hadits
Rukun atau pondasi di atas Islam, ketaatan pada Allah , disandarkan pada lima:
pernyataan kesaksian keimanan (syahadat), mendirikan shalat, membayar zakat, puasa
Ramadhan dan berhaji.
Iman yang semua umat Islam harus yakini ada enam: beriman kepada Allah , para
malaikat, para rasul, kitab-kitab, Hari Kebangkitan, dan Takdir.
Sebagaimana untuk ihsan, an-Nawawi mengikuti perkataan yang memberikan sebuah
rangkuman yang luar biasa dari jawaban Rasulullah untuk makna dari ihsan: “Ini
adalah salah satu ungkapan yang luas yang Rasulullah berikan. Karena apabila
siapapun dari kita dapat bertahan dalam ibadah sementara dia sedang melihat Allah ,
maka dia tidak akan meninggalkan apapun yang akan ada dalam kemampuannya untuk
tunduk, khusyuk, takut, berwajah indah, dan menggabungkan semuanya baik itu lahiriah
ataupun dalam hati. Seseorang akan berhati-hati untuk melengkapi amalan-amalan
tersebut dengan cara yang paling baik... karena itu, maksud dari perkataan ini adalah
untuk mendorong kemurnian dalam ibadah dan pengakuan oleh seseorang bahwa
1
Sultan, hal. 49.
2
An-Nawawi, Syarah Sahih, jilid 1, hal. 159.
Islamic Online University Hadits 102
361
Tuhannya mengawasinya, sehingga dia akan selengkap mungkin ketika itu berkaitan
dengan ketundukkan, kekhusyuan, dan rasa takut.”
1
Agama atau din terdiri atas tiga tingkatan islam, iman, dan ihsan yang berbeda. Orang
yang hanya terus berada pada tingkatan Islam sampai dia meninggal akan diselamatkan
dari berada selamanya di Neraka, meskipun dia mungkin memasuki itu dikarenakan dosa-
dosanya, dengan kata lain, orang yang terus dalam insan sampai dia meninggal akan
lansung masuk ke Surga dan akan memiliki kenikmatan melihat Allah di Akhirat.
2
Ilmu tentang kapan Hari Kiamat akan terjadi hanya diketahui oleh Allah . Manusia yang
paling mulia dan malaikat yang paling mulia telah menunjukkan bahwa mereka tidak
memiliki ilmu tentang kapan itu akan terjadi. Sebagian orang Syiah dan orang Sufi
membuat pernyataan aneh bahwa para Imam dan wali-wali mereka memiliki ilmu tentang
yang Gaib sebagian bahkan berkata wali-wali tersebut melihat Kitab yang Nyata. Pada
kenyataannya, sebagian bahkan menyatakan bahwa Imam-Imam dan wali-wali mereka
memiliki segala ilmu, seperti Allah .
3
Semua keyakinan ini bertentangan dengan Quran
dan sunnah dan jika seseorang bersikeras dengan itu semua bahkan setelah ditunjukkan
tentang kedustaan mereka, sikap bersikerasnya pada keyakinan ini membawa dia keluar
dari Islam.
Allah memberkahi manusia dengan ilmu dari beberapa tanda-tanda Hari Kiamat.
Tanda-tanda ini yang terjadi di sekitar seseorang seharusnya menjadi sebuah peringatan
tentang kedatangan Kiamat dan Perhitungan. Ini juga seharusnya mengingatkannya
bahwa Allah melihat dan mengetahui segala hal, termasuk apa yang orang itu sendiri
sedang lakukan setiap saat.
1
An-Nawawi, Syarah Sahih, jilid 1, hal.158. As-Suyuti memiliki perkataan yang hampir sama persis tetapi dia tidak
menganggap semua itu dari an-Nawawi. Lihat Jallal al-Din as-Suyuti, al-Debaj ala Sahih Muslim Ibnu al-Haljaj
(Al-Khobar, Arab Saudi: Dar Ibnu Affan, 1996), jilid 1, hal. 6.
2
Ibnu Rajab, Fath, jilid 1, hal. 215.
3
Untuk kutipan dari sumber orang Syiah, lihat Sultan, hal. 51; untuk kutipan dari sifat seorang Sufi, lihat al-Qaari,
jilid 1, hal. 62.
Islamic Online University Hadits 102
362
Hadits #3:
Islam Dibangun di atas Lima [Pilar]
“Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Al Khatthab
radiallahu’anhuma ia mengatakan: Aku pernah mendengar
Rasulullah bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima [pilar
1
]:
persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk
disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-
1
Pada terjemahan mereka dalam hadits ini, Ibrahim dan Johnson-Davies membuat pernyataan berikut, “Kata
‘pilar’ tidak muncul dalam bahasa Arab tetapi kata tersebut mendukung kejelasan maknanya. Pilar (arkan)
adalah istilah yang diterima secara umum dalam konteks ini” Ibrahim dan Johnson-Davies, hal. 34, fn. 1.
Riwayat dari Abdur-Razzaq dengan jelas menyebutkan “sandaran” atau “penyangga”. Dalam riwayat Sahih
Muslim, lima adalah bentuk perempuan (muannas), yang akan menunjukkan arkan atau pilar. Cf., Ibnu Hajar,
Fath, jilid 1, hal. 72.
Islamic Online University Hadits 102
363
Nya, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, berhaji ke Mekkah
dan berpuasa di bulan Ramadhan”
Kosakata Pilihan
 -“pada keduanya,” ini merujuk kepada Abdullah bin Umar dan ayahnya Umar.
- - “telah dibangun”
 - “di atas”
 - “lima”
takhrij
Hadits ini diceritakan melalui banyak jalur (sanad) dari Abdullah bin Umar. Hadits ini
diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ahmad, an-Nasai, Tirmidzi, al-Baihaqi (dalam tiga karya
berbeda), Ibnu Khuzaima dalam Sahih-nya, Ibnu Hibban dalam Sahih-nya, at-Tabarani dalam al-
Kabir-nya dan banyak lainnya. Hadits ini juga diceritakan dari Sahabat Jarir bin Abdullah al-
Bajali. Melalui Jarir hadits ini diriwayatkan oleh at-Tabarani dengan sanad yang sahih.
1
1
Lihat Ibnu Muhammad, hal. 57-59.
Islamic Online University Hadits 102
364
Komentar Umum Pada Hadits Ini
Hadits ini sangat penting, karena hadits ini menetapkan hal-hal yang mendasar dalam
penyerahan diri kepada Allah . Penyerahan diri ini didasari beberapa pondasi, dengan cara yang
sama dengan sebuah struktur. Apabila seseorang memenuhi segala aspek ini, dia telah
meletakkan landasan yang kokoh atau pondasi untuk agamanya secara keseluruhan. Amalan-
amalan lainnya dari Islam adalah penyempurna atau sentuhan akhir untuk pondasi yang luar
biasa ini. Namun, jika seseorang memiliki kekurangan pada setiap perkara ini, maka keseluruhan
struktur bisa terancam, sebagaimana yang akan dibahas dalam penjelasan tersebut.
Perawi: Abdullah bin Umar bin Khattab
Abdullah bin ‘Umar bin Khattab (10 Sebelum Hijrah/613 SM, - 73 H/692 M.) adalah
putra tertua dari Umar bin Khattab. Dia adalah salah satu Sahabat muda yang luar biasa. Dia
masuk Islam bersama dengan ayahnya. Dia dulu masih sangat muda untuk perang Badar tetapi
setelah itu dia ikut serta dalam semua peperangan Rasulullah .
Dia adalah seorang yang sangat saleh. Dia menghindari segala perselisihan politik selama
hidupnya. Dia adalah ulama yang alim, dikenal karena kesalehan dan ketaatannya mengikuti
ajaran-ajaran kenabian. Kaidah-kaidah dan keteladanan agamanya memiliki banyak pengaruh
pada sekolah Madinah (sekolah hadits) Imam Malik bin Anas. Dia dikenal sebagai salah satu
dari “empat Abdullah” yang telah menyebarkan ilmu yang banyak di awal tahun-tahun Islam.
(Yang ketiga lainnya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bim Amr bin As, dan Abdullah bin
Zubair). Dia juga ikut serta dalam jihad di Afrika Utara.
Dia dikenal karena pernah menangis pada saat menceritakan hadits. Dia membedakan
dirinya sendiri sebagai seorang perawi hadits, kedua setelah Sahabat yang paling banyak
meriwayatkan hadits yaitu Abu Hurairah. Kurang lebih 2.630 hadits telah dikaitkan dengan
sumber darinya. Beberapa muridnya termasuk Said al-Musayyab, al-Hasan al-Basri, al-Zuhri,
Muhammad Ibnu Sirin, Nafi dan banyak lainnya.
Menjelang akhir hidupnya, dia kehilangan penglihatannya. Dia dianggap sebagai Sahabat
yang terakhir wafat di Makkah.
Islamic Online University Hadits 102
365
“Islam dibangun di atas lima [pilar]”
Di sini, Rasulullah  memberikan sebuah perumpamaan yang mana beliau memberikan
gambaran Islam seperti sebuah rumah. Pondasi atau pilar rumah itu ada lima. Jika rumah tersebut
kehilangan kelima ini, maka, pada kenyataannya, rumah tersebut tidak akan ada sama sekali.
Amalan-amalan lainnya dalam Islam seperti bagian-bagian pelengkap atau bagian yang
ditambahkan untuk melengkapi rumah tersebut. Apabila ada bagian-bagian pelengkap itu yang
hilang, rumah itu masih berdiri tetapi memiliki kekurangan; rumah itu tidak lengkap atau tidak
sempurna. Namun, jika semua pilar itu hilang, rumah tersebut tidak akan berdiri atau tidak akan
ada sama sekali. Khususnya, jika pilar-pilar utama yang hilang
1
, rumah tersebut tidak dapat
berdiri atau tidak dapat dikatakan ada. Hal-hal ini disetujui oleh semua ulama.
2
Hadits ini dapat mengarakan pada beberapa kebingungan karena keempat amalan yang
disebutkan adalah semua yang didirikan di atas pilar syahadat yang pertama, sebagaimana yang
baru saja disebutkan. Jelas, itu tidak membutuhkan nilai apapun kecuali jika pilar yang pertama
dipenuhi. Tetapi kemudian timbul pertanyaan: bagaimana bisa sebuah pondasi juga menjadi
pondasi untuk pondasi yang lainnya? Jawabannya adalah bahwasanya itu dibolehkan untuk
membangun sesuatu di atas yang lainnya, pada akhirnya, itu semua akan membentuk sebuah
susunan yang penting dengan lebih dari satu pilar. Para ulama memberikan sebuah permisalan
dari jenis rumah, yang mungkin sama dengan sebuah tenda dari kulit atau bulu binatang. Rumah
ini dibangun di atas lima pilar. Pilar atau penopang utama adalah yang ada di tengah sedangkan
keempat pilar lainnya mengililinginya dan memberikan bantuan untuk pilar pertama. Namun,
selama pilar yang pertama tersebut ada dan berdiri di sana, rumah itu dianggap ada dan berdiri.
Jika pilar yang di tengah tersebut harus jatuh, bahkan jika pilar-pilar yang lainnya masih ada,
rumah tersebut tidak akan lagi dianggap berdiri. Sebab itu, diambil secara keseluruhan,
bahwasanya kelima pilar itu adalah pondasinya. Tetapi secara sendiri-sendiri keempat pondasi
lainnya itu masih bergantung pada kesehatan dan kesejahteraan dari penopang yang utama dan
yang paling penting tersebut.
3
1
Pilar yang utama adalah persaksian iman
2
Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal. 145. Bagaimana jika sebagian dari pilar lainnya yang hilang? Pertanyaan ini akan
dijawab secara terpisah untuk masing-masing pilar di bawah ini.
3
Cf., Ibnu Hajar, Fath (Dar al-Fikri), jilid 1, hal. 72-73; al-Syanqiti, jilid 1, hal. 415.
Islamic Online University Hadits 102
366
Pada kenyataannya, pilar yang pertama adalah pilar yang sudah jelas kebenarannya bagi
pilar-pilar lainnya, yang merupakan pelaksanaan praktisnya. Pilar yang pertama mengarahkan
pada pemberlakuan dan pelaksanaan dari pilar-pilar yang lainnya. Pilar pertama yang kokoh itu
adalah untuk individu, yang lebih kuat itu akan menjadi pilar yang tersisa. Semuanya harus
beriringan dan bekerja secara bersama-sama. Suatu waktu al-Hasan al-Basri pernah hadir pada
kematian seseorang. Dia berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari ini?” Dia
menjawab, “Aku telah mengatakan persaksian iman selama bertahun-tahun.” Al-Hasan berkata,
“Itu adalah penopangnya tetapi dimana tali-tali tendanya?”
1
maksudnya, penopang utamanya
seharusnya didukung dan dikerjakan dengan melalui amalan-amalan Islam. Jika semua itu tidak
ada, maka tidak banyak yang benar-benar ada dalam susunan tersebut.
“bersaksi bahwa tidak ada satupun yang pantas
disembah selain Allah
Persaksian Iman atau syahadat adalah sebuah perpaduan dari penafian dan penetapan.
Penafian yang pertama diikuti oleh pengecualian dari penetapan tersebut. Ini dianggap bentuk
yang paling kuat dari semua yang ada dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, syahadat bermakna:
tidak ada satupun yang benar-benar pantas untuk disembah dan tidak ada Tuhan yang benar
kecuali Allah . Dan hanya Allah .
Pada dasarnya, seseorang sedang mempersaksikan keimanannya dalam konsep tauhid
Islam, sebagaimana yang telah dibahas secara mendetail pada hadits sebelumnya dengan judul
“Iman kepada Allah .”
Syarat-syarat La ilaha-illa-llah
2
Orang-orang Muslim mengetahui bahwa kunci dari Surga adalah pernyataan, “Tidak ada
satupun yang pantas disembah selain Allah namun banyak umat Muslim hanyalah bergantung
di atas pernyataan ini dan meyakini bahwa selama mereka telah mengucapkan itu, tidak akan
1
Dinukil dalam al-Qari, jilid 1, hal. 66.
2
Keadaan persaksian iman dikenal baik dan dibahas dalam banyak karya. Kebanyakan keterangan dari atas berasal
dari Hakimi, Marif, jilid 1, hal. 307-315; Abdullah bin Jibrin, al-Syahadatan (tidak ada kota dan penerbit yang
diberikan, 1990), hal. 77-86. Penulis ini juga banyak menyajikan materi ini dalam dua bagian syahadat pada
bagian II:Khutbabs(I) miliknya (Auroro, CO:IANA,, 1994), hal. 4-19; The Friday Prayer (Shalat Jumat): Part II:
Khutbabs (III) (Ann arbor, MI: IANA, 1995), hal. 35-42.
Islamic Online University Hadits 102
367
ada bahaya bagi mereka. Karena pernyataan lisan belaka dari syahadat ini, mereka berpikir
bahwa mereka akan diberikan Surga. Namun, pernyataan belaka tersebut tidak cukup untuk
memberi keselamatan. Kenyataannya, orang-orang munafik dulunya juga berkata, “Aku bersaksi
bahwa tidak ada satupun yang pantas disembah selain Allah dan...” namun Allah 
menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang berdusta dan berkata bahwa mereka akan
tinggal di jurang yang paling dalam di Neraka.
Penyataan atau persaksian ini adalah kunci dari Surga. Namun, pernyataan tersebut harus
memenuhi syarat-syarat tertentu. Al-Hasan al-Basri pernah berkata pada seseorang, “Apa yang
telah engkau persiapkan untuk kematian?” Orang itu berkata, “Persaksian bahwa tidak ada
satupun yang pantas disembah selain Allah.” Al-Hasan berkata padanya, “Pernyataan itu
memiliki beberapa syarat. Dan berhati-hatilah dari memfitnah wanita yang suci.”
1
Pengikut
(Tabi’in) yang terkenal pernah ditanya, “Bukankah kalimat la ilaha illallah adalah kunci dari
Surga?” dia menjawab, “Iya, tetapi setiap kunci itu memiliki gigi. Jika engkau datang dengan
kunci yang memiliki gigi yang tepat, pintu tersebut akan terbuka untukmu. Namun jika tidak
memiliki gigi-gigi kunci yang tepat, pintu itu tidak akan terbuka untukmu.” Gigi ini adalah
syarat-syarat yang membedakan orang-orang Muslim yang akan mendapat keuntungan dari
pernyataan itu dari mereka yang tidak memilki keuntungan dari pernyataan tersebut, tidak
penting seberapa banyak pernyataan yang mereka telah buat setiap harinya.
Sebelum membahas syarat-syarat dari syahadat tersebut, ada hal yang lebih penting yang
seharusnya dilakukan. Sebagian orang memiliki kecenderungan untuk mengambil satu hadits
atau ayat dan kemudian, berdasarkan pada satu teks tersebut mereka membuat sebuah
kesimpulan umum yang hanya didasari pada satu teks tersebut. Contohnya, seseorang dapat
menyimpulkan dari beberapa hadits bahwa siapapun yang hanya mengatakan, “tidak ada Tuhan
selain Allah,” akan memasuki Surga. Tetapi, sebenarnya, seseorang harus menyadari bahwa
semua yang dari al-Quran dan hadits saling melengkapi dan menjelaskan satu sama lain. Untuk
menemukan posisi yang sebenarnya pada pertanyaan siapapun, seseorang harus membawa
semua ayat-ayat dan hadits-hadits yang terkait dan melihat apa posisi Islam yang sebenarnya
pada pertanyaan tersebut. Hal yang sama juga berlaku pada syarat-syarat dari syahadat.
1
Orang yang al-Hasan al-Basri ajak berbicara adalah seorang penyair yang akan memfitnah wanita saleh tersebut
dan karena itulah al-Hasan menujukan hal itu kepadanya. Lihat Badi, jilid 1, hal. 162-164.
Islamic Online University Hadits 102
368
Sebuah kajian tentang ayat-ayat dari al-Quran dan hadits Nabi akan menunjukkan
bahwa syarat-syarat syahadat itu ada tujuh, delapan, atau sembilan dengan jumlah yang
tergantung bagaimana seseorang memandangnya. Ini adalah hal yang penting yang setiap
Muslim memastikan bahwa dia sedang memenuhi syarat-syarat ini di dalam kehidupannya
sendiri yang berkaitan dengan persaksian keimanannya sendiri.
Syarat yang pertama adalah ilmu atau ‘al-‘ilm (). Seseorang harus memiliki
pemahaman dasar yang dibutuhkan dari apa yang dimaksud oleh syahadat itu. seseorang harus
memahami apa yang syahadat itu tekankan dan apa yang syahadat itu ingkari. Allah berfirman
dalam al-Quran,
◼⬧⧫⬧
⧫◆⬧
⧫✓⬧☺◆⬧☺◆
“Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan
mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan
perempuan.” (Muhammad 19). Demikian pula, Nabi bersabda,
“Barangsiapa yang meninggal mengetahui bahwa tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah
akan masuk Surga.” (Hadits Riwayat Muslim).
Kenyataannya, syahadat itu sendiri adalah sebuah persaksian. Ketika seseorang bersaksi
pada sesuatu, seseorang harus mengetahui mengenai apa yang sedang dia persaksikan tersebut.
Jelas, sebuah kesaksian pada sesuatu yang orang tersebut tidak memiliki ilmu apapun dari hal
tersebut, maka itu tertolak. Allah berfirman dalam al-Quran,
⧫⬧➔◆
⧫❑☺◼➔⧫
Islamic Online University Hadits 102
369
“Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid)
dan mereka meyakini(nya)” (az-Zukhruf 86).
Oleh karena itu, dasar dari syahadat harus dipahami oleh orang yang bersaksi pada itu.
1
Contohnya, jika dia tidak memahami, bahwasanya Allah adalah hanya yang satu-satunya
berhak disembah dan semua tuhan lainnya adalah tuhan yang palsu, lalu bahkan dia tidak
memiliki pemahaman yang paling dasar dari apa yang dia nyatakan sebagai persaksian. Syahadat
seperti itu tidak dapat dianggap suatu yang benar yang diterima oleh Allah .
Syarat syahadat yang kedua adalah keyakinan atau al-yaqin (). Ini kebalikan dari
keraguan dan ketidakpastian. Pada kenyataannya, dalam Islam, segala jenis keraguan yang
terkait apapun yang telah ditegaskan dalam al-Quran atau sunnah setara dengan kufur atau
ketidakpercayaan.
2
Seseorang harus, dalam hatinya, benar-benar yakin akan kebenaran dari
syahadat itu. Hati seseorang tidak boleh merasa ragu dengan cara apapun ketika seseorang
bersaksi tentang, “Tidak ada satupun yang pantas disembah selain Allah. Allah 
menggambarkan orang yang benar-benar beriman sebagai orang-orang yang memilki keyakinan
pada Allah dan kemudian hati mereka tidak merasa ragu. Allah berfirman,
☺❑⬧☺⧫
❑⧫◆❑◆◆▪➔
⬧❑⧫◆
◆❑→◆
⬧➔
❑➔
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman)
kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad)
1
Jika seseorang tidak terbiasa dengan ilmu yang mendetail mengenai Allah tetapi mengikuti hal-hal yang pokok
itu, itu tidak mengingkarinya sebagai seorang Muslim. Namun, setelah itu dia tidak harus menolak semua hal
detail segera setelah ilmu atau bukti tersebut datang padanya. Cf., W. al-Umari, hal. 49.
2
Sebuah pengecualian untuk ini terkait dengan kasus ketidaktahuan dimana seseorang merasa ragu tentang sesuatu
dan tidak menyadari bahwa itu dibuktikan dalam al-Quran dan sunnah. Tetapi segera setelah orang itu mengetahui
bahwa sesuatu tersebut dengan pasti ditegaskan dalam al-Quran dan sunnah, tidak ada alasan baginya untuk
memiliki keraguan apapun tentang hal tersebut.
Islamic Online University Hadits 102
370
dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (al-
Hujurat 15). Demikian pula, Rasulullah bersabda,
“Tidak seorangpun yang bertemu dengan Allah dengan persaksian bahwa tidak ada yang pantas
disembah selain Allah dan Aku adalah Utusan Allah, dan dia tidak memiliki keraguan atasnya,
kecuali dia akan masuk Surga.” (Hadits riwayat Muslim).
Disamping itu, Allah menggambarkan orang-orang munafik seperti orang-orang yang
hatinya merasa ragu. Contohnya, Allah berfirman,
☺⧫⧫
❑⬧❑◆◆
⧫⬧◆❑➔➔
⬧◆◆⧫⧫
“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman
kepada Allah dan hari Kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang
dalam keraguannya.” (at-Taubah 45).
Banyak ulama telah menyatakan bahwa penyakit hati, atau keraguan dan was-was
tersebut yang seseorang biarkan masuk ke dalam hati seseorang, lebih berbahaya bagi keimanan
seseorang daripada nafsu dan syahwat. Ini karena nafsu dan syahwat terkadang dapat
memberikan kepuasan namun, orang tersebut masih mengetahui bahwa semua itu salah. Dia
kemudian pada akhirnya dapat mengendalikan dirinya, bertobat dan menghentikan semua
perbuatan buruk itu. di lain pihak, keraguan dan was-was dapat tetap tinggal di dalam hati, tanpa
obat, sampai orang tersebut pada akhirnya meninggalkan Islam sepenuhnya atau terus
mengamalkan Islam sementara, pada kenyataannya, di dalam hatinya dia tidak memiliki
keimanan yang benar.
Islamic Online University Hadits 102
371
Salah satu obat untuk keraguan ini adalah ilmu. Ilmu yang baik dari al-Quran dan sunnah
menghilangkan sebagian, atau semua keraguan ini. Dengan mempelajari dan memahaminya,
seseorang mendapatkan keyakinan. Dan karena seseorang mempelajari dan belajar lebih banyak,
keyakinannya akan menjadi lebih kuat dan lebih kokoh.
Syarat syahadat yang ketiga adalah menerima atau al-qabul (). Apabila seseorang
memiliki ilmu dan keyakinan dalam syahadat, ini harus diikuti oleh penerimaan, dengan lisan
dan hati, dari apapun yang syahadat itu tunjukkan. Siapapun yang menolak untuk menerima
syahadat dan semua maksudnya, bahkan jika dia mengetahui bahwa itu benar dan pasti tentang
kebenarannya, dia adalah orang yang kafir. Penolakan untuk menerima ini terkadang disebabkan
oleh kebanggaan, iri hati dan alasan-alasan lainnya. Dalam hal apapun, syahadat bukanlah
syahadat yang benar tanpa penerimaan tanpa syarat.
Para ulama membicarakan tentang syarat ini sebagai sebuah syarat yang umum dengan
cara yang baru saja dijelaskan. Namun, ada juga sebuah hal detail yang harus disadari. Syarat ini
juga berarti bahwa dia yakin pada apapun yang dinyatakan dalam al-Quran atau dinyatakan oleh
Nabi , tanpa ada hak apapun untuk memilih apa yang dia ingin untuk yakini dan apa yang dia
ingin ingkari. Allah berfirman dalam al-Quran,
⧫❑⬧⬧➔⧫⧫
→⬧◆➔⧫☺⬧⧫
⧫➔⧫⬧→
❑◆⬧◆
⧫❑⧫◆☺◆⧫⧫
◼➔
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian
yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan
dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat
berat.” (al-Baqarah 85. Allah juga berfirman,
⧫◆⧫⬧☺◆◆⬧
⬧⬧➔❑◆◆
Islamic Online University Hadits 102
372
⧫❑⧫⬧◆
⧫◆➔⧫
⬧❑◆◆⬧⬧◼

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin,
apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan
(yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka
sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab 36).
Syarat syahadat yang keempat adalah ketaatan dan pemenuhan atau al-inqiyad (). Ini
menunjukkan pelaksanaan lahiriah yang sesungguhnya melalui perbuatan dari syahadat
seseorang. Ini adalah salah satu dari makna dari Islam itu sendiri, “ketaatan pada kehendak dan
perintah-perintah dari Allah .” Allah memerintahkan dam al-Quran,
❑◆◼◼◆
❑☺◆⬧
“Dan Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya” (az-Zumar 54).
Allah telah memuji mereka yang taat pada perintah-Nya melalui amalan-amalan mereka. Allah
berfirman,
⧫◆☺◼
◆◆❑➔◆⧫➔
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya
kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan” (an-Nisa 125).
Allah telah membuatnya menjadi sebuah syarat keimanan bahwasanya seseorang taat
pada perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Allah berifirman,
⬧◼◆◆❑⬧
❑☺⬧☺⧫
▪➔⬧→
Islamic Online University Hadits 102
373
⧫☺⬧❑☺◆
☺◼
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan
kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam
hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima
dengan sepenuhnya.” (an-Nisa 65).
Sebagaimana yang telah dibahas pada pembahasan tentang iman, syahadat adalah
persaksian keimanan yang harus ditunjukkan dalam hati, lisan dan perbuatan seseorang.
Contohnya, dalam hati seseorang, seseorang harus memiliki cinta kepada Allah , rasa takut
kepada Allah  dan berharap pada-Nya. Dengan lisan seseorang, dia seharusnya menunjukkan
apa yang kesaksian imam itu wajibkan baginya. Siapapun yang mengaku sebagai seorang
Muslim namun mengerjakan perbuatan yang tidak sesuai, baik karena tidak memahami Islam
sama sekali ataupun memberikan kesaksian yang bertentangan dengan dirinya sendiri
bahwasanya pernyataan keimanannya bukanlah sebuah pernyataan yang benar dan sungguh-
sungguh.
Ini tidak berarti bahwa orang yang sungguh-sungguh beriman tidak pernah terjatuh ke
dalam dosa, orang-orang yang sungguh beriman juga melakukan dosa-dosa. Tetapi selama
mereka mengakui bahwa yang mereka lakukan tidak benar dan itu tidak sesuai dengan kewajiban
mereka untuk mentaati Allah , maka mereka belum melanggar kebaikan dari kesaksian atau
syahadat mereka.
Syarat syahadat yang kelima adalah kejujuran atau as-siddiq (), yang merupakan
kebalikan dari kemunafikan dan ketidakjujuran. Ini berarti bahwa ketika seseorang mengucapkan
syahadat, dia sedang mengatakannya dengan jujur, dengan maknanya yang sebenarnya. Dia
tidak berdusta ketika itu sampai pada kesaksian iman atau hanyalah mencoba untuk menipu atau
membodohi siapapun. Nabi bersabda,
Islamic Online University Hadits 102
374
“Tidak seorang pun yang bersaksi bahwa tidak ada satupun yang pantas untuk disembah selain
Allah, secara tulus dari dalam hatinya, melainkan Allah akan mengharamkan dirinya dari
Neraka.” (Hadits riwayat Bukhari.)
Kebanyakan orang telah mendengarkan tentang orang-orang yang mengucapkan
kesaksian iman itu namun mereka tidak mengucapkannya dengan jujur. Mereka tidak yakin akan
hal tersebut. Mereka hanya mengatakan itu agar dapat melindungi diri mereka sendiri atau
mendapatkan beberapa keuntungan dari melakukan yang demikian. Mereka ini adalah orang-
orang munafik. Allah telah menggambarkan mereka dalam pembukaan al-Quran dengan
perkataan berikut,
◆⧫❑→⧫⧫◆
❑◆◆
⧫◆➔⧫✓⬧☺❑⬧
⧫◆❑⧫◆⧫◆
❑⬧→⧫◆
⧫➔
“Di antara manusia ada yang mengatakan: Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian”
pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu
Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang
mereka tidak sadar.” (al-Baqarah 8-10).
Syahadat dari mereka yang menjadi Muslim hanya untuk mendapatkan kebaikan dari
menjadi seorang Muslim dan bukan karena mereka meyakini Islam akan ditolak oleh Allah di
Akhirat. Mereka akan menghadapi siksaan yang menyakitkan dikarenakan kedustaan mereka.
Syarat yang keenam adalah ketulusan yang murni atau al-ikhlas (). Ketika
seseorang menyatakan syahadat, seseorang harus melakukan itu semata-mata demi Allah .
Islamic Online University Hadits 102
375
Seseorang tidak boleh melakukan itu untuk alasan lainnya atau demi orang lain. Dengan cara ini,
makna dari kesucian adalah kebalikan dari syirik atau menyekutukan Allah . Seseorang menjadi
dan tetap Muslim semata-mata untuk menyembah Allah , untuk menghindari murka dan
siksaan-Nya dan untuk memperoleh rahmat dan karunia-Nya. Allah berfirman dalam al-Quran,
⬧➔

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (az-Zumar 2). Allah juga
berfirman,
⧫◆➔◆
⧫✓➔⬧⧫
◆◆❑☺◆◼❑◼
❑➔⬧◆◼❑⬧◆
☺⬧
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah 5). Nabi  juga
bersabda,
Sesungguhnya Allah mengharamkan dari neraka, bagi siapa yang mengucapkan, ‘Tidak ada
satupun yang pantas disembah selain Allah.’ yang dengannya mengharap wajah [dan keridhoan]
Allah.” (Hadits Riwayat Muslim.)
Ini adalah sesutu yang semua Muslim seharusnya pikirkan, tetapi terkhusus untuk mereka
yang tumbuh dalam lingkungan keluarga Muslim dan yang lahir sebagai Muslim. Setiap orang
seharusnya jelas akan dirinya bahwa dia menjadi Muslim semata-mata demi Allah . Seorang
Islamic Online University Hadits 102
376
Muslim tidak dapat menjadi Muslim hanya demi orang tuanya, sahabatnya, keluarganya,
kelompok atau untuk tujuan duniawi. Ini haruslah diperjelas di dalam pikiran bahwa seseorang
menjadi Muslim semata-mata demi Allah .
Syarat yang ketujuh adalah cinta atau al-mahabbah (). Maksudnya, orang beriman
mencintai syahadat ini, dia mencintai yang sesuai dengan syahadat, dia mencintai maksud dan
kewajiban dari syahadat dan dia mencintai orang-orang yang beramal dan berjuang berdasarkan
syahadat ini. Ini adalah syarat yang dibutuhkan dari syahadat. Jika seseorang melakukan
syahadat tetapi tidak mencintai syahadat dan apa yang ada pada syahadat, maka, pada
kenyataannya, keimanannya tidak lengkap. Ini bukanlah keimanan dari orang yang beriman
dengan sungguh-sungguh. Apabila dia tidak memiliki cinta pada syahadat ini atau jika dia
sebenarnya merasa benci untuk itu, dia telah menafikkan syahadat-nya.
Orang yang beriman tidak menempatkan siapa pun yang setara dengan Allah dalam
cintanya. Allah berfirman dalam al-Quran,
◆⧫⧫
⧫❑⧫⬧
⧫◆❑⧫◆

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah;
mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman
amat sangat cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah 165). Di ayat lainnya Allah berfirman,
➔⧫⧫⧫◆
→⧫◆◆❑◆
◆◆➔◆⧫◆
◆❑◆❑☺◆⧫
⧫◆⧫❑⧫
⧫◆⧫❑⬧
→⬧❑◆◆
Islamic Online University Hadits 102
377
◆
❑◆⧫⬧⧫
◼◆◆
⧫❑⬧✓
“Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat
tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di
jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (at-Taubah 24). Nabi bersabda,
“Barangsiapa memiliki tiga sifat-sifat ini telah merasakan manisnya iman. [Yang pertama] yaitu
bahwasanya dia mencintai Allah dan Rasulnya lebih dari dia mencintai yang selainnya...”
(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim.)
Syarat yang kedelapan dari syahadat adalah bahwasanya seseorang yang melakukan
syahadat harus mengingkari segala bentuk tujuan ibadah lainnya. Meskipun itu jelas dalam
perkataan kesaksian iman, itu tidak terlihat jelas bagi setiap orang yang membuat
kesaksiantersebut. Oleh karena itu, kesaksian itu harus disebutkan dengan jelas.
Dalam surah al-Baqarah, Allah mengingatkan orang-orang Muslim dari pentingnya hal
dari syahadat ini. Syahadat bukan hanya sekedar penetapan tetapi itu adalah sebuah penetapan
dan sebuah pengingkaran. Allah menyatakan,
☺⬧→⧫❑⬧◆
⬧⬧☺⧫
◆➔⬧❑
⧫⚫
Islamic Online University Hadits 102
378
“Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia
telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus.” (al-Baqarah 256).
Nabi menegaskan hal ini ketika beliau bersabda,
“Barangsiapa yang mengucapkan tidak ada satupun yang pantas disembah selain Allah dan
mengingkari apapun yang disembah di sisi Allah, maka harta dan darahnya dilindungi dan
perhitungannya akan bersama dengan Allah.” (Hadits Riwayat Muslim.)
Meskipun syarat ini seharusnya jelas bagi setiap orang yang mengucapkan perkataan
syahadat, seseorang masih dapat mendapati orang-orang Muslim yang mengucapkan syahadat
dan kemudian melakukan penyembahan kepada makhluk atau benda-benda lain selain Allah .
Seseorang dapat mendapati mereka di kuburan dan menyembah mereka yang ada di dalam
kubur. Mereka akan menyembah, bukan demi Allah , tetapi mereka mereka mengerjakannya
demi wali-wali (auliya) yang telah mati di dalam kuburan itu.
Syarat syahadat yang kesembilan adalah orang-orang Muslim mentaati syahadat itu
sampai dia meninggal. Ini adalah sebuah keharusan apabila syahadat itu berarti apapun yang ada
di Akhirat. Seseorang tidak dapat berpuas diri dari apa yang telah dia lakukan pada masa lalu.
Tidak, bahkan, syahadat tersebut harus menjadi panjinya sampai dia meninggal. Allah
berfirman dalam al-Quran,
⧫⧫❑⧫◆
❑→⬧➔◆
➔❑➔⬧◆⧫❑☺

Islamic Online University Hadits 102
379
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya;
dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.” (ali-Imran
102).
Muhammad adalah Utusan Allah
1
Kebanyakan setiap orang mengetahui bahwa untuk masuk ke dalam Islam seseorang
harus bersasi bahwa tidak ada yang pantas disembah selain Allah dan Muhammad adalah
Utusan (Rasul) Allah . Seringkali bagian pertama dari syahadat atau kesaksian yang telah
dibahas secara mendetail. Namun, ini juga sebuah hal yang penting untuk memahami makna dan
tujuan dari bagian kedua dari syahadat. Bahkan, terkadang seseorang menyimpang dari Jalan
Lurus dan dari Islam itu sendiri karena dia tidak menjalankan bagian syahadat yang kedua
dengan baik.
Ketika seseorang bersaksi bahwa Muhammad  adalah Rasul Allah , dia sedang
menyatakan keimanannya bahwa Nabi Muhammad telah dipilih oleh Allah untuk menjadi
Rasul-Nya dan untuk mendakwahkan pesan-Nya. Allah berfirman dalam al-Quran,
◆◆➔⬧⧫⧫
⧫⬧◆
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya” (al-Qasas 68). Allah 
menciptakan dan memiliki kekuatan untuk melakukan segala hal. Allah secara khusus memilih
Nabi Muhammad untuk menjadi Rasul-Nya. Dalam ayat lainnya, Allah berfirman,
◼➔⬧
⧫⬧
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan” (al-An’am 124).
Ini menunjukkan beberapa sifat dari nabi Muhammad  karena Allah  jelas, karena
keadilan, karunia, dan rahmat-Nya, tidak akan memilih orang yang berbahaya atau berdusta
untuk menjadi Rasul-Nya. Allah tidak akan memilih siapapun untuk tugas penting seperti ini
1
Dalam menyiapkan bagian ini, penulis sekali lagi mendapat banyak kebaikan dari Ibnu Jibrin, al-syahadatain, hal.
29-76.
Islamic Online University Hadits 102
380
yang Dia ketahui orang itu tidak akan menyampaikan pesan tersebut atau yang akan
menggunakan kedudukannya untuk kepentingannya sendiri. Apabila siapa saja yang menyatakan
bahwa Nabi tidak benar-benar menyampaikan keseluruhan pesan tersebut atau bahwasanya
beliau telah mengubah makna dari pesan tersebut dengan cara apapun, dia sebenarnya
mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui siapa yang orang yang tepat atau orang yang
terbaik untuk menjadi seorang rasul. Ini jelas kafir.
Kedua, ketika seseorang melakukan syahadat, dia juga bersaksi bahwa Nabi  telah
diutus untuk semua umat manusia sampai datangnya Hari Perhitungan. Allah berfirman dalam
al-Quran,
➔⧫
❑◆→⬧➔⬧
“Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua” (al-A’raf
158). Lebih lanjut, Nabi bersabda,
“Aku telah diberikan lima hal yang tidak diberikan kepada nabi manapun sebelumku... [satu di
antaranya] setiap nabi diutus hanya untuk kaum mereka sedangkan Aku diutus untuk seluruh
umat manusia.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim.)
Ini adalah sebuah kewajiban atas siapa saja dari masa Nabi sampai Hari Perhitungan
untuk beriman dan mengikuti Nabi . Jika pesan Islam dengan jelas mencapai seseorang dan dia
masih menolak untuk beriman dan mengikuti Nabi , dia adalah seorang yang kafir dan akan
berada di Neraka selamanya kecuali dia bertobat dan masuk Islam.
Namun, ini juga menujukkan bahwa ajaran Nabi dan sunnahnya adalah benar dan
wajib atas seluruh umat manusia sampai Hari Perhitungan. Maksudnya, teladan dan ajarannya
Islamic Online University Hadits 102
381
bukan hanya untuk orang-orang Arab pada masa beliau. Sebaliknya, itu juga benar dan juga
penting bagi setiap Muslim hari ini, apakah dia berada di New York atau Malasyia.
Sebagian orang nampaknya mencoba untuk menentang pemahaman tersebut bahwa
mereka harus mengikuti Nabi . Ketika mereka melakukan yang demikian, mereka harus
menyadari bahwa mereka menentang apa yang mereka telah persaksikan. Mereka telah bersaksi
bahwa pesan Nabi , baik itu al-Quran maupun sunnah-sunnah beliau yang mengispirasi, adalah
untuk seluruh umat manusia termasuk setiap dan siapapun yang hidup hari ini.
Ketiga, ketika seseorang mengumumkan syahadat, dia sedang bersaksi bahwa dia
beriman dengan keyakinan bahwa Nabi Muhammad mendakwahkan pesan tersebut beliau
menyampaikan itu dengan benar, beliau menyampaikan semua yang ada dari hal tersebut, dan
beliau menyampaikan itu dengan terang. Allah berfirman dalam al-Quran,
⧫◆◼⧫❑▪→◼⧫
✓☺
“Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”
(an-Nur 54). Nabi sendiri bersabda,
Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan terang, malamnya sama dengan siangnya. Tiada
yang menyimpang sesudahku dari jalan itu, kecuali orang (itu) akan binasa.
1
Nabi telah menyampaikan semua petunjuk dan wahyu yang telah beliau terima dari
Allh . Beliau telah menyampaikan dan menjelaskan itu dengan cara yang jelas. Oleh karena itu,
ketika seseorang melakukan syahadat, dia juga sedang bersaksi bahwa Nabi telah
1
Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Baihaqi. Menurut Albani, hadits itu sahih. Lihat Albani, Sahih al-Jami al-Saghir,
jilid 2, hal. 805, hadits no. 4369.
Islamic Online University Hadits 102
382
menyampaikan segala hal dari agama hal-hal yang pokoknya begitu juga dengan aspek-aspek
tambahannya. Tidak ada bagian dari agama yang seseorang butuhkan untuk menjadi pedoman
baginya yang tidak disampaikan kepada umat manusia atau bahwasanya Allah dan Nabi 
mungkin lupa untuk sampaikan.
Oleh karena itu, ketika petunjuk yang lengkap dan jelas yang berasal dari Nabi ini
hadir, setiap Muslim tidak butuh lagi untuk berpaling pada sumber lainnya untuk untuk
memberikannya petunjuk. Seseorang tidak perlu untuk berpaling ke kitab dari orang Yahudi atau
Nasrani. Bahkan, Nabi ketika melihat Umar sedang membaca Taurat, beliau berkata padanya,
bahwasanya apabila Nabi Musa masih hidup pada saat ini, dia juga akan mengikuti jalan dari
Nabi Muhammad .
1
Tidak perlu bagi setiap Muslim untuk berpaling kepada para Ahli Filsafat Yunani,
contohnya, untuk belajar tentang teology (ilmu agama). Kenyataannya, tidak perlu bagi bagi
setiap Muslim untuk berpaling pada ajaran-ajaran agama atau spiritual dari orang-orang non
Muslim manapun untuk mendapatkan petunjuk. Semua yang dibutuhkan dapat ditemukan di
dalam Quran dan sunnah. Ini adalah bagian dari apa yang seorang Muslim persaksikan. Seorang
Muslim bersaksi bahwa nabi telah menyampaikan seluruh pesan tersebut. Ini adalah seluruh
bagian dari makna syahadat.
Ketika seseorang mengumumkan, “Muhammad adalah Rasul Allah,” seseorang juga
sedang menyatakan bahwa beliau adalah nabi terakhir yang diutus oleh Allah . Allah
berfirman dalam Quran,
⧫☺⧫➔⧫⧫◼
⬧◆⧫❑▪
⬧◆
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia
adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (al-Ahzab 40).
1
Ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Menurut Albani, hadits itu sahih. Lihat Albani, Sahih al-Jami, jilid
2, hal. 805.
Islamic Online University Hadits 102
383
Tidak ada lagi nabi yang akan datang setelah masa dari Nabi Muhammad . Tidak ada
nabi yang baru dan tidak ada kitab suci baru yang akan datang yang akan membatalkan apa yang
Nabi telah bawa. Selanjutnya, jika siapa pun setelah masa Nabi Muhammad mengakui
dirinya sebagai nabi, dengan sendirinya diketahui bahwa orang seperti itu adalah seorang
pendusta dan penipu.
1
Dia haruslah ditentang dan seharusnya dikatakan kepada semua orang
bahwa kenabiannya adalah palsu. Menerima siapapun sebagai seorang nabi setelah Nabi
Muhammad adalah memalsukan pernyataan syahadat seseorang.
Ketika seseorang membuat kesaksian iman atau syahadat, ini tidak hanya menunjukkan
bahwa dia beriman dalam hal-hal tertentu tetapi juga menunjukkan bahwa dia menerima
tanggung jawab tertentu yang berasal dari syahadat tersebut. Contohnya, agar syahadat itu
menjadi bentuk syahadat yang baik, ketika dia berkata bahwa tidak ada yang pantas disembah
selain Allah , itu berarti bahwa dia menerima kewajiban untuk tidak menyembah siapapun yang
lainnya selain Allah . Demikian pula, ketika seseorang berkata, “Aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah Utusan Allah,” dia menerima kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan
Nabi Muhammad . Ketika dia kurang dalam setiap kewajiban ini, maka dia kurang lengkap
dalam memenuhi kesaksian imannya. Hal itu bahkan dapat sampai pada perkara dia mengingkari
syahadatnya secara lengkap dengan menolak untuk memenuhi kewajibannya kepada Nabi
Muhammad .
Salah satu kewajiban kepada Nabi adalah mencintainya. Ini tidak sekedar menunjukkan
segala bentuk cinta tetapi iman yang lengkap mengharuskan orang tersebut untuk mencintai Nabi
lebih dari siapapun dan apapun selain dirinya yang ada di dunia ini. Allah berfirman,
➔⧫⧫⧫◆
→⧫◆◆❑◆
◆◆➔◆⧫◆
◆❑◆❑☺◆⧫
⧫◆⧫❑⧫
⧫◆⧫❑⬧
1
Nabi Isa akan turun sebelum Hari Perhitungan. Namun, dia tidak akan datang sebagai nabi atau rasul tetapi dia
hanya akan menjadi pengikut dari Nabi Muhammad dan Syariatnya.
Islamic Online University Hadits 102
384
→⬧❑◆◆
◆
❑◆⧫⬧⧫
◼◆◆
⧫❑⬧✓
“Katakanlah: "Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat
tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di
jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (at-Taubah 24).
Kedua, ketika seseorang membuat kesaksian iman, ini berarti dia menerima Nabi
Muhammad sebagai teladannya tentang bagaimana caranya hidup dan menjalani kehidupan
dengan cara yang benar dan diridhoi Allah . Allah berfirman dalam al-Quran,
⬧⬧❑◆
◆❑◆☺⧫
❑⧫⧫❑◆◆
⧫⧫⬧◆
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut
Allah.” (al-Ahzab 21). Allah juga berfirman,
➔⧫❑⬧➔
❑➔⬧⬧
⧫◆⬧⧫❑➔
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu.” (ali-Imran 31).
Islamic Online University Hadits 102
385
Ini adalah yang sangat aneh bahwasanya ada sebagian orang yang bisa untuk menyatakan
kesaksian iman tersebut dan menyatakan bahwa Muhammad adalah Rasul dan Nabi Allah -
namun pada saat yang sama mereka tidak menganggapnya sebagai teladan dari jalan hidup yang
seorang yang beriman seharusnya ikuti. Bukan hanya tidak menjadikannya sebagai teladan untuk
diri mereka sendiri, mereka juga benar-benar menentang orang-orang lain yang menjadikan
beliau sebagai teladan bagi mereka. Ini tidak ada tetapi merupakan tanda yang jelas bahwa orang
semacam ini tidak memiliki pemahaman yang jelas dari makna dan maksud dari kesaksian iman
yang mereka telah buat,
“Demi Allah! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan paling taqwa
kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku
shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak
menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (Hadits Riwayat Bukhari.) Dalam
hadits ini, Nabi menjelaskan bahwa beliau adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa
kepada Allah . Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak mengikuti contoh
dan petunjuknya. Tetapi beliau juga menyatakan bahwa orang yang berpaling dari perbuatan dan
contohnya adalah bukan dari golongannya. Seseorang tidak dapat dengan jujur mengaku beriman
dan menerima Nabi Muhammad dan pada saat yang sama, menolak untuk menerima
kehidupan beliau sebagai teladan yang seseorang harus berusaha untuk menyamainya.
Hukum Terkait Orang yang Melanggar Syahadat
Orang yang secara sadar dan secara sukarela melanggar syahadat telah menjadi seorang
yang kafir. Ini adalah kesepakatan dari semua ulama dalam hal ini. Contohnya, apabila seseorang
menyembah apapun atau siapapun yang lainnya bersama dengan penyembahannya kepada Allah
, seperti menyembah Jesus bersama dengan menyembah Allah , maka orang tersebut telah
menjadi kafir. Demikian pula, jika siapapun yang menyumpahi Nabi atau menyatakan bahwa
Islamic Online University Hadits 102
386
beliau adalah seorang pendusta, orang ini telah melanggar bagian yang kedua dari kesaksian
iman dan, dengan demikian, dia jatuh keluar dari agama Islam.
Bagaimana Dengan Rukun Iman yang Lainnya?
Dalam hadits ini, Nabi menyatakan pilar-pilar dari Islam. Namun, beliau tidak
menyebutkan rukun iman yang lainnya seperti yang beliau lakukan pada Hadits Jibril. Alasannya
adalah bahwasanya tidaklah diperlukan untuk melakukan yang demikian. Rukun iman yang
lainnya telah tercakup dan termasuk dalam bagian kesaksian iman yang kedua. Apabila
seseorang menerima Nabi Muhammad sebagai seorang Rasul Allah , itu berarti dia telah
meyakini segala hal yang Rasulullah  telah ajarkan. Sebab itulah, ini pasti mencakup semua
rukun iman lainnya yang Nabi telah dengan tegas disebutkan dalam hadits Jibril tersebut.
1
Dengan kata lain, rukun-rukun iman itu secara tidak lansung telah tersirat segera setelah Nabi 
menyebutkan kesaksian iman tersebut.
“mendirikan shalat”
Makna dari salat (“shalat”)
Salat adalah sebuah kata yang telah ada dalam bahasa Arab sebelum masa Nabi
Muhammad . Namun maknanya dalam Islam adalah sesuatu yang berbeda dan khusus. Nabi
Muhammad menjelaskan cara shalat yang baik yang diridhoi oleh Allah . Sebab itulah, beliau
bersabda,
“Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat.”
2
1
Cf., asy-Syanqithi, jilid 1, hal. 412.
2
Ini adalah salah satu dalil untuk kedudukan sunnah dalam Islam. Tanpa merujuk kepada sunnah, tidak ada yang
mungkin bisa mengetahui bentuk shalat yang benar, meskipun itu adalah sesuatu yang penting dalam Islam.
Mereka yang mengaku mengikuti Quran akan tetapi menolak untuk mengikuti sunnah dari Nabi hanyalah
Islamic Online University Hadits 102
387
Meskipun isltilah shalat dalam pengertian syariat cukup jelas, seringkali sebuah
pemahaman dari akar kata atau asal kata memberikan keterangan yang lebih pada pemahaman
konsep itu sendiri. Pandangan yang umumnya diterima adalah kata salat secara bahasa bermakna
dua (doa). Salat itu sendiri terdiri dari sejumlah doa.
1
Shalat dan doa berasal dari perkara yang paling penting dari ibadah. Orang yang
menyembah kembali kepada sesuatu yang dia sembah dan yang dia meminta kepadanya. Dalam
hal ini, Muhammad Rasyid Ridha menulis,
Salat adalah menunjukkan kebutuhan dan ketergantungan seseorang
kepada orang yang dia sembah, dengan perkataan, perbuatan atau
keduanya. Ini adalah apa yang dimaksudkan oleh perkataan mereka,
“Makna salat adalah doa,” karena seseorang menunjukkan kebutuhannya
kepada yang Agung, Mulia, walau hanya dalam perbuatan, untuk
membawa beberapa kebutuhan, karunia yang terus berlanjut atau untuk
menjauhkan dari bahaya atau siksaan.
2
Rasyid Ridha menyatakan tentang bentuk shalat yang Islami,
Shalat, dengan cara yang baru saja telah kami sebutkan [dimana
seseorang menunjukkan kebutuhan dan menggantungkan nasibnya
kepada Tuhan] dijelaskan dalam Islam dengan cara yang paling baik.
Inilah shalat yang Allah telah wajibkan kepada umat Muslim.
Perkataan dan perbuatan ini, dimulai dengan perkataan awal “Allahu
Akbar (Allah maha besar)” dan diakhiri dengan salam, yang telah
ditunjukkan dengan cara sunnah yang sahih, adalah salah satu cara yang
paling baik untuk mengungkapkan perasaan butuh kita kepada yang
memperlihatkan kebodohan mereka karena tidak mungkin untuk mengetahui bagaimana al-Quran itu diterapkan
tanpa adanya keterangan dari Nabi dan penerapan dari al-Quran itu sendiri. Ini adalah fakta yang di atas dan
seterusnya bahwasanya itulah al-Quran yang mewajibkan orang-orang Muslim untuk mengikuti dan mentaati Nabi
.
1
Meskipun dua umumnya dianggap makna dari kata salat, Ibnu Jauzi menyebutkan kemungkinan asal kata lainnya.
Seseorang menafsirkan bahwa kata tersebut berasal dari ungkapan, salait al-ud. Yaitu dimana seseorang
melembutkan dan meluruskan sebuah potongan kayu dengan cara membakarnya. Seseorang yang shalat juga
menjadi lembut dan menghinakan dirinya sendiri dihadapan Allah melalui shalat. Al-Qurthubi menambahkan
kemungkinan asal kata lainnya, termasuk yang berasal dari kata “keteguhan atau berkelanjutan”. Dengan kata lain,
ketika sesuatu yang terus menerus dibakar dengan api, ungkapannya adalah saliya bi-i-nar. Berkata al-Qurthubi,
dengan cara ini, kata tersebut, berarti bahwa seseorang harus terus menyembah Allah dengan cara yang Dia
telah tentukan seperti itu. Cf., Abdur-Rahman Ibnu al-Jauzi, Zaad al-Masir fi Ilm at-Tafsir (Beirut: Dar al-Fikri,
1987), jilid 1, hal. 20; Muhammad al-Qurthubi, al-Jami li-Ahkam al-Quran (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-arabi,
n.d.), jilid 1, hal. 169).
2
Muhammad Rasyid Ridha, Tafsiral-Quran al-Hakim (Beirut: Dar al-Fikri, n.d.), jilid 1, hal. 128.
Islamic Online University Hadits 102
388
disembah tersebut. Juga untuk menunjukkan kekaguman dan rasa takjub
jiwa [untuk yang dia sembah], jika orang tersebut mendirikan dan
mengerjakannya dengan caranya yang tepat.
1
Makna dari “Mendirikan Shalat”
Hal yang sangat penting yang seharusnya diperhatikan tentang hadits Nabi ini begitu
juga tentang hadits Jibril adalah bahwasanya apa yang diperintahkan tidak hanya sekedar
“mengerjakan” shalat.
Al-Raghib al-Isfahani menjelaskan bahwa kata untuk “orang yang shalat” jarang
digunakan dalam Quran. Faktanya, satu dari beberapa ayat yang dimana Allah pernah
menggambarkan “orang-orang yang shalat” tersebut adalah dalam ayat,
◆❑⬧☺
⧫➔⧫⧫❑➔

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari
shalatnya” (al-Ma’un 4-5). Allah memerintahkan sesuatu yang sangat berbeda dari hal yang
perbuatan yang sederhana dari “mengerjakan shalat”. Allah mewajibkan dari orang-orang
beriman iqamat al-salah (“mendirikan shalat”). Sebab itulah, salah satu tiang agama Islam tidak
hanya shalat tetapi itu merupakan sesuatu yang spesial, yang Allah dan Nabi-Nya sebut
dengan (“mendirikan shalat.”) Hanya jika seseorang mengerjakan shalat dengan baik dan dengan
benar yang pantas mendapatkan pujian. Ini menunjukkan bahwa jumlah orang yang shalat
banyak sedangkan jumlah orang yang mendirikan shalat sedikit. Ini seperti perkataan yang
diriwayatkan dari Umar tentang Haji, “Jumlah orang yang mengerjakan Haji sedikit sementara
penunggang [hadir di Haji] banyak.”
2
Ad-Dausiri juga menunjukkan sebuah perbedaan antara dua frasa mendirikan shalat”
dan “mengerjakan shalat.” Ad-Dausiri berkata, “[Allah ] tidak mengatakan ‘mengerjakan
shalattetapi Dia berkata, ‘mendirikan shalat.’ Allah membedakan di antara itu semua untuk
dapat mengenali antara shalat yang sungguh-sungguh dan sebenarnya dengan shalat yang hanya
1
Ibid., jilid 1, hal. 128-129.
2
Cf., al-Raghib al-Isfahani, Mu’jam Mufradat Alfadh al-Quran (Beirut: Dar al-Fikri, n.d.), hal. 433.
Islamic Online University Hadits 102
389
dalam bentuknya. Shalat yang sungguh-sungguh adalah shalat dari hati dan jiwa, shalat yang
khusyu, shalat dari mereka yang berdiri dengan diam dan dalam rasa takut dihadapan Allah .”
1
Shalat “hanya dalam bentuknya” tidak pernah mencapai tujuan dari perintah tersebut.
Bagian yang pasti dari mendirikan shalat adalah mendirikan aspek-aspek keagamaan dan
batin dari shalat, sebagaimana yang ad-Dausiri telah singgung. Tetapi itu pastinya bukan hanya
perbedaan antara keduanya seperti yang dapat dilihat dalam pengertian atau pernyataan tentang
“mendirikan shalat” sebagaimana yang telah diberikan oleh banyak ulama Islam. Contohnya,
ahli tafsir al-Quran yang terkenal, Ibnu Jarir at-Tabari menulis, “Mendirikan shalat bermakna
mengerjakannya dalam batas-batas yang wajar, dengan hal-hal wajibnya, dengan apa yang telah
diwajibkan terkait itu oleh yang telah membuat kewajiban.” Kemudian dia mengutip Sahabat
Ibnu Abbas ketika mengatakan, “Mendirikan shalat adalah mengerjakan rukuk, sujud dan
bacaanya dengan cara yang sempurna serta memiliki rasa takut pada Allah dan penuh perhatian
(khusyuk) atas itu.”
2
Qatada, ulama terdahulu yang lainnya juga mengatakan, “Mendirikan shalat
adalah menetapkan dan menjaga waktu, wudhu, rukuk, dan sujudnya.”
3
Al-Razi membuat kesimpulan berikut ini yang terkait dengan maknanya,
[Pujian diberikan kepada mereka yang mendirikan shalat] hanya untuk
mereka yang mendirikannya dengan terus menerus tanpa kekurangan
apapun dalam memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Di jalan
yang sama, orang yang ‘membuat’
4
perbekalan untuk pasukan-pasukan
digambarkan seperti itu hanya ketika dia memenuhi hak-hak siapapun
tanpa kekikiran atau kekurangan apapun.
5
Pada umumnya, seseorang dapat berkata bahwa “mendirikan shalat” sebagaimana yang
disebutkan dalam hadits Jibril ini, berarti bahwa seseorang mengerjakan dan melaksanakan
shalat dengan cara yang tepat seperti yang telah ditetapkan dalam al-Quran dan sunnah.
Termasuk perkara-perkara dari shalat baik itu perkara lahiriah begitupun dengan perkara-perkara
1
Abdur-Rahman ad-Dausiri, Safwat al-Athar wa al-mafahim min Tafsir al-Quran al-Adzim (Kuwait: Dar al-Arqam,
1981), jilid 2, hal. 8.
2
Muhammad Ibnu Jarir at-Tabari, Jami al-Bayan an Tawid ayi al-Quran (Beirut: Dar al-Fikr, 1988), jilid 1, hal.
104.
3
Dinukil dalam Ibnu Katsir, jilid 1, hal.168
4
Ucapan ini digunakan untuk orang yang menyediakan, atau “membuat”, para pasukan dengan makanan dan
perbekalan berasal dari akar kata yang sama seperti “mendirikan” dari shalat.
5
Al-Fakhar, Al-Tafsir al-Kabir (Beirut: Dar Ihya at-Turath al-Arabi, n.d.), jilid 2, hal. 29.
Islamic Online University Hadits 102
390
dalam hati. Tak satupun dari keduanya cukup dalam diri mereka yang sungguh-sungguh
mendirikan shalat. Seseorang harus berada dalam keadaan suci untuk shalat. Seseorang harus
mengerjakan shalat pada waktunya. Seseorang seharusnya, bagi laki-laki, mengerjakan shalat
secara berjamaah di mesjid. Seseorang harus mengerjakan shalat sesuai dengan hukum dan
aturan-aturannya, meskipun, pada saat yang sama, perbuatan tubuh tersebut harus disertai dengan
ketekunan, ketakwaan, kehinaan, ketenangan, dan sebagainya. Seseorang harus mengerjakan
semua gerakan shalat dengan baik dan dengan cara yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah . Ini
semua adalah bagian-bagian dari mendirikan shalat. Ini semua adalah perkara-perkara pondasi
yang sangat penting dari keseluruhan struktur dalam Islam.
Dari semua hal di atas jelas bahwa apa yang Allah maksudkan bukanlah sesuatu yang
terang dan dapat dianggap mudah. Untuk melaksanakan shalat dengan cara terbaik yang
seseorang dapat lakukan, sesuai dengan sunnah dari Nabi , dengan niat yang benar dan dengan
perhatian yang baik dalam shalat.
Oleh karena itu, ini jelas, bahwa rukun Islam adalah sesuatu yang khusus. Jika seseorang
mengerjakan itu dengan baik dan dengan benar, makan dapat dikatakan bahwa dia telah “shalat”
dan dia telah “mendirikan shalat”. Tetapi jika seseorang tidak melakukan yang seperti itu,
sebagaimana yang Nabi sendiri telah singgung, maka, shalat-shalat tersebut dapat dianggap
tidak ada. Inilah yang terjadi ketika Nabi  berkata kepada seseorang di mesjid sebanyak tiga
kali, setelah dia mengerjakan shalat dengan cara yang tidak baik,
“Kembali dan shalatlah karena kamu belum shalat.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim.)
Namun, bisa jadi orang itu mendirikan shalat dalam batas tertentu. Dari pandangan
hukum, Orang itu telah mengerjakan shalatnya tetapi pahala dari Allah untuk shalat tersebut
bisa jadi berkurang. Sebagaimana yang Nabi telah sampaikan,
Islamic Online University Hadits 102
391
“Seseorang sungguh telah menyelesaikan shalatnya dan apa yang ditulis untuknya tidak lain
kecuali hanya sepersepuluh shalatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam,
seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengahnya dari shalatnya.”
1
Makna “mendirikan shalat” ditekankan di sini karena itu adalah rukun Islam. Rukun ini
bukan hanya pelaksanaan shalat. Tidak mengerjakannya dengan cara apapun atau hanya dengan
gerakan badan. Bukan juga sekedar shalat di dalam hati tanpa adanya peran anggota badan untuk
hal tersebut sama sekali. Tidak juga dikerjakan pada saat seseorang merasa nyaman. Seseorang
harus cermat dalam mengerjakan rukun Islam ini dengan cara yang paling baik dan dengan cara
yang benar. Dalam hal ini, Nadwi menulis,
Salat [shalat] bukan hanya sebutan untuk gerakan-gerakan anggota tubuh
tertentu. Shalat bukanlah sebuah keanehan, bukanlah ritual tidak
bernyawa atau sesuatu dari pelajaran militer di mana seseorang tidak
memiliki wewenang untuk memilih atau berkehendak. Shalat adalah
sebuah perbuatan di mana ketiga aspek dari keberadaan manusia, badan,
pikiran, dan batin, mendapatkan ungkapan yang semestinya. Badan,
pikiran, dan hati bersama-sama ikut serta di dalamnya dan dengan cara
yang baik. Gerakan berdiri tegak, rukuk, dan sujud termasuk dalam
gerakan badan, bacaan termasuk dalam perbuatan lisan, perenungan dan
tafakkur termasuk dalam pikiran, dan rasa takut, penyesala, dan keluhan
adalah untuk hati...
Kepribadian manusia adalah sesuatu yang memiliki banyak sisi. Itu
dibentuk dari badan, pikiran, dan hati. Segala aspek pokok dari
keberadaan manusia digambarkan dalam salat yang merupakan
perwujudan utama dari keimanan. Sebagian ahli agama, orang-orang
yang sembahyang dan saleh, dan orang-orang Yahudi dari masa yang
terakhir hanya memandang perbuatan badan yang ada di dalam shalat
sedangkan para penganut ilmu gaib dan intelektual-intelektual Timur
berpendapat bahwa itu hanya sebuah bentuk perenungan dan meditasi.
1
Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad. Menurut Albani, hadits itu sahih. Albani, Sahih al-Jami, jilid 1, hal.
335.
Islamic Online University Hadits 102
392
Belum lagi, banyak pendeta-pendeta Nasrani dan yang disebut dengan
pertapa Muslim berpikir bahwa itu adalah simbol dari cinta dan
kesetiaan, anugerah dan pemujaan, kehangatan dan gairah, kesedihan dan
patah hati serta kekaguman dan hanyalah pertobatan. Mereka semua
terhenti pada apa yang mereka bayangkan, tetapi, sebagaimana sedikit
pemikiran yang akan muncul, orang-orang ini sangat disayangkan
tersesat dan tidak tahu apa-apa tentang kelengkapan yang luar biasa dari
pendirian salat tersebut.
1
Pentingnya Shalat
Pentingnya shalat dalam Islam tidak dapat dilebih-lebihkan. Ini adalah rukun Islam
pertama yang Nabi sebutkan setelah menyebutkan kesaksian iman, yang dengan hal itu
seseorang menjadi Muslim. Ini telah diwajibkan kepada semua nabi dan untuk seluruh manusia.
Allah telah mengumumkan kewajiban shalat itu dalam peristiwa yang agung. Contohnya,
ketika Allah berbicara secara lansung kepada Musa alaihissalam, Dia berkata,
⧫◆➔⧫☺⧫⬧
☺❑ ⧫
⧫⬧⬧
◆❑◼✓
“Dan aku telah memilih kamu, Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).
Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah
aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (Taha 13-14).
Demikian pula, shalat yang telah diwajibkan kepada Nabi Muhammad pada saat
naiknya (mi’raj) beliau ke langit. Selain itu, ketika Allah memuji orang-orang beriman, seperti
di awal dari surah al-Mu’minun, salah satu gambaran yang Dia nyatakan adalah ketaatan mereka
dalam shalat.
Suatu waktu seorang laki-laki bertanya pada Nabi tentang amalan yang paling mulia.
Nabi menyatakan bahwa amalan yang paling mulia adalah shalat. Laki-laki itu kemudian
1
Abul hasan Ali Nadwi, The Four Pillar of Islam (4 pilar Islam) (Lucknow, India: Academy of Islamic Research
and Publications, 1976), hal. 22-23
Islamic Online University Hadits 102
393
bertanya lagi dan lagi. Tiga kali yang pertama, Nabi menjawab kembali dengan, “Shalat”.
Kemudian pada kesempatan yang keempat beliau mengatakan, “Jihad di jalan Allah.”
1
Pentingnya shalat dijelaskan dalam banyak perkataan Nabi . Contohnya, Nabi 
berkata,
“Amalan pertama dari hamba yang akan dihisab pada Hari Perhitungan adalah shalat. Jika itu
baik, maka keseluruhan amalnya akan baik juga. Dan jika itu buruk, maka seluruh amalannya
akan buruk juga.”
2
Pentingnya shalat terletak pada kenyataan bahwa perkara yang paling penting adalah
hubungan seseorang kepada Allah , tidak perduli perbuatan apa yang seseorang kerjakan dalam
hidupnya, yaitu, keimanan (iman), kesadaran akan Tuhan (taqwa), ketulusan (ikhlas) dan ibadah
kepada Allah (‘ibadah’). Hubungan dengan Allah ini dibuktikan dan dilaksanakan, serta
ditingkatkan dan ditambah, oleh shalat tersebut. Oleh karena itu, jika shalat itu baik dan tepat,
seluruh amalan akan menjadi baik dan tepat; dan jika shalat itu tidak baik dan tidak tepat, maka
seluruh amalan tidak akan baik dan tepat, sebagaimana yang Nabi sendiri katakan.
Kenyataannya, jika shalat dikerjakan dengan baik dengan sungguh-sungguh mengingat
Allah dan kembali pada-Nya untuk ampunan-Nya itu akan memiliki pengaruh yang abadi
pada seseorang. Setelah dia menyempurnakan shalat, hatinya akan dipenuhi dengan mengingat
Allah . Dia akan menjadi takut serta berharap kepada Allah . Setelah mengalami itu, dia tidak
akan menginginkan untuk pindah dari keadaan yang mulia tersebut ke suatu tempat dimana dia
tidak mentaati Allah . Allah telah menyebutkan perkara shalat ini ketika Dia berfirman,
◼❑◼⬧⬧⧫
⧫⬧⬧☺◆
1
Ini berasal dari hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban. Menurut Albani, hadits tersebut hasan.
Muhammad Nasir al-Albani, Sahih at-Targih wa al-Tarhih (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1982), jilid 1, hal. 150.
2
Diriwayatkan oleh at-Tabarani. Menurut Albani, hadits tersebut sahih. Al-Albani, Sahih al-jami, jilid 1, hal. 503.
Islamic Online University Hadits 102
394
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (al-
Ankabut 45). Nadwi telah menguraikan pengaruh ini dalam cara yang fasih berikut ini,
Tujuannya adalah untuk membangkitkan alam bawah sadar dalam diri
manusia seperti kekuatan keagamaan, cahaya iman, dan kesadaran akan
Tuhan karena dapat memungkinkan dia untuk berjuan menghadapi segala
jenis keburukan dan godaan kemudian tetap teguh pada saat ujian dan
kesulitan dan menjaga dirinya terhadap lemahnya badan dan kejahatan
nafsu yang melampaui batas.
1
Pengaruh keseluruhan yang shalat-shalat dikerjakan dengan dengan baik yang seharusnya
dimiliki manusia telah digambarkan pada ayat lainnya dalam al-Quran:
⧫❑➔
⬧⧫
⬧◆⧫⬧❑⧫
⧫☺ ⧫
➔◼⧫⧫❑☺
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan
ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir, Kecuali orang-orang yang
mengerjakan shalat, Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. (al-Maarij 19-23).
Adapun untuk Akhirat, ampunan dan ridho Allah erat kaitannya dengan shalat.
Rasulullah bersabda,
1
Nadwi, hal. 24.
Islamic Online University Hadits 102
395
“Allah telah mewajibkan lima shalat. Barangsiapa yang menyempurnakan wudhu mereka, shalat
mereka tepat waktu, menyempurnakan rukuknya dan khusyuk
1
telah mendapatkan janji Allah
bahwa Dia akan mengampuninya. Dan barangsiapa yang tidak melakukan itu tidak memiliki
janji dari Allah. Dia bisa mengampuninya atau Dia bisa menyiksanya.”
2
Shalat adalah semacam penyucian bagi manusia. Dia kembali dan bertemu dengan
Tuhannya lima kali dalam sehari. Sebagaimana yang telah disinggung di atas, berdiri yang
berulang dihadapan Allah ini seharusnya menjaga seseorang dari mengerjakan dosa sepanjang
hari. Selain itu, shalat juga seharusnya menjadi waktu untuk penyesalan dan pertobatan, sehingga
dia dengan sungguh-sungguh meminta ampunan Allah atas semua dosa yang telah dia lakukan.
Sebagai tambahan, shalat itu sendiri adalah sebuah amalan baik yang membersihkan sebagian
amal-amal buruk yang telah dia kerjakan. Perkara ini dapat diperhatikan dalam hadits Nabi 
berikut ini:
“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu
ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?”
Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, Maka
begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (Hadits
Riwayat Bukhari dan Muslim.) Dalam hadits lainnya, Nabi bersabda,
1
Khusyu’ dalam shalat adalah dimana hati seseorang menyesuaikan diri dengan shalat. Perasaan dalah hati ini
kemudian tercermin dalam tubuh. Seseorang tetap tenang dan diam. Pandangannya juga diturunkan. Bahkan
suaranya dipengaruhi oleh perasaan dalam hati ini. Untuk yang lebih mendetail tentang konsep ini (serta
perbedaannya dengan khudu’), lihat Muhammad al-Syayi, Al-Furuq al-Laughawiyah wa Atharaba fi Tafsir al-
Quran al-Karim (Riyadh: Maktabah al-Ubaikan, 1993), hal. 249-254.
2
Diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Abu Daud, an-Nasai dan lainnya. Menurut Albani, hadits ini sahih. Al-Albani,
Sahih al-Jami, jilid 1, hal. 616.
Islamic Online University Hadits 102
396
“Shalat lima waktu dan Shalat Jumat sampai Shalat Jumat lainnya seperti sebuah penebusan dosa
untuk apa yang ada diantaranya.” (Hadits Riwayat Muslim.)
Pada akhirnya, as-Sa’di menjelaskan bahwa shalat adalah penolong yang paling agung
dalam mencapai kebaikan seseorang baik di dalam kehidupan ini maupun di Akhirat. Dia
mengutip firman Allah ,
❑➔⧫◆
❑◼◆
“Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (al-Baqarah 45). Dia mengatakan bahwa
ayat ini menunjukkan, “Memohon pertolongan terkait masalah apapun dengan sabar dan shalat.”
Berkaitan dengan agama seseorang, apabila seseorang terus menerus dan teratur dalam
shalatnya, itu akan memudahkannya untuk mengerjakan amal-amal baik, karena jiwanya merasa
tenang bersama dengan semua itu dan dia mencari pahala untuk untuk semua itu dari Allah .
Pada saat yang sama, shalat itu mengurangi nafsu dan keinginannya untuk mengerjakan amalan-
amalan buruk. Adapun untuk perkara dunia ini, shalat membuat kesulitan dan penderitaan lebih
muda baginya untuk menanggungnya. Allah akan memberikan pahala baginya disebabkan
shalatnya dengan memudahkan baginya masalahnya dan memberkahinya dengan harta dan amal-
amal.
1
Hukum Terkait Orang yang Tidak Shalat
Ada perbedaan pendapat di antara para ulama terkait orang yang lalai mengerjakan rukun
Islam yang penting ini. Pertanyaannya adalah apakah seseorang yang tidak mengerjakan shalat
masih tetap berada dalam agama Islam. Maksudnya, apakah seseorang menjadi kafir berdasarkan
1
Abdur-Rahman as-Sa’di, ar-Riyadh al-Nadhirah wa al-Hadaiq al-Nayyarah al-Zahirah fi al-Aqaid wa al-Funun
al-Mutanawah al-Fakhirah (Riyadh: Ramadi Li-I-Nashr, 1996), hal. 26-27.
Islamic Online University Hadits 102
397
kenyataan bahwa dia tidak shalat? Umumnya, seseorang dapat membagi orang-orang yang tidak
shalat ke dalam kategori-kategori berikut ini:
1
(1) Berdasarkan kesepakatan semua ulama, mereka tidak kafir. Ini termasuk orang-orang
yang mungkin telah lalai dalam shalat disebabkan lupa atau tertidur. Jelas orang-orang seperti ini
tidak dianggap kafir.
(2) Berdasarkan kesepakatan semua ulama, mereka adalah kafir. Kategori ini termasuk
sekelompok orang berikut ini:
(i) Orang yang tidak mengerjakan shalat dan menolak pendapat bahwa itu adalah
kewajiban shalat. Orang ini adalah kafir menurut kesepakatan umum karena dia
menentang dalil-dalil yang banyak dan pasti dari al-Quran dan sunnah.
(ii) Orang yang menolak untuk shalat karena kesombongan dan hasad. Orang ini
adalah orang yang mengakui kebenaran Islam namun dia tidak ingin untuk taat
kepada Islam atau mengerjakan shalat dikarenakan kebencian pada agama, karena
kesombongan yang dia tidak merasa bahwa dia harus mengerjakan perbuatan seperti
itu dan seterusnya.
(iii) Orang yang tidak shalat karena menghina dan meremehkan shalat. Orang ini
menghina atau meremehkan salah satu dari pondasi Islam dan, untuk alasan itu, yang
membuat dia keluar dari Islam.
(iv) Orang yang menolak untuk shalat meskipun dia diancam oleh pihak yang
berwenang dengan ancaman mati sebagai sebuah hukuman karena tidak shalat.
Orang ini dianggap kafir karena dia menolak untuk taat bahkan dengan ancaman
kematian.
(v) Orang yang hanya mengabaikan shalat secara sempurna, tanpa mengetahui
bahwa itu adalah kewajiban atau menolaknya sebagai sebuah kewajiban.
(3) Terkait kategori yang ketiga, ada perbedaan pendapat apakah orang-orang ini jatuh
dan keluar dari Islam. Orang-orang ini adalah orang-orang yang menerima kewajiban shalat dan
tidak mengingkari pentingnya shalat itu. Mereka mengakui bahwa mereka melakukan dosa
dengan tidak mengerjakan shalat. Namun, tetap saja, karena kemalasan, lalai, atau yang
semacamnya, mereka tidak mengerjakan shalat. Sebagian ulama mengatakan bahwa orang
1
Cf., al-Abdul Latif, hal. 452-455.
Islamic Online University Hadits 102
398
seperti itu sama sekali keluar dari islam, dia akan berada di Neraka selamanya dan, bahkan
orang-orang Muslim tidak dapat menshalatkan jenazahnya di dunia ini. Ulama lainnya
mengatakan bahwa orang seperti itu benar-benar orang yang buruk, dia melalukan sebuah bentuk
yang lebih rendah dari kufur dan dia berada diambang pintu keluar dari Islam. Namun, dia tetap
berada dalam Islam secara keseluruhan dan dia tidak diperlakukan dan dianggap layaknya orang
kafir.
Ini bukanlah tempat yang tepat untuk membahas secara detail pertanyaan yang sangat
penting ini.
1
Salah satu dalil yang paling kuat untuk mereka yang mengatakan bahwa orang-
orang seperti itu menjadi kafir adalah hadits dari Nabi ,
(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.”
(Hadits Riwayat Muslim.) Dalam hadits ini, Nabi menggunakan al-syirik dan al-kufur yang
pasti, yang mengacu pada sesuatu yang diketahui dan dipahami. Ini dipahami mengacu kepada
kufur yang membawa seseorang keluar dari Islam. Selain itu, baik kata syirik maupun kata kufur
yang telah digunakan, dan ini adalah pertanda lainnya bahwa perbuatan tersebut dapat membawa
seseorang keluar dari Islam.
Dalam hadits lainnya, Nabi juga bersabda,
1
Sebuah pembahasan yang luar biasa dari perkara ini dapat ditemukan dalam Abdul Latif, hal. 456-498. Untuk
berbagai hadits, perkataan para Sahabat dan perkataan lainnya yang dengan tegas menyatakan bahwa
meninggalkan shalat sama dengan dengan kafir, lihat Ubaidullah bin Battah, Al-Ibanah asy-Syariah al-Firq an-
Najiyah wa Mujanibah al-Firq al-madhmumah (Riyadh: Dar ar-Rayyah, 1988), jilid 2, hal. 669-684. Ibnu
Utsaimin adalah ulama yang meyakini bahwa orang seperti itu bukanlah kafir. Pendapatnya dapat ditemukan
dalam Muhammad Ibnu Utsaimin, Hukum Tarik as-Salat (Fairfax, VA: IIASA, n.d.), passim, al-Albani
mengatakan bahwa orang seperti itu orang seperti itu bukanlah kafir. Pendapatnya dapat ditemukan dalam sebuah
kitab dengan judul yang sama, Muhammad Nasir ad-Din al-Albani, Hukum Tarik as-Salat (Riyadh: Dar al-
Jalalain, 1992), passim. Dalam bahasa Inggris, sebuah pembahasan singkat dengan pembahasan yang tidak
lengkap dari beberapa dalil-dalil yang terkait dapat ditemukan dalam As-Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah
(Indianapolis: American Trust Publications, 1985), jilid 1, hal. 77-80. Penulis ini jelas menyimpulkan bahwa jika
seseorang mengabaikan shalat, dia melakukan perbuatan kufur yang membawa dia keluar dari Islam apabila dia
sadar dari perbuatan tersebut.
Islamic Online University Hadits 102
399
Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat, barangsiapa
meninggalkannya maka dia kafir.”
1
Di hadits lainnya, Rasulullah berkata,
”Janganlah meninggalkan shalat dengan sengaja, barangsiapa meninggalkannya dengan sengaja
telah membuat dirinya terlepas dari perlindungan Allah dan Rasul-Nya.”
2
Salah satu potongan dalil untuk pendapat-pendapat yang menyatakan bahwa orang seperti
itu tidak keluar dari Islam adalah hadits yang telah disebutkan sebelumnya:
“Allah telah mewajibkan lima shalat. Barangsiapa yang menyempurnakan wudhu mereka, shalat
mereka tepat waktu, menyempurnakan rukuknya dan khusyuk
3
telah mendapatkan janji Allah
bahwa Dia akan mengampuninya. Dan barangsiapa yang tidak melakukan itu tidak memiliki
janji dari Allah. Dia bisa mengampuninya atau Dia bisa menyiksanya.”
4
1
Diriwayatkan oleh Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad. Menurut Albani, hadits itu sahih. Lihat al-Albani,
Sahih al-Jami, jilid 2, hal. 760.
2
Dengan perkataan ini, hadits itu diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad. Menurut Albani, hadits itu sahih. Lihat
al-Albani, Sahih at-Targhib, jilid 1, hal. 299.
3
Khusyu’ dalam shalat adalah dimana hati seseorang menyesuaikan diri dengan shalat. Perasaan dalah hati ini
kemudian tercermin dalam tubuh. Seseorang tetap tenang dan diam. Pandangannya juga diturunkan. Bahkan
suaranya dipengaruhi oleh perasaan dalam hati ini. Untuk yang lebih mendetail tentang konsep ini (serta
perbedaannya dengan khudu’), lihat Muhammad al-Syayi, Al-Furuq al-Laughawiyah wa Atharaba fi Tafsir al-
Quran al-Karim (Riyadh: Maktabah al-Ubaikan, 1993), hal. 249-254.
4
Diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Abu Daud, an-Nasai dan lainnya. Menurut Albani, hadits ini sahih. Al-Albani,
Sahih al-Jami, jilid 1, hal. 616.
Islamic Online University Hadits 102
400
Namun, penting untuk memperhatikan kesimpulan bahwa kedua kelompok ulama
berbeda. Mereka yang mengatakan bahwa orang tersebut keluar dari Islam menyatakan bahwa
orang tersebut harus dibunuh karena murtad, jika dia tidak bertobat. Kebanyakan dari ulama-
ulama yang mengatakan bahwa dia tidak keluar dari Islam menyatakan bahwa dia harus
diperintahakan untuk shalat dan jika dia menolak untuk shalat, maka dia dibunuh sebagai
hukuman atas penolakannya untuk shalat.
1
Sebab itulah, kesimpulan dari mayoritas ulama sama.
Meninggalkan shalat, rukun Islam ini, seperti sebuah perbuatan yang mengerikan yang para
ulama ini sepakat bahwa orang seperti itu tidak berhak untuk hidup. Jadi terlepas dari apakah
seseorang mengikuti ulama-ulama yang mengatakan bahwa orang seperti itu kafir atau tidak,
kedua pihak jelas sepakat bahwa pentingnya shalat sangatlah agung dan tidak ada Muslim yang
sungguh-sungguh dalam pengakuan mereka kepada Islam yang seharusnya pernah memikirkan
untuk meninggalkan shalat.
Perkataan Siddiq menunjukkan bahwa pentingnya shalat adalah rangkuman yang baik
untuk keseluruhan pembahasan ini. Dia menulis,
Shalat adalah ruh dari agama, dimana tidak ada shalat, tidak mungkin ada
pemurnian jiwa. Orang yang tidak shalat sepatutnya dianggap sebagai
orang yang tidak memiliki jiwa. Mengerjakan shalat karena dunia, dan
semuanya berakhir dengan agama karena dengan shalat orang tersebut
memiliki kesadaran akan Tuhan dan cinta yang tanpa pamrih untuk
kemanusiaan dan ketakwaan dalam batin. Oleh karena itu, shalat adalah,
yang pertama, yang tertinggi, dan peristiwa dan perwujudan yang paling
khidmat dari agama.
2
Nabi menyatakan kedudukan shalat dalam Islam ketika beliau berkata,
“Pokok perkara adalah Islam. Tiangnya adalah shalat. Dan puncaknya adalah jihad.”
3
1
Sebagian Hanafi memyatakan bahwa dia seharusnya dipenjara dan dinasehati untuk bertobat.
2
Siddiqi, jilid 1, hal. 206.
3
Sebuah hadits yang asli yang diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan lainnya.
Islamic Online University Hadits 102
401
“membayar zakat”
Makna dari Zakat
Secara bahasa, akar dari kata zakat berarti pembersihan, berkah dan berkembang. Allah
telah menyatakan dalam al-Quran,
⬧◼⧫⧫⬧
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (tazakka)” kata lainnya yang
digunakan dalam al-Quran dan hadits untuk zakat adalah sadaqa. Kata ini berasal dari kata sidq
(jujur). Siddiqi menjelaskan makna dari kedua istilah ini seperti yang digunakan di sini,
Kedua kata ini sangatlah berarti. Mengeluarkan harta semata-mata demi
Allah memurnikan hati seseorang dari kecintaan pada harta benda.
Orang yang mengeluarkan harta tersebut memberikannya seperti seorang
yang rendah hati dihadapan Tuhan dan menegaskan kebenaran bahwa
tidak ada yang disayangi olehnya di dunia ini selain dari cinta kepada
Allah dan bahwasanya dia sepenuhnya siap untuk berkorban apapun
demi Allah .
1
Dalam syariat, makna teknisnya adalah mengacu pada bagian tertentu dari berbagai
macam harta seseorang yang seseorang harus berikan sekali setahun bagi penerima dari golongan
tertentu.
Pentingnya Zakat
Tidak ada masalah bahwa diantara semua rukun Islam, zakat tergolong sangat dekat
dengan shalat. Keduanya kerapkali disebutkan secara bersama dalam al-Quran dalam delapan
puluh dua contoh yang tepatnya.
Pentingnya zakat juga dapat dilihat dalam ayat Quran berikut dimana Allah
memerintahkan para Sahabat untuk memerangi orang-orang musyrikin (musyrik) dimanapun
mereka bisa:
1
Siddiqi, jilid 2, hal. 465.
Islamic Online University Hadits 102
402
⬧⬧◼
⧫❑➔⬧
⧫✓☺
➔❑☺◆➔◆
➔◆➔◆⬧
→⬧⬧❑⬧
❑⬧◆◼❑◼❑⬧◆◆
◼❑❑⬧◼
❑→▪
“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana
saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat
pengintaian. jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah
kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (at-Taubah 5). Dalam ayat ini, Allh  memerintahkan kepada para Sahabat untuk
memerangi orang-orang itu sampai mereka bertobat, mendirikan shalat dan membayar zakat.
Tidak lama setelah itu dalam surah yang sama, mengikuti pembahasan yang sama, Allah
berfirman,
⬧❑⬧❑⬧◆
◼❑◼❑⬧◆◆❑
◆❑⬧
◆⧫❑⬧
⧫❑☺◼➔⧫
“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah
saudara-saudaramu seagama. dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.”
(at-Taubah 11).
Kedua ayat ini jelas membuktikan pentingnya zakat dalam pandangan Allah . Orang-
orang kafir akan menjadi bagian dari agama ini ketika mereka bertobat, shalat, dan membayar
Islamic Online University Hadits 102
403
zakat. Sebab itulah, pembayaran zakat adalah sebuah pertanda yang benar bahwa seseorang
adalah Muslim dan menyerahkan dirinya kepada Allah .
Seseorang juga dapat melihat dari Quran, bahwasanya salah satu kunci untuk menerima
rahmat Allah di Akhirat adalah dengan membayar zakat. Dalam surah at-Taubah, ayat 71,
Allah menyatakan,
⧫❑⬧☺◆→⬧☺◆
→➔⧫◆➔⧫
⧫➔☺
⧫❑⧫◆⧫⬧☺
❑☺◆◼❑◼❑➔⬧◆
◼❑❑➔◆
⬧❑◆◆⬧
❑⧫

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi
penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah
dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-
Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.”
Pembayaran zakat seharusnya mensucikan seseorang. Zakat juga mensucikan hartanya.
Allah berkata kepada Nabi ,
➔⚫◆❑⬧
➔⬧➔⧫➔◆
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka” (at-Taubah 103). Di luar itu, zakat dapat mensucikan jiwa orang beriman
dengan membersihkannya dari penyakit kekikiran dan penyakit pelit.
Islamic Online University Hadits 102
404
Itu juga mensucikan harta dari seseorang dengan menghilangkan pengaruh buruk apapun
dari hartanya tersebut. Nabi pernah bersabda,
“Barangsiapa membayarkan zakat pada hartanya, keburukannya akan dihapuskan dari itu.”
1
Zakat juga memiliki peran yang penting dalam masyarakat secara keseluruhan. Ada
beberapa faktor yang dapat ditetapkan di sini. Contohnya, zakat menolong masyarakat miskin
karena mereka menerima harta yang mereka butuhkan. Ini juga seharusnya menolong untuk
menguatkan tali persaudaraan dalam masyarakat Muslim, karena orang miskin mengetahui
bahwa orang kaya akan datang dengan bantuan mereka melalui zakat dan jalan amal lainnya.
Bahkan untuk mereka yang tidak terlalu kaya, itu membuat mereka menyadari bahwa mereka
mampu untuk memberi demi Allah . Mereka dapat menyadari bahwa mereka tidak akan
kelaparan atau mati jika mereka memberikan sebagian dari harta mereka demi Allah . Selain
itu, zakat dapat membuat orang-orang yang memiliki harta menyadari bahwa harta seperti itu
sebenarnya datang karena berkah dari Allah . Sebab itulah, orang tersebut harus
menggunakannya dengan cara yang Allah  ridhoi. Salah satu hal yang paling diridhoi adalah
memenuhi kewajiban seseorang dari membayar zakat atas harta tersebut.
Ada aspek sosial penting lainnya yang dapat disimpulkan dari al-Quran dan sunnah.
Contohnya, salah satu kunci untuk mendirikan komunitas Muslim dan negara Muslim adalah
memberi zakat. Allah berfirman dalam Quran,
⧫
❑⬧◼❑◼❑⬧◆◆
◼❑⧫◆
➔☺❑⧫◆⧫
⬧☺◆➔⧫⧫❑
1
Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaima dan at-Tabarani. Menurut Albani, hadits itu hasan. Al-Albani, Sahih at-Targib
wa at-Tarhih, jilid 1, hal. 312.
Islamic Online University Hadits 102
405
“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka
mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari
perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (al-hajj 41).
Orang-orang Muslim yang tidak membayar zakat mereka tidak hanya membahayakan diri
mereka sendiri tetapi mereka benar-benar dapat membahayakan seluruh orang Muslim ummat.
Rasulullah bersabda,
Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan
dari mereka (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia
tidak akan diberi hujan.”
1
Allah dan Nabinya telah menegaskan bahwa tidak membayar zakat adalah perbuatan
yang tidak disukai oleh Allah . Bahkan Allah telah mengancam dengan hukuman yang besar
untuk perbuatan semacam itu. contohnya, ayat berikut ini dalam al-Quran adalah sebuah
keterangan bagi mereka yang tidak membayar zakat atas harta mereka:
◆⧫⬧⧫❑➔⧫
☺⬧◆⬧
◆❑➔⚫⧫◆❑➔⚫
❑➔▪❑⬧⧫❑➔
⧫❑⧫☺◆◆◆
◆❑☺◆◆
❑➔☺➔⬧
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka
dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu
1
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Menurut Albani ini asli. Lihat Muhammad Nasir al-Din al-Albani, Silisilat al-
Abadith as-Sahiha (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1979), jilid 1, hadits no. 106.
Islamic Online University Hadits 102
406
adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya
di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan
Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (ali-Imran 180).
Nabi menggambarkan hukuman yang akan menimpa mereka yang tidak membayar
zakat atas harta mereka. Dalam sebuah hadits dalam Sahih Bukhari, Abu Hurairah menceritakan
bahwa Nabi bersabda,
“[Pada Hari Kiamat] onta akan datang kepada pemiliknya dalam kondisi yang paling baik dari
yang mereka pernah miliki (di dunia), dan jika dia belum membayar zakat yang ada padanya,
onta-onta itu akan menginjaknya dengan kakinya, kambing akan datang kepada pemiliknya
dalam kondisi yang paling baik dari yang mereka pernah miliki di dunia jika dia belum
membayar zakat yang ada padanya, kambing-kambing itu akan menginjaknya dengan kuku-kuku
mereka dan akan menanduk mereka dengan tanduk-tanduk mereka... Aku tidak ingin siapapun
dari kalian datang padaku pada Hari Kiamat membawa di atas pundaknya seekor kambing yang
akan mengembek. Lalu dia berkata, ‘Wahai Muhammad (tolong doakan aku).’ Aku akan berkata,
‘Aku tidak dapat menolongmu karena Aku telah menyampaikan pesan Allah padamu.’ Demikian
pula, Aku tidak ingin siapapun dari kalian datang kepadaku membawa di atas pundaknya sesekor
onta yang akan mendengkur. Orang tersebut akan berkata, ‘Wahai Muhammad (berdoalah
untukku).’ Aku akan berkata padanya, ‘‘Aku tidak dapat menolongmu karena Aku telah
menyampaikan pesan Allah padamu.’
Islamic Online University Hadits 102
407
Nabi memperingatkan akibat dari tidak membayar zakat. Perhatikan hadits dari Sahih
Bukhari ini:
“Barangsiapa diberi harta oleh Allah, lalu dia tidak menunaikan zakatnya, pada hari kiamat
hartanya dijadikan untuknya menjadi seekor ular jantan aqra’ (yang kulit kepalanya rontok
karena dikepalanya terkumpul banyak racun), yang berbusa dua sudut mulutnya. Ular itu
dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat. Ular itu memegang dengan kedua sudut mulutnya,
lalu ular itu berkata,’Saya adalah hartamu, saya adalah simpananmu’. Kemudian beliau 
membaca ayat dari surah ali-Imran di atas.
Dalam ayat lainnya yang juga berisi tentang orang-orang yang tidak membayar zakat,
Allah berfirman,
◆⧫
⬧◆◆⧫❑→
➔⧫⬧➔
 ⧫❑⧫☺⧫◼⧫
⧫◆❑⬧
➔⧫❑◆
➔❑→◆⧫➔⧫
→❑➔⬧⧫
⬧
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah,
Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, Pada
Islamic Online University Hadits 102
408
hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka,
lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang
kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu
simpan itu.” (at-Taubah 34-35).
Hukum Terkait Seseorang yang Tidak Membayar Zakat
Zakat adalah salah satu pilar (rukun) dalam Islam, seperti yang dijelaskan dari hadits
pada pembahasan ini. Jika seseorang menolak kewajiban zakat atau mengatakan bahwa itu bukan
bagian dari Islam, maka orang seperti itu adalah orang yang kafir sesuai dengan kesepakatan dari
para ulama.
1
Pertanyaannya sekali lagi adalah: Apa status orang yang menerima zakat sebagai sebuah
kewajiban tetapi karena kemalasan, kekikiran dan pelit dia tidak memberi zakat? Apakah dia
masih menjadi Muslim? Untuk mayoritas ulama, orang itu masih tetap seorang Muslim.
2
Zakat
tersebut diambil darinya secara paksa melalui pihak yang berwenang dan dia dihukum sesuai
dengan hukum yang bijaksana.
3
Namun, ada sebuah riwayat dari Sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud bahwa dia tidak
menganggap orang yang meninggalkan zakat sebagai seorang Muslim. Dia berkata, “Orang yang
tidak membayar zakat bukanlah seorang Muslim.” Dia juga berkata, “Orang yang mendirikan
shalat tetapi tidak memberikan zakat sebenarnya tidak ada shalat baginya.”
4
Ibnu Utsaimin
menyatakan bahwa riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal yaitu orang yang tidak membayar
1
Tentu daja, selalu ada pengecualian untuk orang yang baru masuk Islam yang belum pernah mendengar kewajiban
zakat tersebut.
2
Ahmad, contohnya, menyatakan menurut kepercayaannya, “Siapapun yang meninggalkan shalat telah melakukan
kufur. Dan tidak ada amalan yang ditinggalkan yang merupakan sebuah kufur kecuali shalat. Siapapun yang
meninggalkan itu menjadi kafir dan Allah membolehkan mengambil nyawanya.” Dinukil dalam al-Laalakai, jilid
1, hal 159.
3
Ada sebuah hadits dalam Sunan Abu Daud yang menyatakan, Dia yang membayar zakat itu untuk memperoleh
pahala, maka ia pasti akan mendapat pahala itu, tetapi orang yang tidak membayarnya kami akan memungut zakat
itu beserta separuh kekayaannya. Ini merupakan salah satu ketentuan tegas dari Tuhan kita, Yang Mulia.” Menurut
Albani, hadits ini hasan. [Muhammad Nasir ad-Din al-Albani, Sahih Sunan Abi Daud (Riyadh: Maktab at-Tarbiyah
al-Arabiyah li-Duwal al-Khalij, 1991), jilid 1, hal. 296] Ini seperti pendapat dari Ahmad Ibnu Hambali. Namun,
Ahmad hasan menulis, “Meski begitu perintah ini dulunya berlaku di awal tahun-tahun Islam. Kemudian perintah
tersebut dicabut.” [Ahmad Hasan, trans., Sunan Abu Daud (Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1984), jilid 2, 412.]
Allah lebih mengetahui.
4
Kutipan-kutipan ini dapat ditemukan pada Ibnu Battah, jilid 2, hal. 681; Ibnu Abu Syaiba, al-Musannaf, jilid 3, hal.
7-9. Menurut al-Haitani, riwayat ini asli dari Ibnu Mas’ud. Cf., Ahmad Ibnu Hajar al-Haitami, az-Zawajir an
Iqtiraf al-Kab’ir (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1987), jilid 1, hal. 170.
Islamic Online University Hadits 102
409
zakat dikarenakan kemalasan menjadi kafir dengan cara yang seperti orang yang tidak shalat
karena malas menjadi kafir. Dia mengatakan bahwa pendapat ini didukung oleh sebagian
pengikut Ahmad.
1
Apabila sekelompok orang meyakini zakat namun mereka menolak untuk membayarnya,
maka mereka dapat diperangi. Inilah yang benar-benar terjadi selama masa para Sahabat. Setelah
kematian Nabi , sebagian suku menjadi murtad dan yang lainnya menolak untuk membayar
zakat. Abu Bakar, khalifah yang pertama, memerangi mereka dan mengumumkan, “Demi Allah,
Saya akan memerangi siapa saja yang membeda-bedakan antara shalat dan zakat. Zakat adalah
hak wajib untuk diambil dari harta. Demi Allah! Jika mereka menolak untuk membayar padaku
bahkan hanya seekor anak kambing yang mereka dulunya bayarkan pada masa Rasulullah ,
Saya akan memerangi mereka karena menahan zakat tersebut.” (Diriwayatkan oleh Muslim.)
Kejadian tersebut sangat penting karena banyak alasan. Itu menunjukkan sikap dari para
Sahabat terhadap sekelompok orang yang menolak untuk membayar zakat. Itu tidak
memberitahukan bahwa para Sahabat menanyakan pada mereka apakah mereka masih meyakini
zakat. Sebaliknya, para Sahabat memerangi mereka dan memperlakukan mereka dengan cara
yang sama seperti orang-orang yang telah murtad secara terang-terangan. Dengan kata lain,
mereka menganggap mereka keluar dari Islam disebabkan perbuatan mereka.
2
“melakukan perjalanan ke Kabbah”
Makna Haji
Rukun selanjutnya dari Islam yang disebutkan dalam riwayat pada hadits ini adalah
melakukan perjalanan ke Rumah Allah , atau Kabbah. Secara bahasa, haji berarti, “Dia
mempersiapkan, atau memberangkatkan dirinya, ke, atau kepada seseorang... atau kepada sebuah
tujuan penghormatan, pemujaan, rasa hormat atau kehormatan.”
3
Dalam syariat, itu berarti
sebuah pemberangkatan atau perjalanan tertentu pada waktu tertentu ke tempat tertentu dengan
1
Muhammad Ibnu Utsaimin, Syarah al-Mumti ala Zaad al-Mustaqni (Riyadh: Muassasat Asam, 1996), jilid 6, hal.7
2
Cf., al-Hawali, jilid 2, hal. 650-652.
3
E.W. Lane, Arabic-English Lexicon (Cambridge, England: The Islamic Text Society, 1984), jilid 1, hal. 513.
Islamic Online University Hadits 102
410
maksud menyembah Allah . Dengan kata lain, itu adalah sebuah perjalanan ke Makkh selama
sebulan yang menandakan pelaksanaan Haji tersebut sebagai sebuah perbuatan ibadah demi
Allah .
Keutamaan Haji
Pelaksanaan Haji adalah sebuah kewajiban bagi setiap Muslim yang memiliki jalan
untuk mengerjakannya. Ini dengan jelas dapat dibuktikan dari al-Quran dan sunnah. Namun, ini
lebih dari sekedar kewajiban. Ini adalah salah satu pondasi atau pilar dalam Islam itu sendiri.
Pahala dari pelaksanaan Haji adalah pahalah yang agung. Nabi bersabda,
Siapa yang berhaji demi Alla lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka
dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.(Hadits Riwayat Bukhari dan
Muslim.)
Nabi juga berkata,
Ibadah Umrah
1
ke ibadah Umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan
Haji yang diterima oleh Allah tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga.” (Hadits Riwayat
Bukhari dan Muslim.)
Hadits lain menyebutkan:
1
Umrah terkadang juga disebut dengan “Haji kecil”. Itu terdiri dari ritual-ritual kecil dan dapat dilakukan sepanjang
tahun.
Islamic Online University Hadits 102
411
“Rasulullah dulu ditanya, “Apa amalan yang paling baik? Beliau menjawab, “Beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu beliau ditanya, “Apa selanjutnya?” Beliau berkata, “Jihad di
jalan Allah.” Beliau kemudian ditanya lagi, “Apa selanjutnya?” Beliau menjawab, “Haji yang
dikerjakan dengan baik dan diterima oleh Allah.” (Hadits Riwayat Bukhar dan Muslim.)
Selain itu, Haji setara dengan Jihad bagi wanita dan orang-orang yang tidak memiliki
kemampuan dalam jihad. Dalam sebuah hadits, Nabi ditanya apakah wanita diwajibkan untuk
ikut serta dalam jihad atau tidak. Beliau menjawab,
“Iya, bagi mereka adalah jihad yang tidak mengandung perkelahian: Haji dan Umrah.”
1
Haji memiliki manfaat yang banyak itu. Selain dari yang telah disebutkan dalam
hadits tersebut, seseorang dapat memperhatikan bahwa ini adalah tempat bagi umat Muslim dari
segala penjuru dunia untuk datang dan menyembah Allah . Ini adalah kesempatan yang luar
biasa bagi orang-orang Islam untuk saling bertemu dengan yang lainnya, saling memahami dan
lebih dekat dengan yang lainnya. Selain itu, segala perbedaan di antara mereka dihapuskan
karena mereka semua berpakaian dengan gaya yang sama dan mengerjakan ritual-ritual yang
sama. Yang miskin, yang kaya dan semuanya berdiri dengan cara yang sama dihadapan Allah .
Siddiqi menguraikan keutamaan Haji dengan cara berikut ini,
Ini sepatutnya dikatakan bahwa hal tersebut [Haji] adalah kesempurnaan
iman karena menggabungkan dengan sendirinya segala kualitas tersendiri
1
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Menurut Albani, itu sahih. Muhammad Nasir ad-Din al-Albani, Irwa
al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar al-Sabil (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1979), jilid 4, hal 151.
Islamic Online University Hadits 102
412
dari perbuatan-perbuatan wajib lainnya. Itu menggambarkan kualitas dari
salat [shalat] karena seorang yang berhaji melaksanakan shalat di
Ka’bah, Rumah Tuhan. Haji mendorong untuk mengeluarkan harta benda
demi Tuhan, ciri utama dari Zakat. Ketika seorang yang berhaji
berangkat untuk Haji, dia memisahkan dirinya dari hati dan rumahnya,
dari kekasihnya dan sangat dekat dengan keridhoan Tuhan. Dia
mengalami penderitaan dan melakukan perjalanan yang sulit pelajaran
yang kita pelajari dari puasa dan i’tikaf.
1
Dalam Haji seseorang berlatih
dilatih untuk sepenuhnya melupakan kenyamana dan kemegahan materi
dan dilatih untuk menunjukkan kehidupan duniawi. Seseorang harus tidur
di atas tanah berbatu,
2
mengelilingi Ka’bah, berlari di antara bukit Safa
dan Marwa dan menghabiskan malam dan siang mereka dengan hanya
memakai dua helai kain yang tidak dijahit. Dia diwajibkan untuk tidak
menggunakan minyak atau wangi-wangian atau parfum apapun lainnya.
Dia bahkan tidak dibolehkan untuk memotong rambut atau mencukur
jenggotnya. Singkatnya, dia diperintahkan untuk meninggalkan segala
hal demi Allah dan taat dihadapan Tuhannya, tujuan terakhir dalam
hidup seorang Muslim. Kenyataannya, perjalanan fisik adalah sebuah
awal dari perjalanan spiritual menuju Tuhan, ketika seseorang akan
mengucapkan selamat tinggal dari dunia dan menghadirkan dirinya di
hadapan-Nya karena hamba-Nya yang hina berkata: “Aku di sini di
hadapan Engkau, Tuhanku, sebagai seorang hamba dari Milik-Mu.”
3
Haji adalah Kewajiban untuk Orang yang Memiliki Jalan
Allah berfirman dalam al-Quran,
◆◼⧫⧫
⧫⧫⬧⧫⬧
⧫◆⧫⬧⧫
⧫✓☺◼➔
“Dan mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang
sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka
1
I’tikaf adalah dimana seseorang bersendiri di dalam mesjid untuk ibadah dan ketaatan pribadi. Paling umum, ini
dilakukan pada akhir-akhir bulan Ramadhan.
2
Ini tidak mesti tetapi ini tentang bagaimana para jemaah haji yang banyak menghabiskan malam-malam mereka.
3
Siddiqi, jilid 2, hal. 577. Perkataan terakhir yang dia buat sangat dekat dengan apa yang jamaah Haji ucapkan
selama berhaji.
Islamic Online University Hadits 102
413
Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (ali-Imran 97).
Demikian pula, ketika menjawab pertanyaan tentang Islam dalam hadit Jibri, Nabi juga secara
khusus menunjukkan bahwa Haji adalah sebuah kewajiban bagi seseorang yang memiliki jalan
untuk mengerjakan itu.
Para ulama berbeda tentang bagaimana tepatnya keadaan ini dapat dipenuhi.
1
Pada
umumnya, meskipun, itu menunjukkan bahwa Haji tidak berarti menjadi kesulitan. Ini adalah
ibadah yang agung yang orang-orang seharusnya melakukan yang terbaik dari mereka untuk
mengerjakan namun hanya jika ini memungkinkan bagi mereka. Kemungkinan ini termasuk
memiliki kesehatan fisik, kesejahteraan finansial dan bekal yang dibutuhkan untuk menjalankan
Haji. Sebagian ulama juga menambahkan bahwa perjalanan tersebut seharusnya tidak terlalu
berbahaya yang tidak memiliki resiko pada hidup orang yang berhaji itu. Dan lagi, para wanita
harus memiliki mahram [kerabat lelaki atau suami] untuk bepergian dengan mereka karena tidak
diperbolehkan untuk bepergian sendiri, meskipun sebagian ulama membolehkan mereka untuk
bepergian bersama dengan kelompok yang terdiri dari laki-laki dan wanita “yang dapat
dipercaya”.
Jika seseorang tidak mendapatkan keadaan ini, seseorang tidak diwajibkan untuk
mengerjakan Haji. Dia harus menunggu sampai dia memiliki kemampuan untuk
mengerjakannya. Ketika dia memiliki kemampuan untuk mengerjakannya, ada perbedaan
pendapat apakah itu dia harus mengerjakannya segera pada waktu itu atau dia boleh menundanya
hingga tahun depan. Itu adalah topik pembahasan selanjutnya.
Perkara Menunda Pelaksanaan Haji
Ada perbedaan pendapat tentang apakah pelaksanaan Haji dapat ditunda atau tidak.
Maksudnya, seandainya ada orang yang tidak memenuhi kewajiban berhaji dan dia memiliki
jalan dan kemampuan untuk melakukan Haji tahun ini. Jika dia memutuskan untuk menunda
pelaksanaannya sampai beberapa tahun kemudian, apakah dia dianggap berdosa atau tidak?
Apakah dibolehkan bagi dia untuk menunda itu atau haruskah dia mengerjakannya di waktu
pertama dia memiliki kesempatan untuk mengerjakannya?
1
Keterangan yang lebih lanjut dapat ditemukan pada as-Sayed Sabiq, Fiqh, jilid 5, hal. 7-9.
Islamic Online University Hadits 102
414
Malik, Abu Hanifah, Ahmad, dan sebagian Syafi’i menyatakan bahwa seseorang harus
mengerjakan Haji pada kesempatan pertamanya yang dapat dilaksanakan. Jika tidak, orang itu
menjadi berdosa. Dalil untuk keadaan ini yaitu:
Nabi bersabda,
“Apabila seseorang patah [tulang] atau menjadi pincang, dia keluar dari keadaan yang suci itu
dan dia harus nengerjakan Haji di tahun beriktnya.”
1
Hadits lainnya menyatakan,
“Bersegeralah kalian berhaji, yaitu, Haji yang wajib karena salah seorang diantara kalian tidak
tahu apa yang akan menimpanya.”
2
Juga diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab pernah berkata, sesungguhnya saya
berkeinginan bisa mengutus sekelompok orang ke daerah-daerah. Mereka mencari orang yang
punya kemampuan tetapi tidak pergi haji, mereka seharusnya memiliki jizyah
3
yang diterapkan
kepada mereka karena mereka bukanlah muslim, mereka bukanlah muslim
4
Salah satu potongan dalil paling kuat yang disajikan untuk mengatakan bahwa seseorang
dibolehkan untuk menunda pelaksanaan Haji, meskipun dia memilki kemampun untuk
mengerjakannya, adalah fakta bahwa Haji itu dulu diwajibkan di tahun keenam setelah Hijrah
1
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, an-Nasai dan lainnya. Menurut Albani, hadits itu sahih. Al-Albani, Sahih
al-Jami, jilid 2, hal. 1112.
2
Diriwayatkan oleh Ahmad. Menurut Albani, hadits itu sahih. Al-Albani, Sahih al-Jami, jilid 1, hal. 569
3
Jizyah adalah pembayaran pajak kepada negara oleh penduduk non-Muslim sebagai ganti dari pelayanan militer.
4
Riwayat ini dinukil oleh Said Ibnu Mansur dan Baihaqi. Menurut al-Haitarni, ini adalah riwayat yang asli. Al-
Haitani, az-Zawajir, jilid 1, hal. 198.
Islamic Online University Hadits 102
415
dan Rasulullah sendiri tidak mengerjakan Haji sampai di tahun kesepuluh. Namun, asy-
Syaukani memberikan jawaban untuk pendapat ini sebagai berikut,
[Pertama,] ada perbedaan pendapat mengenai kapan Haji menjadi sebuah
kewajiban. Salah satu pendapat adalah Haji itu menjadi wajib di tahun
kesepuluh. Sebab itu, tidak ada penundaan [di pihak Rasulullah ]. Jika
diterima bahwa itu menjadi wajib di tahun kesepuluh, Rasulullah
menunda berhaji karena ketidaksukaan beliau untuk melakukan Haji
bersama dengan orang-orang musyrik, karena mereka akan melakukan
Haji dan mengelilingi Ka’bah dalam keadaan telanjang. Ketika Allah
menyucikan Rumah dari orang-orang itu, Rasulullah melaksanakan
Haji. Sebab itulah beliau menunda Haji beliau karena suatu alasan. [Itu
dapat diterima,] perselisihan yang ada hanya terkait orang yang menunda
Haji-nya tanpa alasan yang dapat diterima.
1
Hukum Terkait Orang yang Tidak Mengerjakan Haji sampai Dia
Meninggal Meskipun Dia Memiliki Jalan
Orang yang menolak kewajiban zakat adalah kafir. Orang yang dengan sengaja menunda
melaksanakan Haji, meskipun dia memiliki jalan, sampai dia meninggal adalah orang yang fasiq
atau orang yang berdosa. Dia telah membiarkan dirinya terbuka terhadap siksaan dan murka
Allah di Akhirat.
“berpuasa di bulan Ramadhan
Makna Siyam
Secara bahasa, siyam berarti menjauhkan diri dari sesuatu, seperti menjauhkan diri dari
berbicara. Dalam syariat, ini adalah sebuah petunjuk lansung untuk menjauhkan diri dari makan,
minum, dan berhubungan suami istri disepanjang hari-hari dalam bulan Ramadhan.
Pelaksanaannya adalah salah satu pilar Islam, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.
1
Muhammad Ibnu Ali asy-Syaukani, Nail al-Autar, (Riyadh: Dar Zamam, 1993), jilid 4, hal. 337-338. Ibnu
Utsaimin menyatakan bahwa Haji diwajibkan di tahun kesembilan dan sejumlah utusan datang menemui Nabi 
di Madinah adalah salah satu alasan bahwa Nabi tidak bisa untuk melaksanakan Haji. Lihat Ibnu Utsaimin, Al-
Syarah al-Mumti, jilid 7, hal. 17-18.
Islamic Online University Hadits 102
416
Keutamaan Siyam
Puasa adalah sumber pengendalian diri, ketakwaan dan kesadaran akan Tuhan. Yang
telah ditetapkan oleh Allah untuk Nabi Muhammad . Dalam ayat yang mewajibkan berpuasa
pada bulan Ramadhan, Allah menunjukkan tujuan atau maksudnya:
⧫⧫❑⧫◆
→◼⧫◆☺
◼⧫→⬧
➔⬧⧫❑→⬧
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (al-Baqarah 183).
Nabi berkata bahwa puasa adalah pelindung dari Api Neraka:
“Puasa adalah perisai dari Api Neraka seperti salah satu perisai kalian yang melindungi kalian
ketika bertarung.”
1
Selain itu, puasa juga akan datang sebagai perantara (syafaat) di Hari Kiamat.
Nabi bersabda,
“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan
berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia
1
Diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasai dan lainnya. Menurut Albani, ini sahih. Al-Albani, Sahih al-Jami, jilid 2, hal.
720.
Islamic Online University Hadits 102
417
syafa’at karenaku”. Al-Qur’an pun berkata : Aku telah menghalanginya dari tidur di malam
hari, maka berilah dia syafa’at karenaku” Rasulullah bersabda : Maka keduanya akan memberi
syafa’at”
1
Ini adalah sebuah perbuatan yang menunjukkan keikhlasan seseorang kepada Allah .
Hanya Allah yang mengetahui apabila seseorang benar-benar berpuasa atau tidak. Tidak
seorangpun yang dapat mengetahui apabila dia merusak puasanya secara sembunyi-sembunyi.
Oleh karena itu, Allah memiliki pahala khusus untuk mereka yang berpuasa. Ini dinyatakan
dalam hadits qudsi berikut ini,
Allah berfirman, Dia meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku,
dan Aku yang akan membalasnya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal
dengannya.” (Hadits Riwayat Bukhari.)
Dengan karunia dan rahmat Allah , jika seseorang berpuasa di bulan Ramadhan dengan
keimanan pada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, Allah  akan mengampuni semua dosa-
dosa kecilnya yang telah lalu. Nabi bersabda,
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengaharapkan pahalanya maka
dosanya di masa lalu akan diampuni.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim.)
Ibnu Qayyim menyebutkan beberapa aspek yang baik dan penting dari berpuasa ketika
dia menuliskan,
1
Diriwayatkan oleh Ahmad. Menurut Albani, ini sahih. Al-Albani, Sahih al-Jami, jilid 2, hal. 720.
Islamic Online University Hadits 102
418
Tujuan puasa adalah agar jiwa seseorang terlepas dari cengkraman nafsu
dan agar berlaku kesederhanaan dalam diri jasmaninya, dan, melalui itu,
dia menyadari tujuan dari penyucian dan kebahagiaan yang abadi. Ini
bertujuan mengurangi intensitas keinginan dan nafsu dengan cara lapar
dan haus, dengan mendorong seseorang untuk menyadari berapa banyak
tempat di dunia yang seperti dirinya yang bahkan tanpa sedikit makanan,
dengan melakukan itu, sulit bagi Iblis untuk memperdaya dirinya, dan
dengan mengendalikan organ-organnya dari berbalik kepada hal-hal
dimana terdapat kerugian dunia. Dengan demikian, puasa, adalah sebuah
tali kekang dari ketakutan akan Tuhan, perisai dari para pasukan perang
dan pelajaran yang mulia.
1
Terdapat juga sebuah hadits Nabi yang memperingatkan siksaan untuk orang yang
membatalkan puasanya secara sengaja. Dalam hadits ini, Nabi berkata,
Ketika aku tengah tertidur, dua orang laki-laki mendatangiku. Lalu mereka menarik lenganku
kemudian membawaku mendaki gunung yang terjal seraya berkata, “Naiklah”. Aku menjawab,
“Sesungguhnya aku tidak mampu”. Keduanya kemudian mengatakan, “Kami akan
membantumu”. Kemudian akupun mampu mendakinya hingga tiba kegelapan gunung, tiba-tiba
1
Dinukil dalam Nadwi, hal. 173
Islamic Online University Hadits 102
419
ada suara yang amat keras. Lalu aku bertanya, “Suara apakah itu ?Keduanya menjawab, “Itu
adalah suara penghuni neraka”. Kemudian keduanya membawaku berjalan melalui sekelompok
orang yang bergelantungan pada urat di atas tumit mereka, mulutnya robek, dari robekan tersebut
mengalir darah. Kemudian aku bertanya, “Siapakah sekolompok orang tersebut ?” Dia
menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum tiba waktu”
1
Hukum Terkait Orang yang Tidak Berpuasa
Jika seseorang menolak kewajiban berpuasa, dia menjadi kafir. Kewajiban berpuasa telah
ditegaskan dalam al-Qur’an dan banyak hadits-hadits dari Rasulullah . Adapun orang yang
menyakini kewajiban berpuasa namun dia tidak berpuasa, dijelaskan dalam sebuah hadits:
“Sendi-sendi dan dasar-dasar Islam ada tiga. dan Islam dibangun di atas tiga sendi ini.
Barangsiapa meninggalkan salah satu dari ketiganya, maka kufur, dan halallah darahnya untuk
ditumpahkan; yaitu; mengakui bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah, sholat fardlu, dan
puasa Ramadhan” Hadits ini diriwytkn oleh Abu Y’la dn al-Dailami. Beberapa ulama menyebut
hadits ini sebagai hadits hasan. Tetapi, pendapat yang benar pendapat dari syaikh Al-Albani.
bahwa hadits tersebut lemah. Tetapi, kemungkinan besar, hal tersebut merupakan pernyataan dari
sahabat ibn Abbas radhiyallahu anhu dan bukan dari sabda Nabi .
2
Namun, sahabat yang sampai pada kesimpulan seperti itu menunjukkan keutamaan dari
puasa itu.. Tidak satupun ulama yang akan membuat pernyataan seperti itu, tidak berbicara
tentang para sahabat, kecuali perbuatan tersebut sangat penting dalam Islam. Meskipun
mayotitas dan pendapat yang terkuat menyebutkan bahwa orang demikian itu tidaklah sampai
1
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaima. Menurut Albani, hadits itu sahih. Al-Albani, Sahih al-
Targhib wa al-Tarhib, jilid 1, hal. 420
2
Lihat Muhammad Nasir al-Din al-Albani, Silsilat al-Ahadits al-Dhaifah (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1398 H), jilid
1, hal. 131-2.
Islamic Online University Hadits 102
420
menjadi kafir, orang-orang muslim yang menolak berpuasa di bulan Ramadhan harus
memikirkan pernyataan dari ibn Abbas dengan sangat hati-hati karena terdapat kemungkinan
bahwa yang beliau katakan adalah benar.
Selain itu, adz-Dzahabi pernah menulis,
Menurut orang-orang yang imannya kokoh, siapapun yang meninggalkan
puasa Ramadhan tanpa sakit lebih buruk daripada pezinah atau pemabuk.
Faktanya, mereka meragukan Islamnya dan mereka menduga bahwa ia
adalah zandiqah (murtad dari Islam) dan salah satu dari mereka yang
menghancurkan Islam.
1
Bagaimana dengan Jihad?
Dalam sebuah perbedaan dari hadits ini dalam Musnad Ahmad, yang meriwayatkan
(perawi), ibn Umar, ditanya tentang jihad setelah dia menyebutkan rukun-rukun Islam tersebut.
Ibn Umar menjawab, “Jihad adalah yang paling baik tetapi ini adalah apa yang telah yang
Rasulullah sampaikan kepada kami.Keutamaan jihad dalam Islam jelas ditentukan dalam al-
Qur’an dan Sunnah. Contohnya, Nabi , bersabda,
“ Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.”
2
Namun, Nabi tidak menyebut jihad dalam hadits yang menyebutkan rukun-rukun
Islam ini. Ada orang-orang yang menekankan jihad adalah sesuatu yang besar bahkan ada
sebuah kitab yang berjudul jihad: Rukun Iman yang Keenam. Sayangnya, terkadang orang-orang
yang sama sangat tidak berhati-hati dalam mengerjakan rukun-rukun Islamnya. Mereka ibaratnya
seperti orang yang memperindah lantai tiga rumahnya sementara dia belum sempat memastikan
bahwa pondasinya kokoh dan kuat. Allah lebih mengetahui, tetapi hal ini mungkin merupakan
alasan utama mengapa kebanyakan orang yang membahas atau yang ikut serta dalam jihad tidak
menghidupkan kehidupan Islam sepenuhnya. Sebagaian dari mereka bahkan rela berbohong dan
1
Dinukil dalam Sabiq. Jilid 3, hal. 111.
2
Diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Islamic Online University Hadits 102
421
menipu saudara-saudara muslim mereka sendiri. Setelah jihad selesai, mereka mungkin hanya
memperhatikan kepentingan terbaik mereka sendiri daripada kepentingan Islam dan kaum
muslimin. Terdapat banyak segi yang menegaskan satu aspek Islam sementara mengabaikan
pondasinya dan rukun-rukunnya. Hal sederhana ini tidak bisa dilakukan. Keberhasilan tidak
mungkin dapat dicapai ketika seseorang mengabaikan pondasi dari keseluruhan struktur dan
memperhatikan aspek yang kurang penting.
Menyadari pentingnya Jihad, Beberapa ulama yang berbeda telah mennyatakan mengapa
jihad tidak disebutkan sebagai salah satu rukun Islam. Sebagai contoh, terdapat beberapa dari
mereka yang menegaskan bahwa hadits ini adalah sabda Nabi sebelum kewajiban jihad
ditetapkan. Namun, pendapat ini tidak bisa dipertahankan. Hal ini karena jihad diwajibkan
sebelum puasa dan haji diwajibkan dan mereka menyebutkan di dalam hadits ini.
1
Menurut Ibn Rajab dan Ibn Hajar, Rasulullah tidak menyebutkan jihad, karena secara
umum, jihad adalah kewajiban umum (fardu kifayah) dan bukan kewajiban individu (fardu ain).
2
Ibn Rajab menambahkan bahwa jihad bukanlah sesuatu yang terus ada sampai hari pembalasan.
Setelah Nabi Isa turun, hanya akan ada satu agama yang tersisa dan oleh karena itu, jihad akan
berakhir. Namun, rukun-rukun lain akan tetap berlaku dan wajib bagi semua muslim hingga Hari
pembalasan.
3
Allah lebih mengetahui, tetapi tidak satupun dari penjelasan ini yang tampak
memuaskan. Jihad adalah puncak Islam tetapi bukan sebuah pondasi atau rukun Islam. Rukun-
rukun atau pondasi menyiratkan bahwa amalan lainnya tergantung pada rukun-rukun tesebut.
Ada hubungan langsung antara keseluruhan praktek Islam dan seberapa baik seseorang
menunaikan rukun-rukun tesebut. Jika rukun-rukun tersebut dilaksanakan secara benar dan
sebagaimana mestinya, rukun-rukun tesebut akan mengarahkan pada amalan lainnya, seperti
jihad, akan dilakukan dengan benar dan sebagaimana mestinya Jika tidak, amalan-amalan lain
mungkin tidak akan dilakukan dengan tujuan yang benar atau seseorang dapat mudah tersesat
saat melaksanakan amalan-amaln tersebut. Itulah mengapa amalan-amalan tesebut adalah
pondasinya dan bukan yang lain.
1
Cf., ibn Hajar, Fath, vol. 1, hal. 73
2
Cf., ibn Hajar, Fath, vol. 1, hal. 73
3
Ibnu Rajab, Jaami, vol. 1, hal. 152.
Islamic Online University Hadits 102
422
Kesimpulan Hadits
Seseorang dapat memperoleh dari kelima rukun itu hal-hal berikut ini: Ibadah baik itu yang
dikerjakan ataupun yang diabaikan. Puasa adalah kategori terakhir sementara rukun-rukun
lainnya adalah yang pertama. Disamping itu, ibadah juga merupakan amalan secara lisan
(seperti syahadatain dan dzikir), amalan anggota tubuh (seperti sholat), amalan yang terkait
dengan kekayaan seseorang (seperti zakat) dan amalan yang terkait anggota tubuh dan
kekayaan (seperti Haji).
1
Hadits ini menyatakan apa yang dibangun oleh Islam. Jika pondasi atau rukunnya kuat, atas
kehendak Allah , sisa dari keimanan dan agama seseorang akan tetapi baik benar dan
kuat. Namun, jika rukun-rukun tersebut lemah atau tidak baik, maka tidak mengherankan
bahwa mungkin terdapat beberapa masalah yang lebih jauh dari keseluruhannya. Pada
kenyataannya, seseorang harusnya memperkirakan bahwa akan ada beberapa masalah atau
kelemahan dari ketakwaan seseorang kepda Allah dan keimanannya.
Jika seseorang mengingkari salah satu kewajiban dari rukun-rukun Islam, dia akan menjadi
kafir. Rukun-rukun tersebut telah ditegaskan khusus dalam hadits ini dan juga dalam
beberapa ayat al-Qur’an dan hadits-hadits lainnya.
Ada kesepakatan bahwa jika seseorang menafikan rukun pertama yang disebutkan oleh Nabi
, seseorang meniadakan Islamnya dan menjadi kafir.
Ada ketidaksepakatan mengenai rukun yang kedua. Banyak ulama berpendapat bahwa
seseroang yang tidak melaksanakan sholat juga meninggalkan keislamannya. Mayoritas
berpendapat bahwa dia adalah pelaku kejahatan yang pantas untuk dibunuh sebagai
hukuman atas dosanya.
2
1
Cf., al-Qaari, vol. 1, hal. 68.
2
Hukum-hukum seperti itu harus dipenuhi oleh otoritas hukum. Dengan kata lain, di luar Negara Islam, hukuman seperti itu
tidak diterapkan. Namun, hal tersebut tidak mengurangi gravitasi kejahatan yang dilakukan oleh orang tersebut.
Islamic Online University Hadits 102
423
Hadits #4:
Penciptaan dalam Rahim Ibu
“Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata:
Rasulullah menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar
dan dibenarkan: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut
ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi
setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama
empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan
padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menuliskan
rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang
Islamic Online University Hadits 102
424
tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan
perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan
tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka
maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang
melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal
sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan
ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.” Hadits Riwayat Bukhori dan
Muslim.
Kosa Kata Pilihan
 :“Jujur”
 :“yang terpercaya”
 :“sesungguhnya”
 :“Mengumpulkan dan memelihara”
 :“ciptaannya, makhluknya” huruf di akhir kalimat adalah tunggal, kata
ganti untuk laki-laki, “his”.
 :“Rahim, perut”.
 :“Ibunya,  adalah ibu
 :“empat puluh”
 :“hari”
 :“setetes mani”
 :“maka”
 :“akan menjadi”, juga bisa diartikan, “menjadi”
 :“sesuatu yang melekat dan menempel”
 :“sama dengan”
 :“sebuah gumpalan yang terlihat seperti sudah di kunyah
 :“dikirim”
 :“Malaikat”, dalam hal ini yang dimaksud adalah malaikat yang
bertanggung jawab untuk Rahim.
Islamic Online University Hadits 102
425
 :“Jiwa, ruh, nafas kehidupan”
 :“dalam bahasa Nabi , hal ini biasanya berarti pernyataan yang
lengkap atau kalimat yang lengkap. Ini juga bisa digunakan untuk merujuk
pada “masalah”. saat ini, hampir terhusus untuk “perkataan” yang
dibandingkan dengan kalimat”.
 :“rezekinya, ketetapannya”
 :“masa hidupnya
 :“amalnya”
 :“tidak bahagia”
 :“Bahagia”
 :“orang-orang”
 :“Syurga”
 :“hingga”
 :“antara miliknya (lk) atau miliknya (benda),” huruf merujuk pada laki-
laki, objek tunggal.
 :“antara miliknya (pr) atau miliknya (benda),” huruf merujuk pada
perempuan, objek tunggal. Dalam kasus ini, itu mengacu pada syurga yang
merupakan benda feminin.
 :“panjang lengan atas,” atau berarti juga, “panjang lengan bawah”
 :“Neraka”
Kesalahan Matan Hadits Arba’in (40)
Seseorang akan mendapati bahwa matan hadits di atas menyatakan, Sesungguhnya
setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat
puluh hari (nutfah).” Kata terakhir ini, yaitu nutfah, adalah suatu kesalahan dan bukan bagian
dari hadits tersebut. Al-Qadhah menuliskan,
Kata nutfah telah salah ditambahkan dalam matan. Hal tersebut tidak
disebutkan disebutkan di salah satu sumber sunnah yang ada. Namun,
kata tersebut ditemukan dalam kitab-kitab para penulis selanjutnya,
Islamic Online University Hadits 102
426
seperti pada hadits ke empat dari 40 hadits Arbain Imam an-Nawawi.
Sepertinya hal tersebut disebutkan untuk membuat kaliamatnta menjadi
jelas dan, kemudian, setelah itu orang-orang berpikir bahwa itu
merukapan bagian dari hadits dan memasukkannya seperti itu. Pada
kenyataannya, keberadaan kata tersebut dalam hadits ini mengubah
makna haditsnyy dengan berbagai cara. Sementara teks asli dari hadits ini
membuatnya jelas bahwa janin berkembang melewati tiga tahap (nutfah,
alaqah, dan mudhghah) dalam 40 hari pertama. Penambahan kata
tersebut memberikan makna yang berbeda. Menurut narasi yang salah,
tahap-tahap tersebut berlangsung dalam empat bulan pertama. Ini jelas
dari teori sains modern bahwa hal seperti itu tidak benar. Hadits ini juga
membuktikan satu dari sekian banyak “keajaiban” ilmiah yang ditemukan
oleh seseorang dalam hadits dengan riwayat yang shahih.
1
Ini mengejutkan para ulama yang menulis komentar dan catatan kaki pada hadits 40 An
nawawi tersebut tidak pernah menyebutkan bahwa kata ini tidak ditempatkan dengan benar.
Bahkan ibn Muhammad, yang karyanya semata-mata merupakan penelitian tentang riwayat
hadits dari hadits arba’in, gagal dalam mencatat point tesebut. Penulis secara pribadi memeriksa
semua referensi di berbagai tempat dalam Sahih bukhari, Sahih Muslim, Musnad Ahmad dan
karya lainnya yang cantumkan dalam catatan kaki Syuaib al-Arnaut untuk kitab Jaami al-Ulum
wa al-Hikam karya Ibnu Rajab. Di dalamnya tidak menyebutkan kata nutfah.
2
Bagi sebagian
pembaca hal ini mungkin tampak seperti sebuah kekeliruan kecil. Namun, bagi orang-orang
yang familiar dengan kitab-kitab hadits, bahkan perbedaan yang tidak begitu berarti dalam
narasinya, yang tidak mengubah makna dari hadits tersebut, dijelaskan secara teratur. Dalam
kasus ini, kekeliruan tersebut dapat mengubah makna dari hadits ini secara substansial.
Dengan kata yang hilang ini, hadits itu dapat dipahami dengan cara berikut:
Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani
selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari,
kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari.Oleh karena itu, semua tahapan
1
Al-Qadhah, hal. 25-26
2
Lihat Arnaut dan catatan kaki Bajis untuk Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal. 153. Salim al-Hilal dalam Iqab al-Himan
al-Muntaqa min Jami al-Ulum wa al-Hikm (al-Dammam: Dar Ibnu al-jauzi, 1992), hal. 83 juga hanya merujuk pada
al-Bukhari dan Muslim tanpa membuat perhatian dari perbedaan ini. Demikian pula, dalam al-Sahih al-Jami al-
Saghir Albani (jilid 1, hal. 313) menyatakan bahwa adanya kata nuftah hanya dalam riwayat yang dinukil oleh Abu
Awana dari Wahab bin Jarir dari sumber Shuba. Kemungkinan besar, ini adalah penjelasan yang diberikan oleh
salah satu perawi tetapi tidak membentuk bagian dalam hadits itu, sudah jelas dari semua riwayat yang asli tersebut.
Secara kebetulan, terjemahan Siddiq dalam haditst ini (jilid 4, hal. 1391) aneh dan yang terpenting, tidak konsisten
dengan setiap versi dari Sahih Muslim yang penulis telah lihat. Allah lebih mengetahui.
Islamic Online University Hadits 102
427
tersebut berlangsung selama 40 hari pertama. Cara memahami hadits ini tidak sesuai dengan apa
yang dipahami saat ini “fakta ilmiah” tetapi, jauh lebih penting, harus betul betul sesuai dengan
narasi lain yang berkaitan dengan topik ini.
1
Sebagaian besar ulama dan ahli tafsir hadits memahami hadits ini bahwa ketiga tahapan
perkembangan janin berlangsung selama 120 hari. Hal ini menuntun mereka pada suatu
kesimpulan bahwa ruh ditiupkan ke dalam rahim setelah masa tersebut. Kesimpulan ini, pada
gilirannya, menuntun pada kesimpulan fiqih penting lainnya yang harus di catat kemudian. Pada
kesimpulan berikut ini, pendapat mayoritas ini tidak harus diikuti. Namun, hal tersebut akan
disebutkan nanti. Masalah dengan penafsiran ini adalah seseorang harus melakukan beberapa
alasan yang rumit untuk membenarkan penjelasan lain dari topic ini, sebagaimana yang
dikemukakan di bawah ini.
Takhrij
Hadits ini berasal dari Abdullah ibn Mas’ud, dengan beberapa kata yang sedikit berbeda
tetapi semuanya tanpa kata nutfah, oleh Imam al-Bukhari dalam beberapa sahihnya, Imam
Muslim, Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Tirmidzi, ibn Majah dan banyak masih banyak lagi.
Hadits ini juga mendukung penjelasan dari Anas bin Malik (diriwayatkan oleh Imam Muslim),
Jarir(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad), ibn Umar (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la), Aisyah
(diriwayatkan oleh Al-Bazzar) dan Huzhaifah ibn Asid (diriwayatkan oleh Imam Muslim).
2
Pendapat ini berdasarkan pada kata-kata asli dari hadits ini seperti yang ditemukan dalam
Sahih al-Bukhari. Perbedaan dalam kata umumnya terjadi pada bagian awal hadits. Terjemahan
dalam al-Bukhari menyebutkan,
1
Perhatikan bahwa ada beberapa riwayat yang secara jelas menyatakan bahwa ketiga tahapan ini, begitu juga
dengan yang selanjutnya, masing-masih butuh waktu empat puluh hari. Namun, riwayat yang lemah tidak dapat
digunakan sebagai dalil dan karena itu, tidak relevan. Ini dapat dikutip sebagai pendapat yang lebih jauh terhadap
kesimpulan al-Khudair bahwa riwayat yang lemah dapat digunakan untuk mendukung satu kemungkinan satu
makna atas makna lainnya.
2
Lihat ibn Muhammad, hal. 60-64.
Islamic Online University Hadits 102
428
“Dari Abu ‘Abdir-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan kepada kami, dan beliau adalah ash-Shadiqul Mashduq
(orang yang benar lagi dibenarkan perkataannya), beliau bersabda,”Sesungguhnya seorang dari
kalian disempurnakan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah
(bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) seperti itu pula.
Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula. Kemudian seorang Malaikat
diutus kepadanya ….
Pembahasan Umum Tentang Hadits Ini
Hadits ini adalah hadits yang penting dan penuh makna yang menjelaskan tentang
proses penciptaan manusia. Sebagaimana yang akan dijelaskan dalam pembahasan ini, ada
banyak pelajaran yang bisa dipelajari dari proses kelahiran manusia. Kedua, hadits ini juga
mengarahkan untuk beriman pada Qadar dan bahwa Allah memiliki ilmu tentang apa yang
akan dilakukan oleh setiap orang di dunia ini.
Perawi: Abdullah bin Mas’ud
Abu Abdul Rahman Abdullah ibn Mas’ud (wafat 32 H / 652 M), dikenal dengan anama
ibn Umm Abd, berasal dari keluarga yang sangat miskin. Beliau adalah orang yang keenam
memeluk agama Islam. Ibunya juga adalah seseorang yang sangat awal memeluk Islam. Beliau
Islamic Online University Hadits 102
429
adalah yang orang pertama yang secara terang-terangan membaca al-Qur’an di kota Makkah.
Beliau hijrah ke kota Habsyi dan kemudian ke Madinah. Beliau ikut serta dalam semua
peperangan Nabi . Beliau mendapat keuntungan menjadi orang yang sangat dekat dengan
Nabi dan, oleh karena itu, beliau mengetahui beberapa aspek kepribadiannya yang tidak
diketahui oleh orang lain. Beliau wafat di Madinah pada usia 60 tahun.
Beliau meriwayatkan 848 hadits tetapi beliau sangat dikenal atas ilmunya tentang al-
Qur’an. Rasulullah bersabda, “Ambillah (belajarlah) al-Qur’an dari empat orang: dari
Abdullah (ibn Mas’ud), Salim dengan nama panggilan (kunyah) Abu Hudhaifah, Muadz bin
Jabal dan Ubay bin Kaab.” Jika seandainya ada yang hanya menyebutkan nama Abdullah, maka
yang dimaksudkan adalah Abdullah bin Mas’ud. Dia diberikan jabatan di Kufa dan menetapkan
pondasi untuk sekolah fiqih orang-orang Kufa. Ketika meriwayatkan hadits dia kerapkali akan
gemetar dan berkeringat karena takut membuat kesalahan pada perkataan Nabi .
1
Rasulullah dan beliau adalah seorang yang jujur, lagi
terpercaya, menceritakan kepada kami:
As-Sadiq () adalah orang yang jujur dalam segala hal yang dia katakan. Sifat dari
Nabi ini adalah sesuatu yang diketahui dengan baik sebelum beliau menerima wahyunya
yang pertama. Bahkan, orang-orang kafir Quraisy tetap menolak untuk beriman pada beliau
meskipun mereka tidak dapat menjelaskan bagaimana mungkin seorang yang tidak akan
berbohong atau tentang manusia yang tidak akan berbohong mengenai Allah atau berbohong
mengenai manusia menerima wahyu dari Allah .
Al-Masduq () berarti bahwa beliau adalah seorang yang dipercaya. Kenyataannya,
apa yang beliau katakan dan apa yang diturunkan padanya adalah untuk diyakini karena Allah
mengabulkan apa yang beliau telah terima sebagai wahyu. Jelas, Ibnu Mas’ud menyebutkan
1
Pembaca mungkin memperhatikan bahwa Abdullah bin Masud bukanlah salah satu dari “empat Abdullah” yang
telah disebutkan pada pembahasan Abdullah bin Umar. Ini karena Abdullah bin Mas’ud meninggal jauh lebih
dahulu daripada keempat lainnya tersebut dan karena itu, dia telah meninggal pada saat istilah ini mulai digunakan
yang menunjukkan pada kelompok Abdullah itu. meskipun itu hanya dugaan, penjelasan di atas sangat sesuai dan
tidak ada alasan yang kuat untuk menolaknya. Allah lebih mengetahui.
Islamic Online University Hadits 102
430
keduanya sebagai penekanan, karena sifat yang pertama seharusnya mengarahkan langsung pada
sifat yang kedua.
Pertanyaan muncul seperti mengapa Abdullah bin Mas’ud memulai hadits ini dengan
menjelaskan Nabi seperti itu. Salah satu alasan yang diberikan adalah bahwasanya hadits
ini mengandung beberapa informasi dan fakta-fakta yang mengherankan yang orang-orang
mengklaim ilmu-ilmu pengobatan pada masa itu mungkin mencoba untuk menyangkal dan
menolak. Ini berhubungan dengan sesuatu yang mereka tidak memiliki ilmu yang lengkap.
Bahkan, yang mereka semua bisa ikuti adalah dugaan. Jadi pada dasarnya, Ibnu Mas’ud sedang
mengatakan, “Terlepas apakah orang-orang seperti itu bisa menerima apa yang Nabi telah
katakan, beliau adalah seorang yang jujur dan beliau adalah seorang yang harus dipercayai.”
1
Secara khusus, hadits ini menggambarkan pembentukan janin secara bertahap. Di masa
Aristoteles dianggap bahwa bayi telah sepenuhnya terbentuk di saat-saat awal dan hanyalah
tumbuh di dalam rahim. Pemikiran tentang tahapan-tahapa tersebut adalah sebuah konsep yang
cukup baeu. Albar menulis,
Konsep pembentukan embrio manusia secara bertahap dari cara yang
sederhana hingga yang lebih kompleks adalah sebuah perkembangan
yang benar-benar baru dalam pengetahuan manusia yang pertama kali
diletakkan oleh Wolf pada tahun 1839.
2
Oleh karena itu, perkataan pembuka semacam ini sangat tepat dengan hadits ini. Secara
keseluruhan, sikap ini juga merupakan sesuatu yang sangat penting. Nabi menerima wahyu
dari Allah dan diberi petunjuk oleh Allah . Tidak ada ruang untuk meragukan apapun yang
beliau katakan, terlepas dari topiknya. Allah tidak akan membiarkan beliau membuat
kesalahan dan menyesatkan orang-orang. Ini adalah sebuah penghinaan kepada Allah sendiri.
1
Ibnu Hajar tidak terkesan dengan penjelasan ini. Dia mengatakan bahwa ada hadits lainnya dari Sahabat yang lain
yang tidak berisi informasi-informasi yang mengherankan seperti itu dan mereka juga memulai hadits-hadits
mereka dengan ucapan-ucapan ini. (lihat Ibnu Hajar, Fath, jilid 13 hal. 313.) Itu pastinya mungkin saja benar
tetapi, pada saat yang sama, itu tidak bertentangan dengan fakta bahwa Ibnu Mas’ud menyebutkan ucapan itu di
awal hadits ini sedangkan dia tidak menyebutkannya ketika menceritakan banyak hadits lainnya. Meskipun
2
Muhammad Ali Albar, Perkembangan Manusia seperti yang Diturunkan dalam al-Quran dan Hadits (Jeddah:
Saudi Publishing and Distributing House, 1989), hal. 12. Siapapun yang tertarik pada topik ini akan disajikan
dengan baik untuk membaca kitab kecil namun berisi keterangan ini.
Islamic Online University Hadits 102
431
Sayangnya, disebabkan kemajuan ilmu modern saat ini, orang-orang memiliki kecenderungan
untuk melupakan bahwa ada perbedaan yang besar antara teori ilmiah dan fakta yang dibuktikan.
Kebanyakan dari apa yang orang-orang yakini dan terima hari ini tidak lebih dari sekedar teori
dan hipotesis yang tidak dapat dibuktikan dengan pasti. Bahkan, dalam satu abad atau lebih,
teori-teori ini disingkirkan demi teori-teori yang lebih kuat. Faktanya, semua proses ini terjadi
setiap hari dalam bidang sains.
Apabila Nabi telah mengatakan sesuatu atau jika sebuah ayat dalam Quran
menyatakan sesuatu, maka itu pastilah benar. Jika itu nampak tidak sama dengan kenyataan
persepsi seseorang dan “fakta ilmiah”, maka baik orang yang telah salah memahami hadits atau
ayat maupun persepsi seseorang tentang kenyataan tidak benar. Bagaimanapun juga, tidak ada
ruang untuk meragukan Nabi karena beliau adalah, orang yang jujur, orang yang harus
diyakini, sebagaimana yang Ibnu Mas’ud nyatakan. Tidak mungkin ada apapun yang ada di
dunia ini yang bertentangan dengan apa yang telah diturunkan dari Allah . Ini karena makhluk
ciptaan ini dan wahyu yang Nabi terima keduanya datang dari sumber yang sama: Allah .
Allah Maha Mengetahui dan yang Maha Benar dalam ucapan-Nya. Sebab itu, tidak akan
pernah ada pertentangan apapun antara sesuatu yang merupakan sebuah kenyataan dalam dunia
secara lahiriah dan apa yang Allah telah turunkan kepada setiap nabi-Nya.
Islamic Online University Hadits 102
432
“Sesungguhnya, setiap kalian dikumpulkan
penciptaannya diperut ibunya selama empat puluh hari.
Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama
empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi segumpal
daging selama empat puluh hari.”
Tahapan Perkembangan Manusia
Hadits Nabi ini menggambarkan beberapa perbedaan tahapan perkembangan manusia.
Sebagaimana yang akan diperlihatkan kemudian, banyak pelajaran yang dapat diperoleh dari
tahapan-tahapan yang berbeda ini. Inilah mengapa Allah menyebutkan semua itu pada tempat
yang berbeda dalam al-Quran dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga menyebutkannya dalam
hadits yang berbeda, Allah lebih mengetahui. Faktanya, dalam satu tempat dalam al-Quran, al-
Hajj ayat 5, Allah menyebutkan tiga tahapan pertama dari perkembangan janin yang hadits ini
maksudkan:
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah)
Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian
dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak
sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu.” (al-Hajj 5).
Di tempat lainnya dalam al-Quran, Allah menyebutkan tujuh tingkatan berbeda dari
penciptaan dan perkembangan yang manusia telah lalui:
Islamic Online University Hadits 102
433
“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu
Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (al-Mu’minun 12-14).
“dikumpulkan penciptaannya”
Setelah sperma laki-laki memasuki tubuh wanita, sperma tersebut kemudian bercampur
dengan sel telur di dalam rahim ibu. Al-Qurthubi menyatakan bahwa ini mungkin menunjukkan
sperma yang memasuki tubuh dari wanita dengan kekuatan dan dorongan dan kemudian harus
menempuh beberapa waktu sebelum mencapai tempat di mana sel telur itu berada. Sebab itulah,
keduanya dikumpulkan penciptaannya di tempat dan waktu tersebut.
Orang-orang yang berkomentar pada hadits ini menyatakan bahwa ucapan ini
menunjukkan keduanya dikumpulkan bersama dan dijaga atau dipelihara.
1
Ini juga adalah sebuah
maksud yang penting dari hadits tersebut.
Albar menggambarkan seluruh proses setelah sperma memasuki tubuh perempuan.
Seseorang akan melihat bagaimana keduanya, sel telur seseorang dan sperma seseorang,
dikumpulkan bersama dengan kehendak dari Allah dan bagaimana Allah membuat semua itu
seperti dilindungi dan dijaga. Albar menulis,
1
Al-Haitami, Fath, hal. 95.
Islamic Online University Hadits 102
434
Sperma dan ovum keduanya tertampung di dalam tuba Falopi, yaitu,
keduanya memperoleh kemampuan untuk pembuahan. Masing-masing
sekitar 400 sperma yang mencapai ovum, tetapi hanya satu dari 400
sperma itu yang dipilih oleh Tuhan untuk membuahinya. Segera setelah
sperma menyatu dengan ovum dan melepaskan materi genetik yang
tersimpan di kepalanya, ovum membentuk sebuah dinding tebal yang
tidak akan membolehkan sperma-sperma selanjutnya untuk masuk. Ini
jelas bahwa satu sperma dari jutaan dan mungkin miliaran sperma yang
dipilih untuk pembuahan ovum. Demikian pula, satu sel telur dipilih
yang matang dari ribuan yang nantinya akan mati setiap bulan dalam
setiap siklus.
1
“di dalam perut ibunya”
Kata yang Nabi gunakan dalam hadits ini adalah batn (). Ini berarti perut atau
bagian perut. Tentu saja, ini diketahui bahwa tempat dimana janin berada bukanlah apa yang
mungkin disebut dengan perut. Dalam bahasa Arab, ini dikenal dengan rahim atau kandungan.
Tetapi kandungan adalah bagian dari seluruh daerah yang dapat merujuk kepada “perut”. Sebab
itulah, dalam hal ini, ini adalah sebuah contoh menyatakan sesuatu sementara maknanya
hanyalah bagian dari sesuatu itu. maksudnya, perut yang disebutkan tetapi sebenarnya yang
dimaksud adalah kandungan. Ini adalah sesuatu yang umum dalam bahasa Arab. Selain itu,
dalam riwayat lainnya dari hadits ini, kata rahim () yang secara jelas digunakan.
2
Asal dari manusia dan hubungan keluarga sangat penting dan setiap manusia memiliki
kewajiban terhadap orang-orang yang berhubungan dengan dia. Kata untuk kandungan, rahim,
itu sendiri berkaitan dengan kata rahmah, yang berarti kasih. Ini karena orang-orang memiliki
kasih terhadap satu sama lain disebabkan hubungan mereka melalui rahim atau hubungan darah.
Ini juga berkaitan dengan nama Allah ar-Rahman (yang Maha Pengasih). Bahkan, sebuah
hadits dari Nabi menyatakan,
1
Albar, hal. 45
2
Lihat Ibnu Hajar, Fath, jilid 13, hal. 316.
Islamic Online University Hadits 102
435
Sesungguhnya, (nama) rahim (ar-rahim) itu berakar (kata) dari ar-Rahman (yang Maha a
Pengasih). Allah berfirman, “Barangsiapa menyambungmu, maka Aku menyambungnya dan
barangsiapa memutusmu, maka Aku memutusnya.”” (Hadits Riwayat Bukhari.)
“selama empat puluh hari”
Tahapan pertama dalam perkembangan manusia, yang telah jelas dari al-Quran, adalah
tahapan menjadi sebuah nutfah. Secara harfiah, kata ini bermakna “setetes cairan.” Namun,
seperti yang Albar telah jelaskan, kata tersebut digunakan dalam arti-arti berbeda dalam al-
Quran. Arti tambahan yang berbeda ini ada tiga:
Pertama, nutfah laki-laki atau gamet (sel kelamin) laki-laki. Ini mengacu pada ayat al-
Quran berikut ini,
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?
Bukankah Dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), Kemudian mani itu
menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, Lalu Allah
menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat)
demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyamah 36-40).
Islamic Online University Hadits 102
436
Ayat lainnya menyatakan,
“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. Dari air mani,
apabila dipancarkan.” (an-Najm 45-46). Lagi, Allah berfirman,
“Maka Terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang
menciptakannya, atau kamikah yang menciptakannya?” (al-Waqiah 58-59).
Mengomentari ayat-ayat ini, Albar menulis,
Jenis kelamin anak yang baru lahir ditentukan oleh laki-laki. Ini secara
pasti menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan dibentuk dari tetesan
cairan dari semen yang telah dikeluarkan... Kita sekarang mengetahui
bahwa jenis kelamin dari anak yang baru lahir ditentukan oleh sperma
yang akan membuahi ovum. Apabila sperma itu membawa kromosom X,
membuahi sebuah ovum (yang selalu mengandung kromosom X),
keturunannya perempuan, sedangkan jika sperma yang membuahi
mengandung kromosom Y, keturunannya laki-laki...
Poin penting yang kedua, yang secara jelas dinyatakan dalam al-Quran
yang Suci adalah bahwasanya hanya sebuah bagian kecil dari cairan mani
yang ikut serta dalam membentuk embrio... [Contohnya, Allah
berfirman di atas], “Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan
(ke dalam rahim)”... Kita mengetahui sekarang bahwa sperma hanyalah
berupa 0.5 persen dari jumlah air mani yang dikeluarkan... Nabi 
berkata, “Bukanlah dari seluruh cairan (yang dikeluarkan) itu manusia
diciptakan, tetapi hanya dari sebuah bagian kecil dari itu.” (Hadits
Riwayat Muslim.)
1
Yang kedua berasal dari nutfah perempuan. Dalam surah al-Insan, ayat 2, yang
menyebutkan nutfat amsaj atau setetes air mani yang bercampur. Ini menunjukkan adanya
sumber nutfah perempuan. Faktanya, ini ditafsirkan oleh Ibnu Abbas yang bermakna kedua
1
Albar, hal. 58-59.
Islamic Online University Hadits 102
437
nutfah laki-laki dan perempuan.
1
Albar menyatakan bahwa ini tidak secara tegas disebutkan
dalam al-Quran tetapi ini dinyatakan pada sebuah hadits dalam musnad Ahmad, dimana Nabi 
berkata kepada seorang Yahudi bahwa manusia diciptakan dari kedua nutfah laki-laki dan
perempuan. Albar kemudian berkata, “Ini adalah sebuah wahyu yang sangat menakjubkan,
karena baru belakangan ini kami [dalam bidang kedokteran] mengetahui bahwa laki-laki dan
perempuan mengambil bagian bersama-sama untuk pembentukan zigot manusia (atau hewan).
2
Pemakaian ketiga untuk kata nutfah yang menarik di sini, dimana nutfah laki-laki dan
perempuan bercampur di dalam rahim ibu. Inilah yang para ilmuwan saat ini sebut dengan tahap
“performasi”.
3
Menurut Ibnu Athir, potongan hadits ini dapat dipahami dengan satu dari dua
cara: Baik nutfah itu tetap berada di dalam rahim selama empat puluh hari ataupun nutfah itu
tumbuh dan berkembang selama masa itu sampai siap untuk masa yang selanjutnya.
4
Penafsiran
yang terakhir lebih sesuai dengan apa yang sepertinya merupakan fakta ilmiah.
“Kemudian berubah menjadi sesuatu yang menempel (alaqah) selama
masa yang sama tersebut.”
Tahap selanjutnya dari perkembangan manusia yang disebutkan oleh Nabi adalah
alaqah. Albar mendefinisikan alaqah (atau alakah sebagaimana dia menulisnya) dengan cara
berikut ini,
Kata bahasa Arab Alakah
5
secara harfiah berarti menempel atau melekat
pada sesuatu yang lain. Kata itu juga berarti seekor lintah. Pengobatan
lintah dikenal jahat karena cirinya menempelkannya ke kulit dimana
lintah itu menghisap darah, sebuah fenomena yang seringkali digunakan
dalam pengobatan sebagai obat (menumpahkan darah). Itu juga memiliki
makna yang jarang digunakan dalam bahasa Arab yaitu darah yang
menggumpal atau membeku.
Albar kemudian menguraikan jenis berbeda dari yang melekat tersebut yang terjadi
setelah masa nutfah. Dia menyimpulkan pembahasannya yang panjang dengan mengatakan,
1
Albar, hal. 59.
2
Albar, hal. 59.
3
Albar, hal. 60-61, mengutip beberapa ahli pada topik ini. Namun, inilah batas antara fakta ilmiah dan teori mulai
menjadi gelap untuk banyak orang.
4
Ibnu al-Athir dalam Ibnu Hajr, Fath, jilid 13, hal. 315.
5
Dalam kitab Albar, dia menyebut alaqah “Alakah
Islamic Online University Hadits 102
438
Untuk menyimpulkan kami menemukan dari hari ke 7 sampai hari ke
21 tiga proses yang berbeda yang mana melekat adalah ciri yang paling
dominan.
(1) Dari hari 7, implantasi (penanaman) blantosis
1
terjadi. Proses ini
menjadi sepenuhnya tertanam pada hari kesepuluh.
(2) Villi korionik
2
muncul untuk pertama kali pada hari ke 13 dan 14,
dan segera menutupi seluruh blantosis yang melekatkan bola tersebut
seperti sebuah susunan ke uterus (rahim) dengan
(3) Tangkai penghubung menghubungkan embrio yang baik (perisai
embrio) dengan lapisan-lapisannya yang benar, kantung ketuban dan
kantung kuning ke bola
Dengan demikian kami menemukan 3 cara berbeda dari pelekatan dan
penempelan perkembangan pembuahan ovum ke rahim ibu. Tidak ada
kata yang lebih baik untuk tahap ini, yang menjelaskannya dengan fasih
selain dari kata Qurany Alakah.
3
“Kemudian berubah menjadi seperti segumpal daging selama masa yang
sama tersebut.”
Tahap selanjutnya adalah mudghah. Ini telah disebutkan baik dalam al-Quran maupun
hadits. Tentang tahap ini, Albar menulis,
1
Blantosis adalah “bola berongga dari sel yang merupakan sebuah tahapan awal dalam perkembangan embrio, kira-
kira setara dengan blastula dari kelompok binatang lainnya.” Lihat The Hutchinson Dictionary of Science (Kamus
Ilmiah Hutchinston) pada The Learning Company for Greater Knowledge, Kamus Digital [Software Komputer]
(Cambridge, MA, 1997).
2
Korion adalah yang paling luar dari tiga membran yang membungkus embrio dari reptil, burung, dan mamalia;
amnion adalah membran paling dalam” [Kamus Ilmiah Hutchinson]. Villus (jamak dari villi) adalah “(a): salah
satu proses menit papiler yang kurang lebih tebal menutupi dan memberi tampilan seperti beludru ke permukaan
lendir membran dari usus halus dan menyediakan penyerapan nutrisi dan masing-masing memiliki sebuah lakteal
akhir yang tidak terlihat yang dikelilingi oleh darah kapiler dan ditutupi dengan epitel. (b): salah satu proses
percabangan dari permukaan korion dalam pengembangan telur atau blastosis dari kebanyakan mamalia yang
dibatasi dengan daerah tertentu atau tersusun dengan menyebar dan di atas bagian permukaan menjadi vaskular
dan membantu membentuk plasenta.” Lihat Webster’s Medical Desk Dictionary (Kamus Kedokteran Webster)
pada The Learning Company for Greater Knowledge, Kamus digital [Software Komputer] (Cambridge, MA,
1997).
3
Albar, hal. 67-68.
Islamic Online University Hadits 102
439
Mudgha
1
dalam bahasa Arab berarti segumpal daging, sesuatu yang telah
dikunyah. Yusuf Ali dalam tafsir al-Qurannya memilih kata sepotong
daging yang tidak menerjemahkan kata Mudgha dengan tepat.
Muhammad Assad [sic], Maurice Bucaille dan lainnya telah memilih
terjemahan yang benar, yaitu seperti segumpal daging.
2
Kembali lagi, Albar melanjutkan membahas perkembangan janin ini dengan
beberapa rincian, lengkap dengan penjelasan-penjelasan. Selama masa ini, ada
perkembangan-perkembangan yang dikenal dengan somit.
3
Dari perkembangan ini
banyak rangka aksial dan otot akan berkembang. Sebab itulah, semua itu terlihat
seperti lekukan atau benjolan dengan jumlah besar yang tersebar secara merata.
Dengan kata lain, semua itu lebih tepatnya seperti sepotong daging yang telah digigit
dan memiliki tanda-tanda gigi yang tersisa padanya. Semua proses ini terjadi dan
berakhir pada pekan keenam atau 42 hari setelah pembuahan.
Hadits berbeda dari Nabi menekankan empat puluh hari ganjil pertama dari
pembuahan. Termasuk hadits khusus ini ketika dipahami tanpa kata tambahan yang
ditemukan dalam teks Hadits Arbain an-Nawawi tersebut. Ibrahim menjelaskan
keutamaan masa 40 hari ganjil pertama ini yang merujuk pada hadits ini. Dia
menulis,
Tahap embrio dimulai dua pekan setelah pembuahan. Pada waktu ini ada
organ yang berbeda. Semua organ dalam seseorang akan ada dalam
bentuk yang belum sempurna di enam minggu akhir [42 hari]. Makhluk
yang mirip itu disebut dengan janin dalam kurun waktu dari delapan
pekan sampai kelahiran, selama tahapan itu ada pertumbuhan yang terus
menerus atau berkembang tetapi tidak ada “yang baru ditambahkan”.
Inilah masa persiapan kelahiran yang sudah dimulai.
4
1
Dalam kitab Albar, dia menyebut mudhgah, “Modgha”.
2
Albar, hal. 71.
3
Somit adalah “salah satu dari untaian linear dari ruas-ruas yang pada dasarnya sama dimana tubuh dari invertebrata
dan vertebrata yang lebih tinggi dapat dibagi dan biasa terjadi. Yang dapat dibedakan dengan jelas dalam embrio,
dapat dikenali dalam bentuk yang agak dirubah di berbagai invertebrata (seperti cacing annelida), dan dapat
dideteksi di vertebrata dewasa yang lebih tinggi hanya dalam susunan khusus yang tersusun dengan bagian-bagian
(seperti saraf kranial dan saraf spinal atau tulang belakang)” (Kamus Kedokteran Webster).
4
Abu Fadl Muhsin Ibrahim, Aborsi, Kontrol Kelahiran & Pengganti Orangtua: Sebuah Perspektif Islam (American
Trust Publication, 1989), hal. 74.
Islamic Online University Hadits 102
440
“Kemudian malaikat diutus padanya”
Di sini, Nabi  menggunakan kata, “malaikat, daripada “seorang malaikat”. Ini
menunjukkan bahwa tugas menjaga atau mengawasi janin ini adalah tugas dari malaikat tertentu.
Sudah pasti beberapa malaikat memiliki tugas-tugas tertentu, seperti bertugas menyampaikan
takdir Allah kepada janin tersebut.
Malaikat diutus setelah embrio telah melalui tahapan-tahapan yang dijelaskan di atas.
Poin ini akan dibahas dengan lebih detail secara singkat.
“dan dia meniupkan padanya roh.”
Disekitar penggalan hadits ini ada banyak pertanyaan penting yang butuh untuk
dibicarakan. Pertanyaan pertama adalah: Kapan tepatnya ini terjadi? Maksudnya, kapan malaikat
diutus ke rahim untuk meniupkan ruh ke dalam penciptaan dan mencatat perkara-perkara yang
dinyatakan dalam hadits ini? Pertanyaan kedua adalah: Apa sebenarnya roh atau ruh? Pertanyaan
kedua akan dibahas terlebih dahulu.
Apa sebenarnya roh atau ruh itu? Ruh atau roh adalah kehidupan dari seseorang. Allah
berfirman,
⧫❑➔⧫◆⧫➔
◼◆⧫◆
➔⬧
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku,
dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (al-Isra 85).
1
Ini adalah perkara yang
1
Harus diperhatikan bahwa ada perbedaan pendapat tentang ruh (“roh”) apa yang dimaksudkan dalam ayat ini. Para
ahli tafsir al-Quran menyebutkan enam pendapat berbeda, termasuk: (1) roh yang ditiupkan kepada manusia; (2)
malaikat khusus; (3) makhluk ciptaan Allah yang memiliki sifat-sifat seperti malaikat tetapi berpenampilan
manusia; (4) malaikat Jibril; (5) al-Quran itu sendiri; dan (6) Nabi Isa alaihissalam. Pendapat kedua diriwayatkan
dalam bentuk hadits dan sebuah perkataan dari Ali bin Abu Thalib. Ibnu Katsir menolak kedua hadits dan
perkataan ini karena aneh dan tidak dapat disetujui. Ibnu Qayyim menyatakan bahwa moyoritas ulama terdahulu
menyatakan bahwa ruh yang dimaksud bukanlah roh dari manusia. Sebaliknya, ini merujuk kepada malaikat yang
akan datang bersama Allah pada Hari Kiamat, seperti yang dimaksudkan dalam an-Naba 38. Ibnu Qayyim
mendukung pendapatnya dengan menyatakan bahwa ayat tersebut mengacu kepada sesuatu yang tidak diketahui
kecuali melalui wahyu. Namun, “roh” manusia bukanlah sesuatu yang tidak terlihat dan merupakan sesuatu yang
telah banyak dibicarakan oleh banyak orang disepanjang generasi. Al-Qasimi menyimpulkan dari konteks dari
ayat itu bahwa ruh di sini mengacu kepada al-Quran, pendapat kelima yang disampaikan di atas. Mayoritas ulama
Islamic Online University Hadits 102
441
betul-betul menakjubkan yang manusia harus terima. Bahkan dengan semua kemajuan dalam
ilmu sains, manusia masih tetap memiliki sedikit pengetahuan. Bahkan mengenai dirinya sendiri
dan apa yang membuatnya hidup, manusia berada dalam kerugian yang total. Sangat sedikit yang
diketahui tentang kerja dari jiwa itu sendiri. Diakui bahwa seseorang hidup ketika ruhnya
terhubung dengan tubuhnya dan dia mati ketika ruhnya meninggalkan tubuhnya.
Dalam karya terbaiknya pada keyakinan Islam yang benar, Ibnu Abu al-Izz memiliki
pembahasan yang panjang pada konsep ruh (“roh”, sumber kehidupan) dan nafs (jiwa). Berikut
ini adalah penyampaian ringkasan dari pembahasannya:
Orang-orang memiliki pandangan yang berbeda tentang sifat dari jiwa
(an-Nafs). Apakah itu adalah bagian dari tubuh atau salah satu
kebetulannya
1
? Atau apakah itu tubuh yang ditempatkan dalam tubuh
lainnya dimana jiwa bersemayam? Atau apakah itu merupakan zat
murni? Lagi, apakah itu sama dengan roh (ruh) atau berbeda?...
Sebagian orang berkata bahwa roh itu kekal. Namun, nabi-nabi Allah
setuju bahwa itu adalah makhluk yang tidak pasti, diciptakan, dibentuk,
diatur dan dipelihara oleh Allah . Salah satu prinsip dasar dari semua
agama kenabian adalah dunia itu tidak pasti. Ini juga adalah keyakinan
dari para Sahabat dan para Penerusnya. Setelah mereka, sebagian orang
yang memiliki sedikit ilmu al-Quran dan Sunnah mulai menyatakan
bahwa roh itu kekal. Mereka berkata bahwa roh adalah sebuah amr
(urusan) dari Allah dan karena itu tidak diciptakan. Mereka
berpendapat dari ayat dimana Allah menganggap roh itu berasal dari-
Nya, seperti, “Katakanlah, roh itu termasuk urusan dari Tuhan-ku” (al-
Isra 85) dan “Aku telah meniupkan roh-Ku ke dalamnya (al-Isra 29).
Mereka berkata bahwa Allah  menganggap roh berasal dari-Nya sama
seperti Dia menganggap ilmu, kekuatan, pendengaran, penglihatan, dan
tafsir mendukung pandangan bahwa ruh merujuk kepada roh” dari manusia. Ini adalah kesimpulan dari at-
Tabari, al-Baghawi, Ibnu al-Jauzi, Ibnu Atiyya, Abu Hayan, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar (seperti yang dinukil oleh
Abdul Rahim) dan al-Alusi. Ini sepertinya menjadi pendapat yang benar, Allah lebih mengetahui. Cf.
Muhammad Ibnu Qayyim, ar-Ruh fi al-Kalam ala Arwah al-Amwat wa al-Ahya (Riyadh: Dar Ibnu Taimiyah,
1992), jilid 2, hal. 517-518; Tafsir, jilid 5, hal. 125-126; Ibnu Jauzi, Zad, jilid 5, hal. 58; Abdul Haq Ibnu Atiyyah,
al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-Aziz (Berut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1993), jilid 3, hal. 481-482;
Muhammad Ibnu Yusuf Abu Hayyan, al-Bahr al-Mubit fi Tafsir (Makkah: al-Maktabah al-Tijariyah, n.d.), jilid 7,
hal. 106; Ibnu Katsir, Tafsir (Jamiah), jilid 3, hal. 68-69; as-Sayyid Abdul Rahim, catatan kaki untuk al-Mawardi,
jilid 3, hal. 270; Mahmud al-Alusi, Ruh al-Mani fi Tafsir al-Quran wa as-Saba al-Mathani (Kairo: Maktabah Dar
at-Turath, n.d.), jilid 15, hal. 151.
1
Kebetulan dalam filosofi Aristotelian berarti, “sifat-sifat yang tidak penting pada zat-zat dimana mereka terjadi.”
Lihat The New Enscyclopedia Britannica, jilid 25, hal. 584.
Islamic Online University Hadits 102
442
pertolongan berasal dari-Nya. Ada yang lainnya yang tidak dapat
membentuk pendapat apapun tentang hal ini.
Ahlus Sunnah wal Jamaah semuanya setuju bahwa roh tersebut
diciptakan. Kesepakatan mereka tentang hal ini telah diriwayatkan oleh
Muhammad Ibnu Nasr al-Marwazi, Ibnu Qutaybah dan lainnya. Bukti
bahwa roh itu diciptakan, adalah ayat yang satu ini, “Allah adalah
Pencipta dari segala sesuatu(ar-Rad 16). Ini adalah pernyataan umum
yang lengkap yang tidak terkhusus dalam bentuk apapun. Ini berlaku
untuk, antara lain, jiwa. Seseorang tidak dapat membaliknya dengan
mengatakan bahwa itu seharusnya berlaku untuk sifat-sifat Ilahi juga.
Karena, sifat-sifat Allah  adalah bagian dari Makhluk-Nya. Allah adalah
Allah yang berhak dengan semua sifat-sifat kesempurnaan. Ilmu-Nya,
kekuasaan-Nya, hidup-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, dan
semua sifat-sifat-Nya adalah bagian dari Ciptaan-Nya. Hakikat-Nya yang
memiliki hak dengan sifat-sifatnya adalah Pencipta; semua yang lainnya
adalah ciptaan. Ini dikenali dengan kepastian bahwa roh itu bukan Allah
bukan juga salah satu sifat-Nya; roh itu hanyalah salah satu dari
makhluk ciptaan-Nya...
Pandangan bahwa roh itu tidak diciptakan tidak dapat memperoleh
dukungan dari ayat, “Roh itu termasuk urusan dari Tuhan-ku.” Amr di
sini tidak bermakna perintah tetapi sesuatu yang diperintahkan (al-
ma’mur). Ini menggunakan verbal noun (kata benda) dalam artian objek
dari kata kerja yang cukup umum dalam bahasa. pendapat lain, yang
mengacu kepada fakta bahwa Allah menganggap roh itu berasal dari-
Nya, juga tidak benar. Hal-hal yang dianggap berasal dari Allah ada
dua macam: Pertama, sifat-sifat yang tidak ada pada diri mereka seperti
ilmu, kekuatan, perkataan, pendengaran, penglihatan, dan sebagainya.
Perkara-perkara ini berasal dari Allah karena sebuah sifat dianggap
berasal dari subjeknya. Yang kedua adalah hal-hal yang ada dalam diri
mereka, seperti rumah (bayt), onta betina (naqah), hamba (‘abd), utusan
(rasul) dan roh (ruh). Hal-hal ini dianggap berasal dari-Nya karena
benda-benda yang diciptakan dianggap berasal dari Penciptanya.
Anggapan itu hanya menekankan keutamaan dan kehormatan dari benda
yang dianggap berasal dan membedakannya dari benda lainnya dari
jenisnya...
Ada juga sebuah perbedaan pendapat tentang sifat yang penting dari roh.
Sebagian mengatakan itu adalah sebuah tubuh. Sebagian mengatakan itu
adalah sebuah kebetulan. Yang lainnya mengatakan bahwa mereka tidak
mengetahui apa itu, baik berwujud secara fisik maupun sebuah kebetulan.
Islamic Online University Hadits 102
443
Sebagian mengatakan bahwa roh tidak ada melainkan hanya empat
komponen.
1
Sebagian mengatakan bahwa itu adalah darah murni yang
bebas dari bau atau wangi yang tidak sedap. Sebagian mengatakan bahwa
itu adalah panas yang alami, yang merupakan kehidupan itu sendiri.
Sebagian mengatakan bahwa itu bukanlah gabungan sesuatu yang
berwujud fisik yang disebar melalui hidup hewan yang mendorong hidup
tersebut dan itu tidak dibagi menjadi inti dan tubuh, dan bahwasanya
segala yang ada dalam hidup hewan memiliki jenis roh yang sama. Yang
lainnya mengatakan itu adalah nafas yang dihirup keluar masuk. Dan
masih banyak pendapat lainnya.
Berkaitan dengan kata “manusia”, apakah itu mengacu hanya pada roh,
atau roh dan tubuh, atau keduanya bersama-sama atau salah satu dari
keduanya?... Yang benar adalah kata manusia berlaku untuk keduanya
dan juga dapat berlaku untuk salah satu dari keduanya tergantung pada
konteks...
Apa yang telah dibuktikan oleh al-Quran, sunnah, kesepakatan dari para
Sahabat dan pemikiran rasional adalah jiwa itu adalah sebuah tubuh dari
inti yang berbeda dari tubuh fisik yang terlihat. Itu adalah sebuah tubuh
dari cahaya dan sumber yang lebih tinggi. Itu sangat ringan, hidup, dan
bergerak. Yang dijalankan melalui anggota badan. Menyebar melalui
semua itu seperti air yang menyebar melalui mata air, atau seperti minyak
zaitun yang menyebar melalui pohon zaitun atau seperti api dalam batu
bara. Selama anggota badan sehat untuk menerima pengaruh dari tubuh
yang ringan (jiwa) tersebut, jiwa tetap di dalam tubuh tersebut dan
mendorong perasaan, gerakan, dan kehendak tubuh tersebut. Tetapi
apabila itu buruk, gabungan dari semua itu menjadi buruk, dan tidak lagi
menerima pengaruh tersebut, roh tersebut meninggalkan tubuh dan
menuju ke dunia dari roh tersebut.
Dalil untuk itu adalah perkataan Allah , “Allah memegang jiwa
(seseorang) pada saat kematiannya” (az-Zumar 42). Ini menyatakan
bahwa jiwa itu diberikan kematian, dijaga dan dikirim. Allah  juga
berkata, “Sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim
(berada) dalam kesakitan sakratul maut dan para malaikat memukul
dengan tangannya, (sambil berkata): Keluarkanlah nyawamu” (al-An’am
93). Ini menyatakan bahwa para malaikat memukulkan tangan mereka
untuk mengambil nyawa tersebut. Ini menggambarkan nyawa itu seperti
1
Dalam pengobatan Yunani dan Arab, tubuh manusia dianggap terdiri dari empat komponen. Ketika semua itu tidak
seimbang, tubuh tidak berfungsi dengan baik.
Islamic Online University Hadits 102
444
keluar. Ini juga menunjukkan bahwa nyawa itu disiksa pada hari itu dan
nyawa itu pergi ke Tuhannya. Selain itu, Allah berkata, “Dialah yang
menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu
kerjakan pada siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada
siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditetapkan” (al-
An’am 60). Ini menyatakan bahwa jiwa itu diambil pada malam hari dan
kemudian dikembalikan ke tubuh-tubuh mereka siang hari. Dan para
malaikat mengambil jiwa-jiwa itu pada saat kematian. Allah juga
berfirman, “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam
golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Surga-Ku” (al-Fajr
27-30). Di sini jiwa digambarkan kembali, masuk, dan diridai.
Nabi bersabda, “Ketika nyawa itu dicabut, mata menyaksikannya.”
1
Ini
menggambarkan nyawa itu dicabut dan penglihatan melihat itu. dalam
hadits dari Bilal, menyatakan, “Jiwa itu dicabut kapanpun Dia mau dan
dikembalikan padamu kapanpun Dia mau.
2
...
Inilah yang para Orang-Orang Saleh Terdahulu telah sepakati dan yang
pemikiran rasional yang menuntun seseorang. Mereka yang memiliki
pendapat berbeda hanya mengikuti anggapan yang salah dan
kesalahpahaman yang tidak benar yang tidak dapat, dengan cara apapun,
diambil bertentangan dengan apa yang dinyatakan dalam teks dari wahyu
dan pemikiran yang baik.
Mengenai pertanyaan apakah jiwa (nafs) dan roh (ruh) adalah dua hal
yang berbeda atau sama, pandangan yang benar adalah kata-kata itu
berarti hal yang berbeda, sebagian diantaranya sama dan sebagian
berbeda...
Mengenai pertanyaan apakah roh (ar-ruh) itu makhluk hidup atau bukan,
orang-orang memiliki perbedaan pandangan. Sebagian mengatakan
bahwa itu adalah makhluk hidup, karena itu adalah jiwa (nafs) dan setiap
jiwa mati. Allah berfirman, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa,
tetapi Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (ar-
Rahman 26-27), dan “Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah” (al-
Qasas 88). Orang-orang ini mengatakan bahkan ketika para malaikat
binasa, jiwa dari manusia pasti juga akan binasa. Yang lainnya
mengatakan bahwa roh-roh itu tidak binasa, karena mereka telah
diciptakan untuk ada selamanya; hanya tubuh yang binasa. Untuk
1
Diriwayatkan oleh Muslim
2
Diriwayatkan oleh Bukhari
Islamic Online University Hadits 102
445
mendukungnya, mereka mengutip hadits-hadits yang berbicara tentang
kenikmatan dan penderitaan yang roh akan alami setelah roh-roh tersebut
meninggalkan tubuh mereka sampai Allah memberikan pada mereka
tubuh yang baru.
Pandangan yang benar tentang masalah itu dapat dinyatakan seperti ini:
seseorang dapat memahami kematian dari jiwa berarti kepergiannya dari
tubuh, bukan penghancurannya. Dalam arti ini, jiwa tersebut adalah
makhluk. Tetapi apabila seseorang mengartikan bahwa itu binasa dan
sepenuhnya menghilang, maka itu bukanlah makhluk dalam arti tersebut.
Roh itu tetap hidup setelah kematian, dan memiliki kenikmatan dan
penderitaan...
Allah menyatakan tentang penduduk Surga, “Mereka tidak akan
merasakan mati di dalamnya, selain kematian pertama” (ad-Dukhan 56).
Kematian tersebut mengacu pada roh yang meninggalkan tubuh. Adapun
untuk penduduk Neraka, Allah berfirman, “Mereka menjawab: Ya
Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah
menghidupkan kami dua kali” (Ghafir 11), dan Allah  juga berkata,
“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu mati, lalu Dia
menghidupkan kamu! Kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia
menghidupkan kamu kembali” (al-Baqarah 28). Ayat-ayat ini
menunjukkan kepada kematian pertama, ketika manusia merupakan air
mani di dalam tulang sulbi ayahnya dan di dalam rahim ibunya. Allah
kemudian memberikan pada mereka kehidupan setelah itu dan kemudian
mematikan mereka. Dia kemudian akan memberikan pada mereka
kehidupan kembali pada Hari Kiamat. Itu tidak menunjukkan pada
mereka kematian dari roh-roh mereka sebelum Hari Kiamat, karena
dalam hal tersebut akan ada tiga kematian.
1
Kapan roh (ruh) itu ditiupkan ke dalam janin? Terkait tahapan-tahapan lain dari
perkembangan janin yang dibahas di atas, ini mungkin dengan peralatan canggih saat ini untuk
benar-benar menyaksikan perkembangan manusia di dalam rahim. Namun, sebagaimana yang
Ibnu Qayyim jelaskan, kapan tepatnya roh tersebut ditiupkan kepada manusia hanya dapat
diketahui melalui wahyu dari Sang Pencipta.
2
Tidak ada jalan untuk mengetahuinya hanya
1
Ibnu Abu al-Izz, jilid 2, hal. 562-571.
2
Ibnu Qayyim mengatakan bahwa inilah mengapa para ilmuan dan yang lainnya sangat kebingungan dalam perkara
ini. Syams ad-Din Ibnu al-Qayyim, at-Tibyan fi Aqsam al-Quran (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1982), hal.
210. Ibnu Qayyim sendiri menyimpulkan bahwa kejadian ini terjadi setelah 120 hari berdasarkan pemahamannya
pada hadits khusus dari Ibnu Mas’ud ini.
Islamic Online University Hadits 102
446
dengan menyaksikan apa yang terjadi di dalam rahim untuk mengetahui kapan roh tersebut
ditiupkan ke dalam janin.
Jawaban yang umum untuk pertanyaan ini adalah bahwasanya ruh itu ditiupkan ke dalam
manusia yang baru setelah 120 hari di dalam rahim. Beberapa ahli tafsir menyatakan bahwa ada
persetujuan dalam hal ini.
1
Namun, untuk kebanyakan ulama, jawaban ini secara lansung
ditentukan oleh pemahaman hadits dari Ibnu Mas’ud ini bahwa masa dari nutfah adalah empat
puluh hari, diikuti dengan empat puluh hari masa dari alaqah yang juga diikuti dengan empat
puluh hari masa dari mudghah. Tetapi penafsiran ini yang sepertinya benar.
Oleh karena itu, agar dapat menjawab pertanyan ini dengan benar, seseorang harus
mempelajari yang erat kaitannya dengan teks al-Quran dan hadits dari Nabi . Khususnya,
dalam Sahih Muslim, ada sejumlah hadits yang berkaitan. Dalam Kitab Qadar, Imam Muslim
meriwayatkan hadits berikut ini:
“[Dari Hudzaifah bin Usaid:] Seorang malaikat mendatangi nutfah
2
setelah air mani ini tinggal di
rahim selama 40 hari atau 45 hari. Malaikat ini bertanya: “Ya Rab, apakah dia menjadi orang
celaka ataukah bahagia?” Lalu jawabannya ditulis. “Ya Rab, dia laki-laki ataukah perempuan?”
lalu jawabannya ditulis. Ditulis pula amalnya, pengaruh amalnya, ajalnya, dan rizkinya. Kemudia
catatan itu ditutup, sehingga tidak dia tambahkan dan tidak mengurangi.
1
Al-Mudabaghi, hal. 98.
2
Itu mungkin masih disebut sebagai nutfah, karena masih menjaga bagian dari sifat-sifatnya, meskipun telah
melewati tahapan-tahapan lainnya.
Islamic Online University Hadits 102
447
“Jika air mani telah menetap di rahim selama empatpuluh hari atau empatpuluh malam, Allah
mengirim seorang malaikat yang membentuknya, dan menciptakan pendengaran, penglihatan,
kulit, daging dan tulangnya. Kemudian dia berkata, ‘Ya Rabb, dia laki-laki atau perempuan?’
maka Tuhanmu menetapkan apapun yang Dia kehendaki dan malaikat itu mencatatnya.
Kemudian dia berkata, ‘Ya Rabb, apa yang akan terjadi dengan ajalnya?’ Maka Tuhanmu
mengatakan apapun yang Dia kehendaki dan itu dicatat oleh malaikat. Kemudian dia berkata,
‘Ya Rabb, apa yang akan terjadi dengan rezekinya?’ Maka Tuhanmu menetapkan apa yang Dia
kehendaki dan dicatat oleh malaikat. Kemudian malaikat itu pergi dengan gulungan ditangannya.
Tidak ditambahkan apa pun ke dalamnya dan tidak pula dikurangi”
1
1
Mengomentari hadits ini, Albar menulis (hal. 74), “Ini diketahui dengan baik bahwa masa ini (pekan ke 6[42 hari])
memperlihatkan puncak dari organogenesis (proses pembentukan organ tubuh) dimana sistem pendengaran,
penglihatan, tulang, daging, dan kulit ditetapkan. Ini dengan cepat diikuti oleh perbedaan dari gonad (kelenjar
kelamin) menjadi testis atau indung telur, seperti yang Hadits tersebut nyatakan.”
Islamic Online University Hadits 102
448
Nutfah menetap di dalam rahim selama empat puluh malam. Kemudian malaikat datang
padanya. [Zuhair berkata, ‘Aku mengira beliau berkata, “yang menciptakannya.”] Malaikat itu
berkata, ‘Ya Rabb, apakah dia laki-laki atau perempuan?Kemudian Allah akan menjadikannya
laki-laki atau perempuan. Kemudian dia berkata, “Apakah dia akan sempurna atau gugur [secara
fisik]?’ Maka Allah akan menetapkannya sempurna atau gugur. Kemudian malaikat berkata, ‘Ya
Rabb, apa yang akan terjadi dengan rezekinya, ajalnya, dan sifatnya?’ Maka Allah menetapkan
apabila dia akan beruntung atau celaka.”
Tidak ada satupun dalam hadits ini yang secara tegas menyebutkan ruh atau roh manusia
dan kapan itu ditiupkan ke dalam janin. Namun, itu semua jelas bahwa malaikat datang ke dalam
rahim terjadi di sekitar empat puluh, empat puluh dua atau empat puluh lima hari atau malam. Ini
lebih lanjut mendukung penafsiran dari hadits ini bahwa semua tahapan ini disempurnakan
dalam empat pulah hari pertama dan kemudian malaikat dikirim ke dalam rahim untuk mencatat
perkara-perkara dari human ini.
Sebuah ayat yang terkait menyatakan,
⬧⬧◆◼
⬧◼✓ ▪➔
➔⧫⬧✓
 ➔◆◼
⬧◼⧫◆◼⬧⬧◼➔
⧫◆◼⬧⬧⧫☺
Islamic Online University Hadits 102
449
☺⬧→⧫❑⬧⬧⬧→➔☺⧫
➔⧫⧫⧫◆
◆⧫⧫⬧
⧫✓⬧
“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu
Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (al-Mu’minun 12-14). Berdasarkan
sejumlah ahli tafsir al-Quran, seperti at-Tabari, Ibnu Katsir dan ar-Razi, perkataan, “Kemudian
Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain, menunjukkan peniupan nyawa ke dalam
tubuh.
1
Dalam ayat ini, jelas bahwa peniupan nyawa ke dalam rahim ini terjadi setelah nutfah
berubah menjadi alaqah dan kemudian menjadi mudhghah dan bahkan setelah tulang-tulang
telah dilapisi daging. Sebab itulah, pertanyaan tentang kapan tepatnya ruh itu ditiupkan ke dalam
rahim masih tidak dapat ditentukan. Namun, ini secara pasti jelas bahwa itu terjadi setelah empat
puluh hari ganjil yang pertama.
Sebab itu, pertanyaan tersebut masih membingungkan. Albar merangkum beberapa
pandangan tentang pertanyaan ini,
Para ahli fikih yang menyatakan bahwa tahapan dari Nutfa, Alaka, dan
Mudgha semuanya dikumpulkan dalam empat puluh hari tidak
menentukan kapan nyawa itu ditiupkan ke dalam tubuh, mereka mencatat
bahwa itu pasti setelah empat puluh hari, dan setelah pembentukan organ
tubuh, termasuk organ kelamin.
Ibnu Qayyim memberikan pendapat berikut: “Apabila ini ditanyakan:
Apakah janin sebelum peniupan nyawa sampai padanya memiliki
penglihatan dan gerakan? Dijawab bahwa gerakan yang dimiliki seperti
pertumbuhan tanaman. Gerakan-gerakan dan penglihatannya tidak
disengaja. Ketika nyawa itu ditiupkan ke dalam tubuh, gerakan dan
1
Cf., Albar, hal. 136.
Islamic Online University Hadits 102
450
penglihatan tersebut menjadi disengaja dan ditambahkan ke jenis
kehidupan vegetatif sebelum peniupan nyawa tersebut.”
Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan pendapat yang sama ketika
membahas organ mana yang terbentuk terlebih dahulu. “Dia berkata, hati,
adalah letak dari makanan, dan pertumbuhan yang dibutuhkan pada
tahapan tersebut, yang bukan gerakan atau penglihatan yang disengaja.
Ini semua diperlukan ketika nyawa itu melekat pada tubuh.”
Ini cukup menarik menemukan keutamaan Ibnu Qayyim dan Ibnu Hajar
yang menghubungkan nyawa atau roh itu melekat pada tubuh dengan
munculnya gerakan-gerakan yang disengaja.
Ini akan mengingatkan pada bagian sebelumnya [tentang karya Albar]
(Mudgha dan pembentukan tulang) bahwa somit dibedakan ke dalam
sclerotom (atau pembentukan tulang) dan myotome (pembentukan otot),
pada pekan kelima, dan di pekan keenam limb bud (tunas ekstremitas)
muncul. Otot-otot kepala, leher, dan badan muncul dari pekan kedelapan
[56 hari], sedangkan otot-otot perineal muncul dari pekan kesepuluh [70
hari]. Gerakan yang disengaja tersebut pertama muncul dengan jelas pada
pekan keduabelas [84 hari], meski itu mungkin dimulai dari pekan
kedelapan.
1
Meski demikian, Ibnu Hajar menyebutkan sebuah hadit dari Ibnu Abbas yang
menyatakan, Setelah nutfah ada di dalam rahim selama empat bulan sepuluh hari, ruh itu
ditiupkan oadanya.” Apabila hadits ini sahih, maka ini adalah jawaban yang jelas dan pasti untuk
pertanyaan ini. Ini adalah pandangan dari Said bin al-Musayyab, Imam Ahmad dan ulama-ulama
terdahulu lainnya bahwa ruh ditiupkan ke dalam janin setelah empat bulan sepuluh hari
(jumlahnya 130 hari). Faktanya, seperti inilah mereka menjelaskan mengapa waktu menunggu
(iddah) untuk janda adalah empat bulan sepuluh hari.
2
Namun, Ibnu Hajar tidak memperjelas
apakah itu adalah hadits Nabi atau sebuah perkataan dari Ibnu Abbas. Ibnu Rajab
menerangkan hadits tersebut tetapi dia menyajikannya dalam sebuah yang menunjukkan bahwa,
pertama, itu adalah sebuah perkataan dari Ibnu Abbas dan, yang kedua, bahwasanya itu bukanlah
riwayat yang kuat.
3
Selain itu, penulisnya secara pribadi mencari hadits ini dengan kemampuan
1
Albar, hal, 137.
2
Ibnu Hajar, Fath, jilid 13, hal. 322.
3
Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal. 163.
Islamic Online University Hadits 102
451
terbaiknya dan tidak dapat menemukannya pada semua kitab-kita hadits terkemuka.
1
Sebagai
tambahan untuk hal tersebut, hampir semua ulama yang membahas masalah ini tidak merujuk
kepada hadits tersebut sama sekali. Allah lebih mengetahui.
Apakah peniupan ruh berarti permulaan dari kehidupan manusia? Tidak ada yang
tersirat baik itu dalam al-Quran maupun sunnah yang menyatakan bahwa peniupan ruh
menunjukkan penciptaan kehidupan seperti itu. Faktanya, seseorang dapat beranggapan bahwa
kehidupan telah dimulai, karena janin tumbuh dari satu tahapan ke tahapan selanjutnya dalam
proses perkembangannya, sebelum malaikat datang dan meniupkan ruh ke janin. Namun, jika ini
bukan kesepakatan ini sepertinya pendapat dari kebanyaka ulama bahwa peniupan ruh
menunjukkan penciptaan manusia yang baru. Muhammad Naim Yasin mendukung kesimpulan
ini dengan sejumlah pendapat. Satu kasus penting bahwa dia menunjukkan kasus dari bapak
manusia, Adam alaihissalam. Adam diciptakan dari tanah liat tetapi titik balik dari
penciptaannya adalah ketika ruh itu ditiupkan padanya. Contohnya, Allah berfirman,
⧫⬧◆⬧◼☺
✓
⬧⬧▪❑→⧫◆
❑➔⬧⬧⬧⧫
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan
manusia dari tanah”. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya
roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya”” (Sad 71-72).
Yasin juga menyatakan, untuk mendukung pemikiran bahwa itu adalah peniupan nyawa yang
merupakan kehidupan yang sebenarnya, bahwa ada sebuah kesepakatan bahwa kematian itu,
lawan dari kehidupan, terjadi ketika nyawa sepenuhnya terlepas dari tubuh.
2
1
Bahkan as-Suyuti tidak menyebutkannya dalam penafsirannya pada al-Baqarah 234, meskipun dia menyebutkan
lainnya yang menyatakan bahwa ruh ditiupkan ke dalam janin pada waktu itu. Lihat Jallal Jalaluddin as-Suyuti,
Dur al-Manthur fi Tafsir al-Manthur (Beirut: Dar al-Marifah, n.d.), jilid 1, hal. 287-288.
2
Muhammad Naim Yasin, Abhath Fiqhiyah fi Qadhaya Tibiyah Muairah (Amman, Jordan: Dar an-Nafais, 1996),
hal. 15-16.
Islamic Online University Hadits 102
452
Sebagai kesimpulan, meskipun tidak ada yang spesifik bahwa peniupan ruh merupakan
permulaan dari kehidupan manusia, sepertinya itu adalah pandangan yang disepakati secara
umum dan memiliki pendapat-pendapat penting yang mendukung hal tersebut.
“Dia juga diperintahkan untuk menetapkan empat perkara:
menuliskan rezekinya, ajalnya, amalnya dan [apakah dia akan]
celaka [dengan masuk Neraka] atau bahagia [dengan masuk Surga].
Para malaikat menuliskan semua perkara ini untuk manusia sementara dia masih berupa
janin. Ini menunjukkan ilmu Allah tentang segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini.
Ilmu dan pencatatan ini mengacu kepada pembahasan yang berkaitan dengan iman kepada al-
Qadari, pada hadits #2.
Hadits ini menyatakan bahwa jumlah rezeki dan nafkah seseorang dicatat. Juga
dicatatkan apakah nafkah tersebut datang dengan cara yang halal atau haram.
1
Berapa lama tepatnya seseorang akan hidup telah diketahui dan telah dituliskan pada saat
dia masih berada di dalam rahim ibunya. Amalan seseorang akan dituliskan pada saat itu.
Kemudian malaikat menuliskan apakah dia akan berada diantara yang beruntung atau
menderita. Menurut Ibnu Hajar, malaikat hanya menuliskan satu kata atau kata lain. Keadaan ini
berdasarkan bagaimana seseorang mengakhiri hidupnya, sebagaimana jelas dari sisa hadits
tersebut.
2
Tentu saja, penetapan ini berdasarkan ilmu dan keadilan Allah . Dia akan
menakdirkan Surga untuk mereka yang pantas mendapatkan Surga karena, setelah lahir, mereka
akan menerima kebenaran dan menjalankannya dalam hidup mereka. Dia akan menakdirkan
Neraka untuk mereka yang akan menolak kebenaran dan tidak mengikuti Jalan Lurus.
3
Jelas,
Allah bisa saja mengirim manusia ke Surga dan Neraka tanpa menempatkan mereka pada
kehidupan ini. Namun, kehidupan ini adalah agar mereka tidak memiliki alasan apapun terhadap
Allah . Contohnya, mereka tidak akan bisa menuntut, ketika dilemparkan ke dalam Neraka,
bahwasanya mereka akan beriman dan mengikuti kebenaran. Adapun, amal-amal mereka akan
1
Ibnu Hajar, Fath, jilid 13, hal. 318.
2
Ibnu Hajar, Fath, jilid 13, hal. 318.
3
Al-Qari, jilid 1, hal. 151.
Islamic Online University Hadits 102
453
tepat berada dihadapan mereka pada Hari Kiamat dan mereka tidak akan bisa membuat semua
pengakuan-pengakuan palsu atas nama mereka.
Siapa yang sebenarnya bahagia dan menderita? Allah menggambarkan mereka lebih
lanjut dalam sebuah ayat yang mengharukan dari al-Quran,
⬧⧫❑→⬧
⚫
◆ 
⧫⧫◆❑◆◆
⧫◆◆◆
➔⬧☺◆
⧫➔⬧
⧫⧫⧫
◆❑☺◆⧫
◆◆⬧⧫◆

“Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka
mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), Mereka kekal di dalamnya selama ada
langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha
Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka
tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika
Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Hud 106-108).
Riwayat yang lainnya dari hadits tersebut menyebutkan bahwa malaikat bertanya kepada
Allah , “Apakah dia laki-laki atau permpuan?” riwayat dari Abdullah bin Amr bahkan
memasukkan pertanyaan: “Apakah itu akan gugur atau tidak?” “Apakah itu hanya satu atau
kembar?”
Islamic Online University Hadits 102
454
Sebuah riwayat dalam Sahih Muslim menyatakan bahwa catatan ini ada di dalam
gulungan dari para malaikat. Setelah malaikat menuliskan informasi-informasi tersebut,
gulungan itu digulung dan tidak akan ditambahkan atau dikurangi.
Ini mungkin bahwa ada dua catatan yang berbeda dari informasi-informasi ini. Yang
pertama adalah pada gulungan dari para malaikat dan yang lainnya dituliskan pada dahi dari
janin sendiri atau diantara kedua matanya. (Yang terakhir tersebut dinyatakan dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan di tempat lainnya.
1
) Oleh karena itu seseorang
mungkin bertanya: Bagaimana bisa semua ini dituliskan pada dahi dari janin? Ibnu Utsaimin
menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa ini adalah perkara-perkara dari yang Gaib
dan seseorang tidak seharusnya menanyakan tentang perkara seperti itu. sebaliknya, seseorang
seharusnya hanya mengatakan bahwa dia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak
bertanya, Mengapa?” Selanjutnya dia kemudian menyatakan bahwa pada zaman modern ada
ada chip komputer yang berisi banyak informasi meskipun ukurannya begitu sangat tipis.
Apabila manusia dapat menyelesaikan sesuatu dari bawaan tersebut, apa maksud perkataan
tentang kemampuan Allah  untuk menyelesaikan sesuatu yang lebih besar? Hal yang paling
penting adalah ini merupakan sesuatu yang Nabi  telah nyatakan dan manusia tidak memilki
ilmu atas itu karena itu adalah sesuatu yang dia tidak alami dan saksikan. Sebab itu, dia harus
menerima dan mentaati apa yang Nabi telah sampaikan tentang perkara seperti itu. inilah jalan
dari orang yang sungguh-sungguh beriman yang mengetahui bahwa Nabi  menyampaikan
kebenaran.
2
Sebenarnya, ilmuan modern telah menemukan bahwa di bulan ketiga janin tersebut mulai
memilki sebuah pola pada dahinya, yang disebut dengan lanugo. Seperti sidik jari, para ilmuan
ini menyatakan pola ini unik dan berbeda untuk semua manusia.
3
Namun, jelas, seseorang tidak
dapat mengklaim dengan pasti bahwa ini adalah tulisan yang ditunjukkan dalam hadits ini.
Pada akhirnya, menurut Ibnu al-Arabi, hikmah dibalik malaikat menuliskan informasi ini
adalah karena, dalam hal itu, ini terbuka untuk perubahan, penghapusan atau penambahan. Ini
berbeda dari apa yang Allah telah tuliskan, yang sama sekali tidak terbuka untuk perubahan
1
Menurut Syuaib ar-Arnaut, jalur (sanad) dari hadits ini sahih. Lihat catatan kaki Syuaib ar-Arnaut untuk Amir Ala
ad-Din al-Farisi, Al-Ihsan fi Taqrib Sahih Ibnu Hibban (Beirut: Muassasat ar-Risalah, 1991), jilid 14, hal. 54-55.
2
Ibnu Utsaimin, Syarah Riyadhus Shalihin, jilid 5, hal. 341-342.
3
Lihat Albar, hal. 140-142.
Islamic Online University Hadits 102
455
apapun.
1
Sebagian dari ulama-ulama terdahulu berpandangan bahwa catatan ini dapat berubah
tetapi, jelas, bukan yang Allah telah tuliskan di dalam Lauh Mahfudz. Karenanya, mereka akan
berdoa, “Ya Allah, apabila Aku dituliskan di antara yang menderita, hapuslah itu dan tuliskan
aku di antara yang beruntung.” Doa ini mengacu pencatatan dari malaikat pada saat janin di
dalam rahim dan bukan pencatatan di dalam Lauh Mahfudz. Allah lebih mengetahui.
Masalah untuk Mereka Yang Memahami Proses Tersebut Butuh Waktu
120 Hari
Ulama-ulama yang memahami bahwa janin adalah nutfah selama empat puluh hari,
diikuti dengan alaqah selama empat puluh hari dan kemudian sebuah mudghah selam empat
puluh hari memiliki waktu yang sangat sulit menyesuaikan hadits ini dengan semua hadits
lainnya yang jelas dan dengan tegas menyatakan bahwa malaikat dikirim ke rahim setelah empat
puluh hari ganjil dan mencatat perkara-perkara khusus tentang janin tersebut. Hadits-hadits ini
telah disebutkan di atas. Hadits lainnya yang semacam itu adalah sebagai berikut:
“Jika air mani telah menetap di rahim selama empatpuluh hari atau empatpuluh malam, Allah
mengirim seorang malaikat yang membentuknya, dan menciptakan pendengaran, penglihatan,
1
Ibnu Hajar, Fath, jilid 13, hal. 321.
Islamic Online University Hadits 102
456
kulit, daging dan tulangnya. Kemudian dia berkata, ‘Ya Rabb, dia laki-laki atau perempuan?’
maka Tuhanmu menetapkan apapun yang Dia kehendaki dan malaikat itu mencatatnya.
Kemudian dia berkata, ‘Ya Rabb, apa yang akan terjadi dengan ajalnya?’ Maka Tuhanmu
mengatakan apapun yang Dia kehendaki dan itu dicatat oleh malaikat. Kemudian dia berkata,
‘Ya Rabb, apa yang akan terjadi dengan rezekinya?’ Maka Tuhanmu menetapkan apa yang Dia
kehendaki dan dicatat oleh malaikat. Kemudian malaikat itu pergi dengan gulungan ditangannya.
Tidak ditambahkan apa pun ke dalamnya dan tidak pula dikurangi”
Banyak cara yang telah dibuat untuk mencoba menyesuaikan hadits-hadits yang berbeda
ini. Contohnya, cara pertama adalah mengatakan bahwa setelah empat puluh hari, malaikat
membagi nutfah itu, ke dalam bagian-bagian yang berbeda, ketika nutfah itu menjadi alaqah.
Maka dia kemudian membuat potongan-potongan yang berbeda ini menjadi daging, tulang, dan
sebagainya. Sebab itu, semua ini ditetapkan sebelum semuanya benar-benar diciptakan. Ibnu
Rajab menyatakan bahwa penafsiran ini bertentangan dengan makna yang nyata dan jelas dari
hadits yang baru saja disebutkan, yang mana semua ini terjadi hanya setelah empat puluh dua
hari. Karenanya, penafsiran semacam itu sepertinya tidak dapat diterima. Ibnu Rajab selanjutnya
menunjukkan bahwa penafsiran ini bertentangan dengan apa yang dokter pada masanya telah
temukan tentang janin tersebut.
1
Ibnu Salah telah menyetujui penjelasan di atas dan juga menyetujui yang lainnya. Dia
mengatakan bahwa bagian yang menggambarkan tahapan berbeda tentang nutfah, alaqah dan
mudhghah tersebut adalah keterangan tambahan atau penekanan. Oleh karena itu, terjemahannya
mungkin menjadi seperti ini: “Sesungguhnya, setiap dari kalian dikumpulkan penciptaannya di
dalam perut ibunya selama empat puluh hari. (Kemudian menjadi segumpal darah pada waktu
yang sama. Kemudian menjadi segumpal daging pada waktu yang sama.) Malaikat kemudian
dikirim padanya dan meniupkan padanya roh. Dia juga diperintahkan tentang empat perkara...”
Apabila kalimat-kalimat itu adalah keterangan tambahan, itu berarti semuanya dapat dihilangkan
tanpa mempengaruhi makna secara keseluruhan. Dengan demikian, ketika kalimat-kalimat itu
dihilangkan, hadits tersebut sebenarnya menyatakan: “Sesungguhnya, setiap dari kalian
1
Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal. 158-159. Lihat juga Ibnu Qayyim, at-Tibyan, hal. 216, yang berpendapat bahwa ada
dua masa malaikat tersebut dikirim. Masa yang pertama ditetapkan terkait fisik dari janin tersebut adalah sesuatu
yang tersembunyi dan terlihat untuk siapapun sedangkan masa yang terakhir, setelah 120 hari, ada sebuah
ketetapan kedua yang pengaruhnya terlihat pada janin. Sekali lagi, pendapat ini sepertinya tidak meyakinkan.
Islamic Online University Hadits 102
457
dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Malaikat kemudian
dikirim padanya dan meniupkan padanya roh. Dia juga diperinthkan empat perkara...” Karena
kalimat-kalimat itu adalah keterangan tambahan, itu berarti bahwa malaikat tersebut sebenarnya
dikirim setelah empat puluh hari pertama. Sebab itulah, tidak ada pertentangan antara hadits ini
dan hadits berkaitan lainnya. Ibnu as-Salah selanjutnya menyatakan bahwa jenis perkataan
seperti ini adalah hal yang umum dalam bahasa Arab dan bahkan dapat ditemukan dalam al-
Quran.
1
Ini adalah pendapatan yang lebih kuat dibandingkan yang disampaikan pertama di atas.
Namun, kaidah dasar terkait perkataan tersebut adalah kalima tersebut bukanlah keterangan
tambahan kecuali terbukti seperti itu. Selain itu, ketika pernyataan tambahan semacam itu
digunakan di dalam al-Quran, sangat jelas dari maknanya bahwa kalimat-kalimat tersebut adalah
keterangan tambahan. Perkataan Nabi  juga sangat jelas. Sulit untuk menerima bahwa beliau
akan membuat pernyataan semacam itu yang akan dengan sangat mudah disalahartikan. Ini juga
akan sulit untuk menerima bahwa tidak ada apa-apa dalam perkataan Nabi , dalam hadits yang
khusus ini, yang mungkin akan menunjukkan bahwa pernyataan semacam itu adalah sebuah
keterangan tambahan. Sebab itulah, tidak diperlukan penafsiran semacam itu jika seseorang
hanya menerima fakta bahwa ketiga tahapan ini terjadi dalam empat puluh hari pertama.
Pada akhirnya, ada ulama-ulama lain yang berdalil bahwa proses itu mungkin
membutuhkan waktu yang berbeda untuk janin-janin yang berbeda. Allah lebih mengetahui.
2
1
Utsman Ibnu as-Salah, Fatawa Ibnu as- Salah (Dar asy-Syarif li-I-Nashr wa at-Tauzi’), hal. 41-42.
2
Al-Haitami, hal. 97.
Islamic Online University Hadits 102
458
“Demi Allah, yang tidak ada Tuhan selain-Nya,
sesungguhnya, salah seorang dari kalian benar-benar
beramal dengan amal penghuni Surga hingga jarak
antaranya dan Surga hanya sejengkal lalu takdir
mendahuluinya dan dia beramal dengan amal penduduk
Neraka dan lalu ia pun memasukinya...”
Perdebatan Atas Potongan Hadits Ini
Ada beberapa perdebatan mengenai potongan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ini.
Perdebatan berasal dari fakta bahwa sebagian perawi meriwayatkan potongan hadits ini sebagai
pernyataan dari Abdullah bin Mas’ud bukan pernyataan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Menurut at-Tahawi, terlepas apakah ini adalah sebuah pernyataan dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam atau Ibnu Mas’ud, ini adalah pernyataan yang benar dan sesuai kenyataan. Dia
mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud tidak mugkin membuat pernyataan semacam itu dari
penilaiannya sendiri. Itu pasti berdasarkan sesuatu yang dia pelajari dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam sendiri. Karenanya, perselisihan, pada pendapat at-Tahawi, diperdebatkan. Pada kedua
kasus, pernyataan tersebut benar dan harus diyakini.
1
Sebenarnya, tidak perlu untuk membuat argumen semacam itu. Ada banyak riwayat asli
dari Ibnu Mas’ud yang menyatakan bahwa potongan hadits ini adalah sebuah pernyataan dari
Nabi sendiri. Kemungkinan Abdulaah telah menyebutkannya sebagai pernyataanya dalam
beberapa kesempatan. Ini tidak umum bagi para Sahabat, khususnya jika mereka takut bahwa
mereka mungkin salah dalam setiap perkataan dari hadits tersebut.
Ibnu Hajar menunjukkan bahwa kemungkinan bersumpah demi nama Allah dari
Abdullah bin Mas’ud sedangkan perkataan yang tersisa adalah dari Nabi .
2
1
Ahmad at-Tahawi, Syarah Musykil al-Athar (Beirut: Muassasat ar-Risalah, 1994), jilid 9, hal. 485.
2
Ibnu Hajar, Fath, jilid 13, hal. 323.
Islamic Online University Hadits 102
459
“Demi Allah, yang tidak ada Tuhan selain-Nya”
Bagian berikut ini memiliki sejumlah kaidah yang menegaskan kejujurannya. Yang
pertama adalah bersumpah demi Allah . Selanjutnya adalah adanya kata inna (). Ketiga adalah
adanya kata lam pada kata laya’mal () “benar-benar beramal”. Semua ini menekankan
kepastian dan kesungguhan tentang apa yang akan disampaikan. Jelas, seseorang tidak mungkin
berbicara dengan cara ini kecuali ada beberapa yang butuh untuk disampaikan. Yang butuh untuk
disampaikan di sini adalah seseorang mungkin menolak atau berpikir cukup aneh tentang apa
yang seluruh hadits ini nyatakan. Keseluruhan hadits menyatakan bahwa seseorang dapat
melakukan perbuatan yang seseorang nampaknya ditakdirkan untuk masuk Surga selama
bertahun-tahun dan kemudian berakhir di dalam Neraka. sebaliknya, seseorang dapat melakukan
perbuatan yang dapat menjatuhkan seseorang ke dalam Neraka selama bertahun-tahun dan
kemudian berakhir di Surga. Ini sesungguhnya adalah sesuatu yang luar biasa dan tidak terduga.
Sebab itu, Nabi  memulai perkataan dan ucapan ini agar dapat menekankan bahwa ini terjadi
pada sebagian orang.
“sesungguhnya, salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan
amal penghuni Surga hingga jarak antaranya dan Surga hanya sejengkal
lalu takdir mendahuluinya dan dia beramal dengan amal penduduk
Neraka dan lalu ia pun memasukinya.”
Dalam hadits ini, nabi menggambarkan seseorang yang beramal dengan amalan-
amalan yang akan menuntunnya ke Surga selama hampir seluruh hidupnya. Sebuah riwayat
dalam Musnad Ahmad dari Abu Hurairah menyebutkan bahwa dia melakukan amalan-amalan itu
selama tujuh puluh tahun. Kemudian, sebelum waktu kematiannya sebagaimana yang telah
dituliskan padanya pada saat dia berada di dalam janin, dia mengubah amalannya. Dia berhenti
mengerjakan amalan-amalan penduduk Surga dan sebaliknya, dia mulai mengerjakan amalan-
amalan penduduk Neraka. Dia sangat dekat untuk masuk ke dalam Surga, seolah-olah satu-
satunya hal antara dia dan Surga adalah kematiannya. Tetapi dia tidak bertahan pada jalan itu.
Dia tidak terus berjuang dan tidak dengan sabar melakukan perbuatan-perbuatan Penduduk
Surga. Dia berubah sebelum kematiannya dan karena alasan itulah dia akan berasal dari
Penduduk Neraka.
Islamic Online University Hadits 102
460
Hadits ini menunjukkan sebuah kaidah penilaian yang sangat penting. Seseorang akan
dinilai sesuai dengan keimanan dan perbuatannya pada saat kematiannya. Nabi bersabda,
“Seorang hamba melakukan amalan-amalan Penduduk Neraka sedangkan dia berasal dari
Penduduk Surga. Dan seorang hamba melakukan amalan-amalan penduduk Surga dan dia
berasal dari Penduduk Neraka. Dan setiap amalan tergantung pada akhirnya [amalannya].
(Hadits Riwayat Bukhari.) kenyataannya, ini adalah pikiran yang sangat menakutkan. Ini berarti
bahwa setiap Muslim harus berjaga-jaga setiap waktu untuk memastikan bahwa dia tidak
menyimpang dari jalan yang lurus. Dia tidak dapat melihat pada amalan-amalannya saat ini dan
merasa yakin karena bisa jadi dia mengubah jalannya dan mulai mengerjakan amalan-amalan
dari Penduduk Neraka. Karenanya, dia harus selalu berjaga-jaga. Dia harus selalu mengejar
semua jalan yang menguatkan keimanannya, menghidupkannya kembali atau menjaganya tetap
kuat. Dan dia harus selalu menjauh dari jalan-jalan yang melemahkan dan merusak imannya,
karena dia tidak mengetahui apa yang mungkin semua itu bawa kepadanya dan dia mungkin
akhirnya mati dalam keadaan yang celaka.
Hal yang sangat mudah bagi hati seseorang untuk berubah. Kata bahasa Arab untuk hati,
qalb, berasal dari fakta bahwa itu sepenuhnya dapat berubah-ubah dari satu tujuan ke tujuan
lainnya. Nabi bersabda,
Islamic Online University Hadits 102
461
“Dinamakan qalb (hati) karena sifatnya yang cepat berubah. Hati itu bagaikan bulu (ayam) yang
tergantung di atas sebuah pohon, yang dibolak-balikan oleh angin sehingga bagian atas terbalik
ke bawah dan bagian bawah terbalik ke atas.”
1
Hadits lain dari Nabi  menyatakan bagaiman hati dapat berubah dengan mudah. Sebab
itulah, Nabi sendir dulu berdoa kepada Allah untuk membuat hatinya teguh. Tirmidzi
meriwayatkan hadits berikut:
“Nabi dulu sering berkata, Wahai yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku di atas
agamamu.” Sahabat berkata, “Ya Rasulullah , kami telah beriman kepadamu dan kepada apa
yang engakau bawa. Apakah engkau takut untuk kami?” Beliau menjawab, “Ya. Sesungguhnya,
hati itu berada di antara dua jari Allah dan Dia membolak-balikkannya menurut kehendak-Nya.”
2
Perhatikan bahwa hadits ini terkait makhluk ciptaan di dalam rahim, Nabi hanya
menggambarkan dua keadaan, dimana seseorang berubah dari baik menjadi buruk dan
sebaliknya. Nabi tidak menyebutkan keadaan dari orang yang melakukan kebaikan di seluruh
hidupnya atau orang yang melakukan keburukan di seluruh hidupnya. Nabi dalam hadits ini
tidak bermaksud menggambarkan siapapun. Beliau hanya membuat sebuah poin tentang apa
yang telah dituliskan terhadap seseorang. Tidak masalah seperti apa amalan seseorang tersebut,
1
Diriwayatkan oleh Ahmad. Menurut al-Iraqi, sanadnya hasan. [C.f., Ahmad al-Banna, al-Fath ar-Rabbani li-
Tartib Musnad al-Iman Ahmad bin Hambal asy-Syaibani (Kairo: Dar al-Hadits, n.d.), jilid 1, hal 289-290.] Ahmad
dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits lain yang mendukung bagian terakhir dari hadits di atas. Albani menilai bahwa
hadits itu sahih. Lihat al-Albani, catatan kaki untuk al-Tabrizi, jilid 1, hal. 37.
2
Diriwayatkan oleh Tirmidzi. Menurut al-Albani, ini sahih. Al-Albani, Sahih Jami, jilid 2, hal. 1323. Sahih Muslim
memiliki sesuatu yang sangat sama dengan bagian akhir hadits ini.
Islamic Online University Hadits 102
462
sebelum dia meninggal, dia akan melakukan perbuatan yang sesuai dengan apa yang telah
dituliskan baginya, yaitu, apakah dia beruntung atau celaka.
Perhatikan bahwa amalan yang baik yang dikerjakan mungkin telah dituliskan atas
namanya. Namun, amalan-amalan itu hanya akan diterima dan diberikan pahala oleh Allah 
apabila seseorang tidak mengikutinya dengan sebuah amalan yang dapat meniadakannya
sepenuhnya. Ada banyak perbuatan yang menghapuskan amalan baik seseorang. Yang paling
besar atau paling buruk dari perbuatan-perbuatan itu adalah kemurtadan. Perbuatan ini
menghapuskan semua amalan baik seseorang.
Nampaknya, sebagian ahli hadits meyakini bahwa potongan hadits ini hanya merujuk
kepada seseorang yang menjalankan Islam selama beberapa waktu dan kemudian berubah
murtad. Menurut Ibnu Hajar, anggapan semacam itu tidak diperlukan. Masuk ke dalam Neraka
yang telah dijelaskan tidak selalu bermakna bahwa dia akan berada di Neraka selamanya.
Dengan kata lain, hadits tersebut bisa jadi merujuk kepada seorang Muslim yang menjalankan
keimanannya dengan baik selama bertahun-tahun dan kemudian dia mengubah jalannya dan
melakukan banyak dosa. Tetapi dia tetap dalam Agama Islam. Oleh karena itu, dia akan menjadi
salah satu penghuni Neraka tetapi dia tidak akan tetap di sana selamanya dengan rahmat dari
Allah . Sebab itu, hadits tersebut adalah sebuah peringatan terkait yang melakukan dosa begitu
juga yang sepenuhnya meninggalkan Islam.
1
Pemahaman Yang Tidak Benar Tentang Potongan Hadits Ini
Menurut Ibnu Ustaimin, makna dari hadits ini adalah seseorang melakukan amalan-
amalan Surga “karena disaksikan oleh orang-orang”. Maksudnya, Ibnu Utsaimin mengatakan
bahwa orang tersebut mengerjakan amalan-amalan tersebut dan orang-orang mengira bahwa dia
saleh padahal kenyataannya ada keburukan didalam hatinya dan dan dia berasal dari Penduduk
Neraka. Dia mendasarkan pemahaman ini pada sebuah hadits berbeda yang ditemukan dalam
sahih Bukhari di mana seseorang dulu berperang dengan gagah berani di sisi kaum Muslim dan
Nabi menyatakan bahwa dia berasal dari penduduk Neraka. Seseorang mengikuti laki-laki
tersebut dan mendapatinya melakukan bunuh diri setelah itu. Sehingga Nabi , pada kesempatan
1
Ibnu Hajar, Fath, jilid 13, hal. 326-327.
Islamic Online University Hadits 102
463
khusus itu, berkata, “Seseorang bisa jadi mengerjakan amalan-amalan penduduk Surga seperti
yang terlihat oleh orang-orang.”
1
Namun, hadits tersebut tidak sepenuhnya berhubungan dengan hadits yang dibahas di
sini. Hadits yang khusus ini terkait dengan pembahasan dari al-Qadar dan kenyataan bahwa apa
yang telah dituliskan untuk seseorang akan terjadi. Ada orang-orang yang telah dituliskan berada
di antara yang menderita. Mereka menghabiskan hampir semua hidupnya untuk mengerjakan
amalan-amalan kebaikan amalan yang betul-betul baik, tidak untuk pamer atau karena
kemunafikan. Tetapi Allah mengetahui bahwa mereka akan berada dalam kesengsaraan. Sebab
itu, mereka mengubah jalan mereka dan mulai melakukan amalan-amalan dari Penduduk Neraka.
Oleh karena itu, hadits ini tidak berbicara tentang orang-orang yang secara lahiriah
menampakkan amal-amal baik padahal di dalam hatinya ada beberapa niat yang buruk. Ini
berbicara tentang orang-orang yang mengubah perbuatannya sebelum hidupnya berakhir.
Selain itu, Nabi juga berbicara tentang keadaan yang berlawanan dalam hadits ini.
(Beliau tidak melakukannya dalam hadits yang Ibnu Utsaimin maksudkan.) Jelas, tidak ada hal-
hal semacam itu karena seseorang melakukan amalan dari Penduduk Neraka dalam pandangan
orang-orang sementara didalam hatinya dia adalah orang yang saleh yang berasal dari Penduduk
Surga.
Penting untuk memahami hadits ini dengan benar karena dampak dari kesalahpahaman
Ibnu Utsaimin sangat berbeda.
Dan, sesungguhnya, salah seorang dari kalian benar-benar beramal
dengan amal penghuni Neraka hingga jarak antaranya dan Neraka
hanya sejengkal lalu takdir mendahuluinya dan dia beramal dengan
amal penduduk Surga dan lalu ia pun memasukinya.”
Ini adalah kebalikan dari keadaan pertama yang telah digambarkan di atas. Ibnu Daqiq al-
Eid menjelaskan bahwa itu adalah bagian dari rahmat Allah yang besar bahwasanya keadaan
pertama yang disebutkan di atas sangat jarang sedangkan keadaan kedua yang disebutkan di sini
1
Lihat Ibnu Utsaimin, Syarah Riyadush Shalihin, jilid 5, hal. 342-343
Islamic Online University Hadits 102
464
tidak umum.
1
Maksudnya, dengan rahmat Allah , Dia menuntun orang-orang yang kembali
kepada-Nya. Apabila seseorang melakukan amalan yang baik, Allah terus memberikannya
petunjuk, menolongnya dan mengampuni kesalahannya. Hanya jika orang itu memiliki
perubahan yang total dalam hatinya yang Allah  bawa pada kekafiran atau Neraka. Di lain
pihak, ada banyak keadaan dimana Allah menyelamatkan seseorang dari Neraka dengan
menuntunnya kepada Islam. Dia melakukan perbuatan-perbuatan dari penduduk dari Neraka dan,
dengan rahmat Allah , dia saat ini melakukan amalan-amalan dari penduduk Surga. Bahkan,
semua Sahabat yang masuk Islam terkadang sebelum pesan itu sampai pada mereka berada
dalam sifat ini.
Potongan hadits ini seharusnya memberikan harapan kepada orang-orang yang saat ini
melakukan dosa, menyadari bahwa mereka salah tetapi entah mengapa masih belum bisa untuk
menarik diri mereka dari perbuatan-perbuatan itu. Apabila orang seperti itu terus berjuang dan
memperbaiki dirinya, Allah berkehendak, dia suatu waktu pada akhirnya akan mengubah
jalannya. Ketika dia melakukannya, dia akan mulai mengerjakan amalan-amalan Penduduk
Surga dan mati dalam keadaan itu. Sekali lagi, ini adalah sebuah karunia, berkat, dan kesempatan
yang besar dari Allah . Mereka yang melakukan dosa pada saat ini seharusnya menyadari
kenyataan ini dan mengubah jalan mereka sebelum kematian datang pada mereka sementara
mereka masih mengerjakan amalan-amalan dari Penduduk Neraka.
Masalah Fiqih yang Terkait
Persoalan Aborsi (Pengguguran Kandungan)
Hadits ini menggambarkan penciptaan manusia di dalam rahim ibu. Ini menegaskan
bahwa manusia itu ada, dengan jiwa, tidak lama setelah pembuahan tetapi lama sebelum
kelahiran benar-benar terjadi. Ini memiliki dampak-dampak yang penting untuk masalah aborsi
dan legalitasnya dalam Islam. Namun, seperti yang telah disampaikan di atas, pendapat yang
umumnya diterima adalah nyawa itu ditiupkan ke dalam janin setelah 120 hari. Ini sangat
mempengaruhi pandangan para ahli fiqih tentang aborsi. Sepertinya ada pendapat yang lengkap
bahwa aborsi setelah 120 hari benar-benar terlarang kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Ada
1
Muhammad Ibnu Daqiq al-Eid, Syarah al-Arba’in Hadits an-Nawawi (tidak informasi penerbit yang diberikan),
hal. 22.
Islamic Online University Hadits 102
465
beberapa perbedaan pendapat mengenai aborsi yang dilakukan sebelum akhir dari 120 hari
pertama kehamilan.
Dalam Contemporary Jurisprudence Research Journal (Jurnal Penelitian Ilmu Hukum
Kontemporer), ada sebuah artikel yang berjudul, Aturan untuk Aborsi yang Terjadi Sebelum
Selesainya Seratus Dua Puluh Hari Kehamilan”. Kecuali dinyatakan lain, informasi berikut
berasal dari artikel tersebut:
1
Mengenai aborsi sebelum nyawa itu ditiupkan ke dalam janin, dengan kata lain, sebelum
selesainya seratus dua puluh hari kehamilan, ajaran Hanafi mengatakan bahwa tidak ada ghura
atau uang tebusan karena membunuh bayi yang akan dikenakan, kecuali ciri-ciri manusia terlihat
pada janin tersebut. Tetapi jika tidak ada ciri-ciri manusia yang nampak, maka tidak ada dosa.
Pendapat lain pada ajaran hanafi yang sama menyatakan bahwa pelaku aborsi (apakah ayah atau
ibunya atau orang lain) dianggap penuh dosa. Mereka yang menyatakan pendapat semacam itu
mengambil dalil dari analogi bahwa apabila seorang muhrim (orang yang memasuki keadaan
yang suci dari haji atau Umarah) memecahkan sebuah telur dari seekor hewan liar, maka
penebusan dosa dikenakan padanya karena melakukan perbuatan itu, karena telur tersebut adalah
tahap awal dari penciptaan hewan liar tersebut. Menurut pendapat ini, janin yang belum
memperoleh semua ciri manusia juga merupakan tahap awal dari penciptaan, dimana jika itu
dibiarkan berkembang akan menjadi sebuah jiwa. Inilah alasan mengapa orang yang atau
menyebabkan aborsinya dianggap berdosa meskipun pelakunya tidak dianggap pembunuh.
Menurut Imam Malik, semua wanita yang melakukan aborsi dalam bentuk segumpal
darah beku atau segumpal daging, atau diketahui sebagai anak, itu adalah sebuah jiwa di masa
mendatang dan ghura akan dikenakan atas pelanggaran kesucian jiwa tersebut. Al-Ghazali,
seorang penganut ajaran Syafi’i, berpikir bahwa tahapan penciptaan yang pertama adalah ketika
sperma dari laki-laki memasuki ovary (indung telur) dari wanita dalam persiapan untuk
berkembang menjadi sebuah makhluk hidup, dan pelanggaran perusakan proses tersebut adalah
sebuah kejahatan besar.
1
Aturan untuk Aborsi yang Terjadi Sebelum Selesainya Seratus Dua Puluh Hari Kehamilan,” Jurnal Penelitian
Ilmu Hukum Kontemporer (Edisi lima belas, Tahun Keempat, Okt-Nov-Des, 1992), hal. 57-59. Keterangan yang
sesuai dapat ditemukan dalam artikel tersebut. Pembahasan yang luar biasa dapat ditemukan pada Ummu Kaltsum
al-Khatib, Qadhiyah Tahdid an-Nasl fi asy-Syaria al-Islamiyah (Jeddah: ad-Dar as-Saudiyah, 1984), hal. 149-180.
Dia menyimpulkan bahwa pada tahap kehamilan, bahkan sebelum 40 hari, aborsi tidak diperbolehkan sama sekali
kecuali pada kasus yang dibutuhkan.
Islamic Online University Hadits 102
466
Menurut mahzhab Hambali, apabila wanita menggugurkan sesuatu yang tidak memiliki
ciri-ciri manusia, maka tidak ada dosa. Namun, apabila beberapa bidan yang terpercaya
menyaksikan bahwa pengguguran janin itu terdiri dari tanda-tanda awal penciptaan manusia
yang pertama dimana jika itu dibiarkan didalam rahim, akan berkembang menjadi manusia,
maka pendapat yang paling benar adalah tidak ada dosa pada perbuatan itu karena hukum
asalnya adalah ketidaktahuan yang tidak diragukan hanyalah berdasarkan kecurigaan.
Apabila seseorang membayangkan pembenaran atas aborsi sebelum jiwa tersebut
ditiupkan ke dalam janin, seseorang akan melihat bahwa ada tiga anggapan:
Pertama, aborsi dilakukan karena beresiko atau takut akan kesehatan kehamilan wanita
itu jika kehamilan itu diteruskan atau karena adanya sebab-sebab syariah lainnya, seperti kasus
ketika wanita itu diperkosa. Aborsi dalam kasus ini diperbolehkan karena tuntutan syariat.
Kedua, aborsi dilakukan sebagai sebuah metode pencegahan untuk mengendalikan
kelahiran, karena takut akan biaya dan beban keuangan. Pada kasus seperti ini, aborsi tidak
diperbolehkan karena itu sampai pada larangan membunuh anak-anak karena takut akan
kemiskinan [baik untuk anak ataupun untuk orangtua]. Allah berfirman, “Janganlah
membunuh anak-anakmu karena miskin Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada
mereka” (al An’am 151). Dan, “Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin.
Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh
suatu dosa yang besar.” (al-Isra 31).
Ketiga, aborsi dilakukan untuk sebuah alasan lain selain kedua alasan tersebut, seperti
keinginan dari ibunya untuk menunda melahirkan selama mungkin, sebagai tindakan untuk
mempertahankan masa mudanya, atau penampilan fisiknya, atau mungkin dia memperpanjang
waktu hidupnya bersama dengan suaminya tanpa melahirkan karena kecurigaan bahwa dia
mungkin akan bercerai. Aborsi semacam ini tidak diperbolehkan.
Dapat dikatakan bahwa segumpal darah di dalam rahim sebelum selesainya kehamilan
seratus dua puluh hari, itu hanyalah masalah tidak ada jiwa di dalamnya, jadi karena itu,
seharusnya boleh untuk digugurkan. Namun, “masalah sebenarnya” adalah awal dari penciptaan
pertama tersebut, dan kenyataan bahwa itu adalah sebuah jiwa yang diyakini, dengan
pertimbangan apa yang akan terjadi di masa depan. Masa seratus dua puluh hari itu hanyalah
Islamic Online University Hadits 102
467
sebuah ukuran untuk penyempurnaan penciptaan dan peniupan nyawa. Banyak ulama tidak
menganggap bahwa ada perbedaan antara janin yang seratus sepuluh hari dan janin seratus dua
puluh hari lainnya.
Kehamilan adalah sebuah hadiah dari Allah Yang Maha Kuasa kepada makhluk-Nya.
Siapaun yang berdosa terhadap ciptaan itu akan seperti orang yang menolak hadiah dari Allah 
tersebut. Namun, pada kenyataannya, laki-laki atau wanita tersebut menentang kehendak dan
kebijaksanaan dari Allah Yang Maha Kuasa.
Singkatnya, artikel tersebut menyimpulkan, aborsi yang disengaja tidak dapat
diperbolehkan bahkan sebelum penyempurnaan masa kehamilan seratus dua puluh hari tersebut.
Siapapun yang melakukan itu dengan sengaja dianggap seorang yang berdosa, kecuali jika
seseorang memiliki sebuah tuntutan syariat yang sah.
Dalam sebuah artikel yang terpisah, jurnal yang sama membahas persoalan pengguguran
kehamilan yang merupakan akibat dari pemerkosaan.
1
Artikel-artikel tersebut meyimpulkan
bahwa pemerkosaan seperti itu menyebabkan masalah kejiwaan yang banyak untuk wanita dan
juga membawa pada kesulitan yang banyak untuk kehidupannya di masa depan. Karenanya,
mereka berpendapat bahwa seorang wanita pada posisi seperti itu seharusnya memutuskan
secepatanya apabila mereka sedang hamil. Maka, apabila aborsi diputuskan, itu harus dilakukan
dalam 120 hari pertama.
2
Jika, karena beberapa alasan, janin itu dibiarkan sampai melewati
waktu tersebut, itu masih bisa dipaksakan sebagai kasus yang diperlukan, disebabkan bahaya
yang mungkin dibawanya kepada wanita tersebut. Namun, mereka juga menyatakan bahwa jika
wanita yang diperkosa tersebut dapat menerima kehamilan itu dan tidak ada bahaya padanya,
baik itu secara psikis ataupun secara fisik, dalam hal itu dia tidak ingin menggugurkan janin
tersebut, Allah menghendaki, Allah akan sangat menghargainya karena membesarkan anak
itu dan menjaganya. Mungkin anak itu di masa depan dapat membawanya pada kebaikan yang
banyak. Allah lebih mengetahui.
1
“Aturan untuk Aborsi yang Disengaja yang Disebabkan Pemerkosaan,” Jurnal Penelitian Ilmu Hukum
Kontemporer (Edisi lima belas, Tahun Keempat, Okt-Nov-Des, 1992), hal. 77-82. Barangkali, kesimpulan yang
sama dapat dibuat terkait kehamilan yang disebabkan oleh perzinahan.
2
Sebaiknya sesegera mungkin berdasarkan kesimpulan dari hadits ini.
Islamic Online University Hadits 102
468
Shalat Jenazah untuk Janin yang Diaborsi
Menurut mayoritas ulama, apabila sebuah janin digugurkan atau apabila ada keguguran
setelah ruh ditiupkan ke dalamnya, shalat jenazah harus dilaksanakan untuknya. Tentu saja,
mayoritas ulama tersebut juga mengatakan bahwa ruh yang ditiupkan itu setelah lewat 120 hari.
Karenanya, apabila sebuah janin diaborsi setelah 120 hari, setiap bagian dari janin yang keluar
dari wanita itu dikubur dengan baik dan ada doa jenazah yang diucapkan pada janin itu. Ibnu
Utsaimin mengatakan bahwa jika janin itu ada sebelum 120 hari, itu hanyalah sepotong daging
dan dikubur di mana saja, tanpa memandikannya, mengkafaninya atau mengerjakan shalat
jenazah untuknya. Janin itu hanya menjadi manusia setelah 120 hari.
1
Barangkali, meskipun jika seorang ulama berpendapat bahwa ruh itu ditiupkan ke dalam
janin setelah 40 atau 45 hari, maka doa jenazah seharusnya diucapkan untuk setiap janin yang
digugurkan setelah masa itu.
Ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa shalat jenazah hanya dilaksanakan jika
anak tersebut lahir hidup dan menangis, bahkan jika hanya sekali. Ini terkadang berdasarkan
pada hadits,
“Apabila anak itu menangis [bahkan hanya sekali], shalat harus dilaksanakan untuknya.” Hadits
ini diriwayatkan oleh an-Nasai dan lainnya. Namun, sepertinya para ulama hadits sepakat bahwa
1
Ibnu Utsaimin, asy-Syarah al-Mumti, jilid 5, hal. 373-374. Dia juga mengatakan bahwa, menurut para ulama, janin
itu seharusnya diberikan sebuah nama pada saat itu. Di tempat lain, Ibnu Utsaimin juga menyatakan bahwa aqiqah
seharusnya juga dilaksanakan untuk janin itu sehingga janin itu akan menjadi perantara (syafaat) bagi orangtuanya,
karena janin-janin itu akan dibangkitkan kembali pada Hari Kiamat. Lihat Ibnu Utsaimin, Syarah Riyadhus Shalihin,
jilid 5, hal. 340. Terkait dua perkara yang terakhir ini, tidak ada hadits khusus dalam perkara janin yang digugurkan.
Allah lebih mengetahui. Juga ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ruh ditiupkan ke dalam janin setelah
empat bulan sepuluh hari. Sebab itulah, janin itu hanya dishalatkan jika itu adalah kehamilan empat bulan sepuluh
hari. Pandangan bahwa ruh ada setelah empat bulan sepuluh hari ini adalah alasan yang dikemukakan oleh sebagian
ulama seperti mengapa waktu tunggu untuk janda adalah empat bulan sepuluh hari. Lihat Ibnu Rajab, Jami, jilid 1,
hal. 162.
Islamic Online University Hadits 102
469
ini adalah hadits yang lemah.
1
Dalam Sahih Bukhari, dinyatakan bahwa, menurut az-Zuhri,
seseorang hanya shalat untuk anak yang sudah meninggal atau gugur apabila anak itu benar-
benar menangis.
Mengingat fakta bahwa sulit untuk menentukan kapan ruh itu ditiupkan ke dalam janin,
pendapat yang paling kuat, tampaknya adalah setiap janin yang diaborsi atau gugur mungkin
memiliki shalat jenazah untuknya. Maksudnya, apabila ada benjolan padat dibandingkan hanya
beberapa darah keluar dari ibunya, shalat jenazah mungkin dikerjakan.
2
Pendapat ini dengan
tegas berasal dari hadits Nabi ,
“Janin yang gugur [atau keguguran] ada shalat yang dikerjakan untuknya dan ia akan
memohonkan ampun dan rahmat bagi orangtuanya.
3
Dalam hadits ini, Nabi mengatakan, as-
siqt, dengan alif lam di depannya. Ini menunjukkan keumuman. Maksudnya, ini berarti untuk
setiap janin yang gugur. Nabi tidak membatasi itu untuk setiap umur tertentu dari janin tidak
juga mewajibkan bahwa janin itu harus menangis terlebih dahulu.
Hal-hal Lain Yang Terkait dengan Hadits ini
Proses penciptaan manusia dan kelahiran seharusnya mengarahkan pikiran seseorang untuk
beriman pada kebangkitan dan Akhirat. Yang mampu menciptakan manusia dari sebuah
potongan kecil dari sejumlah cairan kecil pastinya mampu untuk menciptakan kembali
1
Ibnu Rajab menyatakan bahwa jalur (sanad) hadits ini sahih tetapi pendapat yang paling kuat adalah ini bukanlah
perkataan dari Nabi tetapi sebuah perkataan dari Sahabat Jabir. Lihat Ibnu Hajar, Fath, jilid 13, hal. 325.
2
Pandangan ini juga menghindari masalah yang mencoba untuk menentukan apabila sebenarnya 120 hari telah
lewat sejak pembuahan. Sebagian ulama menyatakan bahwa tidak perlu untuk mengerjakan shalat jenazah untuk
anak-anak tetapi shalat mungkin dilakukan jika orang-orang menginginkan untuk melakukannya. Ada perselisihan
riwayat terlepas apakah Nabi mengerjakan shalat jenazah atau tidak untuk Ibrahim anak laki-lakinya yang
meninggal. Albani menyimpulakan bahwa riwayat yang paling kuat menyatakan bahwa Nabi tidak melakukan
shalat jenazah untuk Ibrahim anak laki-lakinya. Allah lebih mengetahui. Lihat Muhammad Nasir ad-Din al-
Albani, Ahkam al-Janaiz Wa Bidahai (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1986), hal. 79-80.
3
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan al-Hakim. Menurut Albani, ini sahih. Al-Albani, Sahih al-
Jami, jilid 1, hal. 661.
Islamic Online University Hadits 102
470
manusia itu setelah dia meninggal. Bahkan, penciptaan kembali itu seharusnya dianggap
sebuah tugas yang lebih mudah dibandingkan penciptaan yang pertama.
Allah pasti memiliki kemampuan untuk menciptakan manusia tanpa melalui tahapan yang
terjadi pada janin. Menurut Ibnu Hajar, Allah menciptakan manusia dengan cara seperti itu
sebagai sebuah rahmat untuk sang ibu. Cara ini membuatnya lebih mudah bagi mereka dan
lebih sedikit penderitaan. Allah menyiapkan rahim dan membawa janin ke kelahirannya
dengan pelan dan bertahap.
1
Seseorang harus memperhatikan bagaimana dia dulu diciptakan, tahap demi tahap, dalam
bentuk yang indah. Dia diciptakan dengan cara yang indah dan atas itulah, dia diberkati
dengan akal dan pikiran. Inilah yang membedakannya dari hewan yang tidak diberkati
dengan sifat-sifat itu. Orang yang menyadari fakta ini seharusnya sungguh-sunguh
bersyukur kepada Yang Menciptakannya, memberkatinya dan memberikan kehidupan
padanya. Dia seharusnya berterima kasih pada-Nya dengan cara yang tepat dengan mentaati-
Nya dan tidak menentang-Nya.
2
Selain itu, hadits ini juga seharusnya membuat seseorang merenungkan bagaimana
keadaannya dan betapa dia membutuhkan Tuhannya. Ketika dia adalah setetes cairan di
dalam rahim ibunya, dia tidak ada karena dirinya sendiri. Sebaliknya, itu karena Allah .
3
Kenyataannya, manusia, yang hidup sekarang ini tidak mengingat dengan sadar apa yang
telah terjadi padanya dalam tahapan tersebut. Dia seharusnya berpikir tentang bagaimana
Allah mengurus dan membentuknya dengan cara yang paling indah. Sekali lagi, ini
seharusnya membuat seseorang sangat bersyukur kepada Pencipta dan Tuhannya.
4
Hadits ini adalah dalil bahwa seseorang masuk ke Surga atau Neraka karena amalannya. Ini
tidak bertentangan dengan hadits lain yang menyatakan, “Perbuatan salah seorang dari
kalian tidak akan memasukannya ke dalam Surga.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
Makna dari hadits itu adalah hanya dengan rahmat dan ampuna Allah yang membuat
1
Ibnu Hajar, Fath, jilid 13, hal. 325.
2
Ibnu Hajar, Fath, jilid 13, hal. 325.
3
Orang-orang kafir pada hari ini akan menyebut itu dengan “proses alami,” tetapi siapa Yang sebenarnya
menciptakan dan membuat hukum alam itu selain Allah ?
4
Cf., Muhammad as-Sindi, Syarah al-Arbain an-Nawawiyah (ad-Damam, Arab Saudi: Ramadi li-I-Nashr, 1995),
hal. 39.
Islamic Online University Hadits 102
471
seseorang masuk ke dalam Surga. Amalannya saja tidak layak mendapatkan yang ada di
Surga.
1
Apapun yang Allah telah tetapkan dan tentukan akan terjadi, karena ilmu-Nya tentang
semua peristiwa. Ketetapannya bahwa seseorang akan berasal dari Surga atau Neraka akan
terjadi sebagaimana Dia telah menetapkannya. Ini adalah bagian dari keseluruhan iman
kepada al-Qadar. Namun, tidak ada yang mengetahui apa yang telah ditetapkan baginya.
Oleh karena itu, dia harus terus berusaha untuk tujuan tersebut yang sedang dia cari. Jika dia
berasal dari Penduduk Surga, amalan-amalan yang baik akan dibuat mudah baginya dan dia
akan mengerjakan semua itu pada saat kematiannya.
Hadits ini juga dalil bahwa tobat dan amalan-amalan kebaikan dapat menghapuskan akibat-
akibat dari amalan-amalan buruk yang sebelumnya dia kerjakan.
Al-Qari menyatakan bahwa hadits ini menununjukkan bahwa manusia seharusnya
melakukan sesuatu dan mengerjakan sesuatu secara bertahap, selangkah demi selangkah,
setiap langkah sesuai dengan waktunya, tanpa terburu-buru. Dia mengatakan bahwa Allah 
memiliki kemampuan yang paling banyak untuk menciptakan apapun dalam satu waktu
tetapi yang seperti itu bukanlah jalan yang Allah  turuti. Manusia seharusnya memahami
hikmah dibalik ini dan menyadari bahwa menyelesaikan sesuatu dengan benar dan dengan
baik semua itu harus dilakukan dengan cara dan tahapan yang baik.
2
Seorang Muslim seharusnya tidak tertipu dan terperdaya oleh amalan-amalan baiknya.
Amalan-amalan baiknya seharusnya tidak menuntunnya menjadi sombong dan berbangga
diri. Perilaku dan sifat-sifat semacam itu tidak akan pernah ditemukan pada diri seorang
yang betul-betul beriman yang memahami kenyataan dalam dunia ini. Sebaliknya, orang
yang betul-betul beriman harus selalu berada pada posisi di antara harapan dan rasa takut.
Dia harus selalu berharap bahwa Allah menerima amal-amalnya dan terus memberikannya
petunjuk. Dia harus selalu merasa takut bahwa Allah mungkin tidak menerima amalan-
amalannya atau dia mungkin menyimpang dari Jalan Lurus dan membuat semua usahanya
sia-sia.
3
Tidak masalah amalan buruk dan kufr macam apa yang seseorang mungkin perlihatkan di
dunia ini, tak seorangpun dapat menjadi sangat sombong melihatnya sementara dia masih
1
Ibnu Hajar, Fath, jilid 13, hal. 326.
2
Al-Qari, jilid 1, hal. 150
3
Cf., al-Qari, jilid 1, hal. 152.
Islamic Online University Hadits 102
472
hidup dan berkata, “Orang ini akan masuk Neraka.” Allah  bisa saja menuntunnya ke jalan
yang lurus dan sepenuhnya mengubah jalannya dan dia mungkin berasal dari penduduk
Surga. ini juga menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh putus asa dan menyerah ketika
mengharapkan orang lain akan memeluk Islam. Contohnya, ayah atau ibu seseorang
mungkin seorang non-Muslim dan mungkin terus seperti itu untuk waktu yang lama. Tetapi
orang itu mungkin terus memohon petunjuk untuk mereka dan tidak berputus asa. Mungkin
Allah menuntun mereka kepada kebenaran sebelum kematian mereka.
Setiap Muslim seharusnya mencari pertolongan pada Allah dari memiliki akhir yang
buruk, dimana amalan-amalannya sebelum meninggal adalah amalan-amalan Penduduk
Neraka.
Rezeki telah ditentukan sebelumnya oleh Allah  bahkan sebelum kelahiran seseorang.
Allah satu-satunya Yang Menetapkan. Sebab itu, seseorang harus kembali kepada-Nya
untuk mencari rezeki. Rezeki seseorang telah dituliskan dan ditetapkan. Rezeki-rezeki itu
akan datang kepadanya. Maka, tidak perlu dan tidak ada alasan bagi seseorang untuk
menjual agamanya hanya demi mendapatkan rezeki di dunia ini.
1
Menurut an-Nawawi, hadits tersebut menunjukkan bahwa dianjurkan mungkin akan lebih
baik mengatakan diperbolehkan untuk bersumpah atas nama Allah agar dapat
menekankan sebuah perkara dan membuat orang-orang benar-benar memperhatikannya.
2
Dalam hadits ini jelas bahwa jiwa itu tidak ditiupkan ke dalam rahim pada masa pembuahan.
Ini berarti bahwa posisi Islam untuk persoalan ini berbeda dari anggapan Katolik.
Rangkuman Hadits
Kata nutfah tidak berlaku dalam hadits ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari,
Muslim, dan banyak lainnya. Ini hanya ditemukan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Awana. Riwayat ini bertentangan dengan apa yang semua perawi yang terpercaya
riwayatkan. Sebab itulah, ini pasti dianggap sebagai kasus idraj, dimana sebuah kata yang
salah dimasukkan ke dalam teks hadits tersebut.
Mayoritas ulama memahami hadits ini dalam artian bahwa janin itu melewati tiga tahapan
nutfah, alaqah, dan mudhghah. Setiap tahapan terjadi selama empat puluh hari, untuk total
1
Sultan, hal. 73.
2
Yahya an-Nawawi, Syarah Matan al-Arbain an-Nawawiyah (Jeddah: Dar al-Mujtama, 1986),
Islamic Online University Hadits 102
473
seratus dua puluh hari. Penulis terpaksa mengambil sebuah pendapat yang berbeda dari
pendapat kebanyakan pada persoalan ini, meskipun ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ini
adalah persoalan yang tidak pernah mudah untuk menentang apa yang ulama-ulama besar
telah nyatakan. Penulis memohon kepada Allah untuk mengampuninya apabila dia salah
dan menuntunya pada kepada yang benar.
Penjelasan alternatif dari hadits ini, yang banyak didukung oleh riwayat dari Nabi dan apa
yang merupakan “fakta medis,” adalah keseluruhan tiga tahapan tersebut terjadi selama
empat puluh hari ganjil pertama setelah pembuahan.
Tidak ada yang tegas tentang kapan ruh itu ditiupkan ke dalam janin. Pastinya itu terjadi
setidaknya empat puluh hari setelah pembuahan. Mayoritas ulama, ada yang mengataka
kesepakatan, menyatakan bahwa itu terjadi setelah 120 hari. Yang lain mengatakan bahwa
itu terjadi setelah 130 hari. Penulis tidak berani membuat kesimpulan pada poin ini.
Pada saat manusia masih berupa janin, seorang malaikat menuliskan rezeki, ajal, amalan dan
apakah dia akan bahagia atau celaka. Ini adalah bagian dari ilmu yang Allah miliki tentang
penciptaan ini.
Amalan yang seseorang kerjakan pada saat kematiannya adalah amalan yang akan
menentukan apakah dia dari penduduk Surga atau penduduk Neraka.
Seseorang tidak dapat bersantai atas amalan masa lalunya dan berpikir bahwa dia akan
masuk Surga. Sebaliknya, seseorang harus terus berjuang dan bekerja keras karena
perbuatannya yang paling penting adalah perbuatannya pada saat kematiannya.
Seseorang mungkin mengerjakan amalan dari Penduduk Neraka dan, kemudian, karena
rahmat Allah , dia diberikan petunjuk untuk mengerjakan amalan dari Penduduk Surga.
oleh karena itu, dia akan berasal dari Penduduk Surga. Hanya saja, kebalikan dari itu bisa
juga benar. Yang seperti itu telah dituliskan untuk setiap manusia pada saat dia berada di
dalam rahim ibunya.
Islamic Online University Hadits 102
474
Hadits #5:
“Barangsiapa yang mengada-adakan...”
Islamic Online University Hadits 102
475
Dari Ummul Mu’minin, Ummu ‘Abdullah, ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengada-
adakan dalam urusan kami ini perkara yang tidak ada
asalnya, maka hal itu tertolak.
Diriwatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dalam satu
riwayat dari Imam Muslim, dikatakan, Barangsiapa
melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami,
maka itu tertolak.”
Kosakata Pilihan
 : “mengada-adakan, pembaruan”
 : “dalam”
 : “urusan kami,”  dapat disamakan dengan kata “kami”
 : sejenis negatif, “bukan, tidak”
 : ini adalah gabungan kata;  berarti “dari” dan menunjukkan “itu”
 : “tertolak”
 : “amal, perbuatan”
Islamic Online University Hadits 102
476
Takhrij
Hadits ini dari Aisyah, dengan lafaz pertama yang dinyatakan di atas, diriwayatkan oleh
Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, al-Daraqutni, Abu Yala, dan
banyak lainnya. Hadits dengan lafaz kedua yang dinyatakan di atas diriwayatkan oleh Muslim,
Ahmad, Abu Daud, Ibnu Abu Asim, al-Baihaqi dan al-Daraqutni.
1
Itu juga diriwayatkan oleh
Bukhari tetapi dalam bentuk mualaq.
2
Penjelasan Umum Pada Hadits Ini
Hadits ini juga merupakan salah satu pondasi dari Islam itu sendiri. Hadits ini seperti
tolak ukur atau timbangan untuk amalan-amalan luar (lahiriah) yang dikerjakan oleh umat
manusia, pada saat yang sama hadits pertama mengenai niat mencakup hal-hal dari dalam (batin)
tentang perbuatan manusia. Dari hadits pertama, seseorang dapat memahami bahwa setiap
perbuatan yang tidak dilakukan semata-mata demi Allah akan tertolak. Dari hadits ini,
seseorang juga akan memahami bahwa setiap perbuatan yang dilakukan yang tidak sesuai
dengan syariat juga ditolak oleh Allah . Setiap perbuatan yang dilakukan yang bukan
merupakan bagian dari agama Nabi , pada kenyataannya, sama sekali tidak dapat dianggap
bagian dari agama.
3
Imam an-Nawawi menyatakan bahwa hadits ini seharusnya dihafal oleh semua kaum
Muslim. Hadits ini pasti membantah praktek-praktek keburukan. Dan, an-Nawawi mencatat, ini
pada umumnya digunakan sebagai dalil untuk sejumlah persoalan.
4
At-Tufi menyebutnya hadits
ini adalah setengah dari dalil-dalil syariat. Ini karena dalil-dalil dicari baik untuk menerima atau
mengingkari perbuatan-perbuatan tertentu yang diperbolehkan, dan hadits ini adalah alasan
utama dalam proses tersebut.
5
Asy-Syaukani menjelaskan bahwa seseorang tidak dapat
1
Lihat Ibnu Muhammad, hal. 65-67.
2
Dalam bentuk mualaq berarti bahwa Bukhari tidak meriwayatkan keseluruhan sanad dari hadits ini. Dalam kasus
semacam ini, tidak tepat menyatakan bahwa Bukhari yang meriwayatkannya kecuali seseorang secara tegas
menyatakan bahwa dia meriwayatkan itu dalam bentuk mualaq. Inilah mengapa an-Nawawi mengaitkan lafadz
kedua hanya kepada Muslim dan tidak pada Bukhari. Bukhari meriwayatkan lafaz ini dengan seluruh sanadnya
dalam salah satu kitabnya yang lain, dengan judul Khalq Afal al-Ibad.
3
Cf., Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal. 176; Mustafa al-Bugha dan Muhyi ad-Din Mistu, al-Wafi fi Syarah al-Arbain
an-Nawawiyah (Damaskus: Muassasat Ulumul Quran, 1984), hal. 26.
4
Imam an-Nawawi, Syarah Sahih, jilid 11, hal. 160.
5
Dinukil dalam Sultan, hal. 75.
Islamic Online University Hadits 102
477
menghitung (karena banyaknya) semua aturan yang secara lansung berasal dari hadits Nabi 
ini.
1
Hadits ini berkaitan dengan konsep bidah atau pembaruan. Namun, pembahasan yang
detail dari topik ini akan ditinggalkan untuk penjelasan pada hadits #28, jika Allah menghendaki
(Insya Allah).
Perawi: Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq
Ibu dari orang mukmin (Ummul Mukminin), Ummu Abdullah
2
‘Aisyah, putri dari Abu
Bakar as-Siddiq (9 S.H./613-58 H/678) adalah istri tercinta dari nabi . Dia menikah dengan
Nabi di umur yang sangat muda dan bisa menjadi benar-benar dewasa dan berkembang di
bawah bimbingan beliau. Karenanya, dia menjadi perawi hadits yang besar dan ahli fiqih yang
terkemuka.
3
Dia juga sangat berpengetahuan untuk ilmu sejarah dan literatur Arab.
Dia menikah dengan Nabi pada tahun kedua setelah Hijrah. Dia tidak senang dengan
bagian terakhir dari kepemimpinan Utsman, tetapi ketika Utsman dibunuh dia menuntut keadilan
terhadap pada pembunuhnya. Ini membawa pada Perang Unta melawan ‘Ali. Di tahun-tahun
akhir kehidupannya dia lewati dengan tenang dan dia meninggal pada tahun 58/678.
Jumlah hadits yang dikaitkan dari sumbernya mencapai 2210 hadits.
1
Asy-Syaukani, Nail, jilid 2, hal. 93.
2
Kunyah beliau adalah Ummu Abdullah (“ibu dari Abdullah”). Ada beberapa perbedaan pendapat mengapa dia
menerima nama itu. Sebagian mengatakan bahwa nama itu dibuat dikarenakan keponakannya, Abdullah bin
Zubair. Bagaimanapun, dikenal dengan baik bahwa dia tidak pernah memiliki seorang anak.
3
Bahkan, belakangan ini Said ad-Dakhil telah menyelesaikan sebuah karya rujukan tentang fiqh beliau atau
pandangan hukum beliau. Karya tersebut mencakup sekitar 767 halaman. Lihat Said ad-Dakhil, Mausuah Fiqh
Aisyah Ummul Mukminin: Hayatuha wa Fiqhuha (Beirut: Dar an-Nafais, 1989), passim.
Islamic Online University Hadits 102
478
“Ibu dari Orang-orang Mukmin
Sebelum menyebutkan nama Aisyah, an-Nawawi mengatakan, “Ibu dari orang-orang
Mukmin.” Ini adalah sebutan yang digunakan untuk semua istri-istri Nabi . Allah berfirman
dalam al-Quran.
◼
✓⬧☺→
◆◆☺
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-
isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (al-Ahzab 6).
Ayat ini menunjukkan bagaimana hubungan yang seharusnya seharusnya antara orang-
orang beriman dengan Nabi  dan istri-istri beliau. Nabi  lebih dekat dengan orang-orang
beriman dibandingkan dengan jiwa mereka sendiri. Apabila ada perselisihan kepentingan antara
kehendak atau harapan seseorang dengan apa yang Nabi telah sampaikan, maka apa yang Nabi
katakan lebih diutamakan. Sebagian Sahabat bahkan menulis dalam salinan al-Quran mereka,
“Beliau [Nabi ] adalah ayah mereka.” Beliau adalah orang yang memperhatikan mereka dan
telah membawa mereka dalam petunjuk Islam. Sebab itulah, beliau dicintai, dihormati, dan
diperlakukan lebih baik dibandingkan memperlakukan ayahnya sendiri dan jiwa mereka sendiri.
1
Seseorang harus menunjukkan rasa hormat dan adab yang sama kepada istri-istri Nabi
sebagaimana yang seseorang mungkin tunjukkan kepada ibu orang itu sendiri. Selain itu, tidak
diperbolehkan untuk siapapun menikahi siapapun dari istri-istri Nabi setelah kematian beliau.
Ini adalah bagian dari status mereka sebagai “ibu dari orang-orang beriman”.
2
Ini sejatinya untuk
semua istri-istri Nabi, salah satunya adalah Aisyah.
3
1
Abdurrahman as-Sa’di, Tafsir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir kalam al-Mannan (Beirut: Muassasat ar-Risalah,
1995), jilid 2, hal. 376.
2
Jelas, ini tidak berlaku untuk hal lainnya, seperti seorang diri dengan mereka, dan sebagainya.
3
Sebagaimana yang diketahui, Syiah tidak menyukai istri Nabi Aisyah. Karena itu, mereka harus mencari cara
untuk menyiasati ayat dan perintah ini agar menunjukkan rasa hormatnya. Untuk tujuan ini, mereka telah
membuat satu hadits yang menyatakan bahwa Nabi mengatakan pada Ali bahwa dia memiliki hak untuk
menceraikan, untuk Nabi , siapapun dari istri Nabi setelah kematian beliau apabila mereka berperilaku dengan
cara yang tidak sopan. Karena itu, Ali menceraikan Aisyah dari Nabi dan dia tidak lagi diperlakukan dengan
rasa hormat semacam itu. ini adalah jarak yang sebagian orang hilangkan agar dapat membenarkan keyakinan dan
Islamic Online University Hadits 102
479
Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini
perkara yang tidak ada asalnya, maka hal itu tertolak.”
“Mengada-adakan”
Kata ini berarti segala sesuatu yang baru, diciptakan atau sebelumnya tidak dibuat atau
dikerjakan.
1
Agama Islam telah sempurna. Tidak ada yang perlu untuk ditambahkan atau
dikurangi. Karenanya, untuk memperkenalkan sesuatu yang baru ke dalam agama adalah sebuah
penghinaan kepada Allah dan Nabi . Sesuatu yang baru diperkenalkan ke dalam agama tidak
lebih baik atau setara dengan apa yang telah ditetapkan oleh Nabi .
Allah berfirman dalam al-Quran,
⧫❑◆→☺⬧
→☺◆◼⧫☺➔
→◆◆⬧◼
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (al-Maidah 3).
“ini”
Dalam bahasa Inggris, sepertinya tidak ada sama sekali makna yang sebenarnya untuk
kata ini. Namun, dalam bahasa Arab, kata ini memiliki beberapa makna. Nabi menunjuk
agama dengan menggunakan kata hadza () atau “ini”. Ini dilakukan untuk menekankan atau
menyampaikan keutamaan untuk perkara yang dimaksudkan tersebut. Ini sama seperti pada
pembukaan ayat dalam surah al-Baqarah dimana Allah menunjukkan “kitab ini” dengan kata
dzalika ().
nafsu mereka yang jelas bertentangan dengan al-Quran dan sunnah. Untuk lebih mengetahui tentang keyakinan
dan hadits dari mereka ini, lihat Abul A’la al Maududi, Makna Al-Quran, (Lahore, Pakistan: Penerbit Islam, ltd,
1986), jilid 10, hal. 86.
1
Abdur Rauf al-Munafi, Faidh al-Qadir Syarah al-Jami al-Saghir (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1972), jilid 6, hal. 36.
Islamic Online University Hadits 102
480
“urusan kami”
“Urusan kami” ini mengacu kepada agama Islam. Nabi  menunjuk pada itu sebagai
sebuah amr atau urusan untuk menjelaskan bahwa agama ini adalah urusan dari orang-orang
Muslim, ini adalah sesuatu yang terkait dengan mereka dan ini adalah sesuatu yang mereka sibuk
dengannya. Semua amalan dan perbuatan orang Muslim menyangkut dan terkait dengan “urusan-
urusan” ini, yaitu agama Islam.
1
Selain itu, seperti yang asy-Syaukani tunjukkan, apa yang dimaksud dengan “urusandi
sini adalah jalan hidup dan keyakinan yang diikuti oleh Nabi dan para Sahabatnya. Yaitu
“urusan” dimana semua perbuatan nantinya di akan diadili.
2
Jika sebuah perbuatan tidak sesuai
dengan cara dari Nabi  dan para Sahabatnya, maka itu adalah salah satu perkara-perkara yang
ada-adakan yang tertolak.
“tidak ada asalnya”
Maksudnya, pendapat atau pandangan apapun yang tidak ditemukan dalam al-Quran dan
sunnah atau bukan berasal dari al-Quran dan sunnah, baik secara lansung atau tidak lansung,
tidak memiliki tempat dalam Islam.
“akan tertolak.”
Apabila perbuatan yang diada-adakan tersebut menurut dugaan adalah sebuah perbuatan
ibadah, perbuatan itu tidak akan diterima oleh Allah . Orang itu tidak akan diberikan pahala
atas itu dan amalan itu akan tertolak. Apabila perbuatan itu terkait dengan urusan duniawi atau
transaksi duniawi, maka perbuatan tersebut tidak sah dan sia-sia karena itu bertentangan dengan
prinsip-prinsip Syariat.
Al-Haitami menunjukkan bahwa perbuatan tersebut akan tertolak jika tidak disetujui
secara total oleh syariat atau jika itu menghilangkan ciri penting yang syariat wajibkan.
3
Contohnya, menyembah Allah dengan sengaja berdiri di bawah matahari sebagai cara untuk
mendapat pahala tidak disetujui oleh syariat. Karenanya, itu tertolak. Demikian pula, dengan
1
Al-Munawi, jilid 6, hal. 36.
2
Asy-Syaukani, Nail, jilid 2, hal. 93.
3
Al-Haitami, Fath, hal. 106-107.
Islamic Online University Hadits 102
481
sengaja mengerjakan shalat (ritual doa) tanpa berwudhu juga tertolak karena itu menghilangkan
komponen penting yang syariah wajibkan.
“Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai
urusan kami, maka itu tertolak.”
An-Nawawi menunjukkan perbedaan yang sangat penting antara riwayat ini dengan
riwayat sebelumnya. Seseorang mungkin mengikuti sebuah amalan yang tidak ditemukan dalam
al-Quran dan sunnah. Namun, dia mungkin menganggap bahwa dia bukanlah orang yang
menciptakan itu dan dia hanya mengikuti apa yang orang lain telah lakukan. Dalam hal ini, dia
mungkin menyatakan, hadits ini tidak berlaku padanya dan amalannya, bahkan jika itu salah,
mungkin masih diterima oleh Allah . Riwayat yang kedua ini tidak meninggalkan ruang apapun
untuk anggapan semacam itu. Riwayat ini menegaskan bahwa apabila siapapun mengikuti
perbuatan apapun yang tidak sesuai dengan cara Nabi , itu akan tertolak terlepas dari apakah
orang itu sendiri atau orang lain yang mengada-adakan perbuatan tersebut.
1
Islam adalah Mengikuti dan Tidak Membuat Hal-hal
Baru
Pesan yang penting dari hadits ini adalah Islam itu tentang mengikuti dan tidak membuat
hal baru. Islam adalah mengikuti apa yang Allah telah nyatakan dalam al-Quran dan sunnah
dan apa yang Nabi telah ajarkan. Bukan menciptakan cara yang baru dalam beribadah dan
kebiasaan-kebiasaan atau praktek-praktek baru yang tidak memiliki pembenaran dalam al-Quran
dan sunnah. Karenanya, setiap amalan, perkataan atau kebiasaan harus dinilai dengan cahaya
dari al-Quran dan sunnah. Apabila itu diterima atau benar menurut dua standar, maka seseorang
boleh mengikutinya. Jika itu tidak benar menurut kedua standar ini, maka itu akan tertolak.
1
An-Nawawi, Syarah Sahih (Dar al-Fikri), jilid 12, hal. 16.
Islamic Online University Hadits 102
482
Ada banyak jalan yang seseorang dapat ikuti. Tetapi hanya ada satu jalan yang lurus.
Hanya ada satu Islam yang bena. Yaitu Islam dari Nabi dan para Sahabatnya. Cara atau jalan
apapun lainnya pasti tertolak. Allah menyatakan dalam al-Quran,
◆◆☺⧫
◼❑➔⬧◆❑➔⬧
⬧▪⧫⬧⧫
⬧◆
→➔⬧⧫❑→⬧
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan
janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu
dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (al-An’am 153).
Dua Jenis Perbuatan: Ritual Ibadah dan Transaksi dan
Urusan Duniawi
Para ahli fiqih telah membedakan dua jenis perbuatan. Jenis yang pertama adalah apa
yang disebut dengan ritual ibadah” atau ibadah. Ini adalah amalan-amalan yang dilakukan
semata-mata untuk tujuan menyembah Allah dan untuk lebih dekat dengan-Nya. Hanya Allah
Yang Satu-satunya mengetahui bagaimana Dia disembah. Sebab itulah, perbuatan ibadah harus
mengikuti dengan sungguh-sungguh teladan dan perbuatan yang ditetapkan oleh Nabi .
Jenis perbuatan lainnya adalah “transaksi dan urusan duniawi” (muamalat). Pada
umumnya, perbuatan-perbuatan ini melibatkan orang lain dan biasanya dilakukan dengan tujuan
duniawi tertentu dalam pikiran, contohnya, untuk memenuhi beberapa kebutuhan. Di sini,
perhatian manusia dipertimbangkan. Ada banyak kelonggaran dalam perbuatan-perbuatan in.
Namun, pada saat yang sama, semua itu masih harus dalam petunjuk yang telah ditetapkan dalam
syariah.
Setiap jenis ini akan dibahas secara terpisah di bawah. Namun, yang pertama, prinsip
umum mengenai kedua jenis perbuatan ini adalah mengikuti: Apa bila perbuatan itu seharusnya
adalah suatu perbuatan ibadah, maka pasti ada bukti yang lansung dan jelas untuk itu. Dalam hal
Islamic Online University Hadits 102
483
ini, beban pembuktiannya adalah untuk menunjukkan bahwa perbuatan tersebut disetujui oleh
syariah. Apabila tidak ada bukti yang jelas, perbuatan tersebut dianggap tidak tepat atau tidak
diterima. Dengan kata lain, berkaitan dengan urusan duniawi, suatu perbuatan dianggap sah dan
benar sepanjang tidak ada pelanggaran tertentu dari prinsip syariah apapun. Karenanya, di sini
seseorang tidak harus menunjukkan bahwa amalan tersebut secara khusus disetujui. Seseorang
hanya perlu untuk menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tidak melanggar larangan apapun dari
syariat.
Ritual ibadah
Setiap ibadah yang tidak sesuai dengan syariah ditolak dan tidak memiliki tempat dalam
Islam. Contohnya, mungkin termasuk, orang-orang yang mendengar lagu atau musik atau tarian
dan menyatakan bahwa mereka dekat dengan Allah dengan perbuatan-perbuatan seperti itu.
Pada kenyataannya, orang-orang ini hanya lebih dekat dengan Setan. Amalan-amalan seperti itu
ditolak oleh Allah .
Perbuatan-perbuatan yang baru ini, belum pernah disetujui oleh Allah . Oleh karena itu,
itu pasti berasal dari beberapa sembahan palsu atas kuasa Allah . Allah berfirman,
⬧→⬧◆→❑◆⬧
⧫⬧⬧⧫
❑⬧◆➔☺
→⬧◆⧫◆
✓☺→⬧⧫
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk
mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari
Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan
memperoleh azab yang Amat pedih.” (asy Syura 21).
Dahulu Nabi melihat seorang laki-laki berdiri di bawah matahari. Ketika beliau
bertanya mengenai orang itu, beliau diberitahu bahwa laki-laki itu telah membuat sebuah sumpah
untuk berdiri, tidak duduk, tidak mencari tempat berteduh dan berpuasa. Nabi  kemudian
memerintahkannya untuk duduk dan mencari tempat berteduh dan mengatakan padanya untuk
Islamic Online University Hadits 102
484
berbuka. (Hadits Riwayat Bukhari.) Perbuatan yang dia lakukan terhadap dirinya untuk berdiri
dan tidak mencari tempat berteduh bukanlah perbuatan ibadah yang Allah  telah setujui. Tidak
ada pertanda bahwa amalan-amalan seperti itu dapat mendekatkan seseorang kepada Allah .
Karenanya, semua itu adalah perbuatan tertolak dan Nabi memerintahkan padanya untuk
berhenti mengerjakan semua itu. Ini berlaku untuk ibadah” apapun yang belum ditetapkan
dalam al-Quran dan sunnah. Perbuatan-perbuatan seperti itu tidak membawa seseorang lebih
dekat kepada Allah , seperti yang telah dinyatakan di atas.
Para ulama telah mendapatkan prinsip-prinsip dasar yang membantu menentukan apakah
sebuah “ibadah tertentu” adalah sesuatu yang disetujui oleh syariat atau tidak. Ibnu Utsaimin
menyatakan bahwa perbuatan tersebut harus sesuai dengan syariat yang berkaitan dengan sebab,
jenis, jumlah, cara, waktu dan tempatnya. Setiap keadaan ini pantas untuk dibahas secara
terpisah.
1
Ibnu Utsaimin memberikan permisalan dari seseorang yang berwudhu dengan secara
sengaja membasuh kakinya, kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuh tangannya
dan kemudian membasuh wajahnya. Jelas, wudhunya tidak akan diterima karena dia tidak
mengerjakannya dengan cara yang syariah telah atur.
Perbuatan itu harus sesuai dengan syariat yang berkaitan dengan waktu: Apabila
seseorang berpuasa pada bulan Ramadhan sepanjang Sya’ban atau secara khusus sepanjang
bulan Desember, maka perbuatan tersebut tertolak. Perbuatan itu tidak disetujui oleh Allah 
karena itu tidak dilakukan pada waktunya yang tepat. Demikian pula, apabila orang-orang
mengerjakan Shalat Jumat pada Jumat malam atau pada hari Minggu, perbuatan tersebut juga
merupakan sebuah perbuatan yang tertolak.
Hal yang sama terjadi pada seseorang yang menunda shalatnya setelah waktu yang
ditetapkan. Dia tidak mengerjakan shalat dengan baik menurut syariat dan, shalatnya tidak akan
dianggap diterima, kecuali jika dia memiliki sebuah alasan yang sah untuk perbuatannya. Ibnu
Utsaimin mengatakan, “Untuk alasan ini kita katakan bahwa apabila seseorang dengan sengaja
dengan sengaja tidak mengerjakan shalat itu sampai waktunya selesai, tanpa adanya alasan yang
sah, maka shalat darinya tidak akan diterima bahkan jika dia mengerjakannya ribuan kali.
Kemudian dia menyatakan sebuah kaidah yang sangat penting, “Untuk setiap perbuatan yang
1
Cf., Muhammad Ibnu Utsaimin, at-Tauhid wa Mana asy-Syahadatain wa Hukm al-Mutabiah (Riyadh: Dar al-
Muslim, 1413 H), hal. 25-31.
Islamic Online University Hadits 102
485
diwajibkan dengan waktu khusus, apabila waktu tersebut berlalu tanpa alasan apapun, maka
perbuatan itu tidak diterima tetapi akan tertolak.”
1
Contohnya, apabila seseorang, pergi ke Musdalifah bukan ke Arafah pada Hari Arafah,
maka berdiamnya di Musdalifah tidak benar dan akan tertolak. Contoh lainnya adalah puasa.
Puasa jelas disetujui oleh syariat. Namun, apabila seseorang berpuasa pada Hari Raya, puasa
tersebut tidak benar menurut syariat dan bukanlah sebuah cara beribadah kepada Allah .
Ada banyak perbuatan yang merupakan ibadah; namun, semua itu harus dilakukan pada
waktu tertentu seperti yang telah ditetapkan oleh syariat. Jika tidak, semua itu bukanlah
perbuatan dari ibadah. Contohnya, selama melaksanakan haji, laki-laki tidak menutupi kepala
mereka, sebagai sebuah perbuatan dalam ibadah. Namun, ini adalah sesuatu yang khusus untuk
waktu dan tempat tersebut. Apabila seseorang, di luar dari melaksanakan haji, berkeliling dengan
kepalanya yang tidak ditutupi dan mengaku melakukan itu sebagai sebuah ibadah kepada Allah
, dia salah dan menyalahgunakan kaidah yang penting ini.
Pada umumnya, mengerjakan perbuatan pada waktu yang selain dari waktu ketika
perbuatan-perbuatan tersebut ditetapkan, mengerjakan perbuatan yang belum pernah ditetapkan
atau belum dianjurkan sama sekali, menambahkan perbuatan-perbuatan apapun pada syariat,
menghapus perbuatan-perbuatan apapun dari syariat adalah semua penyebab perbuatan
seseorang tertolak.
2
Perbuatan-perbuatan seperti itu tidak dapat dianggap perbuatan ibadah
kepada Allah .
1
Ibnu Utsaimin, at-Tauhid, hal. 30.
2
Ibnu Rajab menjelaskan bahwa perbuatan dapat betul-betul menjadi sia-sia tergantung pada apa yang telah
ditinggalkan. Contohnya, apabila seseorang tidak berwudhu ketika dia memiliki kemampuan untuk melakukannya
atau apabila seseorang tidak melakukan sujud dalal shalat ketika dia mampu untuk melakukannya, seluruh
shalatnya akan menjadi sia-sia. Namun, jika dia tidak shalat berjamaah, maka perbuatannya kurang tetapi tidak
sia-sia sama sekali. Demikian pula, berkaitan dengan penambahan dalam syariat, apabila seseorang menabahkan
sesuatu seperti rakaat kelima pada sebuah shalat [karena kesalahan], keseluruhan shalatnya akan sah. Tetapi
apabila seseorang berwudhu dengan membasuh setiap bagian tubuhnya empat kali, dia masih memiliki wudhu
tetapi penambahan jumlah dalam membasuhnya itu akan dianggap sebuah perbuatan yang tertolak. Dia juga
membahas sebuah perkara yang rumit dimana para ulama berbeda. Seharusnya seseorang mengerjakan suatu
perbuatan yang baik tetapi dia mencampurnya denga sesuatu yang tidak dibolehkan. Contohnya, seharusnya
seseorang shalat namun dia menutupi tubuhnya dengan pakaian yang haram untuknya, seperti pakaian curian.
Atau, seharusnya seseorang shalat pada sebuah mesjid di tanah yang belum dibeli dengan benar. Pada perkara-
perkara itu, apakah amalannya sepenuhnya tertolak atau apakah dia sudah melaksanakan amalan-amalan tersebut
sedangkan dia melakukan sebuah dosa? Ibnu Rajab menyatakan bahwa kebanyakan ahli fiqih berkata bahwa
amalan itu tidak sepenuhnya tertolak. Dia menyatakan bahwa kaidahnya adalah apabila perbuatan yang terlarang
berkaitan secara lansung dan secara khusus dengan ibadah, perbuatan itu sepenuhnya akan dianggap sia-sia. Jadi,
Islamic Online University Hadits 102
486
Transaksi dan Urusan Duniawi (Muamalat)
Sebagaimana yang disampaikan di atas, pandangan untuk transaksi dan urusan duniawi
berbeda. Ada banyak yang lebih mudah disesuaikan dan lebih longgar di sini. Pada perkara
ibadah, hanya Allah yang mengetahui bagaimana Dia disembah. Namun, ketika itu tiba pada
transaksi duniawi, manusia bebas untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan cara apapun yang
mereka inginkan selama mereka tidak melanggar kaidah-kaidah tertentu yang telah ditentukan
oleh syariat.
Oleh karena itu, berkaitan dengan perkara duniawi, hadits ini dilibatkan dalam cara-cara
berikut ini:
Satu, apabila syariat menetapkan sebuah kaidah atau hukum dan kemudian seseorang
menerapkan sebuah kaidah atau hukum yang baru dalam urusan itu, kaidah atau hukum yang
baru itu akan tertolak. Contohnya, hukuman untuk perzinahan adalah dirajam sampai mati untuk
pezina yang telah menikah dan hukuman cambuk untuk “pezina yang belum menikah”.
1
Itu
pernah terjadi pada masa Nabi  bahwasanya sebagian orang mencoba untuk menghindari
hukum tersebut. Setelah terjadi sebuah kasus perzinahan, dua pihak memutuskan bahwa laki-laki
itu harus membayar kepada keluarga wanita seratus ekor domba dan sebuah budak. Ketika
perkara ini dibawa kepada perhatian Nabi, beliau berkata kepada ayah pezina tersebut,
“Demi Dzat yang jiwaku ada ditangannya, Aku akan memutuskan di antara kalian sesuai dengan
Kitab Allah. Seratus domba itu akan dikembalikan padamu. Anak laki-lakimu akan dicambuk
sebagai contoh, shalat tanpa wudhu sepenuhnya sia-sia dibandingkan shalat dengan pakaian yang haram. Ibnu
Rajab, Jami, jilid 1, hal. 178-180.
1
Informasi yang lebih banyak dari hukum ini disampaikan dalam penjelasan Hadits #14.
Islamic Online University Hadits 102
487
sebanyak seratus kali dan diasingkan selama satu tahun. Dan, pergilah, Wahai Unais, kepada
wanita itu, apabila dia mengakuinya, rajamlah dia.” (Hadits Riwayat Bukhari).
Demikian pula, apabila transaksi duniawi itu adalah sesuatu yang syariat telah larang
dengan tegas, itu akan tertolak. Contohnya, perkawinan kontrak antara seorang wanita dan
seorang laki-laki yang disusui oleh ibu angkat yang sama akan menjadi batal dan sia-sia. Ini
karena kontrak semacam itu dengan tegas dilarang oleh syariat.
Terkadang salah satu keadaan yang penting dari sebuah perjanjian tidak dipenuhi dan,
oelh karena itu, perbuatan tersebut tertolak. Contohnya, apabila seorang wanita menikah tanpa
izin dari walinya, pernikahannya batal dan sia-sia. Apabila seseorang membeli sesuatu dari
seseorang tanpa persetujuan pemiliknya, pembelian semacam itu batal dan sia-sia.
Sebuah contoh yang jelas yang Ibnu Rajab berikan adalah kasus pembelian sesuatu
melalui sebuah transaksi yang riba. Dia mengatakan bahwa orang yang telah membeli semacam
itu tidak menjadi pemilik yang sah dan dia harus mengembalikan apa yang dia beli. Ini
berdasarkan hadits dalam Sahih Muslim dimana Nabi mengumumkan beberapa kurma yang
bukan berasal dari kurmanya. Beliau menanyakan tentang kurma-kurma itu dan beliau diberitahu
bahwa mereka membeli kurma-kurma itu melalui perdagangan dua sa (satuan jumlah) dari
kurma mereka untuk satu sa dari kurma lainnya, yang kualitasnya lebih baik. Nabi kemudian
berkata,
ini adalah riba (haram). Maka kembalikanlah itu. Kemudian jual kurma-kurma kami dan beli
untuk kami kurma-kurma tersebut.”
1
Semua jenis transaksi itu tergolong dalam makna secara umum dari hadits ini. Apabila
sebuah perbuatan tidak sesuai dengan cara Nabi dan para Sahabatnya, perbuatan tersebut
tertolak.
1
1
Cf., Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal. 183.
Islamic Online University Hadits 102
488
Pendapat-pendapat Lainnya yang Terkait dengan Hadits
Ini
Hadits ini menjelaskan bahwa setiap amalan yang seseorang kerjakan harus sesuai dengan
syariati, terlepas dari jenis amalan itu. Jika itu tidak sesuai dengan syariat, itu akan tertolak.
Dapat dipahami dari hadits ini bahwa apabila sebuah perbuatan sesuai dengan cara dari Nabi
dan para Sahabatnya, perbuatan itu akan diterima dan seseorang akan mendapat pahala
atas itu. (Selama niat dibalik itu juga merupakan niat yang baik.)
Hadits ini menjelaskan keutamaan dari ilmu. Al-Sindi menyetakan bahwa yang
membedakan hal-hal yang diada-adakan dari apa yang dibolehkan dan sunnah sangat
penting dan terkadang sulit. Itu membutuhkan ilmu yang baik dari al-Quran. sunnah,
persetujuan dan apa yang semua ini tunjukkan. Dia menyatakan, banyak perkara-perkara
baru, disebabkan ketidaktahuan, dianggap sebagai sunnah dan sunnah dianggap perkara-
perkara baru.
2
Cara satu-satunya ini dapat diperbaiki adalah melalui ilmu dan kajian al-
Quran dan sunnah.
Hadits ini dapat digunakan untuk menghindari dan menolak semua transaksi haram dan
menghilangkan semua dampak dari transaksi tersebut. Maksudnya, sebagai contoh, apabila
dua orang sepakat pada sebuah perjanjian yang berbunga, perjanjian seperti itu tidak sesuai
dengan prinsip-prinsip Islam dan, karena itu, perjanjian itu batal dan sia-sia.
Hadits ini adalah salah satu dalil yang digunakan untuk membuktikan bahwa semua
perbuatan yang haram, pada dasarnya, salah, zalim, dan tidak bermoral.
1
Para ulama membedakan hak ke dalam apa yang dikenal sebagai “hak-hak Allah” dan hak-hak manusia.” Pada
umumnya, hak Allah harus dilakukan dengan hukum yang bermaksud untuk menjaga masyarakat secara
keseluruhan dan tidak ada kompromi ketika itu berasal dari hukum-hukum tersebut. Contohnya, apabila seseorang
menikah dengan wanita yang masih menunggu masanya untuk menjadi seorang janda, bahkan jika keduanya
sepakat dan semuanya bahagia dengan pernikahan itu, pernikahan tersebut tetap tidak akan menjadi sah. Namun,
apabila hak seseorang dirugikan oleh sebuah transaksi, seperti agennya menjual sesuatu yang tidak berhak untuk
dijual, maka apabila orang itu menyerahkan haknya dan menerima transaksi tersebut, maka transaksi itu tidak
akan batal dan sia-sia tetapi akan diterima. Namun, apabila dia tidak menerima itu, maka transaksi itu akan batal
dan sia-sia. Lihat Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal. 181-182.
2
Al-Sindi, Syarah, hal. 43.
Islamic Online University Hadits 102
489
Barangsiapa mengada-adakan perbuatan bid’ah ke dalam Islam akan menanggung beban
dosanya. Perbuatan tersebut akan tertolak dan dia akan bertanggung jawab untuk semua
yang dia sebabkan mengikuti bid’ah tersebut.
1
Perbuatan yang tidak dilakukan pada masa Nabi boleh dikerjakan dan tidak tertolak
selama didukung oleh beberapa dalil dalam al-Quran dan sunnah. Contoh untuk jenis ini
adalah menulis kitab-kitab dan memberikan ceramah. Perbuatan-perbuatan ini didukung
oleh perintah umum untuk mendapatkan, menyampaikan, dan menjaga ilmu.
Menurut Ibnu Utsaimin, apabila tidak jelas bahwa suatu perbuatan harus dianggap sebuah
perbutan ibadah atau sebuah perbuatan duniawi (perbuatan yang lazim), maka hukum
asalnya adalah itu akan dianggap sebuah perbuatan dunia kecuali apabila terbukti
sebaliknya. Dia mengatakan, sebagai contoh, apabila seseorang berkata kepada orang lain
yang telah berhasil melewati sebuah krisis, Masya Allah (apa yang Allah telah kehendaki),
selamat!” perkataan ini tidak dapat dianggap sebuah perkara yang baru karena ini berkaitan
dengan perkataan pada umumnya di antara orang-orang dan tidak ada maksud agama dari
hal tersebut.
2
Kesimpulan Hadits
Sebuah perbuatan adalah bagian yang jelas dari agama Islam apabila perbuatan itu memiliki
dalil yang diterima untuk perbuatan tersebut dalam al-Quran, sunnah, kesepakatan, dan apa
yang berasal dari sumber-sumber tersebut.
Apabila suatu perbuatan tidak sesuai dengan al-Quran dan sunnah, perbuatan tersebut sia-sia
dan tak berguna. Perbuatan itu akan tertolak oleh Allah . Perbutan itu tidak akan
mendapatkan pahala dan tidak ada pengaruh hukum.
Orang yang mengada-adakan perkara baru semacam itu dan orang yang menjalankannya
kemudian semuanya sama dalam mendapati perkara baru mereka tertolak.
1
Al-Bugha dan Mistu, hal. 30.
2
Ibnu Utsaimin, Majmu, jilid 5, hal. 260
Islamic Online University Hadits 102
490
Hadits #6:
“Yang Halal itu Jelas”
Islamic Online University Hadits 102
491
Dari Abu Abdullah an-Nu’man bin Basyir radhiallahu
‘anhuma yang berkata: Aku mendengar Rasulullah
bersabda, Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang
haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-
perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak
diketahui oleh orang banyak. Maka, siapa yang takut
terhadap syubhat berarti dia telah membersihkan
dirinya dalam hal agama dan kehormatannya. Dan siapa
yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan
terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Seperti
penggembala yang menggembalakan hewan
gembalaannya di sekitar ladang yang dilarang untuk
memasukinya, maka lambat laun dia akan
memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki
larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia
haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat
segumpal daging, jika itu baik maka baiklah seluruh
tubuh ini dan jika itu buruk, maka buruklah seluruh
tubuh; ketahuilah bahwa itu adalah hati.
Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim
Islamic Online University Hadits 102
492
Kosakata Pilihan
 : “halal”
 : “jelas, nyata”
 : “haram”
 : “di antara keduanya”
 : “perkara-perkara”
 : “ragu-ragu, tidak pasti”,  dan kata-kata yang terkait semuanya berasal dari
akar kata  yang berarti ragu-ragu, meragukan, dan tidak pasti.
 : “banyak”
 : “orang-orang”
 : ini adalah kelompok kata; kata di sini bermakna “jadi, maka, oleh karena itu,”
dan  bermakna “siapa”
 : “menghindari”
 : “mebersihkan dirinya”
 : “untuk agamanya”
 : “kehormatannya”
 : “terjatuh ke dalam”

 ini adalah kelompok kata; kata yang bermakna, seperti,” sedangkan kata
 adalah penggembala. Asal kata  adalah orang yang memimpin atau
Islamic Online University Hadits 102
493
melindungi seseorang atau sesuatu yang lain. Dari waktu ke waktu, kata ini
biasanya mulai digunakan untuk penggembala.
1
 : “di sekitar”
 : “padang rumput pribadi”

: ini merujuk pada sebuah amalan yang dekat terjadi. Dalam hadits ini, berarti
sesuatu yang dekat, “lambat laun”
 : ini adalah kelompok kata; kata berarti “untuk,” dan
 berarti “setiap”
 : “raja”
 : ini adalah sebuah kata yang mengandung seruan. Yang berarti untuk
meyakinkan bahwa yang berbicara memiliki perhatian pendengar. Sebab itu, ini
adalah sebuah tanda dari pentingnya perkataan yang akan dikatakan.
 : “tubuh”
 : “sehat”
 : “hati”
Takhrij
Ini adalah hadits yang sahih. Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Daud,
Tirmidzi, Ibnu Majah, an-Nasai dan banyak lainnya. Hadits dengan makna yang sangat sama
diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Umar, Ammar bin Yasir, Jabir, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas.
Banyak dari riwayat-riwayat dari Sahabat yang lain, namun, riwayat-riwayat itu memiliki sanad
yang lemah sampai ke mereka.
2
1
Al-Haitami, hal. 118. Nabi  menyatakan dalam hadits yang lain, menggunakan kata ini, bahwa setiap orang
adalah setiap orang adalah “pemimpin” dan dia akan ditanya tentang yang dia pimpin.
2
Ibnu Muhammad, hal. 68-72.
Islamic Online University Hadits 102
494
Penjelasan Umum Pada Hadits Ini
Hadits ini meletakkan beberapa prinsip yang paling penting dari Islam. Sebagaimana
yang telah disampaikan sebelumnya, Abu Daud, ulama hadits, pernah menyatakan bahwa Islam
dibangun di atas empat hadits, hadits ini adalah salah satu di antaranya. Bahkan, hadits ini
mencakup semua perbuatan-perbuatan yang mungkin: halal, haram, dan meragukan. Hadits ini
juga menunjukkan bagaimana melindungi agama dan kehormatan seseorang. Lambat laun, pada
akhirnya, hadits ini menunjukkan kunci untuk mengikuti yang halal dan tetap menjauh dari apa
yang akan membahayakan seseorang.
Perawi: an-Nu’man bin Basyir
Abu Abdullah an-Nu’man bin Basyir al-Anshari al-Khazraji adalah salah satu Muslim
yang pertama yang lahir dari kalangan Anshar dari Madinah. Dia masih cukup muda, umurnya
mungkin sekitar sepuluh tahun, ketika Nabi meninggal.
1
Pada masa Muawiyah, dia memegang jabatan pemerintahan yang berbeda di Kuffah dan
Hims. Dia dikenal dengan kemampuan berbicara dan bersyairnya. Dia dibunuh di Hims pada
tahun 64 H.
Dalam Sahih Bukhari, ada enam hadits yang diriwayatkan dari an-Nu’man. Dalam karya-
karya lainnya, jumlah haditsnya mencapai sekitar 116 hadits. Banyak dari hadits-hadit ini dia
mungkin tidak mendengarnya secara lansung dari Nabi tetapi dari para Sahabat yang lebih tua.
Namun, ada sebuah riwayat yang jelas bahwasanya Nu’man mendengar hadits khusus ini
lansung dari Nabi “dengan telinganya sendiri.”
1
Menurut ulama hadits, hadits tidak dapat diambil dari seorang anak kecil, apabila seorang anak telah mendengar
dan menghafal sesuatu padahal dia adalah seorang anak kecil dan kemudian meriwayatkannya kepada yang lainnya,
hadits tersebut diterima. Seperti halnya dengan hadits Nabi ini.
Islamic Online University Hadits 102
495
Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu
jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara
yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh
orang banyak.”
Dalam hadits ini, Nabi membagi semua perbuatan ke dalam tiga macam: perbuatan-
perbuatan yang jelas halal dan perbuatan-perbuatan yang terlarang dan perbuatan-perbuatan di
antara kedua itu. setiap jenis ini akan dibahas secara terpisah.
1
Di awal, meskipun, harus di perhatikan bahwa, khususnya untuk para ulama dan orang-
orang berilmu, sebagian besar perbuatan jatuh ke dalam salah satu dua jenis tersebut. sebagian
kecil dari perbuatan berasal dari perkara-perkara yang syubhat (samar-samar). Selain itu, perkara
yang paling penting, semakin banyak jumlah dan semakin jelas dalil-dalil yang berkaitan dengan
itu. Contohnya, melakukan syirik adalah sebuah perbuatan sanga diharamkan. Karenanya, dalil-
dalil yang berkaitan dengan itu banyak dan tegas. Demikian pula, kejahatan yang keji seperti
zina dan mengkomsumsi alkohol telah diharamkan dalam istilah yang tidak jelas. inilah bagian
dari rahmat dan karunia dari Allah bahwasanya Dia telah mengirim agama dan pesan ini
dengan cara yang sangat jelas dan mudah untuk dipahami.
Yang Halal Itu Jelas
Ada banyak sekali perbuatan yang jelas halal dan disetujui oleh Syariat. Dalam beberapa
keadaan, perbuatan-perbuatan itu dengan jelas disebutkan sebagai perbuatan yang halal
sedangkan pada kasus lainnya jelas bahwa perbuatan ini termasuk petunjuk yang umum dari al-
Quran dan sunnah. Contohnya, Allah berfirman dalam al-Quran,
1
Imam Ahmad berpendapat bahwa ada tiga jenis macam: yang murni halal, murni haram dan murni meragukan.
Namun, sepertinya itu tidak benar menurut sisa dari hadits ini. Di kesempatan lain, dia mengatakan bahwa yang
meragukan adalah dimana perkara-perkara yang halal dicampur dengan perkara-perkara yang haram. Ini mungkin
lebih dekat dengan pengertian yang diberikan di sini. Berdasarkan hal ini, dia menyatakan bahwa apabila harta
seseorang berasal dari sumber yang haram, maka Muslim lainnya seharusnya tidak menyantap makanan dan
jamuannya. Namun, jika itu kebanyakan berasal dari sumber yang halal, maka seseorang boleh ikut menyantap
makanannya. (Cf., Ibnu Rajab, Jami, jilid 1, hal. 199-200.) Makhul dan az-Zukhri berpendapat bahwa seseorang
dapat memakan atau menyantap dari harta seseorang selama dia mengetahui bahwa makanan tertentu itu yang dia
makan atau harta yang dia gunakan bukanlah berasal dari sumber-sumber yang haram. Cf., Ibnu Rajab, Jami, jilid
1, hal. 201.
Islamic Online University Hadits 102
496
⧫❑◆⬧
→⧫➔⬧◆⧫
❑➔⧫
➔⬧◆⚫
“Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang
diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka” (al-Maidah 5).
Pada kasus lain, ungkapan berbeda membuatnya cukup jelas bahwa perbuatan tersebut
dihalalkan. Contohnya, “Tidak ada dosa terhadap....” adalah sebuah ungkapan yang artinya
bahwa perbuatan tersebut, setidaknya, halal.
Oleh karena itu, kehalalan perbuatan-perbuatan seperti itu, jelas tidak perlu diragukan
lagi.
Yang Haram Itu Jelas
Dengan cara yang sama bahwasanya beberapa perbuatan yang dengan sangat jelas
dinyatakan halal, perbuatan-perbuatan lainnya sangat jelas dinyatakan haram. Dalil-dalil yang
jelas terkait perbuatan-perbuatan seperti itu sangat jelas. contoh dari jenis ini adalah ayat berikut
ini,
⧫◼⧫➔⧫☺
◆⧫◆
⧫◆⧫
➔⬧☺◆⬧❑➔❑☺◆
➔⧫◆⧫☺◆➔⬧◆
⧫◆⧫
⬧⧫◆➔◼⧫
◆❑☺⧫⬧
⬧⬧
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih
atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam
Islamic Online University Hadits 102
497
binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang
disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah,
(mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan” (al-Maidah 3). Termasuk dalam jenis
perbuatan yang jelas diharamkan ini adalah semua perbuatan yang Allah dan Rasul-Nya 
telah tetapkan sebuah hukuman atau terkait yang Allah atau Rasul-Nya telah membuat
sebuah ancaman siksaan.
Mengenali Perkara-perkara Syubhat
Pertanyaan pertama yang harus dijawab di sini adalah: Apa sebenarnya perkara-perkara
syubhat itu? asy-Syaukani memiliki pembahasan yang paling mengenai pertanyaan ini dan jenis-
jenisnya butuh untuk ditangani di sini
1
. Dia menyatakan bahwa perkara-perkara syubhat tersebut
ada enam macam. Yaitu:
(1) Berkenaan dengan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan dalil yang terkait,
dan tidak ada cara yang nyata untuk menyelesaikan pertentangan tersebut, seperti ayat-ayat dari
al-Quran atau hadits. Perkara-perkara ini akan jatuh ke dalam wilayah yang abu-abu atau syubhat
yang ini hanya berkaitan dengan para ulama.
(2) Untuk yang bukan ulama yang mengikuti sebuah ajaran fiqih atau mengikuti
pendapat-pendapat dari ulama tertentu, sebuah perkara dimana ada sebuah perbedaan pendapat di
antara para ulama adalah sebuah perkara yang syubhat atau diragukan. Ini bukanlah bagaimana
sebagian orang biasa melihat perkara ini. Mereka mengatakan bahwa apabila seorang ulama
mengatakan sesuatu itu halal, maka itu halal bagi mereka untuk mengikuti ulama tersebut dan
melakukan perbuatannya. Sebaliknya, pendapat asy-Syaukani, apabila seorang ulama
mengatakan bahwa perbuatan itu halal sedangkan ulama lainnya mengatakan itu haram, maka
yang buka ulama yang mengikuti ulama-ulama tersebut harus menahan diri dari amalan-amalan
tersebut karena perkara itu sekarang sudah pasti terjatuh ke dalam wilayah perkara-perkara yang
syubhat.
2
1
Muhammad Ibnu Ali asy-Syaukani, Kashf al-Syubhati an al-Musytabihat, dalam Muhammad Ibnu Ali asy-
Syaukani, ar-Rasail as-Salafiyah fi Ihya Sunnah Khair al-Bariyyah, (Maktabah Ibnu Taimiyah, 1930), passim.
2
Apa yang juga dimaksudkan ini, seperti yang asy-Syaukani jelaskan, apabila seorang ulama mengatakan sebuah
perbuatan wajib dan yang lainnya mengatakan bahwa itu dibolehkan, maka orang yang mengikutinya harus
mengerjakan perbuatan itu karena perbuatan itu adalah metode yang paling aman. Untuk tidak mengerjakan
perbuatan itu, dengan alasan bahwa itu hanyalah sunnah, akan sama dengan jatuh ke dalam perkara-perkara yang
syubhat.
Islamic Online University Hadits 102
498
(3) Beberapa perkara-perkara yang dibolehkan mengarahkan seseorang untuk melakukan
yang hara, atau mengarahkannya untuk gagal mengerjakan kewajibannya, maka perkara-perkara
yang dibolehkan itu jatuh dalam jenis perkara-perkara yang syubhat. Sebuah contoh yang asy-
Syaukani berikan adalah bolehnya “seseorang bersenang-senang dengan istri” tanpa
berhubungan badan sementara istrinya sedang haid. Dia menyatakan bahwa apabila seseorang
yang tidak dapat mengendalikan nafsunya dan dia mungkin dengan mudah melakukan apa yang
tidak dibolehkan dalam keadaan-keadaan seperti itu, perbuatan yang dibolehkan tersebut
“bersenang-senang dengan istrinya” sekarang menjadi syubhat bagi dirinya karena itu dapat
mengarahkannya pada apa yang diharamkan. Oleh karena itu, yang paling baik baginya adalah
menghindari itu.
1
(4) Perkara-perkara yang tidak disetujui (makruh) dianggap oleh asy-Syaukani berasal
dari perkara syubhat. Perbuatan-perbuatan itu adalah syubhat karena, dia beralasan, tidak ada
yang secara tegas menunjukkan semua itu halal atau haram. Selain itu, dia mengutip banyak
ulama yang menyampaikan bahwa apabila seseorang sering melibatkan dirinya dalam perkara
yang tidak disetujui (makruh), perbuatan itu akan membawanya pada perkara-perkara yang
haram. Satu alasan untuk ini adalah perbuatan yang makruh itu menggelapkan hati seseorang dan
dia melepaskan cahaya yang kuat dari iman. Sebab itu, menjadi sangat mudah baginya untuk
jatuh ke dalam keharaman tersebut.
(5) Perkara-perkara yang terkait dengan adanya keraguan apakah perbuatan-perbuatan
itu halal atau tidak disebabkan keadaan di sekitarnya. Sebuah contoh untuk jenis ini, mengenai
anak dari budak wanita Zam’ah dan istri Nabi , akan diberikan kemudian.
(6) Perkara-perkara yang dalil untuk pelanggarannya hanya ditemukan dalam hadits
lemah (walaupun tidak terlalu lemah atau hadits yang dibuat-buat). Asy-Syaukani berpendapat
bahwa, apabila kelemahannya sedikit, maka seseorang tidak dapat mengatakan pasti hadits itu
tidak benar. Sebab itulah, perkara tersebut menjadi perkara syubhat.
1
Asy-Syaukani juga menyatakan bahwa dia tidak menyukai seseorang yang menikah untuk lebih dari satu istri,
kecuali ada kebutuhan yang nyata untuk melakukan itu, apabila perbuatan itu kemudian akan membuatnya
bergantung kepada orang lain untuk mendapat bantuan atau apabila itu membuatnya meninggalkan beberapa
amalan yang dianjurkan (seperti memperoleh ilmu) karena dia sekarang menghabiskan waktunya untuk
mendapatkan banyak uang untuk menafkahi keluarga besarnya. Dia mengatakan bahwa tidak ada keraguan bahwa
memiliki keluarga yang lebih besar adalah salah satu penyebab yang membawa seseorang menghabiskan semua
waktu mereka untuk mencari kebutuhan dunia ini. Cf., asy-Syaukani, Kasfh, hal. 17-18.
Islamic Online University Hadits 102
499
Asy-Syaukani menyatakan bahwa dalil bahwa dua jenis yang pertama itu berasal dari
perkara-perkara yang syubhat adalah riwayat yang menyatakan tentang perkara-perkara syubhat,
“Tentang yang tidak banyak orang memiliki ilmu.”
Jenis lainnya didukung oleh hadits yang menyatakan,
“Tempatkan di antara kalian dan yang haram sebuah pembatas dari perbuatan-perbuatan yang
halal. Barangsiapan yang menjaga kehormatan dan agamanya, bebas dari kesalahan apapun.
1
Meskipun hadits ini mungkin hasan, kelemahannya dalam pendapat asy-Syaukani di sini bahwa
ini adalah hadit yang terpisah dan bukan hadits yang secara tegas memberikan pengertian untuk
apa yang syubhat.
Selain itu, asy-Syaukani berpendapat bahwa berdasarkan hadits ini, semua perkara dibagi
ke dalam tiga jenis: (1) perkara-perkara yang syariat perintahkan seseorang untuk kerjakan dan
mengancam orang-orang yang tidak mengerjakannya dengan hukuman; (2) perkara-perkara yang
syariat perintahkan seseorang untuk menahan diri darinya dan mengancam orang yang
mengerjakannya dengan hukuman; (3) perkara-perkara yang ada di antara. Perkara-perkara (1)
yang jelas dihalalkan, perkara-perkara (2) yang jelas diharamkan dan perkara-perkara (3) yang
merupakan perkara syubhat. Dia kemudian mengatakan bahwa perkara (3) seharusnya dihindari
untuk menjaga agama seseorang. Pendapat ini sepertinya juga tidak kuat. Ada perbedaan antara
mengatakan sesuatu yang wajib (wajib, yang termasuk kategori 1) dan mengatakan sesuatu yang
boleh (halal), yang dimaksud dalam hadits yang dibahas ini. Istilah halal berlaku untuk
perbuatan yang wajib, dianjurkan, boleh dan bahkan, menurut banyak ulama, untuk perbuatan
yang tidak disetujui (maksruh).
1
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, menurut al-Arnauth, sanadnya hasan. Lihat catatan kaki al-Arnauth pada al-Farisi,
jilid 12, hal. 380.
Islamic Online University Hadits 102
500
Mengenai hadits lemah, Allah telah berjanji untuk menjaga dzikr (wahyu yang
diturunkan, baik al-Quran ataupun sunnah). Penjagaan ini haruslah sesuatu yang jelas untuk umat
secara keseluruhan, khususnya mereka yang mengkhususkan pada bidang yang bersangkutan.
Oleh karena itu, ketika para ulama hadits sepakat bahwa sebuah hadits tidak memenuhi standar
untuk dapat diterima, berarti bahwa hadits itu belum terjaga dan tidak dapat membentuk bagian
dari dzikr. Sebab itu, tidak perlu untuk menganggap perbuatan-perbuatan yang hanya
diharamkan oleh hadits yang lemah sebagai perkara yang syubhat.
Kesimpulannya, perkara-perkara syubhat terdiri dari tiga jenis, beberapa di antaranya
akan dibahas nantinya secara detail:
(1) Berkenaan dengan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan dalil yang terkait,
dan tidak ada cara yang nyata untuk menyelesaikan pertentangan tersebut.
(2) Untuk orang-orang yang bukan ulama yang mengikuti sebuah ajaran fiqih atau
mengikuti pendapat dari ulama tertentu, perkara dimana ada sebuah perbedaan pendapat di
antara para ulama adalah sebuah perkara syubhat dan diragukan.
(3) Beberapa perkara yang dibolehkan membawa seseorang untuk melakukan apa yang
diharamkan atau membawa mereka untuk gagal melaksanakan apa yang diwajibkan, maka
perbuatan-perbuatan yang dibolehkan itu terjatuh dalam kategori perkara syubhat.
(4) Perkara-perkara yang tidak disetujui (makruh) dianggap oleh asy-Syaukani berasal
dari perkara yang syubhat. Penulisnya secara pribadi tidak sepenuhnya yakin bahwa perkara-
perkara yang tidak disetujui berasal dari perkara-perkara syubhat, tetapi asy-Syaukani memiliki
beberapa alasan yang bagus untuk mendukung pernyataannya.
(5) Perkara-perkara yang mana berkaitan dengan adanya keraguan apakah perbuatan-
perbuatan itu halal atau tidak disebabkan keadaan di sekitarnya.
Legalitas Dari Perkara Syubhat
Dua jenis yang pertama tentang yang halal dan haram sangat jelas, baik itu berkaitan
dengan apa yang perbuatan-perbuatan itu maksud ataupun perbuatan-perbuatan itu sendiri.
Kemudian terdapat perkara-perkara yang syubhat, samar-samar atau tidak jelas. Ini semua adalah
tentang perkara yang mana ada beberapa perbedaan pendapat mengenai keabsahannya. Namun,
Nabi menunjukkan bahwa menjauh dari perbuatan-perbuatan ini adalah ketakwaan.